<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>JFI &#8211; PEJUANGNOVUS</title>
	<atom:link href="https://www.pejuangnovus.com/tag/jfi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pejuangnovus.com</link>
	<description>PORTAL MEDIA NOVUS - BERITA GUIDE DAN TIPS RF ONLINE - NEWS</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Mar 2020 10:50:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.3.20</generator>

<image>
	<url>https://www.pejuangnovus.com/wp-content/uploads/2020/02/cropped-icon-pejuang-32x32.png</url>
	<title>JFI &#8211; PEJUANGNOVUS</title>
	<link>https://www.pejuangnovus.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>HIDDEN LINE CHAPTER 2 – I CAN&#8217;T BELIEVE MY EYES</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 10:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[HIDDENLINE]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1734</guid>
				<description><![CDATA[<p>Hidden Line spin-off from Journey for IdentityPenulis: Bid’ah Slayer *Waktu cerita 8 bulan setelah chapter...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2/">HIDDEN LINE CHAPTER 2 – I CAN&#8217;T BELIEVE MY EYES</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Hidden Line spin-off from Journey for Identity<br>Penulis: Bid’ah Slayer</em></strong> <br><br><em>*Waktu cerita 8 bulan setelah chapter 16 JFI, tepatnya seminggu sebelum November 133 NE.</em></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>&#8220;Xel, ngomong-ngomong, gaya bertarungmu pake senjata apa? Kalau aku kan udah pasti pakai panah, kalau kamu?&#8221; Tanya Kharin sambil menuntunku ketempat yang dituju.</p>



<p>&#8220;Ehh.. aku pake senjata dua tangan, dua senjata tipe pisau untuk sekarang ini lebih tepatnya .&#8221; jawabku sambil tetap menyesuaikan kecepatan langkahku dengannya.</p>



<p>&#8220;Dua senjata? Kalo sekarang kamu ditingkat 28, berarti kamu pakai Defender Saber ya? Bukannya berat yah?&#8221; Tanya Kharin dengan tatapan masih tertuju ke depan.</p>



<p>&#8220;Memang, kalau aku pakai defender saber, aku belum kuat untuk penggunaan sebagai dua senjata, tekniknya adalah. Aku memakai senjata yang berada lima tingkat dibawahku. Dengan begitu penguasaan dalam menyerang bisa kulakukan. Makanya aku menggunakan pisau tipe katana.&#8221; Jelasku pada wanita berambut kepang.</p>



<p>&#8220;Ohh… kayanya jarang aku temuin teknik begitu. Belum pernah malah. Kamu unik.&#8221; Ucapnya dengan senyum.</p>



<p>&#8220;Be-begitu ya.. aku cuma diajarin sama guru ku kok, dia bilang ini adalah teknik yang…&#8221;</p>



<p>&#8220;Eitt!..&#8221; ia menghentikan langkahnya dan memotong pembicaraanku sambil telunjuknya menghentikan bibir ku.</p>



<p>&#8220;<em>Ehh?&#8221;&nbsp;</em>aku hanya bisa membatin heran, jarinya yang putih benar-benar hampir menyentuh bibir ku. Aku dibuat diam seketika dengan kelakuannya.</p>



<p>&#8220;Ada apa Lumine- maksudku Kharin?&#8221; tanyaku memastikan tak ada yang salah.</p>



<p>&#8220;Rachel mana? Bukannya kamu tadi gandeng tangannya juga.&#8221; tanyanya menyebut salah satu rekan kami, si gadis berambut hitam.</p>



<p>&#8220;Nuntun? Enggak kok, ak-aku mana mungkin ngelakuin itu. perasaan tadi ada di belakang ku, ngikutin kita.&#8221; Ujarku memberi kesaksian.</p>



<p>&#8220;Yaudah, mending kita cari si Rachel, takut kenapa-napa.&#8221; usul Kharin, akupun menyetujuinya. Dan kamipun menyusuri jalan yang sebelumnya kami lalui untuk mencari keberadaannya.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Gimana? udah nyambung belum?&#8221; tanyaku pada Kharin yang sedang mencoba menghubungi Rachel via ponselnya.</p>



<p>&#8220;Belum Xel, gimana nih, kalo dia sampe ilang&#8230; Padahal ini misi pertama kita bertiga.&#8221; Risau kharis sambil tetap menggenggam ponselnya, didekatkan pada telinganya.</p>



<p>&#8220;Rhin…&#8221; ucapku memanggil namanya dengan pelan.</p>



<p>&#8220;Apa lagi ini &#8216;kan misi di daerah yang bisa di masukin bangsa lain, jangan-jangan dia diculik sama Bellatean atau Accretian…&#8221;</p>



<p>&#8220;Rhin…&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa lagi dia &#8216;kan cantik, kita sempet satu asrama pas di planet Cora, dia termasuk idol para lelaki di sekolah. Jangan-jangan dia diculik sama Bellatean mesum, teruss…&#8221;</p>



<p>&#8220;RHINN!&#8221; bentakku.</p>



<p>Entah mengapa, aku yang sedari tadi berusaha tidak menunjukkan kepanikan seperti yang Kharin lakukan, sekarang tanpa sengaja aku membentaknya. Mungkin ini adalah batasku menahan emosionalku. Jelas di dalam pikiranku sekarang ini terasa terlalu bercampur aduk. Aku tidak mau dikali pertama misi kami bertiga harus terjadi insiden seperti ini. Terlebih mereka adalah wanita dan tanggung jawabku.</p>



<p>Walaupun aku belum mengenal jauh tentangnya, namun tetap ada rasa ingin melindungi, aku khawatir akan keadaannya sekarang, sangat khwatir.</p>



<p>&#8220;A-Axel… ma-maafkan aku…&#8221; ucap kharin kini terhenyak setelah kubentak, air matanya sudah membendung dalam kelopak mata, berkaca-kaca.</p>



<p>&#8220;Enggak, akulah yang harusnya minta maaf Rin, aku gak sengaja malah ngebentak.&#8221;</p>



<p>Setelah kuucapkan penyesalan, ia tampak murung, tidak berkata sepatah katapun setelahnya.</p>



<p>&#8220;Bagaimanapun, ini tanggung jawabku sebagai ketua, aku yang harus menerima beban ini, kau jangan terlalu memikirkannya&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak! Dia itu juga teman dan rekanku, kamu jangan egois! Kita berdua sekarang yang bertanggung jawab!&#8221;</p>



<p>Sontak, aku langsung terkejut dengan jawabannya, aku tak tau harus menjawab apa untuk menanggapi ucapannya. Iapun kini berjalan melangkah lebih dulu dan menyiapkan Beam Assemble Cross-bow miliknya.</p>



<p>.</p>



<p>Setelah beberapa menit kami menyusuri jalan yang telah kami lewati, nampak kepulan asap terlihat, sepertinya berasal dari beberapa puluh meter di depan. Aku dan Kharinpun secepat mungkin menuju kesana.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Flash Beam!&#8221;</p>



<p>&#8220;Circle of Fire!&#8221;</p>



<p>Wrushhh, nampak saat orang itu merapalkan mantra lalu menghentakkan tongkat ketanah, muncul lingkaran cincin api disekelilingnya. Dan ya, seorang yang tengah melawan beberapa ekor Anabola adalah Rachel, ia dikepung oleh makhluk tumbuhan itu.</p>



<p>&#8220;RACHEL!&#8221; Teriak Kharin memanggil namanya. Iapun sontak menatap kearah kami, nampak senyuman dan mata yang berkaca-kaca terlihat.</p>



<p>&#8220;RACHEL AWAS!&#8221; seruku saat dari belakangnya tentakel tumbuhan tengah mengarah padanya. Namun saat ia hendak perpaling, ia terlambat.</p>



<p>Dengan cepat tentakel itu menjulur kakinya yang jenjang. Menjulur terus hingga ke paha yang terlihat putih. Tidak sampai disitu, tentakel yang lainnya juga mengikat kaki yang satunya, naik terus hingga ke paha.</p>



<p>Rachel hanya bisa melawan seadanya, sesekali diikuti erangan. ia tak bisa berkonsentrasi untuk merapalkan mantra pada posisi itu, yang bisa ia lakukan adalah memotong tentakel lain yang berusaha menjamah tubuh bagian atasnya menggunakan ujung Beam Bead yang tajam.</p>



<p>Keadaan menjadi makin buruk, beberapa Anabola yang semula sudah diserang dengan force api miliknya, kembali bangkit dan bergerak mengerumuni Rachel.</p>



<p>&#8220;Siall! Kharin, ayo cepat kita selamatkan Rachel.&#8221; Ucapku sambil mengeluarkan dua bilah Katana.</p>



<p>&#8220;Ayo.&#8221; Balasnya, iapun langsung bergerak maju.</p>



<p>&#8220;Fast Shot!&#8221; Kharina menyerang lebih dulu. Serangan pembukanya berhasil memancing dua Anabola yang semula bergerak kearah Rachel kini menuju kearahnya.</p>



<p>&#8220;Bagus Rin!&#8221; pujiku, lalu aku berlari ketengah dua Anabola yang terpancing, dan menebas titik fital mereka.</p>



<p>Slash! Slash!</p>



<p>CRATTS! CRATT!</p>



<p>Cairan hijau tersembur keluar dari leher yang tersayat.</p>



<p>Kini tinggal tiga lagi, namun sepertinya Rachel tidak bisa bertahan lebih lama, karena ia tengah dikepung oleh tiga Anabola.</p>



<p>&#8220;BANGSATT! SINI LU OTAK UDANG!&#8221;</p>



<p>Aku menerjang secepat mungkin sebelum hal makin buruk terjadi pada Rachel.</p>



<p>&#8220;SHINING CUT!&#8221;</p>



<p>Tebasan cepatku belum mampu memancing mereka bertiga, hanya satu yang mengarah padaku. Namun Kharin segera menyerangnya dengan…</p>



<p>&#8220;MULTI SHOT!&#8221;</p>



<p>Zrebb! Zrebb! Zreb! Zrebb!</p>



<p>Kini hanya dua yang terpancing, sedang yang satunya lagi tetap menjalarkan tentakelnya ketubuh Rachel.</p>



<p>&#8220;Sial, masih belum cukup!&#8221;</p>



<p>Zrassh! Zrash!</p>



<p>&#8220;Slasher!&#8221;</p>



<p>&#8220;Fast Shot!&#8221;</p>



<p>Dua Anabola kembali tumbang, kini kami berusaha menyelamatkan Rachel yang sudah lemas tak berdaya.</p>



<p>&#8220;Kharin, bidik mata makhluk itu!&#8221;</p>



<p>&#8220;Baik&#8221; jawabnya dan langsung menembak.</p>



<p>Wuzz.. Wuzz…</p>



<p>Zreb! Zrebb!</p>



<p>Makhluk itu menggunakan tentakel yang lain sebagai pelindung agar panah Kharin tak mengenai matanya.</p>



<p>&#8220;Kalau begitu rasakan ini!&#8221;</p>



<p>Kupusatkan tenaga pada kedua Katana ku, lalu kulepas energinya membentuk garis horizontal.</p>



<p>&#8220;Power Clave&#8221;</p>



<p>WRUZZZHH…</p>



<p>Zrash! Zrash! Zrazh! Zrash!</p>



<p>Keempat tentakel yang mengikat tubuh Rachel berhasil aku potong, termasuk tentakel yang hendak memasuki armor bagian bawahnya.</p>



<p>&#8220;BANGSETT! MATI SANA! DASAR MESUMM!&#8221;</p>



<p>Aku melompat lalu kutancapkan dua bilah belatiku pada kepalanya.</p>



<p>Setelah berhasil menancap di kepalanya, segera aku gerakkan dua senjataku melintang</p>



<p>ZRASHH!</p>



<p>Cairan hijau yang kurasa darah membasahi armor dan pelipisku.</p>



<p>Makhluk itupun mati dengan terlebih dahulu menggeliatkan tentakelnya. Layaknya cacing.</p>



<p>&#8220;Hah hah… Rachel, kamu gak… Rachel!&#8221;</p>



<p>Segera aku tahan tubuhnya sebelum terhempas ke tanah.</p>



<p>&#8220;Rachel, kamu dah aman sekarang.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ahh, makasih… makasih banyak udah nyelamatin aku&#8230;&#8221; Ucapnya lemas sambil membelai pipiku.</p>



<p>Sontak, muka ku memerah. aku tersadar apa yang sudah kulakukan. Aku melakukan semua ini bukan hanya karena tanggung jawabku sebagai ketua tim, tapi lebih dari itu, aku melakukan sampai sejauh ini karena…</p>



<p>dia… Rachela Anant Nobleist</p>



<p>&#8220;<em>Ada apa ini? Perasaan ini…&#8221;</em>batinku, bingung…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>*Ruang Rapat Majlis Tinggi Aliansi Suci Cora*</strong></p>



<p>Selesainya rapat, dua sosok pria Corite saling bercakap-cakap, melepas kejenuhan setelah melewati &#8216;tausiah&#8217; dari Archon dan Ketua Tim Support yang menjabat sebagai Uskup sekaligus ketua tim research.</p>



<p>&#8220;Gimana? dah gak ngantuk lagi kan lu?&#8221; Tanya Haan pada temannya.</p>



<p>&#8220;Ya iyalah, gue hampir ketauan tidur tadi, dah gitu lu gak bangunin gue, dasar rese&#8217;.&#8221; Jawab Harvey.</p>



<p>&#8220;Jadi gimana, habis ini lu masih ada kerjaan apa lagi? Dah lama kita gak minum bareng.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak bisa, habis ini gue ada rapat Clan. Lu mah enak clan kecil yang gak diperhitungkan, gak dianggep.&#8221; Jawab Harvey sekaligus menyindir.</p>



<p>&#8220;Cih, masa bodoh sama clan besar kaya Dragunov, Draguila, kalo jadinya repot kaya lu, wkwk… mending gue, bisa nikmatin hidup haha…&#8221; balas Haan tak mau kalah. &#8220;Ngomong-ngomong, lu gak bisa cabut aja dari rapat gak jelas itu? Kapan lagi kan kita bisa santai-santai kaya gini, mumpung gak ada misi.&#8221; Lanjut Haan menghasut teman seperjuangannya.</p>



<p>&#8220;*Yawn… Elu mah batu dibilangin, dibilang gak bisa ya gak bisa.&#8221; Jawab Harvey diawali dengan menguap, ia kembali mengantuk, membayangkan betapa membosankannya waktu yang akan ia lalui dalam satu jam kedepan.</p>



<p>&#8220;Lu kan tau sendiri, gue itu ketua tim serang battalion 13, udah begitu kunci kemenangan kita ada di dalam tim gue. Jadi jelas clan dan diri gue kali ini akan sangat berperan. Lengkap dah, gue harus bener-bener keluarin semua kemampuan gue di perang mendatang.&#8221; Lanjut Harvey memberi penjelasan diikuti, mengucek mata kiri yang tak tertutupi penutup mata.</p>



<p>&#8220;Iya iya, commander. Nanti tim yang gue pimpin sebisa mungkin ngesupport tim lu dah.&#8221; Balas Haan sedikit meledek. &#8220;Jadi gimana, habis rapat clan bisa?&#8221;</p>



<p>Saat mereka sedang saling bicara, tiba-tiba seseorang memanggil salah satu nama dari mereka.</p>



<p>&#8220;Harvey, Bisa kita bicara sebentar.&#8221; Ucap seorang lelaki, lebih tua dari yang dipanggil.</p>



<p>&#8220;Ah! Iya, ada apa Father?&#8221; jawab Harvey seraya memalingkan perhatian dari Haan.</p>



<p>&#8220;Pokoknya gue gak bisa, dah, gue ada perlu dulu.&#8221; Ucap Harvey pada Haan dengan nada pelan, lalu ia melangkah mendekati Uskup Renault. &#8220;Ada perlu apa Father Renault?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ini mengenai perang yang akan datang. Juga tentang dirimu lebih tepatnya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya? Jadi anda mau aku melakukan apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Bukan sesuatu hal untuk dilakukan, namun sesuatu untuk kau terima.&#8221;</p>



<p>Momen diampun kini terjadi. Harvey tidak menanggapi dengan sepatah katapun saat mendengar uskup Renault mengatakan itu.</p>



<p>Uskup Renault menarik nafas, lalu bicara &#8220;Aku ingin kau menerima pangkatmu sebagai Chamtalion.&#8221;</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>&#8220;Posisimu kini sudah sangat diperhitungkan sekarang, kau sangat penting. Kau harus menerimanya.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Aku… tidak bisa.&#8221; Jawab Harvey.</p>



<p>&#8220;Kenapa? Kau tidak bisa terus menolak! Apa ini akan terus kau lakukan karena dosa masa lalu itu?&#8221; ucap Uskup Renault kali ini sedikit tegas.</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>&#8220;Dengar, di dunia ini tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni. Bahkan untuk dosa paling besar sekalipun.&#8221;</p>



<p>&#8220;… Aku tau Father, namun, sudah berapakali aku berdo&#8217;a, memohon, bahkan mencoba menebus ,Namun aku merasa apa yang sudah kulakukan, darah itu seakan terus melekat pada tangan ini. Aku merasa tak pantas untuk mendapatkan hal yang kau tawarkan, seandainya ia masih disini, mungkin ia yang mendapatkan posisi itu sekarang.&#8221; Ucap Harvey dengan kepala merunduk.</p>



<p>Tap…</p>



<p>Kini uskup Renault meletakkan tangannya pada bahu Harvey</p>



<p>&#8220;Jangan meratap, kejadian itu juga membuatku terhenyak. Namun saat itu kau, juga aku. Dalam posisi yang sulit. Ia memilih jalannya, dan kita pada jalan kita sendiri untuk melindungi aliansi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tapi kita tau, informasi saat itu tidak sepenuhnya benar, iya kan? Tapi kita tetap melakukannya&#8221; timpal Harvey dengan pertanyaan. Beberapa detik, uskup Renault terdiam… mencoba memahami. Lalu berkata</p>



<p>&#8220;Pada saat itu kau dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti perintah. Bila ada pihak yang pantas untuk menanggung dosa itu, mereka yang mengambil keuntungan dibalik konfliklah yang pantas.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tapi…&#8221;</p>



<p>&#8220;Harvey, dengar. Apa kau berfikir aku akan selamanya berdiri disamping Yang Mulia Quanie Khan, berdiri melindunginya dari mereka yang juga mempunyai kepentingan tersendiri, yang mengancam bangsa kita? Tidak Harvey, kau salah. Suatu saat, entah kapan waktunya, aku pasti akan meninggalkan posisi itu. Dan aku mau kau menggantikan posisiku, menghapuskan kesalahan kita saat tak bisa melakukan apa-apa, dan mencegah hal yang sama terulang kembali.&#8221;</p>



<p>Setelah Uskup menjelaskan maksud dan tujuannya, Harvey tak bergeming. Lagi, tak ada sepatah kata dari mereka berdua untuk beberapa saat.</p>



<p>&#8220;Harvey, anggaplah permintaanku ini sebagai penebusan dosa yang lalu. Dengan begitu, kita bisa terus melindungi penduduk yang tak bersalah.&#8221; Ucapnya kini mengarahkan pandangan Harvey pada penduduk yang tengah menjalankan aktivitas sehari-hari. &#8220;Kau adalah orang yang kupercaya, dengan kau. Aku yakin kejadian kelam atas pembantaian pada yang tak persalah itu takkan terulang…&#8221;</p>



<p>&#8220;… baiklah, aku akan menerimanya, Father.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>*Sektor Istana Numerus*</strong></p>



<p>Setelah aku baringkan tubuh Rachel di bawah pohon, Kharin bertanya padaku apa yang akan kami lakukan setelahnya, apakah kita akan membatalkan misi dan membawa Rachel ke rumah sakit. Ku jawab tidak, setelah apa yang kita lakukan, kurasa kita bisa mengambil barang quest dari para Anabola yang telah kita habisi, sementara itu Rachel telah kuberi HP Popp 100ml dan FP Priest 125ml, kurasa ia hanya butuh istirahat, juga pertolongan pertama yang kupelajari dari Elrond Harvey.</p>



<p>Beruntung, ternyata barang quest yang kami akan kami cari dari tubuh Clod juga terkandung dalam jasad pada Anabola, sehingga kami telah berhasil mengumpulkan 30 Jimz Riar dan 26 Siar Blibend.</p>



<p>&#8220;Kita telah berhasil menyelesaikan barang quest Jimz Riar, namun untuk Siar Blibend akan kita bagi menjadi tiga.&#8221; Ucap Kharin.</p>



<p>Saat kami sedang membagi barang quest, tiba-tiba saja terdengar beberapa langkah kaki orang , bergerak ketempat kami.</p>



<p>Sumber langkah kaki itupun terlihat, mereka benar-benar menghampiri kami.</p>



<p>Tiga lelaki ; Berambut hitam berbadan paling tegap diantara yang lainnya, berambut merah dan berambut oranye sambil mengemut permen lollipop.</p>



<p>&#8220;Ah! Rachel! Itu Rachel!&#8221; seru sang rambut hitam berlari menghampiri Rachel yang sedang beristirahat di bawah pohon.</p>



<p>Akupun menghampiri mereka berdua, lalu kutanyakan siapakah dia.</p>



<p>&#8220;Maaf, tapi bisa saya tau siapakah anda?&#8221; tanyaku sopan, karena aku sama sekali tidak mengenalnya. Bisa jadi dia Senior, karena badannya lebih tinggi dariku.</p>



<p>&#8220;Aku Bima, dari Draguila.&#8221; jawabnya memperkenalkan diri.</p>



<p>Sontak, akupun teringat nama itu, nama mantan anggota timnya saat di Taurus 11.</p>



<p>&#8220;Oh, kau temannya Rachel ya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Teman?&#8221; ucapnya dengan mimik berbeda dari sebelumnya. &#8220;Aku pacarnya tau.&#8221;</p>



<p>&#8220;Pacar?&#8221;</p>



<p>Entah hanya perasaanku saja, atau memang sepertinya aku mendengar ia mengucapkan kata Pacar.</p>



<p>&#8220;Maaf, bisa diulang?&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku Bima dari Clan Draguila, Rachel adalah pacarku.&#8221; Ucapnya tegas.</p>



<p>Tidak banyak yang bisa ku uraikan setelah mendengar itu, aku hanya merasa… sesak, tangan sedikit bergetar, dan kaki layaknya lemas.</p>



<p>&#8220;Kau sendiri siapa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku Axel Anubis Drakho, ketua dari tim Rachel.&#8221; Jawabku.</p>



<p>&#8220;Ohh… jadi kau ketua timnya&#8221; kini ia menyandarkan tubuh Rachel agar kembali bersandar pada pohon. Lalu berdiri &#8220;Gara-gara lu dia jadi begini hah?&#8221; ujarnya seraya menggenggam kerah baju ku.</p>



<p>&#8220;Jangan asal tuduh, ini semua kecelakaan, disini gak ada yang niat buat dia terluka.&#8221; Jawabku sambil berjinjit, menyeimbangi angkatannya.</p>



<p>&#8220;Baru berapa hari masuk tim lu, dia dah pingsan, gimana besok? Dasar ketua tim gak becus!&#8221; iapun mendorong tubuhku hingga tersungkur.</p>



<p>&#8220;Jangan asal ngehakimin!&#8221; ucapku seraya bangkit, lalu mendekati dia &#8220;Kalo lu diposisi gue, gue jamin hal yang lebih buruk dari ini pasti bakal terjadi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Oh, lu nantangin gue?&#8221;</p>



<p>&#8220;Punya nyali juga lu merasa tertantang?&#8221; ucapku dengan senyum menyindir.</p>



<p>Mata kamipun saling beradu, gejolak darah panas kini deras mengalir dalam nadi.</p>



<p>Sebagai prajurit resmi, ini mungkin pertama kalinya aku berkelahi selain sparing bersama Roni.</p>



<p>Kulihat, ia sudah mengepalkan tangannya, bersiap untuk memukul rupanya. Akupun memasang kuda-kuda untuk memukul.</p>



<p>&#8220;Rasakan!&#8221; &#8220;Makan Nih!&#8221; ucapku bersamaan dengannya.</p>



<p>Batss.. Batss…</p>



<p>Baik pukulanku ataupun pukulannya berhasil menghantam, namun bukan tubuh kami, melainkan sudah ada tangan yang menahan pukulan kami.</p>



<p>Orang itu adalah orang berambut oranye yang datang bersama Bima tadi. Ia menahan pukulanku dengan tangan kiri. Dan pukulan Bima dengan tangan kanan. Dengan posisi tubuh tepat ditengah-tengah kami.</p>



<p>&#8220;Candy, apa yang kau lakukan?!&#8221; ucap Bima pada Pria yang menahan serangan kami.</p>



<p>&#8220;Gak ada untungnya kalau kita ribut disini, kalau ketauan prajurit Senior, pasti kita juga bakal kena masalah. Setau gue nanti ada maktunya untuk hal yang beginian. Sekarang mending kita kembali pada rencana, bawa pacar lu pulang. Iya &#8216;kan?&#8221; jelas pria yang dipanggil Candy.</p>



<p>Aku sedikit bingung, si Candy ini apa emang beneran namanya Candy? Masa&#8217; pria namanya begitu? Dan, aksen dia bicara, terdengar sedikit asing, atau itu karena dia ngomong sambil makan permen?</p>



<p>Disaat aku berfikir, Bimapun menuruti perkataan &#8216;Candy&#8217;. Lalu si Candy berpaling padaku, memperlihatkan mukanya yang dihiasi senyuman, lalu berkata</p>



<p>&#8220;Mau permen?&#8221; sambil mengarahkan permen lollipop berbentuk beruang yang diambil dari saku bajunya.</p>



<p>&#8220;Ehh?&#8221; aku sedikit heran, namun aku mengambil permen yang ditawarinya. &#8220;Makasih.&#8221;</p>



<p>&#8220;Nah, sekarang cepet kita bawa Rachel klinik.&#8221; Ucap Candy.</p>



<p>Candypun menyiapkan 3 lembar teleport scroll di tanah.</p>



<p>&#8220;Gak usah terlalu khawatir, dia dah gue kasih pertolongan pertama. Istirahat yang cukup aja, nanti juga sembuh.&#8221; Ucapku pada Bima yang tengah menggendong Rachel. Nampaknya ia masih marah padaku, ia hanya menatap tajam dan melanjutkan langkahnya menuju teleport scroll.</p>



