<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>LAKE &#8211; PEJUANGNOVUS</title>
	<atom:link href="https://www.pejuangnovus.com/tag/lake/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pejuangnovus.com</link>
	<description>PORTAL MEDIA NOVUS - BERITA GUIDE DAN TIPS RF ONLINE - NEWS</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Mar 2020 02:19:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.3.20</generator>

<image>
	<url>https://www.pejuangnovus.com/wp-content/uploads/2020/02/cropped-icon-pejuang-32x32.png</url>
	<title>LAKE &#8211; PEJUANGNOVUS</title>
	<link>https://www.pejuangnovus.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>LAKE CHAPTER 58 &#8211; SOS 13: CLEARENCE</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-58/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-58/#comments</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 17:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1595</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;Retreating doesn&#8217;t mean losing. Keep that in your empty brain.&#8221; &#8211;...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-58/">LAKE CHAPTER 58 &#8211; SOS 13: CLEARENCE</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Armor biru gelap di bagian bahu hingga dada kirinya hancur jadi serpihan, darah merah begitu segar terus mengalir dari luka-luka yang memenuhi tiap jengkal tubuh. Mata tertutup, perih terasa ketika aliran darah dari pelipis turun basahi sisi muka. Keadaan Bellatean mungil tersebut payah, seakan pakai daya terakhir yang dimiliki untuk tetap berdiri.</p>



<p>Pedang kembar terus menari, menebas Prajurit Accretia yang masih tersisa ke kanan dan ke kiri. Lunglai kali ini seiring tenaga yang terasa terus menguap dari badan.</p>



<p>Di belakang pria berambut spike hitam tersebut, tergoler MAU merah yang hilang sebelah lengan akibat ditebas pedang sedingin es milik seorang Templar Corite. Dari bagian mesinnya keluarkan kepulan asap hitam. Belum ada tanda MAU tersebut bakal bergerak lagi.</p>



<p>Sebagian besar anggotanya tumbang, sebagian lain mundur dalam keadaan tertatih-tatih menuju titik koordinat Brigade Support Federasi berada guna dapat pertolongan pertama.</p>



<p>&#8220;<em>Rovanik,</em>&#8221; gumamnya dalam hati saat dari sudut mata tertangkap pemandangan Berserker berambut jingga agak panjang tergeletak gak berdaya dengan luka senjata tajam menganga di dada.</p>



<p>&#8220;<em>Zal,</em>&#8221; kali ini dari kejauhan dia lihat seorang Ranger duduk tersandar di sebuah batu, merintih menekan lubang peluru di perut.</p>



<p>&#8220;<em>Lalana,</em>&#8221; otaknya masih gak sanggup hilangkan bayang wajah anggota Spiritualist perempuan riang yang terbakar itu.</p>



<p>Pedang berpendar hijau di tangan kanan menembus mantap kepala sesosok Prajurit Accretia berpangkat rendah tanpa nama di hadapannya, hasilkan percikan listrik sebelum badan logam besar itu terbanting ke tanah.</p>



<p>Pasukan Bellatean gak cukup kuat membendung kekuatan pasukan zirah besi. Mereka terus terdorong sampai muka gerbang Benteng Solus usai kepergian Pasukan Aliansi yang datang hanya untuk mengambil 2 anggota mereka plus seorang Sentinel junior.</p>



<p>Zona aman Solus tertembus pasukan darat, sedangkan Armada Udara Kekaisaran kembali gencar menggempur dinding-dinding Benteng Federasi dengan misil dan senjata api, tinggalkan remuk dan bahkan harus runtuh di beberapa titik.</p>



<p>Sistem pertahanan anti-pesawat benteng yang hanya tersisa 2 unit masih sibuk muntahkan peluru-peluru berkaliber .50 mm pada jet tempur Kekaisaran yang berseliweran di langit Solus. 3 rudal sekaligus meluncur dari jet tempur Kekaisaran, meledakkan satu unit dan meninggalkan unit satu lagi dalam keadaan memprihatinkan.</p>



<p>Semua jembatan penghubung antara gerbang benteng dengan daratan Solus buyar seketika dihujam misil otomatis. Pun begitu dengan portal teleportasi yang berada di tengah benteng, memutus aliran bantuan dan jalur kabur bagi pasukan Bellatean.</p>



<p>Berjarak 300 meter di depan Sang Maximus, para Striker Accretia terus berjalan beriringan dengan beberapa Punisher yang lindungi mereka.</p>



<p>&#8220;<em>Sialan!</em>&#8221; Gatan gak bisa percaya hal tersebut. Bahkan setelah pemimpin pasukan mereka dibuat gak gerak oleh tukang santet Aliansi pun, mereka masih belum niat mundur.</p>



<p>Malah sebaliknya, mereka turun dengan kekuatan yang lebih menakutkan.</p>



<p>Di antara para Striker tersebut adalah Legion Warwick. Seonggok prajurit besi berzirah putih dari ujung kepala hingga kaki. Jubah emas berlambang Kekaisaran Accretia tersemat gagah di punggungnya, menandakan dirinya pemegang supremasi komando pasukan logam.</p>



<p>&#8220;Cih, Darkmaul amat tidak becus menginvasi tempat kumuh ini. Bisa-bisanya dia gagal menembus pertahanan yang dibangun krucil-krucil pengganggu.&#8221; Ujarnya penuh penghinaan.</p>



<p>&#8220;Begitulah, Yang Mulia Legion. Seperti yang sudah saya perkirakan, Darkmaul Wakil Archon yang terlampau hijau untuk memimpin invasi skala besar,&#8221; tukas prajurit besi lain yang berdiri sedikit di belakang Warwick, memakai jubah merah pudar dengan lambang Kekaisaran, &#8220;andai Anda memilih saya-&#8220;</p>



<p>Belum sempat selesai dia bicara, Warwick langsung cengkram keras leher prajurit logam itu dan mengangkatnya sebelah tangan seraya bertanya, &#8220;… Apa kamu mencap dirimu sendiri sebagai Wakil Archon yang&nbsp;<em>berpengalaman,&nbsp;</em>Wingblade?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ti-tidak. Tentu tidak, Legion. Ampuni kelancangan saya.&#8221; Gemang suara yang keluar dari prosesor prajurit logam itu, namun anggota prajurit Kekaisaran lain seakan gak peduli. Menganggap hal itu biasa, &#8220;Menurut laporan intel yang kami terima, Pasukan Aliansi Suci sempat menginterupsi pertempuran. Wakil Archon Aliansi, Nephtali Trinyth, berhasil menumbangkan Darkmaul seketika menggunakan Force Badai tingkat tinggi dan langsung pergi tinggalkan Solus.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Sudah kuduga ada sesuatu. Tidak mungkin sirkuit Darkmaul mengalami&nbsp;<em>overload&nbsp;</em>akibat serangan liliput-liliput primitif.&#8221; Sang Archon Kekaisaran melepas cengkraman, jatuhkan Wingblade yang langsung ambil posisi berlutut di hadapan, &#8220;Kamu tau, Wingblade? Saya mungkin merendahkan Darkmaul, tapi bukan berarti kamu berhak tinggikan derajatmu sendiri dengan&nbsp;<em>meragukan&nbsp;</em>keputusan saya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap, Yang Mulia Legion! Saya menyesali perbuatan barusan!&#8221; Seru Wingblade sambil masih berlutut.</p>



<p>Tatapan artifisial Warwick bertemu di satu titik dengan sepasang iris biru gelap, &#8220;Tempat ini jadi begitu ramai. Wakil-Wakil Archon berkumpul dan saling beradu senjata di sini. Iya &#8216;kan, …&nbsp;<em>Blood Raider?</em>&#8220;</p>



<p>Gatan berusaha mengeratkan genggaman pada kedua pedang kembar, walau terasa jauh melemah. Irama napas begitu kacau, tapi Sang Wakil Archon Federasi gak beranjak sama sekali dari tempat berdiri.</p>



<p>&#8220;Archon dan dua wakilnya terjun buat nyerang langsung Dataran Solus … jangan pikir gw goblok kalo lu sampe bilang &#8216;cuma mau&#8217; bocah itu.&#8221;</p>



<p>Warwick membalas, &#8220;Apa kamu tidak punya niat menyerah? Lihatlah sekelilingmu. Dengan apa lagi kamu akan pertahankan wilayah ini? Prajuritmu bertumbangan, rekan sesama Wakil Archonmu saja sudah tidak sadarkan diri di dalam mainan rongsok itu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Lu mengincar Benteng Solus. Bukan, lu mengincar&nbsp;<em>apa&nbsp;</em>yang tersembunyi di Benteng Solus. Kami gak setolol yang kalian kira. Seberapa naif otak karatan lu? Berpikir kami bakal sukarela serahkan Benteng Solus.&#8221;</p>



<p>&#8220;Jadi kalian sudah tau. Menarik. Tapi walau tau&nbsp;<em>benda itu&nbsp;</em>yang jadi incaran kami, tidak ada yang bisa kalian lakukan untuk hentikan gelombang invasi kami.&#8221;</p>



<p>Sang Wakil Archon berusaha semaksimal mungkin gak tunjukkan kekagetan di hadapan musuhnya. Sebenarnya Gatan belum tau pasti apa yang jadi tujuan utama para Accretia selain merebut Lake. Bisa dibilang omongan yang sebelumnya terucap dari mulut Si Sentinel cuma sekedar pancingan.</p>



<p>Gatan curiga, gak mungkin Archon dan Wakil Archon Kekaisaran sampe turun kalo cuma buat nyulik seorang prajurit minim pengalaman macam Lake. Menelisik respon yang diberikan Warwick, Gatan gak pernah menduga asumsinya bakal tepat sasaran.</p>



<p>Ada sesuatu yang disembunyikan di Benteng Solus, dan Kekaisaran menginginkannya. Lalu entah gimana, anak didiknya terlibat di antara rantai kejadian yang saling bersinggungan. Tapi Si Sentinel gak akan biarkan musuhnya tau apa yang ada di benaknya.</p>



<p>&#8220;Lu gak perlu mikir gimana cara kami hentikan kalian. Karena tanpa kalian sadari, kalian udah berhenti.&#8221;</p>



<p>Warwick yang tampak kesal dengar bualan seorang prajurit bersimbah darah di depannya, menodongkan launcher tanpa siege kit, &#8220;Sekarang pilih. Minggir, atau tersingkir?&#8221;</p>



<p>Sang Wakil Archon Federasi sempat menoleh ke belakang sejenak, pertimbangkan akibat bila dia bergeser dari tempatnya berdiri. Benteng Solus terancam tergilas keganasan pasukan zirah besi. Izcatzin belum sadarkan diri, belum dievakuasi. Pemukiman penduduk di zona aman bakal dihabisi.</p>



<p>&#8220;<em>Gatan … tolong. Lindungi penduduk Bellato … dan Izcatzin.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Cepatlah. Mereka butuh kamu.&#8221;</em></p>



<p>Benaknya memutar kilas balik ucapan terakhir yang tertangkap telinga sebelum berangkat ke medan tempur. Kalimat dari orang-orang terdekat yang sandarkan harapan di pundak mungil Si Sentinel senior.</p>



<p>Namun rasa bersalah tetap menyeruak dari dada saat sadar bahwa korban berjatuhan gak sedikit jumlahnya. Gimana anak buahnya yang harus menanggung keegoisan diri, gak bisa dipungkiri itu akan selalu jadi beban pikiran.</p>



<p>Dia tancapkan pedang kembar ke tanah, lalu bersedekap mantap, &#8220;Gw gak akan beranjak sedikitpun.&#8221;</p>



<p>Seenggaknya ini hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk rekan-rekan yang telah berguguran.</p>



<p>Desingan bunyi keras makin terngiang di udara dari ujung Launcher Sang Archon Accretia, pertanda hendak lepaskan satu energi dahsyat yang sanggup luluh lantahkan apa yang ada di depan mata.</p>



<p>&#8220;Baik, kalau itu pilihanmu. Jadilah abu,&#8221; tukas Warwick.</p>



<p>&#8220;HEAAH!&#8221; Sebuah teriakan keras membahana, bikin Gatan terkaget juga. &#8220;SAYA AKAN JADI PERISAI ANDA, MAXIMUS!&#8221;</p>



<p>&#8220;K-kamu!?&#8221; Seorang Shield Miller muda berambut pirang acak-acakan bawa sebuah perisai besar berlari sekuat tenaga menuju jalur tembak Warwick.</p>



<p>Ish&#8217;Kandel gak peduli, walau serpihan kristal es masih tersisa di sekujur perlengkapannya, biarpun dingin masih terasa menusuk tulang, biarpun perutnya masih perih akibat luka tebasan pedang beku Ayzan, dia bertekad untuk jadi perisai bagi komandan seperjuangan.</p>



<p>&#8220;<em>Gw gak akan takut lagi!&#8221;&nbsp;</em>pikirannya menerawang kejadian di Ether saat dia ketakutan menghalau peluru Doomblast Kekaisaran,&nbsp;<em>&#8220;Gw gak akan ragu lagi!&#8221;&nbsp;</em>dan saat dia berpikir dua kali buat bantu saudari kembarnya, &#8220;<em>Kalah boleh, pengecut jangan!&#8221;</em></p>



<p>&#8220;Avant-garde!&#8221; Ish&#8217;Kandel pukulkan pedang ke perisainya. Force hijau keluar dari perisai layang-layang tersebut dan bagian sampingnya terbuka, mengubah bentuk perisai jadi jauh lebih besar dari yang seharusnya.</p>



<p>&#8220;ILKASH! JANGAN!&#8221; Teriak Gatan.</p>



<p>&#8220;<em>Ha, bonus kill</em>.&#8221; Launcher Warwick bertenaga penuh langsung muntahkan isinya berupa peluru proton teramat panas.</p>



<p>Ledakan proton silau menghujam deras perisai besar Ish&#8217;Kandel tanpa ampun. Gatan sampe angkat kedua tangan buat lindungi mata dari kilaunya. Ledakan tersebut terbelah di sisi kiri dan kanan Sang Wakil Archon akibat usaha pemuda berambut pirang acak-acakan itu.</p>



<p>Tetiba sebuah tombak nyala merah kejinggaan melesat, menembus sinar proton kebiruan yang masih terarah pada perisai Ish&#8217;Kandel sampai akhirnya menyumbat moncong launcher Warwick.</p>



<p>Sang Archon Accretia gak tinggal diam, dia lempar launcher tersebut jauh ke atas sebelum hasilkan ledakan besar di angkasa akibat tembakan laser protonnya tersumbat secara paksa.</p>



<p>Dentuman keras menggema seakan beban berat bertemu dataran Solus. Retakan dan ceruk kecil terbentuk di bawah kaki seorang pria gagah yang baru aja tiba di medan tempur. Armor merah kejinggaan membara, dihias sorot mata tajam menahan letup amarah yang siap meledak kapanpun. Dia rentangkan tangan ke depan, seakan berusaha gapai sesuatu.</p>



<p>&#8220;Cih, lagi-lagi mainanku hancur akibat ulahmu &#8230;&#8221;</p>



<p>Tombak yang tadi ikut terlempar bersamaan dengan launcher Warwick melesat kembali ke tangan kanan yang siap genggam kokoh tombak kebanggan Berserker terkuat. Asap yang terus menguap dari tombaknya, menandakan masih dalam suhu tinggi, tapi seakan gak pengaruh apa-apa. Jubah putih berhias lambang emas Federasi Bellato berkibar penuh wibawa di balik punggung pria itu.</p>



<p>&#8220;Ma-Maximus &#8230;&#8221; rintih Ish&#8217;Kandel.</p>



<p>Luka bakar tingkat lanjut terukir di sisi kiri tubuh Shield Miller muda yang amat telak terima serangan laser proton. Dia kesakitan dan nyaris hilang kesadaran. Perisai amat panas, bagian pinggirnya bahkan sampai meleleh. Tapi pandangan buram Ish&#8217;Kandel masih bisa menangkap sosok tegap di depannya.</p>



<p>Gatan hela napas lega usai sukses ulur waktu sampai pasukan Striker Accretia maju jauh dari posisi aman, &#8220;Lebur mereka &#8230;&#8221;</p>



<p>Ketiganya menyebut satu nama bersamaan, &#8220;Croiss.&#8221;</p>



<p>Tanpa aba-aba, Wingblade, Accretia berzirah kuning gelap berakselerasi amat cepat. 2 pasang pedang bersinar kekuningan mencuat dari kedua lengan dan betis logamnya.</p>



<p>&#8220;Datang belakangan!? Bukan waktunya sok jadi pahlawan!&#8221; Sindirnya pada Sang Archon Bellato.</p>



<p>&#8220;RAYAN!&#8221; Seru Croiss.</p>



<p>Mendadak muncul sosok Spiritualist lelaki di sebelah Si Berserker, &#8220;SIAP!&#8221; Lelaki itu cengkram bahu Croiss dan keduanya langsung hilang dari pandangan.</p>



<p>Sang Archon Federasi dan Spritualist tetiba muncul di hadapan Warwick, dalam sekejap pangkas jarak 300 meter yang sebelumnya sempat jadi jurang pemisah antar Archon.</p>



<p>&#8220;Inferno Tower!&#8221; Tanpa basa-basi tombak Croiss bergesekan dengan dataran Solus, hasilkan percik api yang kemudian berkobar hebat seraya lengan kekar mengayunnya dari bawah ke atas.</p>



<p>Sebuah kobaran api gak terkontrol bak menara langsung terbentuk akibat ayunan tombak Berserker terkuat sefederasi.</p>



<p>&#8220;Bajingan!&#8221; Umpat Wingblade setelah terjangan gagal total membelah target utama gegara keburu pindah tempat. Serangan 4 pedang Wingblade justru tertahan kapak ganda berukuran lebih kecil dari kapak tunggal pada umumnya. Dentingan senjata metal saling bergelut terdengar nyaring membahana.</p>



<p>&#8220;Terlalu cepat 10.000 tahun buat nyentuh mentor gua, sekrup karbu.&#8221; Ledek Warrior itu sembari tersenyum ramah di tengah adu kuat. Armor yang dia kenakan sedikit beda dengan armor Warrior kebanyakan. Bagian bahu hingga lengan kirinya dibuang hingga sisakan sarung tangan, pamerkan otot bisep kekar berurat, &#8220;Izinkan gua, Conquest Muynes Ibtasim, temani sisa hari lu yang dipastikan bakal kusut.&#8221;</p>



<p>Api yang muncul akibat ulah Croiss perlahan padam, sesosok prajurit besi terbelah tubuhnya tepat di tengah. Jingga berpendar terang dari bekas tebasan Sang Archon Federasi.</p>



<p>&#8220;Di mana etikamu, bocah beringas?&#8221; Ledek Warwick tenang sambil memegang kepala anggota yang dia jadikan tameng.</p>



<p>Sama sekali gak ada balasan terlontar dari mulut Croiss. Sadar serangan tombaknya gagal menggores target, dia langsung lancarkan tendangan bertenaga penuh yang sayangnya masih bisa ditahan launcher lain milik Warwick.</p>



<p>Tendangan dari Bellatean kekar begitu kuat terasa, sampai membuat Warwick harus rela terdorong jauh ke belakang walaupun sebagian besar daya serang mampu diblok dengan baik.</p>



<p>Kini Bellatean itu berdiri gagah di tengah kerumunan pasukan Accretia. Namun belum ada satupun logam yang berani bergerak menyerang. Mata oranye tajam dihias ekspresi murka seakan jadi peringatan bahwa gak bakal ada yang sanggup bertahan usai berhadapan.</p>



<p>Mata Croiss meneliti sekeliling, mendapati kepungan pasukan zirah besi, amati pasukan Resimen 1 Satuan Tugas Gabungan yang bertumbangan, menatap betapa porak-poranda Benteng Solus, dan seberapa parah kondisi dua Wakil Archon kepercayaannya.</p>



<p>Bisa dibilang ada sedikit penyesalan terselip di hati. Kenapa dia harus dengarkan saran Gatan untuk tetap di garis belakang? Andai dia datang lebih awal, tentu gelombang serangan para Accretia bisa lebih cepat dibendung dan gak perlu ada segini banyak korban dari pihak Bellato.</p>



<p>Tapi di sisi lain, dia bersyukur lebih milih turuti saran Wakilnya. Karena kini tugas untuk membalik alur pertempuran bakal jauh lebih mudah bila dirinya masih berada dalam kondisi fit.</p>



<p>&#8220;Boleh juga!&#8221; Seru Wingblade dikala beradu kemampuan lawan seorang ajudan Archon, Muynes.</p>



<p>Pertikaian mereka seru, dua pihak gak sudi saling mengalah dan terus berusaha cari celah kelemahan. Accretia berjubah itu gak nyangka ajudan Archon bisa imbangi kemampuan Wakil Archon</p>



<p>&#8220;Jelas. Gua adalah prajurit yang bakal teruskan api perjuangan &#8216;Infernova&#8217;. Camkan itu baik-baik,&#8221; balas Muynes penuh ambisi. Omongannya begitu kontras dengan ekspresi wajah yang tersenyum tenang, &#8220;okay, waktunya lu balik, keramik bengkel. Triple Threat.&#8221;</p>



<p>Kapak ganda di tangan menari liar seraya hujamkan serangan bertenaga tiga kali berturut yang mementalkan Wingblade kembali ke posisi pasukannya. Wingblade memutar tubuhnya di udara dan pertahankan kaki agar tetap menapak tanah seraya terus tergelincir ke belakang.</p>



<p>Hebatnya meski terpental cukup jauh, tapi zirah kekuningan tersebut sama sekali gak tergores. Seakan baru keluar dari bengkel poles armory.</p>



<p>&#8220;&#8230; Kesombongan kalian pasti hancur!&#8221; Wingblade hendak menyerang lagi, namun tindakannya terhenti gegara sebuah tebasan menggores daratan di depan kakinya diiringi hawa panas menekan udara.</p>



<p>Sebuah garis hangus yang entah berapa ratus meter panjangnya melintang akibat satu ayunan tombak Croiss, sukses jadi pemisah antara pasukan Federasi dengan pasukan Kekaisaran.</p>



<p>&#8220;Ini batas kalian,&#8221; ucapan Croiss amat mengancam, &#8220;BERANI AMBIL SELANGKAH AJA LEWATI GARIS INI, GUA HAPUS KEBERADAAN KALIAN DARI MUKA NOVUS!&#8221; Geramnya.</p>



<p>Sebagian besar prajurit Accretia yang gak percaya diri dengan kapabilitas mereka membeku di tempat. Cuma segelintir, di antaranya Archon dan Wakilnya, yang sanggup menekan balik determinasi yang ditunjukkan Croiss,</p>



<p>&#8220;Ha, apa kamu pikir gertak sambal seperti itu sanggup buat kami goyah?&#8221; Warwick kembali mengisi daya launchernya, kali ini dalam mode Siege, &#8220;kami tak perlu melangkah seujung baut pun untuk lenyapkan kalian. Sekarang, larilah! Menjeritlah! Takutlah! Doomblast!&#8221;</p>



<p>Kali ini bukan peluru proton yang dia gunakan, melainkan Doomblast.</p>



<p>Croiss tetap tegar sembari siagakan tombak dalam kuda-kuda untuk memukul balik peluru Doomblast yang meluncur deras itu, &#8220;Gua gak akan lari dari&nbsp;<em>sampah</em>&nbsp;yang korbankan anak buahnya demi keselamatan sendiri!&#8221;</p>



<p>&#8220;Plant Form; Colun Laidir!&#8221; rapalan mantra dari seorang pemuda berambut hitam membuat batang-batang pohon raksasa bermunculan dari bawah tanah dan membentuk pola anyaman di hadapan Croiss.</p>



<p>&#8220;Jangan jadi penghalang!&#8221; Bentak Archon Federasi pada Si Holy Chandra.</p>



<p>Peluru Doomblast menghantam penghalang dari pohon tersebut, dan anehnya &#8230; peluru Doomblast satu ini gak hasilkan ledakan area berbentuk kubah raksasa seperti biasa. Malah bisa dibilang, gak ada sama sekali ledakan. Yang ada cuma suara benturan kecil, dan tetiba batang-batang pohon besar yang tadinya kokoh terlihat amat kokoh kini meleleh bagai mentega di atas kompor.</p>



<p>Croiss gak menduga Accretia punya peluru Doomblast tipe baru. Andai tadi Si Berserker sembarangan menghujam peluru tersebut dengan tombaknya, entah apa yang akan terjadi.</p>



<p>Holy Chandra berambut hitam itu keliatan terengah karena kondisinya yang cuma bisa pake tangan kanan, &#8220;Saya gak bisa ambil resiko, Maximus.&#8221;</p>



<p>Gemuruh suara Armada Udara Bellato penuhi langit Solus. Bantuan. 5 jet tempur ditambah 3 pesawat transport jumbo yang palkanya terbuka perlihatkan Batalion inti pasukan Federasi dibawah komando Croiss.</p>



<p>&#8220;Pasukan utama tiba, Maximus Croiss!&#8221; Seru salah satu komandan regu melalui perangkat komunikasi, &#8220;sisakan bagian buat yang datang belakangan!&#8221;</p>



<p>Suara mesin perang darat andalan Federasi, MAU, ikut menggelegar kali ini dari sektor sayap kiri, &#8220;Lapor! Saya Conquest Gillard, pimpinan Tim Sergap Divisi 1 Artileri Bellato. Kami telah berada di posisi dan siap menggilas mereka!&#8221; Team 2 Divisi 1 Artileri Bellato yang dari awal mengambil rute memutar cukup jauh akhirnya tiba di posisi untuk mengepung pasukan Accretia.</p>



<p>Awalnya banyak dari anggota mereka yang mempertanyakan keputusan Izcatzin, namun gak cukup berani menentang.</p>



<p>Bila pakai akal sehat, tentu siapapun pasti ingin terjunkan pasukan terkuat untuk berhadapan langsung dengan pasukan utama musuh. Tapi tiap anggota Divisi Artileri sadar, siapa yang memberi perintah. Meski sering dilanda takut dan ketidak-sukaan terhadap perkataan pedas Wakil Archon wanita, mereka tetap percaya.</p>



<p>Mereka percaya Izcatzin memikirkan langkah antisipasi paling efisien untuk netralisir serangan dari pasukan musuh yang seringnya lebih kuat dari pasukan Federasi.</p>



<p>Benar. Sepanjang pertempuran berlangsung, yang menghadapi laju serang pasukan Accretia hanya Gatan dan Resimen 1-nya plus Divisi 1 Artileri yang dipecah dua oleh Izcatzin hingga waktu yang dinanti tiba. Waktu Croiss datang bersama pasukan utama dari belakang, dan Tim Sergap dari sayap kiri.</p>



<p>Strategi yang sebenarnya sederhana, namun butuh ketepatan dan saling percaya antar pemimpin untuk implementasi. Dan kedua Wakil Archon yang kini gak lagi mampu bertarung berhasil melakukannya secara sempurna.</p>



<p>Walau ada sedikit penyesalan akibat tumbangnya kedua Wakil Archon, Croiss harus mengakui. Sekuat apapun dirinya, sehebat apapun tombaknya berkobar melumat musuh, pada akhirnya Croiss gak mampu kalahkan Gatan dan Izcatzin dalam urusan strategi perang.</p>



<p>Pasukan Kekaisaran, terutama skuad Striker yang jadi pilar utama kerusakan lagi kerepotan menahan serangan mendadak dari para Armor Rider yang mengendarai Black Catapult dan Goliath.</p>



<p>Prajurit di bawah komando Croiss yang terdiri dari Satuan Tugas Gabungan, Divisi Artileri Bellato, dan Brigade Support Federasi serempak menggempur barisan depan pasukan Kekaisaran.</p>



<p>Sang Archon gak bergerak. Hanya berdiri menatap prajurit-prajuritnya yang turun dari pesawat transport berlarian di sisi kiri dan kanan. Raut muka Croiss kembali geram begitu matanya balik menatap musuh, &#8220;Waktu lu habis, Warwick.&#8221;</p>



<p>&#8220;Keparat kamu,&#8221; Prosesor Warwick kalkulasikan kemungkinan selamat bila tetap pertahankan posisi. Angka simulasi di optik artificalnya menampilkan angka 1.37%, &#8220;Wingblade! Tarik mundur pasukan yang tersisa! Berikan tembakan perlindungan, dan buang semua bom asap yang kita punya! Panggil pesawat penjemputan sekarang juga!&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap, Yang Mulia Legion!&#8221;</p>



<p>Sebelum lanjut terlibat dalam pertempuran, Croiss berjalan ke arah berlawanan dari gelombang pasukan yang dia pimpin. Langkah pria itu membawanya menuju hadapan Gatan yang masih tegak bersimbah darah sendiri.</p>



<p>Mata biru gelap Sang Wakil Archon menatap dalam diam, satu helaan napas panjang diiringi wajah tertunduk kecewa, &#8220;Maaf, gw gagal.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ini bukan kegagalan,&#8221; bantah Croiss singkat.</p>



<p>&#8220;Gw yang menghadang lu turun lebih awal ke medan tempur, yang sok kuat dan sok bisa atasi kekuatan Kekaisaran padahal kenyataannya gw yang dibuat babak belur,&#8221; balas Gatan masih tertunduk, &#8220;tahun ini gw pantas mati, Croiss.&nbsp;<em>Dua kali.&nbsp;</em>Dua kali gw diselamatkan anak buah sendiri,&#8221; keseimbangan Gatan makin goyah, tubuh kecil lunglai sampai akhirnya condong ke depan, &#8220;gw gak pantas &#8230; disebut &#8230; wakil-&#8220;</p>



<p>Lengan Croiss mencegah tubuh wakilnya yang telah hilang kesadaran tergeletak di tanah.</p>



<p>&#8220;&#8230; Kalo prajurit seperti lu gak pantas disebut Wakil Archon, entah siapa yang lebih pantas,&#8221; balas Croiss, &#8220;Rayan,&#8221; Sang Archon beralih memanggil ajudan pribadinya, &#8220;berapa kali lagi kemampuanmu bisa dipakai?&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap, teleport terpakai 2 kali sebelumnya. Sisa sekali lagi.&#8221;</p>



<p>Croiss terdiam. Sang Archon tau ajudannya cuma bisa bawa seorang aja dengan kemampuan perpindahan tempat, dan dia udah manfaatkan hal tersebut supaya bisa sampai lebih dulu dari pasukan utama.</p>



<p>Sedangkan kini dua Wakil Archon terluka parah dan harus menerima perawatan tingkat lanjut di Markas Pusat. Dalam hati dia berpikir, apa yang akan diucapkan Gatan dalam keadaan ini?</p>



<p>&#8220;&#8230; Pindahkan Shield Miller muda itu ke Markas Pusat. Dia lebih butuh perawatan intensif terhadap luka bakar yang diderita,&#8221; Croiss berkata sembar serahkan tubuh Gatan untuk ditangani lebih lanjut, &#8220;Bawa Gatan dan Izcatzin ke ruang perawatan Benteng Solus.&#8221;</p>



<p>Rayan berkata, &#8220;Satu masalah, Maximus,&#8221; membuat mata tajam Croiss melirik padanya, &#8220;ruang perawatan Benteng Solus luluh lantah akibat gempuran misil Armada Udara Kekaisaran.&#8221;</p>



<p>Tangan Sang Archon mengepal kesal diiringi rutukan gigi saling beradu. Tapi dia tetap berusaha terkendali, &#8220;Muynes, bisa kamu dengar saya? Pimpin pasukan pengejaran sampai para Accretia keluar dari wilayah Solus. Selebihnya, biarkan mereka lari.&#8221;</p>



<p>&#8220;Maximus, bukannya kita perlu beri efek jera atas perbuatan mereka? Kita harus binasakan mereka karena berani injakkan kaki dan cari perkara di wilayah kita,&#8221; jawab Muynes kalem dari perangkat komunikasi.</p>



<p>Dalam kondisi normal, bila Croiss masih menjadi dirinya yang dulu, tentu dia gak bakal ragu untuk ikut serta dalam pengejaran pasukan Accretia dan bakal melumat mereka sampai gak bersisa. Tapi satu kalimat yang terucap dari mulut Gatan mengubah semuanya.</p>



<p><em>&#8220;Anda sudah bukan lagi Berserker yang dulu.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;Biarkan,&#8221; kini mata merah kejinggaan Croiss menatap Benteng Solus yang telah porak poranda, &#8220;luka kita terlalu dalam.&#8221;</p>



<p>Pikiran Croiss kembali bergelut. Rusaknya ruang perawatan Benteng Solus berarti semua prajurit yang terluka harus dibawa langsung ke ruang perawatan markas pusat. Memang bisa handalkan Brigade Support Federasi yang turun ke medan tempur, namun mengingat terbatasnya tenaga perawat dibandingkan jumlah prajurit terluka, pastinya gak akan sefektif bila ruang perawatan Solus tetap berdiri.</p>



<p>Bahkan bila naik pesawat transport pun butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Markas Pusat. Entah berapa nyawa bakal meregang sepanjang perjalanan, tapi tampaknya memang cuma itulah pilihan terbaik saat ini.</p>



<p>Usai aksinya lindungi Croiss beberapa saat lalu, Rokai gak serta merta mematung dan sekedar nonton melainkan langsung kembali bergegas gencar rapal mantra pemulihan Force alam tingkat dasar ke beberapa prajurit yang tergeletak berbalut luka.</p>



<p>Bahkan ada di antara mereka yang udah gak lengkap lagi anggota tubuhnya.</p>



<p>Sejalan dengan apa yang lagi diusahakan mentornya, Conquest Rylit. Tapi force dari Si Astralist udah hampir terkuras habis akibat banyaknya prajurit tumbang, terutama dari Resimen 1 Satuan Tugas Gabungan dan Divisi 1 Artileri Bellato.</p>



<p>Para Holy Chandra dan tenaga medis masih berdatangan dari lini depan membawa prajurit bahkan ketika Conquest Rylit belum selesaikan prosedur perawatan pada satu orang.</p>



<p>&#8220;Conquest,&#8221; sela Rokai, &#8220;keadaan ini &#8230; gak bagus sama sekali. Prajurit-prajurit ini, mereka bakal gugur kalo gak cepat dibawa ke Markas Pusat.&#8221;</p>



<p>&#8220;&#8230; Saya tau. Maaf, tapi cuma sebatas ini yang &#8230; saya bisa,&#8221; jawab perempuan itu sambil berusaha tersenyum kala napas terengah.</p>



<p>Rokai berdecih, sesali ketidak-mampuan lakukan sesuatu saat orang di sekelilingnya butuh bantuan. Apanya yang calon Holy Chandra terkuat? Toh dia belum sepenuhnya menguasai force alam lanjutan yang punya efek pemulihan lebih hebat.</p>



<p>Kapasitas Force melimpah dalam dirinya sama sekali gak berguna kalo cuma terus pakai mantra pemulihan dasar.</p>



<p>Dia mulai salahkan diri sendiri, &#8220;Andai Anda yang dianugrahi kelebihan force, mereka pasti selamat.&#8221;</p>



<p>Mata Rylit membulat dengar argumen Rokai seakan langsung sadar suatu hal yang teramat krusial. Dia menatap Rokai, ekspresi lega tergambar jelas di muka sambil berseru, &#8220;Itu dia!&#8221;</p>



<p>Rokai yang terlonjak sedikit kaget gak bisa berbuat apapun pas mentornya itu menarik pergelangan tangan kanannya menuju tempat Croiss berada.</p>



<p>Ketika sibuk pikirkan langkah paling efisien, Sang Archon ditegur seorang wanita bersuara amat halus tersebut, &#8220;Maximus, kami bisa bantu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Conquest Rylit,&#8221; Croiss menelisik wanita itu plus seorang Holy Chandra lelaki berambut hitam yang sebelumnya dia bentak, &#8220;jelaskan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kami akan buat&nbsp;<em>keajaiban</em>,&#8221; ujarnya mantap.</p>



<p>&#8220;&#8230; Kalian bisa?&#8221; tanya Croiss agak ragu.</p>



<p>&#8220;Bisa.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kita bisa?&#8221; kini giliran Rokai yang ikutan skeptis.</p>



<p>Mentornya tersenyum yakin lagi manis, &#8220;Dengan bantuan Forcemu, tentu.&#8221; Conquest Rylit mendekat, lalu membuka telapak tangan yang terdapat biji-biji tanaman. Dia berkata, &#8220;Cukup genggam tangan saya dan konsentrasi alirkan force-mu sebanyak mungkin. Sisanya, biar saya yang urus.&#8221;</p>



<p>Rokai mengangguk tanda paham. Dia percaya sepenuh hati dan jiwa pada mentor yang telah ajarkan banyak hal terkait force alam, force terhebat dalam urusan pemulihan. Tanpa ragu dia genggam tangan Rylit dan coba fokus semaksimal mungkin.</p>



<p>Tangan keduanya mulai berpendar warna kehijauan yang sejuk dipandang mata.</p>



<p>Rylit berujar kalem di tengah perpindahan aliran Force yang cukup intense tersebut, &#8220;Kita harus merapal mantranya bersama.&#8221;</p>



<p>Si Holy Chandra muda lagi-lagi mengangguk.</p>



<p>&#8220;Plant Form;&#8221; ucap kedua Spiritualist tersebut dalam waktu yang sama. Lalu keduanya langsung menekan genggaman tangan mereka ke tanah, &#8220;Valley of Valoria.&#8221;</p>



<p>Mata Sang Archon masih terkunci pada&nbsp;<em>pertunjukan&nbsp;</em>tersebut. Menanti apa yang akan terjadi, namun dia cukup bingung. Pasalnya gak ada hal yang berubah setelah aksi kedua Spiritualist tersebut.</p>



<p>&#8220;Saya gak liat ada perubahan,&#8221; Si Berserker terlihat makin gak terkesan.</p>



<p>&#8220;Menanti kehidupan untuk tumbuh dan berjaya butuh kesabaran, Maximus,&#8221; Conquest Rylit masih percaya diri dan umbar senyum seraya berdiri kembali. Sejenak kemudian, tanah tempat mereka berpijak perlahan mulai retak.</p>



<p>Dari bawah retakan tersebut sekejap mencuat batang pohon raksasa, kokoh, bercabang banyak. Dedaunan hijau langsung muncul dari cabang-cabangnya dan dengan cepat tumbuh menjadi kanopi alam yang begitu rindang.</p>



<p>Retakan tanah masih terus bergerak menuju Benteng Solus dan begitu sampai ke tebing di depan gerbangnya, akar berlapis-lapis menembus dataran dan terus bergerak menggulung sisa logam jembatan dan menghubungkan kembali jalan menuju gerbang benteng</p>



<p>Tanaman-tanaman hijau beragam ukuran mulai tumbuh dengan cepat di setiap pelosok Benteng yang porak-poranda, sebagian dari tanaman tersebut bahkan memiliki bunga-bunga cantik amat sedap dipandang, mencuat dari sela-sela dinding, sampai menutupi pilar-pilar penopang mesin teleport.</p>



<p>Mata Rokai dan Croiss bercampur antara takjub sekaligus gak percaya.</p>



<p>Tumbuh-tumbuhan gak cuma membungkus benteng dengan cepat tapi juga menyebar luas sampai ke luar zona aman. Dataran hangus yang membentuk kawah buatan akibat dihantam mini nuklir Accretia udah gak terlihat gegara kembali tertutup permadani hijau alami.</p>



<p>Semerbak aroma khas pegunungan yang segar lagi menyejukkan merasuk ke paru-paru siapapun yang menghirup udara solus. Tenangkan hati, tentramkan jiwa. Serbuk-serbuk bunga berterbangan dibawa angin sepoi jatuh di tubuh para prajurit terluka di berbagai penjuru dataran Solus yang gak sempat di bawa ke zona aman, pulihkan luka mereka secara berangsur-angsur.</p>



<p>Rokai tutup mata nikmati moment keajaiban ini. Sakit di tubuhnya perlahan tapi pasti terangkat, sisakan nyeri yang dominan berpusat di patahan tangan kiri.</p>



<p>Senada dengan apa yang dirasakan Rokai, Croiss pun merasa staminanya yang walau terpakai cjma sedikit kembali pulih seutuhnya seakan gak terjadi apapun.</p>



<p>&#8220;Dan segala kesabaran serta pengorbanan pasti berbuah manis,&#8221; lanjut Conquest Rylit sambil senyum hangat.</p>



<p>&#8220;Luar biasa, Conquest. Kalo gak ada kamu, entah gimana nasib prajurit-prajurit malang itu. Kamu pantas disebut pahlawan,&#8221; puji pria berambut kemerahan.</p>



<p>Tapi Rylit malah menggeleng, &#8220;Bertaun-taun saya pelajari mantra penyembuhan tingkat tertinggi ini tanpa pernah terpikir bakal mampu menggunakannya karena force yang dibutuhkan jauh melampaui batas Spiritualist normal, Maximus. Saya gak akan mampu tanpa bantuannya,&#8221; tatap mata Si Astralist tertuju pada Si Murid.</p>



<p>Croiss menepuk bahu Rokai, &#8220;Hebat, Captain Rokai. Saya berharap banyak padamu di masa depan,&#8221; kemudian dia berlalu untuk observasi keadaan medan tempur lebih detil.</p>



<p>Rokai terlonjak sesaat, wajahnya tenggelam dalam getir yang gak mampu diungkapkan, &#8220;&#8230; Saya &#8230; saya gak berbuat apa-apa.&#8221;</p>



<p>Mentornya amati seksama reaksi Si Murid. Dia tau betul, Rokai amat berbakat dalam urusan pelajari force penghancur dan emang dasar bocahnya cepat belajar plus beradaptasi dengan dunia kedokteran. Tapi tanpa alasan jelas, semua itu gak terbawa saat Si Holy Chandra muda coba kuasai force penyembuhan.</p>



<p>Bahkan sampai saat ini Plant Form; Nature&#8217;s Armor satu-satunya force alam dasar penyembuhan yang dia kuasai.</p>



<p>Tangan Conquest Rylit masih terukir luka sayatan mengelus lembut rambut hitam Rokai, berharap bisa sedikit padamkan api kerisauan di hatinya, &#8220;Tegakkan kepala, Kamerad. Jalanmu masih jauh.&#8221;</p>



<p>&#8220;Conquest &#8230;,&#8221; Mata hitam bertemu mata biru langit di satu titik, &#8220;&#8230; izinkan saya belajar dari Anda sedikit lebih lama.&#8221;</p>



<p>&#8220;Saya gak akan melepasmu sebelum kamu kuasai&nbsp;<em>semua&nbsp;</em>yang saya tau.&#8221;</p>



<p>Respon Rylit berbalas sikap hormat dari muridnya sebagai tanda terima kasih.</p>



<p>Di bawah naungan teduh kanopi alam, ditemani kesejukan tumbuh-tumbuhan hijau, di hadapan Benteng Solus yang kini seolah jadi bangunan kuno berabad-abad gak dihuni, satu tekad terbakar dalam hati prajurit. Misi untuk wariskan ilmu, bukan cuma demi diri sendiri, tapi juga demi generasi penerus.</p>



<p>Untuk menghancurkan, atau untuk menjaga. Masing-masing prajurit selalu punya kedua potensi tersebut. Tinggal pribadi yang tentukan, ke mana diri hendak melangkah.</p>



<p>Sampai tiba waktu konfrontasi dengan takdir selanjutnya.</p>



<p><em>.::The End of Siege on Solus Arc::.</em></p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color"> <em>&#8220;Retreating doesn&#8217;t mean losing. Keep that in your empty brain.&#8221; </em><br><em>&#8211; Hash&#8217;Kafil (Ch. 57)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 58 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 59:<br>Coming Soon!</p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 57:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br> Tombak Croiss, <em>Infernova</em>, sebenarnya lebih condong disebut <strong>glaive </strong>ketimbang <strong>spear</strong>. Apa bedanya? Kalo <strong>spear</strong> tombak yang dominannya dipake buat nusuk karena kepala tombaknya ramping. Kalo <strong>glaive</strong> tombak yang di ujung tongkatnya dipasangin pedang mata satu (<em>single-edged blade</em>) jadi efektif dipake buat nebas juga. Mirip-mirip senjata Guan Yu atau Shirohige lah. <br><br>Regards,<br>Mie Rebus.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-58/">LAKE CHAPTER 58 &#8211; SOS 13: CLEARENCE</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-58/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 57 &#8211; SOS 12: BEATEN UP</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 17:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1593</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;We&#160;are not war machines, Khortenio. Doesn&#8217;t matter how strong, in the...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/">LAKE CHAPTER 57 &#8211; SOS 12: BEATEN UP</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Gw masih ingat saat pertama kali ketemu Elka, seakan baru terjadi kemarin.</p>



<p><em>Waktu itu gw dan Paman Ren baru aja pindah dari hidup di tengah hutan Alcatra ke sebuah tempat hampir dekat dengan Kota Yazpen di Planet Bellator. Gak begitu ingat apa alasan Paman putuskan buat pindah rumah. Kalo gak salah biar gak terlalu jauh dari kota dan gak jauh dari komunitas masyarakat, katanya.</em></p>



<p><em>Dia suka khawatir tinggalkan gw sendirian di tengah hutan pas harus belanja kebutuhan-kebutuhan khusus atau berburu atau mancing. Kayaknya tanggung jawab harus hidupi satu lagi anggota keluarga juga jadi faktor penentu. Padahal biar ditinggal sendiri pun gw mah santai aja ya kan.</em></p>



<p><em>Sekian tahun hidup terisolasi di hutan agaknya ada sisi menguntungkan juga. Paman Ren kerap ajarkan kemampuan dasar bertahan hidup mulai dari berburu, berkebun, ngurus rumah, nyari tanaman obat, dan perawatan awal bila terluka. Banyak hal bermanpaat, cuman ya gitu. Gw suka lebih milih gak gubris dan anggap semua itu ribet dan susah. Ya namanya masih bocah, umur aja masih di bawah lima.</em></p>



<p><em>Walau sebenarnya, ajaran dari Paman beberapa ada yang masih nyangkut di kepala. Itulah kenapa di akademi gw gak goblok-goblok banget untuk urusan bertahan hidup.</em></p>



<p><em>Siapa yang tau, kan? Dulu gw kira Paman Ren sekedar orang tua yang bisa berbagai macam hal gegara puluhan taun menjomblo. Eh sekarang pas gw tau dulunya dia seorang anggota kemiliteran, semua mulai masuk akal. Pantesan dia begitu piawai lagi cekatan.</em></p>



<p><em>Untungnya Paman Ren bukan orang yang keras dalam didik anak. Cenderung santai malah. Jadi liat keponakannya gak pedulikan ajaran, dia gak terlalu maksa untuk harus bisa semua itu.</em></p>



<p><em>Baru deh pas masuk akademi gw menyesal gak perhatikan ajarannya lebih seksama. Hmm, kalo udah terlahir dengan sifat super malas, apa mau dikata.</em></p>



<p><em>Rambut kelabu gw selalu dicukur Paman Ren supaya gak terlalu lebat dan panjang, bisa menarik perhatian soalnya. Dan udah gitupun kalo jalan ke kota kepala gw selalu ditutup topi. Pas lagi temani Paman Ren beli perkakas rumah tangga, di depan sebuah toko tanaman dekat situlah gw liat sesosok gadis berambut coklat lagi berdiri menatap pohon blueberry penuh kekaguman. Sosoknya tampak lucu dan imut apalagi dengan baju terusan hijau tosca melekat di badan.</em></p>



<p><em>Gw gak terlalu paham apa yang istimewa dari pohon blueberry di hadapannya, yang begituan mah udah sering liat di hutan Alcatra. Eh, t</em><em>erus tau-tau gadis kecil itu buka mulut dan langsung nyaplok buah beri biru yang bergelantungan. Wuedan gak pake tangan.</em></p>



<p><em>Makin gak paham jalan pikiran ini bocah. Dan kesan pertama yang nyangkut di otak gw kala itu adalah; kok gini?</em></p>



<p><em>Perasaan nih ya, orang normal kalo mau makan buah dari pohonnya tuh mesti dipetik dulu. Pake tangan. Abis itu baru dimakan. Lah ini lepas tangan udah kayak naik sepeda gaya bebas. Tapi muka anak itu terlihat amat bahagia sampe gak tega mau ketawain kelakuannya.</em></p>



<p><em>Sepertinya dia sadar lagi ada yang nonton sedari tadi. Karena gadis kecil itu menoleh ke arah gw yang masih terpaku tepat di sebelah.</em></p>



<p><em>Dengan mulut cemong ungu sampe ke baju terusan hijaunya ikut ternoda di sekitar leher, dia tersenyum ceria seraya sodorkan beberapa butir beri biru, &#8220;Mau?&#8221;</em></p>



<p><em>Terdiam sejenak sembari telusuri telapak tangan kanan mungil yang terbuka, lalu mendadak gw caplok juga ikuti gayanya.</em></p>



<p><em>Gadis itu kaget, langsung tarik tangan supaya gak ikut kemakan. Dia menatap horor sambil elus-elus tangan kesayangan yang hampir tergigit orang asing lalu bertanya keheranan, &#8220;K-kok &#8230; kamu aneh?&#8221;</em></p>



<p><em>Alis gw terangkat sebelah. Mulut selagi ngunyah berusaha bicara, &#8221; &#8216;Kan ajaranmu.&#8221;</em></p>



<p><em>&#8220;Ih, cuma aku yang boleh kayak gitu. Kamu jangan. Nanti bibirnya jontor.&#8221;</em></p>



<p><em>&#8220;&#8230; Terus kalo kamu yang begitu, gak bakal jontor?&#8221;</em></p>



<p><em>&#8220;Aku udah kebal,&#8221; ujarnya bangga sambil tepuk dada, &#8220;Elkanafia Yeve Nordo. Nenek biasa manggil aku Elkanafia.&#8221;</em></p>



<p><em>Gw yang masih sibuk ngunyah hadiah pemberiannya cuma menatap muka polos tersebut, &#8220;Itu namamu?&#8221;</em></p>



<p><em>Dia mengangguk kecil.</em></p>



<p>&#8220;Panjang amat,&#8221;<em>&nbsp;respon gw membatin. Gak tega buat dia menunggu lebih lama, gw ikutan tepuk dada. Lagi-lagi tiru gayanya, &#8220;Lake.&#8221;</em></p>



<p><em>&#8220;Kok nama kamu pendek? Gak kayak aku?&#8221;</em></p>



<p><em>Kedua bahu gw terangkat, &#8220;udah dari sananya,&#8221; sebenarnya ada alasan lain. Paman Ren getol banget ingatkan gw supaya gak beri tau nama belakang pada orang yang baru dikenal. Tapi tentu gak mungkin gw beberkan alasan itu padanya.</em></p>



<p><em>Gadis kecil itu pasang ekspresi putar otak keras-keras. Entah apa yang lagi dipikirkannya, &#8220;Okey, kalo gitu mulai sekarang aku mau dipanggil Elka. Biar sama-sama pendek.&#8221;</em></p>



<p><em>Aneh. Tapi gw yakin dia anak baik. Cara berinteraksinya agak gak biasa, tapi cukup bagi gw untuk tertarik jalin hubungan pertama dengan orang di luar keluarga. Sejak saat itu, kami sering main bersama. Ternyata rumah neneknya di pinggiran kota juga. Emang masih agak jauh sih dari Rumah Paman Ren, tapi masih bisa terjangkau langkah anak kecil. Paman Ren yang sadar kalo gw punya teman baru, gak buang waktu lama buat kenal Elka lebih jauh. Dan seringkali kasih Elka blueberry yang dia tanam sendiri.</em></p>



<p>Gw suka banget liat ekspresi wajah Elka tiap makan blueberi walaupun bisa dibilang kayak orang blo&#8217;on. Bahkan sampe kita beranjak dewasa pun, ekspresi itu gak berubah. Liat kebahagiaan terpancar dari muka manisnya selalu sukses mengirim gw kembali ke masa-masa waktu kita pertama kali ketemu.</p>



<p>Itulah kenapa, garis wajah dingin saat tangannya remas batang leher sangat gak bisa gw percaya. Kenapa? Apa salah gw? Apa gegara tindakan gw yang bikin dia marah sebelumnya? Iya, pasti gegara itu. Tapi &#8230; apa cuma karena itu gw pantas mati?</p>



<p>Semua pertanyaan berputar di kepala tanpa bisa terutarakan, sedangkan pandangan gw makin memutih dan sampe hampir gak keliatan apapun.</p>



<p>Sosok mungil berambut pink bergerak cepat dan menampar wajah Elka pake tangan berbalut api dari belakang! &#8220;Heatshackle,&#8221; Letusan langsung tercipta begitu tamparan terjadi, cukup kuat buat bikin Elka terpental dari atas badan gw. Tali api terhubung dari tubuh si penampar dan si Infiltrator.</p>



<p>&#8220;Ahakh, uhk!&#8221; Rasa lega langsung memenuhi sistem pernapasan. Pandangan gw perlahan tapi pasti kembali normal biarpun masih pusing.</p>



<p>Gw udah gak tau lagi apa yang terjadi, Mein &#8230; masih hidup! Apa mata gw menipu sebelumnya!? Gimana mungkin ada orang yang bisa bertahan dari tembakan tepat di kepala!? Tapi &#8230; luka di kepalanya masih ada. AAH! Gak tau ah!</p>



<p>Selagi tali api masih terhubung antara dua wanita itu, Mein hujani sang lawan dengan mantra api, &#8220;Fireflies; Reign of Flames,&#8221; seiring serangan mantra terus masuk pada badan si infiltrator, getaran energi keliatan menjalar sepanjang tali api dari tempat Elka menuju tubuh Mein, pulihkan luka-luka di seluruh tubuh si perapal mantra secara cepat.</p>



<p><em>&#8220;A-ARGH!&#8221;</em>&nbsp;rasa sakit lebih parah datang hampiri sekujur badan kali ini. Pekikan gw aja udah kayak orang sekarat, hampir gak terdengar akibat tenggorokan yang serasa nyaris hancur gegara cengkraman kuat Elka.</p>



<p>Dari balik gumpalan asap dan jilatan lidah api, perempuan berambut coklat pendek bangkit. Belah asap dan berakselerasi menuju Meinhalom! Entah gimana cuma sedikit luka bakar yang terukir di badannya. Selagi lari, tubuhnya terkamuflase lingkungan sekitar, seakan transparan untuk beberapa detik.</p>



<p>Sebenarnya gak benar-benar transparan, masih bisa dideteksi karena masih ada pergerakan riak kayak bensin yang terekspose udara. Tapi itu cukup bikin Mein kerepotan ikuti pergerakannya, alhasil tangan Elka mampu gapai wajah Meinhalom dan tanpa ragu lempar tubuh sang lawan menuju tebing berbatu. Benturan antara tubuh Wizard mungil dan batuan sampe sanggup retakkan tebing tersebut.</p>



<p>Untuk kesekian kali gw coba berdiri, manpaatkan busur di tangan sebagai penyanggah. Kesampingkan seluruh rasa remuk yang ada, meski kaki dan tangan gw gemetar hebat.</p>



<p>Elka masih terus melesat dekati tubuh Mein yang bersarang di tebing dan bombardir Mein dengan tendangan serta pukulan. Debu-debu dari serpihan tebing kembali terangkat dan bikin pandangan gw terhalang. Itu berlangsung beberapa menit sampe akhirnya terdengar rapalan mantra, &#8220;Jetstream,&#8221; yang lagi-lagi bikin Elka harus terlempar jauh ke belakang.</p>



<p>Edan! Gak ada hentinya saling bikin lawan terpental dari tadi.</p>



<p>Mein keluar dari ceruk tebing tempatnya dihajar habis oleh Elka. Untung gak jadi dadar gulung tu bocah. Walau mantra transformasinya masih aktif, Si Wizard udah sempoyongan. Darah mengalir dari mulut dan dahi dengan napas menggebu. Sebelah matanya mulai memar, api di rambut masih menyala, namun perlahan redup. Kaki kembali menapak tanah, mantra penyembuhan diri sendiri dari tali api yang sempat dilakukannya tadi seakan gak pengaruh apa-apa.</p>



<p>Tapi dia gak keliatan bakal nyerah di sini. Ugh! Mereka harus dipisahkan, kalo gini terus bakal beneran ada yang mati!</p>



<p>Untaian segilima yang mengorbit di punggungnya terbagi, melayang anggun menuju sepanjang dua lengan, &#8220;Destructo &#8230;&#8221; dua cakram api terbentuk di atas kepala, &#8220;Disc,&#8221; dengan sisa tenaga yang susah payah terkumpul, Mein lempar cakram api bergerigi tersebut secara bergantian.</p>



<p>Si Wizard langsung jatuh berlutut usai lempar mantra. Sayang, upaya terakhir itu gak berbuah hasil maksimal. Tanpa kesulitan berarti, Elka sukses hindari terjangan cakram berapi. Cuma liukkan tubuh penuh ketenangan bahkan tanpa harus pindah pijakan kaki. Sialan. Kenapa sih dia harus begini jago urusan kelahi?</p>



<p>&#8220;Hahaha,&#8221; gelak tawa pecahkan suasana. Seorang yang pake jubah hitam di badan cegah Elka untuk nyerang lebih lanjut, &#8220;hebat &#8216;kan Yelanaku?&#8221; luka sabetan berupa dua garis diagonal terpahat di wajahnya.</p>



<p>A-apa? Siapa lagi sekarang?</p>



<p>&#8220;Kalian tau, anggaplah ini sebagai ajang pamer kekuatan. Peringatan, mungkin. Kami hanya ingin kalian sadar, yang kalian lawan barusan baru&nbsp;<em>satu</em>. Bayangkan, bagaimana bila dua &#8230; tiga &#8230; lima &#8230; ?&#8221; ujarnya. Seringai kesombongan terpatri di muka, &#8220;Bagaimana, Yelana? Apa kamu sudah puas menghajar mereka?&#8221;</p>



<p>Yelana? Siapa yang dia panggil Yelana!?</p>



<p>&#8220;Dia &#8230; dia bukan punya lu,&#8221; apa-apaan ini orang? Cih, siapapun nama yang dia sematkan pada Elka, gw gak bisa terima! &#8220;<em>D</em><em>ia</em>&nbsp;tawanan gw,&#8221; suara gw masih terdengar lemah.</p>



<p>Perkataan barusan bikin dia berpindah tempat ke hadapan gw dan langsung merenggut dagu! &#8220;Tsk, tsk, tsk, dengar baik-baik, anak haram. Kamu pikir kamu kenal dia, kamu pikir kamu tau apa yang dia mau, tapi sebenarnya semua berlawanan dari apa yang kamu pikirkan. Yelana, kamu dengar apa yang dia katakan, &#8216;kan? Dia menganggapmu&nbsp;<em>tawanan,&#8221;&nbsp;</em>begitu enteng dia ayun tangan sampe bikin gw terlempar. Akibat tenaga pria itu, gw harus tersungkur di hadapan kaki Elka, &#8220;dia menganggapmu tak berdaya. Kasih tau dia, apa yang kamu bisa.&#8221;</p>



<p>Elka jambak rambut kelabu dan maksa untuk berdiri. Gw gak punya pilihan selain angkat lengan depan wajah, pasang kuda-kuda bertahan pas liat dia mendekat, lancarkan pukulan bertubi yang disisipkan tendangan serta serangan lutut. Ka &#8230; lu diapain sama dia sampe tega gebukin gw kayak gini? Bukannya lu sendiri yang pernah bilang gak bisa liat gw bersimbah darah?</p>



<p>Tentu mulut gw udah gak sanggup bersuara untuk sekedar tanya. Pusing. Akhirnya karena gak kuat dihantam terus, gw coba tangkap erat tubuhnya macam petinju yang udah kehabisan tenaga, berharap dia bakal berhenti. Tapi dia mendorong buat lepas dari gw dan itu justru bikin gw tersungkur plus dapat hadiah satu tendangan keras tanpa ampun tepat di perut pas lagi terkapar di tanah.</p>



<p>Faak. Kenapa sih gw harus melalui semua ini? Dari kecil gak ada habisnya dihajar orang. Kalo emang semua pengen gw mati sampe segitunya, ya udahlah, bunuh aja sekalian. Gak usah nyiksa pelan-pelan.</p>



<p>&#8220;Tsk, ayolah. Kalau cuma segini kekuatan keturunan terakhir Grymnystre, buat apa kami susah payah sempurnakan proyek&nbsp;<em>Reaper?&#8221;&nbsp;</em>kata pria itu remeh, &#8220;Kamu mestinya paham kesulitan kami. Kreasikan prajurit yang mampu imbangi kemampuan garis keturunan kalian itu sungguh merepotkan. Bukankah kamu harusnya punya kemampuan di luar batas? Bukankah kamu cinta bertarung? Bukankah kamu terlahir sebagai&nbsp;<em>monster&nbsp;</em>yang selalu bawa kehancuran?&#8221;</p>



<p>Racauan gak jelas terus meluncur dari mulutnya, sedangkan gw sama sekali gak minat balas.</p>



<p>Mata gw coba telusuri sosok wanita yang udah gw anggap teman hidup, coba cari setitik asa dari perbuatan gak masuk akalnya. Rapuh, pedih, lelah. Mungkin cuma itu yang bisa terpancar. Kesadaran yang udah hampir tercabut dari raga bikin penglihatan gw makin samar.</p>



<p>Tapi ternyata dari sudut mata coklat itu masih keliatan. Ada setitik, ya, walau cuma setitik, ada kilau refleksi air di sana.</p>



<p>&#8220;&#8230; Sakit. Kamu &#8230; penyebabnya,&#8221; untaian kata yang pertama kali diucapnya sejak pertama kali datang dan membabi buta berhasil buat mata ungu gw melebar, &#8220;takut &#8230; padahal kamu di sana. Kamu misi yang harus terlaksana.&#8221;</p>



<p>Otak gw sama sekali gak bisa cerna makna di balik tiap kata. Udah terlalu mumet lagian buat mikir, tapi tetap terngiang. Gw penyebabnya? Sakit apa yang dia maksud? Takut? Apa yang ditakutkan prajurit hebat macam dia?</p>



<p>&#8220;Cebol! I-itu &#8230; bukannya itu &#8230;!?&#8221;</p>



<p>Black Goliath Royal Oritzi yang kondisinya penyok kiri-kanan, Faranell, dan seorang prajurit Ranger dari Divisi Artileri menghadang mereka, &#8220;Dua prajurit tumbang dan salah satu di antara mereka adalah Captain Lake Grymnystre. Perintah untuk evakuasi Captain Lake Grymnystre sedang dalam proses, butuh bantuan secepatnya, MAU saya alami kerusakan tingkat menengah setelah lawan Linkbuster.&#8221;</p>



<p>Faranell keliatan sangat gak percaya pada pemandangan di depan mata. Pada&nbsp;<em>siapa</em>&nbsp;yang baru aja gw lawan.</p>



<p>Si Ranger memapah gw yang tersungkur di tanah dengan agak kasar. Di tangan kirinya tergenggam sebuah crossbow hitam metalik, sedangkan wajahnya gak terlihat jelas karena mata gw yang udah makin remang-remang juga. Bentar lagi juga pingsan nih kayaknya.</p>



<p>&#8220;Harus berapa kali sekarat, Uban?&#8221; Oh, dia ternyata, &#8220;menyedihkan amat sih lu, dihajar pacar sendiri,&#8221; siapa lagi yang bisa komentar sepedas ini padahal gw bentar lagi mampus kalo bukan Hash&#8217;Kafil?</p>



<p>&#8220;Hmm, belum kapok babak belur,&#8221; celetuk pria berjubah hitam itu, &#8220;baik, kita selesaikan secepatnya,&#8221; matanya melirik Elka.</p>



<p>Pas baru selangkah mereka melesat, pria dengan luka sabetan senjata tajam di wajah tersebut berhenti dan kasih isyarat tangan agar Elka ikut berhenti juga. Padahal Faranell, Royal Oritzi, dan Hash&#8217;Kafil udah bersiap sambut serangan.</p>



<p>Setelah hela napas, pria itu bilang, &#8220;Sepertinya ini akhir kesenangan kita, ya?&#8221; Kami terheran akan perkataannya, &#8220;kalian boleh simpan&nbsp;<em>anak haram&nbsp;</em>itu. Lagipula pesawat kami sudah ada penumpang ekstra &#8230; untuk sekarang,&#8221; kemudian dia jentikan jari, &#8220;ayo Yelana, besok lagi.&#8221;</p>



<p>Tanpa ada perlawanan, tanpa ada bantahan, Elka balik badan lalu ikuti langkah pria itu pergi. Sebuah pesawat transport ukuran kecil langsung terbang rendah dan membuka palkanya. Dari dalam &#8230; Vednala &#8230; jadi begitu. Mereka sekongkolan. Perempuan yang sebelumnya gw lawan bareng Faranell tersebut ulurkan tangan untuk bantu mereka naik.</p>



<p>&#8220;Perempuan pintar,&#8221; ujar pria itu sembari kecup pipi Elka! Dengan tatapan merendahkan, mata itu tertuju ke gw diiringi satu seringai penghinaan!</p>



<p>FAAK! Bajingan!</p>



<p>Tangan kiri gw berusaha raih sosok Elka walau tau gak bakal mungkin bisa mencapainya dari sini. Gw lepaskan diri dari papahan Hash&#8217;Kafil, pengen rebut Elka kembali. Tapi baru juga selangkah, badan gw ambruk. Hahah, bahkan berdiri aja gak bisa. Menyedihkan. Emang kata itulah yang tepat disematkan ke gw. Gak bisa kalo gak ditolong orang.</p>



<p>Vednala yang tubuhnya masih dibalut perban berhias bercak darah segar sempat menatap Faranell tajam seraya kasih isyarat menyayat leher sendiri kala pesawat transport kecil yang mereka naiki mulai lepas landas vertikal.</p>



<p>&#8220;&#8230; Gw gak tau apa yang terjadi sama Pacar lu, tapi mau ngapain lu dengan badan penuh luka begitu?&#8221; Hash&#8217;Kafil berkata sambil mendekat, &#8220;harusnya lu diam dan biarkan gw bawa lu kembali. Sebelum gw berubah pikiran dan biarkan lu mati di sini,&#8221; Shite. Mau gak mau, gw harus telan mentah-mentah perkataan Hash, &#8220;lu juga, Penyihir. Jangan mikir berontak kalo kepala lu gak mau berlubang,&#8221; tatapan sayunya pindah ke Faranell yang sekedar mengangguk lesu.</p>



<p>Akhirnya, gw dipapah menuju koordinat Brigade Support berada untuk dapat perawatan lebih lanjut. Kesadaran gw ada di batas antara pengen pingsan atau tetap bangun. Hash&#8217;Kafil keliatan gak mau banyak bicara, padahal mata hitam terus-terusan mengunci gw dengan tatapan sayu ogah-ogahannya itu.</p>



<p>&#8220;&#8230; Mundur bukan berarti kalah, Uban. Camkan itu di otak kopong lu,&#8221; kata Hash&#8217;Kafil, &#8220;dihajar Nordo itu wajar.&#8221;</p>



<p>Pala lu wajar.</p>



<p>Tapi &#8230; iya juga sih.</p>



<p>&#8220;HEEI! PILOT KEPARAT!&#8221; Teriakan suara seonggok prajurit Kekaisaran mengejutkan kami, &#8220;Mau ke mana lu, HAH!? Lu pikir urusan kita udah kelar!?&#8221; Linkbuster yang keadaan zirahnya gak bisa dibilang baik, bentak-bentak Royal Oritzi. Edan ini robot. Udah compang-camping gitu masih aja mikir gelut. Terus dia nunjuk gw pake sebelah tonfanya, &#8220;dan lu! Tetap di tempat, bajingan kecil! Gimanapun caranya, gw ak-&#8220;</p>



<p>JEDUM!</p>



<p>Tau-tau daratan tempat Linkbuster berpijak meledak kena serangan udara dan bikin tubuh logamnya terpelanting. Mampus, dipotong lagi omongan tu besi rongsok.</p>



<p>Kami tengok ke atas, penasaran siapa yang lancarkan serangan misil. Pasukan induk Armada udara dengan lambang Aliansi Suci perlahan pamerkan wujudnya dari kamuflase langit. Bikin Accretia dan Bellatean yang lagi tempur sama-sama kaget dan gak nyangka bakal ada pihak ketiga yang telat datang ke pesta.</p>



<p>Pesawat raksasa itu melayang dalam kecepatan pelan, sesekali tembakkan misil dan gumpalan bola api besar ke daratan untuk amankan situasi pendaratan. Pasukan Federasi dan Kekaisaran langsung tercerai-berai dari pertarungan masing-masing, gak terkecuali Maximus Gatan dan Maximus Izcatzin, demi terhindar dari bombardir pasukan Aliansi.</p>



<p>&#8220;Cih, mau apa coba?&#8221; gerutu Maximus Gatan.</p>



<p>&#8220;Minta dibredel juga ya, orang-orang sok cantik itu!?&#8221; sambung Maximus Izcatzin geram.</p>



<p>Begitu pesawat induk tersebut mendarat, palkanya terbuka dan menyentuh tanah. Dari dalamnya keluar batalion prajurit Aliansi Suci yang rupawan luar biasa.</p>



<p>Di antara mereka adalah seorang wanita sangat cantik berambut ungu tergerai. Wajahnya &#8230; setipe dengan Faranell tapi dengan garis muka dan tatapan mata lebih tegas. Di samping wanita itu ada seorang Templar yang begitu gagah berambut pirang emas sebahu.</p>



<p>&#8220;O-oh, astaga,&#8221; gw dengar suara Faranell tercekat di tenggorokan pas liat wanita itu. Mukanya tampak khawatir gak karuan.</p>



<p>Batalion Pasukan Aliansi langsung sigap buka jalan, singkirkan prajurit federasi maupun kekaisaran dari hadapan mereka. Seakan gak peduli kepada siapa Aliansi akan berpihak, mereka menggerus dua belah pihak yang udah kelelahan akbiat pertempuran sekaligus.</p>



<p>Corite berambut ungu yang baru datang bersama dengan ajudan Templarnya mendekat pada Maximus Gatan. Begitu juga pemimpin pasukan Kekaisaran yang sebelumnya tarung lawan dua Wakil Archon kami, Darkmaul. Ketiganya berdiri saling berhadapan.</p>



<p>&#8220;Ngapain lu di sini?&#8221; tanya Maximus Gatan ketus.</p>



<p>&#8220;Begitukah caramu menyambut tamu, Wakil Archon yang terhormat? Dasar barbar,&#8221; respon si rambut ungu gak kalah ketus tapi tetap dengan bahasa formal. Oh, dia pakai jade talk. Pantas gw paham apa yang dia bilang.</p>



<p>Darkmaul buka suara, &#8220;Jangan bilang kalian ke sini buat cari perkara, Corite.&#8221;</p>



<p>&#8220;Jangan samakan kami dengan makhluk tak beretika macam kalian. Fungsi otak kami masih normal,&#8221; tukas Si Corite tetap tenang dan terkendali, &#8220;aku mau kalian hentikan pertikaian tak berguna ini, dan berikan apa yang kami minta.&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa?&#8221; Tanya Maximus Gatan.</p>



<p>&#8220;Kami ingin kalian sukarela kembalikan dua personil Aliansi Suci yang berada di tengah-tengah kalian. Mudah, &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>Maximus Gatan sigap geleng kepala, &#8220;Lu tau kami gak bisa memenuhinya, Nephtali. Sebelum kami interogasi mereka dan mengorek informasi sebanyak-banyaknya.&#8221;</p>



<p>Wanita Corite itu terdiam.</p>



<p>&#8220;Hah! Jangan pikir kalian bisa seenaknya datang dan minta ini itu, penyihir sok alim!&#8221; ledek Izcatzin sambil todongkan sebelah senapan mesinnya pada Si Corite wanita, tapi tetiba sebuah tebasan kilat sukses bekukan sebelah lengan MAU Maximus Izcatzin tanpa kesulitan! &#8220;A- HEI!&#8221; Si Tante jelas kaget bukan kepalang tangan MAU-nya mendadak hilang diiringi serpihan kristal es halus.</p>



<p>&#8220;Cukup, Ayzan,&#8221; perintah Si wanita Corite pada ajudan Templarnya yang seakan berpindah tempat ke hadapan MAU Catapult merah.</p>



<p>Templar berambut pirang emas itu kembali sarungkan pedang panjang pipih yang terbalut asap putih.</p>



<p>Ba-barusan itu &#8230; gerakan edan. Begitu cepat dan luwes. Pedangnya sanggup membelah logam dengan potongan yang teramat rapih lagi bersih.</p>



<p>&#8220;Jangan berlagak!&#8221; Darkmaul yang gak terima sikap arogan wanita corite itu langsung layangkan serangan palu tepat ke muka!</p>



<p>Tetiba iris jingga perempuan itu menajam, Force dalam jumlah besar menyeruak gak beraturan dari tubuhnya, bikin udara ikut terkompresi tekanan Force yang begitu padat.</p>



<p>Lingkaran sihir merah kejinggaan tercipta di hadapan wanita itu, dan menangkis palu yang menerjang! Seketika senjata berat milik Darkmaul langsung tercerai-berai sampe tingkat partikel atom!</p>



<p>Kali ini banyak lingkaran sihir bercahaya kuning keputihan terbentuk bersamaan di sekitar Prajurit Kekaisaran berzirah hitam tersebut, &#8220;Volt,&#8221; dan langsung hujani Darkmaul dengan tombak-tombak petir yang luar biasa banyak! Zirah pemimpin pasukan Kekaisaran itu tertembus mantra elemen badai dengan mudah, membuat sirkuit listrik dalam badannya&nbsp;<em>overload</em>&nbsp;dan meledak kecil, sukses matikan pergerakan si Accretia dalam sekejap.</p>



<p>&#8220;Saat kubilang berhenti, baiknya kalian&nbsp;<em>berhenti,&#8221;&nbsp;</em>tongkat wanita itu berpindah pada Maximus Gatan yang dari tadi diam. Seketika para Prajurit Federasi di sekitar mereka sigap siagakan senjata di tangan masing-masing pada Corite wanita itu!</p>



<p>&#8220;Tahan tembakan,&#8221; instruksi tenang Maximus Gatan berhasil bikin bawahannya yang udah geram gak jadi nyerang, &#8220;turunkan tongkat lu. Gw bahkan gak bergerak sama sekali,&#8221; ujarnya sambil tepikan tongkat si Corite pake sebelah pedang.</p>



<p>&#8220;Bijak. Kamu belum berubah,&#8221; kata Corite yang dipanggil Nephtali. Sesimpul senyum terpatri di bibir sensualnya.</p>



<p>&#8220;Gw tau lu bisa hancurkan dua pasukan besar sekaligus,&#8221; respon Maximus Gatan, &#8220;gak perlu pamer.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalau begitu kamu cukup bijak untuk penuhi permintaanku &#8216;kan, Gatan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Udah gw bilang &#8230; gak bisa.&#8221;</p>



<p>Lagi-lagi Force merembes keluar dari Si Corite. Gumpalan awan badai berlistrik langsung bergumul di atas kepala kami, ditambah lingkaran sihir merah kejinggaan yang seakan terbakar api abadi, &#8220;&#8230; Kupikir kamu bijak.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hormat gw memang buat lu, Nephtali. Bukan berarti gw takut,&#8221; tukas Maximus Gatan seraya betulkan kuda-kuda berpedang ganda.</p>



<p>&#8220;Kakak! Stop!&#8221; Pekik Faranell panik sambil lari tergopoh-gopoh.</p>



<p>Kakak &#8230; ? Si kunyuk! Udah gw duga ada yang gak beres dari kemiripan mereka!</p>



<p>Tangan Faranell cengkram bahu Sang Kakak untuk cegah dia supaya gak lagi keluarkan mantra penghancur, &#8220;Aku bakal ikut pulang. Tolong &#8230; jangan sentuh mereka lagi.&#8221;</p>



<p>Nepthali cuma menatap tajam adiknya beberapa saat, lalu menepak tangan Faranell agak kasar, &#8220;Jauhkan tangan kotormu. Kamu tak berhak banyak minta setelah apa yang kamu lakukan. Ayzan, bawa Qhadara muda itu kembali ke armada.&#8221;</p>



<p>Beberapa saat Faranell terpaku di tempatnya berdiri, tertinggal agak jauh di belakang sang kakak. Tertunduk seakan gak ingin wajahnya diliat siapapun. Dia lagi berpikir. Mungkin.</p>



<p>Kakak yang sadar adiknya gak melangkah sedikitpun terhenti dan bertanya, &#8220;Apa yang kamu tunggu? Cepatlah.&#8221;</p>



<p>Kemudian keluar kalimat yang bikin jantung semua orang nyaris lompat ke luar, &#8220;Aku akan ikut pulang &#8230; asal kita&nbsp;<em>bawa dia,&#8221;&nbsp;</em>telunjuknya terarah mantap.</p>



<p>Ke &#8230; siapa lagi kalo bukan gw?</p>



<p>&#8220;Apa!?&#8221; pekik Maximus Izcatzin.</p>



<p>Nephtali balik badan dan mulai dekati Faranell, &#8220;Dengarkan aku, adik dungu. Keadaan sudah runyam akibat kecerobohanmu. Terlalu jauh libatkan diri dalam hal yang tak semestinya kamu campuri, dan sekarang ajudanmu yang akan terancam terima hukuman karena kelalaiannya mencegahmu berlaku bodoh. Tak berhenti menyeret orang lain terjerat dan terluka supaya keinginan kekanakanmu terpenuhi. Apa kamu tak belajar berpikir sebelum bertindak?&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku gak belajar karena gak pernah dikasih kebebasan untuk itu. Bukannya Kakak sendiri yang bilang, udah waktunya aku bertanggung jawab atas jalan yang kupilih? Ini masalahku, Kak. Aku yang putuskan untuk berada di sini dan bertarung. Aku yang putuskan untuk berusaha selesaikan ini, dan&nbsp;<em>dialah</em>&nbsp;kuncinya. Jadi jangan harap kakiku bakal melangkah walau cuma sesenti, aku gak akan ke mana-mana sampe kamu setuju untuk membawanya.&#8221;</p>



<p>Argumen sengit yang diutarakan Faranell sempat bungkam Nephtali sejenak. Perempuan cantik bersih binti bening itu menelisik gw tajam dalam diam, lalu berujar, &#8220;&#8230; Katakan satu alasan yang berbobot.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia Grymnystre<em>,</em>&#8221; jawab Faranell pelan, nyaris berbisik supaya gak didengar khalayak ramai.</p>



<p>Mata jingga Nephtali balik menatap mata kuning adiknya sambil bilang, &#8220;Ayzan, serahkan Qhadara muda pada prajurit lain. Bawa serta Bellatean itu dan segera pergi dari sini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalian keterlaluan, Corite! Udah gw bilang kami gak akan serahkan prajurit kalian, sekarang kalian minta prajurit kami!? Tau diri sedikit!&#8221; Bentak Maximus Gatan.</p>



<p>Pertingkaian kembali gak terhindarkan ketika Maximus Gatan dan anak buahnya buka serangan, membuat para Prajurit Aliansi siaga bertahan dan lakukan apapun untuk lindungi Nephtali.</p>



<p>Otak gw coba proses segala hal yang terjadi di depan mata, gimana keadaan pasukan federasi yang udah compang-camping tentu gak sepadan bila harus bentrok langsung lawan prajurit-prajurit Aliansi yang masih keliatan bugar dan siap tempur.</p>



<p>Sesosok Templar berambut pirang emas melesat gesit di antara kekacauan. Hash&#8217;Kafil sadar akan hal tersebut dan dia menarik gw ke belakang. Urat di tangan gw terasa nyaris putus gegara gerakan Hash&#8217;Kafil, tapi dia mah mana peduli.</p>



<p>Ranger berambut hitam todongkan crossbow di tangan kanan dan sempat menembak beberapa kali. Cuman sayang, walau susah dipercaya, tembakan Hash&#8217;Kafil dimentahkan begitu aja pake sabetan pedang pipih Si Templar.</p>



<p>Hash&#8217;Kafil dorong badan gw yang udah semaput ke samping saat tabrakan si Templar gak terhindarkan, alhasil nyeri di badan terasa lagi.</p>



<p>Pedang pipih itu langsung tertancap tanpa ampun di sebelah wajah Hash&#8217;Kafil. Andai dia gak tahan lengan Si Templar, tusukan tadi fix bisa lubangi wajahnya.</p>



<p>Kristal es terbentuk di sekitar tusukan tadi, dan itu bikin udara yang keluar dari mulut Hash&#8217;Kafil keliatan asap putih.</p>



<p>&#8220;Sist!&#8221; Sebilah pedang berukuran lebih besar meluncur deras, tapi Ayzan siap menangkis pedang tersebut. Namun karena tenaga lemparan yang cukup besar, dia sedikit terpental dari atas Hash&#8217;Kafil.</p>



<p>&#8220;Lama banget sih lu,&#8221; celetuk Hash.</p>



<p>&#8220;Ah, diamlah! Makasih atau apa kek gitu!&#8221; Jadi &#8230; Ish&#8217;Kandel yang datang sebagai pahlawan kali ini?</p>



<p>&#8220;Stop &#8230; jangan lawan dia. Pe-pedangnya &#8230; sakti,&#8221; ucap gw terbata.</p>



<p>Tapi Ish&#8217;Kandel malah nyeleneh, &#8220;Wow, Lake! Kenapa keadaan lu kayak mau mampus gitu!?&#8221; Ya iyalah, Kuya! Namanya digebukin dari sebelum pecah perang sampe sekarang! Apa yang lu harapkan!?</p>



<p>&#8220;<em>The sky is beautiful. It&#8217;ll be even more beautiful,&nbsp;</em>(Langit begitu indah. Bahkan bakal terlihat lebih indah),&#8221; tanpa peringatan, Si Templar berakselerasi tajam dan ayunkan pedang pada Bellatean kembar di hadapannya saat kami lengah, &#8220;<em>when it&#8217;s frozen by the elegant swing of my blade&nbsp;</em>(saat dibekukan oleh ayunan elegan pedangku).&#8221;</p>



<p>Mata gw melebar pas liat Hash&#8217;Kafil dan Ish&#8217;Kandel membeku gak berdaya. Luka sabetan di perut mereka tergores sempurna, dibalik armor yang ikut terhias kristal-kristal es berkilau.</p>



<p>Si Templar berdiri tegak di depan dua prajurit Federasi itu, dan bersiap habisi mereka dengan kuda-kuda tusukan.</p>



<p>&#8220;S-stop &#8230; stop,&#8221; kembali lirih kalimat yang keluar dari mulut gw. Seketika di otak gw terbayang wajah para prajurit yang mati di Solus, dan juga para kamerad yang harus menderita luka parah cuma buat saling bantu selamat dari maut, &#8220;tolong &#8230; cukup.&#8221;</p>



<p>Shite! Gw gak mau korban bertambah lagi! Ish&#8217;Kandel &#8230; Ish&#8217;Kandel baru aja sampe, bangsat! Masa Langsung mati gitu aja!? Gak lucu!</p>



<p>Tapi kayaknya Si Templar gak paham kalimat yang gw ucapkan. Dia tetap aja teguh pada pendiriannya.</p>



<p>Kampret! Ayolah, badan! Sekali ini aja! Berdiri sekali lagi! Gw mohon!</p>



<p>Begitu liat Si Templar lakukan serangan penghabisan, badan yang keadaannya udah gak karuan ini berhasil bergerak biarpun sakit di tiap jengkal syaraf bak ditombak berkali-kali. Gw banting pergelangan tangannya ke bawah supaya tusukan itu hujam daratan, lalu gw langsung ambruk lagi.</p>



<p>&#8220;Lakukan apa yang kalian mau &#8230; bawa gw, apapun. Tapi &#8230; gw mohon &#8230; cukup,&#8221; napas gw terengah pasrah.</p>



<p>Bodo amat dah dia ngerti apa kagak.</p>



<p>&#8220;&#8230;&nbsp;<em>That was pretty rare for a Bellatean&nbsp;</em>(tindakan barusan cukup langka bagi Bellatean),&#8221; dia bilang. Pedang dingin berasap putih itu disarungkan kembali. Dia memanggul badan gw di bahu tanpa kesulitan berarti, &#8220;<em>I want you to remember my name; Lavin-Ayzan Qhadara. May someday Decem bless you&nbsp;</em>(Aku ingin kamu ingat namaku; Lavin-Ayzan Qhadara. Semoga suatu hari nanti Decem memberkatimu).&#8221;</p>



<p>Ngomong apa sih lu, tong?</p>



<p>Terlalu banyak yang lalu-lalang di pikiran gw saat ini. Belum usai kepikiran tentang Elka yang dibawa kabur, sekarang malah gw ikutan dibawa kabur prajurit Aliansi.</p>



<p>Entahlah, mungkin ini salah satu cara paling memungkinkan bagi gw untuk sedikit berkontribusi, sebagai rasa terima kasih juga pada Maximus Gatan yang terlampau bernyali.</p>



<p>Mata ungu gw telusuri Solus untuk terakhir kali, pengen liat seperti apa keadaannya saat lagi-lagi gw harus tinggalkan pasukan di tengah pertempuran.</p>



<p>Kawah menganga akibat serangan Nuke Accretia, hangus serta bekas radiasi yang masih segar di sekitarannya, bikin permadani hijau solus gak lagi hijau. Berlumpur, di beberapa titik tandus seketika. Sejumlah unit MAU yang rusak onderdil dan bagian senjata, serta kepulan asap yang keluar dari kokpit. Pasti mahal tuh biaya reparasinya.</p>



<p>Onggokan prajurit Kekaisaran yang bergelimpangan, darah, dan air mata prajurit Federasi yang gak lagi bisa dibedakan.</p>



<p>Maximus Gatan harus terhempas akibat mantra Nephtali. Biarpun dua pedang kembar masih tergenggam erat di tangan, dia udah kehilangan banyak darah gegara skillnya sendiri, Blood Dance, sebelum ini. Wajar kalo Wakil Archon mungil itu di ambang batas.</p>



<p>Tante Izcatzin? Gak usah ditanya, Catapult merah si tante tertancap banyak benda tajam dan lubang peluru. Pintu kokpit terbuka dan Terlihat Maximus Izcatzin alami luka sobek lumayan dalam di bahu kirinya. Ajaib, masih bisa selamat dia.</p>



<p>Maap, Maximus. Padahal &#8230; anda dan kamerad lain bertempur demi saya. Demi prajurit gak berguna ini. Tapi prajurit gak guna ini malah milih ikuti kemauan para Corite. AAHAAARGGKH! Tolong bilang ke gw ini bukan keputusan yang salah!</p>



<p>Si Templar terus berjalan, tanpa tau pergolakan batin yang bergumul dalam hati, sampe pemandangan kacau balau Solus di mata gw terhalang pintu palka pesawat Aliansi.</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">   <em>&#8220;We</em>&nbsp;<em>are not war machines, Khortenio. Doesn&#8217;t matter how strong, in the end we&#8217;re just Bellateans with one heart.&#8221; &#8211; Rentogarp (Ch. 42)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 57 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 58:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-58/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-58/</a></p>



<p>Previous Chapter &gt; Read Chapter 56:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br> Elka adalah anagram dari Lake (ya iyalah). Awalnya saya pengen pake nama &#8220;Elka Nordo&#8221; doang. Tapi kok kayaknya gak seru, jadilah saya panjangin. Haha. Saya pengen bikin hubungan mereka lebih dekat dari kekasih, lebih dalam dari sahabat, lebih erat dari saudara. Makanya, dua nama yang berasal dari satu kata sepertinya cukup gambarkan apa yang pengen saya utarakan dari hubungan mereka. <br><br>Regards,<br>Mie Rebus.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/">LAKE CHAPTER 57 &#8211; SOS 12: BEATEN UP</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 56 &#8211; SOS 11: PYROMAGNUM</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1591</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;We are not war machines, Khortenio. Doesn&#8217;t matter how strong, in the...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/">LAKE CHAPTER 56 &#8211; SOS 11: PYROMAGNUM</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Tubuh mungil Bellatean wanita terjun bebas, gak ada tanda bakal melakukan manuver buat terhindar dari benturan fatal dengan daratan. Prajurit-prajurit yang ada dataran Solus berusaha keras untuk menuju titik di mana perempuan itu bakal mendarat, tapi kecepatan lari mereka jelas gak sanggup memangkas jarak dalam waktu singkat.</p>



<p>Urat wajah mereka menegang, teriakkan nama si penyelamat dari lubuk hati terdalam.</p>



<p>&#8220;HAVVAAA!&#8221;</p>



<p>&#8220;ASTAGA, MAK LAMPIR!&#8221;</p>



<p>&#8220;SELAMATKAN DIA, TOLOL! JANGAN CUMA NGATAIN!&#8221;</p>



<p>&#8220;Siapapun, tolong!&#8221;</p>



<p>Faak! Gw emang belum lama kenal lu. Bahkan seingat gw, kita belum resmi kenalkan diri masing-masing. Tapi &#8230; saat lu berusaha setengah mati buat lindungi kami yang berada di bawah naungan rintangan angin &#8230; .</p>



<p>&#8220;<em>Mana bisa aku diam saat keluargaku terancam kematian.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Tsk!&#8221;</p>



<p>Didorong laju adrenalin di kedua kaki, gw langsung ledakkan akselerasi sekejap mata. Otot betis bak pegas yang serta merta menyentak badan, meliuk di antara prajurit-prajurit lain dan dahului mereka. Gak sulit bagi gw untuk jadi yang terdepan. Kedua iris ungu gak lepas dari target di langit, berharap bisa tangkap tubuh Si Spiritualist tepat waktu.</p>



<p>Gak peduli sama reaksi keheranan prajurit lain yang liat kecepatan lari gak normal. Bukan saatnya peduli dengan hal gak penting! Fokus!</p>



<p>Tapi belum sampe di jalur laju tubuh Havva, mendadak dari samping sekelebat bayang sukses nyusul gw! Jelas terlihat armor biru gelap yang dibalut jubah putih bernoda tanah basah. Hal itu bikin gw terhenyak, gak nyangka segitu gampang orang itu ungguli kecepatan gw yang lagi pake Accel Walk.</p>



<p>Sosok mungil berambut spike hitam itu sama sekali gak kurangi kecepatan. Sampe pada satu titik, dia langsung lompat buat menyambut tubuh anggotanya sebelum pecah berantakan akibat benturan. Maximus Gatan peluk erat wanita itu, berusaha putar badan supaya badannya jadi bantalan. Tubuh mereka sempat meluncur beberapa meter di atas tanah akibat momentum lompatan Sang Komandan.</p>



<p>Kondisi anggotanya kacau, napas Havva seakan bisa berhenti kapan aja.</p>



<p>&#8220;Lalana, Lalana,&#8221; panggil Maximus Gatan dengan ekspresi pilu yang gak sanggup disembunyikan. Dia elus lembut pipi yang terukir luka bakar serius, &#8220;tolong &#8230; bangun.&#8221;</p>



<p>Belum pernah gw liat raut muka Maximus Gatan sesedih ini. Diliat dari reaksi kamerad-kamerad yang lain, wanita itu &#8230; pasti anggota teramat penting di Resimen 1.</p>



<p>Gak berapa lama, Havva sedikit buka mata. Suara yang terdengar dari mulutnya lemah, &#8220;Ma &#8230; Max- imus &#8230;&#8221;</p>



<p>&#8220;Lalana! Saya di sini.&#8221;</p>



<p>&#8220;A-pa &#8230; udah selesai?&#8221;</p>



<p>&#8220;&#8230; Hampir. Sedikit lagi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa &#8230; a- aku &#8230; berkontribusi?&#8221;</p>



<p>Dengar pertanyaan itu, sekuat tenaga Maximus Gatan coba untuk gak tertelan emosi, &#8220;Ya. Lebih dari perkiraanmu.&#8221;</p>



<p>&#8220;&#8230; Ah, syukurlah. Bisa aku &#8230; minta, satu hal &#8230; lagi?&#8221;</p>



<p>&#8220;Katakan.&#8221;</p>



<p>Agak lemah Havva berusaha angkat tangan kanannya diiringi senyum tipis, &#8220;Menanglah.&#8221;</p>



<p>Maximus Gatan terpaku bagai beku di tempat. Wajahnya sempat sedikit menunduk sebelum kemudian menatap Havva dengan penuh keyakinan dan ketegaran.</p>



<p>Dia sambut harapan itu dengan satu genggaman erat pada tangan anggotanya seraya berkata, &#8220;Pasti.&#8221;</p>



<p>Faak &#8230; pemandangan ini &#8230; gw berasa diserang deja vu dadakan. Mata gw berusaha berpaling, gak kuat. Kita udah paham betul seberapa sakit liat kematian di depan mata, tapi seakan gak ada kapoknya, perang gak akan berakhir sebelum renggut lebih banyak nyawa</p>



<p>&#8220;Grym &#8230; saya butuh pedangmu,&#8221; ucap Maximus Gatan dingin.</p>



<p>Sorot mata biru gelap begitu tajam menyayat nyali, di baliknya menyimpan gelegak emosi. Tekanan force di punggungnya ikut bergejolak tapi masih tertahan. Astaga, dia serius. Hilang sudah ketenangan Wakil Archon paling santai seantero Novus.</p>



<p>Tanpa banyak bantah, dua pedang gw tarik keluar dari inventori 4 dimensi dan melemparkannya pada sang pemilik asli. Pendar hijau-kuning langsung menyala begitu dua gagang tergenggam apik di tangan Maximus Gatan. Pendar yang udah terlampau lama gak terlihat kini baru kembali pamerkan taji. Pria berambut spike hitam itu lepas jubah Wakil Archon yang udah gak putih lagi.</p>



<p>Jubah kebesaran petinggi Federasi seakan gak ada martabatnya di mata Si Sentinel untuk sekarang, dibiarkan terhempas gitu aja di atas tanah.</p>



<p>&#8220;Anggota Resimen 1 yang tersisa, dengarkan saya. Semua tempur, jangan ada yang kabur. Kalo saya liat kalian kabur, saya sendiri yang bakal tusuk kalian satu-satu,&#8221; instruksinya begitu tegas menjalar di telinga kami, &#8220;antara kita atau mereka yang mati. Gak ada pilihan ketiga.&#8221;</p>



<p>&#8220;SIAP, MAXIMUS!&#8221; Para prajurit di bawah komandonya seolah gak punya putus asa, masih lantang suara mereka.</p>



<p>&#8220;Titip dia,&#8221; bahkan Maximus gak berpaling saat mengucap itu.</p>



<p>Kemudian dia &#8230; menyayat badan sendiri &#8230;?</p>



<p>&#8220;Ma-Maximus &#8230;?&#8221; Entah mentor gw ini masih waras atau enggak, gw beneran gak paham tindakannya. Dengan dua pedang di tangan, dia goreskan banyak luka di beberapa bagian tubuh; tangan, kaki, leher sampe teteskan darah lalu barulah segera berakselerasi menuju pasukan musuh.</p>



<p>Pertempuran kembali pecah saat terjangan Maximus Gatan disambut rentetan amunisi dari senapan-senapan mesin Accretia! Tapi tentu bukan suatu kesulitan baginya untuk mengelak di antara ledakan. Gerakannya begitu lincah dan gesit.</p>



<p>Begitu cepat Wakil Archon kami udah berada di tengah kerumunan prajurit besi, tanpa ampun menebas tiap zirah logam yang berani berdiri di hadapannya! Ciri khas sabetan Maximus Gatan belum berubah dari dulu, masih kayak air luwes mengalir tapi tetap mematikan karena terus tertuju ke titik vital.</p>



<p>Walau keliatan terkepung dari segala arah, bukan berarti serangan para prajurit Accretia bakal kena telak. Tubuh mungil ciri khas Bellatean belum berhenti menari di ujung tebing kematian. Kami yang liat hal itu tentu dibuat was-was. Bisa-bisanya terjun jauh ke garis depan tanpa tunggu sokongan kawan!</p>



<p>Sayang, biar kata udah ganti senjata, keliatan serangan Maximus Gatan tetap belum mampu buat menembus zirah tebal mereka.</p>



<p>Itu yang semula gw pikirkan, sebelum sadar satu hal yang nyaris luput dari pengamatan. Tiap ayunan pedang, tiap gerakan yang dia lakukan, tiap kali dia berakrobat bikin luka-luka goresan di tubuhnya keluarkan lebih banyak darah. Dengan segala cara, Maximus Gatan berupaya tinggalkan noda merah meski cuma setetes ke bagian tubuh lawan-lawannya.</p>



<p>&#8220;Blood Dance.&#8221;</p>



<p>E-edan! Diiringi satu hentakan tangan, tiap tetes darahnya yang menodai armor-armor prajurit Accretia meledak tanpa suara! Bagian tubuh para prajurit Kekaisaran yang terkena langsung lenyap tanpa bekas. Ada yang hilang kepala, ada yang bolong bagian dada, ada yang tinggal setengah akibat sisi kirinya udah jadi sejarah.</p>



<p>Dasar, pria tua itu &#8230; ada aja ilmu yang bikin rahang gw nyaris lepas.</p>



<p>Onggokan logam entah berapa jumlahnya bertumbangan di depan mata kami, gak sanggup dihitung jari. Tersisa sosok Bellatean pria masih tegak berdiri, bermandikan darahnya sendiri yang bercampur dengan pelumas para prajurit Kekaisaran. Sorot mata biru gelap belum tunjukkan tanda bakal melunak, malah pamerkan sirat makin galak.</p>



<p><em>&#8220;Saya udah terlibat banyak pertempuran. Dan jumlah Corite maupun Accretia yang mati di tangan saya &#8230; sampe gak terhitung lagi.&#8221;</em></p>



<p>Muke gile. Ja-jadi inikah &#8230; .</p>



<p><em>&#8220;Banyak dari mereka yang takut dengar nama saya, jadi wajar kalo disebut-sebut di medan perang.&#8221;</em></p>



<p>&#8230; Gatan&nbsp;<em>&#8220;Blood Raider&#8221;</em>&nbsp;Valsynvis?</p>



<p>&#8220;<em>How long has it been since last time you used that cursed blood?</em>&nbsp;(Udah berapa lama sejak terakhir kali lu pake darah terkutuk itu?)&#8221; ujar datar prajurit Accretia berzirah hitam yang bawa gada, gak tunjukkan peduli rekannya gugur.</p>



<p>Mata biru gelap Maximus Gatan mengunci sosok itu,<em>&nbsp;&#8220;Hasn&#8217;t been too long. You didn&#8217;t forget about it&nbsp;</em>(Belum lama. Lu gak lupa.)<em>&#8220;</em></p>



<p>&#8220;<em>Cocky as usual i see. Where&#8217;s your leader?</em>&nbsp;(Sombong seperti biasa. Mana pimpinan kalian?)&#8221;</p>



<p>Dengan santai Maximus Gatan menyampirkan sebelah pedang ke bahu kanannya, &#8220;<em>You&#8217;re looking at him.</em>&nbsp;(Lu lagi menatapnya.)&#8221;</p>



<p>Accretia berzirah hitam tersebut berjalan dekati Maximus Gatan, tapi Wakil Archon kami gak tunjukkan sikap bakal menyerang. Sampe akhirnya mereka berhadapan langsung. Begitu kontras ukuran keduanya. Prajurit besi itu keliatan bak menara di depan pemimpin kami.</p>



<p>Keadaan seakan dibuat kayak gencatan senjata singkat. Baik pasukan Federasi atau Kekaisaran sama-sama tahan tembakan.</p>



<p><em>&#8220;I&#8217;m talking about that damn volcano boy.</em>&nbsp;(Yang gw maksud bocah volkano sialan itu).&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>He&#8217;s not here.&nbsp;</em>(Dia gak ada di sini).&#8221;</p>



<p>Accretia berzirah hitam itu diam. Lalu dia angkat Gada dan menunjuk tempat gw berdiri, &#8220;<em>Give us the boy, then your puny fortress will be spared. Or &#8230; you can fight for him as long as you want. But i assure you, you will lose both.</em>&nbsp;(Beri kami anak itu, maka benteng menyedihkan kalian akan dilepas. Atau &#8230; kalian boleh bertempur untuknya selama yang kalian mau. Tapi kami pastikan, kalian akan kehilangan keduanya.)&#8221;</p>



<p>A-apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Sama sekali gak paham satu katapun. Pasti bawa-bawa gw lagi dah.</p>



<p>&#8220;&#8230;&nbsp;<em>We</em><em>&nbsp;already tried to kill each other earlier. You already killed my finest comrades, i already tore dozen of your rusty cans. Hell, you even nuked the shite out of us. Now you want to do this?</em>&nbsp;(Kita udah berusaha saling bunuh barusan. Lu udah bunuh kamerad-kamerad terbaik gw, gw udah preteli lusinan kaleng karatan lu. Persetan, lu bahkan kirim nuklir buat kami. Sekarang lu mau nego?)&#8221; wajah Maximus Gatan bersungut-sungut sejenak, lalu spontan meludahi muka Accretia berzirah hitam itu! &#8220;<em>Fuck yourself.</em>&nbsp;(Matilah.)&#8221;</p>



<p>Tiba-tiba dari samping sebuah luncuran roket langsung menghujam Accretia berzirah hitam! Api seketika mengurung Accretia itu seraya terpental akibat daya ledak tembakan tadi.</p>



<p>Jujur semua yang ada di sini kaget liat kejadian barusan, kecuali Maximus Gatan yang pasang mimik nyaris tanpa ekspresi.</p>



<p>&#8220;HA HA HA! MAKAN TAI, KEPARAT!&#8221; Terdengar teriakan wanita dari radio MAU merah bertipe Catapult. Moncong pelontar roket di bahunya masih kepulkan asap putih bekas tembakan.</p>



<p>&#8220;Gak bisa lebih hati-hati?&#8221; celetuk Maximus Gatan, &#8220;gw nyaris mati.&#8221;</p>



<p>&#8220;Halah, mana mungkin lu mati gara-gara gituan doang,&#8221; suara itu &#8230; siapa lagi kalo bukan Maximus Izcatzin.</p>



<p>Kedua lengan MAU itu terdapat tulisan&nbsp;<em>Razoreniye</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>Desastre</em>. Gw bahkan gak paham apa artinya, tapi coretan putih tersebut bikin Catapultnya keliatan makin gahar.</p>



<p>Seonggok besi hitam terbakar kini berserakan akibat dihantam roket dadakan. Tapi bukan prajurit Kekaisaran namanya kalo gak bisa kasih kejutan. Karena dari tubuh yang tersisa itu, serpihan-serpihan logam kembali terkumpul dan membentuk badan utuh!</p>



<p>&#8220;<em>Where&#8217;s your manner, Ginger? I thought it&#8217;d be nice to see you, but no. This is what i get</em>. (Di mana sopan santun lu, pala jahe? Gw kira bakal menyenangkan ketemu lu, ternyata enggak. Ini yang gw dapat.)&#8221;</p>



<p>&#8220;Hah, udah gw duga kali ini gak bakal segampang itu bikin dia hancur lebur.&#8221;</p>



<p>&#8220;Lu pikir? &#8230; Semoga lu siap berlama-lama di lantai dansa, Izcatzin.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalo lu yang ngajak sih gak masalah.&#8221;</p>



<p>&#8220;&#8230; Ini bukan waktu yang pas buat tebar kode.&#8221;</p>



<p>Bunyi suara kokangan senjata mesin di lengan kedua MAU merah Maximus Izcatzin langsung terdengar, &#8220;Gw tau! Ini waktu yang pas buat tebar teror! YA HA!&#8221;</p>



<p>Maximus Gatan dibuat geleng kepala dengan celetukan rekan Armor Rider. Kedua Wakil Archon itu kembali siaga hadapi gelombang serangan pasukan kaleng yang lebih hebat dari sebelumnya.</p>



<p>&#8220;F-Flami &#8230; o,&#8221; sibuk perhatikan kejadian-kejadian absurd pertempuran, gw dikejutkan suara Havva! Ternyata dia masih hidup!</p>



<p>Dan yang lebih mengejutkan lagi, entah dari mana sosok berambut pink kuncir dua udah berlutut di dekatnya! Tunggu, kenapa gw masih aja kaget ya? Harusnya udah terbiasa dengan kelakuan ini anak yang suka tau-tau nongol.</p>



<p>&#8220;Kamu &#8230; terbakar.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, mu-mungkin &#8230; gak lama lagi,&#8221; balas Si Spiritualist angin, &#8220;tapi aku lega, kamu &#8230; kemari, Flamio.&#8221;</p>



<p>Flamio? Kenapa dia manggil Mein pake nama itu?<br>Muka Mein mengiba pada kawan sesama Spiritualist. Tunjukkan simpati mendalam, kayak mau nangis tapi ditahan.</p>



<p>Belum pulih dari kesedihan, beberapa prajurit besi berlarian ke arah kami dengan cepat! Hentakan kaki mereka begitu keras sampe terasa getaran kecil di daratan. Faak! Gak bisa banget liat kita napas dikit.</p>



<p>Jumlah mereka gak nyampe sepuluh, tiga di antaranya berdiri lebih di depan dari yang lain.</p>



<p>&#8220;<em>Explosions. I want it, and i want it now!&nbsp;</em>(Ledakan. Aku mau ledakan, dan maunya sekarang!)&#8221; Salah satu prajurit metal itu langsung keluarkan sebuah senjata berat inventorinya sembari lari. Launcher Kekaisaran dengan tulisan &#8216;Crosshair&#8217; di ujung moncong.</p>



<p>&#8220;<em>Can&#8217;t believe we have to cover for Gabber and Ironall&#8217;s failure. What a fuckin mess,&nbsp;</em>(Gak bisa dipercaya kita harus menutupi kegagalan Gabber dan Ironall. Kacau.)&#8221; ujar salah satu dari mereka yang mulai siagakan sepasang tonfa.</p>



<p>Faaak! Kenapa mereka harus terus-terusan muncul di saat yang gak gw harapkan!?</p>



<p>Gak tinggal diam, gw aduk inventori 4 dimensi dan siapkan busur beam komposit beserta anak panahnya, &#8220;Ada ide harus gimana?&#8221; Tanya gw pada Mein.</p>



<p>&#8220;Mereka akan, dapat &#8230; balasan,&#8221; Wizard spesialis api keluarkan tongkat &#8230; yang belum pernah gw liat. Ganti senjata nih ceritanya?</p>



<p>Tongkat itu merah cerah dengan garis spiral kuning di ujung dan pangkalnya. Mein genggam erat tongkat tersebut pake dua tangan, lalu dipelintir ke arah berlawanan sampe keluarkan bunyi &#8216;krak&#8217;. Tetiba tongkat di genggamannya terpisah jadi bagian-bagian yang lebih kecil dalam jumlah banyak berbentuk segilima, dan langsung melayang-layang di sekitar penggunanya.</p>



<p>Paham kalo sesuatu bakal terjadi, para prajurit Kekaisaran gak biarkan Mein selesaikan apapun yang lagi dikerjakannya! Satu dentuman dari pemilik launcher bertuliskan &#8216;Crosshair&#8217; udah cukup jadi penyebab gw langsung gotong Havva dan menghindar dari sini.</p>



<p>Wizard berambut pink ikut lompat ke arah berlawanan dari lompatan gw. Sedangkan pecahan-pecahan segilima yang makin lama makin memerah terang seakan sigap ikuti gerak si pengguna.</p>



<p>Striker barusan gak kasih kami kesempatan bernapas! Kali ini tanpa ampun dia hujani kami dengan Compound!</p>



<p>&#8220;Mein!&#8221;</p>



<p>Amunisi-amunisi berterbangan dan begitu sulit diliat bagi orang yang gak punya kemampuan presepsi gerak lambat. Agaknya itu juga yang bikin gw sedikit cemaskan Meinhalom. Si Wizard berusaha ambil beberapa pecahan segilima yang melayang acak di sekeliling tubuh dan menjadikannya sebagai tameng sementara.</p>



<p>Arggh! Gegara sambil gotong orang, gw jadi susah bermanuver buat bantuin!</p>



<p>Seakan paham kesulitan yang gw alami, Havva berkata lemah, &#8220;&#8230; turunkan aku. Gak ada gunanya &#8230; lindungi, p-prajurit yang ajalnya udah dekat.&#8221;</p>



<p>Haruskah gw turuti perkataannya? Ugh. Pengennya sih gitu. Apalagi terus-terusan digencet gini ama kaleng rombeng. Tinggalkan Havva di sini keliatan jadi opsi paling optimal yang bisa diambil.</p>



<p>Gigi gw mengertak akibat ingatan tentang bapak prajurit yang tewas dikroyok Kekaisaran sebelum ini kembali menyeruak.</p>



<p>&#8220;Gak mungkinlah, dungu!&#8221; bantah gw tegas, &#8220;Gimana bisa gw tinggalkan lu kalo Maximus Gatan nitipin lu ke gw!?&#8221; Muka Havva tampak sedikit terhenyak gak percaya. Sebelum keadaan berkembang jadi moment di mana satu lagi perempuan bakal jatuh hati ama gw macam anime sonen, mulut gw melanjutkan biar gak gagal paham, &#8220;dia bakal nusuk gw dengan tangannya sendiri.&#8221;</p>



<p>Tawa kecil lolos dari mulut Spiritualist itu, &#8220;Iya juga.&#8221;</p>



<p>Dua Accretia masing-masing bersenjatakan sepasang tonfa dan senapan serbu dekati Meinhalom dengan gerakan teramat gesit! Faak! Gimana caranya gw bisa bantu perempuan itu dalam keadaan begini!?</p>



<p>Accretia yang bawa tonfa menyentuh sisi kanan kepala besi, membuatnya bicara bahasa kami, &#8220;Binasa lebih baik ketimbang menyerah!&#8221;</p>



<p>Untungnya Si Wizard sukses mengelak dari sodokan tonfa maut Accretia itu sembari arahkan tangan ke depan, &#8220;Jetstream,&#8221; ledakan spontan energi panas dari telapak mementalkan badannya jauh ke belakang, kembali perlebar jarak antara mereka. Selagi kaki Mein menggelincir di daratan, sorot mata pink berubah sayu menatap prajurit Kekaisaran lain yang siap lubangi tubuhnya dengan brendelan peluru.</p>



<p>Serta-merta dia pertemukan dua kepalan tangan di depan dada sembari rapal mantra, &#8220;Pyromagnum.&#8221;</p>



<p>Api merah bergejolak hebat dari tubuh Meinhalom. Begitu silau sampe bisa bikin bidikan Accretia bersenjatakan senapan serbu melenceng ke mana-mana. Rambut panjang juga ikut terbakar, dua kunciran di kepala terlalap api sehingga rambut pink kini tergerai bebas.</p>



<p>Pecahan-pecahan segilima yang tadi melayang gak beraturan, jadi tenang dan sebagian besar mengorbit di belakang punggung. Sebagian sisanya memutari dua pergelangan tangan serta pergelangan kaki Si Wizard mungil. Aura merah kejinggaan gak bisa disembunyikan lagi, dan telapak kakinya mulai mengambang di udara.</p>



<p>Kedua alis dan mata Si Wizard bersinar begitu membara, diikuti telapak tangan dan kakinya yang juga terselimuti si jago merah. Api di rambut pink perlahan terkonsentrasi dari pertengahan batang sampe ujung-ujungnya.</p>



<p>Tampang blo&#8217;on jelas terpampang di muka gw dihias mulut setengah nganga gegara liat mantra transformasi tersebut, &#8220;Sejak kapan bisa jadi super saiya?&#8221;</p>



<p>Tapi tentu gak dapat respon apa-apa selain tatapan sayu tanpa senyum dari perempuan itu.</p>



<p>&#8220;Dia &#8230; begitu terang, kan?&#8221; Tanya Havva tiba-tiba, &#8220;Cantik.&#8221;</p>



<p>Emang sih, gak salah. Tapi &#8230; gimana ya? Perubahan Mein dijamin bisa bikin siapapun terintimidasi. Matanya aja kayak gak ada pupil gegara terselubung nyala si jago merah. Apa gak kepanasan ya tu anak?</p>



<p>Seakan sadar lagi jadi bahan omongan, Si Wizard mendekat. Selagi melayang, nyala segilima mengikuti di bawah kaki. Sedangkan segilima-segilima kecil di punggungnya terus bergerak tenang. Kadang mengorbit, kadang membentuk tiga untaian panjang macam rantai api dan melambai anggun.</p>



<p>Pas dia berdiri di hadapan gw, Meinhalom menyentuh dahi Havva dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, &#8220;Heat Addict,&#8221; gak lama setelah itu, disusul mantra kedua, &#8220;Overheat Purgation.&#8221;</p>



<p>Wah gila sih. Dia bahkan gak nanya persetujuan pasien dulu, main bakar aja hidup-hidup!</p>



<p>Titik api langsung muncul dari luka-luka yang diderita Havva, lama kelamaan makin membesar dan akhirnya membungkus seluruh tubuh. Gw sedikit keheranan liat Havva cuma meringis kecil tahan sakit. Gak kejang-kejang macam cacing di garemin kayak yang dulu pernah gw alami di Ether. Padahal prosedurnya sama deh perasaan.</p>



<p>Kok gitu ya?</p>



<p>Hal lain yang gw sadari; kayaknya kemampuan reseptor rasa sakit gw belum balik juga. Soalnya tubuh Havva yang lagi terbakar masih ada di tangan gw, dan lidah api yang berkobar di dekat gw ini benar-benar gak terasa panas.</p>



<p>&#8220;Gw suka gaya lu, bocah kecil. Lu Spiritualist, tapi gak panik pas disodok,&#8221; ujar Si Accretia bertonfa pada Mein, &#8220;sayang, harus gw ingatkan; api&nbsp;<em>gak berkutik</em>&nbsp;di hadapan kami.&#8221;</p>



<p>Usai merapal mantra penyembuhan ekstrim, Mein terus menatap sayu Accretia itu sambil menunjuk arah di mana Brigade Support berada. Biar kata ini bocah gak bilang apa-apa, gw paham dia pengen gw bawa Havva ke sana gak peduli rintangan apa yang menghadang, walau tubuh gw harus remuk sekalipun. Entah apa gw yang salah tapsir atau dia yang emang kejam, tapi begitulah kira-kira intinya.</p>



<p>Jadilah gw mulai berlari sekuat tenaga &#8230; lagi. Ajegile! Perasaan kerjaan gw dari tadi mondar-mandir gendong perempuan mulu ya di mari!?</p>



<p>Satu prajurit besi dengan persenjataan belati ringan meneriaki si pembawa tonfa, &#8220;Linkbuster! Apa lu tolol!? Incaran kita bisa lepas!&#8221;</p>



<p>&#8220;Lu kira gw buta!? Tangkap dia! Jangan cuma bicara!&#8221; teriak Accretia bersenjatakan dua tonfa itu pada mereka.</p>



<p>Dan tau-tau mereka jadi kompak ngejar gw! Faaak!</p>



<p>Prajurit logam bersenjatakan belati pendek yang tadi teriakin si pembawa tonfa, gerakannya lebih cepat dari Accretia lain! Dia tampak begitu napsu memburu gw!</p>



<p>Sangking paniknya, gw teriak macam begal dikejar warga setempat, &#8220;TOLOOONG!&#8221;</p>



<p>&#8220;Jetstream,&#8221; Mein langsung meledakkan energi panas dan meluncur cepat ke arah gw. Dia nyelip di ruang kosong antara gw dan Si pengejar, segilima di punggung serta sekeliling pergelangan tangan berpindah ke depan telapaknya, &#8220;Firefall; Straight Array,&#8221; Ufft! Pilar api masif langsung mendorong mundur pengejar gw itu. Armor besinya langsung menyala merah akibat diterjang suhu tinggi tiba-tiba.</p>