<p>&#8220;Sayang&#8230; kamu dateng.&#8221; Ucap Rachel lemah baru siuman.</p>



<p>&#8220;Iya Say, aku dateng buat kamu.&#8221; Jawab Bima, Rachelpun mengalungkan tangannya pada leher Bima. Lalu setelah itu mereka lenyap menuju sesuatu tempat.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Hnn…&#8221; lisanku hanya bisa bergumam.</p>



<p>&#8220;<em>Terus, kalo dia ternyata udah punya pacar, kenapa dia… ngebelai pipi gue? Huft~ guenya aja yang emang ke-ge&#8217;er-an…&#8221;</em>&nbsp;Batinku lemas. Tak faham akan perasaan ini. Nyesek sih, inikah PHP itu? Jadi sedih</p>



<p>Ditengah aku &#8216;meratapi&#8217; apa yang terjadi padaku, Kharin menghampiriku.</p>



<p>&#8220;Axel, kamu kenapa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak, enggak kenapa-napa kok.&#8221; Jawabku sebaik mungkin tak menunjukkan kekecewaan.</p>



<p>&#8220;Kamu… suka sama Rachel ya?&#8221;</p>



<p>JLEBB!</p>



<p>tanyanya langsung menjurus perasaan.</p>



<p>&#8220;Ehh? Mana mungkin, dia &#8216;kan udah punya pacar.&#8221; Elakku diikuti senyum yang dipaksakan.</p>



<p>&#8220;Kalau begitu maaf ya, soalnya aku yang nelpon dia kesini. Soalnya tadi pas aku panik gak bisa ngehubungin Rachel, aku hubungin si Bima. Maafin aku ya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Rin, kamu gak salah kok. Kan udah kubilang kalo aku gak suka sama Rachel.&#8221; Ujarku masih berusaha menutupi.</p>



<p>&#8220;Tapi, seandainya aku gak manggil Bima, kamu gak tau kalo dia punya pacar. Kamu jadi ada perasaan sama dia?&#8221;</p>



<p>Mendengar pertanyaannya, untuk beberapa detik rasanya organ pernafasanku sulit untuk menghirup oksigen.</p>



<p>&#8220;…&#8221; aku tak menjawab pertanyaannya.</p>



<p>&#8220;Xel?&#8221;</p>



<p>&#8220;Engg… mengenai pembagian barang quest, Siar Blibend kan baru 26, gak usah dibagi tiga. Yang enam biar aku aja Rin, jadi kamu sama Rachel dah selesai. Aku bakal nyari sisanya dari Clod…&#8221;</p>



<p>&#8220;Axel…&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku kan ketuanya, jadi aku yang harus ngalah, iya &#8216;kan? Yaudah aku mau selesaiin misi dulu, keburu tengah hari&#8221; sebisa mungkin aku memperalihkan pembicaraan dan lekas pergi.</p>



<p>Namun saat hendak pergi, Kharin menggenggam tanganku. Membuat langkahku terhenti.</p>



<p>&#8220;Axel… aku benar-benar minta maaf, aku gak tau kalo sampai…&#8221;</p>



<p>&#8220;Sutt…&#8221; kini kuarahkan telunjuk ku pada bibirnya agar ia berhenti bicara.</p>



<p>&#8220;Jangan minta maaf, Harusnya aku bilang terimakasih ke kamu. Karena kamu, aku gak terluka lebih jauh &#8216;kan? Lebih baik kecewa sekarang daripada kecewa nanti, hihihi…&#8221; jawabku, akupun tersenyum menunjukkan rentetan gigi ku agar ia tak risau.</p>



<p>Yang hanya kulihat dari wajahnya hanya mata yang berkaca-kaca tanda menyesal. Namun tanpa membuang waktu, aku segerakan diriku untuk mencari monster Clod dan menyelesaikan misi.</p>



<p>Di tegah aku berlari, aku hanya bisa mengusap dada ku sambil berkata &#8220;Sakitnya tuh disini…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ah, itu dia si buntelan kentut.&#8221; Ucapku bermonolog saat mendapati makhluk biru yang kumaksud. Aku segera meregangkan persendian ku dan menyiapkan sepasang katana.</p>



<p>&#8220;Maaf gendut, sayangnya hari ini gue lagi kesel, gue harap lu menunjukkan perlawanan terbaik lu.&#8221; Ucapku diikuti langkah menerjang.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Sepertinya tubuhmu adalah hambatan terbesarmu, gendut.&#8221;</p>



<p>&#8220;Clopp Wlopp!&#8221; balasnya dengan bahasa yang tak kumengerti.</p>



<p>&#8220;Ya, cukup lumayan, sejauh ini lu kebo juga, susah untuk matinya, tapi gue harap itu gak akan lama. Ayo kita akhiri!&#8221;</p>



<p>&#8220;Wlopp Wlopp!&#8221;</p>



<p>Zlash Zlashh! Zlashh Zlash!</p>



<p>Ku sayat kulit biru tak berbulu miliknya, sedangkan ia hanya bisa memuntahkan cairan hijau dari lubang yang kurasa adalah mulut. Serangannya tidak terlalu fatal, ku kira tadinya itu akan korosif, rupanya aku hanya berfikir terlalu berlebihan.</p>



<p>&#8220;Rasakan serangan pemungkas ini, Slaaaa…&#8221;</p>



<p>BRUKK!</p>



<p>Tubuh ku tiba-tiba saja terhempas ke tanah.</p>



<p>&#8220;Ughh… apa-apaan ini&#8221; ucapku sambil memegangi kepala ku yang pusing.</p>



<p>Mata ku juga berkunang-kunang , tak jelas rasanya pemandangan di sekeliling ku, seperti ngeblur. Tiba-tiba seseorang menghampiriku.</p>



<p>&#8220;Tolong… tolong bantu aku berdiri.&#8221; Ucapku lirih. Namun sepertinya dia tetap berdiri disana tanpa menjawab permintaanku.</p>



<p>Dia seakan mengatakan sesuatu, namun terdengar samar.</p>



<p>&#8220;<em>Apa yang terjadi, sampe gue seperti ini? Gak bisa denger dan liat dengan jelas.&#8221;</em></p>



<p>Tess…</p>



<p>&#8220;Cairan apanih?&#8221; ucapku saat sesuatu membasahi keningku.</p>



<p>&#8220;Ijo? Ijo! Ini lendir makhluk itu!&#8221; seketika, fokusku kembali. Pandangan dan pendengaranku kembali normal dan kulihat Clod biru tengah mendekatkan kepalanya pada kepala ku. Kulihat kakiku ternyata terpeleset akibat lendir sialan itu.</p>



<p>&#8220;Bangsat! Enak banget lu mau makan gue! Makan nih!&#8221; maki ku langsung menancapkan dua bilah katana tepat keperutnya.</p>



<p>Seketika itu pula ia merintih, terdengar tidak jelas memang, namun kuyakin itu pasti ungkapan kesakitan.</p>



<p>&#8220;Hehe, gimana? enak?&#8221; ucapku kini sedikit memutar-mutar senjataku dalam perutnya.</p>



<p>&#8220;CHOPP!&#8221;</p>



<p>Entah mengapa, sepertinya kejadian ini sangat menghibur untuk ku. Aku lanjutkan menyiksanya lebih lama dan ia makin merintih kesakitan.</p>



<p>Dalam posisiku yang belum berubah dari terlentang, aku sadari sesuatu. Tubuhnya seakan makin membesar, dan saat itu aku tau, kalau diri ku dalam bahaya.</p>



<p>Segera aku bangkit dan berlari menjauh, namun belum semua itu terlaksana, tubuh Clod itu semakin besar dan besar dan…</p>



<p>&#8220;CHLOOOPP!&#8221;</p>



<p>CROOOTTT!</p>



<p>Tubuhnya pecah, menyebarkan lendir hijau. Dan lendir itu membasahi semua tubuh ku, tanpa terkecuali.</p>



<p>&#8220;Kamvrett! Disaat-saat terakhir justru dia malah begini. Dasar buntelan kentut!&#8221; makiku sendiri. Setelah itu, aku segera mengumpulkan empat Siar Blibend yang tersebar akibat tubuhnya yang pecah.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Tepat sebelum tengah hari, aku sudah sampai di depan pintu masuk Istana Numerus. Selama perjalanan, banyak orang-orang yang memandang heran, lebih tepatnya memandang jijik kearah ku.</p>



<p>Bagaimana seseorang bisa berjalan-jalan seakan tak terjadi apa-apa dengan lendir hijau yang membasahi seluruh tubuhnya. Itu adalah pertanyaan dalam benak seseorang yang belum pernah berhadapan dengan makhluk macam Clod.</p>



<p>Namun untuk orang-orang yang mengalami nasib seperti ku, mereka dan aku berharap, untuk tidak berhadapan dengan makhluk seperti Clod dimasa yang akan datang. Selamanya.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Anclaime Rasikh, ini barang quest ku, 10 Jimz Riar dan 10 Siar Blibend, langsung dari sumbernya.&#8221; Ucapku dengan nada bête sekaligus menyerahkan yang kusebut.</p>



<p>&#8220;Axel, kamu baik-baik aja?&#8221; Tanya Kharin yang ternyata menungguku di sini.</p>



<p>&#8220;Ya, aku baik-baik saja, sangat baik.&#8221; Jawabku dengan mode YouDontSay.</p>



<p>&#8220;Haha, Axel.. Axel.. kamu pasti ngulur-ngulur waktu saat lawan Clod, iya &#8216;kan?&#8221; ucap Kak Rasikh.</p>



<p>&#8220;Iya Anclaime.&#8221;</p>



<p>&#8220;Harusnya kamu jangan begitu, mereka itu makhluk emosional, kalo kamu buat mereka marah dan berlarut-larut. Ya jadinya kaya yang kamu rasain sekarang, haha…&#8221; jelas Kak Rasikh dengan tawanya. Seakan aku bisa melihat betapa puasnya ia.</p>



<p>&#8220;Jadi Anclaime, apa disini ada kamar mandi?&#8221; tanyaku padanya. Iapun menyeka sedikit airmata dari ujung matanya. Dan berkata</p>



<p>&#8220;Sayangnya gak ada, hahaha… jadi inget masa lalu, hahaha…&#8221; jawabnya kembali diikuti tawa yg hanya ia dan kenangan masa lalunya yang tau.</p>



<p>&#8220;Apa kami sudah boleh pulang, Anclaime?&#8221; tanyaku lagi.</p>



<p>&#8220;Ya, ya kalian boleh pulang. Dan mandilah yang bersih Axel, hahaha…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>aku dan Kharinpun sampai di portal markas, kami berdua tidak banyak bicara pada awalnya. sampai akhirnya ia menawariku sapu tangan miliknya.</p>



<p>&#8220;Kamu gak keberatan kalau aku pakai ini?&#8221; tanyaku memastikan.</p>



<p>&#8220;Enggak, pakai aja.&#8221;</p>



<p>&#8220;Nanti kotor.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak apa-apa. kamu bisa balikinnya lain waktu.&#8221;</p>



<p>akupun memakai sapu tangan miliknya. memang tidak cukup untuk membersihkan seluruh tubuhku dari lendir hijau ini. namun cukup untuk membersihkan wajah dan rambut ku.</p>



<p>&#8220;Oh ya Kharin, kamu kenal siapa aja tim pacarnya Rachel?</p>



<p>&#8220;Aku cuma tau nama, tapi gak terlalu spesifik dalam informasi mengenai mereka. ada apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Cuma pengen tau aja. khususnya si Bima.&#8221; ucapku memberi alasan. bukan yang sebenarnya.</p>



<p>awalnya Kharin sedikit ragu untuk mengatakannya. mungkin ia berfikir kalau aku akan macam-macam. namun kupastikan padanya kalau aku tak bermaksud seperti itu, ia boleh tidak memberitahu informasi mengenai kontak milik Bima. akhirnya iapun menyetujuinya.</p>



<p>&#8220;Bima, aku lupa nama tengahnya, namun seperti yang sudah kau tau, dia berasal dari clan Draguila, yang notabennya adalah clan dari Black Knight. dan ia adalah seorang Knight.&#8221;</p>



<p>&#8220;Knight ya.&#8221; sontak aku teringat Roni yang seorang Knight juga.</p>



<p>&#8220;Dia beberapakali menjuarai pertandingan beladiri dan semacamnya saat di Planet Cora.&#8221; lanjut Kharin.</p>



<p>&#8220;Lalu yang lainnya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Si rambut merah, aku tak tau nama lengkapnya, tapi dia dipanggil dengan sebutan Cloud, dengan nama tengah Horust, kupikir namanya adalah Cloud Horust Scarlettcrown dari clan bangsawan Scarlettcrown. untuk klas yang ia ambil, aku tak tau. sedikit ku tau informasi tentangnya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Si rambut Oranye, dipanggil Candy, karena ia selalu memakan permen. nama aslinya Ottendorf Gaius Locgates, dari clan Locgates, clan dari penduduk Bisk.&#8221;</p>



<p>&#8220;Bisk? apa itu yang menyebabkan ia berbicara dengan aksen yang berbeda?&#8221; tanyaku memastikan.</p>



<p>&#8220;Ya, kau benar Axel, warga Bisk sedikit berbeda dalam bicara. Ottendorf atau Candy adalah seorang Ranger setahuku.&#8221;</p>



<p>&#8220;wah, terimakasih ya Rin, kau sangat membantuku.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya sama-sama, apa kau punya nomer kontak agar aku bisa menghubungimu?&#8221; tanya Kharin.</p>



<p>&#8220;Kontak? tentu saja, aku punya ponsel. ini nomer ku 0897-7335-659.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ah, terimakasih, kapan-kapan kamu kuhubungi deh.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hubungi? emang ada ap-&#8220;</p>



<p>&#8220;Dada&#8230;&#8221; ucapnya seraya pergi meninggalkanku.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Aku pulang.&#8221; Seruku memasuki rumah, namun saat aku membuka pintu, ternyata pintu sudah tidak dikunci.</p>



<p>&#8220;Perasaan, gue dah yang megang kunci.&#8221; Ucapku, lalu aku bergegas masuk.</p>



<p>&#8220;Guru, apa anda ada di dalam?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ah, Axel. Ya, aku ada di dalam.&#8221; Jawab Elrond Harvey.</p>



<p>&#8220;Axel? Kau? Pfftt… hahaha… kau pasti habis melawan Clod ya, haha…&#8221; ucap Elrond Harvey kali ini menertawaiku.</p>



<p>&#8220;Ya.. ya.. aku tau, kau pasti akan mengatakan padaku kalau Clod itu makhluk emosional dan bla bla bla…&#8221; timpalku segera mencari handuk lalu mandi.</p>



<p>&#8220;Ya, kau benar Axel. Aku jadi teringat saat dulu menjadi mentor Rasikh dan kawan-kawan…&#8221;</p>



<p>&#8220;Maksudmu guru?&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia, Rasikh. Terlalu berlama-lama menghadapi Clod, dan bernasib sepertimu Xel, haha… nasib yang menular, haha…&#8221; jawabnya dengan tawa puas, persis seperti Kak Rasikh.</p>



<p>Akupun segera bergegas mandi tanpa mempedulikan tawanya.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><em> &#8220;Ngomong-ngomong Gaya bertarunglu berubah sejak kita terakhir ketemu, jadi lebih ke offensive, berutal, gunain dua senjata pula. Dari Siapa lu mempelajarinya?&#8221;<br>-Roni Gee Siegdarker- Ch.1 </em></td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 2 END.</em></strong><br> Previous Chapter > Read Chapter 1: <br><a href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-1/">https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-1/</a><br>List of Hidden Line Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-list">https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br><strong>JFI WIKI/Trivia :</strong><br><br><strong>Weapon :</strong><br><strong>&#8211; Beam Bead : Tongkat (28) = Physical Attack : 66-88 Force Attack : 360-540</strong><br><strong>&#8211; Beam Assemble Cross-Bow : Panah (28) = Physical Attack : 296-573</strong><br><br>Character :<br>&#8211; Alco Holec Dragunov<br>Terinspirasi dari char RF indo asli, server Supernova. Dia adalah orang terkemuka waktu gue maen. Dia adalah orang yang pertama kali mencapai level 70. Pertamakali pula memegang senjata Tombak Patron lv 70.<br>Nama char aslinya : ALCOHOLIC. Tapi karena kalo bener-bener dimasukkan bulat-bulat artinya pemabok, maka gue modif sedikit menjadi Alco Holec, sedang Dragunov adalah Clan, yang notabennya terdiri dari job Templar, karena si ALCOHOLIC juga seorang templar.<br></p>



<hr class="wp-block-separator"/>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2/">HIDDEN LINE CHAPTER 2 – I CAN&#8217;T BELIEVE MY EYES</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>HIDDEN LINE CHAPTER 1 – HIDDEN LINE</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-1/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-1/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 10:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[HIDDENLINE]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1730</guid>
				<description><![CDATA[<p>Hidden Line spin-off from Journey for IdentityPenulis: Bid’ah Slayer *Waktu cerita 8 bulan setelah chapter...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-1/">HIDDEN LINE CHAPTER 1 – HIDDEN LINE</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Hidden Line spin-off from Journey for Identity<br>Penulis: Bid’ah Slayer</em></strong> <br><br><em>*Waktu cerita 8 bulan setelah chapter 16 JFI, tepatnya seminggu sebelum November 133 NE.</em></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>Di suatu bukit beralaskan rumput,terlihat dua sosok pemuda Corite saling menyerang, pandangan tajam dari masing-masing insan tak lepas dari lawan yang sedang mereka hadapi.</p>



<p>TRANGG!</p>



<p>ZRANGG!</p>



<p>Senjata mereka saling beradu, Pisau tipe Katana dengan Pisau tipe Defender.</p>



<p>BLOKK!</p>



<p>Katana lainnya beradu dengan prisai ; Beam Shield.</p>



<p>Setelah senjata mereka saling beradu, mereka segera melompat menjauh, kembali pada posisi &#8216;aman&#8217; sekaligus mengamati pergerakan yang mungkin lawan mereka lakukan dan bagaimana cara mereka mengambil celah.</p>



<p>&#8220;Hah.. hah… Boleh juga lu, Roni.&#8221; Ujar pemuda Corite berambut Biru Tua sambil mengatur nafas.</p>



<p>&#8220;Heh.. hehe… sudah gue duga, gaya bertarung lu itu terlalu serampangan, pasti sekarang lu kehabisan tenaga, iya &#8216;kan?&#8221; jawab pemuda berambut putih yang dipanggil Roni.</p>



<p>&#8220;Sebagai musuh, gak akan gue jawab pertanyaan yang satu itu.&#8221;</p>



<p>Mengakhiri basa-basi, Pemuda berambut biru itu langsung menerjang kearah lawannya dengan menghunuskan salah satu Katananya.</p>



<p>&#8220;!&#8221;</p>



<p>Dengan sigap, Roni memasang prisainya dalam posisi siaga.</p>



<p>BRAKK!</p>



<p>Benturan keras terjadi, namun kali ini bukan senjata dengan prisai, melainkan…</p>



<p>&#8220;A-apa?!&#8230;&#8221; ujar Roni terkejut.</p>



<p>Pemuda berambut biru itu menggunakan tameng lawannya sebagai penopang kaki agar ia dapat melompat, dan setelah itu, ia sekarang tepat berada diatas sang musuh.</p>



<p>Drap…</p>



<p>ia mendarat tepat dibelakan pengguna tameng dan langsung mengarahkan ujung katana nan tajam kearah leher Roni sebelum Roni sempat menoleh.</p>



<p>&#8220;Skak.&#8221; serunya tanpa menurunkan kewaspadaan didetik-detik kemenangannya.</p>



<p>&#8220;…&#8221; Roni menghela nafas singkat &#8220;Gak secepet itu!&#8221;</p>



<p>TRANGG!</p>



<p>Berbekal mengumpulkan fokus yang dalam waktu singkat, ia berpaling dengan cepat sembari mengayunkan Defender agar katana milik lawannya tak menembus tengkuknya.</p>



<p>Kedua belati kembali beradu membuat percikan api karena besi yang bergesek. Namun memontum sengit itu hanya terjadi sebentar saja, karena sekarang katana lain sudah mengancamnya.</p>



<p>&#8220;Mat.&#8221; sambung corite berambut biru.</p>



<p>…</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Oke-oke, gue mengaku kalah.&#8221; seru Roni pasrah. &#8220;Gak gue sangka, lu bakal ngelakuin itu Xel.&#8221; serunya pada Corite berambut biru yang bernama Axel, iapun merebahkan tubuhnya pada rerumputan yang ia anggap seperti matras.</p>



<p>&#8220;Lu juga, gak gue duga sikap kepala batu lu tetep dibawa-bawa saat lagi sparing begini.&#8221; balasnya kini sambil merubah posisinya menjadi duduk.</p>



<p>&#8220;Ngomong-ngomong Gaya bertarunglu berubah sejak kita terakhir ketemu, jadi lebih ke offensive, berutal, gunain dua senjata pula. Dari Siapa lu mempelajarinya?&#8221; Tanya Roni pada lawan bicaranya.</p>



<p>&#8220;Elrond Harvey&#8221;</p>



<p>&#8220;Elrond Harvey… umm.. oh, si mata satu itu ya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak sopan! Walaupun Begitu, ia mentor gue. karena dia, gue bisa mengalahin lu &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>Huh…</p>



<p>Roni menghela nafas mendengar sindiran yang dilempar sahabatnya.</p>



<p>&#8220;Yahh.. gue hanya tak ngeduga aja, dulu saat kita masih turgon*, lu gak lebih hebat dari gue. namun setelah lu diajari olehnya, ternyata kemampuan lu berkembang pesat. Dan gak terduga.&#8221;</p>



<p>&#8220;Haha… jangan bicara seakan lu gak jauh berkembang, beberapa bulan gak ketemu gue juga gak nyangka kemampuan bertarung dan pertahanan lu layaknya Cannibal bercula satu. Hahaha…&#8221;</p>



<p>Mereka berduapun tertawa.</p>



<p>&#8220;Btw, kenapa lu bisa dapet pelatihan special dibawah pengawasan Elrond Harvey?&#8221;</p>



<p>&#8220;Spesial? lu terlalu berlebihan, dia hanya seorang sahabat dari mendiang ayah gue, mungkin dia memiliki hutang atau janji dengannya untuk ngajarin gue sepeninggalannya. Karena cuma gue seoranglah yang tersisa dari clan gue, jadi hanya dia yang tau bagaimana cara melatih gue agar menjadi seperti ayah gue. Mungkin…&#8221; jelas pemuda berambut biru, diakhiri ketidak pastian akan jawabannya.</p>



<p>&#8220;Drakho ya… eumm.. maaf ya Xel, membuat lu teringat masalah itu.&#8221; ucap Roni menyesal. Agar membuat suasana tak canggung, iapun segera melontarkan pertanyaan</p>



<p>&#8220;Xel, nanti pas naik tingkat, profesi apa yang bakal lu ambil? Kalau gue udah pasti Knight agar menjadi Black Knight.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gue masih belum tau mau mengambil profesi akhir apa, tapi kayanya gue bakal mengambil profesi pertama sebagai Champion.&#8221;</p>



<p>&#8220;Mungkin lu bakal jadi Templar, mengingat si mata satu berasal dari clan Dragunov; yang notabennya Templar.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya… bisa aja, lihat bagaimana nanti dah.&#8221; ucap Axel dan mulai merebahkan tubuhnya, mengikuti Roni.</p>



<p>Ditengah mereka bersantai, tanpa mereka sadari, seseorang telah mengawasi mereka sedari tadi, dan kini ia mendekat.</p>



<p>tap.. tap.. tap…</p>



<p>&#8220;Wah wah, sehabis berlatih memang enaknya rebahan di rumput sambil memandangi awan yah?&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya dong…&#8221; jawab Roni acuh tak acuh tanpa melihat sumber suara.</p>



<p>&#8220;<em>Sett… Ron!&#8221;&nbsp;</em>bisik rekannya untuk menyadarkannya.</p>



<p>&#8220;Bay de way, siapa sih si mata satu itu?&#8221; Tanya sosok yang baru datang pada Roni yang asik memandang awan.</p>



<p>&#8220;Masa&#8217; gak tau? Tentu saja si Ha…&#8221; Roni yang bicara, tiba-tiba menghentikan suara yang hendak keluar dari mulutnya setelah mengetahui siapa yang sebenarnya ia ajak bicara.</p>



<p>&#8220;Ha… hari ini cerah sekali yah hehe…&#8221; lanjutnya ngeles mentok dengan dibumbui senyum-senyum layaknya anak flem.</p>



<p>&#8220;Jangan memperalihkan pembicaraan, siapa si mata satu itu?&#8221; ujar sang penanya dengan nada datar.</p>



<p>&#8220;Engg…&#8221; hanya suara itu yang mampu ia buat, enggan untuk meneruskan.</p>



<p>&#8220;Jawab wahai Roni Gee Siegdarker&#8221; seru sang empunya suara dengan nada selow, namun itu jelas terasa tajam untuk Roni.</p>



<p>&#8220;I-itu anda, Elrond Harvey… Dragunov. Maafkan aku Tuan Harvey&#8221; ucapnya seraya menunduk dan memejamkan mata. Khawatir hal buruk akan ia terima.</p>



<p>&#8220;… sepuluh putaran.&#8221;</p>



<p>&#8220;H-hah? Apa yang anda bicarakan tuan Harvey?&#8221; Tanya Roni heran.</p>



<p>&#8220;Kau mau memperoleh maafku &#8216;kan? Larilah sepuluh putaran bukit itu, lalu kau kumaafkan&#8221; ucap Elrond Harvey.</p>



<p>&#8220;A-a…&#8221; Roni seakan mematung mendengar persyaratan yang dibebankan padanya.</p>



<p>&#8220;Tunggu apa lagi? Cepat lakukan, atau kau mau disidang karena menghina atasan dan mendapatkan hukuman yang lebih &#8216;menyenangkan&#8217;?&#8221; serunya memberi pilihan.</p>



<p>&#8220;Ba-baiklah Elrond…&#8221; Ronipun segera berlari menuju bukit yang jaraknya bisa dibilang lumayan.</p>