<p>Belum selesai! Satu terhempas mundur, yang lain maju! Si Pemegang tonfa langsung menerjang Meinhalom tanpa ampun! &#8220;Ini bukan hari keberuntungan lu, kompor!&#8221;</p>



<p>Bunyi logam bertabrakan membahana ke segala penjuru! Sepasang tonfa yang dibawa Accretia itu digenggam sebuah MAU. Dua logam raksasa tampak saling adu kekuatan!</p>



<p>Dari speaker Goliath hitam legam itu terdengar suara Royal Oritzi, &#8220;Ini juga bukan hari keberuntungan lu, Linkbuster,&#8221; Goliath Oritzi langsung mengangkat Si Pembawa tonfa dan melempar dengan segala daya.</p>



<p>Berkat intervensi dari Si Armor Rider, gw berhasil sampe ke tempat prajurit Brigade Support berada. Salah satu dari mereka baru aja tiba, dan gw kenal perempuan itu. Rambut biru langitnya sangat khas, dilapis armor Spiritualist tingkat tinggi dari ujung kepala sampe kaki. Dia langsung memekik begitu liat gw bawa-bawa tubuh wanita dengan api berkobar, &#8220;Astaga!&#8221;</p>



<p>&#8220;Conquest Rylit! Saya gak punya waktu buat jelaskan, intinya api ini gak melukai tapi justru memulihkan! Sekarang dia cuma butuh perlindungan!&#8221; ujar gw rada cepat seraya letakkan tubuh Havva di tanah.</p>



<p>&#8220;A-apa? Yakin? Ini gak terlihat seperti penyembuhan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Percayalah. Saya titip dia!&#8221; Si Astralist sempat mau menyentuh tubuh Havva, tapi sontak menarik tangannya pas dirasa hawa panas menyengat indra peraba. Matanya beralih ke gw, makin tampak raut kebingungan di mukanya. Gw gak terlalu gubris itu, langsung tinggalkan Havva bersama Conquest Rylit dalam keadaan masih tercengang.</p>



<p>Setelah berdiri dari jatuhnya, Accretia bertonfa diam sejenak sebelum bertanya, &#8220;&#8230; Siapa lu? Gimana lu bisa tau nama kode gw? Apa kita pernah bertemu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Nama gw bukan hal penting, toh Prajurit Kekaisaran terkenal macam lu gak bakal ingat apa yang udah mereka hancurkan.&#8221;</p>



<p>&#8220;&#8230; Gw suka omongan lu, Pilot. Poinnya kena-&#8221; di tengah perkataannya, dari belakang, lima roket melesat lewati kedua sisi kepalanya!</p>



<p>Black Goliath Oritzi jelas gak mampu menghindar! Tapi tentu Mein gak tinggal diam!</p>



<p>&#8220;Fireflies; Reign of Flames,&#8221; segilima kecil di sekeliling badannya bergerak membentuk formasi gak beraturan di atas kepala bermahkota pink setengah terbakar, lalu langsung menembakkan titik-titik api gak terhitung banyaknya buat hancurkan roket-roket yang mengincar MAU Oritzi! Gumpalan api raksasa membumbung tinggi saat teknologi dan mantra beradu sengit.</p>



<p>&#8220;Crosshair, bedebah! Gak liat gw lagi bicara, hah!?&#8221; bentak Si Pembawa tonfa geram sembari balik badan, &#8220;berapa kali harus gw bilang, Cloudrake!? Kendalikan impuls teman lu itu!&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak mungkinlah! Gimana caranya!? Prosesornya miring dan lu harusnya tau itu!&#8221; balas Accretia dengan persenjataan ringan gak kalah keras.</p>



<p>Accretia yang dipanggil Linkbuster tepok jidat, &#8220;Gw gak peduli gimana caranya, lakukan!&#8221; kemudian dia beralih lagi pada lawannya, &#8220;Maap atas gangguannya, ada kawan gw yang rada sinting dan- oh &#8230; astaga.&#8221;</p>



<p>Linkbuster tercekat liat pemandangan di depan mata artificialnya. Iyalah, siapa yang gak bakal kaget liat lidah api hasil peraduan yang tadi menggumpal tinggi ke langit, tau-tau tersedot membentuk bola energi merah di depan dada perempuan berambut pink!? Energi panas terus berputar dan tertekan di satu titik, bak lagi dijinakkan sang pawang.</p>



<p>&#8220;Ember&#8217;s End,&#8221; dengan satu dorongan, bola energi itu langsung melesat.</p>



<p>Namun bukannya menghindar, Linkbuster justru melindungi bagian depan dengan sepasang tonfa di lengannya. Semacam medan gaya &#8230; tipis berwarna ungu pudar terbentuk dari tonfa tersebut? Mantra Meinhalom menabrak medan gaya yang melindungi Prajurit Kekaisaran itu, membakar memang. Tapi sama sekali gak menyentuh sang pemegang tonfa.</p>



<p>A-apa itu &#8230; Force? Ahha, masa sih? Gak mungkin ah robot bisa pake Force. Pasti mata gw aja yang salah liat.</p>



<p>&#8220;Gw jengkel kalo harus ngomong berkali-kali. Tapi &#8230; udah gw bilang, api-&#8220;</p>



<p>Omongannya gak sempat selesai karena Black Goliath Royal Oritzi udah bermanuver dan memangkas jarak dalam sekejap, meninju Accretia itu tanpa peringatan! Kepalan besi raksasa terhenti akibat beradu keras dengan medan gaya dari sepasang tonfa!</p>



<p>&#8220;Gimana dengan serangan fisik!?&#8221; seru Oritzi.</p>



<p>Tapi tampak tinju dari MAU Goliath juga belum mampu hempaskan pertahanan Linkbuster.</p>



<p>&#8220;&#8230; Lu tau? Gw muak dari tadi omongan dipotong terus!&#8221; Seru Accretia itu, &#8220;usaha lu sia-sia, pilot! Pertahanan ini gak akan bisa dipatahkan semudah itu!&#8221;</p>



<p>Dari siku Black Goliath memancar roket pendorong yang menambah daya dobrak tinjunya! Medan gaya Si Accretia perlahan retak, sampe akhirnya pecah berantakan dan kepala besi Linkbuster harus rela terima bogem mentah telak. Dia terbanting keras dan tubuh logamnya harus mencium daratan.</p>



<p>&#8220;Lu bilang apa tadi?&#8221; ledek Si Armor Rider.</p>



<p>Mantap! Gak salah emang Armor Rider yang satu ini paten amat skillnya. Sayang, usai lancarkan serangan tadi, tangan kiri Black Goliath sedikit alami keretakan. Percikan listrik dan asap tipis sesekali memancar dari sana. Cih, padahal baru sekali serang.</p>



<p>Gw seolah bingung, apa yang bisa gw lakukan buat bantu Mein dan Oritzi? Kombinasi serangan mereka tersinkronisasi dengan baik. Gw takut kalo tau-tau sok ide melakukan hal-hal absurd, yang ada malah merusak irama mereka. Bisa kacau urusannya.</p>



<p>Tetiba dua bilah belati dengan kawat besi terlempar dari arah samping! Insting gw langsung ambil alih kendali tubuh dan mengelakkan badan. Tapi sayang, insting gw telat sadar kalo ternyata ada satu lagi belati yang terlempar belakangan. Begitu belati tersebut sukses menancap di paha kiri, ujungnya langsung keluarkan kail kecil yang bikin gak bisa lepas!</p>



<p>&#8220;Dapat!&#8221; teriak Accretia yang disebut Cloudrake.</p>



<p>&#8220;Faak!&#8221; Dia menarik kawat besi di tangannya sekuat tenaga, bikin gw jatuh dan terseret. Gw ngotot lawan tarikan Accretia tersebut dengan mati-matian cengkram tanah basah, tapi percuma. Jemari gw cuma bisa tinggalkan jejak garis akibat terus tertarik.</p>



<p>Tubuh gw terpelanting ke arah Cloudrake akibat satu sentakan tiba-tiba! &#8220;<em>STRIKE</em>!&#8221;</p>



<p>&#8220;Strike pala lu rengat!&#8221; Ogah pasrah gitu aja, gw langsung anak panah dari inventori. Selagi melayang di udara, gw berusaha buat bidik panah dan itu susahnya bukan main, &#8220;lu kata mancing!?&#8221; Dua anak panah melesat dari tali busur. Lajunya tambah cepat akibat tubuh gw lagi dibawa tarikan.</p>



<p>&#8220;Oh ya! Gw lagi mancing &#8230;&#8221; namun betapa kaget gw pas liat tubuh logam meliuk dengan luwes hindari kedua panah tadi, &#8220;&#8230; mancing keributan.&#8221;</p>



<p>Dia menumbuk tepat dada Bellatean mungil nan kurus yang lagi melintas kencang! Ah, bangke! Emang gak sakit, tapi tetap batuk darah. Lama-lama beneran jadi perkedel kalo terus-terusan digilas gini.</p>



<p>Belati yang ada di tangannya menghujam kepala gw. Mata ungu melebar, dan gw berusaha menepis belati itu pake busur beam komposit. Senjata kami saling bergesekan sebelum belatinya tertancap di sebelah muka. Gw bangkit dan menendang badan Accretia itu supaya bisa manpaatkan gaya dorong buat menjauh.</p>



<p>Selagi melesat ke belakang, busur gw melepas beberapa anak panah lagi. Cih, kali ini pun masih belum tepat sasaran gegara gerakan kaleng itu yang amat lincah. Kampureto, baru sekarang gw nemu robot punya manuver hindaran macam penari.</p>



<p>Ah, udahlah, mau gak mau harus pake &#8216;itu&#8217;. Satu panah khusus gw keluarkan. Panah dengan hulu ledak kecil di kepalanya.</p>



<p>&#8220;Ayo liat apa lu masih bisa mengelak,&#8221; bisik gw biar gak terdengar sang lawan. Kalo ternyata gak kena kan malu nanti udah terlanjur bacot.</p>



<p>Gw tembak panah khusus itu pake tenaga busur yang gak terlalu kuat, lalu langsung diikuti tembakan kedua dengan tarikan penuh hampir tanpa jeda.</p>



<p>&#8220;Hah? Bukannya panah lu terlalu lambat?&#8221; ujarnya saat liat lesatan panah gak secepat sebelumnya.</p>



<p>Cloudrake hendak lakukan manuver hindaran lagi, tapi panah kedua keburu tepat kena hulu ledak dan langsung keluarkan ledakan di hadapan Accretia itu. Pecahan peluru tajam ikut menyebar dan membuatnya gak mampu menghindar kali ini!</p>



<p>&#8220;Yes!&#8221; Gw lega bisa lancarkan trik begituan. Walau harus diakui, paktor hoki berperan lebih besar.</p>



<p>Belati-belati dengan kawat besi di gagangnya menembus asap ledakan! Ogah ketarik lagi, gw terus meliuk hindari terjangan senjata-senjata Accretia itu sampe perlahan asap ledakan hasil panah gw hilang, dan pamerkan sosok Prajurit Kekaisaran lagi memutar belati-belati berkawat besi di sekelilingnya.</p>



<p>Wajar sih, mana mungkin dia tumbang pake trik murah barusan.</p>



<p>Zirah besinya tampak lecet dan tergores, terus-menerus keluarkan asap dari serangan gw. Untunglah, seenggaknya pertahanan Accretia yang satu ini gak setebal kawan-kawannya yang lain.</p>



<p>&#8220;anggap ini kabar hiburan; serangan lu cukup &#8216;sakit&#8217;,&#8221; celetuk Cloudrake, &#8220;tapi pancingan gw belum pernah lepas sebelumnya!&#8221; Dia menarik badan kemari dengan bertumpu pada satu belati yang masih tertancap erat pada sebongkah batu di belakang gw! Shite!</p>



<p>&#8220;Apa gw keliatan kayak ikan!?&#8221; Tapi ini justru kesempatan! Mumpung lagi melaju segaris lurus, gw tembak dia sekali lagi sambil lompat menghindar.</p>



<p>BRAK!</p>



<p>Kaki besinya menapak bongkahan batu tersebut, dan tinggalkan ceruk jejak kaki di sana, &#8220;Lu lebih tepat disebut &#8216;belut&#8217;.&#8221;</p>



<p>Bah, tembakan gw meleset gegara sembari guling ke samping. Lagi, dia lemparkan dua belati. Tapi kali ini ke tanah tempat gw berpijak dan dia langsung melesat! Hal itu bikin gw otomatis balik badan dan ambil langkah seribu!</p>



<p>Tumbukan kaki Prajurit Kekaisaran yang ketemu tanah begitu ngeri didengar telinga, &#8220;Berhenti lari dan biarkan gw meringkus lu, belut darat!&#8221;</p>



<p>Mana ada orang waras bakal nurut perkataan musuhnya! &#8220;Coba lagi sini, goblok!&#8221; Aw, kenapa ya mulut gw jadi makin toxic semenjak Force kegelapan gw bangkit?</p>



<p>Bawaannya pengen manas-manasin suasana mulu padahal gak perlu dibacotin juga udah panas.</p>



<p>Gw terus berlari dengan segenap kemampuan. Dia tetap belum menyerah, masih lompat-lompatan pake belati-belati berkawat besi. Sayangnya, di depan gw menjulang tebing tinggi. Faak, dia menyergap sedemikian rupa supaya bisa menggiring gw ke tempat ini.</p>



<p>&#8220;Kemarilah belut kecil, biarkan gw menabur garam di kulit lu! Hah ha!&#8221;</p>



<p>Gak mau terima kenyataan kalo dia bakal menang dengan segala kesombongan, gigi gw mengertak gegara geram.</p>



<p>Tapi bohong! Saat musuh dibalut arogansi itulah saat favorit!</p>



<p>Bibir gw sontak menyimpul senyum ledekan ketika sebuah kepingan segilima merah terang meluncur deras dan tertancap di hadapan Accretia itu. Di atasnya langsung proyeksikan sosok Meinhalom yang tengah ambil ancang-ancang dengan tangan kanan ke depan. Untaian segilima berpindah ke sekitaran tangan kanannya dan berputar seperti turbin yang makin menyala!</p>



<p>&#8220;Hypercanon,&#8221; energi panas yang terpusat di telapak tangan kanannya spontan menembus tajam ke dada Accretia itu! Tembakan yang dengan mata telanjang keliatan kayak laser super bertekanan tinggi!</p>



<p>Cloudrake pun tumbang berhias lubang berasap di dadanya.</p>



<p>Satu hal yang terlintas di benak gw abis dikasih liat serangan dahsyat itu; yakin ini bocah kalah dari Elka?</p>



<p>Ah kesampingkan dulu, &#8220;HAH! Siapa yang kepancing sekarang, cundang!?&#8221; sangking girangnya, gw acungkan jari tengah sembari nendang-nendang onggokan besi gak bernyawa. Padahal yang ngalahin bukan gw lho.</p>



<p>Mein cuma menatap datar akan perbuatan gw yang gak tau diri. Bodo amat dah. Kesal sih abisnya, seenak jidat dikata belut.</p>



<p>Puas bacotin pengejar yang dari tadi ngotot benar pengen meringkus, gw beralih ke Mein, &#8220;Jadi &#8230; gimana bisa lu kalah- UGH!&#8221; Tapi tetiba kedua kaki gw mulai terasa bergetar. Perlahan tapi pasti, sakit mulai kembali pulang.</p>



<p>Gw meringis kesakitan dan terduduk sembari meremas kedua kaki yang kian lemas. Ke-kenapa nih? Apa efek penangkal sakitnya udah abis? Gawat. Otak gw langsung teringat pas lawan Gabber, sakit tetiba datang keseluruhan. Dan itu rasanya gak bakal bisa ketahan. Sekarang gw jadi panik sendiri ketika berpikir harus menanggung nyeri.</p>



<p>Liat gw tahan sakit, Mein melayang mendekat. Matanya yang masih terbungkus nyala api merah telusuri tiap jengkal badan gw yang dipenuhi luka. Dia hendak letakkan telapak tangan di dahi gw dan mulutnya mulai merapal sesuatu yang gak terdengar sama sekali.</p>



<p>&#8220;Tu-tunggu, tunggu, tunggu!&#8221; Ini pasti mau dibakar lagi, kan!? Maaaak! Mati awak! Kali ini pasti terasa, dan gw belum siap mental untuk hadapi itu lagi!</p>



<p>Namun belum juga tangan berapi itu sampe dahi, seseorang menghantam perut Si Wizard dari samping! Gw yakin, pukulan itu amat keras sampe sanggup bikin raut kaget terukir di wajah Meinhalom dan membuatnya berlutut seraya remas perut. Gw pikir siapa, ternyata sosok itu adalah perempuan yang gw kenal terlampau baik.</p>



<p>&#8220;Elka?&#8221; Panjang umur. Ada perasaan senang pas tau dia baik-baik aja, namun keheranan lebih mendominasi saat ini. Gw tercengang menatap tindakannya yang semena-mena, &#8220;lu gak perlu mukul sekeras itu. Dia gak ada niat membahayakan gw,&#8221; mungkin Elka tau-tau mukul gegara liat keadaan gw yang luka separah ini dan Meinhalom yang tampak mau perparah keadaan.</p>



<p>Entah kenapa gw merasa kayak lagi ngomong sama candi. Gak ada satupun respon dari mulutnya, bahkan omongan gw seperti gak terdengar.</p>



<p>Mata ungu membulat makin lebar pas Elka justru menarik keluar handgun kesayangannya dari inventori 4 dimensi dan dengan ekspresi dingin menembak kepala Meinhalom yang perlahan mau berdiri &#8230; DAR! Syok teramat berat sekejap membanjiri dada sampe gak tau harus gimana ketika tubuh Si Wizard api tersentak lalu lunglai di hadapan gw.</p>



<p>Di- dia &#8230; yang udah menolong gw berkali-kali. Yang tanpa pamrih menyelamatkan gw dari kematian &#8230; citra wajah polos Meinhalom serta ekspresi tatapan sayu ciri khas pas masuk mode tempur berkelebat silih berganti di depan mata. Dan di sinilah gw gak bisa berbuat apa-apa untuk sekadar balas budi.</p>



<p>Demi apapun, gw gak kuasa bendung emosi yang memuncak, &#8220;ELKAA!&#8221; gw tau yang gw bentak itu Elka, dan sebenarnya gw paling anti bentak dia. Tapi apapun alasan di balik tindakannya, hal itu benar-benar gak bisa gw terima! &#8220;KENAPA LU PECAHIN KEPALANYA, KA!? HAH!? SALAH APA DIA!?&#8221;</p>



<p>Masih gak terdengar ada balasan. Dia cuma menatap tubuh korbannya sebelum melirik gw tajam dari sudut mata coklat itu. Gw berusaha bangkit walau sakit di badan makin kental terasa. Apa &#8230; apa yang lagi gw saksikan ini? Elka emang prajurit kuat dan punya jiwa pemberontak, tapi gw berani sumpah, dia bukan pembunuh sesama bangsa!</p>



<p>&#8220;JAWAB, WOI! SEJAK KAPAN LU JADI BISU!?&#8221;</p>



<p>Elka berbalik menghadap gw dan berakselerasi! Tangan kanannya lihai menangkap leher gw dan meremas dengan kuat. Gw coba mati-matian buat berontak, tapi kemudian tangan kirinya juga ikutan. Gw cuma bisa pegangi kedua lengan wanita ini yang makin menekan saluran pernapasan. Astaga, dia beneran niat bunuh gw kalo gini caranya!</p>



<p>&#8220;E-Elka &#8230; ini gw,&#8221; di tengah cekikan, gw belum putus asa buat sadarkan dia dari kegilaan, &#8220;apa lu &#8230; gak kenal-&#8220;</p>



<p>Pertanyaan itu gak sempat selesai udah keburu diberi hadiah satu dorongan keras ke dinding tebing di belakang, &#8220;UFFT!&#8221; seakan emang ditujukan buat bungkam mulut gw. Belum puas, dia lanjut membanting badan gw ke tanah sambil pertahankan kuncian leher, &#8220;Ah- Ahakh! Uhhk! HUFK!&#8221; gw benar-benar kehilangan kebebasan mengakses udara.</p>



<p>Tangan gw cuma sanggup mendorong wajah dan tangan Elka, berharap cekikannya meregang. Kaki gak henti-henti meronta di bawah sana. Tapi sia-sia, tenaga gak ada seujung kuku. Pandangan di sekeliling gw mulai diselimuti warna putih, sampe warna putih itu makin tertuju ke tengah dan menutup wajah perempuan yang sebelumnya pengen banget gw liat untuk terakhir kali.<br></p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">  <em>&#8220;We</em> <em>are not war machines, Khortenio. Doesn&#8217;t matter how strong, in the end we&#8217;re just Bellateans with one heart.&#8221; &#8211; Rentogarp (Ch. 42)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 56 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 57:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-57/</a></p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 55:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/">LAKE CHAPTER 56 &#8211; SOS 11: PYROMAGNUM</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 55 &#8211; SOS 10: TURNING POINT</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1589</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;I knew it, coming with you is really … terrible idea,...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/">LAKE CHAPTER 55 &#8211; SOS 10: TURNING POINT</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Chapter 55: S.O.S 10 (Siege On Solus, Turning Point)</p>



<p>&#8220;Awalnya gw gak percaya pas Gabber bilang lu susah ditumbangkan. Itu terdengar gak masuk akal, gimana mungkin seorang yang lemah susah ditumbangkan? Tapi sekarang … gw tau kenapa dia bisa bilang begitu,&#8221; optik merah dari kawan Gabber mengunci gw.</p>



<p>&#8220;Keren, kan?&#8221; balas gw sekenanya. Padahal gak nyangka juga bakal jadi begini.</p>



<p>Entah apa yang udah dilakukan Faranell, tapi gw tau pasti, dia yang udah menolong saat benar-benar dibutuhkan. Sekelebat gambaran perempuan berambut ungu itulah yang muncul pas kesadaran gw mulai digerogoti&nbsp;<em>sosok itu.</em>&nbsp;Menekan kegilaan diri, cegah&nbsp;<em>dia</em>&nbsp;meluap ga terkendali.</p>



<p>Si Mercenary jalan mendekat, &#8220;… Bilang &#8216;semenit cukup&#8217; buat lawan kami, bukannya agak keterlaluan?&#8221;</p>



<p>Aura ungu tipis terus merembes keluar kali ini gak cuma dari satu tangan, tapi juga keduanya. Tanpa aba-aba, gw berakselerasi ke sisi Si Zirah merah.</p>



<p>Pastikan jarak kami teramat dekat supaya omongan pelan gw bisa terdengar, &#8220;Kita liat aja,&#8221; kedua tangan yang pegang pedang langsung lancarkan tusukan bertubi-tubi pada si Mecenary Merah.</p>



<p>Dia kaget bukan main, optiknya gak kuasa ikuti pergerakan gw dan gak sempat antisipasi. Tusukan yang kelewat banyak dan cepat seolah melebur warna merah-biru jadi satu, berhasil mendarat&nbsp;<em>semua&nbsp;</em>di tubuh besar Si Mercenary<em>.</em>&nbsp;Gak kayak sebelumnya, sekarang serangan pedang kembar gw sanggup<em>&nbsp;menembus</em>&nbsp;pertahanan tebal Accretia itu.</p>



<p>Tusukan beruntun barusan bikin percikan listrik keluar dari lengan kirinya. Robot merah ini langsung coba hantamkan perisai ke tubuh gw, tapi tentu ga akan gw biarkan niatnya terjadi. Mana mungkin gerakannya bakal kena kalo di mata gw keliatan begitu lambat, kan?</p>



<p>Gw ambil beberapa langkah ke belakang pas perisai itu terangkat, akibatnya bagian depan Si Accretia justru terbuka lebar. Enggan buang peluang, gw langsung berakselerasi lagi sambil ancang-ancang menebas.</p>



<p>Ayunan kilat dua pedang pada sudut lengkung mengiris armor merah. Awalnya gak terjadi apapun, namun sedetik kemudian, sayatan cukup dalam baru muncul dari dada robot tersebut diiringi percikan listrik kembali terpancar.</p>



<p>&#8220;Wow …&#8221; Si Mercenary sempat terhuyung sebelum berlutut seraya pegang dadanya yang menganga.</p>



<p>Dari belakang Si Zirah merah, Gabber manpaatkan bahu kawannya sebagai pijakan untuk lompat begitu tinggi. Spadona cyan andalan tergenggam mantap pake dua tangan. Punisher itu berakrobat di udara, salto ke depan sekali dan hujamkan senjatanya penuh napsu membara.</p>



<p>Sigap, gw langsung lompat ke samping buat menghindar. Dentuman keras terdengar di tempat robot itu mendarat. Gak lama dari balik tanah dan asap berhamburan, Gabber seketika menerjang keluar sambil todongkan spadona ke depan.</p>



<p>Kecepatannya meningkat lagi. Hmm, gak nyangka dia bakal cepat beradaptasi dengan kecepatan gw.</p>



<p>Dengan dua pedang di tangan, gw berani ubah arah tusukan spadona itu pake sentuhan ringan di sisi lebar senjata tersebut. Spadona milik Accretia itu terus lewat di sisi kanan tanpa berkurang kecepatannya, sedangkan gw perkuat pijakan supaya sama sekali gak beranjak dari titik berdiri.</p>



<p>Tangan gw todongkan satu pedang ke arah dada Gabber yang lagi mendekat cepat, tepat di titik yang sempat tergores teknik berputar. Ga kayak tadi, sekarang senjata gw berhasil tembus dada sampe punggungnya akibat momentum gerak Si Punisher sendiri.</p>



<p>Masih belum! Pedang di tangan satunya langsung gw benamkan dalam-dalam ke bahu Si Accretia, dan tekan ke bawah sekuat tenaga. Akhirnya … kepala Si Punisher bertemu permukaan tanah untuk pertama kali selama pertarungan kami.</p>



<p>Yeah! Gw berhasil bikin dia makan tanah!</p>



<p>&#8220;Tetap di bawah!&#8221; kata gw lantang.</p>



<p>Tapi dia gak biarkan diri terjerembab lama. Robot gedek itu berontak mendadak pake tenaga yang luar biasa. Menyentak tangan kiri gw, dan bikin pegangan di bahunya lepas. Sialan! Satu pedang masih tersangkut di badan Gabber. Pendar Twin Razer Blade langsung padam karena gak digenggam bersamaan.</p>



<p>&#8220;Lu yang harusnya di bawah, cecunguk berdaging!&#8221; Balasnya sembari cabut pedang yang tersangkut di bahunya, lalu dia lempar balik ke gw sekuat-kuatnya, &#8220;ga ada yang lebih kuat dari kami!&#8221; perkataan yang terlontar penuh nada ga terima, &#8220;ga ada yang lebih superior dari logika kami, Kekaisaran!&#8221;</p>



<p>Sebilah pedang kusam itu meluncur tajam. Langsung gw tangkap gagangnya tanpa kesulitan berarti. Kedua pedang di tangan kembali pamerkan merah- biru.</p>



<p>Robot berzirah biru navy itu kembali berlari sembari lancarkan kombo tiga tebasan.</p>



<p>&#8220;Ada,&#8221; tubuh gw mengelak lincah dari tiga tebasan Si Punisher dan langsung lancarkan satu tebasan berputar ke lehernya, &#8220;gw!&#8221;</p>



<p>Gegara pergelangan tangan masih bisa digenggam Si Kaleng rongsok di detik terakhir, Twin Razer Blade batal menebas habis leher logamnya, cuma mengiris beberapa inci aja.</p>



<p>Percikan listrik dan kembang api kembali memancar. Semacam cairan minyak mulai mengalir dari irisan itu.</p>



<p>Genggaman Gabber makin kuat, dia bangkit terus berputar-putar. Ugh … bikin gw mual dan pusing karena ikut kebawa. Abis memutar beberapa kali, dia hempaskan tubuh mungil gw jauh-jauh, &#8220;HAH, JANGAN BERCANDA!&#8221;</p>



<p>Entah udah berapa kali tanah jadi bantalan mendarat hari ini. Tetap aja, satu hal yang terpatri di pikiran; masih gak terasa apa-apa. Gw tau, gw sering bilang benci rasa sakit … tapi kalo tetiba kemampuan reseptor nyeri hilang begini, tentu bakal jadi tanda tanya.</p>



<p>&#8220;Akhirnya lu tunjukkan diri lu yang sebenarnya, hah!?&#8221; Gabber berkata, &#8220;dulu lu pernah bilang, &#8216;Ga peduli siapa yang lebih kuat,&#8217; tapi nyatanya, pernyataan lu tadi begitu arogan!&#8221;</p>



<p>&#8220;Ngaca dong!&#8221; balas gw singkat.</p>



<p>Masih ga nyadar diri juga apa ya ini kaleng? Kan dia duluan yang mulai.</p>



<p>&#8220;Apa lu pikir cuma karena serangan jadi lebih kuat sedikit, lu bisa tumbangkan Prajurit Kekaisaran?&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Pulverize him&nbsp;</em>(Lumat dia)<em>,</em>&#8220;bisikan&nbsp;<em>dia&nbsp;</em>terdengar lagi,</p>



<p>&#8220;<em>He&#8217;s always looking down on us, mocking us, make us feel like an insect. But now … he fears us (</em>Dia selalu remehkan kita, mengejek kita, bikin kita merasa bak serangga. Tapi sekarang … dia takut pada kita)<em>.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>You have the power to do so&nbsp;</em>(kamu punya kekuatan untuk melakukannya)<em>.</em>&#8220;</p>



<p>Gw kembali betulkan kuda-kuda di hadapannya, &#8220;Mau gw jawab, atau cari tau sendiri?&#8221;</p>



<p>&#8220;Bajingan tengik!&#8221; Umpat Gabber seraya menerjang maju.</p>



<p>&#8220;Sini! Segitu doang kemampuan lu!?&#8221; balas gw gak kalah keras dan songong, makin panaskan suasana.</p>



<p>Gw sempat terkecoh gegara dia kasih gerakan tipuan pake tangan yang pegang spadona, namun ternyata, tangan kirinya lah yang sukses menyengkram leher gw dengan amat bertenaga.</p>



<p>&#8220;Cebol!&#8221; suara Faranell yang berseru terdengar saat Gabber aktifkan boosternya lalu lompat begitu tinggi dan bawa gw melayang di udara. Napas jadi agak sulit keluar-masuk begitu kaki ga lagi menapak.</p>



<p>Ugh, apa-apaan robot ini? Apa dia mau langsung nyulik tanpa selesaikan pertarungan? Hah, licik juga.</p>



<p>Tapi ternyata pemikiran itu salah. Pas sampe di titik tertinggi lompatannya, ada kali 15 meter di atas tanah, Gabber gak segan lempar badan gw balik ke bawah! Brengsek! Sangking kuat lemparan itu, kawah dangkal langsung tercipta begitu punggung gw membentur daratan, bikin tetes darah lagi-lagi keluar dari sela gigi. Bayangkan, gw sampe bisa dengar bunyi retakan tulang punggung sendiri.</p>



<p>Kampret juga dia. Berani-beraninya chokeslam gw seenak jidat.</p>



<p>&#8220;MATI!&#8221; Serunya. Gabber terjun bebas, daya booster makin menambah kecepatan laju. Mata lancip spadona tertuju mantap pada target yang lagi enak telentang.</p>



<p>Perlahan gw kembali berdiri, &#8220;Gw bakal kalahkan lu, gw bakal bikin lu bertekuk lutut …&#8221; belum. Bukan gw yang bakal mati! &#8220;GW BAKAL PRETELIN TIAP SUKU CADANG SAMPE LU GAK BISA DISERVIS LAGI, RONGSOKAN BANGSAT!&#8221;</p>



<p>Kedua pedang di tangan menyabet kaki kiri Gabber sembari ambil selangkah ke samping guna hindari tusukannya. Abis itu gw lompat dan layangkan satu tendangan akrobatik tepat ke kepala Si Punisher, tapi sayang sebelah tangannya masih sanggup menghalau.</p>



<p>Kaki gw bertemu tangan Gabber dalam satu peraduan yang gak terkira. Terdengar suara retakan metal dari tangan robot itu. Masih belum puas, gw tinju mukanya tanpa ampun ke bawah, benamkan kepala besi tersebut kedua kalinya ke tanah.</p>



<p>&#8220;Gabbe, udah bukan waktunya main-main!&#8221; Si Zirah merah kasih peringatan seraya hendak bantu, &#8220;sebentar lagi tempat ini akan kejatuhan nuklir!&#8221;</p>



<p>Tapi ditolak mentah-mentah, &#8220;Mundur, Ironall! Udah gw bilang, dia lawan gw!&#8221;</p>



<p>Gw berlari untuk kasih serangan lanjutan, namun entah kenapa terasa sekelebat ngilu dari tulang punggung dan kaki kanan yang tadi gw pake buat menendang! Argh! Kenapa reseptor nyeri harus kembali berfungsi di saat kayak gini!? Cuma sesaat emang, abis itu hilang lagi. Tapi walau sesaat, sakitnya luar biasa. Gw terjatuh karena kaget akan rasanya.</p>



<p>Biarpun badan tersungkur, tatapan mata ungu penuh kegeraman masih gak lepas-lepas dari sosok Gabber yang juga belum berdiri.</p>



<p>&#8220;<em>Take it all, this power. Destroy him. (Ambil semuanya, kekuatan ini. Hancurkan dia)&#8221;</em></p>



<p>Sementara itu, Faranell terhenyak liat gelagat gw mulai berubah lagi. Dia berteriak, &#8220;Lake! Kamu gak boleh bertempur dengan amarah!&#8221;</p>



<p>&#8220;Tutup mulut kotor lu! Liatlah, gw yang bakal bunuh keparat ini!&#8221; entah setan apa yang merasuki kepala, gw jadi kasar padanya.</p>



<p>Kami sama-sama bangkit. Kaki Gabber yang tadi tersayat pedang gw, tetiba putus pas dia menerjang. Tapi kami masih sempat saling meninju dengan segenap tenaga tersisa. Pertukaran hantaman itu tepat di wajah, bikin kami kembali tersungkur. Mulut gw langsung semburkan lebih banyak darah pas kena hajar kepalan tangan Accetia itu.</p>



<p>&#8220;Sesuatu&nbsp;<em>memakan&nbsp;</em>hatimu!&#8221; Teriak Faranell penuh kecemasan. Mata kuningnya terlihat hampir nangis, &#8220;Jangan sampe kamu termakan&nbsp;<em>kegilaan</em>&nbsp;kalo kamu masih mau kembali seperti semula!&nbsp;<em>Dia&nbsp;</em>kasih kamu kekuatan sebagai pertukaran atas kendali diri! … Karena kamu benar-benar berharap kehancuran kali ini … bisa-bisa perubahannya jadi permanen. Bisa jadi … pecahan kesadaranmu yang&nbsp;<em>dia&nbsp;</em>makan udah gak bisa kembali.&#8221;</p>



<p>Tangan gw mengepal tanah, masih dengan keadaan berdarah-darah. Bibir cuma bisa tertutup dengar ocehannya. Sedikit banyak, gw paham apa yang dia bilang. Sebenarnya bukan kehilangan visi diri sendiri gegara dibalut kemarahan, cuman gw merasa sebagian diri yang lain perlahan memudar.</p>



<p>Tapi … fakta kalo gw gak bisa kalahkan Gabber gak bisa ditampik. Biarpun udah sampe begini, keparat itu belum juga tumbang! Lebih … gw butuh lebih dari ini!</p>



<p>&#8220;Shite! Kita harus mundur dari area ini, Gabbe! Selesaikan persaingan lu lain kali!&#8221; Namun tau-tau Si Zirah merah yang dipanggil Ironall langsung memapah Gabber yang udah kehilangan sebelah kaki. Mereka ga pedulikan kami lagi. Mungkin karena pertarungan ini makan waktu lebih dari yang seharusnya, Si Zirah merah itu jadi panik sendiri.</p>



<p>Apa? … Gitu doang!? Mereka bakal pergi setelah bikin gw babak belur, dan tinggalkan gw buat kena nuke!? Cakep banget kelakuan.</p>



<p>&#8220;… Tunggu,&#8221; ucap Gabber pada kawannya. Langkah Ironall terhenti seketika, dan Gabber berusaha keras hadapkan tubuh kemari walau tetap dipapah. Dia angkat telunjuknya tepat ke gw, &#8220;jangan berani lu mati di pertempuran ini, Liliput. Kalo ada yang bakal cabut nyawa lu, gw lah orangnya.&#8221;</p>



<p>Hah. Padahal dia yang mau kabur tapi dia juga yang banyak gaya, &#8220;Ga bakal segampang lu bicara, Karatan,&#8221; balas gw seraya acungkan jempol ke bawah, sementara darah terus menetes dari ujungnya.</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Fuck you,</em>&#8221; responnya jengkel.</p>



<p>Maka berlalulah mereka. Faranell lari dekati gw dengan terengah. Liat keadaan yang gak bisa dibilang baik, dia lingkarkan lengan di pinggang gw supaya tetap tegak berdiri. Mata kuningnya tunjukkan penuh keprihatinan. Agak berkaca-kaca, tapi tetap berusaha keliatan tegar.</p>



<p>&#8220;Kenapa?&#8221; tanya gw ketika balas tatapannya, &#8220;gw gak berubah.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hampir …&#8221; jawabnya lugas, &#8220;… hampir,&#8221; dia tundukkan wajah kali ini.</p>



<p>Kami mulai jalan, berusaha jauhi area ini secepat yang kami bisa di tengah pertempuran yang sekarang seolah terhenti sejenak karena kedua belah pihak sama-sama gak pengen kena nuklir. Masih tersisa segelintir Prajurit Federasi di sekitar kami. Mereka bahkan sibuk selamatkan diri sampe gak sadar ada Corite yang memapah Bellatean di sini.</p>



<p>Faranell gak berkata apa-apa setelah beberapa saat. Gw coba memecah keheningan gegara liat kemurungan melanda, &#8220;… Lu bilang &#8216;termakan&nbsp;<em>kegilaan</em>&#8216;, apa maksud lu?&#8221;</p>



<p>Dia memandang mata gw lagi, &#8220;Aku terjun ke dalam dirimu. Dan … aku liat semua bagian dirimu sampai yang tergelap sekalipun. Juga … apa yang telah kamu lalui.&#8221;</p>



<p>&#8220;O-oh … lu … tau semua?&#8221;&nbsp;<em>kejadian</em>&nbsp;<em>itu</em>&nbsp;juga … ?</p>



<p>Faranell kasih anggukan kecil.</p>



<p>Ahh, ternyata benar, dia emang&nbsp;<em>secara harfiah&nbsp;</em>masuk ke diri gw. Pantas kehadirannya begitu terasa pas gw nyaris kehilangan kesadaran.</p>



<p>&#8220;Kamu punya darah Corite,&#8221; deng! Bahkan dia tau fakta yang gak pernah gw umbar ke siapapun kecuali Elka, &#8220;Ada satu pecahan kesadaran, bagian Corite darimu yang punya sepercik Force kegelapan.&nbsp;<em>Dia&nbsp;</em>berada di lubuk hati.&nbsp;<em>Dialah</em>&nbsp;yang suaranya kerap kamu dengar,&nbsp;<em>juga,&nbsp;</em>yang kasih kamu kekuatan. Selama ini kamu menguncinya di lubuk hati, tapi kunci itu mulai terbuka saat kamu putus asa.&#8221;</p>



<p>&#8220;Jadi … itu sebabnya aura di tangan gw sama kayak lu? Ini … Force kegelapan?&#8221;</p>



<p>Lagi-lagi, perempuan berambut ungu itu mengangguk, &#8220;Itulah yang memberimu kemampuan menembus armor dan turunkan kapabilitas pertahanan mereka.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Wow … keren juga.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya, tapi harga yang harus dibayar gak murah,&#8221; Faranell kembali tertunduk lesu. Hmm, kenapa ini anak? Gelagatnya gak berenergi, gak kayak pas tempur tadi.</p>



<p>&#8220;Hey, lu kena-&#8220;</p>



<p>&#8220;Aku pernah mimpi tentang kamu,&#8221; dia memotong omongan gw dengan kalimat yang bikin tercekat, &#8220;waktu di Ether dulu, aku mimpi ketemu kamu di tengah padang salju. Tapi rambutmu beda, berwarna coklat kekuningan. Tepatnya … rambut pecahan kesadaran Corite yang kuliat di lubuk hatimu &#8230;&#8221;</p>



<p>Mata gw melebar gak percaya, mulut agak menganga tanpa sanggup berkata-kata. Gak … ahha, gak mungkin ah! Masa iya sih bisa sama?</p>



<p>&#8220;… Aku liat kamu pake armor Prajurit Aliansi. Seakan … kamu emang bagian dari kami. Saat itu kamu … lagi-&#8220;</p>



<p>&#8220;Melepas Elka, kan?&#8221; kali ini gantian dia yang menatap gw penuh keterkejutan.</p>



<p>&#8220;A- … a-aku gak tau … apa perempuan yang ada di lenganmu itu Elka … tapi … gimana kamu bisa tau?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kita mimpi hal yang sama.&#8221;</p>



<p>Kali ini gantian Faranell yang tercengang keheranan, &#8220;… Mimpi itu selalu terpatri di benakku. Aku selalu yakin itu adalah suatu pertanda dari Decem. Tapi gak ada yang percaya padaku, bahkan Gann sekalipun. Dia sampe bilang Decem gak akan ciptakan Corite kayak kamu. Nyatanya, kini semua jelas. Kamu adalah Corite, walau cuma sebagian.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Pertanda, ya?&#8221; dengar penjelasan Si Corite tentang hal ini, malah timbul secercah kegelisahan di sudut nurani, &#8220;kalo gitu, gw berharap … sebagian lain dari mimpi itu cuma bunga tidur.&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa kamu takut … kalo sebagian lainnya bakal jadi kenyataan?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Ya,&#8221; jawab gw, &#8220;banget. Di mimpi itu gw mau teriak sekeras-kerasnya, tapi gak bisa. Seakan pikiran dan badan gak singkron. Dan yang lebih menyayat perasaan, gw tinggalkan Elka gitu aja di antah berantah. Gw … bahkan gak menoleh ke belakang sedikitpun saat ikut dengan lu. Gimana mungkin gw bisa melakukannya? Itu sama aja kayak lecehkan dia.&#8221;</p>



<p>Tatapan mata kuningnya melembut seketika. Raut muka Si Grazier walau dibalut kelelahan dan kotoran, sama sekali gak berkurang kemanisannya.</p>



<p>&#8220;Gw gak mau itu terjadi,&#8221; tukas gw melanjutkan.</p>



<p>Faranell kembali menelisik ekspresi saat gw berucap, seakan ada sesuatu yang dia cari di wajah gw, &#8220;kuharap begitu …&#8221; dia terdiam sebentar sebelum bergumam, &#8220;entah apa jadinya dirimu kalo itu benar terjadi.&#8221;</p>



<p>Telinga gw gagal menangkap gumaman itu dengan baik, &#8220;Apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak apa-apa,&#8221; tapi dia menolak buat ulang dan lebih milih alihkan pembicaraan, &#8220;saat Force kegelapanmu mengalir, apa yang kamu rasakan?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Gak ada.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak ada?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw gak bisa merasakan apapun. Seolah … ada yang jadi penangkal rasa sakit,&#8221; jawab gw apa adanya.</p>



<p>Si Grazier berambut ungu menggapai tangan kanan yang berapa kali gw pake buat hajar muka Gabber. Kondisinya makin parah. Sarung tangan sobek separuh, jahitan Faranell udah terbuka semuanya, memar serta irisan luka cukup dalam pada kulit di punggung telapak tangan ga bisa lagi disembunyikan.</p>



<p>Darah pun masih mengalir dari sana, &#8220;Tapi tubuhmu … tetap terluka.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya. Kayaknya sih gitu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gimana kamu bisa segitu santai!?&#8221; bentakannya tiba-tiba bikin gw terlonjak, &#8220;Inilah kenapa kubilang harga yang harus dibayar gak murah! Sakit ada sebagai peringatan bahwa tubuh udah mencapai batas! Supaya bisa lebih hati-hati bertindak pas kita rasakan sensasinya! Kalo gak terasa apa-apa … artinya kamu kehilangan peringatan itu, dan- … dan kamu gak akan tau udah seberapa parah keadaan tubuhmu sendiri.&#8221;</p>



<p>Duh, diomelin perempuan cakep begini mah, paling gak bisa deh melawan.</p>



<p>&#8220;Aku liat gimana kamu bertempur, gimana kamu hampir buka lagi pintu yang udah kututup,&#8221; nada kecemasan sama sekali gak bisa disembunyikan dari balik kata. Sepasang mata kuning itu kembali menusuk mata ungu, &#8220;tolong, jangan jual hatimu cuma demi secuil kekuatan.&#8221;</p>



<p>Jadi ceritanya gw hampir dibutakan kemarahan, ya? Gak tau kalo efeknya bakal sejelek ini di mata orang lain. Yang terpikir di kepala cuma pengen kalahkan Gabber dan para Accretia kok, gak lebih. Kan itu demi Faranell juga.</p>



<p>Tapi seperti biasa, gw orang yang gak pernah belajar dari kesalahan. Masih aja egois, sembrono, dan gak mikirin mereka yang ada di sekitar. Huufft, kapan gw bisa berubah?</p>



<p>Gw belum berani janji padanya karena entah apa lagi yang akan kami hadapi nanti. Untuk sekarang, gw cuma bisa bilang, &#8220;… Akan gw coba.&#8221;</p>



<p>Dari atas, tetiba seorang wanita berambut coklat kemerahan yang dikepang samping terbang rendah di depan kami. Dia ini … wanita yang dipanggil Lalana kalo gak salah.</p>



<p>&#8220;Jadi, nikmat gak kencannya?&#8221; tanyanya berhias senyum lebar sembari masih duduk menyamping di atas tongkat melayang.</p>



<p>&#8220;<em>Kencan pala lu rengat</em>,&#8221; mulut gw udah terlalu capek buat menyangkal, jadilah batin yang bicara.</p>



<p>&#8220;Aku tau kamu kesal kan, sama omonganku barusan? Oh ya, ngomong-ngomong, Maximus Gatan minta aku untuk cari lalu bawa kamu beserta kawanmu yang kelewat semok ini, daaan, para prajurit yang masih tertinggal ke zona aman. Tadinya kukira kamu ke mana, taunya asik kencan ganda sama mesin terkutuk.&#8221;</p>



<p>&#8220;Jadi lu liat pertarungan kami … dan<em>&nbsp;gak bantu</em>?&#8221; gw bertanya agak sarkas.</p>



<p>&#8220;Pengen sih. Tapi ya … bukan cuma kamu yang butuh bantuanku~&#8221; dia menjawab penuh keceriaan.</p>



<p>Ah edan, ini perempuan otaknya beres gak sih? Tingkahnya kayak sama sekali gak terpengaruh keadaan kacau di medan pertempuran ini.</p>



<p>&#8220;Mini nuklir, 20 detik!&#8221; lagi-lagi terdengar peringatan dari radio komunikasi Federasi. A-apa!? Jadi udah sedekat itu!? Ternyata pertarungan gw tadi makan waktu lebih dari yang seharusnya. Mampus lah kita!</p>



<p>Disusul seruan Maximus Gatan, &#8220;Lalana!&#8221;</p>



<p>&#8220;Gimana kamu berencana buat bawa kami?&#8221; Giliran Faranell yang ungkapkan penasaran, &#8220;gak mungkin kamu nyuruh prajurit-prajurit yang tertinggal di area ini buat naik tongkat terbangmu, kan?&#8221; pertanyaan yang bagus.</p>



<p>&#8220;Tsk, tsk, tsk. Kamu mesti lebih banyak belajar, Semok,&#8221; ledeknya atas pertanyaan Faranell. Dia dekatkan wajah pada Si Grazier sampe bibir mereka nyaris bersentuhan seraya elus mesra pipinya, &#8220;tiap wanita wajib punya rahasia masing-masing.&#8221;</p>



<p>&#8220;A-a-a-awaa!?&#8221; Diperlakukan begitu, jelas bikin Si Corite perempuan kebingungan dihias rona merah di sekujur muka.</p>



<p>Usai bikin Faranell tergagap, perempuan berkacamata debu itu meluncur tinggi ke langit dengan cepat. Hembusan angin terasa begitu kencang dari belakang tongkatnya, sampe sanggup bikin rambut ungu ponytail Faranell berkibar. Apa yang bakal dia lakukan!? Kenapa dia bisa begitu tenang dan percaya diri!?</p>



<p>&#8220;Mini Nuklir! 13, 12, 11 …&#8221;</p>



<p>Abis terbang cukup tinggi, Lalana menukik tajam menuju daratan. Aliran angin di sekitar kami terasa ikut berputar dan terkonsentrasi di ujung tongkat Si Wizard, &#8220;Saksikanlah! Wind Barrier!&#8221;</p>



<p>Suara dentuman membahana, diikuti gelombang angin bergulung-gulung menyebar ke segala penjuru dari ujung tongkatnya yang hujam tanah sebagai pusat. Area yang tertutup gelombang angin itu sangat luas, selimuti tubuh tiap prajurit tanpa terkecuali di area ini seutuhnya.</p>



<p>Gw bisa merasakannya. Biarpun gak bisa diliat, tapi tubuh gw kayak dilapis zirah dari aliran angin yang terus bergerak liar!</p>



<p>&#8220;9, 8 …&#8221;</p>



<p>&#8220;Ayo, Kroco! Mulai lari kalo gak mau gosong! Barrierku cuma bertahan 45 detik! Kalo masih mati juga, jangan salahkan aku! EHEHEHAHA!&#8221;</p>



<p>&#8220;HAVVA, TERIMA KASIH!&#8221;</p>



<p>&#8220;LU EMANG PELINDUNG KAMI!&#8221; Prajurit Resimen 1 di sekitar kami berteriak sambil berlarian. Kecepatan mereka … gak bisa dipercaya. Meningkat amat drastis! Efek mantra tadi kah?</p>



<p>Gw pegang pergelangan tangan Faranell dan mulai menariknya, &#8220;Ayo!&#8221;</p>



<p>Muka paniknya mengangguk lucu. Berkat mantra tersebut, tubuh kami terasa begitu ringan dan sanggup berlari seolah gak menapak tanah. Mantap!</p>



<p>&#8220;3, 2, 1! Bersiap ledakan!&#8221;</p>



<p>Mini nuklir jatuh sekitar 700 meter di belakang kami! Ledakannya keras gak terkira dan bikin pengang telinga. Gelombang kejut yang dihasilkan sanggup bikin kami terdorong ke depan. Aliran angin yang melapisi kulit kami bergerak makin liar, lindungi tubuh dari segala macam serpihan batu tajam beterbangan dan tembakan udara panas saling bergesekan.</p>



<p>Kami terus berlari tanpa berani tengok belakang. Satu-satunya yang terpikir adalah keluar dulu dari jangkauan ledakan teramat bahaya ini.</p>



<p>Kepulan asap pekat penuh radiasi mulai mengepung! Sialan! Biarpun udah dapat buff, masih juga terlalu lambat! Gw lepas tangan Faranell dan langsung gendong dia, tapi Si Grazier agak berontak gegara terkejut. Tangannya dorong-dorong muka gw, &#8220;Kyaah! Ih, ih! A-apaan sih kamu!?&#8221;</p>



<p>Ebuset ini anak, &#8220;Daargh! Diam dong, emang lu mau gosong!?&#8221; gw juga sebenarnya ogah, dikira gak berat apa!? Cuman apa boleh buat, ini biar bisa lebih cepat!</p>



<p>Kepala bermahkota ungu itu cuma kasih gelengan cepat sebagai respon.</p>



<p>Gw mulai kerahkan segala daya upaya pada kedua kaki, beradu cepat dengan asap tebal. Faranell lingkarkan lengan di sekitar leher gw seraya pejamkan mata untuk cegah asapnya mengiritasi lebih jauh.</p>



<p>Berharap pandangan gak lagi didominasi kepulan hawa panas, tapi harapan itu belum juga tercapai. Gw masih belum bisa ungguli kecepatan menyebarnya asap.</p>



<p>Usai beberapa saat lari, mendadak tepat di depan gw terdengar rapalan mantra, &#8220;Whiffle!&#8221; BLAAAS! Angin lagi-lagi berhembus kuat, tapi cuma di samping kanan-kiri. Berkat zirah gak kasat mata yang masih melapis badan, kami gak ikut terdorong.</p>



<p>Pandangan yang tadinya terhalang tirai gelap, tau-tau jadi jernih. Lalana udah berdiri menunggu kami sambil sampirkan tongkat ke bahunya, masih dengan ekspresi ceria, &#8220;Kayaknya ada yang butuh&nbsp;<em>udara segar.</em>&#8220;</p>



<p>Beberapa Prajurit langsung berhamburan menuju Spiritualist berkepang samping tersebut. Raut lega terukir di muka-muka mereka.</p>



<p>&#8220;HAVVA! LU YANG TERHEBAT!&#8221;</p>



<p>&#8220;Ahha okey, okey, biasa aja kali. Cuma laksanakan tugas, kayak biasa.&#8221;</p>



<p>&#8220;GIMANA KITA BISA SELAMAT DARI LEDAKAN ITU!? GAK NGOTAK LU, MAK LAMPIR!&#8221;</p>



<p>&#8220;Woi! Kenapa jadi ngatain!? Dasar gak tau diri!&#8221;</p>



<p>Astaga. Kita baru aja selamat dari ledakan nuklir Kekaisaran, dan semua itu berkat kemampuan Spiritualist anggota Resimen 1 Satuan Tugas Gabungan yang sanggup kasih sokongan pada prajurit sebanyak ini sekaligus. Itu … luar biasa.</p>



<p>&#8220;B-Bol …&#8221; ganggu Faranell.</p>



<p>&#8220;Mm?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kamu bisa turunin aku.&#8221;</p>



<p>&#8220;&#8230; Oh! Iyaiya.&#8221;</p>



<p>Dan keadaan pun tetiba jadi canggung.</p>



<p>Faranell yang agak merona betulin armor bawahnya, sedangkan gw jadi sok-sok buang muka gegara gak kuat liat keimutan ekspresi Si Cora. Argh.</p>



<p>&#8220;Gak mau bilang sesuatu buat aku?&#8221; Havva berkata seraya melayang mendekat.</p>



<p>Gw balik tanya, &#8220;Apaan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Entah. Makasih, mungkin? Untuk gak perlakukanmu semenyebalkan dua temanku sebelumnya.&#8221;</p>



<p>Apanya? Lu aja gak bantu pas gw gelut, malah asik nonton. Tapi … ya okelah. Seenggaknya dia udah jadi penyelamat kami.</p>



<p>&#8220;Makasih,&#8221; ucap gw pake muka kurang ikhlas.</p>



<p>&#8220;Hoo …&#8221; wanita itu turun dari tongkatnya, &#8220;biarpun di medan tempur pantang mundur, ternyata kamu penurut banget ya,&#8221; uhm … apa itu pujian?</p>



<p>&#8220;Jangan lengah Kamerad,&#8221; Suara Maximus Gatan kembali terdengar dari radio komunikasi, &#8220;mereka belum niat buat mundur,&#8221; dari kepulan asap tebal yang perlahan menipis, desingan dan suara khas Launcher Accretia yang lagi isi daya terdengar jelas, &#8220;laporkan status.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kita kehilangan 19 Prajurit, Maximus. 6 di antara mereka berpangkat Conquest, dan sisanya gabungan antara Caters dan Royal,&#8221; ujar suara lain, &#8220;Jet tempur Kekaisaran sukses dihalau sebagian oleh Armada Udara Federasi, dan yang tersisa masih dalam pengejaran.&#8221;</p>



<p>Desingan yang tadi kami dengar, berubah jadi bunyi tembakan Launcher. Gak sekali, tapi berkali-kali. Ratusan roket ukuran kecil meluncur tinggi, keluar dari buntelan asap dan tertangkap mata kami.</p>



<p>Pas liat roket-roket itu mulai belok arah menuju ke tempat kami berdiri, jujur, gw gak kepikiran harus bereaksi gimana selain gumam lesu, &#8220;Lagi?&#8221;</p>



<p>Belum juga setengah jam, ini radiasi masih ada kali di kulit, udah dikirimin &#8216;hadiah&#8217; susulan. Senang banget liat kita menderita dah.</p>



<p>&#8220;Ahha, kayaknya aku gak bakal sanggup lindungi kalian semua buat yang satu ini,&#8221; tukas Havva sambil pamerkan senyum ringan. Mata hijau hutannya pun belum lepas dari hujan roket yang sebentar lagi bakal menimpa kami.</p>



<p>&#8220;COMPOOUUND! BERLINDUNG!&#8221; Teriak Prajurit lain.</p>



<p>Para Shield Miller mulai mengangkat perisai mereka sebagai usaha terakhir, beberapa prajurit lainnya mulai cari ceruk di daratan, atau bebatuan besar buat tiarap.</p>



<p>Dataran hijau Solus sebagian udah gak hijau lagi. Lebih dominan gosong dengan kawah besar hasil mini nuklir para Accretia. Cih, apa para kaleng karatan itu belum puas tinggalkan &#8216;hasil prakarya&#8217; di tanah kami?</p>



<p>Di saat banyak dari kami balik badan buat lari menjauh, Havva malah lari ke arah sebaliknya dan bersiap naik tongkat terbang. Liat hal itu, gw jelas heran. Reflek, gw tangkap pergelangan tangannya.</p>



<p>&#8220;Hey, katanya gak bisa kasih perlindungan!?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Iya. Tapi mana bisa aku diam pas liat&nbsp;<em>keluargaku</em>&nbsp;terancam kematian,&#8221; Nada suara perempuan berkepang ini terdengar sedikit lain dari cara bicara sebelumnya. Bagai terselip setitik getir meski coba ditutupi rapat-rapat, &#8220;seenggaknya aku bisa mencoba~&#8221; lanjutnya seraya tersenyum ceria. Sekarang ekspesinya balik lagi kayak tadi.</p>