<p>&#8220;<em>Sibodoh…&#8221;&nbsp;</em>bisiknya kesal seraya menjauh.</p>



<p>&#8220;Aku mendengarnya, tambah lima putaran&#8221; timpal Harvey.</p>



<p>.</p>



<p>Sementara Roni berlari menjalankan &#8216;Hak&#8217; nya, mereka berdua berteduh dibawah pohon yang letaknya tak jauh, juga untuk mengawasi Roni agar tak mengurangi jatahnya.</p>



<p>&#8220;Jadi, bagaimana rasanya bisa bertemu kembali dengan sahabatmu, Axel?&#8221; Tanya Harvey membuka percakapan. Namun perhatian sepasang netranya tetap tertuju pada Roni yang sedang ia kerjai, hitung-hitung memberinya sedikit pelajaran. Walaupun sebenarnya hinaan yang tertuju padanya tak terlalu ia ambil pusing.</p>



<p>&#8220;Tidak buruk, delapan bulan tak bertemu, senang rasanya bisa melihat sahabatku berubah dengan pesat, tadi kami baru bertemu dan memutuskan untuk sparing. Aku juga tak sabar untuk bertemu dengan yang lainnya, guru.&#8221; jawab Axel dengan tatapan mata memperhatikan hal yang sama dengan gurunya.</p>



<p>&#8220;Ya, aku tau kalau kalian tadi bertarung, teknikmu menggunakan prisai musuh sebagai batu loncatan boleh juga, itu sesuatu hal yang tak ku duga sebelumnya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Anda melihat kami bertarung? Biasanya anda dihari secerah ini selalu tidur siang dibawah pohon, namun tadi aku tak melihat anda.&#8221;</p>



<p>&#8220;Diatas, aku tidur di sana.&#8221; jawab Harvey sambil menunjuk kearah dahan yang besar.</p>



<p>&#8220;Oh ya, kau tadi bilang kalau kau tak sabar untuk bertemu dengan teman-teman mu &#8216;kan?&#8221; Tanya Harvey memastikan apa yang dikatakan Axel sebelumnya.</p>



<p>&#8220;Ya benar.&#8221; jawab Axel.</p>



<p>&#8220;Baiklah, kalau begitu kau minggu depan akan ku carikan tim, agar kau bisa bertemu dengan yang lainnya, juga mempunyai banyak teman.&#8221;</p>



<p>&#8220;H-Hah?! Anda serius guru? Tapi… bukannya pembagian tim sudah pas? Mengingat saat aku menjadi murid anda karena aku adalah prajurit yang kebetulan tak memiliki pasangan untuk dijadikan tim yang jumlah minimalnya tiga orang?&#8221; jelas Axel pada gurunya.</p>



<p>&#8220;Bila kau mempercayai itu, maka jawabannya ya, Jumlahnya kebetulan tidak pas. Namun bila kau bertanya kenapa orang itu mesti kau, itu karena aku yang memintanya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Anda yang memintanya?&#8221; ucap Axel bingung.</p>



<p>&#8220;Ya. Anggap saja itu permintaan yang terkabul atau Decem yang mengatur. Kau bebas mempercayai yang mana.&#8221;</p>



<p>Keduanyapun terdiam, walau hanya beberapa saat, namun atmosfer disekeliling mereka jelas terasa berubah, drastis.</p>



<p>&#8220;&#8230; Lalu…&#8221; Axelpun mulai melontarkan sepatah kata, yang nantinya akan diikuti oleh kata lainnya yang membentuk sebuah kalimat pertanyaan.</p>



<p>&#8220;…saat aku memasuki tim baru itu, apa aku akan sekelompok dengan orang yang ku kenal?&#8221;</p>



<p>Sebenarnya ada hal yang lebih penting untuk ditanyakan dalam benaknya, namun entah mengapa ia merasa berat untuk menanyakannya, iapun menanyakan pertanyaan itu, untuk menepis prasangkanya.</p>



<p>&#8220;Mungkin&#8221; jawab Harvey sambil mengubah posisinya menjadi berdiri. Merapihkan bajunya, lalu bicara</p>



<p>&#8220;Selama delapan bulan kau ku latih, aku tau lu memang seperti dia. Dan tentu aku mengetahui sifat dan apa yang ada dipikiranmu, termasuk saat ini. kau mengetahui kalau minggu depan adalah waktunya bulan war, dan aku adalah salah satu orang yang akan ikut di dalamnya.</p>



<p>Yang sebenarnya ingin kau tanyakan adalah</p>



<p>&#8216;Kenapa aku dimasukkan kedalam tim lain&#8217; bukan pertanyaan yang tadi kau ucapkan ; seperti berusaha mengelak.&#8221;</p>



<p>Mendengar jawaban gurunya, Axel tampak tercengang, ia tak menduga gurunya tau apa yang sebenarnya ia risaukan. Karena walau ia sangat ingin bertemu teman-temannya, sosok di depannya yang sebagai guru jelas tidak tergantikan. Terasa delapan bulan bersama, ia telah menjadi sosok pengganti yang penting, seorang ayah… keluarga…</p>



<p>&#8220;Ta-tapi… bila aku tak mengatakan kalau aku ingin bertemu teman-teman ku, apa aku tidakjadi dipindahkan?&#8221; Tanya Axel, kembali mencoba mengelak.</p>



<p>Harveypun menghela nafas panjang, lalu menatap keatas, menyaksikan beberapa cercah cahaya yang berusaha menembus rindangnya pohon tempat mereka berdua bernaung, lalu mengatakan…</p>



<p>&#8220;Dengar Axel, jawabannya adalah ; aku merasakan sesuatu yang janggal dihari kedepan. kau pasti faham apa maksudku itu. Oleh sebab itu, aku harus mencarikan pengganti diriku, dan kuharap kau mendapatkan yang terbaik. Aku tak bisa membuat ayah mu kecewa karenaku, tidak setelah kepergiannya.&#8221;</p>



<p>Setelah Harvey menjawab, iapun berlalu meninggalkan Axel juga Roni yang sedang berlari mengitari bukit.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Hah.. hah… Xel, kemana si mata satu itu?&#8221; Tanya Roni dengan nafas tak beraturan.</p>



<p>&#8220;Dia dah pergi&#8221;</p>



<p>&#8220;Dari tadi?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Sitt, tau begitu tadi gue kurangi saja jumlah putarannya.&#8221; maki Roni kesal sendiri.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Lu kenapa Xel? Tampang lu murung begitu. Apa tadi si mata satu ngomong sesuatu yang gak menyenangkan?&#8221; Tanya Roni membuka percakapan dalam langkah mereka menuju &#8216;rumah&#8217; masing-masing.</p>



<p>&#8220;Ah, enggak. Dia hanya mengatakan kalau minggu depan gue akan dimasukkan ke dalam tim baru.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tim? Kalau begitu mungkin lu adalah salah satu orang yang termasuk dalam tim rombakan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Rombakan?&#8221; ujar Axel heran.</p>



<p>&#8220;Ya, kabarnya beberapa tim akan dirombak, dan mereka yang mempunyai skill diatas rata-rata akan dipindahkan, entah dilatih secara khusus seperti yang selama ini lu alami mungkin, atau dimasukkan dalam komposisi tim tertentu. Itu saja yang gue tau, enggak terlalu jelas memang. Sebagian orang menganggap hanya desas desus, sebagian lagi percaya walau dengan alasan yang berbeda karena memang terjadi.&#8221; jelas Roni.</p>



<p>&#8220;Oh.. begitu ya…&#8221;</p>



<p>&#8220;Hehe… kuharap kita bisa satu tim.&#8221; seru Roni menunjukkan senyum berserta rentetan gigi putihnya.</p>



<p>&#8220;Memang lu mengalami perombakan juga?&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak, tapi siapa tahu besok demikian. Gue yakin kalau kita berada di tim yang sama, pasti kita gak terkalahkan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya, lu benar. Semoga saja itu terwujud.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Aku pulang.&#8221; seru Axel memasuki pintu rumah.</p>



<p>&#8220;Oh, kenapa kau pulang sore sekali?&#8221; seru seseorang dari dalam.</p>



<p>&#8220;Tadi kami sempet hunt sebentar dan menjual beberapa barang ke sundries. Guru sendiri baru pulang?&#8221; seru Axel pada gurunya ; Elrond Harvey.</p>



<p>Axel dan gurunya memang tinggal dalam rumah yang sama. Lebih tepatnya selama ini Axel tinggal di rumah Harvey. Sejak ia dimentori olehnya, sejak itu pula Axel tinggal di sana. Mendapatkan pelatihan &#8216;khusus&#8217; dan terisolasi dari teman-teman sebayanya. Itu adalah harga yang ia mesti bayar, namun semua itu akan berubah dalam beberapa hari kedepan.</p>



<p>&#8220;Ya, aku baru saja sampai, rapat mengenai strategi perang sungguh merepotkan.&#8221; ujar Harvey sambil meletakkan makanan ke meja makan.</p>



<p>&#8220;Guru memasak makanan hari ini?&#8221;</p>



<p>&#8220;Mumpung tadi saat pulang aku melihat makanan laut sedang murah. Jadi aku memasaknya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Yasudah, aku mau mandi dulu. Nanti biar aku yang mencuci piringnya.&#8221; ucap Axel sembari melangkah ke kamar mandi.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Axel, ada yang ingin aku bicarakan. Ini mengenai hal yang tadi siang kita bicarakan.&#8221;</p>



<p>&#8220;He&#8217;emm…&#8221; suara yang bisa ia keluarkan karena sedang penuh dengan makanan.</p>



<p>&#8220;Kau akan menemui anggota tim mu besok.&#8221;</p>



<p>&#8220;UHUKK!&#8221; Axel tiba-tiba saja tersedak saat mendengar perkataan gurunya.</p>



<p>Iapun langsung mengambil air yang sanggup ia gapai dan meminumnya…</p>



<p>Gluk.. gluk.. gluk…</p>



<p>BRUSHHH…</p>



<p>&#8220;APA?! Katanya minggu depan, kok jadi mendadak?&#8221; seru Axel heran.</p>



<p>&#8220;Rapat mengenai strategi perang itu memakan banyak waktu dan tenaga. Belum lagi rapat clan. Aku tak bisa melakukan semua itu secara bersamaan. Jadi aku langsung menemui rekanku dan membicarakannya. Ia menyanggupi dan besok pagi kau pergi ke Istana Numerus, tunggu lah di sana.&#8221; jelas Harvey sambil melanjuti minum tehnya.</p>



<p>&#8220;Siapa yang akan menjadi mentorku?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kenalanku, lebih tepatnya anak didikku. Ia bernama Rasikh, Anclaime Rasikh. Dia adalah anak yang berbakat. Menduduki pangkat Anclaime saat ini dengan umur 19 tahun.&#8221;</p>



<p>&#8220;Se-Sembilan belas tahun?!&#8221; &#8220;Guru pasti bercanda, dia hanya dua tahun diatas ku sekarang.&#8221;</p>



<p>&#8220;Sudah kubilang. Aku harus mencari penggantiku yang terbaik &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ah, iya.&#8221; Seru Axel kembali menyantap makanannya. Lagi, seperti tadi siang, suasana menjadi hening.</p>



<p>…</p>



<p>Cukup lama suasana hening ini berada ditengah-tengah mereka, axelpun membuka pertanyaan. &#8220;Ngomong-ngomong, seperti apa ciri-cirinya?&#8221;</p>



<p>&#8220;Umm…Dia tampan, perempuan banyak yang menyukainya, dan…&#8221;</p>



<p>&#8220;Fisik -_- &#8221; Sela Axel dengan muka datar.</p>



<p>&#8220;Fisik, ia sepertinya lebih tinggi darimu kurang lebih 20 cm. berambut hitam, dan postur tubuh yang tegap.&#8221;</p>



<p>&#8220;Nah, kalau begitu aku tak akan susah mencarinya esok.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Keesokan harinya, Axel bangun pada pukul 06:07 pagi. Seperti biasa, dialah yang bertugas membuat sarapan pagi untuk dirinya dan sang guru, Sebelum semuanya mengawali aktivitas masing-masing.</p>



<p>&#8220;Selamat pagi guru.&#8221; ucap Axel memberi hormat padanya.</p>



<p>&#8220;Hoammzz… Pagi.&#8221; Jawab Harvey masing mengantuk.</p>



<p>&#8220;Oh ya, anda ada rapat penting pagi ini?&#8221; Tanya Axel membuka pembicaraan sambil mengolesi mentega di roti yang akan ia bakar.</p>



<p>&#8220;Rapat, pagi ini? Sepertinya tidak ada. Rapatnya siang kok&#8221; jawabnya sambil duduk lalu meminum kopi yang sudah tersedia, kopi hitam cap Pesawat Api.</p>



<p>&#8220;Tidak ada? Tapi tadi ada seseorang mengantarkan surat ini, sepertinya isinya sangat penting. Ia sampai terengah-engah saat mengantarkannya&#8221; ujar Axel sambil menyerahkan surat yang tersegel tanda aliansi suci Cora.</p>



<p>&#8220;Surat.. penting..&#8221; iapun membuka surat itu dan membacanya.</p>



<p>BRUSHHH!</p>



<p>&#8220;Rapat Mengenai Senjata!&#8221; seru Harvey kaget sampai menyemburkan kopi yang hendak ia minum.</p>



<p>&#8220;Rapat tentang senjata?&#8221; ucap Axel dengan nada heran.</p>



<p><em>Apakah aliansi suci sudah mempunyai senjata baru? Kalau begitu kejayaan Cora sudah di depan mata!</em></p>



<p>Batin Axel sambil menghidangkan roti yang sudah ia bakar.</p>



<p>&#8220;Ya, rapat tentang senjata…&#8221; ucap Harvey sambil kembali meminum kopinya.</p>



<p>BRUSHHH!</p>



<p>&#8220;Pagi ini, pukul 06:30!&#8221; Harvey kembali menyemburkan kopi dari mulutnya.</p>



<p>&#8220;Axel, pukul berapa sekarang?!&#8221;</p>



<p>&#8220;Pukul 06:19.&#8221; Ujarnya sambil melihat chronometer yang berada ditangan kanannya.</p>



<p>&#8220;Baiklah, kalau begitu nanti kau bawa kunci rumahnya. Aku akan segera berangkat.&#8221; ucap Harvey segera bergegas kekamar mandi.</p>



<p>…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>*Ruang Rapat Majlis Tinggi Aliansi Suci Cora*</strong></p>



<p>&#8220;Baiklah, karena semua sudah berkumpul, maka saya selaku pemimpin rapat ini, juga pemimpin dari tim research pengembangan senjata, dengan nama Decem yang suci, dan atas seizin Yang Mulia Quaine Khan, saya menyatakan rapat dimulai.&#8221; ucap sang pemimpin rapat, Uskup Renault Smirnov Rosario pada para peserta rapat.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Seperti yang kalian tahu, senjata yang kita dan bangsa lain gunakan adalah senjata yang dapat meningkatkan kekuatannya sesuai dengan kekuatan penggunanya dengan batas tertentu. Peningkatan kekuatan senjata itu sendiri dipengaruhi kekuatan force pengguna. Dilatarbelakangi demikian, kita, bangsa Cora adalah bangsa yang unggul dalam kekuatan force. Maka dari itu kami selaku tim research berinisiatif dan juga terus berupaya membuat suatu terobosan baru dalam persenjataan agar tercapainya kekuasaan Cora disektor Novus ini.</p>



<p>Dark Force, diberkati oleh Decem dengan kekuatan besar. Kami telah menemukan bagaimana cara kekuatai itu agar tersusupi dalam senjata yang kita gunakan selama ini. Namun sifat force gelap yang cenderung tak stabil, membuat tidak semua senjata cocok. Banyak dari percobaan kami gagal yang berujung pada hancurnya senjata uji coba. Namun Decem senantiasa menjanjikan keberhasilan bagi hambanya yang tak berputus asa.</p>



<p>Hari ini, kami tim research telah mengujicobakan penemuan kami yang tempo hari telah berhasil kami ciptakan. Sengaja memang kami tak mempublikasikan karena penelitian ini bersifat rahasia. Kami tak mau informasi ini bocor sehingga jatuh pada bangsa lain.</p>



<p>Senjata yang berhasil kami buat adalah transformasi dari Lance, senjata tipe tombak dengan tingkat (level) 40. Percobaan pada Lance menunjukkan reaksi stabil, dan dengan itu kami menamakan senjata tersebut adalah…&#8221;</p>



<p>Uskup juga selaku ketua peneliti menahan perkataannya sambil memberi isyarat pada seseorang untuk membawakan hasil penelitian yang delapan bulan sudah dibuat.</p>



<p>&#8220;Intense Black Lance&#8221;</p>



<p>Para petinggi aliansi suci Cora yang menghadiri rapat rahasia ini dibuat tercengang. Mereka menyaksikan senjata yang belum pernah diciptakan sebelumnya. Sebuah kunci menuju kemenangan.</p>



<p>&#8220;Sebuah tombak yang akan membawa kita pada pintu kejayaan.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>Setelah Uskup mempresentasikan hasil ciptaannya, seseorang bertanya padanya.</p>



<p>&#8220;Uskup, mengingat senjata ini akan digunakan saat perang nanti. Siapakah pengguna tombak ini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Berdasarkan keputusan dan izin yang mulia Quaine Khan yang diberikan padaku, aku menunjuk pengguna tetap dari Intense Black Lance ini adalah pengguna pertamanya, yaitu Alco Holec Dragunov.&#8221; Jawab sang Uskup.</p>



<p>&#8220;Apakah itu tidak terlalu gegabah namanya? Membiarkan anak berumur 22 tahun memegang kunci kejayaan Cora? Maksudku, aku yakin di ruangan ini pasti ada yang bertanya-tanya, juga keheranan sepertiku. Kenapa mesti dia yang masih anak kemarin sore yang menggunakannya. Sedangkan banyak diantara kita yang jauh lebih berpengalaman yang pantas untuk mendapatkannya.&#8221; seru seorang pria berambut perak panjang. Ia memperotes dengan lantang sambil berdiri.</p>



<p>Mendengar protesan keras dari salah satu peserta rapat, Uskup Renault merasa tidak terkejut, ia sudah bisa menduganya kalau hal ini akan terjadi, tepat dalam pembicaraan ini.</p>



<p>&#8220;Baiklah. Pertama-tama ku ucapkan terimakasih padamu, tuan Silver Lance, yang menurutmu telah mewakili pertanyaan sebagian besar orang diruangan ini.</p>



<p>Memang, seperti yang kau fikirkan, aku juga sudah memikirkannya. Memang Alco adalah prajurit yang muda, namun dia bukanlah anak kemarin sore. Dia sudah beberapa kali menjalankan misi di daerah netral, bertempur dengan bangsa lain, juga telah beberapakali mengikuti war. Atas dasar itu dan dengan perhitungan lainnyalah aku memilihnya, selain&nbsp;<strong>hak prerogratif</strong>&nbsp;yang Quanie Khan berikan padaku.&#8221; Ucap Uskup menjelaskan, iapun sempat menekankan kata &#8216;Hak Prerogratif&#8217; pada kalimatnya.</p>



<p>&#8220;Akupun sebelumnya telah memilih calon yang pas sebelum pilihan jatuh pada Alco…&#8221;</p>



<p>&#8220;Siapa itu?&#8221; Tanya seorang yang disebut Silver Lance.</p>



<p>&#8220;Rekanmu, Gold Lance. Seandainya ia tak gugur dalam misi di Sette, mungkin ia yang akan menggenggam tombak ini sekarang.&#8221; jawab Uskup dengan gesture tegas, bertatap tajam.</p>



<p>Setelah mendapat jawaban dari ketua peneliti, dengan raut kesal, silver lance kembali duduk.</p>



<p>&#8220;Selain itu, aku sudah mempunyai rencana. Biar ini kita bahas menjadi rapat strategi perang. Dengan &#8216;anak baru&#8217; yang memegang kunci kemenangan kita. Ini akan menjadi serangan kejutan yang tak terduga bagi pihak Accretian dan Bellatean.</p>



<p>Sama seperti kemunculan senjata ini, dengan ia yang membawanya. Ia dan kunci kemenangan tidak akan diduga oleh pihak musuh. Lain halnya bila yang membawa adalah Archon atau yang lainnya. Dengan mudah mereka akan menyadari, mengamati, lalu membangun rencana agar menangani kekuatan baru kita.</p>



<p>Itu semua tidak boleh terjadi, dan kita tak mau itu terjadi.</p>



<p>Untuk mendukung agar Alco selaku pemegang kunci sukses dalam menghancurkan chip. Ia akan kumasukkan dalam tim yang langsung dikomandoi oleh Elrond Harvey Black Dragunov.&#8221;</p>



<p>&#8220;A-apa? Maksudku… A-aku?&#8221;ucap Harvey terkejut, karena sudah menjadi sikapnya cepat bosan dan mengantuk dalam mengikuti rapat. Terlebih yang bersifat dadakan seperti ini. Sehingga biasanya ia tertidur.</p>



<p>&#8220;Ada apa Harvey? Apa kau keberatan?&#8221; Tanya Renault.</p>



<p>&#8220;Tidak tuan, saya hanya memastikan apa yang saya dengar saja.&#8221; Jawab Harvey memberi alasan agar terlihat tetap fokus.</p>



<p>&#8220;Baiklah, selanjutnya strategi perang akan dilanjutkan oleh Archon. Saya undur diri dulu.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;<em>Eh Haan, tadi Uskup Renault ngomongin apaan? Kok bawa-bawa nama gue?&#8221;</em>&nbsp;bisik Harvey pada teman sebelahnya</p>



<p>&#8220;<em>Uhh..</em>.&nbsp;<em>penting banget Vey, penting banget, hajat orang banyak malah, kalo lu gagal bisa turun pangkat luh.&#8221;&nbsp;</em>Jawab temannya yang dipanggil Haan.</p>



<p>&#8220;<em>Et dah, serius, kalo penting kenapa lu gak bangunin gue sih?!&#8221;&nbsp;</em>Bisik Harvey kesal akan kelakuan temannya.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>*Istana Numerus*</strong></p>



<p>Di istana Numerus, Axel sedang menunggu mentor dan rekan tim barunya. Sepertinya ia sampai terlalu pagi, sehingga ia memutuskan untuk mampir sebentar meminjam buku di perpustakaan milik aliansi suci.</p>



<p>&#8220;&#8216;Clan-clan Bellatean&#8217;?&#8221; serunya dengan nada heran setelah mendapati salah satu buku kusam yang sedikit tersembunyi letaknya. Mungkin terjatuh sehingga tidak dapat dibersihkan oleh librariant.</p>



<p>Iapun membuka halaman secara acak, lalu sampai dihuruf G</p>



<p>&#8220;Gy… Gymnastiar? Ughh.. ejaannya susah sekali, Grymnestre? Terserah.&#8221; dumelnya mendapati ejaan yang susah dilafalkan.</p>



<p>&#8216;Adalah clan yang diyakini telah punah dari federasi union. Mereka adalah clan yang haus akan peperangan…&#8217;</p>



<p>&#8220;Yang benar saja, mana ada clan begitu.&#8221; Ucapnya tak membaca seluruh halaman. iapun kembali membuka halaman selanjutnya secara acak.</p>



<p>&#8220;Lac.. Lachrymose? Terserah…&#8221; lagi, ia sedikit kesusahan mengeja bahasa yang rumit.</p>



<p>&#8216;Adalah clan dari bellato yang dikenal licik dalam muslihat bertarung, sejauh ini mereka diketahui hampir menyerupai gaya bertarung dari kelas Stealler&#8230;&#8217;</p>



<p>&#8220;<em>Hmph… licik? Terdengar lebih seperti seorang mesum yang memuja kaki…&#8221;</em></p>



<p>Batinnya, iapun membuka halaman selanjutnya.</p>



<p>&#8220;Redmoon.&#8221;</p>



<p>&#8216;Dari informasi yang berhasil Hashashin dapatkan, kabarnya mengatakan bahwa seluruh anggota dari Clan Redmoon telah terbunuh karena insiden tertentu. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun ciri-ciri yang dikenal dari clan ini adalah iris mata yang berwarna merah darah…&#8217;</p>



<p>&#8220;<em>Seluruh anggota clan terbunuh… ugh, setidaknya mereka masih lebih beruntung karena tidak merasakan penderitaan. Karena semuanya terbunuh.&#8221;</em></p>



<p>Tiba-tiba Axel menyadari sesuatu, &#8220;Tar dulu, kalo ada waktu buat baca begini. Kenapa gak gue cari aja tentang clan gue? Kenapa mesti repot-repot cari tentang clan bangsa musuh?&#8221; seru Axel bermonolog.</p>



<p>Iapun memutuskan untuk segera mengembalikan buku itu pada tempatnya. Namun saat ia berpaling badan…</p>



<p>BRUKK!</p>



<p>&#8220;Aww, maafkan aku.&#8221; ucapnya sambil mengelus hidungnya yang kesakitan.</p>



<p>&#8220;Wah, apa yang sedang kau cari anak muda?&#8221; seru pria yang ditabrak, pria berambut biru panjang yang dikuncir itupun memungut buku yang terjatuh. &#8220;Buku ini nampak usang, Clan-clan Bellatean?&#8221; serunya sambil membuka halaman secara acak.</p>



<p>&#8220;Roseblood ; Clan dari Bellatean yang pandai dalam berburu. Punya bakat mematikan pada sebagian kecil anggotanya. Diturunkan secara matrineal…&#8221; setelah ia membaca dengan suara jelas, ia berkata</p>



<p>&#8220;Kebetulan sekali, aku sudah lama mencari tentang buku ini. Apa kau tidak keberatan bila aku meminjamnya terlebih dahulu?&#8221;</p>



<p>Axel yang semula menelisik penampilan orang yang ditubruknya langsung menghentikannya, menatap orang yang mengajak bicara, lalu menjawab &#8220;Tidak. Memang apa yang akan anda lakukan dengan buku itu?&#8221; Tanya Axel sedikit curiga.</p>



<p>&#8220;Haha… hanya sesuatu yang mesti dilakukan, bisnis.&#8221; jawabnya dengan senyum.</p>



<p>Iapun lalu merogoh saku celananya, lalu memberikannya pada Axel.</p>



<p>&#8220;Ini, ucapan terimakasih dari ku.&#8221;</p>



<p>&#8220;<em>Koin… emas?&#8221;&nbsp;</em>Batin Axel, namun saat ia hendak berterimakasih. Orang itu sudah lenyap dari hadapannya.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Dirasa waktunya untuk kembali ke gerbang Istana Numerus, Axelpun langsung pergi, khawatir yang lain sudah lama menunggu.</p>