<p>Pegangan gw mengendur dan perlahan lepas sepenuhnya saat dia bilang gitu. Entahlah, ada yang bikin gw terkesiap.&nbsp;<em>Selama gw punya kemampuan untuk melakukan sesuatu, gw akan melakukannya. Walau gw tau apa yang gw punya belum cukup buat melalui ini semua, seenggaknya gw bukan pengecut yang berharap sesuatu berubah tanpa berani berbuat apapun.&nbsp;</em>Begitulah kira-kira gw memaknai kalimat singkat perempuan tersebut.</p>



<p>Gw … gak yakin perempuan dengan otak gak beres macam dia bisa sampaikan pesan yang sedalam itu sih sebenarnya. Atau mungkin … gw terlalu cepat menilai orang. Mungkin &#8230; kita gak jauh beda.</p>



<p>Sosok mungil terbang menyongsong ratusan roket jelas jadi pemandangan menyolok yang bisa keliatan siapapun yang lagi berada di dataran Solus.</p>



<p>Dan hal itu bikin Maximus Gatan bertanya via radio, &#8220;Lalana, kamu ngapain? Bukannya kamu baru aja pake Wind Barrier? Kamu gak akan bisa pake mantra itu lagi untuk 8 menit ke depan, kan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Teruntuk Maximus Gatan yang kucintai dan kuhormati,&#8221; balas Havva, &#8220;teruntuk para Kroco miskin Resimen 1,&nbsp;<em>keluargaku,&nbsp;</em>aku sayang kalian semua. Royal Havva Lalana, undur diri<em>.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Oi, Havva! Guyonan lu emang gak pernah lucu, tapi kali ini kelewatan!&#8221; suara Rev si mata singa terdengar.</p>



<p>&#8220;Kayaknya itu gak bisa disebut guyonan … &#8220;, langsung disahut oleh suara Markoi, &#8220;lebih tepat … perpisahan.&#8221;</p>



<p>Namun percuma, Havva udah gak lagi balas mereka. Entah apa kata-kata tadi masih sampe di telinganya. Dan sekarang gw baru sadar, kenapa gw sempat terkesiap tadi. Kita udah kehilangan 19 orang anggota Resimen 1. Yang berarti jadi pukulan telak di benak wanita itu, cuman dia enggan buat kasih liat perasaan sesungguhnya.</p>



<p>Si Spiritualist lompat dari tunggangannya ketika udah dekat dengan terjangan hujan roket, dan … melayang di tengah udara dengan posisi terbalik! Kini tongkatnya digenggam, dan di arahkan ke depan.</p>



<p>&#8220;Hai Ahio Si Beliung, boleh gak aku main lagi denganmu? Mungkin ini yang terakhir, tapi … jangan kapok, ya?&#8221; Seraya mantra terapal dari mulut, tangan kanan memutar tongkat itu dalam jangkauan yang luas, &#8220;ARCANE VORTEX!&#8221;</p>



<p>Angin kencang diiringi aura putih kebiruan dengan corak macam lingkaran sihir yang gak gw paham bentukannya langsung terbentang di depan wanita itu, dan membentuk pusaran di satu titik. Seakan tercipta rintangan tembus pandang.</p>



<p>Rentetan roket langsung hujani rintangan angin tersebut tanpa ampun, membungkusnya sekalian sama si perapal mantranya juga dengan kobaran api dan ledakan-ledakan. Tapi rintangan angin yang dibuat Havva gak cukup besar untuk tutupi luasnya daratan, sehingga masih ada sebagian roket yang menghujam perisai-perisai Shield Miller di bawah sini. Sekuat tenaga mereka menahan roket yang tersisa demi rekan yang berlindung di balik perisai di genggaman. 20 detik gak pernah terasa selama ini sebelumnya.</p>



<p>Walau begitu, dampak serangan Compound dari Kekaisaran sukses di minimalisir secara drastis berkat tindakan Si Spiritualist.</p>



<p>Dari balik balutan Si Jago Merah di langit, tubuh gak sadarkan diri Havva meluncur jatuh. Kepangannya rusak dan rambut coklat kemerahan kini tergerai. Armornya udah terbakar parah, ditambah kacamata debu yang dia pake pecah sebelah.</p>



<p>Tenggorokan Faranell bak tercekat gak percaya, perempuan yang sempat menggodanya kini lemas tanpa daya di tengah ketinggian. Kami … kami gak kuasa melakukan apapun selain menatap pemandangan itu. Perkara dia masih hidup, atau udah hembuskan napas terakhir, gak ada yang tau.</p>



<p>Dan terdengarlah teriakan keras lagi panjang Maximus Gatan, &#8220;LALANAAAAA!&#8221;</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">     &#8220;<em>I knew it, coming with you is really … terrible idea, Shorty! This is not a trip to the safe zone, but rather straight into Decem&#8217;s grace!&#8221; – Gannza (Ch. 51)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 55 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 56:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-56/</a></p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 54:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/">LAKE CHAPTER 55 &#8211; SOS 10: TURNING POINT</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 54 &#8211; SOS 9: FACETS</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:46:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1587</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;We are his rage, his desperation, depression and also frustration, a...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/">LAKE CHAPTER 54 &#8211; SOS 9: FACETS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Pertempuran masih lanjut walau badan kami hampir semaput, sedangkan dua prajurit Accretia di hadapan kami seakan ga ada lelah buat terus bergelut. Kalo udah begini, siapa yang terlahir untuk perang? Grymnystre, atau para Accretia?</p>



<p>Faranell berusaha keras pusatkan Force di kedua telapak tangan yang bertemu di depan dada. Seraya Corite perempuan itu mengertakkan gigi, gumpalan aura ungu gelap pekat berkumpul dan keliatan bergejolak dari sana. Kalo aja ga liat pake mata kepala sendiri, mungkin ga bakal percaya. Soalnya, baru kali ini gw liat ada Grazier yang bisa panggil Animus sekaligus dua.</p>



<p>Keadaan kali ini berbalik, merekalah yang kalah jumlah gegara ada Isis dan Paimon yang bantu gw.</p>



<p>Pedang emas Isis lagi-lagi menebas udara. Lesatkan bilah-bilah pedang dari Force bak peluru, tertuju hanya pada sasaran yakni para Prajurit Accretia.</p>



<p>Tanpa takut, Si Zirah merah segera berlari kencang sambil hadapkan perisai ke depan, diikuti Gabber yang agak sedikit tertinggal. Bilah-bilah pedang Force cuma sanggup tinggalkan goresan kecil pada perisai Mercenary itu. Ga ada keraguan, begitu kokoh, dia terus maju.</p>



<p>Lumpur yang tutupi kedua sepatu bikin langkah terasa lebih berat, tapi hal itu ga bikin gw batalkan niat untuk hadapi terjangan mereka.</p>



<p>Tangan kanan Si Zirah merah ambil ancang-ancang buat tebaskan pedang ke tubuh gw. Namun, hal itu ga dibiarkan begitu aja karena terjangan perisai Si Mercenary bertabrakan keras lawan sepasang pedang emas milik Isis. Keduanya ga beranjak ke mana-mana akibat terlibat adu tenaga.</p>



<p>Pergerakan gw ga berhenti karena emang bukan dia yang gw incar. Melainkan Accretia bersenjatakan Spadona, prajurit rongsok kurang ajar yang udah bikin gw makan tanah 2 kali.</p>



<p>Rangka besi Gabber masih sedikit terbuka dan bersinar biru kehijauan, pertanda Accretia itu masih berada dalam mode Aggressor. Gerakannya jadi lebih cepat dari yang gw perkirakan.</p>



<p>Merasa bakal kalah cepat, gw berseru, &#8220;Faranell!&#8221;</p>



<p>Si Grazier berambut ungu tampak paham. Pasalnya, Paimon langsung tambah kecepatan dan tetap berada di belakang gw sembari angkat pedang lebarnya.</p>



<p>Ga buang waktu, gw langsung balik badan dan lari ke arah berlawanan. Mata mengunci seksama pedang hijau besar yang dibawa Animus itu. Gabber agak terheran liat tindakan gw, tapi ga berhenti sama sekali.</p>



<p>Dengan satu sentakan, gw lompat lalu menapakkan kedua kaki di pedang Paimon. Menekuk kedua lutut, berusaha kumpulkan momentum sekuat mungkin.</p>



<p>Seiring ayunan bertenaga dari Animus perkasa luncurkan tubuh mungil Bellatean yang bertengger di sisi pedangnya, mata gw pindah fokus pada Gabber. Kali gw yang bakal bikin lu makan tanah, Robot gedek!</p>



<p>Pasti dia ga duga bakal liat lawannya meluncur pake bantuan akselerasi dadakan. Sebelum Accretia itu sempat bereaksi, kedua pedang biru merah gw todongkan ke arahnya sambil berputar macam bor yang siap lubangi dinding beton.</p>



<p>Mampus! Ujung pedang kembar membentur dada bagian kanan Gabber tanpa ampun! Sangking kerasnya tenaga dorongan Paimon, terasa bilah pedang kembar di tangan sampe terbenam beberapa inci di antara celah rangka prajurit besi berzirah biru navy.</p>



<p>Dia sempat agak terdorong ke belakang, tapi kemudian … ga di sangka, siku logamnya menghantam perut gw dengan tenaga ga terukur!</p>



<p>&#8220;Ahagh!&#8221; Pukulan yang perihnya ga ada obat! Alhasil bikin gw berlutut dan muntahkan darah dari mulut.</p>



<p>Si-sialan! Masa iya serangan tadi ga bikin dia tumbang walau sesaat!? Dia masih berdiri gagah di depan gw. Gimana? Gimana caranya buat kalahkan Punisher yang satu ini? Otak gw bagai diperas buat pikirkan segala macam pilihan, tapi ga ada yang memungkinkan.</p>



<p>Gabber cabut kedua pedang gw yang bersarang di dadanya, dan buang gitu aja ke tanah.</p>



<p>Di saat yang sama, Isis Faranell kalah adu tenaga lawan Mercenary berzirah merah. Animus berwujud wanita itu terjungkal, dan Si Zirah merah langsung mengincar pemiliknya. Faranell sigap jaga jarak dengan lompat ke belakang.</p>



<p>&#8220;Switch!&#8221; Grazier itu mengubah posisi tangannya tanpa dilepas.</p>



<p>Seketika, lingkaran sihir tercipta di bawah dua Animus, dan mereka langsung tukar posisi.</p>



<p>Paimon gantian hadapi Accretia berzirah merah, menangkap perisai prajurit logam itu di tengah terjangannya supaya ga sampai pada Faranell. Sedangkan Isisnya yang jadi penolong saat spadona Gabber hendak menebas badan gw. Serangan Isis lebih lincah dan gesit dari Paimon sukses bikin Punisher itu sedikit kewalahan buat menangkis.</p>



<p>Rentetan mantra Faranell ga berhenti sampe situ. Aura ungu ga lagi cuma berada di kedua telapak tangan, tapi mulai muncul tipis dari mata kirinya, &#8220;Entangle!&#8221;</p>



<p>Dari bawah kaki dua prajurit Accretia yang lagi kami lawan, langsung muncul tanaman rambat yang bergerak liar membelah tanah sebelum menjerat Gabber dan kawannya.</p>



<p>&#8220;Bangun, cebol!&#8221; Seru perempuan itu, &#8220;kamu bilang mau kasih mereka neraka, kan!?&#8221;</p>



<p>Argh! Iya, gw tau! Tapi kan ga gampang! Haaah, aku dan mulut besarku.</p>



<p>Segenap tenaga tersisa gw kerahkan buat berdiri sembari remas perut. Shite! Masih terasa pedasnya sikutan Gabber.</p>



<p>Dua prajurit besi itu ga butuh waktu lama untuk bebaskan diri dari jeratan Force Alam milik Faranell. Ga sulit rupanya bagi mereka, ayunan senjata tajam penuh tenaga berhasil mengoyak tanaman rambat di sekeliling.</p>



<p>&#8220;Mana omong besar lu yang tadi, Liliput!? Kenyataannya, perlawanan lu bakal tetap sia-sia!&#8221; Gertak Gabber.</p>



<p>&#8220;Tapi dia ga melawan sendirian!&#8221; Sela Faranell di antara napas tersengal-sengal.</p>



<p>&#8220;Oh, ayolah Nona Penyihir, menyerah lebih baik ketimbang terus disakiti. Mantra penjeratmu aja udah gampang dipatahkan,&#8221; kali ini Si Zirah merah yang nyeletuk, &#8220;gw akui, kemampuan lu terbilang langka. Sanggup kendalikan dua Animus dengan sangat piawai. Tapi … pertanyaan yang lebih penting, &#8216;sampe kapan lu mampu&#8217;? &#8220;</p>



<p>Mata gw melirik pada Faranell yang keliatan makin pucat. Aura ungu tipis di mata kirinya memudar, pun begitu yang di tangan. Terus terkikis seiring dadanya naik-turun dengan cepat.</p>



<p>&#8220;Sampai Decem memberikan pertolongan-Nya,&#8221; balas Corite itu. Begitu teguh kalimat keluar dari mulutnya.</p>



<p>&#8220;HAHAHA!&#8221; Si Zirah merah tertawa keras dengar balasan tersebut, &#8220;Mesti berapa kali kami bilang?&#8221; Optik merah di kepalanya mengarah pada Faranell.</p>



<p>Pertanyaan itu dijawab oleh Gabber sambil buka serangan lagi, &#8220;Dewa lu ga ada apa-apanya di hadapan kami!&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalian ga tau apapun tentang Dewa kami, ga tau seberapa luas kebesaran-Nya, dan berani kalian bicara begitu!&#8221; Urat wajah Faranell kembali menegang setelah kesekian kali Dewanya direndahkan. Dia genggam erat tongkat sihir yang tadi sempat disimpan, &#8220;Atas nama-Nya yang suci, aku bersumpah! Akan kukembalikan penghinaan itu pada kalian!&#8221;</p>



<p>Perempuan itu kini menerjang maju akibat dibalut kegeraman, &#8220;Jangan, Faranell!&#8221; Arhg! Ngapain coba ini anak!? Bakal bahaya kalo prajurit tipe Spiritualist masuk jarang serang mereka!</p>



<p>Isis langsung bergerak di depan Faranell dengan kecepatan di atas rata-rata. Fix, cuman modal nekat ini mah. Animus wanita itu merangsek di antara kedua prajurit Kekaisaran, dan lagi-lagi melancarkan bilah pedang dari Force.</p>



<p>&#8220;Aguaflick!&#8221; diiringi mantra dari mulut Si Grazier. Tekanan air hujan di sekelilingnya langsung terkompres di ujung tongkat, lalu dia menyentak tongkat itu sekuat tenaga.</p>



<p>Terjangan air ganas tertuju pada Gabber yang hendak menyerang, tapi malah sigap tancapkan spadona ke tanah dan pegangan kuat pada gagangnya agar ga terbawa arus.</p>



<p>&#8220;Mati lu, penyihir sok alim!&#8221; Kawannya yang satu lagi lebih milih menghindar dan langsung balas serangan. Dia lompat tinggi, dan berniat bikin Faranell gepeng.</p>



<p>Tapi lagi-lagi, Paimon begitu cekatan jadi pengawal setia. Hantaman pedang Si Mercenary tertahan pedang hijau besar.</p>



<p>&#8220;Cih, lagi-lagi makhluk jelek ini! Harus berapa kali gw dihalangi, hah!?&#8221;</p>



<p>Ga diduga, tangan Paimon yang bebas menggapai tubuh Si Mercenary, dan langsung diangkat! Tanpa kompromi, Animus perkasa itu membanting lawannya!</p>



<p>Gemuruh suara tubuh logam cukup membahana ketika bertemu permukaan tanah.</p>



<p>&#8220;Semoga Decem menerima jiwamu yang kotor,&#8221; ujar Faranell ketika Paimon mau tusukkan pedang besarnya untuk habisi Si Mecenary, &#8220;itupun kalo kamu masih punya!&#8221;</p>



<p>Namun sayang seribu sayang, belum juga ujung pedang Paimon bersentuhan dengan Zirah merah, Animus itu keburu hilang duluan.</p>



<p>&#8220;Uhuk!&#8221; Faranell terbatuk, dan tangan kiri menekan dadanya. Dia mimisan! Sosok Isis yang tadinya solid, juga mulai pudar perlahan.</p>



<p>Kini spadona Gabber bisa dengan leluasa mendarat di badannya, dan kemungkinan bakal kecil bagi dia buat bertahan!</p>



<p>Darah berdesir lebih deras untuk entah ke berapa kalinya hari ini. Adrenalin yang sempat turun intensitasnya, gw pacu lebih keras sekali lagi. Ga peduli kalo sebenarnya kemampuan ini bakal bikin badan rontok lebih parah, tapi cuma inilah yang gw punya.</p>



<p>Rintik hujan turun jadi agak melambat. Di antara tetesnya, gw berlari kencang sembari pungut kedua pedang yang geletak di tanah. Jejak air terpecah di belakang sangking cepatnya gerakan yang gw lakukan.</p>



<p>Dengan kepala penuh emosi membara, gw teriakkan satu nama, &#8220;GABBEEER!&#8221;</p>



<p>&#8220;MAJU! ITU YANG GW MAU,&#8221; balas Punisher tersebut ga kalah lantang, &#8220;GRYMNYSTRE!&#8221;</p>



<p>Pertukaran sayatan ga bisa dihindari. Gw serasa dibutakan frustrasi, menebas pedang ke sana kemari. Ga terhitung berapa kali ayunan pedang biru-merah menyayat zirah biru navy, gw berpindah-pindah supaya bisa terus menyerang sambil hindari serangannya. Ga peduli terhadap lingkungan sekitar, ga peduli pada Faranell yang terheran liat gerakan gw tetiba beringas.</p>



<p>Bedebah! Gw jadi kesal ama diri sendiri! Kenapa gw ga dilahirkan jadi orang kuat!? Kita ga perlu ada di situasi kayak gini kalo gw bisa kalahkan mereka dengan satu tebasan. Kalo aja gw punya kekuatan macam Ayah, atau kemampuan Force mengerikan kayak Ibu, gw bisa jadi&nbsp;<em>pertolongan</em>&nbsp;yang dimaksud Faranell!</p>



<p>Tangan gw mengepal penuh amarah. Arogansi yang mereka tunjukkan, di tengah nyawa yang telah berjatuhan serta keadaan kami yang selangkah lebih dekat dengan kematian. Itu yang agaknya ga bisa gw maapkan. Sikap itu yang pengen gw hancurkan!</p>



<p>&#8220;<em>This is what you always desire,</em>&#8221; (Ini yang selalu kamu inginkan) di tengah letupan darah mendidih, gw dengar suatu bisikan di belakang telinga, &#8220;<em>ask, we shall give. Give, you shall be granted.</em>&#8221; (Minta, maka kami akan beri. Beri, kamu akan dikabulkan.)</p>



<p>&#8220;<em>Uh, lu lagi.</em>&#8220;</p>



<p>Belum pernah jantung gw berdetak secepat ini.</p>



<p>&#8220;<em>You wish for their destruction, we shall grant it to you.</em>&#8221; (Kamu harapkan kehancuran mereka, kami akan kabulkan untukmu.)</p>



<p>Gw geleng kepala di tengah pertarungan, berusaha abaikan bisikan tersebut yang bahkan ga paham apa artinya.</p>



<p>&#8220;<em>Give up your consciousness, and you&#8217;ll bear no more pain.</em>&#8221; (Serahkan kesadaranmu, dan kamu tak &#8216;kan sakit lagi.)</p>



<p>Tenggorokan gw sesak, napas makin terhimpit.</p>



<p>Semua itu bikin gerakan gw terhenti sejenak.</p>



<p>&#8220;L-Lake … ? Kamu … ga apa-apa?&#8221; Faranell terbata dan khawatir, &#8220;mukamu … pendarahan.&#8221;</p>



<p>Darah tetiba mengalir deras dari mata dan hidung gw tanpa sebab yang jelas. Bahkan gw ga bakal sadar kalo aja ga dikasih tau, lalu gw muntahkan lebih banyak darah dari sebelumnya. Segumpal merah kental tercecer ke mana-mana!</p>



<p>&#8220;Apa … ini?&#8221; Gw mulai pegang kepala yang sakit bukan main, &#8220;… rasanya… sesuatu yang gelap… menggeliat dalam diri,&#8221; perasaan ini … kebencian, kemarahan , tertekan… &#8220;S-stop, jangan keluar …&#8221;</p>



<p>&#8220;A-astaga, kuatkan dirimu!&#8221; Faranell udah pasti terkejut bukan kepalang. Segera dia kumpulkan sisa tenaga untuk panggil Innana.</p>



<p>Dengan panik, gw cengkram lengan Faranell erat-erat, &#8220;To-Tolong, Faranell. Tolong! Se-sesuatu … ada sesuatu … dalam diri gw, mau maksa keluar … ahaargh!&#8221; Jantung gw terasa diremas di tengah perkataan, &#8220;gw mohon … cegah&nbsp;<em>dia</em>.&#8221;</p>



<p>Si Grazier berambut ungu tampak bingung ga karuan, &#8220;A-apa maksudmu? U-uhm … a-apa yang harus kulakukan?&#8221; Jelas kesempatan ini ga dibuang gitu aja oleh Gabber. Spadonanya melayang buas, dan Faranell langsung sadar kita dalam bahaya, &#8220;Awas!&#8221; Dia menerjang tubuh gw, hempaskan kami supaya terhindar dari lemparan spadona yang berpendar terang di tengah hujan itu.</p>



<p>Kami berdua terjatuh, tubuh gw bergetar ketakutan, &#8220;Gak … jangan…&#8221; darah segar masih ga bisa berhenti keluar dari mata, hidung, dan mulut gw secara bersamaan, &#8220;sensasi ini … sama kayak&nbsp;<em>dulu</em>. Kesadaran gw … digerogoti.&#8221;</p>



<p>&#8220;Jawab aku! Apa maksudmu &#8216;digerogoti&#8217;!?&#8221;</p>



<p>Di tengah tekanan kondisi, terdengar suara seorang prajurit Federasi dari perangkat komunikasi yang masih terpasang di telinga gw, &#8220;Maximus Gatan, pasukan Kekaisaran telah menembakkan mini nuklirnya! Estimasi tiga menit! Radius ledakan diperkirakan mencakup satu setengah kilometer!&#8221;</p>



<p>&#8220;Mundur! Cari perlindungan, menjauh secepat yang kalian bisa!&#8221; Perintah Sang Wakil Archon ga tenang. &#8220;Lalana! Di mana Lalana!?&#8221;</p>



<p>Samar antara kesadaran yang mulai pudar, sesosok Bellatean perlahan&nbsp;<em>terbentuk</em>&nbsp;di depan gw.&nbsp;<em>Dia&nbsp;</em>datang sambil berkata, &#8220;<em>Fight.</em>&#8221; (lawan)</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Faranell ikut dilanda kepanikan liat wajah Lake tiba-tiba pendarahan. Masalahnya, pendarahannya sama sekali ga wajar. Dia seperti orang yang lagi nangis darah.</p>



<p>Hal-hal yang dibilang lelaki itu ga banyak bantu untuk cari tau, apa yang sebenarnya terjadi, &#8220;Apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan?&#8221; gumamnya berulang kali pada diri sendiri, &#8220;<em>sesuatu dalam dirinya maksa keluar … kesadarannya digerogoti … sesuatu mengubah dirinya …</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Mu-mungkinkah …&#8221;&nbsp;<em>kalo sumber permasalahannya …</em></p>



<p>Si Grazier tampak sadar akan sesuatu. Meski dia masih ragu, apakah ini benar-benar perlu? Masalahnya, ini bukan mantra sembarangan yang bisa dia pake seenaknya.</p>



<p>Tapi dia ga ketemu cara lain, dan Lake sampe memohon padanya. Dia sekarat, dan ga bisa dibiarkan berlarut-larut. Maka Faranell tetapkan hati, teguhkan keputusan. Wanita Corite itu lepas kedua sarung tangan, pamerkan tangan berkulit putih nan halus tanpa cela.</p>



<p>Dia pejamkan mata dan pertemukan kedua telapak tangannya di depan dada, tarik napas sedalam-dalamnya lalu dihembus keseluruhan, coba semaksimal mungkin tenangkan diri.</p>



<p>&#8220;Maaf Lake, mungkin kamu ga akan suka. Tapi aku harus terjun ke dalam dirimu supaya bisa menolongmu,&#8221; Grazier itu kembali buka mata, ujung jemari tangannya yang terdapat force dalam jumlah kecil bersentuhan dengan pipi si Bellatean.</p>



<p>Sejenak dia sempat menelan ludah, dan terlihat gugup. Mukanya memerah, &#8220;<em>O-ohhh, Decem yang Agung, maafkanlah perbuatan hamba. Hamba bukan ada maksud berbuat senonoh, melainkan hanya balas budi. Dialah yang telah menolong hamba dulu, sekarang giliran hamba telah tiba,&#8221;</em>&nbsp;dia dekatkan bibirnya sedekat mungkin pada bibir Bellatean berambut kelabu itu yang setengah terbuka, &#8220;Force Projection.&#8221;</p>



<p>Waktu terasa langsung berhenti. Tinju gabber yang mengarah padanya bagai dibekukan. Air hujan pun seolah ga diizinkan menyentuh tanah.</p>



<p>Sepercik aliran Force ungu mulai keluar dari mulut Si Grazier, langsung masuk ke mulut Lake. Kesadarannya ikut berpindah melalui Force tersebut, dan langsung terjun bebas ke dalam diri Si Bellatean.</p>



<p>Proyeksi kesadaran Faranell menapakkan kaki di ruang yang sejauh mata memandang berwarna biru muda dengan corak putih. Seolah tanpa lantai, namun terasa bisa dipijak. Di depan proyeksi kesadaran wanita itu, terdapat pintu tertutup.</p>



<p>Ga buang waktu, Faranell buka pintu itu. Dia langsung disambut sesosok Bellatean pria yang sama sekali ga asing baginya, &#8220;Heyy, Faranell. Tau ga? Untuk sekarang, gw cuma pengen jadi lebih kuat supaya bisa terus bertahan hidup,&#8221; Ucap sosok Lake diiringi senyum lebar, &#8220;supaya bisa terus berada di sisi Elka,&#8221; Faranell ga hiraukan perkataannya.</p>



<p>Dia terus melangkah lewati sosok itu, dan tiba di pintu berikutnya, &#8220;Kita harus hargai hidup. Kesempatan kedua selalu ada buat mereka yang serius mencarinya.&#8221;</p>



<p>Lagi, Faranell ga merespon. Dia dengar dengan jelas tiap kata yang terucap dari sosok-sosok itu. Cuman, dia ga punya banyak waktu buat bercengkrama.</p>



<p>&#8220;Banyak orang emang jahat. Tapi ga sedikit juga yang sebenarnya baik. Dan kehadiran orang yang lu anggap baik … patut banget buat disyukuri.&#8221;</p>



<p>Semakin jauh dia melangkah, semakin banyak pintu yang dia buka, semakin banyak sosok Lake yang dia lewati. Tiap-tiap dari mereka selalu utarakan kepingan isi hati Si Bellatean. Ekspresi mereka pun berubah seiring makin dalam, makin pancarkan energi lebih negatif dari sebelumnya.</p>



<p>&#8220;Gw punya mimpi sederhana; jalani hidup datar dan membosankan layaknya orang normal yang lain.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw ga terlalu peduli apa yang akan terjadi pada Federasi. Bagi gw, semua itu terlalu muluk.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw ga peduli pada orang lain yang ga gw pedulikan. Selama mereka ga mengusik gw secara langsung, gw akan anggap mereka ga pernah ada.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kadang gw lebih suka bikin orang berpikir mereka dapat perlakuan yang mereka mau, ketimbang harus adu argumen. Walau itu bisa dibilang muka dua, ya udahlah. Lebih baik daripada terlibat drama melulu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Sakit itu bukan hal yang menyenangkan. Gw benci merasakan sakit, gw capek hadapi semua hal konyol ini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa gw berjuang demi Federasi, atau demi diri sendiri? Gw ga cinta ama Federasi. Bisa dibilang gw cuma manfaatkan mereka buat nyambung hidup.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw bukan orang baik, bukan orang jahat. Gw ada di tengah-tengah. Kalo lu baik ke gw, gw pun akan baik ke elu. Kalo lu jahat, gw bakal tetap baik. Tapi kalo lu berani jahat kedua kalinya … gw ga peduli siapapun lu …&#8221; sosok itu kasih gestur menyayat leher sendiri pada Faranell.</p>



<p>&#8220;<em>Bukan.&#8221;</em></p>



<p>…</p>



<p>&#8220;<em>Bukan.&#8221;</em></p>



<p>…</p>



<p>&#8220;<em>Bukan.&#8221;</em></p>



<p>…</p>



<p>&#8220;<em>Bukan.&#8221;</em></p>



<p>Tiap pintu yang dilewati membuat Faranell kenal karakter Lake lebih baik. Tapi bukan yang dia cari, &#8220;<em>Aku harus terjun … lebih jauh. Ke tempat yang lebih gelap,&#8221;&nbsp;</em>maka makin jauh, jenis pintunya pun berganti jadi semacam pintu sel penjara, lengkap dengan kunci gembok. Faranell bahkan enggan untuk membukanya.</p>



<p>&#8220;Kita harus hargai hidup. Itulah yang gw percaya, tapi keberadaan orang-orang brengsek yang cuma bisa nilai gw berdasarkan kejahatan yang ga gw lakukan … kadang bikin gw pengen melakukan sebaliknya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Heyy, Faranell. Izinkan gw meniduri lu … sekali juga gak apa,&#8221; ujar sosok Lake yang terbalik seraya pamerkan senyum sadis.</p>



<p>&#8220;Lu ga capek jadi palsu!? Di dunia yang penuh kebohongan, apa lu ga capek terus tertipu!?&#8221;</p>



<p>Di pintu berikutnya, ada sosok Lake lain dengan ekspresi lebih kacau dan gila dari yang tadi, &#8220;Ayolah, dengan keadaan dunia kayak gini, bukannya bakal lebih menyenangkan kalo gw perkosa lalu bunuh lu seenaknya!? Lagian, gw penasaran kenikmatan macam apa yang bisa didapat dari wanita Corite!&#8221;</p>



<p>Si Grazier coba tegar dan ga goyah akan tekanan dari pecahan kesadaran Lake, &#8220;<em>Ini sisi yang dimiliki semua orang, ini sisi yang dimiliki semua orang,</em>&#8221; dia terus jalan lebih jauh sambil yakinkan diri sendiri.</p>



<p>&#8220;GW GA PERNAH MINTA DILAHIRKAN SEBAGAI GRYMNYSTRE! GW GA PERNAH MINTA DILAHIRKAN JADI SETENGAH CORITE! GW GA MAU HIDUP DI NERAKA INI LAGI!&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Setengah … Corite!? Dia … !?&#8221;&nbsp;</em>Informasi yang bikin tersentak. Faranell sempat terhenti buat pastikan kalo dia ga salah dengar, sebelum lanjut jalan, &#8220;<em>apa ini … maksud mimpi itu?</em>&#8221; teringat mimpi tentang Lake yang dulu pernah dia alami pas di Ether.</p>



<p>&#8220;Semua salah gw …&#8221; kali ini, di balik satu pintu, Faranell bertemu sosok Lake yang lagi duduk meringkuk di pojokan. Satu-satunya pecahan kesadaran yang ga menatap Faranell. Kalimat dari mulutnya bernada sangat depresif, &#8220;Bukan masalah kalo mereka timpakan kebencian pada gw, bukan masalah kalo mereka mau sakiti atau bahkan gw yang harus diperkosa. Asal mereka ga nyentuh Elka, itu udah lebih dari cukup … tapi ternyata justru gw yang mengkhianati kepercayaannya. Gw yang tinggalkan dia sendirian. Gegara gw, Elka tersakiti. Gegara gw, kehormatannya terenggut … semua salah gw.&#8221;</p>



<p>Lagi-lagi Faranell dibuat kaget, bahkan sampe tutup mulut sangking ga kuat tahan pilu akan cerita tersebut.</p>



<p>Semua perkataan, dan paparan yang dia dengar adalah bagian dari diri Lake, tanpa terkecuali. Bahkan sisi yang bilang mau memerkosanya juga. Terdengar amat kontras bila dibandingkan dengan sifat Lake yang dia kenal selama ini. Namun itu justru bikin dada Faranell sesak dan hampir nangis. Bukan karena takut atau terancam, melainkan terharu dan iba.</p>



<p>Pintu-pintu ini, semua sisi gelap ini berada sangat jauh dari pintu pertama yang dia buka. Pertanda emang sengaja dikubur begitu dalam dan terkunci rapat di sudut hati.</p>



<p>Sisi yang ga mau dibicarakan Lake, ga mau ada yang tau. Dia bisa aja jadi pribadi yang ga baik, bisa aja liat dunia pake prespektif yang ga bakal dimengerti orang biasa, dan ga bermoral akibat terombang-ambing kerasnya kehidupan. Tapi Lake ga mau biarkan pecahan kesadaran yang ada di bawah sini menang. Selamanya akan dia tanggung beban itu sendiri.</p>



<p>&#8220;<em>Oh, Decem. Seberapa gelap jalan yang pernah dia lalui? Seberapa besar sakit yang telah dipikulnya?&#8221;</em></p>



<p>Tapi perjalanan Si Grazier belum usai. Masih ada satu pintu lagi. Pintu besar dengan dua daun. Di depannya terdapat banyak tanda peringatan; jangan masuk! Bahaya! Menjauhlah! Ada celah yang sangat kecil akibat pintu itu sedikit terbuka.</p>



<p>Masih belum menemukan sumber masalah, maka Faranell buka pintu itu tanpa ragu dan mengira bakal hadapi kegilaan yang lebih parah.</p>



<p>Ga diduga, di dalamnya ada sosok yang agak lain dari Lake-Lake yang ditemuinya sedari tadi, lagi duduk tenang di satu bangku. Perbedaan paling menyolok terdapat di rambut. Sosok ini punya rambut coklat dengan beberapa helainya kekuningan.</p>



<p>&#8220;<em>Ga ada pintu lagi. Berarti ini pasti … lubuk hati Lake.</em>&#8220;</p>



<p>Dia menatap lekat mata Faranell, &#8220;Hallo, Faranell,&#8221; sapaan itu sanggup bikin Faranell bergidik ngeri. Suaranya agak pecah seperti beberapa orang bicara bersamaan, di punggungnya terdapat nyala api merah kebiruan yang ga terlalu besar, &#8220;senang berjumpa denganmu di sini.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Bahasa Cora,</em>&#8221; itulah hal pertama yang terlintas di benak Faranell, &#8220;<em>ini … esensi sejati Lake. Bagian Corite dari dirinya kah?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Ini pertama kalinya, kan? Kamu menjelajah hati kami?&#8221; Faranell ga langsung merespon, &#8220;kami tau kenapa kamu kemari. Kamu ingin tau kelainan apa yang membuat tubuh kami tersiksa.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Siapa</em>&nbsp;kamu? Apa yang kamu lakukan pada Lake?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Apa kamu ga mengenali pria yang kamu sukai?&#8221; Sosok itu malah bertanya balik, &#8220;kami Lake. Versi yang lebih baik darinya,&#8221; jawab Lake berambut coklat kekuningan, &#8220;kami adalah kemarahannya, keputus-asaannya, depresi juga frustrasi, manifestasi dari …&nbsp;<em>kegilaannya</em>&nbsp;yang terpendam. Kami adalah orang yang menganggap kematian sebagai sahabat lama. Kami adalah …&nbsp;<em>Chaos.</em>&#8220;</p>



<p>Faranell menatap tajam sosok itu, terdiam sejenak. Dia ga tau apa sosok di hadapannya benar bagian dari pecahan kesadaran Lake, &#8220;… Apa yang terjadi pada tubuh Lake?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kami hanya mau membuatnya … lebih baik.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak, kamu buat dia menderita.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dialah yang buat dirinya sendiri menderita. Kamu tau kenapa? Karena dia lemah. Dialah yang berharap akan kehancuran, kami hanya bertugas sebagai penyedia,&#8221; ujarnya dengan nada dingin dan tenang, tapi kalimatnya justru lebih menusuk, &#8220;kami punya kekuatan. Kamu tau apa itu? Adrenalin yang memabukkan. Kenikmatan sejati. Kami senang bertarung, kami senang lumpuhkan lawan dan melumat mereka, kami senang liat mereka menjerit ketakutan.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Bukan, dia bukan cuma Lake,</em>&#8221; pikir Faranell, &#8220;<em>ada sesuatu lain yang ikut tercampur.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Minggir, kami harus keluar dari sini,&#8221; sosok itu mulai bangkit dan jalan ke arah Faranell, &#8220;kami harus&nbsp;<em>makan</em>&nbsp;mereka yang ada di balik pintu ini.&#8221;</p>



<p>Faranell langsung terhenyak. Dia rentangkan tangan selebar mungkin, dan menolak bergerak walau seinci.</p>



<p>&#8220;Gak akan. Aku ga akan biarkan kamu lewat.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Kamu menghalangi kami? Kenapa? Kami adalah kekuatan yang diinginkan semua orang.&#8221;</p>



<p>Perkataannya ga bikin Faranell bergeming.</p>



<p>&#8220;Dengan kekuatan ini, kami akan hancurkan para Accretia sekali tebas, menyelamatkan orang … bahkan menyelamatkanmu. Apa ada yang salah?&#8221;</p>



<p>&#8220;Lake ga mau! Dia menolak apapun yang kamu punya! Dia sampe mohon padaku buat cegah kamu keluar! Itulah alasanku kemari!&#8221; Seru Faranell mengokohkan pendirian.</p>



<p>&#8220;… Apa yang kamu katakan?&nbsp;<em>Kamilah</em>&nbsp;Lake. Mereka yang berusaha mengunci kami adalah para pengecut yang berada di balik pintu ini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Salah! Kamu bukan Lake yang jujur dan gentle tapi kadang ngeselin! Kamu itu sesuatu yang lain!&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya, ada benarnya. Tapi&nbsp;<em>pengecut</em>&nbsp;itulah yang menerima keberadaan kami di hatinya,&#8221; sosok itu belum kehilangan ketenangannya, &#8220;seperti yang kami bilang, kami adalah manifestasi dari kegilaannya saat dia berada di keputus-asaan paling dalam. Yang kami lakukan cuma menawarkan jalan keluar, dan kabulkan permohonan pengecut itu.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Lalu? Udah berapa lama kamu ada di sini?&#8221;</p>



<p>&#8220;Sejak dia lahir,&#8221; jawabnya enteng. Dan Faranell tampak belum bisa percaya, &#8220;awalnya kami hanya keberadaan kecil, dia bahkan ga sadar akan keberadaan kami. Tapi kami selalu ada di sisinya. Dan dia pertama kali menerima tawaran bantuan pada&nbsp;<em>hari itu.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Hari … itu?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Hari ketika dia cuma bisa menyaksikan dunia perempuan kesayangannya terbalik 180 derajat tanpa bisa berbuat apapun.&#8221;</p>



<p>Ga perlu dikasih tau secara jelas, Faranell udah tau apa maksudnya, &#8220;<em>Jadi peristiwa itu &#8216;pemicunya&#8217;. &#8220;</em></p>



<p>&#8220;Sekarang…&#8221; Chaos Lake agak mendongak, &#8220;kita semua hutang nyawa … kami akan mengambilnya!&#8221; dan sosok itu langsung menerjang Faranell.</p>



<p>Si Grazier berusaha menahan terjangan Chaos dengan dua tangan, tapi karena dorongan yang terlalu kuat, proyeksi kesadarannya ikut terbawa menuju keluar pintu.</p>



<p>&#8220;<em>U-Ukh! Dia menyerap Lake lain! Apa dia akan makan mereka semua?&#8221;</em>&nbsp;terdengar jerit menyayat hati saat pecahan kesadaran Lake yang lain ikut terserap ke dalam tubuh Chaos, membuatnya makin besar.</p>



<p>&#8220;Dia sedang mengalami transformasi baik secara fisik dan mental yang sangat penting! Apa dia bakal hancur karena kekuatan ini, atau sanggup jadi wadahnya!?&#8221;</p>



<p>Faranell perkuat pijakannya. Setelah terseret lagi beberapa langkah, barulah dia bisa sepenuhnya menghentikan Chaos di entah pintu keberapa.</p>



<p>Si Grazier membanting pintu sambil berseru, &#8220;Aku ga akan biarkan kamu lewat lebih jauh! Kamu bukan Lake yang sebenarnya, kamu gak normal! Bahkan kamu makin keliatan kayak monster sekarang!&#8221;</p>



<p>&#8220;Pantaskah kamu bicara seperti itu!? Liatlah dirimu! Apa kamu pikir bisa masuk ke hati orang lain itu normal!?&#8221; Balas Chaos gak kalah lantang, &#8220;sebenarnya kekuatan kitapun ga jauh beda!&#8221;</p>



<p>Chaos masih coba mendobrak pintu yang ditahan Faranell. Tiap tabrakan yang dia lakukan, sedikit menyentak Faranell ke belakang. Tapi, satu tangan langsung ikut menahan pintu itu. Diikuti satu tangan lagi, dan lagi, dan lagi. Pecahan kesadaran Lake yang tersisa 7, membantu Faranell redam amukan Chaos.</p>



<p>&#8220;Tsk, ya sudahlah. Ini sudah cukup jauh,&#8221; Chaos akhirnya menyerah. Sebelum balik badan, dia kasih peringatan terakhir untuk Faranell, &#8220;ingatlah perkataan kami, dialah yang punya kunci untuk melepas kami. Dia sendiri yang nantinya akan membukakan pintu lebar-lebar dan menyambut kami sepenuhnya.&#8221;</p>



<p>Dijawab penuh ketegasan oleh Faranell, &#8220;Ga akan, selama ada aku di sisinya. Aku yang akan menghentikanmu,&nbsp;<em>lagi.</em>&#8220;</p>



<p>Dengan itu, maka berakhirlah penjelajahan spiritual singkat Faranell. Proyeksi kesadarannya langsung kembali ke realita. Waktu kembali berjalan, dan tinju Gabber masih mengarah padanya. Faranell ga sempat menghindar. Yang bisa dia lakukan cuma menatap tegang tangan dari logam itu.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Kesadaran gw langsung menyentak dan menangkap semua informasi yang perlu gw tau secepat kilat tentang keadaan saat ini. Faranell dalam keadaan terjepit! Jadi ga pake mikir, gw gendong tubuhnya dan berakselerasi sekejap. Alhasil pukulan Gabber cuma hamburkan tanah.</p>



<p>Faranell yang terperanjat gegara gerakan tiba-tiba itu, pegangan erat pada bahu gw, &#8220;L-La …&#8221;</p>



<p>&#8220;Terima kasih,&#8221; ujar gw padanya.</p>



<p>&#8220;Ha-hah?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw merasakan kehadiran lu jauh di dalam hati,&#8221; jejak darah yang masih tersisa di mata, hidung, serta mulut gw perlahan luntur berkat rintik hujan. Gw turunkan perempuan itu dari rangkulan lengan seraya lemparkan senyum lebar, &#8220;biar gw urus sisanya.&#8221;</p>



<p>Faranell balas menatap gw penuh makna, &#8220;O-okey …&#8221;</p>



<p>Badan gw udah terasa jauh lebih baik ketimbang tadi. Tanda-tanda Accel Walk masih aktip pun masih terasa. Tapi anehnya, ga ada rasa sakit. Bukan berarti luka di tubuh gw tiba-tiba sembuh secara ajaib kayak disembuhkan Mein, bukan.</p>



<p>Tiap gores luka yang gw terima masih ada di tempatnya, cuma semua sakit dan kelelahan yang sempat melanda badan seolah hilang ditelan Novus! Ga terasa sedikitpun nyeri! Apa ini? Baru kali ini Accel Walk ga terasa menyiksa.</p>



<p>Gw bilang pada Faranell sembari regangkan bahu, &#8220;Tetiba gw ingat&nbsp;<em>kejadian</em>&nbsp;pas pertama kali&nbsp;<em>dia&nbsp;</em>ikut campur. Gw bisa rasakan badan dialiri setengah kekuatan dari&nbsp;<em>kejadian&nbsp;</em>itu. Bedanya, kali ini gw benar-benar sadar,&#8221; dia sama sekali ga kasih respon. Tapi matanya masih terus menelaah dalam-dalam, &#8220;lawan dua robot rongsok harusnya ga sulit.&#8221;</p>



<p>&#8220;Untung lu ga mati, Liliput tengik. Gw pikir lu bakal membosankan seper-&#8220;</p>



<p>Belum selesai kalimat Gabber, gw bungkam prosesor suaranya pake bogem mentah yang mendarat telak di mukanya! &#8220;Banyak bacot lu bangke!&#8221; bikin robot kampret itu terhempas ke belakang.</p>



<p>Gerakan gw sangat cepat bahkan sampe dia ga sempat berkedip. Jangankan Gabber, Faranell pun dibuat kaget liat gerakan super kece ini.</p>



<p>Wuanjay, tingkat kegantengan fix meningkat.</p>



<p>Aura ungu tipis kayak milik Faranell merembes keluar dari kepalan tangan. Harusnya tangan gw sakit kalo dipake buat meninju logam, kan? Tapi ini enggak. Walaupun emang tetap terluka akibat tindakan itu, gw ga bisa rasakan sedikitpun sakitnya, atau ngilu, atau apapun menjalar pada reseptor kulit.</p>



<p>&#8220;Lu masih mau lanjutkan ini? Apa lu ga tau, misil nuklir Kekaisaran lagi dalam perjalanan kemari?&#8221; Kata Accretia berzirah merah, &#8220;waktu lu paling banyak ga sampe 3 menit.&#8221;</p>



<p>Tentu tau. Sebelum pingsan tadi, gw sempat dengar update laporan tentang situasi pertempuran dan juga instruksi Maximus Gatan. Gw keluarkan dua pedang kembar dan siagakan kuda-kuda, &#8220;Kalo gitu &#8230; semenit cukup.&#8221;</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">    &#8220;<em>We are his rage, his desperation, depression and also frustration, a manifestation of … his pent-up madness. We are one of those who consider death as an old friend. We are … Chaos.&#8221; </em><br><em>– Chaos Lake (Ch. 54)</em></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 54 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 55:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-55/</a></p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 53:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/">LAKE CHAPTER 54 &#8211; SOS 9: FACETS</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 53 &#8211; SOS 8: BATTLECRY</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:42:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1583</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;Never trust a certain author who said he&#8217;d update soon.&#8221; &#8211;...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/">LAKE CHAPTER 53 &#8211; SOS 8: BATTLECRY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Kobaran geram terbakar dari mata kami. Tubuh bermandikan peluh yang tercampur debu dan tanah menegang saat ini. Gw yang udah kehilangan banyak tenaga, serasa dapat sokongan tambahan kala berdiri di belakang Sang Wakil Archon. Mata gw ga henti tatap sosoknya yang keliatan lebih kecil dari personil pasukan yang dipimpin, namun hal itu ga bikin dia terlihat lemah. Justru sebaliknya, Maximus Gatan tampak keren ga ada obat!</p>



<p>Deru langkah Resimen 1 Satuan Tugas Gabungan bertabuh, gemakan bising yang sanggup bikin siapapun di hadapannya bergidik ngeri. Ganti keresahan di dada gw, jadi asupan steroid yang begitu membeludak.</p>



<p>Darah di tiap nadi kami mendidih, pasukan Bellatean menerjang kerumunan prajurit besi tanpa rasa takut barang setitik. Tiap senjata yang mereka bawa terangkat tinggi berbalut tekad, serta determinasi bela tanah territorial Federasi.</p>



<p>Di bawah komando Sang Wakil Archon, yakin bisa pukul mundur musuh!</p>



<p>Teriakan perang berkumandang memecah kesunyian langit. Getarkan jiwa-jiwa tersesat seolah minta mereka untuk gabung bersama kami. Tanpa ragu, ga ada gentar, maju dan siap ratakan pasukan Kekaisaran.</p>



<p>Langit seolah jawab teriakan perang kami dengan gemuruh petir, dan gumpalan awan kelabu yang bergulung-gulung di atas kepala. Rintik-rintik air mulai jatuh, turunkan suhu dataran Solus yang tadi sempat meninggi. Perlahan tapi pasti, langit menangis.</p>



<p>Ga mau kalah, pemimpin pasukan Accretia, prajurit besi berzirah hitam ikut menerkam ke arah Maximus Gatan, siagakan palu dalam mode menyerang!</p>



<p>Adu kekuatan antar dua perwakilan bangsa kembali terjadi. Dentingan kedua pedang Maximus Gatan begitu nyaring menyapu telinga, dan lagi-lagi ga kuasa redam keperkasaan yang ditunjukkan lawannya.</p>



<p>Wakil Archon kami harus terpental lagi! Tapi emang dasar pria tua yang gigih, dia tetap di atas kedua kaki. Mata biru gelap itu menajam, amati seksama tiap gerakan yang dilakukan sang lawan. Ga berikan sedikit celah buat kaleng itu remukkan tubuh mungilnya dengan gampang.</p>



<p>Maximus Gatan berputar cepat supaya terhindar hantaman susulan palu raksasa tersebut, terus langsung balas serangan dengan tiga tusukan cepat. Edan! Zirah hitam prajurit besi itu masih belum tembus, bahkan tergores pun enggak! Padahal udah sempat beberapa kali terima sayatan pedang Maximus.</p>



<p>Para Berserker yang lari dan teriak-teriak bak kesurupan di sekitar gw, udah saling bertabrakan dengan barisan pasukan Kekaisaran lainnya. Mata gw terpana sesaat liat mereka didominasi aliran adrenalin yang begitu tinggi.</p>



<p>Dentuman meriam dari kendaraan militer pasukan darat Kekaisaran, serta rentetan tembakan balasan dari para Hidden Soldier saling bersambut tanpa ampun, bombardir zona tempur yang makin menggila.</p>



<p>Selongsong-selongsong peluru kosong terbuang dari klip senapan serbu, menghias tanah Solus yang telah dibasahi air hujan.</p>



<p>Napas gw terengah. Keadaan ini bikin gw kalang kabut dan bingung, apa gw harus ikutan juga? Di satu sisi, pengen rasanya ikut lari dan acak-acak para kaleng karatan itu bareng mereka. Tapi di sisi lain, gw merasa capek banget. Tubuh gw berat, dan entah masih sanggup mengayun pedang atau enggak.</p>



<p>Tapi gw bersyukur hujan turun, dinginkan tubuh gw dari suhu panas yang terkumpul sejak tadi.</p>



<p>&#8220;Jangan dengarkan suara siapapun kecuali saya, Kamerad! Kuatkan kaki-kaki kalian, hentakkan tangan-tangan kalian. Kita berdiri dan melawan di sini,&#8221; suara Maximus Gatan terdengar jelas di alat komunikasi yang terpatri di telinga prajurit-prajuritnya, termasuk gw. Begitu tegas, sangat yakin biarpun ga teriak, &#8220;apa nanti kita mati atau tetap hidup, biar itu tetap jadi pertanyaan. Karena kita prajurit yang&nbsp;<em>akan</em>&nbsp;buat jalan kehancuran di hadapan mereka!&#8221;</p>



<p>&#8220;HAUU!&#8221; Sambut para Prajurit di bawah Komandonya.</p>



<p>Pria berambut spike hitam itu masih sempat kasih suntikkan semangat, padahal lagi sengit jalani pertarungan hidup dan mati. Hebat! Gw telan ludah, agak ga percaya kalo dia, Wakil Archon kece ga terkira, bersedia jadi mentor gw. Seorang pemimpin yang sanggup menaungi kameradnya, dan bikin gw percaya, kalo gw juga punya bagian dalam pertempuran ini.</p>



<p>ARRGH! Bukan waktunya bengong! Ini lagi perang, woi! Gw harus mikir cepat mau ngapain!</p>



<p>Sepersekian detik, gw kehilangan sensitifitas kelima panca indra akibat terlalu lelah dan sibuk sesuaikan diri dengan keadaan sekitar yang teramat intens. Akibatnya, gw dikejutkan sesosok Phantom Shadow yang udah siap gorok leher! FAAK!</p>



<p>Gw sempat lirik ke belakang buat liat sosok Phantom Shadow tersebut di detik-detik terakhir sebelum nyawa tercabut. Optik merah silau ciri khas bangsa robot tertangkap jelas di pupil ungu.</p>



<p>&#8220;<em>Got you now, little bitch,&#8221;&nbsp;</em>ucapnya pelan.</p>



<p>Inikah akhirnya?</p>



<p>&#8220;RUAARRGH!&#8221; Seorang Prajurit kekar menabrak Phantom Shadow itu dari samping sambil meraung keras! Astaga, gw… gw… selamat?</p>



<p>Si Phantom Shadow yang terdorong akibat tabrakan tersebut, langsung sigap pasang kuda-kuda. Tapi pas liat Bellatean yang selamatkan gw tadi, dia langsung pake Cloaking Device dan hilang dari pandangan.</p>



<p>Gw terpaku sesaat liat kejadian itu. Seakan ga percaya kalo masih bernapas saat ini.</p>



<p>Pria kekar berkulit agak gelap itu mendengkus, dan berbalik ke gw. Di-dia… Si mata singa! Dengan gagah manggul pedang beraura kekuningan dibahunya. Rambut jingga agak panjang dibiarkan tergerai liar bak surai si raja hutan. Dua mata amber itu menatap lugas, ugh… ekspresinya bengis betul. Galak… asli.</p>



<p>Tangannya merenggut kerah armor gw, &#8220;Lu masih bisa tempur ga!? Kalo emang ga bisa, mundur sekarang!&#8221; bentaknya galak, &#8220;gw ga punya waktu buat jagain lu!&#8221;</p>



<p>Panas tatap mata itu, kayak bara api yang ga bisa dipadamkan walau udah kena guyuran air bah. Dijamin, siapapun bakal mundur selangkah kalo diliatin orang ini.</p>



<p>&#8220;Si-siap… bisa,&#8221; jawab gw agak tertekan.</p>



<p>Dengar jawaban tersebut, dia mendengkus lagi. Lalu langsung dorong badan gw menjauh.</p>



<p>&#8220;Ugh!&#8221; tenaga dorongannya lumayan berasa! Sampe bikin gw jatuh terduduk.</p>



<p>&#8220;Kalo gitu bangun dan angkat senjata lu, uban kusut! Maximus Gatan ga melatih lu buat duduk di tengah pertempuran!&#8221; serunya seraya beranjak pergi.</p>



<p>Nih orang kenapa sih? Gw menangkap nada kelewat sinis pada kalimatnya barusan. Ga tau cuma perasaan atau gimana, tapi kayaknya dia ga gitu suka dengan gw. Huff, salah gw apa lagi coba?</p>



<p>&#8220;Rev benci lu,&#8221; celetuk suara lain di sebelah gw.</p>



<p>Eh… hah? Kok dia kayak membenarkan apa yang gw pikirkan?</p>



<p>&#8220;Major Markoi Zal,&#8221; ujar Hidden Soldier yang sebelumnya datang lebih awal dengan Maximus Gatan. Dia ulurkan sebelah tangan buat bantu gw berdiri.</p>



<p>Gw sambut uluran tangannya, &#8220;Captain- duh!&#8221; Aseem! Dia langsung lepas tarikan pas gw mau diri! Alhasil, gw jatuh lagi.</p>



<p>&#8220;Grymnystre. Kalo boleh jujur, gw juga ga begitu suka dengan lu,&#8221; sambar Markoi lagi, &#8220;ups, maaf. Tangan gw licin,&#8221; abis itu dia juga pergi nyusul Si mata singa.</p>



<p>Buset dah, apa-apaan mereka!? Baru juga kenalan, udah begini amat kelakuannya! Heran, perasaan gw ga ngapa-ngapain.</p>



<p>Yah, bego juga sih kalo dipikir… setelah semua yang gw lalui, berharap perlakuan orang lain bisa berubah walau cuma sedikit. Kenyataannya, bakal tetap ada orang-orang kayak mereka di kehidupan sehari-hari. Bahkan saat lagi berjuang pertahankan hal yang sama.</p>



<p>Cakep banget, kan?</p>



<p>&#8220;Ga bisa dipercaya. Lu diam aja diperlakukan kayak gitu,&#8221; kata Rokai yang dari tadi bungkam sambil remas erat tangan kirinya sendiri. Dia tatap mata gw dengan mata hitam datar, berusaha ga kasih liat rasa sakit dari balik ekspresi.</p>



<p>&#8220;Abis mau bilang apa?&#8221; pandangan gw berpaling dari tatapannya, &#8220;toh omongan gw ga bakal langsung didengar.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalo gitu ga usah ngomong,&#8221; sahut Si Holy Chandra, &#8220;<em>lakukan&nbsp;</em>sesuatu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Lu berharap gw lakukan apa, tepatnya?&#8221;</p>



<p>Rokai diam sejenak. Beberapa helai rambut hitamnya yang basah, kini turun dan sedikit tutupi mata kiri, &#8220;… Biasa, sesuatu yang dungu.&#8221;</p>



<p>Gantian sekarang gw yang angkat sebelah alis gegara ga percaya terhadap omongannya, &#8220;Lu mau dukung, apa jatohin sih? Omongan lu sama sekali ga membantu.&#8221;</p>



<p>Sedikit kekesalan terpancar kali ini dari wajahnya, &#8220;Lu berani berhadapan langsung dengan gw, kenapa ga bisa lakukan hal yang sama pada mereka?&#8221;</p>



<p>Jujur, reaksinya bikin gw agak terhenyak.</p>



<p>Gw paham. Ya, gw paham betul makna di balik tiap perkataan Si Holy Chandra. Di tengah guyuran hujan berintensitas cukup lebat, otak gw memutar kembali saat-saat di mana Rokai selalu jadi bajingan tengik tiap kali kita ketemu. Muka yang selalu minta digilas pake Red MAU, sampe omongan super merendahkan yang cuma bisa terucap dari mulutnya.</p>



<p>Apa yang bikin gw berani tetap berdiri di depannya, hadapi segala macam kemampuan ga biasa pemuda berambut hitam satu ini? Padahal gw bukan prajurit terkuat, bukan juga prajurit paling sempurna yang bisa lawan siapa aja.</p>



<p>Ga perlu tanya siapa-siapa, gw tau jawabannya.</p>



<p>&#8220;Karena lu ga pernah sekalipun bawa-bawa nama keluarga gw,&#8221; Rokai satu-satunya orang yang sering mencela, dan bertindak ngeselin tanpa pernah sekalipun mengaitkannya dengan nama &#8216;terkutuk&#8217; yang melekat di belakang nama gw. Dia kayak gitu bukan karena kebencian pada keturunan Grymnystre, atau kejahatan yang ga pernah gw lakukan. Tapi karena diri gw, dan hal-hal yang gw lakukan padanya, &#8220;puas?&#8221;</p>



<p>Mungkin orang lain bakal mikir ini alasan aneh ga masuk akal. Tapi benar lho, itu jadi alasan lain kenapa gw menghormatinya sebagai kamerad yang bisa diandalkan. Ya udahlah, lagian hidup gw udah aneh dari awal.</p>



<p>Si Holy Chandra sekedar menyungging senyum tipis usai dengar jawaban tadi. Tangan kanan yang pegang tongkat Spiritualist mulai terbalut Force Api, &#8220;Buktikan kalo lu masih bisa tempur, Tulang Flem. Jangan sampe gw harus nyeret lu balik ke ruang perawatan.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Kayak kuat aja,&#8221; ini anak lupa ya kalo tangannya patah satu?</p>



<p>Dengan itu, kami pun mulai berpencar untuk lakukan apa yang bisa kami lakukan. Rokai sesuaikan diri dengan kondisi tubuh saat ini. Hampir ga mungkin baginya turun terlalu jauh ke garis depan, dan jadi Spiritualist penyerang. Jadi kali ini, dia jalankan peran sebagaimana Holy Chandra waras lainnya. Lebih milih merapal mantra pendukung pada mereka yang lebih butuh.</p>



<p>Sedangkan gw berlari kecil menuju titik panas sembari waspada keadaan sekeliling.</p>



<p>Intensitas pertempuran sama sekali ga tunjukkan tanda-tanda bakal turun, yang ada malah makin tinggi. Daratan Solus yang tadinya ditutupi permadani hijau alami, kini mulai rusak akibat terus-terusan dihentak, serta jadi lebih licin dari sebelumnya. Para Berserker di garis depan tampak makin kewalahan digempur senjata berat terus-menerus. Banyak dari mereka yang ga lagi sekedar bermandikan lumpur, tapi dibaliknya, merah pilu menghias.</p>



<p>Figur kekar dan besar para Berserker jelas jadi sasaran mudah buat ditembus rentetan peluru, goresan pedang, maupun irisan spadona Kekaisaran. Ke mana para Shield Miller? Apa mereka ga melakukan tugas dengan baik?</p>



<p>Salah, justru sebaliknya, perisai-perisai besar mereka berusaha setengah mati jadi dinding perlindungan bagi para Prajurit jarak serang menengah dan jauh. Bagi para Hidden Soldier selagi mengisi peluru, dan juga Spiritualist saat mereka merapal mantra.</p>



<p>Pertempuran di daerah terbuka adalah mimpi paling buruk bagi personil darat. Apalagi di zaman perang modern kayak gini. Agak jauh di samping gw udah ada contoh paling paten. Satu saat seorang prajurit bisa berlarian sambil maki keras lawan pake seisi kebun binatang, terus sedetik kemudian tau-tau jadi korban ledakan roket nyasar!</p>



<p>Setengah tubuh Prajurit itu terpental jauh ke arah sebaliknya, dengan luka bakar tingkat akhir! Ugh! Pemandangan yang sama sekali ga mengenakan!</p>



<p>Udah berapa banyak Kaleng yang berhasil kami daur ulang? Berapa banyak Kamerad kita yang tewas, atau terluka? Entahlah. Yang jelas, tubuh-tubuh bersimbah darah dengan armor ga utuh terus berdatangan dari garis depan ke garis belakang.</p>



<p>Para Holy Chandra professional ga ada hentinya lakukan usaha maksimal untuk rawat luka prajurit-prajurit yang tumbang dengan cepat, ataupun merapal mantra penguat tubuh guna bantu pasukan kami yang dari awal udah kalah jumlah.</p>



<p>Tapi biarpun para Spiritualist udah bantu sekuat tenaga, tetap aja ada yang ga bisa diselamatkan.</p>



<p>Kamerad kami terus berteriak! Entah kesakitan, entah penuh keberingasan supaya moril yang lain terangkat, atau barangkali malah ketakutan. Semua telah diaduk jadi satu. Air hujan yang bergerak ke dataran lebih rendah, bawa serta aliran darah lewati sisi tempat sepatu gw berpijak.</p>



<p>Gw berhenti dan menunduk sejenak, biarkan mata menangkap gambaran sungai merah kecil di antara pekatnya coklat yang mendadak tercipta. Simpan baik-baik gambaran tersebut ke otak, dan jadikan itu sebagai pengingat betapa ga ada hal bagus yang bisa dihasilkan dari perang.</p>



<p>Liat cairan merah tumpah bagai ga berarti, bukan sesuatu yang bisa gw sepelekan gitu aja.</p>



<p>Ga ada yang tau siapa pemilik darah yang mengalir, atau gimana nasibnya. Bisa jadi dia udah ga bernyawa. Ga bisa pulang ke orang-orang terkasih yang menunggu sosoknya kembali dari zona tempur.</p>



<p>Terbesit gentar di hati, bayangkan gimana jadinya kalo gw yang selanjutnya bakal tewas di sini. Ekspresi penuh kesedihan Elka terlintas di benak, dan kalo diingat betapa kami ga berpisah dengan baik terakhir kali, perasaan takut ga bisa ketemu lagi dengannya malah makin mendominasi. Tangan gw cengkram gagang pedang makin erat. Terasa gemetar, tapi gw berusaha buat ga hanyut terbawa keraguan.</p>



<p>Jahitan Faranell di kedua telapak tangan kayaknya mulai terbuka lagi. Ngilu begitu terasa, dan dari sarung tangan gw kembali merembes bercak darah.</p>



<p>Tadi gw bilang masih bisa tempur. Tapi… apa iya, benar-benar&nbsp;<em>masih bisa</em>?</p>



<p>Beberapa meter di depan gw ada seorang prajurit Federasi yang keliatan seumuran dengan Maximus Gatan, tengah bertarung sendirian lawan 3 prajurit Accretia. Dia jelas ga mampu melawan, dan alhasil harus rela bahu kirinya terbelah cukup dalam oleh kapak besar yang diayun salah satu dari 3 Accretia itu.</p>



<p>Tapi dia ga serta-merta tumbang. Seolah ga peduli berapa liter darah yang keluar dari luka tersebut, Bellatean pria itu menebas habis satu kepala besi terdekat yang dia liat.</p>



<p>Kaki gw coba beranjak ke tempatnya secepat mungkin, tapi percuma. Gw udah ga cukup cepat untuk kasih bala bantuan.</p>



<p>Begitu tau masih ada sepercik api perjuangan dari prajurit Federasi sekarat, hujaman tombak kaleng keparat lainnya harus mendarat telak di perut pria bersenjatakan pedang panjang itu. Dan lagi… dan lagi… dan… lagi…</p>



<p>Mata gw melebar penuh horror liat kejadian tersebut. Tombak yang ukurannya lebih besar dari tubuh bangsa kami, berulang kali menembus rusuk serta perut Si Bellatean. Mengira lawannya udah ga bernapas, dua Accretia tadi langsung tinggalkan dia gitu aja, berpindah ke sisi lain pertempuran.</p>



<p>B-Brutal…</p>



<p>Kaki gw sempat terhenti. Ga percaya betapa gw ga mampu berbuat apa-apa selain liat dia dieksekusi.</p>



<p>Yang bikin makin ga percaya, dari tubuh prajurit Federasi itu… ada sedikit pergerakan! Dia… masih hidup! Langkah gw makin cepat, dan pengen pastikan sendiri. Gw balik tubuh pria itu dari bahu, dan ternyata benar! Dia masih napas walau dapat 4 lubang menganga area sekitar perut, serta sisi tubuh sebelah kiri yang hampir terbelah sepenuhnya.</p>



<p>Kolam merah pekat menggenang di balik punggungnya, bercampur dengan air hujan dan gumpalan tanah basah.</p>



<p>&#8220;Uhuk! Uhuk!&#8221; Dia terbatuk, seraya muntahkan lebih banyak darah.</p>



<p>Dengan hati-hati, gw sanggah kepalanya pake lengan kiri, &#8220;Bertahan, Pak! Saya akan bawa anda ke garis belakang! Holy Chandra kita pasti bisa rawat luka anda!&#8221;</p>



<p>&#8220;Jangan, … mus- mus… tahil&#8230;&#8221; responnya dengan napas tersengal-sengal di sela kalimat, &#8220;waktu saya… habis, nak…&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak, Pak! Anda bakal selamat!&#8221; suara gw jadi agak bergetar tanpa sebab, &#8220;anda bakal … selamat.&#8221;</p>



<p>Mungkin, fakta bahwa gw pun sebenarnya tau, untuk bertahan dari luka-luka yang dia terima butuh keajaiban jadi penyebabnya. Pendarahan udah terjadi di mana-mana. Bahkan kalo boleh gw bilang, prajurit ini masih hidup adalah keajaiban itu sendiri.</p>



<p>Pas gw mau pindah posisi supaya bisa bawa dia di punggung, mendadak dia remas erat satu tangan gw dengan kedua tangannya, &#8220;Bi-bilang anak… saya, Kalua, saya selalu… sayang dia.&#8221;</p>



<p>Segera setelah itu, tangannya terkulai lemah, ga ada lagi tenaga. Sinar kehidupan udah hilang total dari kedua mata kelabu gelap prajurit ini bahkan sebelum dia mampu menutupnya. Dia… dia hembuskan napas terakhir dalam dekapan gw.</p>



<p>Kini di tangan gw ga cuma ternoda darah sendiri, tapi juga bercampur dengan darah orang lain.</p>



<p>Prajurit yang baru pertama kali gw temui, yang ga pernah gw liat mukanya sebelum hari ini, yang bahkan sampe ajalnya menjemput ga sanggup kasih tau siapa namanya… tewas… dalam rangkulan lengan gw. Dia lebih milih pake segenap Force kehidupan yang tersisa buat sampaikan pesan terakhir untuk anaknya tersayang ketimbang kenalkan diri.</p>



<p>Identitas baginya udah ga penting, yang lebih penting adalah nama sang anak. Meski dia tau, gw belum tentu peduli siapa itu Kalua.</p>



<p>Kami ga pernah punya hubungan apapun, tapi ga tau kenapa, dada gw tetap perih mengiringi kepergiannya.</p>



<p>Gw letakkan kembali kepala Prajurit itu sejajar dengan permukaan tanah, lalu menutup sepasang kelopak matanya pake sebelah tangan. Cuma sebatas ini yang bisa gw lakukan sebagai penghormatan terakhir. Dia gugur sebagai prajurit sejati, &#8220;Saya akan sampaikan pesan anda, Pak.&#8221;</p>



<p>Belum lepas dari duka dadakan, di tengah moment kelengahan, gw merasa ada yang hendak menyentuh bahu. Ya udah, gegara ogah kena sergap dua kali, ga pake mikir, gw balik badan dan ayunkan pedang ke belakang!</p>



<p>&#8220;A-akh!&#8221; pekiknya tinggi, liat pedang bersinar biru nyaris memenggal leher jenjang.</p>



<p>&#8220;Faranell!&#8221; Ah, sialan! Apa yang gw lakukan!? Buru-buru gw tarik senjata, &#8220;Ma-maap, gw cuma … kaget.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Kamu keliatan pucat,&#8221; katanya, seolah ga terpengaruh atas tindakan gw barusan.</p>



<p>Gw meneliti wajahnya sebentar, &#8220;Sama kayak lu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iiish… kamu tuh ya.&#8221;</p>



<p>Sadar kalo ini bukan tempat aman buat diskusi, dan waktunya ga pas juga, gw tarik lengan Faranell, &#8220;Lu harus lanjut ke zona aman Federasi. Mana Gann?&#8221;</p>



<p>&#8220;Lake, kamu harus ikut dengan kami.&#8221;</p>



<p>&#8220;Federasi masih butuh gw di sini, Faranell.&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa kamu belum paham juga!? Kamulah yang mereka incar! Berada di sini terlalu lama ga bakal jadi solusi terbaik.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tapi itu artinya kalo gw mundur, mereka pun ga bakal berhenti sampe di sini, kan? Ujung-ujungnya mereka tetap bakal maju juga.&#8221;</p>



<p>&#8220;Seenggaknya mereka ga akan sampe ke kamu dengan gampang kalo kamu ga berada di tempat terbuka begini! Kamu sendiri yang bilang, &#8216;kita ga punya waktu&#8217;, &#8216;kita harus terus bergerak&#8217;. Ke mana perginya semua hal yang kamu bilang itu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ke sini!&#8221; jawab gw sambil menunjuk ke bawah pake pedang, &#8220;Ini territorial kami,&nbsp;<em>pertempuran kami,&nbsp;</em>dan saudara kami lagi sekarat di sini! Ga mungkin gw cari perlindungan ke zona aman sendirian!&#8221;</p>



<p>&#8220;Lagi-lagi kamu cuma bersikap egois! Coba pikirkan sedikit konsekuensi dari hal-hal yang kamu lakukan!&#8221;</p>



<p>&#8220;Seorang prajurit tewas di dekapan gw, Faranell! Di dekapan gw!&#8221; emosi yang dari tadi ditahan-tahan, akhirnya meluap juga, &#8220;gw udah pernah liat prajurit mati di pertempuran! Udah pernah liat mereka mengalami hal yang hampir bisa dibandingkan dengan neraka! Tapi baru kali ini… baru kali ini gw liat orang mati… begitu dekat,&#8221; kedua tangan gw sekarang malah remas bahu Faranell dengan keras. Gw tatap dalam-dalam sepasang mata kuningnya, penuh putus asa, &#8220;ga ada yang bisa gw lakukan… buat selamatkan dia.&#8221;</p>



<p>&#8220;…&#8221; keluhan Faranell terhenti. Tatapannya menelisik lebih jauh, namun lebih lunak dari sebelumnya. Dia genggam satu tangan gw yang ada di bahunya dengan penuh kelembutan, &#8220;… Kamu bukan Tuhan.&#8221;</p>



<p>Satu reaksi yang ga gw sangka sama sekali bakal keluar dari mulut Si Grazier. Kalimat yang cukup menohok sampe batin.</p>



<p>&#8220;Udah kuduga, selama ini kamu emang belum bisa lepas dari kejadian tewasnya Anclaime Sada.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw… gw…&#8221; otak gw berputar keras buat cari penyangkalan yang valid, tapi ga kunjung berhasil, &#8220;ini ga bisa disamakan… kayak waktu itu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku bisa liat saat kamu tegar, aku bisa liat saat kamu putus asa, aku bisa liat saat kamu kuat, aku juga bisa liat saat kamu lemah. Bahkan sekarang pun aku bisa rasakan seberapa besar pilu hatimu,&#8221; volume suaranya turun seketika, &#8220;terlepas dari semua itu, kamu selalu berjuang atas dasar moral yang kamu yakini,&#8221; ujarnya amat tenang, &#8220;masih banyak yang bisa kamu lakukan selain menghukum diri sendiri.&#8221;</p>



<p>&#8220;Faranell…&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku juga akan berjuang. Ga akan kubiarkan mereka dapatkan apa yang mereka mau,&#8221; biarpun keliatan kaya mau nangis, tapi justru gw rasakan ketegasan dari balik sorot mata Si Grazier.</p>



<p>Bayang spadona besar menutup figure kami, dan akal sehat gw langsung kembali ke fakta bahwa kita masih ada di zona merah! Dengan segenap daya dari lutut, gw menerjang tubuh Faranell supaya terhindar dari hantaman tanpa ampun spadona berwarna cyan yang sama sekali ga asing.</p>



<p>&#8220;Kyaa!&#8221; Si Grazier berambut ungu kaget karena emang ga ada aba-aba. Gw coba buat putar badan biar badan gw aja yang kena tanah. Mana bisa lelaki biarkan perempuan yang jadi bantalan, kan?</p>



<p>Begitu keras suara yang dihasilkan pas spadona tersebut hamburkan tanah basah, dan bikin rintik hujan bercampur lumpur untuk sesaat.</p>



<p>Posisi gw jadi berada di bawah tubuh Faranell yang masih meringis kesakitan, &#8220;Lu ga apa?&#8221;</p>



<p>Perempuan Corite ini ga langsung jawab, eh malah diam sejenak, menatap gw canggung, &#8220;… I-iya.&#8221;</p>



<p>Kalo aja ini bukan di medan tempur, dijamin, gw udah klepek-klepek. Argh!</p>



<p>Gw langsung bangkit dan menyiagakan pedang kembar, ga peduli pada noda lumpur yang menutupi tubuh. Soalnya, gw tau betul siapa pemilik spadona cyan itu.</p>



<p>&#8220;Betapa indah kalo gw bisa hancurkan tiap moment kemesraan kalian, iya kan?&#8221; di depan gw udah berdiri prajurit besi mengenakan armor khas Punisher biru navy.</p>



<p>&#8220;… lu lagi, lu lagi, robot gedek.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia ga sendiri lho, ada gw juga.&#8221; Sanggah kawannya yang berzirah merah. Jadi mereka masih belum menyerah buat ngejar gw, hah?</p>



<p>Masih segar di ingatan gw, gimana bangsa mereka bunuh prajurit kami dengan cara yang cukup kejam, bikin sorot mata gw kian menajam. Ada perasaan marah, tapi ada juga perasaan takut plus semburat kecemasan berkecamuk di dada gw saat ini.</p>



<p>Pengen balas perbuatan bangsa karatan tersebut, tapi kalo gw sampe gegabah, yang ada bukan cuma gw… tapi Faranell juga bakal mati konyol.</p>



<p>Dari sudut mata, terlihat Si Grazier eratkan genggaman pada tongkat sihir. Gw berbisik padanya, &#8220;Lu masih bisa tempur?&#8221;</p>



<p>&#8220;Sebagian Forceku udah kembali. Biarpun ga banyak, tapi cukup,&#8221; dia bilang.</p>



<p>&#8220;Kali ini lu ga akan bisa kabur lagi, liliput jabrik!&#8221; sentak Gabber tiba-tiba.</p>



<p>Shite! Sekarang mereka ga mau repot-repot satu lawan satu seperti sebelumnya! Kedua Accretia itu langsung buka serangan bersama!</p>



<p>&#8220;Gw ga ada niat buat kabur!&#8221; seru gw lantang pada besi rongsok itu. Walau Faranell bilang Forcenya udah balik, tetap aja ga bisa ambil resiko, &#8220;Faranell, gw bakal coba ulur waktu buat lu mundur. Akan gw lawan mereka berdua sekaligus!&#8221;</p>



<p>Gabber angkat tinggi spadonanya, dan hendak membelah tubuh gw dari atas ke bawah. Tapi ga akan gw biarkan itu terjadi! Gw berpindah ke belakangnya dengan guling ke depan, dan menyabet kuat-kuat bagian belakang lutut Si Punisher pake dua pedang berbarengan. Pas dia bertekuk sebelah lutut, dua sayatan lanjutan mendarat mulus di punggung berarmor biru navy tanpa bisa diblok.</p>



<p>Gw berniat lakukan satu tusukan tambahan ke punggungnya, tapi niatan itu batal gegara mata gw menangkap gambaran sebilah pedang terayun dari samping kanan!</p>



<p>Argh! Bangke! Ternyata emang masih belum bisa bagi fokus ke lebih dari satu lawan. Ga ada waktu buat menghindar ini mah! Mau ga mau harus gw tangkis!</p>



<p>Bunyi memekakkan telinga ketika 3 bilah senjata tajam beradu, ga bisa diredam derasnya hujan. Tenaga Si Zirah Merah jelas lebih besar, dan sukses pentalkan tubuh gw sesuai laju pedangnya!</p>



<p>Kesekian kali badan kecil Bellatean harus bergulingan di tanah hari ini. Tapi ga mungkin berlama-lama tiduran! Telapak kaki gw langsung kembali memijak daratan selagi masih tersisa momentum dorongan yang dihasilkan Si zirah merah, dan kembali siagakan kuda-kuda!</p>



<p>Gelombang serangan kembali datang! Si Zirah merah belum puas. Dia lancarkan satu sabetan pedang menyilang dari sudut tinggi, yang sukses gw belokkan lajunya dengan lintangkan kedua pedang ke sisi kiri. Accretia ini tampak udah siap betul buat langkah berikutnya. Satu tusukan cepat meluncur deras ke jantung, dan kali ini gw harus lompat sembari menebas pedangnya ke bawah pake tenaga ekstra</p>



<p>HAH! Tusukan tersebut melenceng, cuma menembus angin di antara kedua kaki mungil gw.</p>



<p>Selagi kaki masih berada beberapa senti di udara, gw berusaha melantingkan tubuh supaya bisa berputar pada sumbu vertikal, &#8220;HEAARGH!&#8221; mata pedang biru-merah udah sejajar dengan arah putaran tubuh, dan siap kirim paket besi ke pengepul buat dikiloin!</p>



<p>Si Zirah Merah ga tinggal diam. Liat gw nyerang balik, dia naikkan tameng yang tersemat di lengan kiri, dan pasang sikap bertahan. Faak! Tiga kali bunyi dentingan terdengar dengan interval cukup singkat, diikuti percikan kembang api. Jadi pertanda tiga tebasan berputar cepat gw berhasil dimentahkan tanpa kesulitan.</p>



<p>Seolah ga kenal kata istirahat, dia langsung keluar dari mode pertahanan, dan coba menebas bersih leher gw! Ayunan pedangnya teramat seram! Gw menunduk secekatan mungkin, dan keliatan jelas bulir-bulir air ikut terbelah seraya pedang itu lewat di atas kepala. Ajegile!</p>



<p>Apa para Accretia ga bisa lebih ngeri lagi!?</p>



<p>Coba tebak. Ternyata bisa! Manuver itu lagi-lagi terbaca! Ga pake ragu, lutut Si Mercenary langsung menyambut gw di bawah sini, &#8220;Ugh!&#8221; Edaaan! Kedua tulang hasta gw berasa langsung remuk gegara dipake buat hadang dengkulan besi maut pembelah cakrawala!</p>



<p>Badan gw harus terdorong agak jauh. Tapi bukan berarti udah lepas dari ancaman! Ingat, gw lagi digang-bang! Kali ini kembali Gabber, dengan spadonanya, sangat piawai mengikis jarak di antara kami.</p>



<p>Tiap ayunan yang datang amat bahaya. Cepat, dan nyaris bikin gw ga bisa menghindar. Fokus! Konsentrasikan tiap serat kehidupan di badan untuk maksimalkan maneuver hindaran. Ga akan gw biarkan dia mendaratkan serangan dengan mudah!</p>



<p>Tubuh gw meliuk-liuk di hadapan Gabber. Spadona cyan juga ikut menari bersama sesuai irama. Sakit! Tiap jengkal otot gw berdenyut hebat, aliran darah yang makin kencang malah bikin urat-urat gw bagai terbakar dari dalam. Panas! Pertanda emang udah harus istirahat. Tapi mana bisa istirahat saat di depan lu ada dua petarung Kekaisaran! Gw ga mau mati tanpa perlawanan!</p>



<p>Bahkan untuk lakukan serangan balasan pun ga memungkinkan. Kalo gw bagi fokus buat menghindar dan nyerang balik, yang ada malah ga maksimal.</p>



<p>Dada makin sesak, napas makin cepat, kepala makin berat. Perlahan tapi pasti, kaki melangkah mundur tanpa gw sadari.</p>



<p>Si Punisher berzirah biru navy masih gencar menebas. Tebasan spadona yang penuh dengan ancaman kematian terus datang seolah tanpa jeda. Area serangannya juga cukup luas, mengingat ukuran senjata yang dipake ga biasa. Sebuah pohon ukuran sedang langsung terpotong dua begitu kena satu serangan mulus yang sebenarnya ditujukan buat gw.</p>



<p>Lapisan logam di tubuh Gabber mulai sedikit terbuka, dan keluarkan cahaya biru-kehijauan di antara sela rangka robot. Tetiba, kecepatan gerak Si Accretia sedikit meningkat. Dia rendahkan posisi tubuh, sembari menarik spadonanya ke belakang, ancang-ancang sapuan rendah. Biarpun perubahan kecepatannya cuma sedikit, tapi itu udah cukup buat bikin ritme hindaran gw goyah.</p>



<p>Jarak kami tertutup dalam sekedip mata. Mau ga mau, gw tancapkan kuat-kuat kedua pedang di tangan ke tanah, dan siapkan mental serta fisik buat tahan laju spadona besar itu!</p>



<p>&#8220;UURGH!&#8221; erang gw di tengah peraduan. Berkat bantuan dari cengkraman permukaan daratan, gw sukses imbangi tenaga seonggok Punisher Kekaisaran!</p>



<p>Tapi,</p>



<p>Dari belakang, kawan Gabber yang berzirah merah ga cuma nonton! Ga tanggung-tanggung, dia membentur punggung gw pake perisai yang ukurannya ga kira-kira, &#8220;AHAGH!&#8221;</p>



<p>Ah, bajingan! Lagi-lagi gw kehilangan fokus pada lawan satu lagi. Tabrakan yang gw terima benar-benar gila terasa! Begitu nyeri, seakan ruas-ruas tulang punggung gw rontok sekali hentak.</p>



<p>Belum selesai sampe di situ, dingin telapak tangan dari logam langsung terasa di kepala gw. Astaga, belum juga pulih dari syok yang satu…</p>



<p>DUUAAAG!</p>



<p>Kepala gw dibanting ama si Gabber kampret, dengan muka menghadap ke bawah. Rasanya? Ga usah ditanya. Kalo ada yang mikir dibanting ke permukaan tanah basah itu ga sakit, gw saranin buat mikir lagi. Ini aja mau pingsan di tempat.</p>



<p>Untung, pelindung kepala gw masih berada di tempatnya. Biarpun sebenarnya ga banyak bantu redam benturan, tapi seenggaknya ga semua tenaga bantingan tadi harus ditanggung muka gw secara langsung.</p>



<p>&#8220;… Gw kecewa dengan lu,&#8221; tukas Si Punisher usai jatuhkan gw, &#8220;masih begitu lemah.&#8221;</p>



<p>Bangsat. Ga tau diri. Beraninya keroyokan! FAAK!</p>



<p>Dengan napas ngos-ngosan, plus muka berlumuran lulur alam, gw berusaha bangkit. Walau kaki ga mampu lagi dengar perintah, walau ngilu ga ada hentinya menjalar sekujur urat saraf. Sedikit-sedikit, dengan bertumpu dua tangan, badan gw mulai naik. Ekspresi muka gw menunjukkan seberapa keras gw coba buat tahan segala macam nyeri yang dari tadi menghampiri.</p>



<p>Tapi emang dasar Gabber kampret sekampret-kampretnya makhluk, enggan kasih gw kesempatan buat kembali berdiri.</p>



<p>Kedua kalinya tangan dingin itu dorong keras belakang kepala gw supaya balik mencium lumpur.</p>



<p>&#8220;Tetap di bawah, Liliput.&#8221;</p>



<p>Faak.</p>



<p>Jangan kira lu bisa semena-mena, woi!</p>



<p>Ga tahan ditekan terus, tangan kanan gw keluarkan belati pendek serbaguna dari inventori, lalu menusukkannya berkali-kali ke pergelangan tangan Gabber yang ada di atas kepala, berharap itu bisa melemahkan walau barang sedikit.</p>



<p>Ternyata usaha tersebut buahkan hasil! Pegangannya agak kendor! Kesempatan ini jelas ga bakal terbuang gitu aja. Cepat gw posisikan badan agar kedua kaki ini ketemu kakinya. Kemudian dengan sisa tenaga, ga hiraukan sengatan derita terasa di mana-mana, gw pake kaki Si Punisher sebagai tumpuan buat luncurkan tubuh jauh dari jangkauannya!</p>



<p>Berkat dataran Solus yang licin gegara hujan, badan gw meluncur cukup mulus.</p>



<p>Barulah kali ini, gw bisa berdiri tanpa ada penghalang, meski harus usaha setengah mampus dan sempoyongan dulu. Tangan kanan gw meraih pelindung kepala yang udah pecah sebagian, lalu putuskan buat lepas semuanya. Ganggu pandangan aja.</p>



<p>Darah mengalir deras dari mulut serta dahi gw yang sobek. Oh, dan banyak juga dari hidung. Mata kiri gw tertutup gegara kemasukan lumpur, yang langsung gw bersihkan dengan usapan lengan. Bahkan berapa helai rambut kelabu udah ada yang berganti warna jadi merah. Keadaan armor gw… hmm, udah ga karuan pokoknya. Kayak ganti warna. Dari perak-hitam, jadi coklat abu-abu ga jelas.</p>



<p>Hal lain yang patut disyukuri atas turunnya hujan… yaitu baunya yang berperan besar samarkan aroma anyir darah. Baik itu darah para Bellatean lain di sekitar, maupun darah gw sendiri.</p>



<p>&#8220;… Wow, liat tuh. Dia masih bisa berdiri,&#8221; Si zirah merah berkata.</p>



<p>Letusan senjata api, maupun meriam-meriam Kekaisaran masih setia jadi suara pengiring panggung pertarungan ini. Begitu jernih di balik suara hujan, desingan besi ketemu besi, dan juga ledakan-ledakan launcher milik para Striker.</p>



<p>Dengan lunglai, dua tangan gw meraih pedang kembar yang masih kokoh tertancap di tanah. Ga peduli terhadap apapun selain keinginan buat angkat senjata.</p>



<p>&#8220;Perlawanan yang sia-sia,&#8221; Gabber menimpali omongan si zirah merah, &#8220;mungkin gw terlalu banyak berharap. Keturunan klan yang dijuluki &#8216;terlahir untuk perang&#8217;? Tsk, jangan bercanda. Berdiri aja susah payah.&#8221;</p>



<p>Ga ada satupun kata balasan terlontar dari mulut gw. Terlalu capek. Energi gw ga bakal guna kalo dipake buat ladeni cemoohan perabot elektronik bekas satu ini. Dari dulu, gw emang ga pernah bersahabat kalo berurusan dengan mesin.</p>



<p>Jadi, seraya tangan masih pegang pedang, gw acungkan jari tengah pada robot bawel tersebut.</p>



<p>&#8220;<em>Bilang anak… saya…&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Masih</em>&nbsp;<em>banyak yang bisa kamu lakukan selain menghukum diri sendiri.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>saya selalu… sayang dia.&#8221;</em></p>



<p>Gw belum habis.</p>



<p>Ah, ya. Kayaknya ada satu hal yang terlupa. Satu hal penting yang harusnya gw lakukan dari awal. Payah, gimana mau jadi prajurit sejati kalo kayak gini? Satu tarikan napas panjang, bikin udara terkumpul begitu banyak di relung paru-paru.</p>



<p>Pas dirasa udah penuh, &#8220;RRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRGH!&#8221;</p>



<p>Gw dongak sambil teriak sekeras-kerasnya, luapkan segala kemarahan, dan rasa frustrasi yang menumpuk. Urat-urat di tenggorokan gw pasti sampe keliatan mencuat.</p>



<p>Ya, semua prajurit Federasi yang ada di Dataran Solus udah kumandangkan teriakan perang mereka. Semua, kecuali gw.</p>



<p>&#8220;KALO LU SEGITU PENGENNYA BAWA GW, MAJU! TUNJUKKAN KALO LU MAMPU!&#8221; masih banyak hal yang mau gw lakukan, masih ada yang&nbsp;<em>harus</em>&nbsp;gw lakukan, &#8220;GW BAKAL KASIH NERAKA SEBELUM LU MELAKUKANNYA!&#8221; seru gw sambil menumbuk dada sebelah kiri.</p>



<p>&#8220;Ohho… ternyata benar kata lu. Dia susah ditumbangkan.&#8221;</p>



<p>Omongan Si Zirah Merah sama sekali ga digubris Gabber, ataupun gw. Pasalnya, gw udah sibuk menebas udara di ruang kosong antara kami. Dua bilah mata pedang dari Force tercipta, dan langsung terlontar cepat ke arah Gabber dalam bentuk menyilang. Si Punisher terkejut, barangkali ga menduga gw bisa punya serangan berjarak. Serangan tersebut sukses menggores telak zirah biru navy dari depan.</p>



<p>Apa itu salah satu jurus sakti gw? Sayangnya, bukan.</p>



<p>Dari belakang, Si Accretia berzirah merah lompat tinggi, dan bersiap jadikan badan gw macam perkedel. Tapi gw ga berencana menghindar.</p>



<p>Karena gw tau, pedang besar berwarna hijau gelap milik sesosok makhluk gahar udah siap lindungi gw dari tebasan Si Mercenary.</p>



<p>Adalah Paimon, yang berjasa cegah badan gw berubah jadi perkedel. Bogem mentah Animus bertipe pertahanan itu melayang tanpa sanggup dihalau ke muka Si zirah merah. Bikin dia terpelanting ke belakang. Oh, terus pedang Force tadi? Tenang, itu cuma serangan jarak menengah dari Isis Emas.</p>



<p>Siapa pemilik kedua Animus itu? Apa ada dua Grazier yang bantu gw? Kurang tepat. Pemiliknya cuma satu, Grazier tertentu yang berambut ungu. Udah disuruh mundur, tapi kerjaannya ngeyel aja.</p>



<p>&#8220;Udah kubilang, aku juga akan berjuang.&#8221;</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">   &#8220;<em>Never trust a certain author who said he&#8217;d update soon.&#8221; &#8211; Mie</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 53 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 54:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-54/</a></p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 52:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/">LAKE CHAPTER 53 &#8211; SOS 8: BATTLECRY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 52 &#8211; SOS 7: DRASTIC</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1581</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;Here&#8217;s the tip; if you fail on your first try, stand...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/">LAKE CHAPTER 52 &#8211; SOS 7: DRASTIC</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>…<em>Benteng Solus, Ruang Perawatan…</em></p>



<p>&#8220;Berhenti, Captain Elka!&#8221; seruan dari Infiltrator pria berambut coklat panjang tampak ga digubris oleh perempuan di depannya. Entah benar-benar ga dengar, atau enggan menurut. Lihai langkah kaki pria itu, berusaha imbangi individu yang tengah dikejar lalui liuk-liuk lorong ruang perawatan. Lewati kerumunan orang, serta pasien maupun perawat yang berseliweran hendak evakuasi.</p>



<p>Beberapa orang yang lagi jalan berselisih bahu dengan keduanya. Ada yang sampe terjungkal, ada yang langsung minggir. Tapi kedua Ranger ga begitu peduli, sama-sama ga turunkan kecepatan sama sekali.</p>



<p>Panas kejengkelan gegara kejadian itu bergemuruh dalam dada Lace saat ini. Tapi dia masih ga bisa pastikan, langkah apa yang paling tepat untuk diambil. Gimana enggak? Segera setelah siuman, perempuan berambut coklat pendek itu alami perubahan perilaku. Ditambah lagi, drama penyanderaan singkat yang dilakukannya, libatkan Lamia secara langsung.</p>



<p>&#8220;<em>Napas perempuan ini ada di tanganku. Aku bisa mencabutnya kapanpun,</em>&#8221; kata-kata tajam Elka kembali berdengung di benak Lace, bikin dia gertakkan gigi selagi lari. Dia ga suka keadaan itu. Dia ga suka saat Lamia terancam.</p>



<p>Dia ga bisa terima.</p>



<p>Pokoknya, apapun yang terjadi nanti, langkah pertama yang telah dia tetapkan; Infiltrator perempuan itu harus diamankan dulu.</p>



<p>Sedari tadi, di tangan kiri Si Infiltrator lelaki tergenggam busur hitam bercorak ungu, makin erat seraya berlari. Biarpun sempat terbesit niatan, namun tentu Lace enggan menggunakannya. Dia masih sadar lagi berada di area perawatan.</p>



<p>Sosok yang tengah dikejar Lace berbelok tajam ke kanan, tepat di pertigaan ujung lorong. Dia tau perempuan itu lagi cari jalan keluar lain selain pintu utama ruang perawatan.</p>



<p>Saat Lace berbelok ikuti ke mana targetnya lari, dia dikejutkan sekepal tangan terarah langsung ke muka. Reflek anggota Skuad Taktis Rahasia sekejap ambil alih kendali motorik tanpa diminta, sepersekian detik sebelum tinju tersebut bersarang telak di wajah, dia masih sempat lintangkan tangan buat antisipasi.</p>



<p>Akibat kecepatan lari Lace, tenaga hantaman tersebut justru bertambah. Dan semua itu diserap satu tangan Si Infiltrator lelaki, &#8220;U-uh…&#8221; sampe sanggup bikin dia merintih kecil, dan agak terdorong ke belakang.</p>



<p>Gagal lancarkan serangan kejutan ke muka, Elka ga biarkan seniornya pulih dari keadaan kaget. Mumpung kondisi berdiri lawannya masih goyah, sebelum pria itu terdorong lebih jauh ke belakang, Elka mencengkeram bahu dan lengan Lace, kemudian menarik kuat-kuat si infiltrator lelaki.</p>



<p>Alhasil tubuh Lace terayun ikuti tarikan yang dilakukan si perempuan. Lumayan keras punggungnya harus membentur dinding, &#8220;Gaah!&#8221; seru Lace kesakitan.</p>



<p>&#8220;<em>A-apa-apaan… dia!?</em>&#8221; Lace sama sekali ga nyangka tenaga yang dikeluarkan Elka bisa bikin dia tersudut, &#8220;<em>jelas ga… normal!&#8221;&nbsp;</em>Niat membunuh pekat dari tubuh Elka begitu terasa di udara, menjalar di sepanjang tulang punggung Si Infiltrator lelaki, timbulkan sepercik ngeri.</p>



<p>Semua terjadi begitu cepat, perempuan itu benar-benar ga kasih kesempatan bagi sang lawan perbaiki kuda-kuda. Reflek Lace yang tadi sempat muncul ke permukaan, kali ini menolak bekerja sama. Tubuhnya ga kuasa bergerak gegara terus ditekan.</p>



<p>Belum sempat pikirannya menyusun rangkaian gerakan yang dilakukan Elka barusan, tangan kanan perempuan berambut coklat udah pegang belati, dan lagi meluncur ke muka anggota Skuad Taktis Rahasia.</p>



<p>Jantungnya berdegup bak digebuk berulang kali dari dalam, dia hendak pasrah terima serangan itu telak-telak. Lace tau bila belati itu menikam wajahnya, bisa jadi luka yang kelewat fatal. Kemungkinan terburuk, bisa langsung mati di tempat.</p>



<p>&#8220;<em>Lamia!</em>&#8220;</p>



<p>Satu nama menampar kesadarannya kembali ke realita. Mana mungkin dia bakal pasrah pas nyawanya terancam.</p>



<p>Dengan segenap impulse yang terkumpul saat itu, sigap Lace menepis tusukan Elka. Logam perak dingin batal menembus mata, tapi malah terasa tinggalkan pahatan di pelipis sebelah kiri, sebelum tertancap mantap ke dinding. Ga makan waktu lama, perih diiringi cairan merah mengalir keluar dari luka sobek yang cukup panjang.</p>



<p>Usai gagalkan tusukan tadi, Lace segera renggut pucuk kepala Elka, lalu langsung ditarik menuju kepalanya sendiri. Di saat yang sama, dia dorong kepalanya kuat-kuat menuju kepala perempuan itu.</p>



<p>Benturan dahi terjadi di antara mereka, &#8220;HEGH!&#8221; seru si lelaki seraya tahan nyeri, seolah batok kepalanya retak seketika, &#8220;<em>Faak! Sakit juga ternyata!&#8221;</em></p>



<p>Hal itu cukup buat bikin kuncian Elka terguncang sebelum akhirnya melonggar. Sekuat tenaga, lelaki itu lakukan satu sentakan buat dorong tubuh Elka sejauh mungkin.</p>



<p>Tetes darah warnai lantai putih ruang perawatan, dan juga tinggalkan bekas di dahi Elka.</p>



<p>Jarak antara mereka kini agak melebar, kasih sedikit ruang bagi Infiltrator bermata merah untuk ambil satu tarikan napas. Lace ga terlalu peduli sisi kepalanya berangsur terasa hangat karena mulai tertutup tirai merah, dia terlalu sibuk mengontrol desiran emosi diri sendiri.</p>



<p>&#8220;Captain Elka, saya pering-&#8220;</p>



<p>Namun, keadaan tersebut ga dibiarkan berlarut-larut. Elka ga beri kesempatan Lace selesaikan kalimat. Sigap atur ulang posisinya, dan langsung terjang lawan yang menghadang,</p>



<p>&#8220;Tsk!&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Hati-hati, Royal. Dia bahaya,&#8221;&nbsp;</em>tetiba, Lace teringat akan perkataan yang pernah dibilang Wakil Archonnya.</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Bahaya? … Saya tau dia punya kemampuan hebat, tapi dia tetap prajurit baru. Kalo sampe dibilang-&#8220;</em></p>



<p>&#8220;<em>Kamu tau sorot mata prajurit veteran? Sorot mata yang udah jadi saksi berbagai macam pertempuran, dan terus bertahan hidup?</em>&#8221;&nbsp;<em>kala itu, Lace ga salah dengar, &#8220;dia punya.&#8221;</em></p>



<p>Mata merah Si Infiltrator menelisik lebih dalam pada sepasang mata coklat sang lawan. Begitu dingin, dan bagai bilang ga akan beri ampun pada siapapun yang coba melawan, &#8220;<em>Sekarang gw paham,</em>&#8221; gumam Lace dalam hati sembari angkat kedua tangan dan perkuat otot lengan buat blok tendangan tinggi Elka.</p>



<p>Gempuran yang begitu kuat lagi-lagi harus diredam sepenuhnya. Deret gigi pria berambut coklat muda rapat beradu atas bawah. Yakin, kalo aja tendangan itu sukses kena kepala, dia bakal langsung hilang kesadaran.</p>



<p>Tenaga tendangan Elka yang ga main-main, bikin tubuh Lace kembali terpental. Kali ini ke sisi kanan, dan lagi-lagi menabrak dinding. Sekarang bahunya yang harus rasakan betapa keras serta dingin dinding ruang perawatan.</p>



<p>Sebenarnya Lace mau mengelak, cuma, ada satu masalah. Terbatasnya ruang gerak jadi salah satu alasan Si Infiltrator lelaki terpaksa lakukan blok. Berada di lorong selebar 3 langkah, dia ga bisa leluasa menghindar.</p>



<p>Elka udah kembali mengikis jarak, dan siap pojokkan Lace untuk kedua kalinya. Tangan kiri perempuan itu terkepal, hingga keliatan urat muncul di pergelangan.</p>



<p>Ga bisa dibiarkan. Lace tau lebih baik dari yang lain. Dia merasa dungu, dan memaki dirinya sendiri, kenapa dia harus gentar tadi? Padahal selama ini, apa yang udah dia lalui, ga kalah seram dari keadaan sekarang.</p>



<p>Siksaan Siluman Gunung, belum sebanding dengan ini semua.</p>



<p>&#8220;Setelah apa yang lu lakukan pada Lamia, gw ga akan biarkan lu pergi gitu aja!&#8221; ga seperti tadi, sekarang sama sekali ga terpikir buat pasrah. Dia udah muak dengan permainan ini. Kuat dia pukulkan busur untuk antisipasi tinju Elka yang terarah ke rahangnya, dilanjut dua serangan balik kilat.</p>



<p>Manfaatkan hantaman siku, dan disusul punggung tangan kanan menyentak cepat hidung Elka, belum selesai sampe di situ, tangan kanan Lace menggapai kerah armor Elka, dan hujamkan lutut tertuju ke ulu hati Si Infiltrator perempuan, &#8220;ga akan biarkan lu bunuh gw, perempuan edan!&#8221;</p>



<p>Lace berniat lancarkan satu lagi serangan lutut, tapi niat itu terbaca duluan oleh sang lawan. Elka udah menduga, dan sigap tangkap kaki Lace selagi melayang dengan seluruh kekuatan lengannya. Sambil jegal satu-satunya tumpuan berdiri lelaki bermata merah, tangan kanan perempuan tersebut kembali keluarkan belati lain yang lebih panjang beberapa inci dari inventori.</p>



<p>&#8220;<em>Si-sialan!</em>&#8221; kesekian kalinya Lace mengutuk diri saat tubuhnya terbanting ke lantai. Sempat terbuai gegara serangan baliknya sukses, bikin dia jadi lengah. Kini keadaan berbalik lagi menyudutkannya.</p>



<p>Dia benar-benar ga percaya semua gerakan Elka ga ada yang percuma. Semua saling berkesinambungan, dan dilakukan penuh perhitungan supaya bisa matikan pergerakan lawan dengan cara paling efisien.</p>



<p>&#8220;Lu…&nbsp;<em>makhluk</em>&nbsp;<em>apa&nbsp;</em>lu… sebenarnya?&#8221; Lace bertanya lirih dengan napas terhimpit.</p>



<p>Pasalnya, Elka udah kunci total semua anggota tubuh bagian atas lelaki itu. Tangan kanannya dicengkeram, ga kuasa bergerak. Lengan kirinya terinjak, ga bisa melawan lebih jauh. Dadanya ditekan dengan lutut, bikin napas agak sesak. Busur hitam bercorak ungu ga ada lagi di genggaman Lace, udah lepas ketika dia terpelanting tadi.</p>



<p>Elka sama sekali ga jawab. Masih fokuskan setengah berat badan pada lututnya supaya Lace ga berbuat macam-macam. Tatapan mata coklat itu teramat gelap, seakan ga ada perasaan di sana. Menjurus langsung ke mata merah Si Infiltrator lelaki. Tangan kanannya sedikit tertarik ke belakang, siap hujamkan belati ke tenggorokan lawan yang udah ga berdaya.</p>



<p>&#8220;<em>Mati gw,</em>&#8221; itulah yang ada di pikiran Lace saat liat Elka menusukkan belati kedua kalinya.</p>



<p>Di matanya jelas tergambar refleksi lempengan pipih logam perak, namun otaknya ga mampu lagi merancang gerakan pencegahan seperti apa supaya terhindar dari kematian kayak pas pertama.</p>



<p>Mungkin dia harus terima kenyataan, umurnya cuma sampe di sini. Berakhir di tangan bangsa yang dibela sekian lama, yang pernah dibencinya, tapi sekaligus ga bisa dia tinggalkan.</p>



<p>Saat semua keliatan bakal berakhir, satu lengan kokoh berkulit lebih gelap melingkar di bahu kanan Elka dari belakang, cegah belati itu menyentuh leher Si Infiltrator lelaki.</p>



<p>&#8220;Apa yang lu lakukan!?&#8221; seru seorang perempuan yang belum lama ini didengar Lace.</p>



<p>&#8220;Caters!?&#8221;</p>



<p>Berserker yang sebelumnya terdorong oleh tabrakan keras bahu Elka, akhirnya sukses menyusul untuk jadi penyelamat napas anggota Skuad Taktis Rahasia.</p>



<p>Menunda ajal Prajurit sebangsanya.</p>



<p>Sirvat harus keluarkan tenaga ekstra buat hentikan gerakan tangan Elka. Bila sedikit aja kunciannya melemah, belati tersebut bakal bikin leher seniornya berlubang, &#8220;Dia kamerad kita juga, Elka! Stop semua kegilaan ini!&#8221;</p>



<p>&#8220;Percuma, Caters! Sekarang dia ga kenal mana kawan mana lawan! Dia bahaya!&#8221; balas Lace lantang.</p>



<p>&#8220;Hah!? Gak-&#8221; Si Berserker berambut hijau terhenyak, &#8220;gak mungkin!&#8221; bentaknya ga percaya, &#8220;gw tau dia!&#8221;</p>



<p>Pikiran Sirvat agak kacau untuk mengolah rantai kejadian ini. Kalo aja dia ga liat dengan mata kepala sendiri apa yang udah dilakukan Elka di ruang perawatan tadi, dan juga… apa yang&nbsp;<em>lagi&nbsp;</em>dilakukannya, dia pasti bakal menolak percaya.</p>



<p>&#8220;Ga mungkin dia kayak begini tanpa alasan!&#8221;</p>



<p>Biarpun beda resimen, tapi Elka tetap anggota Satuan Tugas Gabungan. Mungkin mereka ga terlalu dekat, tapi Sirvat tau prajurit seperti apa juniornya ini. Dia kuat, punya proporsi tubuh sempurna, berpendirian dan punya dasar moral yang teguh.</p>



<p>Walau Elka punya kecenderungan untuk berontak, dan ga takut hadapi siapa aja, atasan sekalipun, namun semua itu bukan tindakan acak berdasar hasrat belaka. Semua itu dilakukannya atas dasar yang kuat.</p>



<p>Demi seseorang…</p>



<p>Atau…</p>



<p>Demi lindungi dirinya sendiri, demi tutupi kerapuhan di balik segala kapabilitas yang dia miliki.</p>



<p>&#8220;Dia…&#8221; satu kata akhirnya terucap dari mulut Elka, &#8220;… menyakitiku,&#8221; Lace dan Sirvat pun terdiam, &#8220;… Kamu… mereka… kalian…&#8221; napas Infiltrator perempuan itu jadi ga beraturan, diiringi dengan melemahnya dorongan lengan Elka yang dirasakan Sirvat, &#8220;KALIAN BERUSAHA MENYAKITIKU LAGI!&#8221; teriaknya histeris. Genggaman pada belatinya terlepas.</p>



<p>Sirvat yang dibuat kaget, segera lepas kuncian lengannya dari bahu Elka.</p>



<p>&#8220;Menyakiti… lagi?&#8221; tanya Sirvat yang dibikin makin bingung dengan keadaan ini. Dia sempat lirik Lace, minta penjelasan tanpa berkata-kata, tapi cuma dibalas gelengan kepala, &#8220;L-lu ngomong apa sih?&#8221;</p>



<p>&#8220;Pergi…&#8221; Elka pegangi sisi kepala sendiri, layaknya diselubungi kegelepan. Dia berdiri, ga lagi menindih badan Lace, lalu ambil beberapa langkah mundur sempoyongan. Tubuhnya bergetar hebat, &#8220;jangan sentuh aku!&#8221;</p>



<p>&#8220;Elka…&#8221; Meski dalam keraguan, ga tau apa yang menyebabkan juniornya gemetar seperti ini, tangan Sirvat berusaha gapai Elka yang keliatan ga stabil dari sisi emosi. Mata kremnya mengiba, sekaligus ga yakin. Ga nyangka bakal liat lulusan terbaik –perempuan paling penting bagi orang yang dia suka dengan keadaan begini, &#8220;… tenanglah. Ga perlu takut, lu a-&#8220;</p>



<p>Tapi dengan cepat Elka menepis tangan tersebut. Usahanya harus terhenti. Ga bisa disangkal, niat baik yang ditolak mentah-mentah cukup bikin Sirvat tersentak.</p>



<p>Belum juga pulih dari kejutan, udah disela oleh sesuatu yang lain.</p>



<p>&#8220;Wah, wah, wah, liat apa yang telah kalian lakukan. Kalian menakutinya,&#8221; yaitu perkataan seorang pria bermantel hitam yang tetiba udah ada di depan pintu keluar darurat.</p>



<p>&#8220;Lu!&#8221; Lace yang sadar siapa pemilik suara itu, langsung bangkit dan segera ambil busur hitam corak ungu yang tergeletak di lantai, &#8220;Gimana lu bisa ada di sini, hah!?&#8221; geramnya lagi.</p>



<p>Perhatian Sirvat serta-merta teralih pada sosok yang diteriaki Lace, dan seketika pupil kremnya melebar. Bulu kuduk di tengkuk terasa berdiri semua, tatap lekat pada mantel hitam sobek-sobek yang dikenakan Bellatean pria tersebut. Bangkitkan kembali ingatan Berserker itu pada kejadian pilu di Ether.</p>



<p>&#8220;Lho, apa kamu lupa satu hal penting,&nbsp;<em>Phantom?</em>&#8221; dia ladeni emosi Lace yang lagi tinggi dengan tenang, dan santai, &#8220;akupun…&nbsp;<em>Bellatean.</em>&#8220;</p>



<p>Respon meledek, bikin sorot mata merah Lace makin tajam.</p>



<p>Sirvat coba telisik sosok tersebut lebih seksama di tengah gelisah teramat sangat. Kalo dulu waktu di Ether dia ga bisa liat wajah &#8216;mereka&#8217; dengan jelas gegara tertutup tudung mantel dan hujan salju, tapi kali ini, tudung mantel pria itu tersampir ke belakang. Wajahnya tunjukkan seringai kecil, dengan dua garis luka sabetan di mata kanan, serta rambut coklat tipis.</p>



<p>&#8220;Di-dia… apa…&#8221; Sirvat sama sekali ga mau berpikir kalo sosok lelaki di hadapannya adalah salah satu dari &#8216;mereka&#8217; yang udah bantai para Corite, dan juga tewaskan beberapa kameradnya tempo hari, ditambah bikin dia harus pake aksesoris pendukung sebagai ganti kaki kanannya yang hilang, &#8220;bukan, bu-bukan… &#8216;mereka&#8217; kan? I-iya… kan!?&#8221;</p>



<p>Dia lebih suka anggap itu sebagai kebetulan belaka. Kebetulan bahwa pria tersebut pake mantel yang sama dengan &#8216;mereka&#8217;. Sirvat jadi gentar akibat tekanan Force sama persis seperti yang pernah dia rasakan dari sosok bermantel hitam. Jahat, keji.</p>



<p>Pria itu julurkan tangan pada Elka, &#8220;Sudah kubilang, tempatmu bukan di sini, Yelana. Ikutlah denganku, ke tempat di mana tidak akan ada yang berani menyakitimu…&nbsp;<em>lagi</em>.&#8221;</p>



<p>Tatapan Sirvat kini berbalik pada Elka yang sedikit-sedikit turunkan kedua tangan, dan mulai tenang serta menatap hampa pada pria bermantel hitam tersebut, &#8220;Tidak ada&#8230; rasa sakit…&#8221; perempuan berambut coklat ambil langkah lewati Sirvat.</p>



<p>&#8220;E-Elka?&#8221; Sirvat masih coba panggil namanya.</p>



<p>Namun langkah itu dihadang Lace yang berdiri di antara Elka dan Eznik, menodong pria bermantel hitam dengan busurnya, &#8220;Dia ga bakal ke mana-mana!&#8221; Satu anak panah tercipta dari Force kegelapan saat jemarinya berada pada senar busur. Dari tadi dia udah gatal pengen melepas anak panah, &#8220;kalo lu mau bawa dia, lawan kami dulu!&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Ultimatum? Eznik? Proyek Reaper? Yelana?&#8221;</em></p>



<p>Lace belum tau pasti tujuan utama pria ini, atau apa yang akan dilakukan Ultimatum pada Elka, tapi satu hal yang pasti; kalo mereka sampe berani menyusup ke Benteng Solus cuma buat jemput Elka… artinya dia termasuk asset penting.</p>



<p>&#8220;Oh, begitu?&#8221; tanya Eznik masih dengan senyum remeh. Tangan kanannya dengan cepat raih inventori.</p>



<p>Liat hal itu, Lace langsung lepaskan panah, udah ga peduli di mana dia lagi berada. Tapi dari belakang, Elka cepat dorong lengan Lace yang pegang busur ke atas sesaat sebelum panah Force meluncur deras. Jemari lepas dari senar busur, justru mengirim panah Force kegelapan lubangi langit-langit lorong ruang perawatan.</p>



<p>Usai gagalkan tembakan panah, Elka melantingkan tubuh Lace menuju Sirvat yang berdiri di belakang.</p>



<p>&#8220;Royal! Ufft!&#8221; Berserker berambut hijau dipaksa tahan tubuh prajurit yang berpangkat lebih tinggi dengan kondisi kurang siap.</p>



<p>Begitu Sirvat angkat wajah, moncong pelontar granat di tangan Eznik udah menanti. Pikirannya bilang ambil kapak dari inventori, dan pake sebagai perlindungan terakhir, tapi tangannya kayak mati rasa dan ga bisa digerakkan. Dikuasai kengerian untuk sekedar bertindak.</p>



<p>Eznik akhiri perlawanan singkat mereka dengan sebuah tembakan dari senjata di tangannya. Alih-alih kasih tembakan langsung, &#8220;Boom,&#8221; pria bermantel hitam itu hancurkan langit-langit lorong tepat di atas kepala Sirvat dan Lace.</p>



<p>Dentuman ledakan sanggup bikin pengang telinga pas peluru granat runtuhkan plafon langit-langit, menimpa dua sosok Bellatean di bawahnya. Biarpun bukan tembakan langsung, tetap aja Sirvat dan Lace masih bisa merasakan efek ledakan area dari granat tersebut.</p>



<p>Berserker itu cuma bisa meringkuk dan lindungi seniornya buat kurangi dampak timpaan bahan bangunan dari atas kepala.</p>



<p>&#8220;Ukh…&#8221; rambut hijau potongan pendek udah tertutup serpihan debu, dia menatap kepergian Elka dan pria itu dengan tanda tanya di seluruh wajah, &#8220;E-Elka … kenapa?&#8221;</p>



<p>Sesali dirinya yang ga bisa berbuat banyak akibat diselubungi bimbang dan gelisah, serta ingatan buruk yang tetiba menghampiri ketika berhadapan dengan mantel hitam.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>…<em>Benteng Solus, Zona Aman Internal…</em></p>