<p>Nampak sudah ada tiga orang berdiri di sana, seorang lelaki yang dijabarkan ciri-cirinya kemarin oleh Elrond Harvey, dan dua wanita lainnya. Sebaya dengan Axel.</p>



<p>&#8220;<em>Re-rekanku… wanita semua?&#8221;&nbsp;</em>Batin Axel sedikit terkejut.</p>



<p>Ia kinipun menghampiri mereka dan mengucapkan salam.</p>



<p>&#8220;Selamat pagi.&#8221; ucapnya sambil membungkukkan badan, 90 derajat.</p>



<p>Yang lainnya hanya bisa melihatnya sedikit tak menduga. Karena ia membungkuk terlalu formal.</p>



<p>&#8220;Kau pasti Axel &#8216;kan? Murid Cham- Elrond Harvey.&#8221; seru pria yang bernama Rasikh.</p>



<p>&#8220;Ya, itu namaku.&#8221;</p>



<p>&#8220;Lain kali tidak usah memakai gaya terlalu formal. Aku juga bisa menerima salam biasa kok. Umur kita semua tidak terlalu jauh.&#8221; ucapnya.</p>



<p>&#8220;Ah, iya benar. Maafkan saya, karena terbiasa memberi salam seperti itu pada Elrond Harvey.&#8221;</p>



<p>&#8220;Yaudah, tidak apa-apa. Baiklah semuanya, karena semua sudah berkumpul. Maka mari kita memperkenalkan diri masing-masing. Dimulai dariku.&#8221;</p>



<p>&#8220;Namaku Rasikh, Anclaime Rasikh. Umurku 19 tahun. Profesiku adalah Templar.&#8221;</p>



<p>Setelah Anclaime Rasikh memperkenalkan diri, kecuali Axel, para gadis sedikit terkejut, mengetahui umur mentor mereka hanya berbeda sedikit diatas mereka.</p>



<p>&#8220;Baiklah, selanjutnya Kau.&#8221; Seru Anclaime Rasikh pada gadis berambut hitam perak terurai disebelahnya.</p>



<p>&#8220;Namaku Rachel, Rachela Anant Nobleist. Umurku 16, aku adalah seorang Spiritualist. Sebelum dipindahkan dalam tim ini. Aku sebelumnya berada di tim Taurus 11 bersama Bima Draguila dan Shre Chalyvsen. Mohon kerjasamanya.&#8221; ucapnya diakhiri dengan rundukan ala bangsawan.</p>



<p>Untuk beberapa detik, Axel dibuat terpaku akan perkenalan rekan barunya itu. Rambut yang turun saat ia merunduk seakan memantulkan secercah cahaya Niger. Ditambah aksesori yang berada dikepalanya. Membuat kesan elite saat pertama bertemu.</p>



<p>&#8220;Namaku Kharina, Kharina Lumine Knowlight. Aku adalah seorang ranger. Kelak aku akan menjadi Adventurer. Sebelumnya aku berada di tim Aries 31, bersama Hadd Sliverwing dan Ravly Freewind. Umurku 17 tahun. Semoga kedepannya kita bisa berkerjasama dengan baik. Mohon bantuannya.&#8221; seru seorang gadis berambut hijau dikepang. Sebelumnya Axel tidak pernah bertemu dengan banyak orang, dalam arti tak mengetahui bila ia akan bertemu dengan gadis dengan gaya rambut yang seperti Kharin gunakan sekarang, ia terlihat sangat… cantik.</p>



<p>Umur prajurit Cora memang terbilang muda. Karena dalam tingkat masa pertumbuhan (Pubertas) tergolong cepat, sedangkan penuaan lambat. Corite mandapatkan awal bentuk tubuh maksimalnya saat berumur 16 tahun. Dan mampu hidup selama 200 tahun. Berbeda dengan Bellatean yang mendapatkan awal bentuk tubuh maksimal pada usia 22 tahun, dan mampu hidup hingga 150 tahun. [Z]</p>



<p>&#8220;Axel! Sekarang giliranmu memperkenalkan diri.&#8221; seru Anclaime Rasikh mengingatkan Axel yang entah memikirkan apa. Atau lebih tepatnya entah terpaku melihat &#8216;apa&#8217;.</p>



<p>&#8220;A-ah.. iya, Perkenalkan, namaku Axel Anubis Drakho. Umurku 17 tahun. Aku adalah seorang Warrior. Masalah tim, sebelumnya aku tak masuk tim apapun…&#8221;</p>



<p>&#8220;Hah? Yang benar kamu Xel?&#8221; ujar Rachel langsung memanggil nama depannya.</p>



<p>&#8220;U-um.. Benar… saat pembagian tim, kebetulan jumlah pesertanya ganjil, dalam arti tim yang harus terbentuk dengan tiga orang. Aku merupakan seorang yang tak memiliki pasangan.&#8221; setelah ia mengatakan itu, Rachel dan Kharina tertawa.</p>



<p>&#8220;Haha… kamu Badluck ya, Badluck Axel, haha…&#8221; ujar gadis berambut hitam perak. Namun ditertawakan tidak membuat Axel manjadi malu, ia malu melainkan baru kali ini melihat wanita tertawa, wanita cantik saat membentuk senyuman di wajahnya.</p>



<p>&#8220;Be-begitukah? Menurutku tidak badluck juga. Selama ini aku mendapatkan pelatihan dari Elrond Harvey. Ia yang mengajariku gaya bertarung yang pantas untukku. Aku merasa… dengannya aku bisa tertuntun menemui takdirku.&#8221; Sempat ia tertegun saat hendak menyelesaikan kalimatnya, menyadari, bahwa posisinya saat ia berdiri mengartikan kalau mungkin saja dalam waktu dekat ia tidak akan bertemu dengan guru yang sudah ia anggap sebagai keluarga… ayah…</p>



<p>&#8220;Baiklah, kalian sedang ditingkat 28 &#8216;kan? Kalau begitu langsung saja kita mulai misi kalian.&#8221; ujar pria berambut hitam sambil melihat list misi di log questnya.</p>



<p>&#8220;Kumpulkan sepuluh Siar Blibend dan sepuluh Jemz Riar.&#8221;</p>



<p>&#8220;Mengumpulkan barang dari hunting? Yah.. itu hal yang paling aku tidak suka.&#8221; Keluh Kharin, Rachelpun menyetujuinya.</p>



<p>&#8220;Bukannya ini lebih gampang? Kita bisa mendapatkan beberapa item hunt sekaligus dari satu monster, dengan begitu misi akan lebih cepat selesai.&#8221; ucap Axel.</p>



<p>&#8220;Tidak! Aku lebih baik menghanguskan 40 monster dengan forceku ketimbang harus mengacak-acak mayat mereka hanya demi item hunt.&#8221; tolak Rachel.</p>



<p>&#8220;Sama, aku lebih baik melubangi kepala mereka dengan anak panahku.&#8221; sambung Kharin.</p>



<p>&#8220;<em>Duh, begini toh repotnya setim sama perempuan. Pantes Guru gak nikah-nikah.&#8221;&nbsp;</em>Batin Axel memandang keatas langit biru nan cerah.</p>



<p>Anclaime Rasikhpun berkata &#8220;Dan ingat, walaupun kalian satu tim. Namun untuk misi kali ini adalah misi personal. Hasilnya aku tinggu saat Niger tepat berada diatas dengan mosisi 90 derajat.&#8221; ujarnya pada anak buahnya.</p>



<p>&#8220;Eh, kok begitu sih.&#8221; perotes para kaum Hawa. Namun bukan itu yang Axel heran,</p>



<p>&#8220;Anclaime tidak mengawasi kami saat menjalankan misi?&#8221; ujar Axel.</p>



<p>&#8220;Aku baru saja mendapat panggilan mengenai war yang akan datang. Kuserahkan semuanya padamu Axel, kau adalah ketuanya.&#8221; balasnya diakhiri dengan senyum, lalu berteleportasi kesesuatu tempat.</p>



<p>&#8220;<em>Wutt? gue harus mengawasi mereka juga? Mereka belum tentu mau ngejalanin misi ini, gue juga yang harus jadi ketuanya… oh Decem, bantulah hambamu ini…&#8221;</em>&nbsp;Batin Axel sambil berfacepalm.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Baiklah, seperti yang kalian dengar, kali ini akulah ketua timnya. Jadi biar kuberi sedikit yang kutahu. Siar Blibend merupakan bagian dalam dari organisme organic hidup, demikian juga Jimz Riar. Dari bentuknya dan sepengetahuanku. Siar Blibend terdapat pada monster bernama Clod. Dan Jimz Riar dari tentakel Anabola.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iyuhh… Clod kan monster ulet biru yang menjijikan itu.&#8221; seru Rachel.</p>



<p>&#8220;Iya, Anabola juga monster tumbuhan yang tentakelnya suka kemana-mana.&#8221; balas Kharin.</p>



<p>&#8220;Iya-iya… aku tau kalian jijik, tapi kita inikan prajurit. Kadang bagaimanapun medannya harus kita lalui &#8216;kan? Kita akan kerja sama biar monster-monster itu cepat mati. Berhubung mereka monster elemen tanah, aku minta kamu Anant, kasih mereka debuff lalu serang dengan elemen api.&#8221; Ucap Axel memberi komando pada Rachel dengan nama tengahnya.</p>



<p>&#8220;Iya aku paham kok. Oh ya Axel, kamu panggil aku pake nama depan aja, Gak apa kok.&#8221; ucap Rachel, Axel yang tak terbiasa di&#8217;kerumuni&#8217; wanita. Terlebih membicarakan hal seperti ini membuatnya sedikit gugup.</p>



<p>&#8220;G-gak papa? Aku cuma gak biasa… ke-kesannya kita jadi akrab begitu.&#8221; jawabnya sedikit gagap. Memanggil nama depan di bangsa Cora adalah hal yang dilakukan bila kau memanggil orang yang cukup dekat atau sejenis.</p>



<p>&#8220;Haha… gak apa lagi, kita kan bukannya harus akrab?&#8221; balas Rachel.</p>



<p>&#8220;Iya sih.&#8221; Tanggap Axel melihat tanah tempai ia berpijak, tak berani memandang lawan bicaranya.</p>



<p>&#8220;Jangan-jangan pas Rachel panggil nama depan kamu, kamu sedikit gugup kaya gini?&#8221; Tanya Kharin memastikan.</p>



<p>&#8220;…&#8221; yang ditanya hanya bisa mengangguk.</p>



<p>&#8220;Haha, yaudah… mulai sekarang kita manggil nama depan aja ya?&#8221; usul Rachel dengan senyum, sontak membuat telinga Axel memerah saat melihatnya.</p>



<p>&#8220;Yaudah yuk, kita langsung selesaiin misinya, nanti Axel yang ngambilin barang-barangnya ya…&#8221; ucap Kharin menggenggam tangan Axel dan Rachel. Axelpun tak sempat berkilah untuk menjawab, karena kini ia sudah &#8216;diseret&#8217; menuju tempat hunt agar misi yang diberikan cepat selesai…</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><em> &#8220;Ya. Anggap saja itu permintaan yang terkabul atau Decem yang mengatur. Lu bebas mempercayai yang mana.&#8221;<br>-Harvey Black Dragunov, the Sleepy Dragon- Ch. 1 </em></td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 1 END.</em></strong><br>Next Chapter &gt; Read Chapter 2:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2">https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-2</a><br>List of Hidden Line Chapter:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-list">https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br><strong>JFI WIKI/Trivia :</strong><br>Weapon :<br>&#8211; Katana (Pisau) level 22, Atk : 218 &#8211; 277.<br>&#8211; Defender Saber (Pisau) level 28, Atk : 335 &#8211; 439.<br>&#8211; Beam Shield ; Tameng level 27.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-1/">HIDDEN LINE CHAPTER 1 – HIDDEN LINE</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/hiddenline-chapter-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 25 &#8211; SETTE DESERT</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-25/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-25/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 10:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1728</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Aku hanya berjalan dimana seharusnya aku berjalan tanpa memasuki...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-25/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 25 &#8211; SETTE DESERT</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>&#8220;Jadi misi yang mana yang kau pilih?&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku memilih&#8230;&#8221;</p>



<p><strong>Sette Desert</strong></p>



<p>&#8220;Jadi? lu mengambil misi itu?&#8221; tanya Ryan kepadaku, kami bertiga bersama Adan sedang duduk-duduk menikmati siang di alun-alun kota.</p>



<p>&#8220;iye, menurut gue misi gurun sette masih lebih cocok untuk sekarang ini dibanding misi di Ether.&#8221; Jelasku. &#8220;Lagi pula gue saat ditawarin dua pilihan itu, gue mikir, gak selamanya gue bergantung sama Kak Ulfa terus-terusan, kalo begitu ceritanya kapan gue bisa ngelindungin dia? Makanya gue ambil misi Gurun Sette.&#8221;</p>



<p>Mendengar penjelasanku, Ryan tampak menahan tawa, pasti ia berfikir&nbsp;<em>Siscon</em>, dasar pertololan!</p>



<p>Namun tidak dengan Adan, ia sedari tadi tidak menanggapi apapun, ia seperti memikirkan sesuatu yang rumit.</p>



<p>Menyadari hal itu, aku dan Ryan menegurnya &#8220;Kalo lu gimana Dan? Lu ambil gak tuh misi Gurun Sette?&#8221;</p>



<p>&#8220;A-Ah! Tentu aja gua ambil&#8230;&#8221; jawabnya tak fokus, namun sedetik kemudian ia melanjutkan dengan nada 180 derajat berbeda, sangan serius dan dalam &#8220;Lagi pula, ada hal penting yang harus gua pastiin sendiri&#8221;</p>



<p>Ini pasti mengenai kedua kakaknya yang &#8216;terbunuh&#8217; di Gurun Sette beberapa tahun yang lalu, disaat mereka sedang dipuncak karir mereka. Ku katakan terbunuh dalam tanda kutip karena sampai sekarangpun kedua mayat mereka belum ditemukan. Federasi sudah menganggap keduanya gugur dan mereka mendapat gelar kehormatan sebagai pahlawan muda, namun siapapun bila berada di posisi Adan saat ini, pastilah berharap kedua kakaknya masih hidup, entah bagaimana caranya..</p>



<p>Aku dan Ryan terdiam, menyadari hal ini kami berdua berasa canggung untuk melanjutkan pembicaraan..</p>



<p>&#8220;gua denger tim buat misi Gurun Sette lumayan banyak, sampai sembilan orang&#8221; ujar Ryan, &#8220;Sayang banget sih ya, gua ada misi di Annacade duluan, jadi gak bisa ngumpul bareng.&#8221;</p>



<p>Ryan mendapatkan misi untuk memeriksa ekosistim sekitar Annacade (patroli termasuk memeriksa geografis sekitar) sekaligus check up guard tower di sana, mengingat Annacade sendiri ialah penjara kelas berat, baik itu dari Bellato sendiri maupun bangsa lain yang tertangkap. Sehingga guard tower yang dikerahkan adalah yang terbanyak setelah markas pusat.</p>



<p>&#8220;Iya, walaupun diketerangannya cuma &#8216;memantau&#8217; tapi kalau beranggotakan sampai 9 orang begini, gue rasa misinya gak bakal semudah kedengerannya.&#8221; Tambahku</p>



<p>&#8220;btw, ketua timnya yang gua tau sih Kak Virjman Valyd, lu kenal deket kan Dzof?&#8221; tanya Ryan</p>



<p>&#8220;Engg.. deket sih enggak, tapi ada beberapa hal yang gue tau tentang dia&#8221;</p>



<p><em>Salah satunya saat dia nyatain perasaannya ke Kak Ulfa saat ultahnya, dan dengan berat hati Kak Ulfa mentolak dia</em>,&nbsp;<em>entah kelanjutan hubungan mereka gimana, kurasa bukan untuk konsumsi public informasi seperti ini.</em></p>



<p>&#8220;Yaudahla~ besok kalian berangkat pagi bukan? Gua juga kudu siap-siap, okey I say bye from now&#8230;&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Keesokan harinya, Aku dan yang lainnya pukul -:05.34:- sudah berkumpul di depan portal utama, nampak beberapa kelompok lain juga berkumpul dan tengah mendengarkan intruksi dari mentor/ketua misi mereka.</p>



<p>Anggota misi kali ini ada 9 orang, termasuk Kak Virjman yang sedang berdiri hadapan kami, ia adalah Shield Miller berambut putih cepak dengan pangkat Carters layaknya Kak Ulfa. Dan yang ku kenali dalam misi ini adalah</p>



<p>Angga Rageblood, telah menjadi Commando berambut hitam. Ku tebak sikapnya tetap tidak berubah, tetap keras kepala. Walaupun kini postur tubuhnya lebih berotot dibanding kami semua yang setingkat dengannya.</p>



<p>Antho Wisemind, telah menjadi Pysper dengan Dual Wandnya, sama pula dengan Chandra yang kini telah berprofesi seperti namanya. Mereka mengenakan jubah spiritualist yang kerah bajunya dapat menutupi setengah wajahnya. Hanya saja milik Chandra ia buka saat bertemu kami, sedangkan Antho membiarkannya tertutup, ia memberi tahu jubah spiritualist dirancang demikian agar musuh tak tahu mantra apa yang akan ia rapalkan, dan ia tetap waspada.</p>



<p>Yang selanjutnya adalah Pria berambut oranye dengan armor ranger Rust Spring Coat Set berwarna biru. &#8220;Perkenalkan, namaku Billy Zain, Captain, seorang Warrior-Miller&#8221; ujarnya memperkenalkan diri.</p>



<p>&#8220;HEH!?&#8221; ujarku spontan, sehingga semua menengok kearah ku</p>



<p>&#8220;Ada apa Baydzofi? Kau keberatan?&#8221; tanya Kak Virjman</p>



<p>&#8220;Ti-tidak, hanya saja, Billy, kenapa kau mengenakan armor ranger sedangkan kau adalah Miller?&#8221;</p>



<p>Bukannya menjawab, ia balik bertanya &#8220;Kau sendiri, seorang specialist kenapa tak mengenakkan armor specialist?&#8221;</p>



<p>Aku tertegun, untuk saat ini tidak ada gunanya berbanyak cakap, kami baru akan mengawali misi, simpan itu untuk nanti. Akupun seakan mengetahui bahwa pertanyaan itu bukan untuk dibalas, namun &#8216;tutup mulut mu!&#8217;. Lagipula ia juga merupakan anak didik Kak Virjman langsung, jadi pasti saat Kak Virjman mengizinkan, ia mengetahui alasannya.</p>



<p>Aku dan Adanpun memperkenalkan diri dalam formalitas ini, kemudian orang-orang yang tak kuduga sebelumnya, Sabila, ia mengambil misi ini! Aku hampir tak mengetahuinya karena tubuh kecilnya terhalang para pria disini. Menjadi satu satunya wanita kuharap tak membuatnya malu untuk mengerahkan seluruh kemampuannya nanti.</p>



<p>&#8220;Namaku Sabila Rosseblood, seorang perwira berpangkat captain, ranger-Sniper. Siap menjadi pengintai dalam tim ini&#8221; ujarnya tegas tanpa keraguan. semenjak pertemuan terakhir (festival kembang api beberapa minggu lalu) ia dimataku cukup berbeda kali ini, mereka yang baru bertemu Sabila pasti juga tak menduga dibalik karakter yang terlihat imut ia mampu bersikap tegas dan tak punya kesan main-main dalam misi ini.</p>



<p>Dan yang terakhir</p>



<p>&#8220;Pe-perkenalkan, ehem&#8230; namaku Kasetsu Aqblerry, dilantik menjadi captain baru-baru ini, dan aku seorang Craftman. Salam kenal&#8221;</p>



<p>Nampaknya si kaset juga ambil bagian dalam misi kali ini, ya mungkin ia mulai membiasakan diri hidup bersosial dalam sebuah tim dan kuharap misi akan berjalan lancer jaya.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Pukul -:05.52:- Gurun Sette</p>



<p>&#8220;ya prajurit-prajurit, misi kali ini yang akan kita lakukan pengawasan, namun objektif dari misi memiliki beberapa poin,</p>



<p>Pertama, melakukan pengawasan atas wilayah Bellato union di daerah Gurun Sette ini, ini merupakan tindakan dalam menjaga kedaulatan bangsa.</p>



<p>Kedua, memenuhi kebutuhan pos pos penjagaan di Gurun Sette ini dengan kemampuan dan tenaga kalian. juga membantu masyarakat yang tinggal dalam sektor Sette ini dengan segenap kemampuan kalian.&#8221;</p>



<p>&#8220;Masyarakat sekitar?&#8221; seru Kasetsu heran</p>



<p>&#8220;iya, mereka adalah masyarakat yang tinggal tak jauh dari lokasi pos penjagaan, lokasi itu dibuat untuk memenuhi kebutuhan perwira-perwira yang ditempatkan di Gurun Sette.&#8221; Jelas Chandra</p>



<p>&#8220;kenapa? Kenapa ada orang yang mau tinggal ditengah gurun yang panas seperti ini?&#8221; timpal Angga</p>



<p>&#8220;planet ini belumlah sepenuhnya terjelajahi, dan hanya tinggal pada satu kota padat membuatmu bagaikan tinggal dalam sangkar burung yang kau sebut markas. Lagi pula, bila kau adalah seorang yang tak punya apapun di kota, kau bisa menjadi tuan tanah di daerah yang masih tak ramai ini.&#8221; Jelas Billy &#8220;mereka berani tinggal disini, selain ingin memperbaiki nasib dan berbagai alasan tertentu, disini pun pemerintah menyediakan pasukan penjaga, ibaratnya kau berenang sambil minum air&#8221;</p>



<p>&#8220;Tapi, disitulah masalahnya, kita berada dalam misi ini, berarti ada kondisi yang tidak stabil dan harus kita tangani.&#8221; Timpal Sabila kritis</p>



<p>&#8220;Yup, Gurun Sette termasuk wilayah netral yang belum bisa federasi kita kuasai sepenuhnya, ancaman serangan dari bangsa lain ataupun monster hingga pembelot dapat terjadi. Dan belakangan ini, serangan pembelot memasuki frekuensi tinggi, walau sudah dapat ditangani, namun masih perlu penjagaan, dan disanalah kalian ditugaskan.</p>



<p>Juga menjadi misi kita untuk memantau dan mengetahui seberapa besar kekuatan para pembelot yang tinggal di sektor Gurun Sette ini, menyerang hingga ketitik markas mereka bukan objektif dari misi ini, itu hanya akan membahayakan kita semua. Lawan bila terpaksa, kemudian mundur dan informasikan padaku bila kalian menjumpai salah satu dari mereka, semuanya mengerti?&#8221;</p>



<p>&#8220;Siap Mengerti!&#8221; jawab kami serentak.</p>



<p>Perjalanan dari portal menuju daerah kependudukan memerlukan waktu sekitar setengah jam dengan jeep yang tersedia untuk kami, dan sesampainya disana kami dibagi dalam tim kecil untuk berjaga pada pos penjagaan yang berjarak satu hingga dua kilometer.</p>



<p>&#8220;Kukira masyarakat disini akan tinggal di tengah gurun, ternyata ada danau di daerah gersang ini&#8221; ujar Angga</p>



<p>&#8220;mpftt.. Tentu saja di gurun ada oasis, bagaimana mereka bisa hidup bila tanpa air? Hahaha..&#8221; timpal Adan</p>



<p>&#8220;Apa maksudmu? Kau menertawaiku, kau menganggapku bodoh? kau ingin cari rubut HAH!&#8221;</p>



<p>&#8220;Yang mengakuinya siapa? Kau sendiri bukan?&#8221; timpal Adan tak gentar, ditempat yang panas ini, suasana kepala mereka menjadi semakin panas</p>



<p>&#8220;oee oeey, hentikan, jangan membuat keributan ditempat baru seperti ini&#8221; ujarku mencoba mencegah, namun perkataanku tak dihiraukan mereka, Angga mulai berjalan maju menghampiri Adan, sedangkan Adan tetap menatapnya tajam</p>



<p>Greb! Kini Angga menggenggam kerah baju Adan dan berkata<br>&#8220;Ah! Aku ingat muka ini! Kau yang dulu&nbsp;<strong>pernah menabrakku</strong>&nbsp;di jalan dan menumpahkan semua daganganku, kini aku punya kesempatan agar kau membayarnya!&#8221; ujarnya diakhiri seringai menyeramkan.</p>



<p>Walau Adan tak sekekar Angga, ia tak menunjukkan ketakutan sama sekali &#8220;Ah! Akupun ingat kalau kau orang yang dengan entengnya berkata&nbsp;<strong>BUNUH</strong>. Pertama, perhatikan langkahmu dahulu sebelum berfikir ingin membunuh orang lain, orang bodoh sepertimu mana tau cara membunuh!&#8221;</p>



<p>&#8216;Perbincangan&#8217; mulai tidak sehat, nampak Sabila cemas memandang mereka dan berkata pada pemimpin &#8220;Ketua, bagaimana ini? Kita tak bisa membiarkan mereka berkelahi, kita satu tim&#8221; ujarnya khawatir</p>



<p>Ketua menjawab, &#8220;sepertinya mereka mempunyai masalah sebelum misi ini dimulai, dan sudah seharusnya tiap masalah diselesaikan. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah diantara mereka berdua, aku sendiri yang akan menghentikannya bila dirasa perlu&#8221;</p>



<p>&#8220;Tapi&#8230;&#8221; Sabila tampak makin cemas memandangi mereka yang tengah disulut api amarah. aku menepuk pundaknya dan mengangguk, menandakan semua akan baik-baik saja.</p>



<p>Antho, Chandra, Kasetsu dan Billy hendak ingin maju memisahkan, namun saat melihat ketua dan ia memberi isyarat, mereka menahan langkah mereka dan cukup memperhatikan.</p>



<p>&#8220;Akan kutunjukkan caranya Membunuh!&#8221; bentak Angga sambil melayangkan tinjunya</p>



<p>&#8220;Kau tak tau apapun tentang Membunuh!&#8221; hal serupa ia lakukan pula</p>



<p>BUUKK! Keduanya sama sama mendapatkan hantaman, setelahnya Angga menyerang dengan lututnya namun Adan dengan sigap menangkis, merekapun saling menjauh mengambil jarak.</p>



<p>Angga mulai mengeluarkan senjatanya, berukuran besar, Beam Hammer. Sedangkan Adan dengan Battle Beam Axe. Sekali lagi kami menatap ketua, namun ketua mengisyaratkan kami untuk tetap pada posisi.</p>



<p>Angga datang menerjang lebih dulu, ia melompat tinggi di udara lalu</p>



<p>&#8220;DEATH BLOWW!&#8221;</p>



<p>Adan tampak tak menghindar, disaat yang tepat ia mengayunkan kampaknya secara horizontal dan</p>



<p>&#8220;POWER CLAVE!&#8221;</p>



<p>BWOOMM!</p>



<p>Debu dan pasir berterbangan, energy yang mereka berdua lepaskan membuat kami terpaksa melindungi mata kami yang menyaksikannya. Nampak retakan tanah dan cekung cukup dalam</p>



<p>Adan terdorong dan berguling beberapa meter kebelakang, demikian dengan Angga yang terpental kebelakang. Mereka berdua kembali bangkit</p>



<p>Mereka tak banyak bicara, Adan tampak memperkuat genggaman pada kampaknya, sedangkan Angga meludah dan kembali berlari kearah Adan.</p>



<p>Keduanya kembali beradu</p>



<p>&#8220;SLASHER!&#8221;</p>



<p>3 serangan kombo bertenaga milik mereka saling beradu, kemudian diikuti tebasan-tebasan yang lain.</p>



<p>&#8220;Kalian tahu Weapon Triangle?&#8221; tanya ketua Virjman padaku, Sabila dan Billy yang berada di sampingnya</p>



<p>&#8220;Tentu&#8221; jawabku &#8220;Weapon Triangle adalah kedudukan pro-kontra dari 3 senjata jarak dekat. Tombak unggul melawan pedang, pedang unggul melawan kampak, dan kampak unggul terhadap tombak.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tapi gada yang dipakai Angga termasuk golongan apa? Tersendiri?&#8221; tanya Sabila</p>



<p>&#8220;Enggak, Gada termasuk golongan kampak Sab, karena letak titik serang dan cara menyerang yang hampir sama, yang membedakan hanya ketajamannya.&#8221; &#8220;aku rasa pertandingan bakal seri&#8221; jawabku</p>



<p>&#8220;haha, kamu sok tau, kalau kamu amati, yang bakal menang itu Angga, selain fisiknya yang lebih kuat, keunggulan senjata yang ia pakai menguntungkannya sekarang.&#8221; Timpak ketua.</p>



<p>ZTRANGG!</p>



<p>Tebasan kampak Adan mengenai armor bagian perut milik Angga, sehingga ia dibuat terdorong mundur, Angga nampak terdiam sejenak memperhatikan luka yang ia dapat, masih tergolong ringan, namun zirah yang ia pakai mampu dibuat tergores menganga, merahpun mewarnai Soul Render Mail oranye miliknya.</p>



<p>&#8220;HYAAAA!&#8221;</p>



<p>Angga dengan amarahnya memberikan serangan balasan</p>



<p>DRAKK! DZING! DZING! DZINGGG!</p>



<p>Angga memberi serangan beruntun yang hanya bisa disambut dengan tangkisan oleh Adan, tiap ayunan gada yang Adan terima membuat Adan terdorong mundur beberapa senti, sampai momen tertentu</p>



<p>SLASHH! Adan membalas secara tiba-tiba, namun Angga disaat yang tepat mundur dan..</p>



<p>BRUAKK!</p>



<p>Serangan telak miliknya tepat mengenai perut Adan membuatnya terpental beberapa meter ke belakang, nampak armor yang melindungi perutnya pengok kedalam. Adanpun memuntahkan darah dari mulutnya.</p>



<p>Aku yang melihat sahabatku mengalami hal itu reflek ingin menolongnya, namun dengan sigap ketua mencegah dengan tangannya, di saat bersamaan Adan bangkit, aku ingin sekali membantunya namun Angga juga temanku, bila aku membela salah satunya, tensi dalam tim akan semakin tinggi, memang, membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya merupakan tindakan terbaik untuk saat ini.</p>



<p>&#8220;Bravehert&#8230; bravehert&#8230; mereka pasti malu membiarkanmu memakai nama klan Bravehert&#8221; hardik Angga.</p>



<p>Adan yang merasa dilecehkan mulai berdiri tegap, menyeka darah dari mulutnya, dan memperkuat genggaman pada kampaknya.</p>



<p>&#8220;Ayo maju..&nbsp;<strong>bra</strong>&#8230; vehert&#8221;</p>



<p>&#8220;Jangan hina Klanku!&#8221; kampak milik Adan mulai berwarna oranye akibat terkumpulnya energy force</p>



<p>&#8220;Aku tak akan ragu untuk membunuhmu!&#8221; demikian pula dengan gada milik Angga, mulai terlihat aura putih yang kuat.</p>



<p>Mereka pun saling maju dan menyerang bersamaan</p>



<p>Sabila tampak makin khawatir karena kondisi keduanya yang sudah makin parah, bila keduanya kembali-</p>



<p>&#8220;HYAAA POWER CLAV-&#8221; &#8220;DEATH BLO-&#8220;</p>



<p>&#8220;<em>defence</em>&#8220;</p>



<p>Tepat sebelum mereka saling beradu, aku mendengar seseorang membisikkan sebuah mantra, dan kemudian</p>



<p>DZIiiiiingggg..</p>



<p>DUARRR!</p>



<p>Ledakan akibat adu kekuatan ini lebih besar dari sebelumnya, namun kali ini diiringi desingan besi yang panjang, kami yang menyaksikan sampai harus menutup telinga akibat bunyi yang mengganggu.</p>



<p>Saat debu sudah mulai turun, nampak Angga dan Adan telah tersungkur di atas tanah beberapa meter jauhnya, Adan sudah tak sadarkan diri. Namun yang membuatku terkejut adalah..</p>



<p>Billy sudah ada di tengah sana, dengan Large Beam Shieldnya yang diliputi aura kuning</p>



<p>Area mereka bertarung sungguh porak poranda, terlebih tempat dimana Billy menahan serangan mereka berdua, cekungan terlihat lebih dalam.</p>



<p>&#8220;Hah.. hah.. hah.. mereka berdua itu bodoh atau apa, hah.. bila saja aku telat, pasti sudah ada yang terluka sangan parah..&#8221; ujar Billy, setelahnya iapun meludah dan mencabut Beam Saber yang ia tanamkan ke tanah, kemudian ia terduduk lemas, lengannya tampak gemetaran untuk beberapa saat. Ia benar-benar meredam energy yang Adan dan Angga keluarkan, jikalau orang yang menahan bukanlah seorang Miller, mungkin tengannya sudah patah sekarang.</p>



<p>Pertarungan antar mereka berdua telah berakhir, masalah mereka sudah diselesaikan, Chandra dengan sigap merapalkan &#8220;Heal Wind&#8221;, luka Adan, Angga maupun Billy sudah lebih baik sekarang.</p>



<p>.</p>



<p>Setelahnya, kami semua tinggal di barrack, misi kali ini menuntut kami untuk tinggal di area gurun ini selama kurang lebih 7 hari.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Bagaimana? Kau sudah baikan?&#8221; tanya Angga pada Adan yang baru bangun dari tidurnya, iapun menawarinya segelas air putih.</p>



<p>&#8220;Ahh.. terimakasih&#8221; Adanpun meminum air pemberian Angga.</p>



<p>&#8220;Maafkan aku, karena melakukannya secara berlebihan, hingga menghina klanmu&#8221;</p>



<p>&#8220;Tak apa, aku sudah tak terlalu memikirkannya sekarang..&#8221;</p>



<p>Suasana menjadi sunyi, canggung dan hening.</p>



<p>&#8220;Eungg&#8230; ngomong-ngomong, makasih loh, kemaren itu.. latian tergreget dari latian-latian yang lain&#8221;</p>



<p>Adan tak bergeming apapun, sampai Angga hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, Adan bicara &#8220;Aku juga berterimakasih&#8230; karenamu, aku dapat bertemu dengan mereka&#8221;</p>



<p>&#8220;mereka? Siapa?&#8221; tanya Angga heran</p>



<p>&#8220;kedua kakakku, di dalam mimpiku&#8221; jawab Adan singkat</p>



<p>&#8220;Engg&#8230; apa mereka..&#8221;</p>



<p>&#8220;Mereka hilang, lebih dari setahun yang lalu..&#8221;</p>



<p>&#8220;umm.. baiklah, aku harap, kalian dapat berkumpul kembali dan-&#8220;</p>



<p>PRITTTT&#8230; tanda untuk berkumpul berbunyi</p>



<p>&#8220;Sepertinya kita harus segera bergegas, ayo cepat&#8221; lanjut Angga, Adanpun berjalan mengikuti.</p>



<p>.</p>



<p>Walau waktu baru menunjukkan pukul -:06.12:- namun hangat matahari Niger sudah cukup hangat melebihi bila di markas. Disana, ketua Virjman memimpin apel pagi bagi para anggotanya untuk mengawali misi</p>



<p>&#8220;Hari ini kita akan memulai misi penjagaan, kita menjadi tenaga yang dibutuhkan sementara pasukan yang lain dapat beristirahat, kelompok inti ini akan dibagi menjadi 3 tim, tiap tim beranggotakan 3 orang.&#8221;</p>



<p>Tim Alfa : Rosseblood, Hollymoon dan saya sendiri, menempati pos timur, merupakan tempat terparah dari serangan terakhir, ditempatkan disana karena dikhawatirkan akan terjadi serangan susulan.</p>



<p>Tim Omega : Wisemind, Bravehert, Rageblood. Kalian menempati pos Utara. Disana merupakan daerah yang tidak terlalu parah, namun bisa jadi musuh akan menyerang lokasi itu, maka persiapkan diri kalian sebaik mungkin. &#8220;SIAP!&#8221;</p>



<p>Tim Delta : Hardji, Zein dan Aqblerry. Kalian menempati pos Timur Laut, disana kalian akan mendapatkan tugas untuk memperbaiki guard tower dan memperkuat pertahanan, lokasi yang kalian tempati merupakan pos kedua terparah. &#8220;SIAP&#8221; jawab kami serentak.</p>



<p>&#8220;all right, sebelum bubar, saya minta Angga dan Adan untuk maju.&#8221; Seru ketua Virjman, yang dipanggil namanyapun menghadap.</p>



<p>&#8220;Ada apa ketua?&#8221; tanya Adan.</p>



<p>GREBB! GREBB!</p>



<p>Tanpa basa basi, ketua menggenggam belakang kerah armor mereka dan WHUSS..</p>



<p>BYURRR!</p>



<p>Ia melempar keduanya ke danau dengan sekali hempasan, kami yang menyaksikan tidak lebih terkejud dibanding mereka yang kini basah º º</p>



<p>&#8220;Kemarin aku membiarkan kalian, namun bukan berarti keributan yang kalian buat tidak punya konsekuensi. Sekarang kalian naik.</p>



<p>Kita akan berkumpul lagi disini setelah tim selanjutnya datang ke pos kalian, kira-kira pukul 15.00, oke semua bubar menuju pos masing-masing. Go go go&#8230;&#8221; ujar ketua dan langsung berlari menuju pos timur.</p>



<p>Aku hanya bisa tertawa menyaksikan Adan dan Angga berlari dengan pakaian yang kuyub, ahaha&#8230;</p>



<p>&#8220;<strong>Misi Gurun Sette hari pertama : dimulai!&#8221;</strong></p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>To Be Continued</strong></p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><em>  &#8220;Aku hanya berjalan dimana seharusnya aku berjalan tanpa memasuki wilayah orang lain&#8221;<br>-Adan to Angga- ch. 16 </em></td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 25 END</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 26:<br>Coming Soon!<br>Previous Chapter > Read Chapter 24:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br><strong>JFI WIKI/Trivia</strong><br>&#8211; Pedang : memiliki demage yang stabil<br>&#8211; Tombak : punya demage tertinggi, namun anstabil<br>&#8211; Kampak : walaupun demage dibawah pedang, namun punya chance tertinggi dalam kritikal dibanding senjata lain.<br>&#8211; Gada : demage sama seperti kampak, namun ia berfungsi sebagai Def. Gaunge Broker, taukan Def. Gaunge (DG)? Itu seperti &#8216;ketahanan&#8217; seseorang mendapati serangan. Co/ seorang SM bila terus-terus diserang dia awalnya bakal block block, tapi saat DG habis, kemungkinan block akan sangat minimal, berlaku pula untuk hindaran. Makanya di ch barusan, kalau dicermati, tangan Adan mengalami getaran ataupun menggenggam kampaknya dengan kuat (setelah mengendur), karena setelah menerima serangan dari Angga ia terkena efek getaran/ DG Brokernya, semacam itula~<br>&#8211; Panah : demage diatas Pistol, namun aspd lambat.<br>&#8211; Pistol : Sebaliknya.<br>&#8211; Pisau/pisau lempar : mereka berada diurutan terbawah dari segi kekuatan, namun dengan dapatnya digabungkan bersama prisai, dalam pertempuran tentu dapat membalikkan keadaan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-25/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 25 &#8211; SETTE DESERT</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 24 &#8211; FUTURE, WHO KNOW?</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 10:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1726</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Ka-kami bukan pasangan!..&#8221;&#8211; Baydzofi and Sabila &#8211; CHAPTER 24...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 24 &#8211; FUTURE, WHO KNOW?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>&#8220;Jadi bagaimana? Mana yang kau pilih?&#8221; Tanya perwira senior kepadaku, sepertinya aku pernah mengenalnya namun aku lupa.</p>



<p>&#8220;Ungg… mohon beri saya waktu Royal, saya masih belum bisa memutuskan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Baiklah Captain, kalau aku boleh menyarankan, kenapa kau tidak mengambil misi bersama kakakmu? Tentunya akan berjalan lebih mudah bukan?&#8221; ujarnya memberi saran padaku.</p>



<p>&#8220;Saya akan pertimbangkan, ungg… boleh saya undur diri?&#8221;</p>



<p>&#8220;Silahkan… besok kau kabari aku.&#8221;</p>



<p>Akupun berjalan menuju pintu, dan seketika terbuka otomatis. Sepanjang perjalanan dalam lobi aku terus memikirkan misi mana yang akan ku ambil.</p>



<p>Aku dihadapi pada dua pilihan, yang pertama adalah misi mengenai pembelot, bukan, aku tidak disuruh menghabisi mereka semua, dengan tingkat 31 dan berpangkat captain, aku hanya diwajibkan untuk mencari informasi sedetail mungkin tentang keberadaan mereka, seberapa banyak mereka, seberapa kekuatan mereka, dan yang pasti dimana lokasi detail mereka. Lokasi misi secara umum adalah gurun Sette. Ya, daratan berpasir nan tandus dengan suhu yang tidak bersahabat.</p>



<p>Pilihan misi yang kedua adalah Ether, sub benua Asu yang terletak di bagian Utara. Disana aku akan difungsikan sebagai pasukan penjaga selama beberapa periode, kabarnya kondisi disana sedang tidak stabil, baik dari segi politik dengan penduduk lokal atau ancaman antar bangsa yang menurut laporan semakin intensif belakangan ini. Dan bisa kalian tebak, Kak Ulfa sedang bertugas disana, makanya tadi aku disarankan mengerjakan misi ini.</p>



<p>Namun dari kedua misi tersebut sama-sama memiliki peluang untuk berhadapan secara langsung dengan Accretian dan Corite, itu artinya? Ya, peluang mati jauh lebih terbuka…</p>



<p>Akupun melangkah keluar dari gedung administrative ini dan seketika sinar mentari niger menyambutku dengan silaunya. Aku mencoba melawan, dan kudapati sosok patung yang berdiri disana memunggungiku.</p>



<p><em>Ah… Sitz Behammer, kau adalah satu dari sekian pahlawan kami yang tak terhitung jumlahnya, bahkan kakekku, bahkan ayah dan ibuku dan bahkan barangkali aku yang akan termasuk di dalamnya.</em></p>



<p><em>Tapi mestikah jika ingin dihargai dan dikenang sebagai pahlawan aku harus mati terlebih dahulu?</em></p>



<p><em>Ohh… Sitz Behammer, gimana rasanya kematian itu?</em></p>



<p>&#8220;Oii Fi! Ngapa lu bengong aja sendirian disini?&#8221; Ujar seseorang sambil menepuk keras pundakku yang ternyata Ryan.</p>



<p>&#8220;Eh! Gue gak kenapa-napa kok Yan.&#8221;</p>



<p>&#8220;Yaudah, gue mau langsung berangkat, ada kelas craftman nih&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Ya, aku dan Ryan telah mengambil profesi expert, bila Ryan menginginkan profesi craftman agar selanjutnya bisa menjadi Mental Smith, kalau aku berbeda.</p>



<p>Alasan itu terjadi beberapa bulan yang lalu, sebelum pengambilan profesi expert&#8230;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Saat itu aku mengantarkan Antho dan Chandra menuju kediaman El Gaza, mereka yang berprofesi sebagai spiritualist harus mendapatkan rekomendasi dari Senior spiritualist mereka yang sudah berprofesi expert atau lebih tinggi agar bisa kejenjang selanjutnya. Karena yang kukenal adalah El Gaza, dan saat kuhubungi dia tak keberatan, maka kami bertigapun menemuinya.</p>



<p>&#8220;Selamat Pagi&#8221; ujar kami bersamaan seraya menekan bel. Tek berapa lama kemudian, muncul seseorang berambut ungu menyambut kami.</p>



<p>&#8220;Ya ada apa? Ohh Dzofi dan kawan-kawannya&#8221;</p>



<p>&#8220;ungg.. kak Gaza? Apa kami mengganggu?&#8221; timpalku mendapati penampilannya yang masih acak-acakan.</p>



<p>Sontak ia teringat pembicaraan kami beberapa waktu lalu untuk mendapatkan kedua temanku sebuah rekomendasi.</p>



<p>&#8220;A-ahh&#8230; tunggu sebentar!&#8221; ujarnya terburu-buru lalu menutup pintu.</p>



<p>&#8220;Aku minta waktu dua menit!&#8221; ujarnya dua detik kemudian, lalu kembali menutup pintu.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ahh&#8230; maaf sudah membuat kalian menunggu.&#8221; Ujarnya seraya mempersilahkan kami bertiga memasuki rumahnya. Saat aku menjabat tangannya &#8220;Wadooo&#8230; dingin banget, kakak mandi di ether? Berasa beku tanganku kak.&#8221; Ia pun hanya tertawa, kemudian menjawab &#8220;Teknik mandi pakai force es emang paling efektif, saya udah biasa. Kalian sesekali juga harus coba, hahaha.&#8221;</p>



<p>Sambil menuntun kami menuju halaman belakang rumahnya, ia berbicara mengenai beberapa force, tentunya Antho dan Chandra mengerti, bisa terlihat dari ekspresi mukanya yang antusias. Aku hanya melamun sambil melihat beberapa ornament rumah yang sebelumnya belum pernah aku lihat.</p>



<p>&#8220;Jadi apakah kalian sudah memutuskan ingin mendalami element force yang mana?&#8221; Tanya kak Gaza. Kudengar Antho menjawab element tanah, sedangkan Chandra sepertinya masih ragu.</p>



<p>&#8220;Kalau kau Dzof?&#8221; mata mereka semua mengarah padaku.</p>



<p>&#8220;Ayolah, kalian ngeledek? Aku kan specialist..&#8221; jawabku sekenanya, merekapun tertawa &#8220;Saya rasa Dzofi akan menjadi avatar, mendalami semua element&#8230; skill basic pffttt&#8230;&#8221; ledek kak Gaza, tawapun kembali pecah.</p>



<p>Kamipun kini sudah berada di halaman belakang, kak Gaza Nampak sedang mempersiapkan sesuatu sembari berkata &#8220;Kalian sudah taukan apa yang harus kalian lakukan?&#8221; tanpa menoleh kearah kami, ia melanjutkan &#8220;Kuharap kalian sudah mempersiapkan diri kalian, sebaik mungkin. Kalian ditingkat 30 ya? Baiklah aku akan menggunakan senjata yang pantas&#8221;, iapun mengeluarkan Dual Wand, persis seperti yang dimiliki Antho dan Chandra.</p>



<p>&#8220;Ice Shard!&#8221; kak Gaza mengucap mantra force es secara tiba-tiba dan mengarahkannya ke kami.</p>



<p>&#8220;Energy Ball!&#8221; balas Chandra secara sigap sehingga bongkahan es yang dilontarkan kak Gaza berhasil pecah begitu saja.</p>



<p>&#8220;Bagus bagus&#8230; kau cukup tanggap Chandra. Antho kenapa kau lambat? Dan Dzofi, kau bisa menepi.&#8221; Kini kak Gaza memperbaiki posisi lensa tunggalnya, ia sepertinya akan serius.</p>



<p>&#8220;Mist Shot! Vetor!&#8221; sebuah serangan force tanah dan air diarahkan pada Chandra dan Antho.</p>



<p>&#8220;Whirlwind!&#8221; rapal Chandra melawan Mist Shot, sedangkan Antho berlari menuju kak Gaza kemudian berusaha melawan Vetor dengan &#8220;Fire Wall!&#8221;</p>



<p>Kak Gaza yang sigap akan force area yang dirapalkan Antho langsung melompat kebelakang.</p>



<p>&#8220;Bagus! Kalian sungguh sudah mengaplikasikan *Element Quartet dengan baik, tapi kalian masih belum bisa melukaiku, ini akan menjadi hari yang panjang.&#8221; Ujarnya sambil mengelap lensa miliknya.</p>



<p>El Gaza vs. Antho &amp; Chandra</p>



<p>&#8220;Kuharap ini tak membosankan, Hyaahh<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />&#8221; &#8220;Vein Fall!&#8221; terjang kak Gaza sambil berlari kearah Antho dan merapalkan mantra ke Chandra.</p>



<p>Yang diterjang sudah bersiap dengan &#8220;Fire Wall!&#8221;, yang menerjang mengayunkan tongkatnya mengendalikan air dari kolam memutari tubuhnya membentuk &#8220;Mist Shot!&#8221;</p>



<p>Brushh<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>uap air tercipta saat memadamkan api yang diciptakan Antho, Chandra yang tadi menghindari force tanah milik kak Gaza langsung merapalkan &#8220;Energy Ball!&#8221;. Sepertinya kak Gaza masih terlalu sigap untuk mereka, ia mengambil jarak dengan cepat lalu &#8220;Energy Ball!&#8221; ia ayunkan energy ball milik Chandra dan melempar kembali pada pemiliknya. Chandra yang tidak siap terkena mantra miliknya sendiri dan tersungkur hingga tubuhnya terdorong kearahku.</p>



<p>&#8220;lu gak apa Chan?&#8221; tanyaku sambil memberinya buff soul ballad, yang ditanyapun menjawab &#8220;Gak apa kok Dzof, makasih buffannya&#8221; kemudian berlari menuju medan pertempuran.</p>



<p>Di lapangan, Antho tengah berhadapan sengit, mereka saling mengadu tongkat, diposisi itu force tipe close range lebih unggul karena menyerang sekeliling dari pengguna force.</p>



<p>&#8220;Fire Wall!&#8221; rapal Antho, karena ia tau, bila ia merapalkan close range Whirlwind, pasti lawannya akan menggunakan force element api, dan serangan api + angin miliknya justru akan menguntungkan api milik lawannya.</p>



<p>&#8220;Bagus Tho! Sekarang kak Gaza pasti mau gak mau bakal mun&#8230;&#8221; ucapanku terhenti saat melihat kak Gaza tak merubah posisinya, ia malahan tersenyum kecil!</p>



<p>&#8220;Fire Wall!&#8221; rapalnya, sehingga api yang berpijar semakin besar, Anthopun tak kuat dengan panasnya api sehingga kehilangan konsentrasi, disaat itulah kak Gaza menendangnya sehingga tersungkur kebelakang, Chandra dengan sigap menghampiri.</p>



<p>Uap keluar dari tubuh kak Gaza, dengan posisi tetap tegap berdiri, ia berkata &#8220;bisa kita lanjutkan?&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>Pertempuranpun berjalan dengan sengit, pandanganku tak lepas dari tiap gerak-gerik mereka, juga aneka mantra yang mereka rapalkan. Sampai&#8230;</p>



<p>&#8220;Pagii, Oee Gaza, gue masuk ya&#8230;&#8221; seru seseorang dari luar, lelaki itupun mulai masuk. Yang dipanggil namanya tak menghiraukannya.</p>



<p>Lelaki berambut hitam itupun berkata &#8220;Aelah, lagi latian toh. Za, lu liat si Shinta gak?&#8221;</p>



<p>Kak Gaza tak menanggapi. Lelaki itupun kini duduk disebelahku, &#8220;OEE REPTILE BOLOT&#8221;, masih mendapat perlakuan yang sama, iapun kemudian bertanya padaku.</p>



<p>&#8220;Mereka lagi pada ngapain?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kak Gaza lagi melatih mereka, kedua temanku sedang meminta rekomendasi agar bisa ke profesi expert.&#8221; Jawabku menjelaskan.</p>



<p>Iapun kini ikut memperhatikan jalannya pertarungan.</p>



<p>&#8220;Lihat mereka, teman-temanmu sepertinya sudah cukup mahir dalam mengenali force dan element-elementnya, mereka sudah bisa menyeimbangi force yang Gaza keluarkan, bagaimana menurutmu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya anda benar, mereka sudah bisa menguasai element quartet, namun entah bagaimana tiap serangan yang diberikan oleh teman-temanku, tidak berdampak banyak sebagaimana bila kak Gaza menyerang mereka. Kurasa ada yang aneh&#8230;&#8221; jawabku.</p>



<p>&#8220;Aneh bagaimana? Force itu flexible, kau hanya perlu melawan api dengan air, air dengan angin, angin dengan tanah dan tanah dengan api.&#8221;</p>



<p>&#8220;Force&#8230; flexible&#8230;&#8221; gumamku sambil terus melihat cara kak Gaza bertarung.</p>



<p>&#8220;Hei, bocah dengar ya, aku ini mengenal Gaza melebihi saudaranya ataupun keluarganya sendiri, ia tak akan berhenti sampai apa yang ingin ia sampaikan dapat difahami oleh &#8216;lawan&#8217;nya, terlebih bila mendidik seperti ini..&#8221; jelasnya.</p>