<p>Hal paling utama dalam benak Ish&#8217;Kandel saat ini adalah gimana supaya cepat sampe rumah Ibunya. Dia udah berusaha semaksimal mungkin, tapi misi evakuasi warga sipil juga ga bisa dikesampingkan gitu aja. Dalam perjalanannya menuju rumah sederhana di daerah internal zona aman tersebut, dia harus terhenti beberapa kali buat kasih arahan pada warga sipil untuk segera menuju teleport Benteng Solus.</p>



<p>Mereka yang hendak evakuasi diminta ga panik, dan ga banyak tanya. Walau tetap aja diantaranya masih ada yang bertanya-tanya, mereka diberi berbagai macam alasan. Informasi penyerangan pasukan Kekaisaran belum diumumkan pada publik supaya ga timbulkan kekacauan.</p>



<p>Ish&#8217;Kandel bukan satu-satunya prajurit yang ditugaskan di sini. Bersamanya, ada beberapa kadet-kadet muda Federasi, dan juga para prajurit senior dari Brigadir Support yang ikut bantu.</p>



<p>Napas Ish&#8217;Kandel terengah ketika sampe di depan pintu rumah. Tanpa ketuk dulu, dia langsung dobrak penghalang tersebut, &#8220;Ibu! Ibu di mana!?&#8221; panik bikin nada suaranya meninggi.</p>



<p>Di ruang tamu, ga ada tanda-tanda keberadaan Ibundanya. Jadi dia susuri tiap ruangan yang ada di rumah ga bertingkat ini, buka paksa tiap pintu yang terkunci sampe grendelnya rusak. Tiap sudut ga ada yang terlewat, tapi sosok Husaile Ilkash belum masuk radar penglihatan pria pirang itu.</p>



<p>Pikiran negatif mulai kembali racuni benak Ish&#8217;Kandel. Kekhawatiran yang ga enak dirasa. Dia keluarkan log misi buat hubungi saudari kembarnya lagi. Dia ragu-ragu, apa yang harus dia katakan?</p>



<p>Ga mungkin dia bilang kalo Ibu ga ada di rumah saat dia sampe. Hash&#8217;Kafil bakal menghajarnya habis-habisan begitu balik dari Solus.</p>



<p>Dilanda frustasi, Ish&#8217;Kandel meninju pintu kamar utama sampe jebol.</p>



<p>&#8220;Iska!&#8221; kata seorang perempuan berambut hitam panjang dari pintu depan. Ish&#8217;Kandel berbalik, mata kuningnya sontak melembut, &#8220;kamu ini! Pintu Ibu main jebol aja! Aduh, berantakan semua! Siapa yang mau perbaiki semua ini, Iska!? Hayo, pokoknya Ibu ga mau tau, tanggung jawab!&#8221;</p>



<p>Ish&#8217;Kandel ga kuasa tahan gejolak untuk peluk sosok wanita yang paling dia sayang, sekaligus hentikan semua keluhannya, &#8220;Ibu dari mana aja? Aku cari-cari ga ada.&#8221;</p>



<p>Biarpun volume suara Ish&#8217;Kandel ga terlalu rendah, tapi di baliknya Husaile tau, ada kecemasan dan tegang ga terkira.</p>



<p>Jadi dia putuskan berhenti ngomel, &#8220;Sayang,&#8221; ucapnya sembari belai halus rambut kuning acak-acakan Si Shield Miller dari belakang kepala, &#8220;Ibu lagi di rumah tetangga pas mereka bilang kita dianjurkan buat tetap di dalam rumah, jadi Ibu ga pulang ke sini. Sebenarnya ada apa?&#8221;</p>



<p>Ish&#8217;Kandel lepas pelukan sebelum jawab pertanyaan Ibunya, &#8220;Ada kebarakaran hutan parah di Bukit Bellato. Kita harus pergi dari sini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Mana Aska? Kamu ga bareng dia?&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia… lagi misi, Bu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Misi apa?&#8221;</p>



<p>Rentetan pertanyaan itu bikin Ish&#8217;Kandel gusar. Makanya, sebisa mungkin dia enggan kasih informasi tentang apa yang lagi terjadi di Solus.</p>



<p>Terutama kata-kata saudarinya dari kontak terakhir di antara mereka, bahkan pada Ibunya sendiri, &#8220;Misi… penting.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Iska, Ibu ga akan beranjak ke manapun sebelum tau apa yang bikin kamu tertekan.&#8221;</p>



<p>Ga peduli seberapa kuat anaknya telah tumbuh, dan coba sembunyikan ekspresi ga mengenakan, Husaile tetap bisa baca gelagat Ish&#8217;Kandel yang ga biasa. Atau, bisa jadi emang anaknya yang ga pandai samarkan perasaan.</p>



<p>&#8220;A-aku… aku pengen bantu dia,&#8221; ucap Ish&#8217;Kandel pelan, &#8220;Di luar sana, entah keadaan kayak apa yang dia hadapi… tapi… aku dan timku ga dapat izin dari Komandan,&#8221; tangan Ish&#8217;Kandel mengepal kuat penuh penyesalan, &#8220;aku harus gimana, Bu?&#8221;</p>



<p>Walau ga tau persis apa yang lagi terjadi, atau apa yang akan dihadapi anak-anaknya, sedikit banyak Husaile paham keadaan yang bikin Ish&#8217;Kandel uring-uringan.</p>



<p>Intuisi keibuannya langsung beraksi. Sambil mengusap pipi anaknya, dia berujar, &#8220;Sayang, kamu cuma harus lakukan satu hal; tanya dirimu sendiri, kamu saudara Aska atau bukan?&#8221;</p>



<p>Ish&#8217;Kandel terdiam beberapa saat. Pikirannya coba mencerna makna dari perkataan sang Ibu. Apa maksudnya? Udah tentu dia saudaranya. Mereka kembar, dan Ibunya sendiri yang melahirkan mereka ke dunia. Terus kenapa dia bilang demikian?</p>



<p>&#8220;Maksudnya? … ya iyalah. Ibu gimana sih?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalo gitu mestinya kamu tau harus gimana,&#8221; lanjut Husaile.</p>



<p>&#8220;Aku… saudaranya,&#8221; lelaki pirang itu terhenyak. Dengar kalimat tambahan itu, dia baru paham sepenuhnya makna pertanyaan tadi. Kali ini dengan nada mantap dia berkata, &#8220;ayo Bu, kita ga punya banyak waktu.&#8221;</p>



<p>Ish&#8217;Kandel mengawal Ibunya sampe ke Benteng Solus setelah Husaile mengemas beberapa barang keperluan pribadi. Tepat di depan mesin teleport udah berkumpul banyak warga sipil yang akan diberangkatkan menuju Markas Besar Federasi. Mereka tentu menghujani para prajurit pendukung tentang apa yang sebenarnya terjadi.</p>



<p>Tapi jawaban para prajurit itu cuma sebuah seruan, &#8220;Tetap tertib dan jangan panik, keadaan masih aman terkendali. Anak-anak dan wanita jadi prioritas utama, tolong didahulukan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iska, kebakaran hutan bisa sampe kaya gini?&#8221; Sang Ibu bertanya, sebelah alisnya terangkat liat keadaan tersebut.</p>



<p>&#8220;Uhm… ya, begitulah.&#8221;</p>



<p>Lalu terlihat beberapa anggota Satuan Tugas Gabungan dan Brigadir Support Federasi berlarian menuju area perawatan. Ish&#8217;Kandel menatap mereka, mau tanya ada apa, tapi ga jadi karena muka mereka serius betul.</p>



<p>Lagipula, setelah mengamankan Ibunya, dia punya hal lain lagi yang harus dikerjakan.</p>



<p>&#8220;Bu, aku pamit dulu ya. Ada satu hal penting lagi yang harus kulakukan. Ikuti aja arahan prajurit yang ada di sini, mereka akan bawa Ibu ke tempat yang aman.&#8221;</p>



<p>Husaile cuma tersenyum liat ekspresi teguh dari anaknya. Kini wanita itu sadar, betapa si pirang telah tumbuh jadi seorang pria, &#8220;Udah tau kamu harus gimana?&#8221;</p>



<p>Sebelum balik badan dan mulai lari, Ish&#8217;Kandel mengecup lembut pipi Ibunya, &#8220;Aku ga akan pernah berpaling dari keluargaku. Aku sayang Ibu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hati-hati, Iska!&#8221; serunya sambil terus menatap punggung Si Shield Miller yang kian menjauh.</p>



<p>&#8220;Ya!&#8221;</p>



<p>Mantapkan batin untuk langgar perintah atasan, Ish&#8217;Kandel harus cari cara tercepat supaya bisa sampe ke tempat di mana kembarannya berada.</p>



<p>Pantas pikirannya merasa risih dari tadi.</p>



<p>Mana mungkin bisa tenang di zona aman, dia ga akan puas cuma dengan instruksi &#8216;evakuasi warga sipil&#8217; saat di luar sana ada satu lagi anggota keluarganya yang lagi berjuang hadapi terror pasukan Kekaisaran.</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">  &#8220;<em>Here&#8217;s the tip; if you fail on your first try, stand closer, then shoot again. If you make it, take a step back, then shoot again.&#8221; </em><br><em>– Elka (Ch. 36)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 52 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 53:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-53/</a></p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 51:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/">LAKE CHAPTER 52 &#8211; SOS 7: DRASTIC</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 51 &#8211; SOS 6: HECTIC</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1578</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;What make you think I&#8217;m gonna listen to you?&#8221; – Lake (Ch....</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/">LAKE CHAPTER 51 &#8211; SOS 6: HECTIC</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>&#8220;<em>Paman… cerita sedikit dong, tentang Ayah dan Ibu.&nbsp;</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Hmm, bukan perkara mudah, wahai keponakanku yang cakep dan ga sombong. Tapi okelah, duduk sini, Paman bakal mulai dari Ibumu.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ahha, cakep dan ga sombong.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Bagus kan pujiannya?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Biasa aja sih.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Oke, kembali ke permintaan tadi. Ibumu bernama Qahazari, adik dari Pamanmu yang paling bersahaja sedunia, adalah wanita yang punya paras luar biasa tanpa cela. Paman sendiri heran dan kurang yakin, apa Paman benar-benar berbagi gen dengan dia. Senyumannya begitu cerah dan terang. Seakan sanggup menyinari sudut planet paling gelap. Tutur katanya selalu penuh santun. Ga pernah sekalipun terdengar omongan kasar keluar dari mulutnya, dan dia selalu disenangi banyak orang. Satu hal yang paling Paman suka, dia itu kalo masak ga pernah ga enak. Selalu lezat dan sanggup bikin lidah siapapun bergoyang. Wah, tipikal istri impian para lelaki deh pokoknya.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Wow, beneran?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Yup, beneran. Saat usianya menginjak 18 tahun, Qahazari mengambil langkah yang paling ditentang keluarga kita. Coba tebak, apa itu?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Uhm… jadi vokalis band metal?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>BUAHAHA! Tentu bukan, keponakanku yang punya bakat melawak. Tapi ga kebayang juga sih kalo dia sampe benar-benar melakukannya.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ya abis mana kutau? Kenapa juga Paman malah tanya aku?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ini disebut pembicaraan dua arah, kawan kecil. Paman ga mau jadi satu-satunya yang ngomong panjang lebar.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Tapi emang harusnya begitu karena Paman kan lagi kuminta untuk cerita suatu hal yang ga kutau sama sekali.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Tsk. Kamu ini makin pintar balas omongan orang tua, ya. Siapa sih yang ngajarin?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Entah, pria tua tertentu yang selalu mengaku dirinya Paman paling sempurna sejagat raya, mungkin.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Okey… LANJUT! Jadi jawabanmu itu salah. Pake banget. Ibumu ga memutuskan buat jadi vokalis band metal, bisa terbalik ini Bellator. Melainkan… daftar jadi tentara untuk abdikan hidup pada Federasi.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Serius!? Ibu seorang tentara Federasi!?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ya, seorang Wizard lebih spesifiknya. Kamu taulah, yang bisa mengendalikan 4 Force inti itu lho.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Ava-&#8220;</em></p>



<p>&#8220;<em>Bukan, bukan acara kartun yang suka kamu tonton pagi-pagi.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ah.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Tapi dia pensiun dini, dan pulang ke Bellator pas hamil kamu. Sendirian.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Tanpa diantar Ayah!?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Tanpa diantar Ayah. Dia ga peduli gimana keadaan di atas sana, ga peduli permintaan Federasi yang masih butuh tenaganya. Rela kehilangan pangkat serta simbol keprajuritan yang udah melekat erat, serta dunia yang selama ini dikejar dan berusaha dia raih demi kelangsungan hidupmu di perutnya. Karena bagi Qahazari, kamulah dunia tak terhingga.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ehehe. Kata-kata Paman selalu bikin semua lebih indah.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ga ada satuan di semesta ini yang bisa dipake buat mengukur besarnya cinta Qahazari untukmu, Lakey.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Syukurlah.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Syukurlah?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Biarpun cuma dari cerita, seenggaknya aku tau Ibu benar-benar… sayang padaku.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Ya iyalah. Namanya juga anak sendiri.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Kalo gitu, gimana dengan Ayah? Kenapa dia ga mau temani Ibu pulang? Apa dia ga sayang Ibu dan aku, Paman?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Dia bukan ga mau temani Ibumu, tapi… ga bisa. Dia lebih dulu meninggalkan dunia ini sebelum kamu lahir.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Meninggalkan… dunia ini?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Tewas, kawan kecil.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>O-oh…</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Hmm, inilah bagian yang Paman bilang &#8216;bukan perkara mudah&#8217;. Paman sendiri belum pernah ketemu dia. Ibumu juga ga pernah cerita banyak tentang suaminya. Kalo ga salah, dia sama kaya Ibumu, tentara juga. Shield Miller yang lebih banyak bertugas di Novus ketimbang di sini. Kamu tau Shield Miller? Prajurit Federasi yang sering bawa-bawa perisai besar?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Oh, aku pernah liat di koran.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Yap, itulah profesi Ayahmu semasa hidup.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Ayah dan ibu… prajurit… federasi…</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Dia punya nama yang aneh, tau. Actassi. Actassi Grymnystre. Reaksi Paman saat pertama kali dengar nama itu dari Ibumu; &#8216;Ribet amat itu nama,&#8217; tapi Ibumu cuma ketawa kecil.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Actassi.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Untung mereka kasih kamu nama sederhana yang ga bikin lidah keseleo.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Gampang diingat ya, Paman?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Ahaha… begitulah, Lakey.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Dari dulu aku penasaran, kenapa Paman selalu panggil aku begitu? Namaku kan Lake, bukan Lakey.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Biar akrab aja.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Hhmmmmm…&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Apa? Ga suka Paman panggil Lakey?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Gak juga sih.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Paman?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Hmm?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Apa Paman tau seperti apa Planet Novus?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Paman, kalo ditanya, jawab dong.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Ga jauh bedalah dengan Bellator. Tapi lebih bersih aja, dan lebih banyak spesies berbahaya.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Benarkah? Paman pernah ke sana?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Belum. Cuma liat dari acara dokumenter di tv.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;…&nbsp;<em>Apa Paman pernah punya keinginan buat ke sana?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Ya enggaklah, Lakey. Buat apa Paman menukar semua kedamaian dan kebebasan ini untuk tinggal di daerah konflik berkepanjangan? Lagian, Paman masih punya titipan tanggung jawab paling berharga dari Ibumu.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Oh ya? Apa itu?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Mau tau aja. Kamu ini kaya wartawan ya, nanya terus dari tadi.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Ah, Paman ga seru nih.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Nanti juga tau kok… kalo kamu udah besar.&#8221;</em></p>



<p>Berapa banyak kebohongan yang harus Paman rangkai untuk belokkan banyak fakta dari hidupku, Paman Ren? Paman benar-benar punya bakat untuk jadi penulis skenario. Kenapa ga coba itu sebagai pilihan karir usai pensiun dari kemiliteran aja? Mungkin Paman ga harus selalu bergantung pada musim panen untuk terus bertahan dari rasa lapar.</p>



<p>Paman, apa Paman tau, seberapa besar kekagetanku saat tau Ibu&nbsp;<em>sama sekali beda&nbsp;</em>dari yang pernah Paman ceritakan? Seberapa kecewa aku ketika tau Ayah minta Paman untuk rahasiakan semuanya? Seberapa kesal aku begitu tau Paman dan Ayah ternyata bersaudara, punya hubungan yang cukup dekat, tapi ternyata Paman bilang&nbsp;<em>belum pernah ketemu dia</em>?</p>



<p>Terasa bak dikhianati, biarpun aku tau Paman melakukan semua itu demi tepati janji dengan Ayah, dan demi lindungi aku juga. Tapi tetap aja, pas aku sadar semua yang kutau tentang latar belakang keluarga adalah karangan belaka, ada getir di dada, Paman.</p>



<p>Dan itu semua cuma karena kebohongan kecilmu.</p>



<p>Paman, apa Paman tau, seberapa besar aku bersyukur… diantara sekian banyak hal yang Paman pelintir, ada satu fakta yang ga pernah Paman ubah sama sekali? Aku mau marah, tapi satu fakta itu yang seolah jadi penetralisir letupan rumit dan kompleks jauh di dasar hati. Fakta bahwa Ibu dan Ayah tulus sayang pada anak semata wayangnya. Terima kasih, Paman Ren. Mungkin benar, Paman adalah Paman paling sempurna sejagat raya.</p>



<p>&#8220;<em>Gila itu, menyia-nyiakan hidup sebagai bukan siapa-siapa, saat aku punya darah pembunuh mengalir di nadi,</em>&#8221; Ibu… kalo ibu bilang demikian, berarti… akupun punya darah pembunuh? Aku berasal dari darah dagingmu, kan? Tapi… aku ga bisa, Bu. Aku… ga mau.</p>



<p>&#8220;<em>Saya prajurit, bukan pembunuh,</em>&#8221; aku ga mau jadi pembunuh.</p>



<p>&#8220;<em>Gila itu, dipecundangi, dihina, terdampar di kehidupan hampa sebagai keberadaan menyedihkan, padahal aku punya monster dalam diri, dan kunci untuk melepasnya,</em>&#8221; tapi aku ga gila. Ya, mungkin aku udah terlalu sering dipecundangi, dihina, diinjak-injak oleh mereka yang seolah tertutup mata dan telinganya. Tapi aku ga gila.</p>



<p>Apa aku juga punya &#8216;monster&#8217; yang Ibu maksud di dalam diri ini? Apa aku juga harus melepasnya supaya hidupku ga lagi disebut sia-sia? Apa ga ada cara lain?</p>



<p>&#8220;<em>Saya ga akan pernah bunuh lawan yang udah ga bisa melawan.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Kamu pikir aku gila, tapi bagiku pilihan. Antara domba atau monster, aku memilih monster.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Untuk sekarang, saya ga mau dia jadi apa-apa. Untuk kedepannya, saya akan biarkan dia memilih jalan sendiri.</em>&#8220;</p>



<p>Ayah, Ibu, kenapa kalian harus bertolak belakang begini sih? Aku sebagai anak, pusing sendiri kalo harus ikut prinsip hidup yang kalian pegang.</p>



<p>&#8220;<em>Lama-lama lu akan menemukannya. Keseimbangan antara jadi siapa yang lu harapkan, dan jadi siapa yang lu butuhkan,</em>&#8221; Elka… ahh… lagi-lagi lu yang selalu hadir melerai kusutnya benang pikiran yang ada di benak gw, &#8220;<em>musuh harus dieliminasi di tempat,</em>&#8221; tapi lu juga kadang suka sadis sih jadi orang. Kaya berkontradiksi gitu, tau ga sih? Konsisten kek dikit.</p>



<p>Pandangan gw masih menatap langit dengan penuh kelelahan. Agak sedikit kabur, dan berbayang akibat berbenturan keras dengan permukaan tanah. Sedikit-sedikit latar awan kelabu bergumul di atas sana mulai keliatan lebih jelas, pertanda mata gw kembali fokus. Di atas kedua kaki, gw masih berdiri. Seraya remas erat lengan kiri, atur napas sana-sini. Lemas, dan gemetar masih tersisa.</p>



<p>Asli, gw kaya orang dungu. Ga tau harus ngapain, dan ga tau kenapa kebiasaan buruk selalu kambuh; mikir yang bukan-bukan pas keadaan genting.</p>



<p>Mata gw kedip berulang kali, sembari cepat tengok kanan-kiri. Setelah itu baru perhatian teralih gegara lenguhan sakit wanita Corite yang masih tergeletak beberapa meter dari kendaraan militer yang udah remuk dan terbalik, &#8220;Fa-Faranell&#8230;&#8221;</p>



<p>Lengan Si Grazier perempuan bergerak, sekeras mungkin coba jadi penyanggah buat tegakkan batang tubuh- dan kalo bisa segera bangkit. Tapi kayaknya upaya itu percuma, dia kembali tersungkur. Sementara Gann diam telentang dengan kedua mata terpejam. Sulur-sulur tanaman hijau hasil mantra Rokai yang melilit tubuh keduanya mulai layu dan rontok satu persatu.</p>



<p>Hal yang sama juga terjadi dengan tanaman yang melilit luka tembak gw di paha kanan. Ga lagi keluarkan aroma khas tanaman hijau, dan udah lepas dari beberapa menit lalu.</p>



<p>Perlahan tapi pasti, gw berusaha jalan ke arah Faranell. Ditemani nyeri, dan sakit yang setia menyengat tiap jengkal jaringan syaraf.</p>



<p>&#8220;Faranell, Faranell,&#8221; panggil gw. Lunglai tatap mata kuning itu, kayak setengah sadar. Gw tau, gegara kecelakaan barusan, Faranell pasti juga alami luka-luka yang ga bisa dibilang ringan. Udah kehilangan sebagian besar stamina dan kekuatan fisiknya, apalagi ditambah tekanan Force yang terus melemah.</p>



<p>&#8220;L-Lake… s-sa-sakit…&#8221; rasa syok masih selimuti respon perempuan berambut ungu. Miris dengarnya. Dua kata yang sukses bikin gw mengiba sesaat begitu retakan terdengar dari intonasi suara tersebut.</p>



<p>Gw langsung berlutut seraya genggam tangan kanannya dengan lembut, dan berujar pendek, &#8220;… Ya, gw tau,&#8221; entah untaian kata penenang seperti apa yang harusnya keluar dari mulut gw buat meredakan sakit perempuan Corite ini. Dengan lembut, gw bantu dia untuk ubah posisi jadi duduk seraya mengusap punggungnya, &#8220;kuatkan diri lu, Faranell.&#8221;</p>



<p>&#8220;Mi-minum,&#8221; pinta Faranell lirih, &#8220;apa… airmu masih ada?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ah… ya,&#8221; gw merogoh inventori 4 dimensi untuk ambil botol minum. Air yang ada di dalamnya ga terlalu banyak setelah diminum Gann sebelum ini, &#8220;sisa sedikit.&#8221;</p>



<p>Tangan kanan Si Grazier lemas meraih botol minum gw, dan ditenggak airnya sampai habis.</p>



<p>Keliatannya, mantra Armor tanaman Rokai berperan besar kurangi dampak luka yang mereka terima akibat terhempas dari kendaraan. Mengingat pas kecelakaan terjadi, tanaman Rokai masih kasih efek penyembuhan serta perlindungan pada tubuh Faranell dan Gannza. Oh, bicara soal Si Holy Chandra, gw hampir lupa ama dia.</p>



<p>&#8220;Maap ya, Faranell. Gegara gw, kalian harus kena getahnya,&#8221; ujar gw agak menyesal.</p>



<p>Faranell menatap mata gw sejenak dengan penuh ketidak-sukaan, &#8220;Kenapa…?&#8221; tanya dia. Ke-kenapa… apanya? Gw yang jadi bingung sendiri, malah sekedar diam keheranan, &#8220;kenapa… selalu bilang semua gara-gara kamu? Selalu bebani diri seakan cuma kamu yang boleh menanggung semua ini?&#8221; Lanjut Faranell lagi, &#8220;persis seperti dulu di kediaman Kakek Aet, dan pas tadi Gannza terluka, terus waktu kita diserang Accretia.&#8221;</p>



<p>&#8220;A-ah… itu… soalnya-&#8220;</p>



<p>&#8220;Aku di sini untuk berjuang sama kamu, tau.&#8221; Si Grazier wanita masih memaksa untuk senyum meski gw tau, energi yang dia miliki mungkin ga cukup untuk melakukan itu.</p>



<p>Bahkan, dia masih ingat obrolan kita yang udah lama di Ether waktu itu? Gw agak terperangah. Kayaknya Elka juga pernah ngomel gegara hal yang sama. Dasar wanita. Ga Corite, ga Bellato, sama aja. Bikin gw sedikit hela napas, merasa kalah dari argumen Faranell dan ga tau mau jawab apa, &#8220;Kalo gitu, boleh gw tanya juga?&#8221;</p>



<p>&#8220;Mm?&#8221;</p>



<p>&#8220;Lu wanita yang sangat manis, Faranell. Terlalu manis, sampe gw ga pernah sanggup beradu mata terlalu lama dengan lu. Selalu bikin gw salah… tingkah kalo l-lu… liatin mata gw dalam-dalam… kayak sekarang,&#8221; ya, gw ga pernah bisa balas tatapan sepasang mata kuning itu yang selalu terasa menembus jiwa, selalu tanpa ragu menelaah lawan bicara lebih seksama, &#8220;dan lu juga baik, walau kadang kayak anak kecil. Gw rasa… jiwa lu terlalu murni untuk jadi prajurit,&#8221; bahkan saat ini pun, gw berusaha sesekali hindari kontak mata, &#8220;tapi di balik semua itu, lu seorang Spiritualist Aliansi yang amat berbakat. Gw udah liat pake mata kepala sendiri. Bukannya ga bersyukur, tapi… kenapa orang kayak lu rela melangkah sejauh ini cuma demi gw, seorang prajurit Bellatean urakan ga jelas?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Karena cuma pada prajurit Bellatean urakan ga jelas itulah, aku…&#8221; pas Faranell berujar, gw beranikan diri liat wajahnya. Awalnya sih dia ngomong penuh percaya diri dan kelembutan, terus, &#8220;aku… a-aku… ahm, u-uhm…&#8221; lah? Lah? Kok mendadak jadi terbata plus muka memerah gitu? Sebelah alis gw terangkat liat perubahan gelagat perempuan berambut ungu ini.</p>



<p>Aku… apa?</p>



<p>Belum sempat dengar lanjutan dari kalimat Faranell, eh disela duluan ama Corite lain, &#8220;Udah kuduga, ikut denganmu benar-benar… ide buruk, cebol!&#8221; celetuk Si Grazier lelaki yang tetiba siuman, &#8220;ini bukan perjalanan menuju zona aman, tapi menuju pelukan Decem!&#8221;</p>



<p>Agak kesal juga dibuatnya. Udah motong pembicaraan seenaknya, dan lagi, ga sadar apa, bukan cuma dia yang menderita di sini? Coba pikir, gimana rasanya jadi gw yang diincar berbagai pihak tertentu? Gw balas nyeletuk juga, &#8220;Ey, lu masih hidup. Ga usah ngeluh.&#8221;</p>



<p>Celah ini dipake Faranell buat geleng-geleng cepat guna hilangkan rona merah di muka serta kegelisahannya, &#8220;Ah, i-iya! Gimana keadaan temanmu?&#8221; dan mengubah topik yang tadi kita bicarakan.</p>



<p>Entah kebetulan atau apa, usai Faranell nanya, perhatian kami teralih oleh panggilan lirih Rokai, &#8220;Tu-tulang Flem…&#8221; sekali dia panggil, tapi masih belum gw gubris.</p>



<p>&#8220;Ga akan mati,&#8221; jawab gw santai tanpa alihkan mata dari wajah Faranell, &#8220;jadi, tadi lu mau bilang apa?&#8221; masih penasaran lanjutan kalimat tadi.</p>



<p>&#8220;Hey, bajingan!&#8221; kali ini Rokai menghentak.</p>



<p>Tsk. Ada aja sih gangguan yang masuk. Agak enggan, gw tengok ke arahnya, &#8220;Apa sih?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kemari, gw butuh… bantuan…&#8221; suaranya terdengar ga stabil, masih ada rasa syok akibat terlempar dari mobil yang lagi melaju kencang. Wajar sih, gw juga soalnya. Siapa juga yang ga bakal deg-degan nyaris ditabrak pesawat kargo plus tau-tau mental begitu? &#8220;… buruan.&#8221;</p>



<p>Kampret itu orang. Udah nyuruh, pake &#8216;buruan&#8217; lagi. Dikira bisa jalan gampang, mentang-mentang cuma gw yang sanggup berdiri di antara mereka?</p>



<p>Seluruh badan gw sebenarnya agak susah digerakkan. Sakit, dan nyeri menusuk di mana-mana. Terutama bagian paha kanan. Serasa disobek. Tapi semua itu coba gw enyahkan, berusaha sekeras mungkin buat hampiri Rokai walau terpincang-pincang.</p>



<p>Emang sih dia sering bikin gw kesal, dan… ehem… sebaliknya. Tapi tetap aja, dia orang yang udah datang saat gw butuh bantuan. Sekarang, saat dia memanggil, gw harus balas. Biarpun ga yakin bantuan kayak gimana yang bisa gw beri dengan kondisi begini.</p>



<p>&#8220;Hey, Dokter Sinting,&#8221; sapa gw sambil agak terengah ketika udah di dekatnya. Dada Rokai terlihat naik turun, sibuk atur aliran pernapasan. Mata hitamnya menatap lemas tepat ke mata ungu, &#8220;apa yang lu butuhkan?&#8221;</p>



<p>Dengan tangan kanan, dia mengangkat tangan kiri yang… agak aneh kondisinya. Tulang lengan kiri atas agak menyembul ke bagian dalam jadi keliatan kaya bengkak ga normal , &#8220;Pegangin.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tangan lu… patah?&#8221; Tanya gw agak terhenyak.</p>



<p>&#8220;Ya. Gara-gara lu,&#8221; jawabnya ketus. Buset dah. Kondisi badan lagi acakadut, masih aja minta ditabok, &#8220;sekarang, pegangin,&#8221; entah apa yang hendak dilakukan Si Holy Chandra, tapi mau ga mau ya lakukan perintahnya. Dengan ekstra hati-hati, biar dia ga banyak gerutu lagi, gw pegang tangan kirinya pake dua tangan. Dia berujar kembali, &#8220;kuat-kuat.&#8221;</p>



<p>Sekali anggukkan kepala gw beri sebagai tanda paham.</p>



<p>Beberapa saat, dia menarik napas sedalam mungkin, lalu dibuang lewat mulut. Lalu sekali lagi tarik napas, dan kemudian ditahan. Force hijau kebiruan perlahan tertuju ke telapak tangan kanan Si Holy Chandra. Serta-merta, Rokai memukul tulang lengan kiri atasnya sendiri sekuat tenaga! Tepat di titik vital patahannya! Bunyi tulang yang tergerak balik ke posisi seharusnya, &#8220;Auch,&#8221; dijamin sanggup bikin siapa aja ngilu.</p>



<p>&#8220;UURRRGGGH!&#8221; Si Holy Chandra meringis panjang dengan mata terpejam, menahan rasa sakit ga terkira. Giginya merapat keras-keras, coba nikmati nyeri paling pedas yang menyambar secepat kilat. Aliran napas Rokai jadi kian ga teratur.</p>



<p>Kemudian sekali lagi, dia memukulnya dengan keras. Dilanjut pijatan agak bertenaga.</p>



<p>&#8220;HHHFFFFT! Haaah… haah…&#8221;</p>



<p>&#8220;Auch,&#8221; liat apa yang dilakukan Rokai, gw juga jadi ikutan ngilu. Gw tau persis kaya apa sakitnya. Ga peduli seberapa sering gw mengalami patah tulang, tetap aja hal ini sama sekali ga menyenangkan buat diliat. Apalagi&nbsp;<em>dialami</em>, &#8220;udah enakan?&#8221; tanya gw sembari longgarkan pegangan.</p>



<p>&#8220;Belumlah, dungu,&#8221; yang langsung dapat balasan bernada datar, &#8220;tangan gw baru aja patah, gimana bisa &#8216;udah enakan&#8217;?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ga usah gerutu mulu, kali.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalo gitu diam. Gw capek dengar ocehan lu,&#8221; ujar Rokai sembari keluarkan biji-bijian lagi dari inventori. Kaya yang sebelumnya mengikat Faranell, tangan kanannya genggam biji-bijian itu dengan sedikit gemetar, &#8220;Plant Form; Nature&#8217;s… Armor,&#8221; tanaman rambat langsung tumbuh menjalar dari telapak tangan kanan Si Holy Chandra, menuju ke lengan kiri lalu melilitnya kuat-kuat.</p>



<p>&#8220;Iya deh. Gw diam,&#8221; tanaman rambat tersebut kini juga menjalar ke tubuh gw. Melilit di sekitar rusuk kiri, lengan kiri, serta paha kanan.</p>



<p>Rokai berusaha berdiri. Sebisa mungkin ga gerakkan tangan kiri. Sedangkan, tanaman rambat dari mantranya kini udah kembali menjerat halus tubuh Faranell dan Gannza.</p>



<p>Kita harus terus bergerak. Suka ga suka, tetap di tempat terbuka kaya gini bisa bikin keadaan lebih buruk. Kami paham akan hal itu, makanya yang lain pun udah maksa buat berdiri dan lanjutkan perjalanan. Pasukan pengintai serta udara Accretia udah sampe di tanah Solus, itu artinya, ga lama lagi pasukan utama mereka bakal berada di sini.</p>



<p>Entah berapa lama waktu yang kami punya, tapi yang pasti, semenit pun ga boleh terbuang.</p>



<p>Dan saat itulah… deru mesin pesawat kembali terdengar. 2 pesawat tipe transport… ditambah banyak pesawat tempur yang mengawal disekitarnya… dengan lambang Kekaisaran Accretia&#8230; sukses bikin mata kami terbelalak selebar mungkin.</p>



<p>Tanah mulai bergetar. Tadinya gw kira gempa, tapi semua lebih parah dari perkiraan. Beberapa puluh meter di depan kami, permukaan tanah mencuat ke atas. Menampakkan kendaraan penjelajah segala medan milik Kekaisaran. Cukup besar ukurannya, terbuat dari bahan metal secara keseluruhan, dilengkapi alat bor di bagian depan. 1, 2… lebih banyak lagi… bermunculan satu persatu.</p>



<p>Serius nih!? Bukan cuma dari udara, tapi mereka juga datang dari bawah tanah!?</p>



<p>Pesawat tipe transport Kekaisaran mulai sedikit terbuka bagian palkanya, dari sana, prajurit-prajurit besi bersenjata berat lompat ke luar. Salah satu diantara mereka adalah sesosok Accretia dengan zirah hitam keseluruhan, dilengkapi aksen strip hijau terang, membawa palu hitam legam raksasa di pundaknya.</p>



<p>Tanah langsung retak diiringi bunyi dentuman kecil begitu Accretia hitam tersebut mendarat dengan kedua kaki logam nan berat, terkesan begitu perkasa, dan lensa optik hijau sangat mengintimidasi kami, &#8220;<em>All hail Empire,</em>&#8221; ucapnya parau.</p>



<p>Disusul oleh Prajurit-prajurit besi lain, mendarat di puing pesawat transport Federasi, sekalian membelah badan pesawat itu jadi dua bagian. Meski udah ditembak jatuh, tapi akibat dibelah mendadak begitu, turbin pesawat Federasi meledak seketika. Bola api cukup besar bergumul, diiringi kepulan asap hitam membumbung ke langit. Ada siluet-siluet prajurit kekaisaran tergambar pada bola api besar tersebut.</p>



<p>Ah, kampret. Kenapa selalu kayak gini ya? Di saat gw pikir berhasil lolos dari kandang harimau, eh ternyata mulut buaya udah kebuka lebar. Makin ke sini makin terasa repetitif. Kehidupan yang luar biasa.</p>



<p>Gw udah hilang hitungan akibat gelisah ga karuan liat jumlah Accretia yang berada di sekeliling kami. Kacau ini! Benar-benar kacau!</p>



<p>Si Accretia berzirah hitam arahkan lensa optik hijaunya pada kami, dan perlahan mulai jalan kemari seraya turunkan palu ke sisi tubuhnya. Jalan, jalan, lama-lama lari kencang!</p>



<p>Force di ujung tongkat metalik Si Holy Chandra mulai terkonsentrasi, dia angkat sejenak tongkat tersebut pake tangan kanan, lalu dihantamkan ujungnya ke tanah kuat-kuat! &#8220;Terratectonic!&#8221;</p>



<p>Retakan cukup luas dalam area kerucut langsung muncul di hadapan Rokai, mengguncang tanah di bawah pijakan Si Accretia berzirah hitam, dan beberapa saat kemudian langsung meledak ke dalam! Menghambat laju Accretia tersebut.</p>



<p>&#8220;Lari,&#8221; ujar Rokai pelan pada kami. Raut wajahnya keliatan sedikit menekuk, pertanda lagi diliputi ketegangan namun coba buat ditutupi, &#8220;jangan liat belakang.&#8221;</p>



<p>Gw, Gann, dan Faranell mulai balik badan serta berusaha lari sekuat tenaga. Meski susahnya bukan main. Faak! Ini sih bakalan percuma! Dengan kondisi badan kaya gini, kalopun berhasil lari, paling ga bakal bisa jauh! Tapi daripada ga dicoba, lebih baik dipaksa.</p>



<p>Pas baru berapa langkah lari, gw baru sadar satu hal; Rokai masih di belakang! Gw tengok belakang, dia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, &#8220;RO!&#8221;</p>



<p>Satu kaleng terhambat, yang lain belum tentu. Prajurit-prajurit besi lain pun mulai bergerak. Hal ini ga luput dari perhatian Rokai. Sontak, dia langsung merapal mantra pertahanan lainnya, &#8220;Frost Guard,&#8221; kali ini tongkatnya bergerak kokoh dari bawah ke atas, mantra Force Es digunakan buat membentang dinding es tebal dan lebar dengan harapan bisa ulur sedikit waktu.</p>



<p>Usai merapal mantra tersebut, sebagian tubuh Rokai mulai tertutup kristal es.</p>



<p>Gw benar-benar ragu buat lanjut melangkah, dan tinggalkan Si Dokter Sinting. Apa coba yang ada di benaknya!? Mau berlaga sok keren lagi!? Padahal tangan kirinya sama sekali ga bisa dipake!</p>



<p>Liat gw berhenti, Faranell berhenti juga. Seolah tau apa yang ada di kepala gw, &#8220;Lake…&#8221;</p>



<p>Mata ungu beralih pada Si Grazier wanita untuk sesaat, &#8220;Jangan berhenti.&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak! Jangan!&#8221; yap, Faranell pasti udah tau maksud dari reaksi yang gw berikan. Sigap, dia coba menangkap tangan kanan ini, buat cegah gw lakukan tindakan nekat lainnya. Tapi jelas gw lebih cekatan, sukses hindari sergapan Faranell tanpa kesulitan berarti.</p>



<p>Saat gw putar badan, dan mulai berlari ke arah sebaliknya, Faranell berusaha keras buat menyusul, tapi gagal gegara tubuhnya ditahan oleh Gannza, &#8220;Faranell! Kamu dengar apa yang dia bilang! Jangan berhenti!&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia mau lakukan hal gila lagi! Dia bisa beneran mati kali ini!&#8221; Seruan Faranell masih sampe di telinga gw.</p>



<p>&#8220;Kamu juga bisa mati! Semua bisa mati!&#8221; Balas Gann tegas, &#8220;dan aku udah bersumpah demi Decem, ga akan biarkan itu terjadi!&#8221;</p>



<p>&#8220;Gann, kumohon-&#8220;</p>



<p>Sontak, Gann memotong kalimat Faranell, &#8220;Aku yang harusnya memohon, Faranell! Sekali ini aja, dengarkan kata-kataku. Aku ga bisa kehilangan kamu lagi. Kalo kamu segitu peduli padanya, ga apa. Tapi kumohon, turuti si cebol itu.&#8221;</p>



<p>&#8220;…&#8221; Omongan Gann sukses membungkam Faranell. Ga ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Si Grazier perempuan, dan akhirnya mereka lanjut jalan cepat.</p>



<p>Mendadak terdengar suara ledakan dari dinding es yang dibuat Rokai! Ketika pandangan gw balik ke sana, dinding yang keliatan solid dan kokoh itu udah hancur sebagian dihias lubang setengah lingkaran! Di balik lubang itu, terlihat jelas sepasang siege kit Accretia masih pancarkan sisa-sisa tembakan dari ujung larasnya.</p>



<p>Asap putih tercipta akibat dinding es bersuhu rendah dihantam peluru ekstra panas dari launcher Accretia. Sosok Punisher selain yang zirah hitam tadi, manfaatkan kepulan asap itu buat pangkas jarak! Dia layangkan gada berukuran lebih besar dari tubuh Rokai!</p>



<p>Si Holy Chandra lepas pengawasan untuk sedetik. Sialan! Ga biasanya dia kayak begini! Biasanya ini anak kan intuisinya tajam, kenapa harus tumpulnya sekarang!?</p>



<p>Faak! Gw tarik keluar kedua pedang dari inventori secara bersamaan, dan lari secepat yang gw bisa ke jalur laju gada tersebut. Gigi gw merapat, bersiap lawan gaya benturan luar biasa yang akan diberi Punisher bersenjata gada satu ini pake kedua pedang di tangan.</p>



<p>Ga punya nyali buat tahan kepala gada itu secara langsung, soalnya jelas banget tangan gw bakal remuk yang ada. Jadi, gw tebas bagian gagangnya dari bawah ke atas. Tapi tetap aja, tenaga yang dihasilkan ini kaleng masih superior!</p>



<p>&#8220;HEEGH!&#8221; kedua tangan gw terasa gemetar, dan menegang keras gegara dikasih tekanan melebihi kapasitasnya begitu dua bilah pedang biru-merah ketemu gagang gada di satu titik.</p>



<p>Ga kuat pertahankan posisi terlalu lama, langsung gw miringkan pedang dalam sudut 45 derajat dengan maksud alirkan gaya tekan gada itu menuju sisi kanan. Yah, seenggaknya upaya gw membuahkan hasil. Biarpun ga bisa bikin laju gada itu berhenti, tapi berhasil&nbsp;<em>berbelok</em>&nbsp;dari sasaran.</p>



<p>Rokai yang keliatan agak terkejut usai gada itu membentur daratan, cuma cengo liatin gw dan Prajurit kaleng itu adu tenaga! Bangke! Gw bentak aja, &#8220;Woi, bantu dong! Gw ga kuat!&#8221;</p>



<p>Sontak, ekspresi kagetnya hilang, dan mata hitam kembali menajam. Dia mengetuk pelan bagian dada Accretia itu dengan ujung tongkat perak metaliknya sembari merapal mantra, &#8220;Typhoon Bane.&#8221;</p>



<p>Hentakan angin deras menghantam dada Punisher itu, dan bikin badan besinya mental jauuuh banget.</p>



<p>Jeda sejenak usai atasi Punisher tadi, kami pake buat atur napas. Wew, ga nyangka kerjasama kita oke juga, biarpun harus pake bentak dulu.</p>



<p>&#8220;Ngapain lu balik lagi? Udah gw bilang jangan liat belakang,&#8221; Rokai agak ga suka.</p>



<p>&#8220;Apa yang bikin lu mikir gw bakal patuh sama lu?&#8221; respon gw sekenanya.</p>



<p>Si Holy Chandra sedikit tercengang, tapi masih pasang raut muka kesal, &#8220;… brengsek.&#8221;</p>



<p>&#8220;Stop bertingkah sok keren, Sinting. Tangan lu baru aja patah, ga mungkin lu bisa selamat tadi,&#8221; gw bilang, coba ingatkan keadaannya, &#8220;oh ya, sama-sama lho,&#8221; lanjut gw sarkas.</p>



<p>&#8220;Gw ga minta bantuan lu,&#8221; ketusnya lagi.</p>



<p>Tsk! gw menghadap padanya, dan renggut kerah Armor Spiritualist yang dia kenakan. Masih terasa dingin karena di beberapa bagian masih tertutup kristal es, &#8220;Apa kepala lu kebentur sesuatu!? Ga tau untung banget sih, udah bagus gw tolongin!&#8221;</p>



<p>Rokai ga tinggal diam, dia balik renggut Armor gw di bagian dada, &#8220;Gw bakal minta bantuan saat butuh. Kalo ga butuh, gw ga akan minta. Dan&nbsp;<em>terutama,&nbsp;</em>gw ga pernah minta untuk terlibat kekacauan ini. Dari awal gw&nbsp;<em>ga akan ada di sini</em>&nbsp;kalo bukan karena&nbsp;<em>lu</em>. Jadi, siapa yang ga tau di untung?&#8221;</p>



<p>&#8220;Mungkin harusnya gw biarin aja lu&nbsp;<em>gepeng</em>&nbsp;tadi, hah? Supaya sikap&nbsp;<em>arogan&nbsp;</em>lu itu ikut<em>&nbsp;rata</em>&nbsp;sekalian,&#8221; balas gw gondok.</p>



<p>&#8220;Kalo&nbsp;<em>otak lu</em>&nbsp;masih&nbsp;<em>berfungsi</em>, ya, mungkin harusnya begitu.&#8221;</p>



<p>Bersitegang di antara kita harus terpotong gegara satu hal; bunyi launcher Accretia. Bukan sembarang bunyi, tapi bunyi khas launcher prajurit Kekaisaran yang lagi bersiap melakukan Doom Blast! Kami berdua sama-sama menatap ke arah datangnya suara itu dengan mata bulat melebar. Soalnya satu launcher dalam mode siege lagi mengarah kemari.</p>



<p>&#8220;Uhm… kayaknya ini bukan waktu yang pas buat debat,&#8221; kata gw.</p>



<p>&#8220;Bravo,&nbsp;<em>jenius</em>.&#8221;</p>



<p>Begitu launcher itu muntahkan muatannya, gw dan Rokai langsung saling dorong bersamaan. Peluru launcher bertekanan tinggi tersebut lewat di tengah kami dengan sangat cepat! Mata gw berusaha mengikuti lajunya, dan saat sadar apa yang terjadi, gw teriak, &#8220;FARANELL, GANN! AWAS!&#8221;</p>



<p>Yup, peluru itu emang lewati kami, tapi bukan berarti bebas dari ancaman. Karena sekarang peluru launcher itu malah mengarah pada sepasang Grazier!</p>



<p>Faranell dan Gann yang bahkan untuk lari aja kesusahan, kini dihadapkan situasi lebih buruk. Ga ada tempat untuk berlindung dari radiasi ledakan Doom Blast, ga ada tenaga untuk panggil Animus. Kalopun ada, entah Animus apa yang sanggup lindungi mereka dari Doom Blast. Kedua Grazier itu tampak pasrah, cuma bisa berpelukan erat menanti takdir ga terelakkan.</p>



<p>Tapi kejutan demi kejutan ga ada henti datang pada kami hari ini. Angin yang tadinya tenang, kini tetiba berhembus lebih kencang. Kalo sebelumnya para Accretia yang datang dari udara, kini gw liat ada sesosok Bellatean wanita duduk menyamping di atas tongkatnya, terbang melintas langit menuju Faranell dan Gann bak penyihir.</p>



<p>Bellatean wanita itu menukik tajam, sebelum mendarat halus di depan Faranell dan Gannza. Rambut coklat kemerahan panjang terkepang samping, ikut menari seraya alunan angin senantiasa temani kehadirannya. Bola mata sehijau hutan tropis terlindungi oleh kacamata debu besar berlensa transparan yang menutupi hampir setengah bagian atas wajah. Bibir tersenyum lebar penuh percaya diri, menatap peluru Doom Blast tanpa keraguan.</p>



<p>Dia buka kedua telapak tangan, dan diarahkan ke depan. Angin di sekitarnya mulai berputar, dan membentuk pusaran berukuran sedang di telapak tangan wanita itu. Pas peluru itu makin dekat, dan bertemu dengan pusaran angin, wanita itu memutar poros tubuhnya searah jarum jam! Kedua tangan yang tadinya menghadap depan, pusaran angin, plus peluru Doom Blast pun mengikuti putaran wanita itu!</p>



<p>&#8220;Makan senjata kalian sendiri!&#8221; peluru Doom Blast akhirnya berbalik arah seiring seruan terlontar dari mulut wanita itu!</p>



<p>Ebuset! Peluru itu kembali lewat di antara gw dan Rokai! Bedanya, sekarang dari arah berlawanan!</p>



<p>Berkat apa yang dilakukan Bellatean wanita itu, ledakan justru terjadi di kubu Accretia! Hal itu cukup bikin kacau formasi para kaleng untuk beberapa saat.</p>



<p>Siapa wanita itu?</p>



<p>Setelah gw cermati, di bagian armor lengan kiri wanita itu terdapat simbol Satuan Tugas Gabungan; sebuah tongkat sihir berdiri tegak lurus, ditemani senapan serbu, dan pedang yang membentang saling silang berada dalam bidang datar bentuk perisai, dengan satu strip emas di atasnya… Resimen… 1!?</p>



<p>&#8220;Jadi, kalian Corite, ya? Pilih mana? Diterbangkan tinggi-tinggi lalu dibiarkan jatuh, atau dicabik-cabik angin sampe jadi serpihan?&#8221; tanyanya dengan nada riang seraya balik badan pada Faranell dan Gann yang bukannya merasa lega selamat dari Doom Blast, tapi malah tambah gelisah.</p>



<p>Sayang, tampaknya ga ada prajurit besi yang alami kerusakan berat karena mereka bisa bereaksi tepat waktu.</p>



<p>Justru sebaliknya, para kaleng rombeng itu seolah ga peduli akan radiasi ledakan Doom Blast mereka sendiri! Gw segera berdiri, dan genggam lebih kuat dua pedang di tangan. Soalnya, Prajurit zirah hitam itu lompat keluar dari area ledakan berbentuk kubah yang terlihat mengerikan! Palunya diangkat ke bahu, ambil ancang-ancang buat lancarkan serangan bertenaga penuh!</p>



<p>Belum lagi mereka semua kini mulai bergerak serentak! Berat langkah para Accretia, seolah tiap langkahnya sanggup ciptakan gempa. Inti motorik yang dimiliki tiap-tiap prajurit Kekaisaran berderu bak genderang perang, bertabuh saling sahut.</p>



<p>&#8220;Cukup, Lalana. Kita ga bisa sembarangan bunuh mereka tanpa tau apa-apa,&#8221; terdengar suara pria yang sama sekali ga asing membantah keinginan wanita itu. Seorang pria berarmor biru gelap yang dibalut jubah putih berlambang Federasi di bagian punggung, lewat di celah kosong antara gw dan Rokai. Dia berkata santai sambil lirik gw, &#8220;banyak yang harus mereka jelaskan. Termasuk kamu, Grym.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, iya. Saya cuma bercanda, Maximus,&#8221; wanita itu kasih tanggapan nyeleneh, &#8220;abis mereka keliatan butuh guyonan sih.&#8221;</p>



<p>Maximus… Gatan! Dia segera keluarkan dua bilah pedang logam yang berbeda panjangnya. Itu kan… pedang latian?</p>



<p>&#8220;Itu ga bisa disebut guyonan. Lebih tepat ancaman,&#8221; celetuk Bellatean pria yang ga gw kenal. Wajahnya ga terlalu keliatan karena dia pake helm plus pelindung mata dengan lensa gelap. Diliat dari armor yang dia kenakan, kayaknya dia ini Ranger. Tebakan gw, mungkin Hidden Soldier karena biasanya Hidden Soldier yang selalu pake senapan serbu.</p>



<p>&#8220;Selera humor lu emang kelewat jelek, Havva,&#8221; timpal prajurit pria lain, dukung pendapat si pembawa senapan. Kali ini seorang Berserker bersenjatakan pedang besar dan panjang dengan aura kekuningan tipis menyelimutinya. Pria itu tampak amat gagah, dan tampangnya sangar macem tukang batu. Berambut biru gelap kehitaman dengan 3 gores luka horizontal di leher. Mata Ambernya punya pupil lembing kayak mata singa, makin menambah kesan buas.</p>



<p>Sama seperti wanita itu, di lengan kiri armor mereka juga terdapat simbol yang sama.</p>



<p>&#8220;Ah, mungkin kalian yang terlalu&nbsp;<em>tolol</em>&nbsp;sampe ga paham candaan tingkat tinggiku,&#8221; wanita itu malah meledek balik sembari tersenyum remeh serta lidah terjulur pada dua kameradnya.</p>



<p>Maximus Gatan ga kasih gw kesempatan untuk teliti lebih jauh, atau respon omongannya yang tadi karena dia udah keburu berakselerasi tiba-tiba! Ce-cepat! Tinggalkan hembusan angin di belakang jalur lajunya!</p>



<p>Liat Maximus Gatan bergerak, wanita itu juga segera berlari sebelum kembali naik tongkatnya, dan terbang ke angkasa! Kedua rekannya yang tadi juga enggan ketinggalan, ikut maju ke tengah pertempuran! Seolah udah paham betul apa yang harus dilakukan walau tanpa aba-aba, tanpa peringatan.</p>



<p>Dari tubuh Accretia berzirah hitam tersebut terdengar dentingan logam saling beradu, sebelum keluar percikan listrik saat Maximus Gatan muncul di belakang Si Accretia, bikin si pembawa palu itu batal menerjang gw. Ga buang waktu barang sedetik, kedua kalinya, Maximus Gatan melakukan akselerasi! Kali ini menyabet tubuh zirah hitam dari belakang!</p>



<p>Percikan listrik kembali keluar begitu kedua kaki Maximus Gatan menyusur tanah guna matikan kecepatan sendiri. Satu pedangnya yang panjang patah setengah seketika, sedangkan yang pendek retak ga beraturan, &#8220;Hmm… keras juga,&#8221; dia bilang.</p>



<p>&#8220;<em>Blood Raider,&#8221;&nbsp;</em>ucap Si Zirah hitam pendek.</p>



<p>&#8220;<em>Darkmaul,</em>&#8221; balas Maximus Gatan sembari balik badan, &#8220;<em>some armor upgrade you got there,&#8221;&nbsp;</em>dia buang dua pedang yang pertama dipake, lalu keluarkan dua pedang latian baru.</p>



<p>&#8220;<em>You dare challenge me with those toothpicks?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>Well, these &#8216;toothpicks&#8217; are more than enough to deal with you,</em>&#8221; gw ga paham perbincangan apa yang terjadi di antara mereka, tapi Maximus memutar-mutar kedua pedang di tangan sambil tersenyum sinis pada sang lawan.</p>



<p>Si Zirah hitam eratkan tangan pada palunya. Apa dia geram? Entahlah. Emang mesin bisa marah?</p>



<p>Keduanya langsung maju bersamaan. Maximus Gatan jauh lebih unggul dari segi kecepatan. Mungkin efek dari senjata yang lebih ringan juga. Satu ayunan berat dari palu si zirah hitam, bukanlah kesulitan buat dihindari. Sang Wakil Archon Federasi lihai melakukan side step, disusul tiga tebasan kilat ke pangkal lengan kanan zirah hitam. Palu yang sukses dihindari tadi, menghujam tanah dan tinggalkan kawah dangkal, serta hamburkan bebatuan.</p>



<p>Daya hancur yang ga main-main!</p>



<p>Liat Maximus kembali menyerang, Si zirah hitam lepaskan kedua tangan dari senjatanya, dan meninju arah datangnya terjangan Sang Wakil Archon.</p>



<p>Momentum yang terlalu besar bikin Maximus ga kuasa ganti arah. Maka, mau ga mau dia blok tinju besi sang lawan pake dua pedang. Bunyi metal beradu kembali menggaduh, saling dorong untuk buktikan siapa yang lebih hebat.</p>



<p>Jelas Maximus kalah adu kuat. Dia sendiri pernah bilang, dia itu lemah. Jadi Maximus Gatan terpental ke belakang akibat benturan yang dihasilkan tinju Si Accretia. Tapi ga gentar gegara kalah sekali, dia berakselerasi lagi! Belum puas menyerang, kayaknya.</p>



<p>Celah waktu ini dimanfaatkan si zirah hitam untuk ambil palunya, dan diayunkan secara horizontal.</p>



<p>Maximus Gatan lompat begitu ringan ke udara seiring datangnya serangan palu, dan malah naik di kepala palu yang lagi terayun! Hal itu membawa tubuh kecil Si Sentinel berarmor biru gelap melayang ke belakang si zirah hitam, dia balik dua pedang di tangan, dan menusukkan keduanya bersamaan ke celah yang terdapat bagian bahu kiri dan kanan sang lawan.</p>



<p>Si Kaleng mengguncang tubuh sendiri untuk jatuhkan Maximus Gatan dari punggungnya. Kedua tangannya berusaha keras gapai tubuh kecil Bellatean berjubah putih yang tengah menusukkan pedang latian di tangan kanan berulang kali ke bagian bahunya sembari berpegangan pada pedang di tangan kiri yang masih tertanam kuat.</p>



<p>Tapi seperti sebelumnya, pedang di tangan kanan Maximus patah setelah tusukan berulang-ulang, &#8220;Cih,&#8221; tangan kiri Si Accretia akhirnya berhasil meraih jubah putih Maximus Gatan! Seketika, dia tarik sekuat tenaga, bikin pegangan tangan kiri Maximus terlepas dari pedang, dan banting tubuh kecil Bellatean itu ke hadapannya! &#8220;ugh!&#8221;</p>



<p>Si Accretia angkat kaki kanan, berniat pecahkan kepala Sang Wakil Archon! Tapi Maximus ga tinggal diam, dia segera menghindar dengan berguling ke kiri! Kaki logam itu tinggalkan ceruk jejak kaki tepat di tempat kepala Maximus berada sebelumnya.</p>



<p>&#8220;MAXIMUS!&#8221; teriak gw. Pasalnya, 5 prajurit besi lain bersenjatakan pedang dan tombak siap bunuh dari belakang saat Maximus Gatan masih dalam posisi berlutut!</p>



<p>&#8220;BOM ASAP SIAP!&#8221; teriak si Hidden Soldier sembari lempar sebuah silinder kecil pada Maximus Gatan. Silinder itu langsung meletup dan keluarkan asap kelabu tebal sebagai perlindungan! Ga berhenti sampe situ, Pria itu angkat senapan serbu yang dia bawa, dan langsung memberondong para prajurit besi! Dia ga tetapkan satu target, melainkan berusaha pukul mundur mereka semua. Itulah kenapa tembakannya terkesan membabi buta.</p>



<p>Sedangkan si mata singa yang lagi lari, lakukan lompatan tinggi, lalu ambil ancang-ancang bak pelempar lembing pas mengambang di udara. Tapi yang mau dilempar bukan lembing, melainkan pedang beraura kekuningan! Dia keliatan pusatkan sejumlah Force pada pedang itu, soalnya aura kekuningan tadi jadi keliatan lebih pekat.</p>



<p>&#8220;RRAAARRRRGH!&#8221; satu raungan keras jadi suara latar lemparan yang dilakukannya menuju 5 prajurit besi sekaligus!</p>



<p>Pedang itu meledakkan daratan, dan tertancap kuat setelah benturan. Aura kekuningan berbentuk rantai menyebar lewat tanah, mengikat kelima prajurit Kekaisaran yang berdiri berdekatan. Hal itu kasih lebih banyak waktu buat Maximus Gatan kembali atur posisi.</p>



<p>Di bagian lain, wanita berambut kepang samping itu terbang ke arah berbeda dari dua kawannya.</p>



<p>&#8220;Wahooo!&#8221; seru wanita yang dipanggil Lalana, dia ga ragu mendarat dari sapu- ehem, tongkat terbangnya di tengah kumpulan prajurit Kekaisaran di bagian sayap kanan, &#8220;okey, kalian harus mundur! Shock Pulse!&#8221; ucapnya dengan senyum lebar. Kedua telapak tangannya ditepuk keras satu kali.</p>



<p>Akibatnya, tekanan angin langsung meningkat drastis dan serentak menyebar luas ke area sekitar wanita itu! Mendorong kuat para kaleng dari kuda-kuda mereka.</p>



<p>Ga cuma 4 Bellatean tadi, kendaraan-kendaraan militer Federasi mulai berdatangan, para prajurit lain mulai turun dari sana lengkap dengan berbagai persenjataan serta peralatan. Beberapa dari mereka ada yang memilih jelajah area ini dengan booster ketimbang naik mobil. Jumlah mereka ga sedikit, biarpun belum sampe sama jumlah Accretia yang menyerbu dataran ini, tapi seenggaknya hampir mengimbangi.</p>



<p>Tiap-tiap lengan kiri mereka, simbol yang sama terpatri penuh kebanggaan. Resimen 1 Satuan Tugas Gabungan, datang sebagai bala bantuan! Dan gw ada di antara dua pasukan besar yang siap saling bacok… runyam, Kapten.</p>



<p>&#8220;Oh ya, saya mau tau, kira-kira kenapa angin bisa tercipta ya?&#8221; tanya Maximus Gatan yang udah berada di dekat gw dan Rokai sembari menepuk-nepuk armornya, &#8220;gimana menurut kalian?&#8221; Jubahnya ga lagi putih bersih, melainkan udah ternoda coklat tanah, dan debu gegara tadi guling-gulingan.</p>



<p>Ah, ini nih… kelakuan absurd Maximus, selalu lontarkan pertanyaan aneh bin ga nyambung di medan pertempuran.</p>



<p>Belum sempat kami berkata-kata, wanita yang dipanggil Lalana udah berjingkat penuh energi menuju sisi Maximus Gatan sambil angkat tangan teramat antusias, &#8220;OH! OH! OH! Saya! Saya! Saya tauuu!&#8221; bu-bukannya tadi dia ada di sayap kanan?</p>



<p>Liat reaksi anak buahnya, Maximus Gatan hela napas diiringi gelengan kepala, &#8220;Saya ga tanya ka-&#8220;</p>



<p>&#8220;Angin, pada dasarnya dihasilkan oleh matahari! Tercipta karena redistribusi panas yang ga merata! Udara hangat akan naik, dan udara dingin turun untuk mengisi celah yang tercipta di antaranya!&#8221; namun perkataan Maximus Gatan sama sekali ga didengar wanita hiperaktif ini.</p>



<p>Sukses bikin Maximus Gatan tepok jidat, &#8220;Okey, terima kasih atas penjelasannya, Lalana.&#8221;</p>



<p>&#8220;Sama-sama, Maximus.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kembali ke tempatmu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Negatif!&#8221; tolak wanita itu tegas dalam sikap siap.</p>



<p>&#8220;Negatif? Apa kamu baru aja bantah perintah komandanmu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Tempat saya adalah di sisimu, Maximus!&#8221; kok kayaknya, sikapnya itu dibuat-buat tegas. Namun ga lama, pecah juga sikap itu, &#8220;Pffft- hhaha! Astaga, saya ga pernah cocok ama yang beginian.&#8221;</p>



<p>Sekali lagi, sukses bikin Maximus Gatan tepok jidat, &#8220;Zal, Rovanik.&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap!&#8221; Si Hidden Soldier, dan Berserker mata singa yang jawab bersamaan, segera hampiri Lalana dan menarik paksa wanita itu kembali ke formasi.</p>



<p>&#8220;Sini lu! Bikin kerjaan aja!&#8221; ujar Si Berserker kesal.</p>



<p>&#8220;Ah! Aaahh! Jangan perkosa aku! Toloong!&#8221;</p>



<p>Ini apa dah? Kok yang begitu bisa jadi anggota Resimen 1?</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color"> &#8220;<em>What make you think I&#8217;m gonna listen to you?</em>&#8221; – <em>Lake (Ch. 51)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 51 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 52:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-52/</a></p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 50:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br> Perlu diingat, kayak Actassi, Gatan punya kebiasaan manggil orang (bukan Accretia) dengan nama belakang. Jadi nama-nama yang disebut olehnya di chapter ini, adalah nama belakang para prajuritnya. <br><br>Regards,<br>Mie Rebus.</p>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/">LAKE CHAPTER 51 &#8211; SOS 6: HECTIC</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 50 &#8211; SOS 5: PROBLEMATIC</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:32:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1575</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;More shield will always make things better.&#8221; – Ish&#8217;Kandel (Ch. 12)...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/">LAKE CHAPTER 50 &#8211; SOS 5: PROBLEMATIC</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>…<em>Benteng Solus, Area Perawatan…</em></p>



<p>-Sebelum jatuhnya pesawat kargo Armada Udara Federasi-</p>



<p>&#8220;Tau ga? Harusnya lu ga perlu mukul gw sekeras itu,&#8221; ujar seorang pria berambut coklat kemerahan agak panjang. Di pipinya tercetak tanda kepalan tangan yang masih segar, alias berasap. Hasil luapan emosi dari Wizard wanita yang lagi bersamanya, &#8220;gw berasa jadi korban kekerasan rumah tangga di sini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Lagian sih salah sendiri! Tau-tau bilang butuh bantuan ternyata dengan muka mesum lu asik gendong perempuan itu kaya pengantin baru di depan mata gw! Siapa coba yang ga bakal sewot!? Tau diri kek dikit! Udah minta bantuan kelakuan lu malah begitu! Minta banget dianiaya kan namanya!&#8221; Si Wizard pirang itu nyerocos ga pake titik koma. Mata hijaunya menajam, ekspresikan kekesalan yang coba ditahan.</p>



<p>&#8220;Mu&#8230; mesum!? Demi sempak Accretia, muka gw emang kaya gini dari dulu!&#8221; balas si Infiltrator. Dia jadi ga kalah sewot usai mukanya dihina.</p>



<p>&#8220;Iya, emang! Udah sadar, kan!? Bagus deh kalo sadar dari dulu muka lu tuh mirip om-om pedofil yang lagi berburu loli!&#8221; pedas perkataan tersebut merambat dari telinga si pemuda, langsung ke hati.</p>



<p>Biarpun udah sering hadapi omongan tanpa filter dari kawan sejak kecilnya, tapi kali ini, sukses bikin pemuda itu berlutut sambil remas jantung, dan merasa ditikam lembing dari depan. Sama sekali ga berniat adu argumen. Karena dia tau, baru sekali bicara, bakal dibalas 100 kali, &#8220;K-kalo ngomong… lu tuh ya, kalo ngomong kaya ga punya tenggorokan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Humph! Bodo!&#8221; masih tersisa kekesalan di garis wajah Si Wizard. Dia buang muka ke arah lain, enggan menatap lawan bicara. Namun seketika, ekspresinya berubah serius, &#8220;jadi, bantuan apa yang lu butuhkan?&#8221; Intonasi pun langsung menurun begitu wanita itu memutar badannya, dan amati sosok perempuan berambut coklat pendek yang ga sadarkan diri di atas kasur bersprei putih ruang perawatan, &#8220;siapa dia?&#8221;</p>



<p>&#8220;Elka Nordo,&#8221; pemuda berambut coklat kemerahan itu bangkit dari lantai, dan melangkah ke samping Si Wizard wanita, &#8220;gw yakin lu pernah dengar nama itu, sekali atau dua kali.&#8221;</p>



<p>&#8220;Oh, ya. Lulusan terbaik Ranger Corps taun lalu, kan? Kadet yang kabarnya ga pernah meleset pas latian menembak?&#8221;</p>



<p>Si Pemuda merespon dengan satu anggukan, sebelum jelaskan situasi, &#8220;Pingsan abis lawan orang ga dikenal berjubah hitam. Tapi anehnya, dia pingsan tanpa terima serangan. Bahkan, lawannya sama sekali ga keluarkan senjata.&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa? Kok bisa?&#8221; alis pirang kiri Wizard wanita itu sedikit terangkat.</p>



<p>&#8220;Dia tumbang usai dengar rentetan kata dalam bahasa asing yang diucapkan sosok berjubah hitam. Takutnya, itu mantra kutukan,&#8221; jawab si pemuda lugas, &#8220;gw mau tau apa yang sebenarnya terjadi. Lu ahli dalam hal macam ini, Lamia.&#8221;</p>



<p>&#8220;Intinya, lu minta gw pulihkan dia?&#8221; kali ini wanita itu menghadap pada si pemuda, kedua tangan terlipat di depan dada, dan menatap sepasang mata merah secara langsung, &#8220;gw ini Wizard, ingat? Bukan Holy Chandra.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tentu gw ingat. Dan bukan, gw ga minta lu pulihkan dia,&#8221; Lace membantah pernyataan kawan masa kecilnya. Mata merah balas tatapan mata hijau, &#8220;gw tau lu punya indra spiritual yang sensitif, dan bisa deteksi aktifitas Force&nbsp;<em>sekecil</em>&nbsp;apapun. Gw butuh bantuan lu untuk cari tau, mantra macam apa yang dirapal bangsat berjubah hitam itu,&#8221; raut mukanya berubah 180 derajat. Ga ada lagi yang tadi dibilang mirip om-om pedofil berburu loli.</p>



<p>Lace yakin, kalo emang benar mantra adalah penyebab Elka tumbang, berarti harusnya masih ada aktifitas Force tertentu di tubuh Si Infiltrator perempuan. Efek apa yang diberikan mantra itu, gimana cara antisipasinya, berapa lama masa efektif, dan lain-lain. Informasi-informasi semacam itu bisa jadi penting. Karena saat ini, dia sama sekali ga tau&nbsp;<em>apa</em>&nbsp;yang sedang dihadapi.</p>



<p>Tatapan Lace dan Lamia saling bertemu di satu titik untuk beberapa lama. Kemudian Lamia hela napas. Dia lebih dari paham tabiat lelaki ini. Liat keseriusan, serta determinasi lelaki yang secara diam-diam disukainya, mana mungkin wanita pirang itu sanggup bilang &#8216;tidak&#8217;, &#8220;Oke, gw mengerti. Tapi sebelumnya… boleh tanya satu hal?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Boleh.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ke-kenapa,&#8221; Lamia tampak ragu lancarkan pertanyaan, &#8220;kenapa lu… bersamanya?&#8221; lagi, wanita pirang itu buang muka ke samping.</p>



<p>Lace berkedip cepat liat reaksi imut wanita di depannya, lalu tetiba jadi sumringah, &#8220;Ahha, lu cemburu ya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak! Jawab aja sih, dungu!&#8221; Muka Lamia merona semerah tomat, jadi tambah lucu. Kekesalan yang sempat memudar, balik lagi akibat ledekan lelaki berambut coklat kemerahan. Si Pirang layangkan kepalan tangan kiri ke muka Lace untuk kedua kalinya.</p>



<p>Tapi kali ini, tinju perempuan itu sukses ditangkap tangan kanan Lace tanpa kesulitan berarti. Pemuda itu menyimpul senyum tipis, &#8220;Maaf, Lamia. Gw ga bisa kasih tau.&#8221;</p>



<p>Mata hijau Lamia melebar, sesaat tanpa sadar napas tertahan. Dia sadar, kalo Lace lagi kaya gini, ini pasti misi rahasia lain yang diemban sebagai bagian dari Skuad Taktis Rahasia.</p>



<p>Skuad Taktis Rahasia adalah skuad yang dirahasiakan keberadaannya. Otomatis para anggota pun dirahasiakan identitasnya. Lace misalnya, mungkin orang boleh tau siapa itu Royal Lace Lachrymose. Seorang Infiltrator biasa aja yang menajamkan kemampuan melalui tempaan Badan Intelijen Pusat. Namun cuma segelintir orang, bisa dihitung dengan jari, yang tau bahwa Lace punya nama kode saat bertugas sebagai anggota Skuad Taktis Rahasia,&nbsp;<em>Phantom Lifethief.&nbsp;</em>Dan Lamia salah satu dari segelintir orang tersebut.</p>



<p>&#8220;<em>Rahasia</em>&nbsp;lagi?&#8221; Si Wizard mau memastikan. Dan Lace sekedar angguk kepala guna jawab pertanyaan tersebut, masih belum lepas genggaman pada tangan Lamia, &#8220;Selalu. Selalu, tiap saat ada aja misi berbahaya, dan lu dilarang untuk bicara apa-apa,&#8221; ucapnya lirih seraya tertunduk lesu, &#8220;gw benci mereka.&#8221;</p>



<p>&#8220;Lamia, jangan bilang begi-&#8220;</p>



<p>&#8220;Sejak lu jadi anggota&nbsp;<em>Skuad itu</em>, gw merasa lu makin jauh, tau?&#8221;</p>



<p>&#8220;Oi, lu ngomong apa sih? Gw di sini, di depan lu. Sama sekali ga jauh.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, tapi&nbsp;<em>terasa&nbsp;</em>jauh. Sampe gw ga bisa meraih lu lagi.&#8221;</p>



<p>Lace tertegun dengar ungkapan perasaan Lamia. Pemuda itu selalu tau, rahasiakan sekian banyak hal dari orang terdekatnya ga pernah jadi solusi utama. Tapi ga ada yang bisa dilakukan Si Infiltrator. Ceritakan semua pada Lamia bukanlah pilihan. Dia di bawah sumpah untuk mengemban misi dalam bayang, tanpa diketahui, tanpa terdeteksi. Semua itu harga yang harus dibayar begitu dia setuju direkrut jadi anggota Skuad Taktis Rahasia.</p>



<p>&#8220;Lu sadar kan, kita masih pegangan tangan?&#8221; jadi dia berusaha cari jalan keluar lain untuk tenangkan gelisah kawan masa kecil, &#8220;maaf, mungkin gw jarang cerita ini-itu, dan main rahasia-rahasian juga bukan keinginan gw,&#8221; katanya. Lalu telunjuk kiri pemuda itu menunjuk pada kepalan tangan Lamia yang masih bersarang di telapak tangan kanannya, &#8220;liat ini? Ini bukti, kalo gw ga pernah jauh. Lu&nbsp;<em>selalu&nbsp;</em>bisa meraih gw kapanpun lu mau. Dan gw janji,&nbsp;<em>ga akan&nbsp;</em>pernah jauh dari lu, Siluman Gunung.&#8221;</p>



<p>Lamia angkat wajah, sejenak melirik dua tangan mereka yang masih pegangan. Terus lanjut telusuri senyum Lace lebih seksama. Senyum yang selalu jadi pengingat, kenapa dia bisa suka pada lelaki ga jelas macam ini.</p>



<p>Lalu dengan tenaga ekstra, perempuan pirang itu dorong tangan kirinya. Bikin telapak tangan kanan Lace ikut terdorong, dan hantam bibir sendiri, &#8220;Ufft!&#8221;</p>



<p>&#8220;Ga usah ngatain segala, Kutil Anabola!&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>…<em>Sektor Solus…</em></p>



<p>-Di waktu yang sama-</p>



<p>Sementara itu di daerah perbukitan hijau sektor Solus, terlihat sebuah MAU tipe Catapult merah gelap terparkir gagah. Pada sisi lengan kiri Catapult yang merupakan senapan mesin terdapat cat putih bertuliskan &#8216;Razoreniye&#8217;, sedangkan di lengan kanan terpampang ejaan &#8216;Desastre&#8217; dengan gaya huruf ga terlalu rapih. Ciri khas paling menonjol dari mesin perang salah satu Wakil Archon Federasi. Dan jajaran komando, baik Aliansi Suci, ataupun Kekaisaran udah tau, mereka wajib waspada bila Armor Unit merah gelap&nbsp;<em>bertanda&nbsp;</em>itu terjun ke lapangan.</p>



<p>Pilotnya ga lain ga bukan, adalah seorang wanita berambut oranye bergelombang. Jubah putih berlambang Federasi tersemat di punggungnya. Tampak beberapa MAU Goliath, dan Catapult hitam berada ga jauh di sekeliling unit merah gelap. Total ada 16 unit termasuk milik Sang Wakil Archon.</p>



<p>Para Armor Rider lain sedang berada di luar unit masing-masing, berbaris rapih dengan sikap istirahat di tempat di hadapan Maximus Izcatzin.</p>



<p>Total mereka berjumlah 30 personil. Ga semua anggota merupakan Armor Rider. Terlihat juga personil-personil Hidden Soldier, Infiltrator, Shield Miller, bahkan Wizard. Prajurit-Prajurit terpilih Federasi yang tergabung dalam Divisi Artileri Bellato.</p>



<p>Bicara soal Wizard, tentu kehadiran seorang Spiritualist terasa agak janggal di tengah para pengguna senjata api kelas berat. Tapi tunggu dulu. Bila bicara soal api, maka Wizard yang satu ini ga bisa ditinggal, atau dibuang ke tim lain.</p>



<p>Wizard perempuan berambut pink panjang yang dikuncir dua, berdiri di sebelah Armor Rider dengan rambut cepak warna burgundy. Gelagatnya tampak gelisah, dan kelewat ga tenang berada di tengah keramaian begini. Tengok kanan, tengok kiri, kedua telapak tangan saling bertaut dan agak gemetar.</p>



<p>Kini di tengah sinar mentari yang sedikit demi sedikit mulai tertutup gumpalan awan, Sang Maximus tengah memberi instruksi singkat pada seluruh anggota tim guna menanggulangi pasukan Accretia yang kian mengancam wilayah pendudukan para Bellatean.</p>



<p>&#8220;Dengarkan saya baik-baik! Infiltrator, saya mau daerah ini jadi ladang ranjau! Pasang semua trap yang kalian punya, hadang rute pelarian bagi pasukan darat Kekaisaran yang mundur. Untuk para Armor Rider, saya akan bagi kalian dalam 2 tim! Tim pertama, sebagai garis depan penahan gempuran para kaleng tanpa otak. Kita akan koordinasi dengan Resimen 1, Satuan Tugas Gabungan!&#8221; perintah Izcatzin lantang, &#8220;dan tim kedua, tim sergap. Seperti yang kalian tau, potensi kerusakan garis belakang para kaleng ga bisa dipandang sebelah mata!&#8221; Wakil Archon wanita ini masih keliatan membara, begitu bernapsu dari tiap kalimat yang keluar dari mulutnya, &#8220;tapi ini daerah kita! Tanah kita! Tentu kita jauh lebih kenal daerah ini ketimbang mereka!&#8221;</p>



<p>Patriot-Patriot elit yang berbaris begitu serius pasang telinga. Garis wajah mereka didominasi determinasi kuat, dan ketegasan. Biarpun ga bisa dipungkiri, sedikit ketegangan juga pasti ada di sudut hati, tapi mereka ga bisa tunjukkan keraguan kalo ga mau kena semprot Wakil Archon wanita yang terkenal keras.</p>



<p>&#8220;Karena itu, dirikan parimeter di sini. Saat kita bisa tahan pasukan garis depan sejauh area 5 kilometer dari benteng, saat itulah Kekaisaran akan coba memajukan pasukan artileri. Mereka pikir dengan cara itu, bisa memaksa kita mundur. Tapi salah! Kita akan lakukan serangan dadakan ketika pasukan artileri kaleng mulai masuk jarak serang! Hidden Soldier, dan Shield Miller, tugas kalian sebisa mungkin backup unit-unit yang mengalami kerusakan!&#8221; semangat para Prajurit di bawah komandonya ikut terbakar. Izcatzin memang tipikal komandan yang ganas, serta eksplosif, &#8220;dan jangan lupa, hancurkan semua Striker pengecut yang kalian liat! Hujani besi-besi rongsok itu dengan peluru dan ledakan! Jangan biarkan mereka lari! Preteli baut-baut yang mereka punya! Jangan sisakan satupun! Kalo mereka pikir bisa melawan kita di Sektor Solus, kita akan buktikan, seberapa fatal kesalahan mereka!&#8221;</p>



<p>Dan kata-katanya, meski sering tergolong kasar, namun selalu berhasil menyulut kobaran tekad di dalam dada, &#8220;SIAP, MAXIMUS!&#8221; teriak tiap-tiap anggota, kecuali satu orang.</p>



<p>Ya, di antara barisan Prajurit yang menjawab seruan perang Izcatzin, ada satu orang yang menutup mulut. Dan malah menatap ke arah lain, bukan tertuju pada Komandan di depan. Seolah ada hal lain yang lalu lalang di pikiran.</p>



<p>Hal itu ga luput dari mata hijau giok Izcatzin. Maka, dia memanggil prajurit itu, satu-satunya Sentinel di antara mereka, perempuan berambut hitam dicepol, &#8220;Captain Hash&#8217;Kafil!&#8221; nadanya agak membentak, bikin keadaan hening seketika. Pandangan Hash&#8217;Kafil jadi teralih pada wanita oranye, &#8220;Maju!&#8221;</p>



<p>Dengan enggan, Sentinel muda itu keluar dari barisan, dan ambil langkah ke depan. Mata hitam agak sayu menatap langsung ke mata hijau giok Sang Komandan, tanpa ada rasa takut, atau gelisah. Dia istirahat di tempat, menanti apa yang akan diucapkan Izcatzin selanjutnya.</p>



<p>&#8220;Ga ada yang menyuruhmu istirahat, Captain,&#8221; kata Izcatzin datar.</p>



<p>Lalu Hash&#8217;Kafil ganti sikap berdiri jadi siap, masih dengan keengganan yang terpancar dari raut wajahnya.</p>



<p>&#8220;Dari tadi saya perhatikan, kamu ga fokus terhadap arahan saya. Semoga kamu ga keberatan untuk jelaskan, hal menarik apa yang ada di kepalamu pada kami semua,&#8221; biarpun nada bicara Izcatzin ga naik, tapi tetap terdengar penuh tekanan bagi Prajurit lain. Ditambah tatapan galak si tante, mereka lega, dan bersyukur ga harus berdiri di tempat Hash&#8217;Kafil.</p>



<p>&#8220;… Ga ada, Maximus,&#8221; jelas perempuan ini menolak untuk ungkapkan apa yang lagi dipikirkannya.</p>



<p>&#8220;Kalo begitu jelaskan, kenapa kamu keliatan ga dengarkan instruksi dari saya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Tanpa mengurangi rasa hormat, itu cara saya supaya lebih konsentrasi,&#8221; jawab Hash&#8217;Kafil ga kalah datar, &#8220;maaf, tapi saya dengar dan ingat&nbsp;<em>tiap kata&nbsp;</em>yang anda ucapkan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ho, yang benar?&#8221;</p>



<p>&#8220;… Ya.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Tiap&nbsp;</em>kata?&#8221;</p>



<p>&#8220;Keras dan jelas, Maximus.&#8221;</p>



<p>Sentinel junior, dan Armor Rider senior lanjut berbalas tatapan lebih lama. Belum ada lagi perkataan yang keluar dari mulut keduanya. Ketegangan sunyi yang terjadi antara dua perempuan itu berhasil bikin anggota lain menelan ludah. Padahal, Sang Wakil Archon sama sekali ga marah-marah.</p>



<p>Sebenarnya, Izcatzin hendak perintahkan Hash&#8217;Kafil untuk ulangi apa aja instruksi yang udah dia beri. Tapi, seketika benaknya berkata itu bakal percuma. Dia ingat Hash&#8217;Kafil, seorang Kadet Ranger yang berotak ga kalah encer dari lulusan terbaik taun lalu. Dia tau, percuma juga marah-marah pada perempuan muda di depannya. Lagipula, sorot mata hitam itu sama sekali ga tunjukkan gentar dari tiap kalimat terucap. Seolah ga terpengaruh segala macam tekanan.</p>



<p>Kalo Izcatzin disuruh memilih apa kekurangan paling fatal yang dimiliki bawahannya yang satu ini, maka dia akan bilang, sikap. Tante rambut oranye kurang suka sikapnya yang tampak ga menaruh perhatian saat orang bicara, &#8220;Lain kali gunakan cara lain untuk lebih konsentrasi, Captain. Kembali ke barisan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap, Maximus,&#8221; Hash&#8217;Kafil beri sikap hormat. Begitu dapat balasan dari Izcatzin, dia balik badan, dan kembali ke tempat dia berdiri sebelumnya.</p>



<p>Hal itu cukup mengejutkan bagi Prajurit lain. Mengingat komandan mereka punya hobi ga ragu luapkan emosi pada suatu hal yang ga disukai, mereka ga menyangka Hash&#8217;Kafil bisa lolos dari bom waktu nyaris meledak.</p>



<p>&#8220;Oke, persiapkan semua yang kalian butuhkan. Tim 2 akan dipimpin oleh Conquest Gillard,&#8221; kata Izcatzin.</p>



<p>Yang ditunjuk menjawab, &#8220;Siap, Maximus,&#8221; seorang pria bertubuh tegap, dan berisi untuk ukuran Armor Rider. Dia punya potongan rambut tipis pendek, dan bertekstur kasar. Rambutnya biru gelap, dengan sepasang mata coklat kehitaman.</p>



<p>Sang Wakil Archon beranjak dari hadapan anggotanya, &#8220;Bubar!&#8221;</p>



<p>Dengan satu kata tersebut, maka buyarlah barisan rapih tadi. Masing-masing personil mulai bersiap, dan pastikan semua peralatan berfungsi optimal. Ga terkecuali Hash&#8217;Kafil, yah, biarpun dia memilih tempat agak jauh dari timnya. Perempuan itu memeriksa 4 Crossbow yang biasa digunakan, sambil sesekali cek Log misi yang dia bawa.</p>



<p>Sebenarnya, dia udah bohong pada atasan. Tentu Si Sentinel junior punya sesuatu yang terus dipikirkannya sedari tadi. Ga liat ada satupun pesan, atau panggilan, dia putuskan untuk hubungi duluan. Ditinggalkan sejenak kegiatan cek peralatan tersebut.</p>



<p>Beberapa saat menanti jawaban dari seberang sana. Ga sampe setengah menit, panggilannya diangkat, &#8220;<em>Hey, sis.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Buruk rupa, gimana keadaan Ibu?&#8221; dia bertanya.</p>



<p>&#8220;<em>Kami belum tiba di sana. Tapi gw yakin Ibu baik-baik aja,</em>&#8221; jawab kembarannya di tempat lain.</p>



<p>&#8220;… Gw harap begitu,&#8221; Hash&#8217;Kafil ga bisa memungkiri, hal yang paling menyita fokusnya sampe-sampe dia ditegur adalah keselamatan sang Bunda tercinta. Tapi dia menolak untuk utarakan hal itu di depan khalayak ramai, &#8220;ingat, Ibu harus jadi prioritas utama lu.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Lu ga perlu bilang, gw udah tau,&#8221;&nbsp;</em>suara Ish&#8217;Kandel terdengar serius dan berat. Jarang-jarang kembaran lelakinya keluarkan nada demikian, &#8220;<em>hey, sis. Gimana keadaan di sana?</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;… Ga buruk,&#8221; tukas Hash&#8217;Kafil singkat. Tetiba, angin berhembus sepoi. Seolah ingin menenangkan kecamuk batin Si Sentinel. Biarpun dari luar senantiasa keliatan sinis dan acuh ga acuh, tapi hati orang, ga da yang bisa memetakan. Dia tutup mata sejenak, nikmati pergerakan udara di wajah serta rambutnya. Lalu berkata, &#8220;buruk rupa, tolong bilang Ibu… gw sayang dia.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Hah!?</em>&nbsp;<em>Apa lu bilang!?</em>&#8221; respon kaget dari Ish&#8217;Kandel bikin Hash&#8217;Kafil seketika jauhkan Log misi dari telinga, &#8220;<em>hey, hey! Kenapa lu bilang begitu!? Asal lu tau ya, kalo di cerita-cerita perang, tokoh yang ngomong begitu, udah pasti bakal tewas!</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Geez… tenanglah. Gw ga niat mati muda,&#8221; tapi Hash&#8217;Kafil menanggapinya kalem, dan santai, &#8220;cuma jaga-jaga aja. Udah cukup lama… sejak terakhir kali gw bilang itu padanya.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Maaf, sis. Gw ga bisa,</em>&#8221; ucap Ish&#8217;Kandel lugas.</p>



<p>Mata hitam Hash&#8217;Kafil sedikit melebar, dan melirik ke Log misi di telinga kanan. Dahinya bergerut, &#8220;Apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Gw ga akan sampaikan sepatah katapun!</em>&nbsp;<em>Lu harus bilang sendiri ke Ibu! Lu bakal kembali, dan bilang langsung bahwa lu sayang padanya!</em>&#8220;</p>



<p>Lagi-lagi Hash&#8217;Kafil terdiam beberapa detik, kali ini wajahnya ditundukkan, &#8220;… Buruk rupa, tolong, berhenti jadi brengsek sekali ini aja.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Gw ga peduli!</em>&#8221; kembarannya menyentak, &#8220;<em>gw ga peduli… seberapa parah lu bisa jadi menyebalkan. Gw… cuma pengen lu tetap hidup,</em>&#8221; kali ini suara Ish&#8217;Kandel sedikit lirih. Jelas kalo lagi dibalut rasa khawatir. Hash&#8217;Kafil belum bilang apa-apa. Ga dengar ada jawaban, Ish&#8217;Kandel menyahut lagi, &#8220;<em>lu dengar gw, sis!?</em>&nbsp;<em>Berjanjilah lu akan bertahan di luar sana!</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Tutup mulut lu,&#8221; kalimat penutup terlontar dari mulut, &#8220;bro,&#8221; sebelum ibu jari Hash&#8217;Kafil akhiri panggilan singkat itu. Layar Log misi yang telah menghitam, masih ditatapnya sembari pikirkan kata demi kata yang diucapkan si saudara kembar.</p>



<p>Sentinel perempuan itu simpan kembali Log, dan lanjut cek peralatan tertunda.</p>



<p>Terbesit di ingatan, satu kalimat yang pernah terucap dari salah satu rekan semasa jalani pendidikan Ranger Corps terdahulu. Kadet lulusan seangkatan yang juga memilih jalan sebagai Sentinel. Satu kalimat yang bikin dia selalu kesal padanya karena udah berlagak sok tau, padahal orang itu ga bisa jawab pas ditanya tentang tujuan waktu itu, &#8220;<em>Ada hal lain, selain tujuan yang lu kejar.</em>&#8220;</p>



<p>&#8220;Mungkin lu ada benarnya,&#8221; bibir sensual Hash&#8217;Kafil menyimpul senyum tipis setelah sadar bahwa dia masih punya hal lain. Hal lain yang bisa dijadikan bukti nyata kalo dia masih semangat, dan terus berjuang jalani hidup.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>…<em>Markas Besar Bellato, Teleport Utama…</em></p>



<p>&#8220;Kenapa, Ish?&#8221; tanya seorang Berserker perempuan berambut hijau pada satu-satunya anggota skuad pertama. Sedari tadi, wanita berkulit lebih gelap ini memerhatikan Ish&#8217;Kandel yang keliatan emosi saat terima panggilan dari Log misi. Muka pemuda berambut pirang itupun ga bisa dibilang baik seperti biasa.</p>



<p>Mata kuning Ish&#8217;Kandel masih belum lepas dari layar Log misi usai disuruh &#8216;tutup mulut&#8217; oleh Hash&#8217;Kafil. Umumnya, orang akan marah, atau kesal, atau jengkel bila dapat balasan seperti itu setelah utarakan perasaan mereka. Tapi Ish&#8217;Kandel enggak, &#8220;… Saudari gw bilang hal-hal aneh.&#8221;</p>



<p>Karena dia sadar akan sesuatu. Hash&#8217;Kafil menyebutnya &#8216;bro&#8217; sesaat sebelum tutup panggilan. Entah harus senang, atau makin khawatir. Senang karena baru kali ini Hash&#8217;Kafil berhenti memanggilnya &#8216;buruk rupa&#8217;, tapi sekaligus khawatir, dan sisakan pertanyaan di benak kepala kuning, angin apa yang bikin dia bertingkah kaya begitu?</p>



<p>Ish&#8217;Kandel dan Hash&#8217;Kafil memang bukan kembar identik. Wajah mereka teramat mirip, namun berbeda. Beda warna mata, beda warna rambut, beda gaya bertarung, beda sifat, beda kelamin. Ditambah lagi dari kecil, Sang Ibu, Husaile Ilkash, membesarkan mereka dengan cara yang unik. Husaile selalu menanamkan di pikiran anak-anaknya, bahwa walaupun terlahir kembar, bukan berarti mereka harus selalu sama.</p>



<p>Kalo biasanya anak-anak kembar lain akan pake baju dengan corak, motif yang sama, punya mainan serupa, atau satu kesukaan, atau pendapat ga jauh beda, maka Ish&#8217;Kandel dan Hash&#8217;Kafil ga punya hal semacam itu. Mereka diajari untuk jadi berbeda, dan ga terikat dengan status &#8216;kembar&#8217;. Husaile ingin mereka menganggap diri mereka tetaplah individu terpisah yang punya hak untuk berekspresi sesuai keinginan, punya prespektif masing-masing, serta memilih kehidupan sendiri.</p>



<p>Hasilnya, walau ujung-ujungnya mereka berdua memilih jadi tentara, Ish&#8217;Kandel tumbuh jadi individu periang, dan suka bercanda, biar kata candaannya sering garing. Senang berkenalan dengan orang-orang baru, dan antusias dalam ilmu beladiri menggunakan pedang dan perisai.</p>



<p>Sedangkan Hash&#8217;Kafil seorang wanita sinis nan jutek yang punya mulut setajam belati, ga segan lempar celaan. Ga pernah senang bersosialisasi, dan lebih memilih asingkan keberadaan. Ga peduli biarpun dunia ketiban asteroid, perempuan itu tetap akan berjalan di jalur yang telah dia tetapkan.</p>



<p>Tapi di balik sederet perbedaan tersebut, mereka tetaplah bersaudara. Berbagi darah yang sama. Ish&#8217;Kandel lebih dari tau betapa sulit untuk jalin hubungan akrab dengan saudari kembarnya. Berusaha tolerir segala sikap minus yang dimiliki Hash&#8217;Kafil bukan suatu hal mudah.</p>



<p>Ga pernah suka mulut Hash&#8217;Kafil yang kerap kali bilang dia jelek, buruk rupa, brengsek, tampang blo&#8217;on, mulut baskom, rambut feses, dan celaan-celaan lain yang ga kalah menyakiti hati. Namun ga peduli seberapa besar ketidak-sukaan itu, Ish&#8217;Kandel ga pernah menyangkal bahwa dia tetap sayang, dan amat peduli pada Hash&#8217;Kafil.</p>



<p>&#8220;Emang dia bilang apa?&#8221; Sirvat bertanya lagi.</p>



<p>&#8220;… Dia nyuruh gw buat bilang ke Ibu, bahwa dia sayang padanya,&#8221; Ish&#8217;Kandel menatap lantai saat jawab, sembari simpan kembali log misi, &#8220;gw cuma… cemas. Bisa aja itu pertanda… sesuatu bakal terjadi.&#8221;</p>



<p>Sirvat paham, masalah seputar keselamatan Sang Bunda tercinta yang bikin ish&#8217;Kandel memaksa untuk ikut ambil bagian buat pertahankan Benteng Solus. Meski pada akhirnya cuma dapat izin untuk ikut evakuasi warga sipil, tapi bagi Ish&#8217;Kandel, itu udah lebih dari cukup.</p>



<p>Benar kata Ish&#8217;Kandel, kata-kata semacam itu emang bisa jadi pertanda kejadian buruk akan menimpa Hash&#8217;Kafil. Dan Sirvat juga merasakan hal yang sama, sebenarnya. Tapi di saat begini, ada baiknya pikiran negatif dibuang dulu jauh-jauh.</p>



<p>Liat anak buahnya murung, tentu ga bisa dibiarkan. Sirvat meninju pelan bahu Ish&#8217;Kandel, &#8220;Hey,&#8221; bikin Ish&#8217;Kandel menoleh ke arah wanita berpangkat Caters, &#8220;ga perlu cemas berlebihan. Mungkin gw ga begitu kenal saudari lu, tapi dia termasuk anggota pasukan elit, kan?&#8221; satu senyum tersimpul di bibir pemimpin skuad pertama resimen 18, tangan kanannya diangkat setinggi dada, dan mengepal keras, &#8220;dia bakal meratakan para kaleng sampe akar, dan pulang hidup-hidup!&#8221;</p>



<p>Sejenak, Ish&#8217;Kandel mengamati reaksi yang diberikan Sirvat. Dia sadar, Berserker wanita ini berusaha menghibur. Dan bersyukur dalam hati, betapa beruntung dia punya skuad leader yang suportif. Peduli, ga sungkan bikin moril anak buahnya bangkit lagi.</p>



<p>Dalam benak kepala berambut kuning, dia ingat-ingat lagi tiap kata yang terucap dari mulut Hash&#8217;Kafil barusan. Di antara sekian banyak orang di Novus, Ish&#8217;Kandel lebih kenal Hash&#8217;Kafil ketimbang orang lain. Dan kalo Hash&#8217;Kafil bilang, &#8220;<em>Ga niat mati muda,</em>&#8221; maka saudarinya akan berpegang teguh pada kata-katanya.</p>



<p>Si Shield Miller percaya akan hal itu.</p>



<p>Alhasil, Ish&#8217;Kandel menampar keras kedua pipi dengan kedua tangan sendiri. Begitu nyaring bunyinya. Mengutuk diri, betapa tololnya dia, bisa biarkan hal seperti itu mengalihkan konsentrasi, &#8220;Ya, lu benar. Mungkin gw aja yang terlalu mikir berlebihan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia akan laksanakan tugas dengan baik, Ish,&#8221; Sirvat langkahkan kaki menuju teleport utama. Begitu lewat di samping Ish&#8217;Kandel, punggung tangan kanan wanita itu menepuk dada Si Shield Miller yang terlindung plat armor cukup tebal, &#8220;fokus. Karena gw butuh lu untuk lakukan hal yang sama.&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap, Caters!&#8221;</p>



<p>Dengan itu, bersama resimen lain dari Satuan Tugas Gabungan, mereka berangkat menuju Benteng Solus.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>…<em>Benteng Solus, Area Perawatan…</em></p>



<p>Telapak tangan kanan dari seorang Wizard pirang keluarkan Force tipis hijau kebiruan, lagi menyusuri tubuh Elka dari ujung rambut hingga kaki dengan perlahan. Memastikan ga ada spot yang luput dari jangkauan Forcenya. Di belakang, Lace sekadar nonton cara kerja Lamia. Udah beberapa menit dia melakukan hal ini, dan belum ada tanda bakal berhenti.</p>



<p>&#8220;Jadi, gimana?&#8221; Tanya Lace singkat.</p>



<p>&#8220;… Ga terasa adanya anomali,&#8221; jawab Lamia, tanpa hentikan kegiatannya.</p>



<p>&#8220;Serius? Ga satupun?&#8221;</p>



<p>Usai pertanyaan ketiga, Lamia menurunkan telapak tangan seraya geleng kepala, &#8220;Ga ada yang salah dengannya. Dia baik-baik aja.&#8221;</p>



<p>Mata merah Lace sedikit melebar ga percaya, &#8220;Lu yakin? Mungkin lu harus coba lagi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dari awal masuk ruangan ini, gw ga merasakan sesuatu yang ganjil. Tadinya, gw juga kurang yakin. Terus gw dengar penjelasan lu, dan putuskan buat teliti lebih jauh. Tapi setelah gw periksa, ga salah lagi… semua benar-benar normal,&#8221; Wizard itu menghadap pada lawan bicara. Dua tangan terlipat di depan dada, &#8220;dia baik-baik aja,&#8221; dan mengulang poin utama dari diagnosa.</p>



<p>&#8220;Tapi… gimana bisa? Gw liat dengan mata kepala sendiri, dia pingsan gegara ucapan pria berjubah hitam,&#8221; Si Infiltrator lelaki masih ga bisa terima pernyataan dari kawannya.</p>



<p>&#8220;Gw harap bisa menjelaskannya, tapi… gw ga bisa. Gw juga ga tau kenapa bisa begitu,&#8221; Lamia menjawab. Mata hijaunya kembali menelisik tubuh wanita yang terbaring di kasur, &#8220;yang jelas, mantra Force bukan penyebab dia ga sadarkan diri.&#8221;</p>



<p>Lace beranjak menuju sebuah kursi di ruangan ini, lalu duduk di situ. Tubuh agak membungkuk seraya kedua tangannya mengusap wajah sendiri, seakan begitu lelah cari jawaban, &#8220;Ga bisa dipercaya.&#8221;</p>



<p>Masih banyak kepingan puzzle yang belum berada di tempatnya. Ditambah lagi, keadaan Solus yang lagi siaga satu, bikin pikiran Si Infiltrator terpecah juga. Riuh di luar area perawatan terdengar makin meningkat. Beberapa skuad dari Satuan Tugas Gabungan tampaknya telah tiba, dan langsung memulai tugasnya. Para penduduk sipil yang bermukim di Benteng, dan sekitarnya mulai dievakuasi menuju Markas Besar.</p>



<p>Otak Lace lagi merangkai beragam kemungkinan tentang siapa musuh sebenarnya yang harus lebih diwaspadai Federasi saat ini. Apakah Kekaisaran Accretia, atau organisasi yang disebut pria bernama Eznik, Ultimatum? Apa hubungan Elka dengan mereka?</p>



<p>Tapi diliat dari keadaan serta gelagat pria bermantel hitam yang terkesan enggan melawan, mungkin mereka belum bisa dibilang ancaman.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><em>Sebuah ingatan bak dua sisi koin yang berbeda. Bisa jadi pengingat tentang betapa indah kehidupan yang terlalui, tapi di lain sisi, juga bisa jadi pengingat bagaimana pahitnya ketika menapaki jalan menuju dunia tanpa arah.</em></p>



<p><em>Kelebatan tentang rasa paling pahit yang pernah dialami Elka saat usianya baru menginjak angka 12, seolah bangkit lagi dari dasar memori paling dalam. Perempuan itu terus berusaha menguburnya jauh-jauh. Melupakannya, menimpanya dengan ingatan lain, namun ga peduli apapun yang dia lakukan, ingatan itu ga akan pernah hilang.</em></p>



<p>&#8220;<em>Heyy, lu lapar?&#8221; tanya seorang anak berambut kelabu.</em></p>



<p><em>Elka menatap anak itu, wajahnya ga terlihat. Hitam, seperti kena sensor. Sekedar mengangguk padanya seraya rapatkan selimut kusam yang udah sobek-sobek, Dia kedinginan malam itu. Pertengahan musim gugur di Kota Yazpen bikin suhu udara lebih rendah dari biasanya.</em></p>



<p><em>Mereka berdua sedang mencoba tidur di salah satu sudut Kota, tepatnya gang lembab tanpa penerangan. Kedua anak itu telah memutuskan untuk hidup bersama setelah kehilangan anggota keluarga masing-masing.</em></p>



<p>&#8220;<em>Gw mau cari sesuatu dulu buat dimakan,&#8221; ujar anak lelaki itu sambil bangkit, dan kasih selimutnya pada Elka.</em></p>



<p><em>Tapi tangan halus Elka meraih tangan anak lelaki itu, &#8220;Jangan,&#8221; mencegahnya pergi, &#8220;jangan tinggalkan gw sendiri.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Ga akan,&#8221; anak lelaki itu berbalik, dan mengusap rambut coklatnya, &#8220;cuma sebentar kok. Ya?&#8221;</em></p>



<p><em>Pegangan Elka perlahan melemah. Usapan anak lelaki itu bisa sedikit jadi obat penenang, rupanya. Walau masih ada sedikit penolakan, tapi kepala bermahkota coklat ga kuasa untuk menggeleng. Malah mengangguk pelan.</em></p>



<p><em>Dengan itu, si anak lelaki pergi entah ke mana. Elka cuma terpaku menatap ujung gang. Suhu dingin kian menggelitik kulit halusnya, sukses bikin dia kembali rapatkan selimut. Kali ini dua lapis. Si gadis remaja berusaha pejamkan mata, berharap terjun bebas ke alam lelap sembari menunggu anak lelaki itu kembali.</em></p>



<p><em>Setelah beberapa menit, akhirnya Elka setengah terlelap. Namun hal itu ga lama. Sepertinya keadaan hendak cegah gadis itu dapat istirahat yang cukup. Di tengah malam yang sunyi, telinganya menangkap bising sirine petugas keamanan, dan juga derap langkah kaki. Lebih dari satu orang menuju gang tempatnya bermalam.</em></p>



<p><em>Elka buka sedikit kelopak mata, dan mengintip dari balik selimut. Ada 4 Bellato dewasa tampak bersembunyi di ujung gang sana. Napas mereka memburu, dan terengah. Pertanda habis lari dari kejaran. Ada dua yang memakai penutup mulut berwarna hitam, yang satu bahkan memakai penutup wajah, waspada pada keadaan di luar gang, dan ga sadar akan keberadaan individu lain di gang ini.</em></p>



<p><em>Tentu hal ini bikin gadis berambut coklat gelisah. Karena Elka liat di salah satu tangan mereka memegang pisau. Ga butuh seorang jenius untuk tau siapa orang-orang ini. Kalo ga maling, ya rampok. Tapi kayanya pilihan kedua lebih tepat.</em></p>



<p><em>Tubuh gadis itu mulai gemetar, bukan cuma gegara kedinginan, tapi juga takut. Dia berdoa dalam hati semoga si anak lelaki cepat kembali. Semoga empat orang itu ga sadar dia di sini. Semoga petugas keamanan sadar bahwa yang mereka cari ga jauh bersembunyi.</em></p>



<p><em>Tapi 2 dari 3 doanya bak ga didengar. Si anak lelaki belum kunjung kembali, dan sirine petugas keamanan baru aja melewati gang ini. Keempat orang itu melepas penutup mulut, serta wajah yang mereka kenakan, dan bernapas lega sembari menertawakan betapa tololnya kemampuan para petugas keamanan. Satu diantara mereka paling tua, usia paruh baya. 3 sisanya terlihat seperti remaja dewasa.</em></p>



<p><em>Dan doa terakhir Elka… lagi-lagi ga terkabul. Salah satu dari mereka sadar akan sosok lain di gang ini. Elka terkejut tau-tau dilirik, dan langsung tarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.</em></p>



<p><em>Pria itu kasih tau tiga kawannya yang lain, dan berjalan mendekat pada gadis itu. Jantung Elka berdegup keras, berusaha minimalisir suara napas agar ga terdengar.</em></p>



<p><em>Selimut yang menutupi tubuhnya ditarik paksa oleh salah satu pria, memperlihatkan tubuh gadis yang mulai berbentuk, menginjak masa remaja.</em></p>



<p><em>Elka menatap keempat pria itu penuh ketakutan, sedangkan mereka ga peduli. Wajah mereka sama seperti si anak lelaki, hitam, bak disensor. Namun ada satu yang jelas terpampang di sana. Seringai menjijikan penuh hawa napsu.</em></p>



<p><em>Hal yang ga akan pernah bisa dicabut dari ingatan gadis itu. Dia menolak untuk ingat seperti apa rupa mereka, hanya ekspresi. Dan dia membencinya.</em></p>



<p><em>Mulut keempat pria itu bergerak, dan keliatan melempar kata satu sama lain, tapi ga ada satu suara pun keluar. Dia ga ingin mengingat perkataan mereka. Dia berusaha menghapusnya.</em></p>



<p>&#8220;<em>Ja-jangan… tolong…&#8221; kata terbata di tengah campuran antara takut, dan gelisah. Elka belum mau mati, dan juga ga mau &#8216;miliknya&#8217; yang paling berharga direnggut sekarang, direnggut di sini, gang gelap tanpa arti.</em></p>



<p><em>Tapi apa daya, dia ga kuasa melawan. Tubuh gadis itu ditekan ke tanah, dia berontak, meronta, hendak teriak, &#8220;HMPFTT! HMPFFTT!&#8221; namun satu tangan kasar sigap membekap mulutnya.</em></p>



<p><em>Air mata mulai mengalir dari sudut mata Elka. Dia benar-benar ga tau harus berbuat apa. Bingung, panik, dan ga berhenti coba lepaskan diri dari cengkraman 4 orang itu. Tangannya berkali-kali coba mendorong tubuh salah satu dari mereka kuat-kuat, terus memukul, melayangkan tangan ke sana ke mari, kakinya menendang-nendang.</em></p>



<p><em>Percuma.</em></p>



<p><em>Tenaga seorang gadis 12 tahun ga akan sanggup berbuat apa-apa.</em></p>



<p><em>Satu tamparan keras dari tangan kasar pria paruh baya yang berada di atas tubuhnya, mendarat di pipi. Dilanjut dengan seorang lainnya yang menahan kedua tangan Elka supaya diam di tempat, dan melepas paksa celana yang melekat di tubuh gadis itu. Tubuh Elka masih terus meronta, menolak keberadaan mereka. Lalu… satu kali lagi… tamparan. Telak. Dia ingin teriak, tapi ga bisa akibat masih dibekap. Aroma tangan pria-pria ini sungguh ga enak tercium.</em></p>



<p><em>Jadi, dia gigit sekuat tenaga tangan yang berada di mulut, ga pedulikan semerbak bau ga sedap itu. Pria yang menghimpitnya serta-merta kaget, dan menarik tangan dari mulut Elka.</em></p>



<p>&#8220;<em>TOLO- UMMFT!&#8221; namun belum sempat teriakannya selesai, pria lain menyumpal mulut Elka dengan saputangan. Ditambah satu tamparan lagi sebagai hadiah atas apa yang dilakukannya barusan.</em></p>



<p><em>Ekpsresi pria paruh baya itu terlihat marah, jengkel, dia langsung turunkan celana. Mata Elka melotot selebar-lebarnya, dan mulai terisak. Napasnya cepat. Dia menangis saat tau &#8216;mahkotanya&#8217; akan hilang di tangan orang ga dikenal, serta ga bertanggung jawab. Elka tutup mata, dan pasrah terima kenyataan.</em></p>



<p>&#8220;<em>ELKAAA!&#8221; satu teriakan dari si anak lelaki berambut kelabu, sontak bikin Elka buka mata. Secercah harapan. Pandangan mereka semua teralih pada anak lelaki yang berada di ujung gang.</em></p>



<p><em>Ga pake lama, anak itu menjatuhkan makanan yang dibawa, dan berlari secepat yang dia bisa menuju gerombolan pria yang jelas lebih tinggi, dan kuat darinya.</em></p>



<p>&#8220;<em>BAJINGAN LU SEMUA! LEPASKAN DIA, GOBLOK!&#8221; teriak anak berambut kelabu. Siapapun bisa liat jelas, kalo dia lagi kalap.</em></p>



<p><em>Tapi… lagi… apa yang bisa dilakukan anak usia 11 taun? Sekelompok orang dewasa jelas bukan lawan seimbang. Dengan mudah, salah satu dari mereka menendang anak lelaki itu. Keras, sampe bikin dia tersungkur sambil memegang perut.</em></p>



<p><em>Dua orang beralih pada anak lelaki, dan menginjak-injak badannya yang terbilang kurus, sedangkan dua orang lagi ingin &#8216;bermain&#8217; lebih dulu dengan Elka. Gadis itu terbelalak liat si anak lelaki dihajar terus biarpun ga bisa melawan balik.</em></p>



<p>&#8220;S-stop… jangan…<em>&#8221; dia memohon begitu pilu dalam hati,&nbsp;</em>&#8220;dia bisa mati, dia bisa mati, dia bisa mati,&#8221;<em>&nbsp;kemungkinan terburuk itu yang terus terucap di pikirannya.</em></p>



<p><em>Si anak lelaki menatap lesu pada Elka. Dan gadis itu membalas dengan tatapan yang sama.</em></p>



<p><em>Salah seorang dari mereka menjambak rambut kelabu, menghantamkan kepala anak itu sekali ke tanah, lalu arahkan pandangan mata ungu ke Elka yang sedang ditindih pria paruh baya.</em></p>



<p>&#8220;<em>Kalo lu berani melakukannya…&#8221; anak lelaki itu berkata, masih tergeletak, &#8220;gw bunuh lu… gw akan hancurkan sampe ga bersisa… gw bunuh lu…&#8221;</em></p>



<p><em>Tentu gerombolan perampok tau kalo itu cuma gertak sambal. Ancaman kosong. Secara, anak itu aja udah berdarah-darah mukanya. Jadi, bukannya takut, mereka menggelak tawa.</em></p>



<p><em>Dan pria yang berada di atas Elka seakan menantang omongan anak lelaki itu. Malah mendorong pinggulnya… dengan kasar. Merebut hal… yang paling berharga… bagi perempuan. Yang harusnya dijaga sampai ikatan pernikahan tercipta.</em></p>



<p><em>Ga perlu ditanya apa yang dirasakan Elka. Sakit. Perih. Begitu menusuk. Kotor. Isakannya makin menjadi. Tapi saputangan masih terikat di mulutnya, sehingga cuma erangan serta rintih penolakan yang terdengar. Dia merasakannya. Sesuatu masuk dari bawah sana. Sensasi paling buruk yang pernah terasa. Dia membenci sensasi itu. Mengecam dengan tiap serat kehidupan di tubuhnya.</em></p>



<p><em>Pria itu sama sekali ga menggubris apapun yang dirasakan si gadis. Raut wajah paling memuakkan yang pernah tergambar di benak Elka. Sedangkan dua pria lain yang mengurus si anak lelaki, memaksanya jadi saksi kejahatan laknat ini. Sorot mata anak lelaki itu geram bukan main, penuh amarah. Tapi tubuhnya makin lemas karena terus-terusan dipukul, ditendang, diinjak.</em></p>



<p><em>Mereka tertawa, mengejek keputus-asaan korban dari penderitaan yang mereka ciptakan.</em></p>



<p><em>Merasa ternoda. Ga lagi suci. Elka menutup mata. Gelap, hampa. Ingin mati saat itu juga. Dunia serasa kehilangan rotasi untuk sesaat. Kenapa? Kenapa harus terjadi pada dirinya? Kalo aja tadi dia ga ditinggal sendiri, tentu semua ga akan jadi begini.</em></p>



<p><em>Dia ingin mati, dia ingin mati, bunuh dia di sini. Ketimbang terus hidup menanggung semua ingatan pilu nan perih.</em></p>



<p><em>DUAAK!</em></p>



<p><em>Sebuah suara benturan yang begitu nyaring menggema di sepanjang lorong. Elka buka mata, dan betapa kaget begitu liat anak lelaki berambut kelabu lompat, dan pipa besi udah melintang horizontal mengenai kepala pria yang menindihnya, seketika mengucurkan darah, lalu tubuhnya terhempas ke samping dari atas tubuh Elka.</em></p>



<p><em>Pria cabul itu dipukul dari belakang.</em></p>



<p><em>Kaki si rambut kelabu mendarat mulus usai melakukan lompatan. Bercak darah si pria cabul tertinggal di pipa besi berukuran sedang, sebelum menetes ke tanah. Dua pria yang tadi menginjak-injak si anak lelaki keliatan terjatuh, tapi masih sadarkan diri. Mereka pun bangkit diiringi syok ringan. Sedangkan yang satu lagi, yang menahan tangan Elka, tercengang ga percaya.</em></p>



<p><em>Elka menatap wajah anak itu. Sukar dipercaya, kalo tadi mukanya kaya disensor, kini blok hitam yang menutupi muka perlahan hilang. Menampakkan wajah tanpa ekspresi, berhias merah darah akibat luka-luka yang dia terima, &#8220;</em>Lake?<em>&#8220;</em></p>



<p><em>Bola mata ungu itu… begitu berbeda. Ga seperti yang Elka kenal. Ga ada sinar secuil pun di sana. Ga ada perasaan. Membuatnya ragu, apakah dia orang yang sama?</em></p>