<p>&#8220;Ah!&#8221; aku tiba-tiba menyadari sesuatu, saat melihat kak Gaza beradu kekuatan api dengan Antho.</p>



<p>&#8220;Kau kenapa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Anda benar! Saat tadi kak Gaza beradu kekuatan api dengan temanku, seharusnya kedua pihak mengalami kerusakan yang sama, namun tidak dengan kak Gaza, ia baik-baik saja. Setelah pertarungan, tubuhnya mengeluarkan uap, uap air! Sebelumnya ia menggunakan force air Mist Shot, ia pasti memanfaatkan air itu sebagai pelindung!&#8221; ujarku menganalisa.</p>



<p>&#8220;Antho, Chandra&#8230; kak Gaza memanfaatkan element air sebagai pelindung tubuhn-&#8221; belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, kulihat kak Gaza tersenyum padaku, dan Prism Beam mengarah tepat kearahku.</p>



<p>&#8220;Mist Shot!&#8221;</p>



<p>Brush<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>&#8220;Makasih Dzof bantuannya&#8221; ujar Antho. Mereka berduapun kembali focus pada kak Gaza.</p>



<p>&#8220;Apa yang kau lakukan bodoh! Gaza paling tidak suka dengan yang namanya contekan, apalagi saat sedang mendidik seperti ini. Wajar ia ingin menghajarmu.&#8221; Ujar lelaki di sampingku.</p>



<p>&#8220;Ah, maaf kalau begitu.&#8221; Ujarku menyesal.</p>



<p>&#8220;Tapi ku akui, sebagai specialist analisamu cukup tajam.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ba-bagaimana kau tau?&#8221; ucapku heran.</p>



<p>&#8220;Setahun yang lalu kau pernah terkenal, ingat? Dzof, apa kau sudah mendapatkan rekomendasi agar mendapatkan profesi expert? Profesi apa yang ingin kau ambil?&#8221; tanyanya.</p>



<p>&#8220;Belum, aku berencana menemui kak Shinta, tapi aku belum bertemu dengannya. Aku ingin menjadi seorang armor rider.&#8221; Jawabku yakin.</p>



<p>&#8220;Hemm.. armor rider ya? Bagaimana bila aku yang merekomendasikanmu, oh ya aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Claido-&#8220;</p>



<p>&#8220;Claido si Armored General! Anggota dewam support offensive?&#8221; potongku terlalu kaget mendengar namanya. &#8220;Anda benar ingin merekomendasikanku?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya, santai saja. Tapi bila kau ingin, kau harus menyetujui persyaratan yang aku berikan.&#8221; Tegasnya. Akupun mengangguk tanda setuju.</p>



<p>BOOM<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Debu bertebaran dimana-mana, nampaknya mereka yang telah beradu mantra api bersamaan sehingga membuat ledakan yang besar. Sambil kembali menatap focus kepertempuran, ia menyebutkan syarat-syaratnya.</p>



<p>&#8220;1. Kau menyetujui apa yang aku tetapkan. 2. Kau melakukan apa yang aku perintahkan. 3. Tiap apa yang telah aku tetapkan atau perintahkan, kau wajib menjelaskan padaku apa yang telah kau dapat. Mengerti?&#8221; ujarnya seraya jari mengikuti ditiap persyaratan.</p>



<p>&#8220;Mengerti&#8221; ujarku mantab lalu kami saling berjabatan.</p>



<p>&#8220;Nah sekarang, senjata apa yang kau bawa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku membawa&nbsp;<em>Intense Big Sword Breaker</em>,&nbsp;<em>Intense Laser Gun</em>, dan satu set&nbsp;<em>soul armor</em>&nbsp;jarak dekat.&#8221;</p>



<p>Iapun kini berdiri sambil mengenakan satu set armor jarak jauh miliknya &#8220;Ayo kita bersiap, berikan pedang itu padaku.&#8221;</p>



<p>&#8220;Bersiap? Apa yang akan kita lakukan?&#8221; tanyaku penasaran.</p>



<p>&#8220;Pertarungan selalu tidak terduga.&#8221; Jawabnya, kemudian ia melompat ketengan pertarungan para spiritualist.</p>



<p>&#8220;Death Blow!&#8221; terjangnya diikuti retakan tanah yang menjulang.</p>



<p>&#8220;Apa-apaan ini?&#8221; ujar Chandra heran, &#8220;Hei Claido, apa yang kau lakukan!&#8221; bentak kak Gaza, yang ditanya tak menjawab pertanyaannya selain menghunuskan pedang kearahnya dan berkata &#8220;Aku tak mendengarmu, aku tak mendengarmu nana.. nana.. Death Hack!&#8221;</p>



<p>&#8220;Hei! Shinta sedang pergi entah kemana aku juga tak tau, sekarang enyahlah dari hadapanku Claido!&#8221; hardik kak Gaza.</p>



<p>&#8220;Sudah terlambat untuk menjawabnya kutu buku, sekarang bertarunglah denganku&#8221;</p>



<p>Desingan besi akibat senjata mereka saling beradu terdengar jelas, terus memperkecil jarak, Kak Claido terus berusaha menyerangnya dengan brutal. Namun kak Gaza tak hilang akal, ia langsung menghentakkan tongkatnya ketanah dan merapalkan mantra &#8220;Tectonic Might!&#8221; bongkahan batu besar memukul mundur kak Claido, namun ia tak terkena dampak berarti karena ia langsung sigap menangkisnya dengan pedangnya.</p>



<p>&#8220;Dengarkan semua, perolehan Rekomendasi kalian tetap berlanjut, namun kini aku dan Dzofi juga akan melawan kalian! Selamat menikmati!&#8221;</p>



<p>&#8220;Dzofi, cepat turun, kau punya perjanjian yang harus kau tepati&#8221; sambungnya sambil mengarahkan pedang yang sebenarnya milikku kepadaku.</p>



<p>&#8220;Ehh? Baik lah baik!&#8221;</p>



<p>El Gaza vs. Claido &amp; Baydzofi vs. Antho &amp; Chandra</p>



<p>Kini dengan agresif kak Claido memulai serangannnya pada Antho dan Chandra, merekapun dengan sigap menyambutnya dengan merapalkan</p>



<p>&#8220;Fire Ball!&#8221; &#8220;Ice Shard!&#8221; &#8220;Energy Ball!&#8221; &#8220;Vein Fall!&#8221;</p>



<p>Serangan element yang menyambut kak Claido ia tepis dengan &#8220;Power Clave<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />&#8221; sayatan horizontal berenergi mampu mematahkan serangan element yang mengarah padanya. Akupun tak ketinggalan dalam beraksi, ku bidik kak Gaza, dan kulepaskan proyektil energy dari laser gun miliku.</p>



<p>&#8220;Jadi kau mengikuti kegilaannya Dzofi?&#8221; ujar kak Gaza sambil dengan mudah menghalau seranganku.</p>



<p>&#8220;Maafkan aku kak Gaza, tapi janji adalah janji, dan itu harus ku tepati.&#8221; Jelasku, ia tak marah, namun tersenyum padaku.</p>



<p>&#8220;Aku senang melawan seseorang yang mempunyai pegangan dasar sebagai alasannya berjuang. Aku tak akan segan menyerang.&#8221; &#8220;Vetor!&#8221;</p>



<p>Serangan area yang datang cukup sulit untuk dihindari, namun dari belakang kak Claido berkata &#8220;Dzofi merunduk!&#8221;</p>



<p>Bola api milik Chandrapun ia pantulkan dengan pedangnya kearah skill vetor sehingga tercipta debu yang berterbangan. Antho segera menyambut kak Gaza dengan &#8220;Vein Fall!&#8221;, aku tak membuang kesempatan ini untuk menyerang Antho, Chandra dengan sigap menghadangku dengan &#8220;Energy Ball!&#8221; miliknya, &#8220;Fast Shot!&#8221;kupun beradu.</p>



<p>Ledakan juga desingan yang saling bersahutan tak terhindarkan, halaman yang notabenenya di dalam rumah menjadi sangat ramai oleh pertarungan 3 tim yang sangat tidak terorginir seperti ini. Namun anehnya kami bisa mengimbangi dalam perang kecil ini dan serasa bisa menikmatinya.</p>



<p>Tapi tetap, pemenang hanyalah satu&#8230;</p>



<p>Kak Claido menerjang kak Gaza dengan jurus basic kemudian diikuti dengan jurus lain. Kak Gaza dapet menghalau dengan force elemennya namu tidak saat kek Claido melayangkan serangan tendangannya. Seakan reflex kak Gaza membalasnya dengan force air, mereka berduapun terpental. bersamaan dengan itu aku menyerang Chandra, namun ia tak peduli, ia lontarkan skill api miliknya kearah kak Gaza yang sedang tak siap.</p>



<p>Bruashh<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Seperti yang ku bilang tadi, kak Gaza menggunakan air sebagai pelindung yang menyelimuti tubuhnya secara tak kasat mata, serangan Chandra kena telak, begitu pula dengan seranganku padanya, ia terlontar beberapa meter kebelakang.</p>



<p>Uap air yang tercipta tak disia-siakan begitu saja oleh Antho, ia langsung menyerangnya dengan force tanah. Memanfaatkan titik buta dari kabut uap yang menghalangi pengelihatan.</p>



<p>Force yang datang tak bersuara, menurunkan kesiagaan kak Gaza, dan</p>



<p>Brukk<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Kak Gaza terkena serangan Antho hingga ia terdorong, kemudian tertunduk.</p>



<p>Suasanapun mendadak sunyi diikuti debu yang semakin lama semakin menghilang, tak ada serangan balasan jua yang mengikuti.</p>



<p>&#8220;Ehemm&#8230; selamat untuk kalian, Antho, Chandra. Kalian mendapatkan rekomendasiku.&#8221; Ucapnya lirih, kemudian ia kembali duduk bersenderkan tubuh kak Claido.</p>



<p>Bisa dilihat, kedua teman spiritualistkupun tertawa sambil membuang lelah, tawa seadanya, namun kental akan kepuasan atas jerih payah mereka. Ku hampiri mereka berdua, dan ku ucapkan selamat!</p>



<p>&#8220;Sama-sama Dzof! Semoga lu juga bisa dapetin profesi yang lu pilih.&#8221; Ujar anto, &#8220;Aamiin&#8221; timpal Chandra mengikuti.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Setelah itu, kami semua dijamu dengan makan siang yang pastinya lebih mewah dibanding mie rebus atau makanan kost lainnya.</p>



<p>Selesai makan siang, para spiritualist itu terlibat percakapan, sambil dihadapi dua formulir berlogokan militer dari bellato union.</p>



<p>&#8220;Antho Wisemind, hemm&#8230; ingin menjadi Wizard kah?&#8221; Tanya kak Gaza, yang ditanya mengangguk yakin. &#8220;Baiklah, kalau begitu kulingkari Caster ya&#8221; iapun kini menandatangani formulir dan menyerahkannya kembali ke Antho.</p>



<p>Selanjutnya &#8220;Chandra Hollymoon, ingin menjadi Holy Chandra, ugh.. chandra holly the holy Chandra, yo dawg. Oke saya tandatangani&#8221; iapun melingkari bagian Chandra. Chandra dan Antho sangat senang saat menerima formulir rekomendasi yang telah terisi.</p>



<p>Kemudian kak Gazapun mengeluarkan dua buku, *force reaver! dan memberikannya pada mereka berdua.</p>



<p>&#8220;Antho, untukmu sebuah debuff element tanah bernama Entangle. Dan untuk Chandra, sebuah skill angin tipe listrik bernama Lightning Bolt. Terimalah hadiah sederhana dariku ini, kuharap kalian dapat menguasainya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.&#8221;</p>



<p>Wajah mereka berdua makin sumringah, sungguh beruntung bisa mendapatkan force reaver secara Cuma-Cuma, aku sedikit iri melihat mereka. Merekapun menerimanya tanpa ragu.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Dzofi, kita juga masih punya urusan&#8221; ujar kak Claido. Akupun menghampirinya</p>



<p>&#8220;ingat syarat no. 3? Tolong sekarang kau tuntasi&#8221; tagihnya</p>



<p>Akupun sedikit ragu, namun tetap kufikirkan matang-matang. &#8220;Kondisi perang.. tidak akan selalu berbuah seperti apa yang kita perkirakan? Begitukah?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kau terdengar kurang meyakinkan, apa aku benar?&#8221; telisik kak Claido, akupun mengucap ulang analisaku dengan nada lebih tegas sebagai keyakinanku.</p>



<p>&#8220;Bagus tepat sekali, namun juga, kita sebagai prajurit harus siap pada kondisi apapun, meskipun itu keadaan terburuk. Di novus ini kita berperang sebagai bangsa yang melawan dua bangsa lainnya, atau mungkin lebih. Terlepas dari politik, pihak luar sejatinya adalah mereka yang belum menyerang.&#8221; Akupun mengangguk tanda memahami tiap perkataannya.</p>



<p>&#8220;Oke, sesuai janjiku, aku akan merekomendasikanmu mengambil profesi expert.&#8221; Kemudian ia menyerahkan secarik kertas formulir yang sebelumnya telah kuberikan padanya, kini sudah ia isi dan tandatangani.</p>



<p>Akupun membacanya, sampai</p>



<p>&#8220;Apa-apaan ini! Kau bercanda?&#8221; protesku</p>



<p>&#8220;kau lupa tentang syarat no. 1?&#8221; timpalnya</p>



<p>&#8220;Tidak, tapi- ini, ughh yang benar saja kak! Aku tak mau jad !&#8221; bentakku padanya. Apa yang otak udang berpangkat dewan support ini fikirkan!</p>



<p>&#8220;cukup!&#8221; ujarnya tegas, &#8220;Mulai besok kau ada dalam pengawasanku, aku adalah mentormu. Kau akan kuberi pelatihan, dan itu wajib kau ikuti. Besok datanglah pukul 08.00 tepat di depan air mancur alun-alun kota. Sekarang kau boleh pergi.&#8221;</p>



<p>Dengan bingung dan emosi masih memenuhi kepalaku, aku bergegas keluar dari kediaman kak Gaza, Antho dan Chandra hanya bisa prihatin melihatku, merekapun mencoba menghiburku dengan berkata &#8220;Mungkin ia hanya bercanda&#8221;</p>



<p>&#8220;Bercanda?! Yang benar saja, untuk urusan segenting ini?&#8221; tolakku mentah-mentah.</p>



<p>&#8220;Bagaimana kalau kau minta formulir baru lagi? Dan meminta rekomendasi dari senior lain&#8221; ujar Chandra, Anthopun menjawab bahwa formulir yang diberikan itu sudah dijatah 1 orang 1, juga tak mungkin untuk difotocopy. Mewakili apa yang akan kujawab.</p>



<p>&#8220;Sudahlah Dzof, mungkin ia punya rencana lain, apa mungkin kau punya uang untuk langsung membeli MAU?&#8221; ujar Antho, &#8220;ya kau benar. tolong kirim formulir ini ke gedung administrative, aku mau langsung pulang.&#8221; Ujarku, lalu meninggalkan mereka berdua.</p>



<p>.</p>



<p>Kesokan harinya, tepat pukul 08.00 aku sudah berada di bangku taman depan air mancur alun-alun kota, aku seperti kadal berjemur sinar mentari pagi, sambil ditemani seorang nenek-nenek yang tengah sibuk memberimakan young flem &#8211; young flem liar.</p>



<p>5 menit berlalu, 10 menit berlalu, 15 menit berlalu. Batang hidung kak Claido masih belum terlihat. Aku mulai merasa bahwa diriku terperangkap jebakan betmen, cih! Sial sekali. Aku putuskan untuk angkat kaki dari tempat ini. Namun sebelum aku melakukannya, nenek disebelahku berkata</p>



<p>&#8220;Anak muda, apa kalu laki-laki?&#8221; tanyanya dengan nada khas nenek-nenek.</p>



<p>&#8220;iya nek&#8221;</p>



<p>&#8220;sudah berapa lama kau duduk di sini?&#8221;</p>



<p>&#8220;sekitar 15 menit nek&#8221;</p>



<p>&#8220;ohh&#8230; apa kau bernama Baydzofi?&#8221;</p>



<p>Ehh? Bagaimana dia bisa tau? Apa nenek ini intel? Apupun mengiyakannya.</p>



<p>&#8220;Baiklah, tolong terima ini&#8221; ujarnya seraya memberiku secarik kertas berwarna. &#8220;Tadi, pagi-pagi sekali, ada seorang pria yang menitipkan ini padaku, ia berkata bila.. bila ada seorang pria bernama Baydzofi datang ke taman ini dan duduk di kursi satu-satunya ini, dan tak berkata satu patah katapun selama itu. Aku harus menyerahkan kertas kuning itu padamu.&#8221; Sambungnya seraya mengingat apa yang telah terjadi.</p>



<p>Akupun segera membaca isi kertas kuning yang ia berikan.</p>



<p>&#8220;Aku yakin kau sudah lama menunggu, dan selama itu pula. Bila kau mendapati kertas ini maka artinya kau sama sekali tak berbicara pada nenek yang duduk disebelahmu.</p>



<p>Harusnya kau malu! Kau kehilangan jiwa sosialmu! Adabmu! Etikamu!</p>



<p>Kasta prajurit yang kini kau sandang bukanlah alasan kau merasa lebih tinggi dari sebagian orang, perwira berasal dari masyarakat dan juga bertugas melindungi mereka!</p>



<p>Sekarang kuminta kau tetap berada di taman ini, dan simak serta tuliskan apa yang kau dapat, hingga tengah hari.</p>



<p>Kumpulkan esok hari di waktu dan tempat yang sama&#8221;</p>



<p>Setelah kubaca kertas itu, aku merasa malu pada diriku sendiri, akupun mulai membuka percakapan, dimulai dari nenek di sebelahku.</p>



<p>.</p>



<p>Nenek yang kuajak bicara bernama Niime, ia adalah janda veteran perang, suaminya meninggal saat chipwar, sedangkan ayahnya tewas saat misi ekspedisi ether era pertama. Ia menunjukkan foto suami dan ayahnya padaku.</p>



<p>Kemudian kutahu, jika saat awal aku tiba di taman dan aku langsung mengajaknya bicara, aku akan mendapatkan kertas hijau, kertas itu bertuliskan selamat dan intruksi untuk menemui kak Claido di ruangannya pukul 09.00.</p>



<p>Aku sempat kecewa dengan apa yang tak aku lakukan, membiarkan diri egois ini berjalan dengan sombong tanpa memperhatikan sekitar, namun sekarang tak ada gunanya menyesal. Konsekuensi yang aku dapatkan harus aku tuntaskan.</p>



<p>Belakangan aku ketahui, bahwa gedung yang berada di depan air mancur adalah sebuah pantu asuhan bagi mereka yang kurang mampu juga yang ditinggal perang oleh orangtua mereka.</p>



<p>.</p>



<p>Hari hari selanjutnya lebih diisi ngengan latihan fisik juga mental yang porsinya sudah kak Claido atur. Ah dia juga mulai detik ini melarangku memanggilnya kak, ia akan menghukumku, ia haruslah dipanggil Maximus Claido!</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Matahari sudah berubah sinarnya menjadi jingga, sebentar lagi akan terbenam. Aku dan Ryan baru saja selesai dari kelas craftman, cukup menegangkan diajar oleh guru bernama Aster Nile, menegangkan dalam dua arti, iya kau pasti tahu maksudku.</p>



<p>Keesokan harinya, aku mendatangi gedung administrative, memasuki ruang yang kemarin aku memasukinya&#8230;</p>



<p>&#8220;Ah, Baydzofi. Jadi misi mana yang akan kau pilih?&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku memilih&#8230;&#8221;</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><em> </em> &#8220;Ka-kami bukan pasangan!..&#8221;<br><strong>&#8211; Baydzofi and Sabila &#8211;</strong> </td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 24 END</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 25:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-25/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-25/</a><br>Previous Chapter > Read Chapter 23:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br><strong>JFI WIKI/Trivia</strong><br>&#8211; Force Reaver : disini gue gambarin sebagai buku, namun di bagian depan ada Kristal kecil setengah bola seukuran telapak tangan yang nempel di cover. Kristal yang berisi force itu bakal bercahaya kalau belum dibaca secara tuntas oleh seseorang, sehingga kalo udah didapati skill itu sama seseorang, cristal itu cahayanya akan hilang, tapi bukunya tetap bisa dipelajari dan dibaca. Tapi gak menumbulkan skill force ke si pembaca setelahnya.<br>&#8211; Element Quartet : adalah 4 elemen yang saling unggul antar 1 dengan yang lain.<br>&#8211; Senjata dan armor yang Dzofi punya, itu level 28.<br>&#8211; sistim rekomendasi agar bisa dapet job berlaku untuk tiap jurusan, ya konsep ini baru gue temui.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 24 &#8211; FUTURE, WHO KNOW?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 23 &#8211; TOGETHER LOOKING THE SAME SKY</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 10:14:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1724</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Sampai jumpa dilain kesempatan… aku yakin kita pasti bertemu...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 23 &#8211; TOGETHER LOOKING THE SAME SKY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>.</p>



<p>Waktu sudah menunjukkan pukul -:18.36:- dan tempat dimana festival ini diselenggarakan sudah mulai ramai oleh orang-orang, baik tua maupun muda semua larut dalam kesenangan. Atmosfer yang menaungi kami saat ini seakan membius kami dengan euphoria semunya, melupakan realita bahwa planet yang kami tinggali adalah medan perang yang sewaktu-waktu bisa saja meletus tanpa diduga.</p>



<p>Ya, aku tersadar akan makna kesenangan semu ini, ditengah menikmati festival bersama teman-teman. Kenapa bisa-bisanya aku memikirkan ini, entah apa penyebabnya…</p>



<p>&#8220;Fi..&#8221;</p>



<p>&#8220;Dzofi..&#8221;</p>



<p>&#8220;Ahh.. iya Sab, ada apa?&#8221; jawabku menanggapi panggilan Sabila yang berhasil menyelamatkanku dari lamunan suram tak berarti.</p>



<p>&#8220;Kamu mikirin apa sih?&#8221; tanyanya sambil tetap menatap lurus, setidaknya itu yang kulihat saat ini, setelah sebelumnya ia sempat memperhatikanku, kurasa.</p>



<p>&#8220;Eng.. gak mikirin apa-apa kok, Cuma ngelamun aja..&#8221;</p>



<p>&#8220;Kamu tau gak?&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa?&#8221; tanyaku balik.</p>



<p>&#8220;Kita terpisah sama Ryan dan Hagia lho…&#8221; jawabnya singkat.</p>



<p>&#8220;ohh- APA?&#8221; timpalku keget membuat orang-orang yang berada diradius sekitar sontak melihat kearah kami. ternyata sedaritadi dia sibuk menyari sosok dua sejoli yang terpisah dari kami entah kemana. &#8220;Waduh…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ka-kamu yakin?&#8221; Tanya seorang pemuda berambut caramel pada perempuan dihadapannya yang kini tengah menggenggam .tidak. menarik lengannya entah kemana.</p>



<p>&#8220;yakin, yakin banget…&#8221; jawab sang gadis yang memiliki mahkota violet muda nan panjang. &#8220;kita harus ngasih waktu khusus buat mereka, mereka kan pacaran kaya kita, iya kan?&#8221;</p>



<p>Mendapati pertanyaan balik, pemuda yang bernama Ryan hanya bisa menelan ludah, lalu mengiyakan dengan nada sedikit gugup.</p>



<p>Dirasa jarak untuk menjauh sudah cukup, gadis bermahkota violet muda itu berhenti diikuti pemuda dibelakangnya. Dikerumuni oleh para pengunjung dan kios-kios yang tengah sibuk menjajakan dagangan mereka, sang gadis tampak antusias, ia berfikir sambil menatap tajam spanduk-spanduk yang berkibar ditiup angin malam.</p>



<p>&#8220;Jadi kita mau kemana?&#8221; Tanya Ryan meridhoi segala tindak-tanduk yang akan dipilih kekasihnya yang bernama Hagia.</p>



<p>&#8220;gimana kalau ke situ&#8221; jawab Hagia sambil menunjuk salah satu kedai yang Nampak ramai tapi gak kebangetan, ideal lah. Nampak seorang pelayan disana yang tengah melayani pengunjung.</p>



<p>Merekapun berjalan menghampiri tempat yang dipilih.</p>



<p>Sambil berjalan, Ryan membuka dompet, memastikan berapa dallant yang bisa ia korbankan demi cinta.</p>



<p>Đ 120.000</p>



<p>&#8220;<em>Demi dallant…&#8221;</em>&nbsp;ujarnya sambil mendesah pelan.</p>



<p>&#8220;Kamu bilang apa Yan?&#8221; Tak disangka, Hagia sedikit mendengar dan menanyakan apa yang Ryan ucapkan.</p>



<p>&#8220;Aa.. aku bilang.. Demi dewa…&#8221; jawab Ryan gugup sambil cepat-cepat memasukkan dompet kembali kesaku celananya.</p>



<p>&#8220;Demi.. dewa?&#8221; ucap Hagia heran &#8220;Kamu kebanyakan nonton serial antah berantah, kalo bisa kamu berhenti deh tonton tuh sinetron Bellerran, ckck… demi dewa..&#8221;</p>



<p>&#8220;ehh… kamu juga tuh, ahaha…&#8221; celetuk Ryan mendapati Hagia juga mengatakan kata yang sama.</p>



<p>&#8220;Ka-kamu sih, aku jadi ikut-ikutan kan!&#8221; &#8220;ya mau gimana lagi, ibu pantiku suka nonton tuh Bellerran tiap jam 14.30-16.00&#8221; jelas Hagia.</p>



<p>&#8220;Ciee hafalll… aa-adaww…&#8221; Ryanpun mendapat cubitan menyengat diperutnya &#8220;Aampuun… stoopp..&#8221; rintih Ryan memohon ampun.</p>



<p>&#8220;Yaudah.. yuk cepetan, keburu penuh.&#8221; Ujar Hagia sebal sambil menggelembungkan kedua pipinya.</p>



<p>Memesan menu, merekapun memilih sebuah masakan variant mie yang dimasak secara panggang dengan tambahan saus tiram dan berbagai sayuran segar. Bosan katanya, menunggu mie rebus yang lama dalam proses… matangnya. Juga terlalu banyak orang-orang yang memesan, laku keras.</p>



<p>Selang beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang dibawakan oleh seorang lelaki bertubuh tegap.</p>



<p>&#8220;selamat menikmati&#8221; ujar pelayan dengan suara beratnya.</p>



<p>Ryan menatap pelayan yang mana pelayan juga menatapnya.</p>



<p>&#8220;<em>Ehh? Kayanya kenal&#8221;</em>&nbsp;ujar Ryan dalam hati, kemudian terlontar perkataan</p>



<p>&#8220;Temennya Dzofi kan?&#8221; terucap oleh mereka bersaman.</p>



<p>&#8220;iya, kita pernah ketemu pas masih dalam perjalanan ke Novus. Nama gua Angga, lu Ryan kan?&#8221; Tanya lelaki bertubuh tegap yang bernama Angga.</p>



<p>&#8220;Iya&#8221; merekapun saling berjabat tangan, &#8220;Kerja disini?&#8221; Tanya Ryan singkat.</p>



<p>&#8220;Begitulah, itung-itung buat ngisi waktu luang dan ngisi dompet, ha ha ha..&#8221; jawab Angga diikuti tawa khas layaknya pria maco. &#8220;Lu kesini sama…&#8221; ia menahan perkataannya sambil mengarahkan pandangannya ke gadis di sebelah Ryan.</p>



<p>&#8220;Pacar.&#8221; Sambung Ryan dengan rona muka sedikit memerah saat mengucapkannya.</p>



<p>&#8220;Ohh.. bagus bagus.&#8221; Anggapun menjulurkan tangannya sebagai tanda ingin memperkenalkan diri &#8220;Angga Rageblood.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hagia, Hagia Henrietta, senang berkenalan dengan mu&#8221; sambut Hagia hangat.</p>



<p>&#8220;Ngomong-ngomong, kalian ke festival ini sama Dzofi gak? Kok dia gak keliatan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Dzofi dia lagi asik jalan-jalan sama pacarnya&#8221; jawab Hagia blak-blakan.</p>



<p>&#8220;Pacar?!&#8221; Angga kaget, sedang Ryan hanya bisa poker face mendapati keadaan simulasi yang sudah terlanjur menjadi &#8216;fakta&#8217;.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Sekarang aku dan Dzofi sudah tak memungkinkan menemukan Ryan dan Hagia di tengah kondisi yang kian ramai, orang-orang memenuhi jalan walau terbilang ramai, namun masih lancar. Aku sebisa mungkin mengkondisikan bahwa kebersamaan kami adalah wajar, tak perlu gugup. Harusnya.</p>



<p>Tiba-tiba, suaranya memecah dan membelah keramaian</p>



<p>&#8220;Hei Sab, mau itu?&#8221; tawarnya menunjuk kedai yang menjual manisan apel berbalut caramel, sontak metaku melebar dan berkata &#8220;mau&#8221;. Karena memang sangat ingin, akupun berjalan cepat menghampiri kedai tersebut. Sempat terdengar olehku tawa kecil darinya, namun tak kuhiraukan.</p>



<p>&#8220;Semuanya Đ 9.000&#8221;</p>



<p>&#8220;Nih pak, terimaka-&#8220;</p>



<p>&#8220;Tunggu!&#8221; potongku sebelum Dzofi membayarnya. &#8220;Biar aku aja yang bayar&#8221; lanjutku, aku tak mau merepotkan Dzofi lagi, karena tadi ia sudah meneraktirkan eskrim untukku.</p>



<p>&#8220;Dah gak usah repot-repot Sab&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak apa, aku kan juga harus keluar duit.&#8221; Jawabku, kemudian aku berpaling pada bapak penjual &#8220;Pak, terimakasih ya&#8221;. Si bapak hanya bisa tertawa melihat tingkah kami.</p>



<p>Akupun segera menjilat bagian caramel yang menyelimuti apel, dan ternyata..</p>



<p>&#8220;enak banget~&#8221; beneran enak sampai spontan kuucapkan, Dzofi yang disebelahku terpaku akan perkataanku. &#8220;Haloo… Fi, kamu kenapa? Punya kamu enak gak?&#8221;</p>



<p>Dzofipun langsung menjilati manisan apel miliknya &#8220;Enak, enak banget!&#8221; ujarnya kaku, haha…</p>



<p>&#8220;haha… kalian memang pasangan yang serasi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ka-kami bukan pasangan!..&#8221; timpalku menjelaskan, yang ternyata Dzofi berkata demikian.</p>



<p><em>Ughh… malunya</em></p>



<p>Akupun memalingkan pandanganku kearah lain.</p>



<p>Syuuu….</p>



<p>Ditengah suara bercampur yang dibuat oleh para pengunjung, tiba-tiba ada satu suara yang memecahkan komposisi suara-suara yang tak beraturan ini. Suaranya menggema seakan menyita seluruh perhatian kami, tak terkecuali mata biru langitku dan brownies miliknya.</p>



<p>….jedgar…</p>



<p>Bunga api di langit membentuk formasi indah, sontak kekaguman kami membayar fenomena indah tersebut.</p>



<p>Syuuu… jegyarrr.. jegyarr… jedgarr…</p>



<p>Beberapa kembang api lain menyusul, kemudian suasana semakin riuh akan kekaguman. Aku sendiri terus terpaku mendongakkan kepalaku ke langit gelap, menanti atraksi selanjutnya para kembang api tersebut.</p>



<p>&#8220;Sab.. Sab..&#8221; panggil Dzofi</p>



<p>&#8220;liat itu Fi, liat… waaww…&#8221; ucapku masih terpaku langit.</p>



<p>&#8220;Aku tau tempat yang bagus buat ngeliat pemandangan kembang api ini.&#8221;</p>



<p>&#8220;Serius?&#8221; tanyaku antusias mendengar apa yang dikatakan Dzofi &#8220;Yaudah ayo kesana, cepet cepet…&#8221; ucapku tak sabar. Lagipula disini sudah terlalu ramai dan mulai berdesakan.</p>



<p>Dzofipun menuntun lenganku agar tak tertinggal jauh dengannya, menembus kerumunan orang-orang</p>



<p>&#8220;Misi.. misi…&#8221;</p>



<p>&#8220;Maaf.. permisi, maaf permisi…&#8221;</p>



<p>BHUGG<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>&#8220;Aduhh.. maaf&#8221;</p>



<p>tiba-tiba tanpa sengaja aku menabrak seseorang, sepertinya tubuh orang itu cukup keras hingga posisiku terduduk,</p>



<p>&#8220;Kamu gak apa Sab?&#8221; Tanya Dzofi memastikan keadaanku, aku menjawab kalau aku baik-baik saja. Akupun mencoba mencari tau siapa orang yang tadi sempat bertubrukan denganku, namun sosoknya dengan cepat sudah tak terlihat diantara kerumunan orang-orang.</p>



<p><em>Aneh, kurasa postur tubuhnya cukup tinggi tadi, sekarang udah gak keliatan…</em></p>



<p>&#8220;Hachimm!<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />&#8221;</p>



<p>&#8220;Sab, kamu gak kenapa-kenapa kan? Keburu terlalu banyak momen kembang api yang kita lewatin&#8221; ucapan Dzofi dan bersinku membuyarkan lamunan sementaraku.</p>



<p>&#8220;Aku baik bai-&#8221; &#8220;Fi.. Dzofii…&#8221;</p>



<p>&#8220;Ada apa Sab?&#8221;</p>



<p>&#8220;A-apelku… jatuhhh…&#8221; ucapku kecewa, padahal aku baru nyobain sedikit…</p>



<p>&#8220;Nih, kamu bisa ambil punyaku&#8221;</p>



<p>&#8220;…&#8221; sempat beberapa detik aku tak bergeming namun aku tau, &#8220;makasih&#8221; aku gak bisa nolak, pasti dia akan maksa memberikan apelnya buatku.</p>



<p>&#8220;Dah gak usah sedih begitu, hehehe… bisa kita lanjut perjalanannya?&#8221; sambungnya sambil menjulurkan tangannya padaku</p>



<p>&#8220;Bisa&#8221; akupun menerima tangannya.</p>



<p>.</p>



<p>Kami berduapun sampai di tempat yang gak terlalu ramai, bukit padang rumput dengan beberapa orang dewasa dan anak-anak yang sedang asik memandang atraksi kembang api di langit sambil bermain kembang api yang mereka bakar.</p>



<p>&#8220;Gimana? Baguskan? Tuh liatt…&#8221; Dzofipun menunjuk kembang api yang ditembak oleh meriam markas.</p>



<p>DUAARRR…</p>



<p>Sungguh pemandangan spektakuler, formasi api membentuk logo union!</p>



<p>&#8220;Waaawww…&#8221; sorak kagumpun terlontar oleh kami yang tak terlalu ramai ini.</p>



<p>Tujuan penggunaan meriam ini selain sebagai sarana festival juga merupakan bagian dari perawatan meriam itu sendiri. Meriam raksasa yang merupakan peralatan pertahanan ini tidak pernah digunakan kecuali disaat-saat yang genting, dan itu sudah lamaa sekali, aku lupa kapan pastinya, yang jelas kapan digunakan terakhir kalinya ada dalam buku sejarah.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Di kedai terbuka dengan angin malam berhembus, dimana mereka sedang duduk menatap langit berhiasi kembang api dan santap malam yang tersaji, Ryan menatap dalam gadis dihadapannya, sang gadis sedang terpaku menatap langit yang berubah-ubah warna dari warna asalnya yang gelap.</p>



<p>&#8220;Hagia&#8221; dengan berani yang diusahakan, Ryan melanjutkan dengan menggenggam tangan Hagia, Terasa lebih halus dari sebelumnya. Gadis yang dipanggil namanyapun menoleh.</p>



<p>&#8220;Aku…&#8221; &#8220;Sayang kamu…&#8221; ucap Ryan dengan wajah memerah padam, demikian dengan Hagia. Dengan berani, Ryan mencondongkan wajahnya ke depan, kemudian…</p>



<p>Syuuu… jedgarrr…</p>



<p>Bersamaan dengan meletusnya kembang api, ia mencium pipi kanan Hagia.</p>



<p>Hagiapun membalasnya dengan memeluk Ryan.</p>



<p>&#8220;Kamu tau? Rasa ini sedikit asing… ya karena aku belum pernah mengalami ini sebelumnya…&#8221; &#8220;tapi… aku gak mau rasa ini berakhir, aku ingin terus begini…&#8221; ucap Hagia pada Ryan.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Aku memandangnya, kilatan cahaya warna-warni dari pancaran kembang api memenuhi sebagian wajahnya.</p>



<p>Kugenggam erat gagang apel pemberiannya…</p>



<p>Aku sungguh sangat bersyukur atas momen ini, tapi entah mengapa… jauh, jauh di dalam diriku, menginginkan sesuatu yang lebih.</p>



<p>Entah apa sesuatu itu, tak terdefinisikan…</p>



<p><em>Sebagian dari kita mengatakan…</em></p>



<p>&#8216;<em>Aku menyukai hujan.&#8217;</em></p>



<p><em>Namun kita memakai payung saat berjalan di bawahnya…</em></p>



<p><em>Banyak dari kita mengatakan…</em></p>



<p>&#8216;<em>Aku menyukai matahari&#8217;</em></p>



<p><em>Tetapi kita malah berteduh saat mentari bersinar…</em></p>



<p><em>Atau</em></p>



<p>&#8216;<em>Aku menyukai angin&#8217;</em></p>



<p><em>Tapi lagi-lagi kita berusaha menghalanginya ketika angin berhembus, dengan menutup jendela atau menggunakan pakaian tebal…</em></p>



<p><em>Disaat itulah aku tersadar…</em></p>



<p><em>Bahwa memendam jauh lebih baik.</em></p>



<p><em>Karena banyak dari kita mendapatkan, setelah pernyataan…</em></p>



<p><em>Mendapatkan hasil sebaliknya</em></p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><em> &#8220;Sampai jumpa dilain kesempatan… aku yakin kita pasti bertemu kembali<strong>&#8220;</strong><br><strong>-Baydzofi Hardji-</strong> </em></td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 23 END</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 24:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-24/</a><br>Previous Chapter > Read Chapter 22:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 23 &#8211; TOGETHER LOOKING THE SAME SKY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 22 &#8211; UNEXPECTED BATTLE</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 10:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1722</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Siapa yang gak marah sih, kalau orang udah menganggap...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 22 &#8211; UNEXPECTED BATTLE</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>&#8220;Pertama-tama kita jemput dulu cewe gue di-&#8220;</p>



<p>&#8220;-Perpustakaan…&#8221; serobot ku memotong perkataan Ryan.</p>



<p>&#8220;Iya, sekalian gue perkenalin dia ke elu.&#8221;</p>



<p>kami berduapun pergi menuju tempat yang kusebut. Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di depan perpustakaan Bellato Union. Nampaknya Ryan sudah menemukan seseorang yang ia cari, iapun melangkah menghampiri orang itu, sedangkan aku berjalan mengikuti.</p>



<p>&#8220;H-hai Hagia!&#8221; ujar Ryan sambil melambaikan tangan pada seorang gadis bersurai ungu.</p>



<p>&#8220;Ryan!&#8221; balas gadis itu seraya melangkah menghampiri.</p>



<p>jangan harap ada kejadian romantic macam film-film telenovusa atau Novu-wood dimana sepasang kekasih saling bertemu, lalu melompat sambil berpelukan. mereka berdua hanya saling mendekat, lalu setelahnya tidak bicara apapun, ya, Ryan sama sekali tak bisa bicara didepan gadis itu, aku mesti berdehem</p>



<p>*Ehem!</p>



<p>Lalu dia tersadar dan memperkenalkan diriku padanya.</p>



<p>&#8220;Ah! Iya, Hagia, kenalin, ini temenku namanya Dzofi. Fi, ini Hagia…&#8221; ujarnya memperkenalkan masing-masing dari kami sambil menggerakkan tangannya.</p>



<p>&#8220;Baydzofi Hardji, salam kenal..&#8221; ujarku menjabat tangan mulusnya.</p>



<p>&#8220;Hagia Henrietta, senang bisa berkenalan dengan sahabatnya Ryan, Ryan cerita banyak tentang kamu lho..&#8221; ucapnya dengan sepasang iris ungu memandang ramah padaku.</p>



<p>&#8220;Cerita banyak? Cerita apaan?&#8221; sontak aku langsung palingkan wajahku pada lelaki yang kini menggunakan softlens.</p>



<p>&#8220;Banyak, namun yang aku paling suka dengerin adalah masa kecil kalian bertiga sama yang satu lagi tuh.&#8221;</p>



<p>&#8220;Adan.&#8221; Timpalku.</p>



<p>&#8220;Iya, dari yang diceritain Ryan, aku jadi penasaran Nilben itu kaya gimana…&#8221;</p>



<p>&#8220;Eh? Kamu bukan dari Nilben?&#8221; reaksiku berkata demikian karena terkejut.</p>



<p>Iapun menggelengkan kepalanya &#8220;Iya, aku besar di Novus, jadi gak tahu menahu seperti apa planet asal&#8230; bangsaku ini kecuali apa yang aku dapet dari buku…&#8221; jawab Hagia menjelaskan, namun seperti ada yang aneh dari Ryan, ia langsung mengalihkan pembicaraan, dan membuat Hagia dan aku tak mungkin melanjutkan pembicaraan.</p>



<p>&#8220;Eh, nanti kesiangan, kita jalan sekarang yuk, masih ada satu orang lagi yang nungguin kita.&#8221; Timpal Ryan seraya berjalan lebih dulu. Hagia yang berada di belakangnya kini mencoba menyeimbangi posisi agar sejajar dengan pacarnya.</p>



<p>tidak sekaku sebelumnya pada pertama bertemu (walaupun pasih kaku), Merekapun kini bercengkrama, entah apa yang dibicarakan, posisiku di belakang mereka hanya bisa memandangi ekspresi tanpa beban mereka dalam berinteraksi, ah! Mereka berdua tertawa. Sontak di dalam dadaku, kurasa Ryan tidak perlu kehadiranku, aku di sini hanya akan menjadi penghalang untuknya.</p>



<p>!</p>



<p>Sekarang mereka berdua menatap bersamaan kearahku, &#8220;Apa?&#8221; tanyaku pada dua sejoli di hadapanku.</p>



<p>&#8220;Jangan di belakang sendirian begitu, aku gabung sini..&#8221; ajak Hagia.</p>



<p>&#8220;Ayo sini Fi.&#8221; Ryan langsung menarik lenganku agar aku berada di sebelah kanannya.</p>



<p>Kamipun akhirnya bercakap-cakap bersama, Hagia kemudian menyinggung diriku prihal medali yang kudapat karena pernah mengaku sebagai prajurit berpangkat maximus demi menyelamatkan seluruh penumpang pesawat antarplanet beberapa bulan lalu.</p>



<p>&#8220;Iya, itu bener.&#8221;</p>



<p>&#8220;Wah, aku mesti siapin buku buat minta tanda tangan nih.. hehe…&#8221; ujar Hagia sambil tertawa.</p>



<p>&#8220;Tapi, harusnya kamu minta tanda tangan sama pria yang ada di sampingmu lebih dulu sebelum minta tanda tanganku.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kenapa?&#8221; ujarnya dengan mimic polosnya.</p>



<p>&#8220;Karena di belakangku melakukan aksi heroic itu, Ryan lah yang udah banyak berjasa, dia sempet pegang kendali pesawat lho, dia juga yang ingetin adanya pendarahan di kepalaku…&#8221; jelasku pada gadis milik Ryan itu, setelahnya rona Hagia berubah menjadi kemerahan, lalu menatap Ryan dengan tatapan kagum.</p>



<p>Ryan yang dipandangi seperti itu, tak kuasa bertingkah normal namun tetap memaksakan diri untuk jaim. Tingkahnya menjadi kaku.</p>



<p>&#8220;Kamu bener Yan ngelakuin itu?&#8221; Tanya Hagia memandang Ryan dengan efek visual berbinar-binar.</p>



<p>&#8220;I-iya… biasa aja lagi..&#8221; jawabnya tanpa menatap Hagia, jika diperhatikan, kedua telinga Ryan memerah menahan malu.</p>



<p>Kemudian, tanpa diduga Hagia yang berada di sisi kiri Ryan merapatkan badannya dan memeluk tangan kiri milik Ryan. Ryan sontak terkaget…</p>



<p>&#8220;Eh?! A-apa yang kamu-&#8220;</p>



<p>&#8220;Habis, aku gak percaya kamu ngelakuin aksi haroik begitu, terlebih gak keliput media, jadi kesannya makin keren~&#8221;</p>



<p>&#8220;I-iya iya… tapi jangan frontal begitu, ini tempat umum… a-ada si Dzofi juga… lepasin lepasin…&#8221; ujar Ryan kagok karena malu dengan kelakuan Hagia, namun Hagia tak menolak, iapun menuruti kemauan Ryan dan kini mereka berdua berjalan dengan tingkah laku &#8216;normal&#8217;, setidaknya normal menurut Ryan.</p>



<p>&#8220;Jadi, siapa yang akan kita jemput?&#8221; tanya Hagia sambil menghadapkan mukanya menanti jawaban pada kami berdua, secara bergantian.</p>



<p>&#8220;Dia Sabila, pacarnya Dzofi…&#8221; jawab Ryan santai.</p>



<p>&#8220;Iya, dia- eh! Pacar!?&#8221; seruku saat menyadari Ryan main menetapkan status secara illegal begitu saja, akupun menatap tajam kearah Ryan!</p>



<p>&#8220;Ohh namanya Sabila. Lho, kalian kenapa berantem? Bukannya kita mau Double Date?&#8221; ujar Hagia heran ketika melihatku tengah mencengkram kerah Ryan bermaksud ingin meminta penjelasan darinya (sekaligus menghajarnya tentunya).</p>



<p>Akupun melepas Ryan sambil menatap tajam, berharap tatapanku ini mampu menembus jantungnya dan mengoyak tubuhnya.</p>



<p>&#8220;I-iya, kita gak berantem kok, aku cuma mbersihin kerah baju Ryan doang, berdebu.&#8221; Jawabku sambil menepuk KERAS pundaknya.</p>



<p>&#8220;Aduh!&#8230; iya Hagia, kita gak berantem kok…&#8221; timpal Ryan sambil memperlihatkan deretan giginya.</p>



<p>&#8220;<em>Maksud lu apa cuk! Ini di luar kesepakatan kita, perjanjian kita batal!&#8221;&nbsp;</em>bisikku dengan nada menggeram.</p>



<p>&#8220;<em>Ja-jangan, gue gak punya pilihan lain, kan elu yang bilang kalau gue kudu ngajak dia keluar, dan namanya pergi keluar itu kencan. Pergi dua pasangan keluar itu istilahnya double date…&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Tapi kenapa… kenapa lu main njodohin begitu sih dasar peranakan Djancuk!&#8221;&nbsp;</em>makiku.</p>



<p>&#8220;<em>Kan ini semua karena lu, lu bilang harus buat agenda special, yaitu kencan, kalau gue dah ajak lu dan bilang ini cuma sekedar jalan-jalan, itu sama aja gak special &#8216;kan?&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Lagi pula, lu mau begitu aja batalin diri secara sepihak sedangkan Sabila udah nunggu lu di luar sana sedari tadi? Bayangin Fi, bayangin! Di PHPin itu sakitnya di sini, sini dan di sini…&#8221;&nbsp;</em>sambung Ryan sambil menunjuk bagian-bagian tubuh.</p>



<p>&#8220;<em>Geezz… Bacot! Hmph… oke oke… gue akan ikut sampai akhir, namun lu kudu mastiin kalau lu gak akan lupa 50% tagihan adalah lu yang mbayar.&#8221;</em></p>



<p>Ditengah-tengah kami sedang berbisik, Hagia membuyarkan.. sontak kamipun mengelak, dan memperalihkan pembicaraan.</p>



<p>Tak berapa lama, akhirnya kami bertiga sampai di depan gerbang markas Bellato Union, di sana lumayan ramai, karena memang pintu masuk utama menuju kota. Kutelisik tiap individu yang ada untuk memastikan keberadaan gadis yang tengah menungguku.</p>



<p>Ah! Itu dia</p>



<p>Akupun melangkah sambil menunjuk sosoknya kepada yang lain, namun sebelum aku melangkah lebih jauh, Ryan berbisik padaku.</p>



<p>&#8220;<em>Pliss.. bertingkah layaknya sepasang kekasih, supaya Hagia gak sadar kalau ini cuma sekedar jalan-jalan biasa&#8221;</em></p>



<p>Belum sempat aku menanggapi, Ryan sudah main dorong tubuhku ke lautan bellatean. Hampir mati rasanya terbawa arus makhluk-makhluk yang ramai ini.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Hah.. hah.. Sab, udah nunggu dari tadi?&#8221; ujarku membuka pertanyaan sambil mengatur nafas, si gadis berambut putihpun menggeleng seraya menjawab</p>



<p>&#8220;Enggak kok, baru aja sampai.&#8221;</p>



<p>Untuk beberapa saat, aku tak menggubris jawabannya, aku terpaku memandangi penampilannya, cantik sama seperti saat acara ulang tahun kak Ulfa minggu lalu walau dengan pakaian yang lebih sederhana, entah atau hanya perasaanku saja, segala pakaian sepertinya berjodoh dengan gadis di depanku ini.</p>



<p>&#8220;Dzof, yang lain ada dimana?&#8221; Tanya Sabila membuyarkan lamunanku.</p>



<p>&#8220;Eehh.. yang lain ada disana, itu Ryan.&#8221; Jawabku sambil menunjuk sosok berambut caramel ditengah kerumunan bellatean yang ingin masuk maupun keluar kota.</p>



<p>&#8220;Yang mana?&#8221; Tanya Sabila masih belum mendapati sosok Ryan. Iapun berjinjit sambil meletakkan empat jarinya secara rapat di atas alis</p>



<p>&#8220;Yaudah, yuk langsung samperin aja.&#8221; Akupun langsung menggenggam tangannya, agar ia tak hanyut di tengah kerumunan.</p>



<p>&#8220;Minggir Minggir! Air panas! Air Panas!&#8221; seruku, sontak orang-orang yang berada di depanku langsung bereaksi menjauh sambil melihat. Bodo amat, yang penting bisa lewat.</p>



<p>&#8220;Awas melepuh! Awas Melepuh!&#8221;</p>



<p>Setelah berhasil menyebrangi lautan bellatean, akhirnya kami sampai menuju tempat Ryan dan Hagia berada.</p>



<p>&#8220;Sabila, apa kabar?&#8221; ujar Ryan menyambut kami, lebih tepatnya Ryan hanya menyambut Sabila dengan menjulurkan tengan padanya.</p>



<p>&#8220;Umm.. baik..&#8221; jawab Sabila dari belakang punggungku. &#8220;Kamu siapa?&#8221; tanyanya.</p>



<p>Yang ditanya seakan mematung.</p>



<p>&#8220;Dia Ryan, Sab. Dia lepas kacamata, gak tambah ganteng kan?&#8221; jelasku.</p>



<p>Sontak Hagia dan Sabila tertawa bersama, Ryan masih mematung.</p>



<p>&#8220;Haha&#8230; maaf ya Yan, aku gak sadar itu kamu.&#8221; Ujar Sabila sambil menjabat tangan Ryan yang masih mematung. Sabila gak sadar akan keadaan Ryan, juga Hagia yang masih bisa tertawa melihat pacarnya yang shock.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Oh ya, namaku Hagia, Hagia Henrietta, salam kenal&#8221; seru Hagia membuka perkenalan, Sabila pun menjawab dengan menyebut nama lengkapnya.</p>



<p>&#8220;Kamu udah berapa lama sama Dzofi?&#8221;</p>



<p>Merekapun terlibat pembicaraan sebagaimana mestinya para gadis bercengkrama, Ryan yang sudah sadar dari status patungnyapun berkata.</p>



<p>&#8220;Gimana kalau kita langsung ke tempat festival aja?&#8221; aku dan yang lainnyapun setuju.</p>



<p>Akhirnya kami berempatpun menuju tkp yang dituju, namun sesampainya disana sungguh diluar dugaan&#8230;</p>