<p><em>Anak itu menghunus pipa besi di tangan kanan ke langit, &#8220;</em>We all owe a life,&#8221;&nbsp;<em>lalu ditodongkan ke orang yang tadi menahan tangan Elka, &#8220;</em>i&#8217;ll take yours,<em>&#8221; suara yang terucap juga amat beda. Bak 3 orang atau lebih, bicara bersamaan pake bahasa asing.</em></p>



<p><em>1 tumbang, sisa 3.</em></p>



<p><em>Ketiga pria yang masih berdiri menggerakkan mulut mereka, saling bicara, namun masih tanpa suara. Serentak, mereka maju untuk keroyok anak berambut kelabu itu.</em></p>



<p><em>Elka menatap horror dengan matanya yang sembab gegara terlalu banyak menangis. Anak lelaki itu sanggup mengimbangi 3 orang dewasa. Gerakannya cepat, dan sangat gesit menghindari pukulan serta tendangan mereka.</em></p>



<p><em>Entah Force dari mana yang bikin si rambut kelabu jadi beringas. Tapi liat temannya seperti itu, Elka justru tambah takut. Hantaman demi hantaman dari pipa besi mendarat di tubuh para perampok laknat tersebut. Satu di antara mereka terjerembab ke tanah, dan si anak lelaki langsung menginjak mukanya sekuat tenaga, dilanjut ayunan pipa besi berkali-kali di wajah pria ga berdaya.</em></p>



<p><em>2 tumbang, sisa 2.</em></p>



<p><em>Dia benar-benar ingin menghancurkan mereka.</em></p>



<p><em>Sekujur bulu kuduk Elka merinding. Lake yang dia kenal itu gentle, ga pernah kasar dalam bertindak, dan punya mata yang ga pernah redup sinarnya. Yang begini… ga mungkin dia bisa melakukan… sesuatu seperti ini.</em></p>



<p><em>Dua orang lainnya yang liat hal itu, merasa ngeri dan langsung keluarkan pisau. Ketakutan terpancar dari ekspresi mereka. Tangannya gemetar walau pegang pisau. Satu maju, berbarengan dengan langkah Lake, dan menusuk ke arah depan. Tanpa keraguan sedikitpun, si anak lelaki merentangkan telapak tangan kiri, biarkan tangannya tertembus pisau, lalu genggam erat tangan pria itu.</em></p>



<p><em>Ga ada rasa sakit yang ditunjukkan Lake. Sama sekali ga ada. Seolah tubuhnya ga merasa apa-apa. Padahal, cairan merah kental keluar banyak dari telapak tangan kiri yang sobek ditembus pisau.</em></p>



<p><em>Lawannya ga bisa beranjak ke mana-mana. Kesempatan ini jelas ga di sia-siakan olehnya. Berkali-kali ayunan pipa besi di tangan kanan menghantam kepala, dan lutut orang itu bergantian. Keras. Sampe bunyi tulang retak terdengar ngilu. Tapi itu… ga bikin si rambut kelabu berhenti.</em></p>



<p><em>Akibat tempurung lutut yang udah hancur, pria itu nyaris tumbang. Namun sesaat sebelum tumbang, anak lelaki itu buang pisau yang menancap di tangan kiri, dan membanting kepala pria itu ke bawah. Persis seperti yang dilakukan pria itu padanya tadi.</em></p>



<p><em>3 tumbang, sisa 1.</em></p>



<p><em>Darah yang keluar dari telapaknya, singgah dulu ke ujung jemari, lalu menetes tanpa bisa berhenti. Namun, Lake masih ga acuh terhadap luka yang diderita.</em></p>



<p>&#8220;<em>Cu-cukup… hentikan, Lake…&#8221; bisik Elka. Tubuhnya lemas, serasa ga bisa digerakkan. Kata-kata pun begitu lemah terdengar.</em></p>



<p><em>Yang terakhir hendak lari. Tapi sama, kakinya lemas, dan ga berhenti gemetar. Mungkin terguncang liat partnernya tumbang satu per satu oleh seorang anak kecil. Pria itu berbalik, Lake ga berniat dengarkan bisikan Elka. Jadi dia segera mengejar, dan menjegal kaki pria itu dari belakang.</em></p>



<p><em>Perampok itu terjungkal, sedangkan Lake masih terus berlari kencang. Begitu kepala pria itu berada dalam jangkauan, sambil terus berlari, si rambut kelabu mengayunkan pipa besi dari bawah ke atas. Bikin rahang bawah pria itu pindah seketika .</em></p>



<p><em>Selesai menumbangkan pria terakhir, Lake berbalik, buang pipa besi, dan berjalan menuju pria paruh baya yang telah ukir luka paling dalam bagi Elka. Dentingan pipa besi yang udah didominasi merah, bertemu permukaan beton, jadi pengiring langkah kakinya.</em></p>



<p><em>Si rambut kelabu merenggut kerah baju pria paruh baya yang masih tersungkur. Pendarahan masih terjadi di kepalanya akibat hantaman pertama. Dia membuat pria itu duduk bersandar tembok bangunan.</em></p>



<p><em>Tampak mulut si pria cabul itu komat-kamit mohon ampun. Minta maaf berkali-kali. Tapi semua terlambat. &#8216;Mahkota&#8217; Elka ga bakal kembali cuma dengan penyesalan semata.</em></p>



<p>&#8220;We will kill you…&#8221;<em>&nbsp;satu dengkulan Lake menghantam muka pria itu,&nbsp;</em>&#8220;we will pulverize you…&#8221;<em>&nbsp;lagi, anak lelaki itu melakukan hal yang sama,&nbsp;</em>&#8220;we will kill you…&#8221;<em>&nbsp;terus, dan terus. Impact yang diterima depan dan belakang. Karena kepala pria itu dihimpit dengkulan Lake, dan tembok di belakangnya.</em></p>



<p>&#8220;<em>U-udah, Lake… tolong… berhenti…&#8221; pinta Elka diselubungi ngeri. Dia ga tahan liat pemandangan di depan mata. Ya, dia memang benci pria yang udah melakukan hal keji ini. Tapi dia lebih benci liat Lake kehilangan dirinya.</em></p>



<p><em>Permintaan itu masih bagai masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Si rambut kelabu belum berhenti mengubah struktur wajah pria paruh baya dengan lututnya. Padahal si cabul udah ga bergerak.</em></p>



<p><em>Suara pertemuan antara lutut, dan wajah si cabul sangat mengusik telinga siapapun yang dengar.</em></p>



<p><em>Elka berusaha menghimpun keberanian, serta tenaga untuk berdiri. Gontai, dia melangkah menuju kawannya. Rasa sakit di daerah sensitifnya makin menjadi. Saat Lake ancang-ancang melakukan dengkulan sekali lagi, Elka peluk tubuhnya. Menghentikan anak berambut kelabu dari entah apa yang udah dia lakukan.</em></p>



<p><em>Gadis itu terisak, menangis, dan meminta halus, &#8220;Cukup… gw mohon… cukup…&#8221; pelukannya ga bisa dibilang erat. Lemah, malah. Wajar, dia lapar, kedinginan. Setelah semua yang terjadi… syok dan sebagainya, masih untung kuat berdiri.</em></p>



<p><em>Lake batal melakukan dengkulan selanjutnya. Mata ungu tanpa sinar itu melirik pada Elka di belakang. Kesunyian malam jadi saksi bisu bahwa dia masih dengar permintaan anak perempuan itu. Wajah si pria cabul kini udah penuh darah. Hidung hancur, kepala bocor, bibir sobek, gigi nyaris rontok semua.</em></p>



<p><em>Beberapa saat kemudian, mata ungu tersebut tertutup. Sontak, dia langsung tumbang. Karena Elka juga lemas, ga kuasa tahan berat badan Lake, maka mereka jatuh berdua.</em></p>



<p>&#8220;<em>Uuuhk! Arrgh! Ssshh! Ahhg!&#8221; Lake langsung meringis kesakitan. Napasnya ga terkendali, dan pelan-pelan buka mata. Pupil ungu dengan sinar yang dikenal Elka udah kembali, &#8220;E-elka… maap… maap,&#8221; katanya. Ga lagi pake bahasa asing, &#8220;gw ga bisa melindungi lu… ga ada di saat lu butuh… maap.&#8221;</em></p>



<p><em>Hati Elka makin hancur jadi serpihan. Air mata mengalir lagi, makin banyak kali ini. Lengannya memeluk tubuh penuh luka Lake lebih erat, mendekap penuh kehangatan, &#8220;Lu udah melakukan lebih dari yang seharusnya.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Kuatkan diri lu, Ka,&#8221; tangan kanan Lake mengusap air mata di pipi perempuan itu. Dia tau, luka serta ngilu-ngilu di tubuhnya ga sebanding dengan apa yang dialami Elka, &#8220;tolong… jangan nangis. Gw benci… liat air mata kesedihan lu.&#8221;</em></p>



<p><em>Elka terdiam. Sekuat mungkin menahan isak tangisnya supaya berhenti. Ini semua terjadi karena dia terus handalkan Lake. Membiarkan Lake terbebani tanggung jawab untuk lindungi dia. Malam itu, Elka memutuskan, ga akan pernah mau liat Lake kaya gitu lagi. Malam itu, dia mengucap sumpah untuk berubah.</em></p>



<p><em>.</em></p>



<p><em>.</em></p>



<p>…<em>Benteng Solus, Area Perawatan…</em></p>



<p>Sepasang mata coklat Infiltrator wanita di ruang perawatan mendadak terbuka. Dia abis liat kembali trauma paling mengerikan seumur hidup. Keringat membanjir, tegang, dada terasa sesak. Lace dan Lamia yang masih berada di ruangan ini jelas kaget, tau-tau Elka buka mata.</p>



<p>Elka bangkitkan tubuh, sehingga duduk di kasur. Menatap sekeliling dengan panik, dan ga tenang. Lalu sigap berdiri, dan pengen buru-buru keluar.</p>



<p>Tapi dicegah oleh Lamia, &#8220;Captain Elka, kamu mau ke mana!?&#8221;</p>



<p>Pertanyaan Si Wizard berhasil mengalihkan perhatian Si Infiltrator perempuan. Mata coklat itu menatap Lamia, tapi masih dengan ketegangan, dan gelisah yang ga bisa disembunyikan.</p>



<p>&#8220;Siapa kamu?&#8221; tanya Elka hati-hati.</p>



<p>&#8220;Tenangkan dirimu, Captain. Kamu ada di tempat yang aman,&#8221; kali ini Lace berdiri, dan menghampiri.</p>



<p>Tapi lagi-lagi, Elka pasang sikap waspada. Dan ga diduga, dia keluarkan sebilah belati dari inventori 4 dimensi, lalu langsung menyergap Lamia yang lengah. Tangan kiri Elka mengunci kepala Lamia dengan kuat, &#8220;KYAA!&#8221; pekik Si Wizard.</p>



<p>&#8220;Lamia!&#8221; seru Lace.</p>



<p>&#8220;Siapa kamu!? Siapa kalian!?&#8221; tanya Elka sembari menodong belati ke leher Lamia dari belakang, &#8220;Jawab!&#8221;</p>



<p>&#8220;Captain Elka, apa maksudnya ini!? Lepaskan dia sekarang juga!&#8221; bentak Infiltrator yang lebih senior.</p>



<p>&#8220;Kamu ga jawab pertanyaanku,&#8221; ujung belati Elka udah menyentuh leher Lamia, tapi belum sampe melukai.</p>



<p>Liat ancaman itu, jelas Lace putar otak. Dia ga ingin Lamia dalam bahaya. Saat ini, dia tau Elka lagi ga main-main. Semua kata yang terucap serius 100%, &#8220;Oke, oke… saya Infiltrator, Royal Lace Lachrymose dari Badan Intelijen Pusat. Apa kamu lupa? Saya lawan pertama Lake saat duel Festival Olahraga tempo hari.&#8221;</p>



<p>&#8220;Bohong,&#8221; bantah Elka singkat.</p>



<p>&#8220;A-apa? Saya ga bohong,&#8221; balas Lace.</p>



<p>&#8220;kamu mau menyakitiku, kan!? Iya, kan!?&#8221;</p>



<p>&#8220;L-Lace…&#8221; Lamia merintih gegara merasakan logam dingin makin menekan kulit lehernya.</p>



<p>&#8220;Gak! Jangan! Saya sama sekali ga mau menyakitimu, Captain! Ga ada yang berniat menyakitimu!&#8221; Panik meter Si Infiltrator mulai naik sedikit demi sedikit. Dia ga boleh melibatkan Lamia dalam hal ini. Kalo sampe terjadi apa-apa… dia ga akan bisa terima.</p>



<p>&#8220;Kalo begitu, hentikan apapun yang coba kamu lakukan sekarang ini,&#8221; kalimat Elka bikin mata merah Lace melebar. Karena saat ini, dia sedang berusaha menjerat pikiran Elka dengan Mind Snare. Dan Lace ga menyangka, Elka tau. Rupanya ini ga bakal berjalan mulus.</p>



<p>Mind Snare adalah skill penjerat pikiran yang bekerja bila keadaan target tertekan. Kondisi psikologis yang sedang lemah, merupakan santapan empuk. Tapi, diliat dari keadaan ini, yang tertekan justru si pengguna.</p>



<p>Lace ga berani merogoh inventori untuk ambil busur, atau ambil apapun yang ada di dalamnya. Satu gerakan tiba-tiba yang gegabah, bisa berakibat fatal bagi Lamia. Risikonya terlalu besar.</p>



<p>&#8220;Jatuhkan pisaumu, Captain. Tolong, semua ini tindakan yang ga perlu,&#8221; sekali lagi Lace yakinkan Elka untuk tenang, &#8220;kita bisa bicara baik-baik.&#8221;</p>



<p>&#8220;Diam,&#8221; mata tajam Elka ga lepas-lepas dari sosok Infiltrator lelaki, &#8220;napas perempuan ini ada di tanganku. Aku bisa mencabutnya kapanpun,&#8221; tangan kanannya memberi tekanan lebih pada belati. Ujung lancip yang bersentuhan dengan kulit Lamia, mulai menggores setitik luka, &#8220;berhenti coba menjerat pikiranku, atau dia mati! Pilihanmu, bajingan!&#8221;</p>



<p>Mata hijau Lamia berair. Dia takut. Kuncian Elka begitu kuat, ga kasih kesempatan bagi Lamia untuk lepaskan diri.</p>



<p>Lace meneguk ludah sendiri. Ketegangan ini harus diakhiri tanpa ada yang terluka, gimana pun caranya. Jadi, dia hentikan percobaan, &#8220;Baiklah, kamu menang, Captain. Saya ga akan melakukannya. Sekarang, tolong lepaskan Lamia.&#8221;</p>



<p>Elka belum sepenuhnya percaya pada perkataan Lace. Dia begitu yakin, ada niatan buruk dari lelaki ini. Masih ada trik lain yang disiapkan untuk menyakitinya. Si Infiltrator perempuan tetap siaga.</p>



<p>Mendadak, pintu ruang perawatan terbuka. Dari luar, seorang Berserker wanita berambut hijau dengan kaki kanan mekanik berseru, &#8220;Permisi! Apa ada yang perlu-&#8221; kalimatnya terhenti saat liat sosok perempuan berambut coklat yang dia kenal, lagi menyandera Bellatean perempuan lain, &#8220;-dievakuasi?&#8221;</p>



<p>Celah sepersekian detik ini ga di sia-siakan oleh Lace. Dia langsung menerjang Elka ketika perhatiannya teralih pada Sirvat.</p>



<p>Tapi Elka ga kalah licik. Dia memukul tengkuk Lamia dengan gagang belati, membuatnya pingsan, lalu langsung menghempaskannya ke arah berlawanan. Perempuan berambut coklat pendek berlari menuju pintu keluar yang dihalangi Sirvat.</p>



<p>Lace yang liat hal itu, terpaksa ganti arah. Dia ga mau kepala Lamia sampai terbentur lantai. Pemuda itu menahan tubuh Si Wizard pirang supaya jatuhnya ga terlalu keras.</p>



<p>Sirvat yang belum paham situasi, terpaku dan berusaha mengurai rangkaian kejadian di ruangan ini. Kenapa Elka menyandera sesama Bellatean, kenapa dia seolah bersalah dan mau kabur, juga pertanyaan-pertanyaan lain yang ga sempat ditanyakan. Tapi begitu liat Elka berlari ke arahnya, dia tau apa yang harus dilakukan; ga boleh biarkan Elka keluar dari sini.</p>



<p>Ga pake mikir dua kali, Elka menabrakkan bahu ke dada Sirvat guna menerobos hadangannya. Upaya itu berhasil. Tabrakan Elka sanggup membuat Berserker sekaliber Sirvat terdorong ke belakang, hingga punggungnya membentur dinding, &#8220;UGH!&#8221;</p>



<p>Infiltrator berpangkat Captain tersebut terus berlari menyusuri lorong, dan keluar dari area perawatan dengan cepat.</p>



<p>Setelah angkat Lamia ke kasur ruang perawatan, Lace keluarkan busurnya, dan melangkah keluar ruangan, &#8220;Kamu ga apa-apa, Caters?&#8221; sembari ulurkan tangan bantu Si Berserker berdiri.</p>



<p>&#8220;Ga apa, Royal. Apa yang sebenarnya terjadi?&#8221; tanya Sirvat penasaran.</p>



<p>&#8220;Saya juga pengen tau,&#8221; jawab Lace datar, &#8220;Wizard yang di dalam butuh evakuasi. Saya titip dia, ya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap, Royal!&#8221; Jawab Sirvat lantang, diiringi anggukan kepala.</p>



<p>Ga buang waktu, Si Infiltrator bermata merah lari mengikuti jejak Elka. Berharap dia masih bisa melacak perempuan itu. Perubahan sikap yang terlalu mendadak, dirasa terlalu aneh. Apa pertemuan dengan pria berjubah hitam itu pemicunya? Gerak-geriknya, kestabilan emosi, cara dia bicara, kenapa bisa begitu drastis?</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">  &#8220;<em>More shield will always make things better.&#8221; – Ish&#8217;Kandel (Ch. 12)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 50 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 51:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-51/</a></p>



<p>Previous Chapter > Read Chapter 49:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-49/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-49/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br>Senjata kesayangan Elka, Pinvlad SVR-3 Lightning strike terinspirasi dari senjata yang benar-benar ada di dunia nyata, yakni Pindad SPR-2. Salah satu senapan runduk anti-materil tercanggih di dunia buatan Tanah Air kita.<br>Sekedar pengingat, Elka lebih tua 1 tahun 4 bulan dari Lake. Oh, and Lake didn&#8217;t kill those guys. He just hurt them… really, really&#8230; bad.<br><em>Razoreniye </em>(Russia) = kehancuran, <em>Desastre </em>(Catalan) = Bencana.<br><br>Regards,<br>Mie Rebus.</p>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/">LAKE CHAPTER 50 &#8211; SOS 5: PROBLEMATIC</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>LAKE CHAPTER 49 &#8211; SOS 4: SILENT STARES</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-49/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-49/#respond</comments>
				<pubDate>Tue, 17 Mar 2020 16:27:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[LAKE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1572</guid>
				<description><![CDATA[<p>Lake Penulis: Mie Rebus &#8220;I&#8217;m a military doctor. So… I can break every single one...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-49/">LAKE CHAPTER 49 &#8211; SOS 4: SILENT STARES</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Lake <br>Penulis: Mie Rebus</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Sejenak, sepasang mata hitam milik Si Holy Chandra berpindah pada Faranell yang berdiri terengah, dan Gann yang tiduran sambil atur napas. Mengamati mereka lekat-lekat, lalu balik lagi ke gw tanpa mengucap sepatah kata. Ah, faak. Gw kenal sorot mata datar nan menyebalkan itu. Seakan minta penjelasan terhadap situasi yang kami hadapi. Kenapa bisa seorang Bellatean, dan dua Corite diserang Prajurit-Prajurit Kekaisaran? Hal ini tentu bakal jadi pertanyaan bagi siapapun yang liat.</p>



<p>Tapi tentu, jadi masalah yang lebih bikin repot kalo harus jelaskan secara detil.</p>



<p>Kaki gw berusaha berdiri, seimbangkan berat badan, &#8220;Gw tau apa yang lu pikirkan, Ro…&#8221; sebelum dia keluarkan kata-kata ngeselin, mending langsung cegah dulu, &#8220;… tapi gw bisa jelaskan.&#8221;</p>



<p>Rokai masih belum berkata apa-apa sambil mata kami tetap bertemu. Beberapa detik kemudian mulutnya mulai terbuka, berkata penuh ketenangan, &#8220;Apa gw keliatan kaya orang yang mau dengar penjelasan lu?&#8221; Astaga. Kenapa harus dia sih yang paham pesan acak darurat gw? Kalo aja ga ingat fakta tentang dia satu-satunya yang datang menolong… grrr! Udah gw tabok duluan kali!</p>



<p>&#8220;Coba tabiat lu ga kaya gitu, gw bakal senang bukan kepalang liat muka lu di sini,&#8221; ledek gw sekenanya.</p>



<p>&#8220;Manisnya,&#8221; dia membalas, &#8220;ngaku deh, lu beneran senang kan gw kemari, Tulang Flem?&#8221; woot!? Makin suwe aja ini bocah.</p>



<p>&#8220;Tsk,&#8221; sontak gw berdecih ga suka, &#8220;lu itu dokter kan ya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya,&#8221; responnya, &#8220;kenapa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Bukannya dokter itu punya tugas rawat luka Prajurit di garis belakang? Ngapain lu di sini?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw dokter militer,&#8221; setelah beberapa kali saling lempar pertanyaan, Rokai jawab enteng sambil menatap lurus ke depan.</p>



<p>&#8220;Jadi?&#8221;</p>



<p>&#8220;Jadi…&#8221; tapi ga berapa lama, sepasang mata hitam tersebut balik lagi bertemu mata ungu. Kedua tangannya memutar tongkat perak metalik dua kali, lalu mengetuk tanah dengan ujung bawah, &#8220;… gw bisa patahkan tiap tulang di badan lu sambil sebutkan nama-nama ilmiahnya.&#8221;</p>



<p>&#8220;U-ugh… jangan dong,&#8221; dengar omongan Rokai aja udah ngilu duluan. Soalnya mirip dengan omongan Bellatean wanita gila yang tadi kami lawan. Bikin gw agak bergidik, dan menyilangkan tangan di depan badan.</p>



<p>Haduh, banyak amat yang mau mematahkan tulang gw hari ini. Ga cukup satu apa?</p>



<p>Tetiba, akar-akar tanaman hijau muncul dari tanah. Menjalar dari bawah telapak kaki gw menuju luka tembak di paha. Setelah sampe panjang tertentu, langsung lepas dari tanah. Akar tersebut melilit. Ga terlalu kuat, tapi cukup terasa. Semerbak aroma tumbuhan hijau seketika menyeruak, dibarengi perih yang perlahan berkurang. Haaah… kadang gw lupa, biarpun sifat kami sering bertentangan, dia tetap seorang Kamerad yang sangat bisa diandalkan.</p>



<p>Tapi tetap aja… itu cuma satu poin plus diantara jutaan poin minus yang dimiliki Si Kampret satu ini.</p>



<p>Berkat mantra Force Alam dari Rokai, sel-sel di sekitar luka mulai beregenerasi lebih cepat. Ga instant sih, tapi lumayan buat redam nyeri. Cuman, mantra akar penyembuhan yang dimilikinya masih kalah jauh dibanding Sang Mentor, Conquest Rylit. Ya udahlah, daripada ga sama sekali. Gw ga berhak buat mengeluh. Masih syukur ada yang mau bantu.</p>



<p>&#8220;Kita harus pergi dari sini,&#8221; ujar Rokai tanpa bertatap mata, seraya melangkah menuju mobil tanpa atap yang dikemudikannya kemari, &#8220;gw ga akan sanggup lawan 3 Accretia sendirian.&#8221;</p>



<p>&#8220;Uhm… bukannya lu baru aja menghajar mereka…&nbsp;<em>sendirian</em>?&#8221; tanya gw sarkas.</p>



<p>&#8220;Ya,&#8221; langsung dijawab lugas oleh Si Holy Chandra, &#8220;gw punya prediksi kalo mereka akan bangkit sebentar lagi, dan siap balik menghajar lebih keras,&#8221; tambahnya sembari betulkan posisi kacamata dengan jari tengah kiri.</p>



<p>&#8220;Oke, oke. Sebentar ya, gw ajak mereka dulu,&#8221; kata gw sembari mengarahkan jempol pada Faranell dan Gann.</p>



<p>&#8220;Jangan,&#8221; tapi langsung dapat penolakan mentah-mentah dari Rokai. Hal itu jelas bikin mata gw melebar.</p>



<p>&#8220;A-apa? Apa maksud lu &#8216;jangan&#8217;?&#8221; gw mulai bingung, &#8220;kita ga bisa tinggalkan mereka di sini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tentu bisa. Mereka itu Corite,&#8221; dia balik badan, &#8220;dan gw kemari buat bantu lu, bukan mereka,&#8221; serta masih santai menanggapinya.</p>



<p>&#8220;Ga ada yang tau apa yang bakal dilakukan para Accretia itu bila mereka ditinggal begitu aja! Mereka bisa dibunuh! Apa-apaan ini, Ro!? Gw kira lu setuju-setuju aja!&#8221; nada bicara gw tertahan, biar ga terdengar oleh Faranell dan Gann.</p>



<p>Di belakang kemudi, Rokai menghela napas berat, &#8220;Ga mau dengar penjelasan apapun, bukan berarti gw setuju atas semua tindakan yang lu lakukan, Jenius. Sekarang naiklah, kita ga punya banyak waktu. Benteng Solus lagi siaga satu. Armada Udara Kekaisaran makin dekat.&#8221;</p>



<p>Solus… siaga satu!? Armada Udara Kekaisaran!? Berarti bukan Cuma Gabber dan dua kawannya yang bakal datang ke sini!? Apa tujuan mereka? Tu-tunggu… jangan bilang kalo… arrrgh! Masa iya gw sih!? Ga, ga, ga! Bukannya terlalu berlebihan kalo sampe menurunkan Armada Udara buat mengincar&nbsp;<em>SATU&nbsp;</em>Bellatean menyedihkan macam gw ini?</p>



<p>&#8220;Eyy,&#8221; sahutan Rokai buyarkan lamunan barusan, &#8220;kenapa mendadak diam kaya orang dungu? Buruan naik.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak,&#8221; tolak gw tegas, &#8220;gw mohon, Ro. Bantu mereka juga. Kondisi mereka sangat lemah.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Dan bawa mereka ke mana?&#8221; tanya Rokai menusuk, &#8220;lu ga bisa minta gw antarkan mereka ke territorial Aliansi, itu sama aja bunuh diri.&#8221;</p>



<p>Sejenak gw terdiam, mulut tertutup rapat, menatap intens lawan bicara. Pertanyaan tersebut tepat banget. Kita harus bawa mereka ke mana!? Aih, kenapa baru kepikiran sekarang coba?</p>



<p>Setelah putar otak kilat, mulut ini akhirnya mengucap satu-satunya solusi yang lewat, &#8220;Kalo gitu, kita bawa mereka ke zona aman Federasi,&#8221; gw tau ini bukan jawaban terbaik. Sinting, tepatnya. Tapi patut dicoba. Layak buat liat gimana reaksi Rokai.</p>



<p>Si kampret malah langsung menyalakan mesin mobil, &#8220;Baiklah, gw pergi dari sini. Silahkan lakukan sendiri. Semoga beruntung.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tu-tunggu! JANGAN!&#8221; gw langsung panik dan menerjang slot kunci kendaraan, &#8220;faak! sekarang lu mau tinggalkan gw sendirian!? Tega! Teman macam apa itu!?&#8221; terus gw matikan kembali mesinnya, dan cabut kunci tersebut.</p>



<p>&#8220;Kembalikan. Kuncinya,&#8221; perintah Rokai datar.</p>



<p>&#8220;… Silahkan lakukan sendiri, Dokter Sinting.&#8221;</p>



<p>Dia turun dari bangku kemudi, sedangkan gw mundur sambil tetap berhadapan dengannya. Percikan kilat putih kebiru-mudaan mulai terkumpul di telapak tangan kiri Si Holy Chandra, &#8220;Gw ga mau menambahkan luka di badan lu. Jadi-&#8220;</p>



<p>&#8220;Lu ga bakal bisa melakukannya,&#8221; potong gw sok berani padahal sambil telan ludah. Shite. Semoga dia ga benar-benar serius menanggapi omongan gw tadi. Jiper nih boss, liat Force Badai siaga.</p>



<p>Tatapan Rokai menajam, seolah sanggup mengiris-iris mata gw jadi puluhan bagian. Setengah menit dia melakukannya, lalu melangkah maju. Gw tau bakal sulit untuk yakinkan Si Dokter Sinting. Bahkan detik ini pun, gw yakin dia masih ogah kasih Faranell dan Gann tumpangan. Semoga dia berubah pikiran.</p>



<p>Si Holy Chandra masih maju dengan santai, otomatis gw mundur rada tegang. Ga dengar ada respon sama sekali, gw bicara lagi, &#8220;Lu dokter, kan? Udah jadi tugas lu menolong siapapun yang terluka, atau sakit.&#8221;</p>



<p>Dia berhenti.</p>



<p>Gw berhenti.</p>



<p>Kilat yang terkonsentrasi tadi perlahan padam. Dia tampak perlu waktu lebih buat mencerna perkataan tersebut. Sekejap Rokai pejamkan mata, sembari mengusap muka pake tangan kanan, &#8220;Gw akan menyesali keputusan ini,&#8221; gumamnya pada diri sendiri, &#8220;oke, naikkan mereka.&#8221;</p>



<p>&#8220;YESS!&#8221; gw berseru gembira, &#8220;makasih, Ro. Emang deh… lu yang terbaik!&#8221;</p>



<p>&#8220;Luar biasa, lu bisa menyeret gw ke dalam masalah ini.&#8221;</p>



<p>Kata-kata barusan lebih terdengar seperti keluhan bercampur sindiran, ketimbang pujian. Tapi gw ga menanggapi karena udah terlanjur jalan menuju Faranell. Khawatir juga padanya, liat gimana dia paksakan diri tadi, padahal kondisi Forcenya ga lagi prima.</p>



<p>&#8220;Hai,&#8221; sapa gw seraya melempar senyum begitu sampai di depan Si Grazier Wanita, &#8220;gimana keadaan lu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Capek,&#8221; jawabnya cepat. Wajah tertunduk, tertutup helai poni ungu, dan napas Corite ini masih ga karuan. Ga heran. Peristiwa yang kita lalui sejauh ini emang termasuk kategori melelahkan.</p>



<p>&#8220;Bisa jalan?&#8221;</p>



<p>Paras wajah anggun di depan gw menampilkan segaris senyum di tengah peluh membanjir, disusul anggukan kepala. Satu-dua gores luka kini telah menghias beberapa bagian tubuh, serta wajahnya yang ayu. Tatapan mata kuning itu sepintas teralih pada Bellatean berambut hitam, &#8220;Dia…?&#8221;</p>



<p>Di benak gw langsung terbesit kata, &#8220;<em>Bala bantuan,</em>&#8221; tapi yang terucap dari mulut justru beda, &#8220;… orang asing yang cukup dekat.&#8221;</p>



<p>Untuk sesaat, Faranell keliatan ga paham. Tapi ga terlalu mempermasalahkan, &#8220;Dia… hebat,&#8221; satu pujian yang keluar dari mulutnya jelas bikin gw terhenyak.</p>



<p>Dan untuk kali ini, ga bisa dipungkiri. Gw setuju, &#8220;Ya, hebat,&#8221; sudut bibir gw sedikit tertarik ke atas, membentuk senyum tipis. Kemudian langsung ingat kalo kita ga bisa berlama-lama, &#8220;ayo, Faranell. Kita ga bisa di sini terus.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ah!&#8221; mendadak, Faranell terlonjak bak ingat sesuatu, &#8220;Gannza!&#8221; dia memutar tubuh ke tempat di mana Gann tergeletak, &#8220;kita harus bantu dia!&#8221; walau terhuyung-huyung, dia tetap beranjak ke sana. Dan gw mengikuti.</p>



<p>Begitu masuk jarak pandang Si Grazier lelaki, dia berujar, &#8220;Kamu tau? Aku nyaris timpakan segala kutukan padamu saat Faranell ngotot cegah para kaleng karatan itu bawa kamu pergi.&#8221;</p>



<p>Ugh, diungkit lagi masalah itu. Dia ga tau aja, gw lah yang bakal paling terbebani kalo sampe Faranell celaka akibat tindakan nekat barusan. Secara ga langsung, dia kan terseret juga gegara gw. Tapi kayanya, Gann ga perlu tau. Mulut gw rada malas jawab panjang lebar, &#8220;Ya, gw tau. Maap.&#8221;</p>



<p>&#8220;Heyy… udah dong, Gann,&#8221; Si rambut ungu langsung menegur selagi melingkarkan lengan Gann di bahunya, bantu Gann berdiri, &#8220;jangan bahas yang ga penting.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kamu juga, bikin cemas aja,&#8221; walau dari tadi kata-kata Gann berintonasi rendah, namun jelas terasa kesal, &#8220;aku tau kamu bisa panggil lebih dari satu Animus. Tapi tolong… jangan pernah lakukan itu&nbsp;<em>lagi</em>, Faranell. Apa kamu lupa pas terakhir kali kamu panggil Isis dan Inana dalam satu waktu? Dan tadi, kamu berniat panggil empat!? Apa kamu udah hilang akal sehat!?&#8221; E-empat Animus!? Faranell beneran bisa melakukannya!?</p>



<p>Jujur, gw terkesiap. Sebenarnya seberapa hebat kemampuan Faranell dalam bidang Spiritual? Di balik keluguan sikap, tindakan, serta pemikiran wanita ini, masih tersimpan misteri yang ga ada hentinya mengejutkan gw.</p>



<p>&#8220;A-ah… tapi… t-tapi, tapi kan… ga jadi,&#8221; bantah Si Grazier wanita terbata. Haish, ga tau diuntung amat ni curut. Faranell khawatir padanya, plus udah dipapah pula, dan liat apa yang didapat? Omelan. Cakep.</p>



<p>Gw mendekat pada mereka berdua, dan dengan sengaja sedikit menubrukkan lengan ke luka di perut kiri Gann. Faranell ikut kaget liat tindakan gw itu, &#8220;A-AAW!&#8221; harusnya sih ga terlalu sakit. Tapi mengingat tusukkan tombak Vednala lumayan parah, cukuplah bikin dia mencak-mencak, &#8220;apa maksudnya itu, Cebol!?&#8221;</p>



<p>Sambil dengan santai lingkarkan lengan kiri Gann di bahu, bantu Faranell memapahnya, gw berkata, &#8220;Untuk ukuran Prajurit yang luka parah, lidah lu masih jago silat ya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hah!?&#8221;</p>



<p>&#8220;Lu terlalu banyak ngomel, Bung. Faranell dari tadi mikirin lu terus. Ga berhak lu kesal padanya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Cih, kamu berkata begitu karena ga tau apa-apa!&#8221; gigi Gann sedikit menggertak, tapi ga menolak bantuan dari gw, &#8220;memang apa yang kamu tau tentang Animus!? Apa kamu tau akibat bila seorang Grazier nekat panggil empat Animus sekaligus!?&#8221;</p>



<p>Bibir gw udah terbuka, siap melancarkan argumen balik. Tapi keduluan, &#8220;Cukup!&#8221; seru Faranell, otomatis bikin gw dan Gann tersentak. Lagi, dia mengucap. Pelan kali ini, &#8220;… cu-cukup,&#8221; cuma dengan satu kata dua kali ucap dari Grazier berambut ungu, perdebatan singkat kami berhenti.</p>



<p>Emang konyol sih kalo dipikir lagi. Bukan saatnya adu argumen di tengah kondisi ga aman begini. Biarpun beda bangsa, tapi saat ini, kami tengah berdiri untuk pertahankan hal yang sama. Napas kami. Gw paham akan hal itu. Namun, liat gimana ekspresi Faranell saat Gann ditembus tombak, saat dia buru-buru menghampiri Gann yang tergeletak, berusaha sekeras mungkin bantu temannya lewati ancaman kematian… gw ga bisa terima aja, setelah semua itu… dia malah kena bentak.</p>



<p>Ya, gw ga tau apa-apa tentang Animus. Tapi… setidaknya lu bisa berhenti jadi menyebalkan untuk sesaat di kala ada orang yang khawatir pada lu, kan?</p>



<p>…</p>



<p>Di perjalanan pulang, ga ada obrolan apapun terdengar. Sunyi. Keadaan jadi agak canggung sebenarnya. Faranell dan Gann langsung ga yakin begitu tau kalo mereka mau dibawa ke zona aman Federasi. Jelas mereka hendak menolak, dan bukan hal gampang untuk yakinkan mereka. Apalagi Si Grazier lelaki yang kepalanya macam dibuat dari batu.</p>



<p>Tapi gw jelaskan kabar terbaru tentang keadaan Sektor Solus, dan gimana mereka ga punya banyak pilihan. Tentu kita akan pikirkan solusi lebih lanjut, setidaknya setelah tiba di tempat yang sedikit lebih aman ketimbang di sini. Dan setelah lempar pendapat sana-sini selama 2 menit, akhirnya, mereka setuju.</p>



<p>Rokai sama sekali ga bilang apa-apa pada mereka. Padahal, Gann dan Faranell masih pake Jade Talk. Berarti, perkataan mereka harusnya juga bisa dimengerti oleh Si Holy Chandra. Namun dia benar-benar biarkan gw yang berkomunikasi dengan kedua makhluk dari Bangsa lain ini.</p>



<p>Bangku kemudi berada di sebelah kanan, gw lirik pemuda berambut hitam yang konsentrasi ke arah depan. Dia keliatan santai. Ga jauh beda kaya waktu dia datang dengan tangan kiri di kemudi, dan tangan satunya bertumpu pada pintu. Gw setengah berbisik, &#8220;Makasih.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gw benci lu,&#8221; balasnya ketus seraya mata tetap tertuju ke depan.</p>



<p>Entah kenapa dengar respon begitu, gw malah ketawa kecil dan berujar, &#8220;Gw tau,&#8221; seolah tau kalo Rokai ga benar-benar serius mengucapkannya.</p>



<p>Yah, cuma sebatas itu apresiasi yang bisa gw berikan atas usahanya. Bukan masalah seberapa menyebalkan sikap yang dia miliki, namun dia udah datang membantu di saat gw terjepit situasi.</p>



<p>Tetiba ekspresi Rokai berubah begitu liat kaca spion, dan langsung banting stir ke kiri! Tindakannya benar-benar tanpa peringatan. Jelas bikin gw serta kedua penumpang lainnya kaget setengah mampus dan buru-buru pegangan! Sebuah ledakan di sisi kanan kendaraan ini langsung memekakkan telinga. Tepat di tanah, hamburkan debu serta kerikil.</p>



<p>Faranell memekik, &#8220;A-apa yang-&#8220;</p>



<p>Holy Chandra berambut hitam menyela, &#8220;Mereka siap balik menghajar lebih keras.&#8221;</p>



<p>Sontak kami bertiga, selain Rokai, tengok ke belakang. Di kejauhan, berdiri Accretia berarmor hijau yang sebelumnya menembak kaki gw, ganti senjata pake launcher. Masih tersisa asap keluar dari moncong senjata berat tersebut. Sedangkan Gabber, dan rekannya yang berzirah merah, udah meluncur menuju tempat kami dengan cepat!</p>



<p>Mesin booster di punggung kedua kaleng rombeng tersebut, menyala dan berderu. Si zirah merah ga pake perisai, melainkan cuma sebilah pedangnya kali ini supaya bisa bergerak lebih cepat. Sukar dipercaya, mereka keliatan masih dalam kondisi prima walau udah kena rentetan serangan Force Rokai tadi! Seolah cuma alami kerusakan minor.</p>



<p>&#8220;Ro, gimana nih!?&#8221; tanya gw setengah panik.</p>



<p>&#8220;Lu bisa nyetir?&#8221; dia malah balik nanya, tapi masih kalem.</p>



<p>&#8220;Hah!?&#8221;</p>



<p>Tanpa persetujuan, ataupun jawaban dari gw, dengan seenaknya dia lepas tangan! &#8220;Urus kemudinya,&#8221; lalu beranjak dari bangku kemudi menuju bagian belakang mobil!</p>



<p>&#8220;Wawawaa! Gila lu!&#8221; gw berusaha tahan kemudi sebelum berputar ga terkendali, &#8220;bilang-bilang dulu kek! Bikin jantungan, tau ga!?&#8221; masih untung ga sempat jungkir balik ini mobil!</p>



<p>Kemudian, gw berusaha pindah tempat duduk sembari tetap memegang kemudinya. Sedangkan Rokai menggapai tongkat perak metalik dengan tangan kanan, serta pijakkan kaki kiri ke tepian belakang kendaraan, tepat di tengah antara Gann dan Faranell, &#8220;Minggir sedikit,&#8221; ucapnya pelan namun tegas.</p>



<p>&#8220;Apa yang mau kamu lakukan, Bellatean?&#8221; tanya Gann.</p>



<p>Si Dokter Sinting ga langsung jawab, melainkan kambuh penyakit sok kerennya. Dia biarkan pendar oranye menyelimuti lengan kiri terlebih dulu. Di saat yang sama, ga alihkan pandangan dari kedua Prajurit mesin yang lagi meluncur penuh napsu, &#8220;… Daur ulang,&#8221; Force Api di lengan Rokai berkobar lebih intense, perlahan menggumpal di telapak tangan kiri, dan membentuk bola api cukup padat.</p>



<p>Accretia berzirah merah melaju lebih cepat daripada Gabber, efek bawa senjata lebih ringan. Otomatis membuatnya jadi paling dekat dari posisi kendaraan kami yang tengah bergerak. Liat Si Zirah Merah makin mengikis jarak, Rokai lempar bola api di telapak tangannya sedikit ke atas, dan langsung ayunkan tongkat sihir untuk memukul bola api tersebut sekuat tenaga! Persis gaya orang yang lagi main Baseball.</p>



<p>Bola Api kreasinya menghujam deras, dan hasilkan ledakan lumayan besar begitu berbenturan dengan Zirah Merah! Asap seketika mengepung sosok Prajurit besi tersebut. Namun jangan kira situasi udah aman terkendali.</p>



<p>Soalnya, dari balik kepulan asap, terlihat sinar matahari memantul dari bilah pedang satu tangan. Mercenary itu menebaskan senjatanya secara horizontal!</p>



<p>&#8220;Kalian butuh lebih dari api untuk hentikan kami,&#8221; ucap Mercenary berzirah merah.</p>



<p>&#8220;Cih,&#8221; Rokai tampak kesal liat fakta mantra apinya ga sanggup menghambat Prajurit Kekaisaran itu. Dia membentangkan tongkat sihir di sisi kiri, seketika tempratur udara terasa turun di sekitar kendaraan yang kami tumpangi. Si Holy Chandra sigap menyelimuti tongkat hingga sekujur lengan dengan lapisan es, bersiap menyambut serangan Si Zirah Merah.</p>



<p>Adu senjata jelas ga bisa dihindari. Bunyi pedang penuh hawa membunuh, dan tongkat sihir metalik dibalut es saling bertemu! Ayunan Prajurit besi itu sungguh kuat sampe bikin lapisan es yang dibuat Rokai hancur jadi serpihan, dan berserakan ke mana-mana.</p>



<p>Fokus gw terbagi jadi dua. Antara terus ke depan, dan sesekali memantau aksi yang terjadi di belakang dari spion dalam. Faak! Gw pengen bantu, tapi nanti siapa yang nyetir? Kayanya ga mungkin juga menyerahkan kemudi pada salah satu Corite ini. Yang ada langsung nyasar ke kuburan.</p>



<p>Jadi cuma satu yang bisa gw lakukan, tetap injak pedal gas dalam-dalam, dan berharap Si Dokter Sinting mampu menahan mereka.</p>



<p>Peraduan itu ga berlangsung lama. Faranell tampak sadar Rokai kesusahan meladeni dorongan kaleng merah, jadi dia langsung melakukan sesuatu. Dia angkat tangan kanan, dan melebarkan telapak. Lingkaran sihir hijau gelap muncul di sisi kiri atas Grazier berambut ungu, dan dari dalamnya, meluncur keluar kepalan tangan kiri besar dari Animus Paimon!</p>



<p>Suara nyaring kembali terdengar. Kali ini akibat pukulan Paimon bersinggungan dengan kepala logam Zirah Merah.</p>



<p>Kaget terima serangan dadakan, Accretia tersebut terjungkal ke tanah, muka duluan, dan guling-guling di belakang kendaraan ini. Lu mamam tuh! Emang enak digampar Paimon? Makan pasir pula.</p>



<p>&#8220;Hahh, hahh, hahh, hahh…&#8221; kami bisa dengar napas Faranell. Pertanda dia melakukan itu dengan sisa tenaga yang ada. Tangan kanannya masih terangkat, tapi wajahnya menunduk.</p>



<p>&#8220;Faranell, cukup! Jangan lagi kamu panggil Animus! Kondisimu Forcemu memburuk! U-Uukh!&#8221; omel Gann setelahnya. Tapi dia langsung meringis sambil menekan luka tusuk di rusuk kiri.</p>



<p>Rokai menatap Si Grazier wanita yang terlampau lelah. Kemudian, berpindah pada kawannya di sebelah. Dia hela napas berat sembari merogoh inventori 4 dimensi, &#8220;Lumayan,&#8221; di genggaman tangan kiri, ada biji-bijian. Pemuda berambut hitam menggenggam dengan dua tangan kali ini, lalu merapal mantra, &#8220;Plant Form; Nature&#8217;s Armor.&#8221;</p>



<p>Seperti yang pernah dilakukan mentornya, biji-bijian itu langsung tumbuh jadi tanaman rambat dan melilit Faranell dan Gann, &#8220;I-ini?&#8221; lenguh Faranell lemah.</p>



<p>&#8220;Jangan lakukan apapun,&#8221; ujarnya santai sambil lepas kacamata, dan bersihkan lensa, &#8220;karena ada seseorang yang mempertanyakan reputasi gw sebagai dokter,&#8221; gw melirik padanya melalui spion dalam, dan diapun melakukan hal yang sama, lalu kembali pake kacamata, pandangan kami bertemu via spion tersebut, &#8220;sekarang gw ga bisa biarkan ada yang mati di depan mata.&#8221;</p>



<p>Gw nyengir sembari kembali liat jalan di depan, sedikit meledek, &#8220;Ups, keceplosan.&#8221;</p>



<p>Tapi serius, gw sangat bersyukur dia ada diantara kami.</p>



<p>Dari spion samping, terlihat Prajurit berzirah hijau yang ternyata seorang Striker, udah pasang Siege kit! Mata gw membulat makin lebar pas liat pendar biru keindahan mulai terpusat di ujung launcher, perlahan makin membesar.</p>



<p>&#8220;Tulang Flem! Compound! Belok kanan!&#8221; mendadak seruan Rokai lantang terdengar. Kembali bikin gw sadar kalo kita masih dikejar.</p>



<p>Tentu gw langsung tersadar, dan telat bereaksi. Pikiran jadi agak kacau, &#8220;Uh, uhm, Faak! Kanan lu, atau kanan gw!?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kanan lu lah, dungu!&#8221; bentaknya kesal.</p>



<p>SHITE! SHITE! SHITE! Sontak gw banting stir ke kanan, hindari tembakan dahsyat yang terpaut beberapa meter di sisi kiri! Ledakannya lagi-lagi menghamburkan tanah berkerikil.</p>



<p>Akibat hindaran tadi, Gabber jadi bisa mempersempit jarak! Padahal, harusnya dia ga bisa mengejar kami sambil bawa-bawa spadona sebesar itu.</p>



<p>Si Punisher melayang lebih tinggi, dan mengangkat Spadona di atas kepala. Rokai mendongak, ga sedikitpun lepas pengamatan dari Gabber, &#8220;Cari pegangan,&#8221; katanya pada kami bertiga.</p>



<p>Serta merta, gw merasakan benturan luar biasa keras dari belakang! Spadona Gabber menghantam bagian belakang kendaraan militer ini dari atas! Gaya tekan ke bawah yang ga main-main, bikin bagian depan terangkat untuk beberapa detik! Wuanjiiir! Sarap ini mah, saraaap! Ngetril gini macam di film Pas dan purius!</p>



<p>Sejenak gw tengok belakang, Faranell pejamkan mata kuat-kuat dan lingkarkan kedua lengan di bangku kemudi, &#8220;KYAA!&#8221;</p>



<p>Sementara gigi Gann menggertak penuh kegelisahan, &#8220;HRRGH!&#8221;</p>



<p>Cuma satu orang yang tetap buka mata, dan terlihat begitu tenang hadapi keadaan begini. Dan yang bisa gw liat hanya punggung Si Holy Chandra karena dia masih fokus pada para pengejar. Kedua kakinya begitu lihai cari pijakan. Tangan kiri pegangan kuat pada tulang chasis kendaraan, tangan kanan menodong tongkat sihir pada Gabber, dan diputar searah jarum jam, &#8220;Typhoon Bane.&#8221;</p>



<p>Satu sentakan kuat dari ujung tongkat sihirnya mengirim peluru angin ga kasat mata. Tenaga dorong ekstra besar langsung menerjang bahu kiri Gabber! Namun, itu belum cukup untuk bikin dia lepas dari kendaraan kami! Jadi, Rokai melakukannya sekali lagi.</p>



<p>Tembakan angin kedua sukses bikin pegangan Gabber pada spadonanya lepas! Dan mengembalikan posisi kendaraan seperti semula. Rokai langsung menyongkel spadona cyan yang tersangkut dengan tongkat sihir. Untunglah mobil ini cukup tahan banting. Serangan Gabber ga sampe membelahnya.</p>



<p>Gw liat Gabber udah balik berdiri, dan memungut Spadona. Lalu dihampiri kedua rekan yang berzirah dominan hijau dan merah. Tapi… gw dan Rokai dibuat terheran. Kami kira, mereka siap kembali main kejar-kejaran. Ternyata, perkiraan kami salah.</p>



<p>Kami bisa sedikit bernapas lega sekarang. Pasalnya, untuk suatu alasan yang ga kami ketahui, Gabber beserta kedua rekannya memutuskan untuk berhenti mengejar. Entahlah, padahal mereka masih keliatan fit. Dari kejauhan, ketiga Prajurit logam itu sekadar menatap kendaraan Federasi yang terus berlari.</p>



<p>Tapi sebentar lagi, kami akan tau penyebab mereka hentikan pengejaran. Karena jawaban itu ga jauh. Jaraknya cuma satu belokan.</p>



<p>Rokai kembali beranjak ke kursi depan. Mengatur napasnya sejenak, sebelum tarik napas panjang, lalu dibuang dari mulut, &#8220;Cukup menegangkan,&#8221; dia berujar.</p>



<p>Lagi-lagi kesunyian menemani perjalan pulang kami. Kendaraan berbelok ke kiri mengikuti jalan menuju zona aman. Suara jet-jet tempur Federasi telah memenuhi langit Solus yang kini sedikit dihias awan mendung. Apa sisa hari ini akan diisi tangisan langit? Siapa yang tau?</p>



<p>Kami melewati pohon besar dan tinggi. Namun lagi-lagi, kami disambut hal yang ga diinginkan. Dari langit, sebuah bongkahan besi berbalut kobaran api jatuh dan menabrak pohon tadi! Akibatnya pohon itu tumbang, dan terbakar dedaunannya, &#8220;Wow,&#8221; gumam gw. Jalan yang kami lalui agak menanjak, jadi ga ada yang tau kaya apa di atas sana.</p>



<p>Keringat mengalir dari kening gw, disertai kekhawatiran yang ga jelas sumbernya. Perasaan gw ga enak nih. Pasti bakal ketiban sial lagi.</p>



<p>Kendaraan militer ini telah sukses melalui tanjakan tanpa kesulitan berarti. Jalan kembali datar, tapi beberapa meter di depan… ada sesuatu yang membuat kami syok setengah mati. Jantung terasa skip satu detakan begitu liat potongan sayap pesawat… dengan lambang Federasi Bellato&#8230; melesat ke arah kami dengan cepat! Kondisinya sama kaya bongkahan besi sebelumnya, dibalut api, dan ekor asap hitam!</p>



<p>Reflek karena takut bercampur tegang dadakan, gw tutup mata sambil arahkan stir ke kiri! Gw liat ada sedikit celah di bagian ini. Entah apa kami bakal berhasil menghindari puing itu, gw ga mau tau! Harus berhasil pokoknya kalo ga mau modar!</p>



<p>Begitu gw kembali buka mata karena dengar desingan puing melewati kami, SHITE! Ternyata berhasil! Yeah!</p>



<p>Tapi seperti biasa, kalo gw terlalu cepat senang, biasanya bakal ada hal apes lain di belakangnya. Dan yapp, ga salah lagi. Kalo tadi cuma potongan sayap yang lewat, kali ini PESAWATNYA!</p>



<p>&#8220;Mampuslah,&#8221; bisik gw pada diri sendiri.</p>



<p>Pesawat tipe kargo yang biasa digunakan untuk transport suplai atau Prajurit melakukan pendaratan darurat tepat di depan kami! Badan pesawat terbang teramat rendah, lalu langsung bergesekan dengan tanah. Roda-roda pesawat tampak ga bisa dikeluarkan, dilengkapi banyak lubang tembakan. Bagian ekor pesawat terbakar, dan sayapnya tinggal yang kiri doang.</p>



<p>Gesekan antara badan pesawat dan permukaan tanah ga serta-merta bikin lajunya terhenti. Di darat, transportasi udara itu masih meluncur kencang. Kembang api hasil gesekan tersebut makin memercik dari bawah. Bunyi mesin jet pendorong dari pesawat makin menutupi bunyi-bunyi lain di sekitar.</p>



<p>Gw tercekat, cuma bisa pasrah menatap sisa-sisa perjuangan para kamerad. Ga bisa mikir karena jarak mobil ini dan bagian hidung pesawat udah terlalu dekat.</p>



<p>&#8220;… FLEM… TULANG FLEM!&#8221; sayup-sayup kuping gw menangkap suara pemuda yang ga asing diantara deru mesin jet, &#8220;SADARLAH, LAKE!&#8221; Rokai langsung menggapai stir dengan tangan kanan, dan banting ke kiri (lagi) sekuat tenaga. Bikin gw ikut goyah karena kedua tangan gw juga masih pegang kemudi.</p>



<p>Laju mobil sekitar 78 kilometer perjam, ditambah belok tiba-tiba, hasilkan momentum yang sulit terkendali. Ya, kami terhindar dari tabrakan mobil-pesawat… tapi mobil yang kami tumpangi jadi terjungkal. Apalagi, kontur tanah di area Solus yang ga begitu rata. Ya udah deh, mobil lompat, kami berempat terlempar dari kursi masing-masing.</p>



<p>Gw ga sempat mikirin hal lain karena udah terlanjur panik. Waktu sempat berjalan lebih lambat akibat detak jantung gw yang makin cepat. Tapi percuma, tubuh udah di udara, ga ada yang bisa dijadikan tempat berpijak.</p>



<p>Ahh, bajingan! Mau ga mau, usaha terakhir yang gw lakukan adalah melindungi kepala dengan kedua lengan supaya ga membentur tanah terlalu keras.</p>



<p>&#8220;Urrgh!&#8221; tubuh gw menghantam daratan, dan menyeret sampe terpisah beberapa meter dari kendaraan militer yang udah jungkir balik ga karuan. Gw mengerang, terengah, dan terasa nyeri di seluruh anggota badan. Kuping pengang, dan pandangan agak kabur. Kedua tangan gw coba semaksimal mungkin untuk menopang badan. Niatnya sih pengen berdiri, tapi ga bisa.</p>



<p>Gw pejamkan mata, geleng-geleng kepala, dan berkedip cepat supaya mata kembali fokus. Kemudian buka mata lagi. Hal pertama yang gw liat pas pandangan mulai agak pulih adalah… Rokai, Gann, dan Faranell… mereka semua tergeletak ga bergerak. J-jangan bilang kalo mereka…</p>



<p>Sekali lagi. Sekali lagi gw berusaha berdiri. Kali ini coba dorong lebih keras, dan 10 detik kemudian akhirnya berhasil. Kepala dongak. Keliatan beberapa jet tempur berlambang Kekaisaran menampakkan wujud dari mode siluman selagi terbang kecepatan penuh. Gw menatap langit dengan ratap kelelahan, berharap, berdoa, mengutuk, bertanya, kesal, kebingungan, heran. Setelah semua luka yang gw terima, semua perjuangan yang kami lalui untuk sampe rumah, apa semua justru baru dimulai?</p>
</div></div>
</div></div>



<p class="has-text-color has-background has-text-align-center has-very-dark-gray-color has-cyan-bluish-gray-background-color">  &#8220;<em>I&#8217;m a military doctor. So… I can break every single one of your bone while naming them.&#8221; – Rokai (Ch. 49)</em> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 49 END.</em></strong></p>



<p>Next Chapter > Read Chapter 50:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-50/</a></p>



<p>Previous Chapter &gt; Read Chapter 48:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-48/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-48/</a></p>



<p>List of Lake Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-list/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/lake-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br>Anyway, saya putuskan untuk ganti nama keluarga Meinhalom, dari Karkas jadi Zildaz. Soalnya saya baru tau Karkas itu ada artinya, yakni daging yang lepas dari tulang. Lagian Meinhalom Karkas terdengar kurang oke. Bagi saya Meinhalom satu-satunya karakter yang paling susah buat ditemukan nama belakang yang pas berhubung nama depannya aja udah aneh.<br>Adapun Zildaz saya belum tau artinya. Itu lebih ke kombinasi dari nama Zaidan, dan Dias.<br><br>Regards,<br>Mie Rebus.</p>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-49/">LAKE CHAPTER 49 &#8211; SOS 4: SILENT STARES</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/lake-chapter-49/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
	</channel>
</rss>