<p>Sepi</p>



<p>&#8220;Kita gak salah hari kan?&#8221; Tanya Hagia ke Ryan. Yang ditanya langsung mengeluarkan selebarannya dari inventory lalu kembali membacanya, kali ini dengan cermat.</p>



<p>&#8220;Um&#8230; Festival Musim Panas&#8230; Kembang Api&#8230; sore&#8230; pukul 16.00&#8221;</p>



<p>&#8220;Hehe&#8230; maaf, kita datengnya terlalu rajin&#8230;&#8221; ujarnya berat hati sambil menggaruk belakang kepalanya. Sontak jawaban itu menedapat tatapan tajam dari kedua gadis. Mereka menatap Ryan dengan kesal sambil menggembungkan pipinya&#8230;</p>



<p>Karena merasa bersalah, juga hari sudah menunjukkan tengah hari, Ryan pun menjanjikan pada mereka akan meneraktir sesuatu yang menyegarkan sebagai permintaan maaf.</p>



<p>Sambil melanjutkan perjalanan, mengitari tempat festival ini, berharap sudah ada kios yang buka. Beruntung, di depan tak jauh dari kami terdapat kios yang buka ditengah kios yang masih berbenah-benah..</p>



<p>&#8220;Pon-dok-es-krim&#8221;</p>



<p>eja Hagia dan Sabila dengan jelas, Nampak mata mereka berbinar, dan pipi merona kemerahan, kemudian tanpa diduga Hagia segera menyeret Ryan untuk menghampiri kios tersebut.</p>



<p>&#8220;Haha&#8230;&#8221; aku hanya bisa tertawa melihat Ryan dan Hagia.</p>



<p>&#8220;Umm.. Fi? Kok masih disini? Ayo kesana bareng.&#8221; Ujar Sabila mengajakku, akupun melangkah menyusulnya.</p>



<p>.</p>



<p>Di dalam kedai, Hagia dan Ryan tampak sibuk memilih menu yang terpampang di papan atas kasir. Lebih tepatnya Hagia lah yang sibuk.</p>



<p>&#8220;Pilih yang paling mahal aja Gia, Ryan gak keberatan kok, ehehe…&#8221; seruku menggoda Ryan, Hagia pun langsung menanggapi</p>



<p>&#8220;Serius?! Gimana kalau kita milih yang itu!&#8221; ujar Hagia antusias sambil menunjuk salah satu porsi es yang besar dengan semangat.</p>



<p>&#8220;Double Horn Blazing Cream<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />&#8221; ujarku dan Ryan bersamaan</p>



<p><em>Đ 76.000<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></em></p>



<p>Dan kami pasti sama-sama berteriak di dalam hati melihat harganya. Kamipun saling menatap satu sama lain.</p>



<p>&#8220;Ehehe… gimana kalau coba yang gak terlalu banyak? Aku gak yakin bisa ngehabisin semuanya Gia… bisa-bisa kena pembekuan otak lho!&#8221; jelas (ngeles) Ryan secara ilmiah.</p>



<p>&#8220;Bener! Kata Ryan! Gue pernah ngerasain, sakit banget, kepala jadi pusing…&#8221; supportku membantu Ryan.</p>



<p>Dan kini Hagia pun tampak memandang kembali papan menu di atas, membatalkan pilihan awalnya.</p>



<p>&#8220;Umm… permisi, boleh saya memberi saran?&#8221; ujar pelayan yang sedari tadi mungkin, sepertinya ia tau kalau kami sulit menentukan pilihan yang tepat.</p>



<p>&#8220;Bagaimana kalau kalian mencoba salah satu menu terbaik kami, berhubung kalian dua pasangan, jadi silahkan coba promo Battle Date&#8221; usul sang pelayan.</p>



<p>&#8220;B-Battle Date?&#8221; ujarku heran, juga yang lainnya.</p>



<p>&#8220;iya, jadi yang akan disajikan adalah dua mangkuk es krim banana split dengan tiga rasa es krim plus tambahan satu pocky® di atasnya.&#8221; Jelas sang pelayan menihilkan rasa penasaran kami.</p>



<p>Namun tiba-tiba Ryan berkata &#8220;Terus, maksudnya Battle di namanya itu apa Mba?&#8221; tanyanya secara kritis…</p>



<p>&#8220;Sesuai namanya, jadi kalian harus bertarung untuk menghabiskan es krim yang disajikan terlebih dahulu, dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah.&#8221; Jelas kembali sang pelayan.</p>



<p>&#8220;Kita-kira ada batasan waktu menghabiskannya gak?&#8221; Tanya Sabila yang sedari tadi tak bersuara.</p>



<p>&#8220;Iya ada nona manis, waktunya 2 menit.&#8221;</p>



<p>&#8220;DU-DUA MENIT?<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> KEJAM SEKALI<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />…&#8221; ujarku dan Ryan berbarengan</p>



<p>&#8220;Anda mau membunuh kami?!&#8221; ujarku kesal.</p>



<p>&#8220;Peraturan yang bisa mencelakakan konsumen namanya! Anda bisa kena pasal tentang konsumen dan pelayanan!&#8221; tambah Ryan.</p>



<p>&#8220;Eh?! Baiklah-baiklah, berhubung kami juga baru buka dan kalian pelanggan pertama kami, kalau begitu peraturannya kami ubah menjadi 5 menit. Terimakasih sudah mengoreksi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Huh~ kalau begitukan lebih bellateance… baiklah kalau begitu kami pesan satu porsi Battle Date.&#8221; Jawabku, kami berempatpun segera menentukan tempat duduk yang nyaman.</p>



<p>Di meja bernomorkan 4, aku dan Ryan duduk berhadapan sedangkan di sampingku Sabila, dan di samping Ryan, Hagia.</p>



<p>Kami sempat mendiskusikan agar saat memakan es krim jangan terburu-buru, makan santai saja sampai menit terakhir. Bagaimanapun, menikmati makanan adalah secara perlahan, juga agar tak terkena pembekuan otak.</p>



<p>Pesanan kamipun tiba, sang pelayan segera menaruhnya dihadapan kami. Es krim banana split tiga warna dengan satu tiang pocky® menancap.</p>



<p>&#8220;Oke, ini pesanannya. Apa kalian sudah siap?&#8221; tanyanya sambil mengeluarkan stopwatch.</p>



<p>Rupanya pelayanan disini betul-betul niat. Akupun sempat melihat kamera yang tergantung dileher pelayan tersebut, lalu kutanyakan padanya</p>



<p>&#8220;Mba, itu kamera buat apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Oh, ini? Karena kalian adalah pelanggan pertama kami, jadi kami akan memotret kalian dan hasilnya akan dipajang disebelah sana.&#8221; Jelasnya sambil menunjuk kearah dinding yang kosong sebelah kasir.</p>



<p>&#8220;Baiklah, apakah pasangan sebelah sini sudah siap?&#8221; lanjutnya bertanya pada Ryan dan Hagia, merekapun menjawab.</p>



<p>&#8220;Pasangan yang ini, apa kalian juga siap?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ehh… aku, Dzofi, kami bukan…&#8221; Sabila mencoba mengklarifikasi penetapan status secara sepihak, akupun hanya bisa ber Facepalm lupa menjelaskan pada Sabila tentang rencana ini. Namun belum selesai Sabila menjelaskan, sang pelayan langsung berkata</p>



<p>&#8220;Mulai<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />&#8221;</p>



<p>Prittt…<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Sesuai rencana, aku dan Sabila, juga Ryan dan Hagia memakan es krim yang tersaji dengan perlahan.</p>



<p>Aku mengincar es yang rasa coklat, sungguh nikmat. Aku tidak habis fikir bila ada bellatean yang tidak menyukai coklat, padahal coklat sungguhlah kenikmatan yang teramat sangat nyata, jika kau mengetahui.</p>



<p>Sedangkan Sabila memilih es berasa vanilla, kemudian terjadi momen dimana sendok kami beradu sehingga menimbulkan bunyi</p>



<p>Tingg…</p>



<p>Kemudian aku dan Sabila menatap secara bersamaan.</p>



<p><em>Ka-kami berdua be-bener-bener kaya orang lagi kencan, makan satu wadah berdua.</em></p>



<p>Ujarku dalam hati, mukakupun memerah saat…</p>



<p>Melihat wajah Sabila yang putih juga tiba-tiba merona…</p>



<p><em>Shit shit shit<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />! Jangan sampe dia juga mikir hal yang sama!</em></p>



<p>Tingg<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p>Terdengar lagi suara sendok beradu, namun kali ini lebih tinggi dan sedikit berbeda intonasinya. Aku melihat kearah sendokku dan Sabila, kami sama sekali tidak bersentuhan…</p>



<p>Tingg…</p>



<p>Terdengar lagi, dan kali ini jelas dari arah Ryan dan Hagia, saat kami berdua lirik, ternyata hal yang tak terduga terjadi…</p>



<p><em>Pe-penghianat!</em></p>



<p>Di menit 03:46 Ryan dan Hagia kini makan es krim tersebut dengan terburu-buru, bermaksud ingin memenangkan battle ini!</p>



<p>&#8220;Ayo Sab, jangan mau kalah sama mereka!&#8221;</p>



<p>Akupun mengaktifkan &#8216;skill&#8217; pengeretanku, pengeretan adalah kemampuan dimana mempercepat gerakan tubuh khususnya tangan agar cepat mengambil makanan dan cepat memakannya…</p>



<p>*Pengeretan Mode : ON*</p>



<p>Hap hap hap</p>



<p>Dentingan gelas beling terkadang saling bersahutan, Ryan dan Hagia yang sudah sadar kami menyusul mempercepat ritme mereka.</p>



<p>Hap hap hap…</p>



<p>&#8220;Aghh… suee~<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />&#8221; erang Ryan terhenti sambil memegang salah satu pipinya. Kesempatan ini takku sia-siakan, aku segera menyantap lembut dingin ini dengan lahap.</p>



<p>&#8220;Ryan kamu kenapa?&#8221; Tanya Hagia</p>



<p>&#8220;Gi-gigiku nyilu Gia, udah kamu jangan berhenti, kalahin Dzofi sama Sabila.&#8221; Ujarnya, Sabila pun mengiyakan dan sekera melaksanakan, sedangkan Ryan berusaha memasukkan es krim ke dalam mulutnya secara perlahan.</p>



<p>Hap.. hap.. hap..</p>



<p>&#8220;Ahh…&#8221; tiba-tiba Sabila memegang kedua kepalanya</p>



<p>&#8220;Sab, kamu gak pap-Aghh!&#8221; tiba-tiba kepalaku terasa membeku, pembekuan otak! Pembekuan otak!</p>



<p>Butuh waktu agak lama sampai aku dan Sabila berada diposisi normal dan melanjutkan pertandingan yang tinggal beberapa sendok lagi.</p>



<p>Aku sempat melihat kearah Hagia, ia tampak memaksakan dirinya, bisa dilihat dari matanya yang sesekali memejam menahan rasa nyeri namun tetap tak berhenti.</p>



<p>&#8220;Ayo Sab! Jangan nyerah!&#8221;</p>



<p>Disaat es krim yang hampir habis, sang pelayan yang mengawasi kami selaku juri berkata</p>



<p>&#8220;Sesuai peraturan, kalian harus menghabisi hidangan dalam waktu 5 menit. Dan untuk pockynya, kalian harus menghabiskannya berdua, tidak boleh mengambil menggunakan tangan atau sendok.&#8221;</p>



<p>Bsushh<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/12.0.0-1/72x72/203c.png" alt="‼" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> &#8220;Ja-jadi harus…&#8221; ucapanku berhenti, kutatap gadis di depanku yang juga tak bergeming. Wajahnya bagaikan teko yang mendidih, kemudian pasangan di sebelahku, tak kalah sunyinya setelah mendengarkan perkataan sang pelayan.</p>



<p>&#8220;40 detik&#8221; ujar pelayan memecahkan keheningan. Kemudian dentingan antar stainless steel dengan gelas terdengar. Akupun tak mau kalah.</p>



<p>Hap.. hap.. hap…</p>



<p>&#8220;30 detik&#8221;</p>



<p>Kini hanya tersisa sebatang pocky sendirian bersandar dalam gelas…</p>



<p>&#8220;20 detik&#8221;</p>



<p>*glup</p>



<p>Kutelan ludahku, memberanikan diri dan berkata pada Sabila</p>



<p>&#8220;A-ayo kita mulai…&#8221;</p>



<p>Ia mengangguk, namun jelas ragu…</p>



<p>Kutundukkan kepalaku menghampiri gelas, lalu kuraih sebatang pocky dengan mulutku…</p>



<p>Deg-deg deg-deg deg-deg…</p>



<p>Kuarahkan pocky pada Sabila, Dia meraihnya dengan bibir merah mudanya, kemudian mulai memakannya bersama…</p>



<p>Biru langitnya dengan brownies milikku bagaikan kutub magnet yang sama, tak bisa saling menatap, kami saling memandang sisi lain…</p>



<p>Bunyi kunyahan perlahan sungguh terdengar jelas…</p>



<p>Deg-deg deg-deg deg-deg…</p>



<p>Juga bunyi detak jantung yang kian berpacu</p>



<p>itu artinya…</p>



<p>Jarak kami tiap detik semakin mendekat…</p>



<p>&#8220;5&#8221;</p>



<p>Jarak antar wajah kami tidak lebih dari dari 5 cm kurasa, dan saat kuberanikan untuk menatap langsung ke depan, Kedua mataku bertemu dengan matanya.</p>



<p>Seakan pasrah dan tak peduli lagi dengan apapun…</p>



<p>Sabila memejamkan matanya…</p>



<p>Menghiraukan semua yang ada..</p>



<p>Mempersilahkanku untuk</p>



<p>&#8220;4&#8221;</p>



<p>Menghampirinya</p>



<p>&#8220;3&#8221;</p>



<p>Lebih dekat</p>



<p>&#8220;2&#8221;</p>



<p>Lebih dekat…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><em>Strawberry…</em></p>



<p>&#8220;Selamat! Pasangan Hagia dan Ryanlah pemenangnya!&#8221; seru sang pelayan sambil bertepuktangan.</p>



<p>Semua tampak senang, termasuk Sabila yang tidak memenangkan pertandingan, sisa rona merah di wajahnya masih belum hilang.</p>



<p>Dan semenjak &#8216;saat itu&#8217;, mata kami seakan sulit untuk bertemu…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"> &#8220;<strong>Siapa yang gak marah sih, kalau orang udah menganggap seseorang itu penting tapi ternyata ia gak dianggap!&#8221;</strong><br><strong>-Ulfa Hardji- Ch. 12</strong> </td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 22 END.</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 23:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-23/</a><br>Previous Chapter > Read Chapter 21:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 22 &#8211; UNEXPECTED BATTLE</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 21 &#8211; INVOLUNTARY TO CERTAINLY</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 09:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1719</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Kau akan terlihat lebih segar bila kau melepas kacamata...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 21 &#8211; INVOLUNTARY TO CERTAINLY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p><strong>19 July 133 NE,</strong></p>



<p><strong>Bellato Central Town.</strong></p>



<p>Tampak seorang lelaki tengah berdiri dengan berselimutkan cahaya pagi matahari Niger. Dari gesturnya, nampak orang itu tengah menunggu seseorang, bisa dilihat demikian karena ia sudah beberapa kali menengok kearah chronometer yang berada di tangan kanannya.</p>



<p>&#8220;Huh, lagi-lagi ngaret…&#8221; ujarnya bermonolog setelah kesekian kalinya melihat kearah penunjuk waktu.</p>



<p>Rambut berwarna coklat caramel yang sudah tersisir rapih, demikian pula dengan stel pakaian yang sekarang ia kenakan. Menandakan bahwa aktivitas yang ia akan lalui adalah benar-benar penting.</p>



<p>Niger makin lama makin menaikkan suhunya, setetes dua tetes keringat mulai membasahi dahi dan pipi Bellatean tersebut. Iapun memilih untuk berteduh dibawah naungan pohon yang jaraknya tak jauh. Melupakan manfaat sinar pagi matahari yang menyehatkan, dan pergi menghindarinya sebelum sinar itu menghancurkan penampilan yang sudah susah payah ia buat.</p>



<p>Iapun duduk, sambil mendongakkan kepalanya menyaksikan titik-titik sinar yang menembus sela-sela dedaunan.</p>



<p><em>Heh… gak kerasa udah tiga bulan… dan gue baru bisa melakukannya saat ini, itupun minta ditemenin sama si &#8216;jam karet&#8217;…</em></p>



<p><em>Hahaha…</em></p>



<p><em>Kampret emang…</em></p>



<p>Iapun menghembuskan nafas seakan melupakan problematika yang sedang ia hadapi ; menunggu sahabatnya, Dzofi.</p>



<p>&#8220;Hmph… kurang lebih empat bulan yang lalu, awal dari sebab gue ngelakuin ini…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>/</p>



<p><strong>*Maret, empat bulan yang lalu*</strong></p>



<p>&#8220;Ah, maap mbak, saya nyari buku tentang teori pembentukan force listrik, ada di bagian mana ya? Saya tadi udah nyari tapi gak ketemu.&#8221; Ujar Ryan pada pustakawati yang sedang bertugas. Wanita yang ia ajak bicarapun segera membuat posisi tubuhnya lebih dekat dengan computer yang ada di depannya, lalu ia bicara sambil mengetik sesuatu…</p>



<p>&#8220;Tadi anda nyarinya dimana ya mas?&#8221;</p>



<p>&#8220;Dibagian sihir, blok A untuk angin, tapi di list blok sana gak ada…&#8221; jawab Ryan menjabarkan kronologi permasalahan.</p>



<p>&#8220;Ohh… pembahasan tentang sihir perwujudan listrik emang terlalu luas mas, makanya kita katagoriin secara terpisah. Coba mas cari di blok L, di sana lengkap.&#8221; Jawab pustakawati.</p>



<p>&#8220;Begitu ya, oke mbak, makasih ya.&#8221;</p>



<p>Setelah berterima kasih, Ryan langsung menuju blok yang dituju dengan langkah kaki yang dipecepat.</p>



<p>&#8220;L… l.. l.. ah! Listrik, itu dia! Listrik!&#8221; ujarnya ketika berhasil menemukan apa yang ia cari.</p>



<p>Buku bersampul hitam, berada di rak ketiga dari atas, dan paling dalam untuk diambil dari posisinya, iapun membungkukkan badannya untuk meraih buku itu.</p>



<p><strong>!</strong></p>



<p>Ia sontak mengurungkan niatnya untuk mengambil buku itu begitu menyadari buku yang tengah ia ambil Seperti ditarik dari sisi yang berlawanan.</p>



<p>Iapun memandangi buku itu sejenak, Buku itu masih di sana, tak bergerak.</p>



<p><em>Ah, pasti cuma nyangkut</em></p>



<p>Batin Ryan kembali mengambil buku itu.</p>



<p>Lagi, buku itu susah sekali untuk diambil saat ia berusaha menariknya. Iapun berusaha lebih keras</p>



<p>&#8220;Ughh…&#8221; erangnya, nampak di tangannya muncul urat yang menonjol akibat kengototannya.</p>



<p><em>Ini kenapa sih? bisa bisa gue ngerusak nih buku dan suruh ganti</em></p>



<p>Iapun langsung menyudahi tarikan itu. Tidak seperti sebelumnya, kali ini buku itu bergerak semakin kedalam setelah Ryan melepaskan buku itu. Tak berapa lama ia mendengar suara</p>



<p>&#8220;Makasih ya mas.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ugh.. iya, sama-sama.&#8221;</p>



<p>Ryan masih belum menyadari sepenuhnya apa yang sedari tadi terjadi, iapun menatap lurus kearah rak buku yang kini menghubungkan ia dengan lorong yang berbeda.</p>



<p>&#8220;Eh?!&#8221;</p>



<p>Ujarnya saat mendapati seorang wanita juga tengah menatap kearahnya melalui sela rak buku yang kosong itu.</p>



<p>Seorang wanita dengan sepasang mata berwarna ungu, demikian pula rambutnya.</p>



<p>Tak berapa lama setelah kedua insan itu saling bertatapan, mereka menyudahinya secara bersamaan.</p>



<p><em>Kayanya… tuh cewe pernah ketemu deh… tapi dimana ya?&#8230;</em></p>



<p>Belum sempat ia menyadari, wanita yang coba ia ingat dalam tumpukan memorinya muncul menghampirinya, bersama dengan buku yang ia incar.</p>



<p>&#8220;Kita pernah ketemu &#8216;kan sebelumnya?&#8221; ujar gadis berambut ungu panjang, panjangnya melebihi punggungnya.</p>



<p>&#8220;A-ah.. iya kayanya, tapi saya lupa..&#8221; jawab Ryan.</p>



<p>&#8220;Kalau begitu…&#8221;</p>



<p>Gadis di hadapan Ryan pun menjulurkan tangannya</p>



<p>&#8220;Nama ku Hagia, Hagia Henrietta. Salam kenal.&#8221; Sambungnya diikuti senyuman sejuk.</p>



<p>&#8220;Sa-saya Ryan Adani. Senang bisa berkenalan dengan anda…&#8221; jawab Ryan kaku.</p>



<p>&#8220;Haha… kamu gak berubah ya..&#8221; ujar gadis bernama Hagia dengan tawa geli.</p>



<p>&#8220;Eh?&#8221; Ryan bingung saat mendapati Hagia berkata ia tak berubah, kata itu biasanya diucapkan untuk orang yang sudah lama saling kenal, namun baru juga berjumpa, Hagia malah berkata seperti itu.</p>



<p>&#8220;Apa maksudnya? Saya gak berubah?&#8221;</p>



<p>&#8220;Pertama kali kita ketemu, kita saling tabrakan tau, aku bilang ke kamu kalau kamu akan lebih terlihat segar kalo kamu lepas kacamata. Kamu malah jawab &#8216;Sama-sama&#8217;. Haha… kaku banget.&#8221;</p>



<p>&#8220;A-aku jawab begitu?… oh iya, kita ketemu pas tabrakan.&#8221; Tanggap Ryan baru menyadari momen pertama mereka bertemu. Iapun menggaruk kepalanya.</p>



<p>&#8220;Umm… kamu cari buku ini &#8216;kan? Gimana kalau kita baca bareng?&#8221; tawar Hagia pada lelaki berkacamata. Ryan terdiam. Bukan berfikir akan menerima atau tidak, namun lebih pada tak percaya ada seorang gadis menawarinya duduk satu bangku.</p>



<p>Adalah suatu tawaran yang hampir ia tak pernah dapatkan dalam menjalani perannya sebagai seorang introvert, kecuali saat ini.</p>



<p>Ia hanya dekat pada orang-orang tertentu, dan berinteraksi dengan lawan jenis… hanya sekedar keperluan mendesak (bertemu dengan guru, atau murid sesama akademi).</p>



<p>&#8220;Umm.. Ryan. Kamu mau gak?&#8221; ujar Hagia membuat Ryan tersadar.</p>



<p>&#8220;Te-tentu, dengan senang hati…&#8221; jawab Ryan, Hagia pun kembali tertawa mendengar jawabnya.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ngomong-ngomong, kamu belajar ini buat apa? Kamu kayanya bukan spiritualist.&#8221; Ucap Hagia membuka percakapan.</p>



<p>&#8220;Ya kamu bener, aku seorang specialist. Dan aku belajar ini karena tuntutan seorang specialist yang harus bisa menguasai berbagai jenis persenjataan dan medan. Walaupun.. opsi force adalah gak wajib. Tapi gak ada ilmu yang gak berguna &#8216;kan?&#8221; jelas Ryan pada lawan bicaranya. &#8220;Kamu sendiri spiritualist?&#8221; kali ini giliran Ryan yang bertanya</p>



<p>&#8220;Semacam itu…&#8221;</p>



<p>&#8220;Semacam itu?&#8221; ujar Ryan heran.</p>



<p>&#8220;Aku emang menekuni force, tapi aku gak kaya kamu..&#8221;</p>



<p>&#8220;Hemm?&#8221; Ryan masih heran, apa maksudnya dengan tak seperti dirinya.</p>



<p>&#8220;Aku sipil, bukan anggota militer…&#8221;</p>



<p>Suasana menjadi seperti seharusnya, sepi. dibenak Ryan timbul jawaban, itu karena warga penduduk Novus non militer wajib menjalani/melaksanakan system pertahanan diri untuk mempertahankan dirinya. Penguasaan bidang tidak dipaksakan, dan yang Hagia pilih adalah pendalaman sihir.</p>



<p>Namun timbul pertanyaan, &#8216;Kenapa ia tak masuk militer?&#8217;</p>



<p>Yah, mungkin karena ia memiliki perkerjaan atau membantu orang tuanya. Jawab Ryan dalam benak.</p>



<p>Merekapun kembali melanjutkan membaca buku, tanpa mengungkit pembicaraan sebelumnya.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Umm… dah jam 12, aku udah harus pulang. Kamu ya yang pegang bukunya…&#8221; seru Hagia sembari mendorong buku tersebut kesisi Ryan.</p>



<p>&#8220;Eh, gak usah, aku udah faham bagian yang aku pengen tau kok. Kamu aja yang pinjem bukunya.&#8221; Jawab Ryan kembali mendorong buku kesisi Hagia.</p>



<p>&#8220;Ohh begitu, umm.. gimana kalau besok kita ketemuan lagi. Kita selesain buku ini sama-sama. Setuju?&#8221; tawar gadis bermata violet pada lelaki bermata tinta.</p>



<p>Ryan pun mengangguk.</p>



<p>&#8220;Oke kalau begitu, aku tunggu di sini diwaktu yang sama, sampai jumpa..&#8221;</p>



<p>Hagia pun melangkah pergi, keluar dari perpustakaan.</p>



<p>Di sisi lain, tanpa Ryan sadari, rona mukanya memerah, dadanya berdebar lebih dari biasanya, dan perasaannya seperti…</p>



<p>&#8220;A-ada apa ini?… kenapa gue…</p>



<p>Jadi seneng begini?&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>Keeokan harinya, Ryan kembali ke perpustakaan, menuju tempat yang sama seperti sebelumnya. Dan di sana sudah menanti seorang gadis yang sebaya dengannya.</p>



<p>&#8220;Ryan… sini…&#8221; panggil gadis berambut ungu menyebut namanya sambil melambaikan tangan, suaranya cukup keras untuk ukuran seseorang yang bicara dalam perpustakaan, sehingga setelah ia memanggil Ryan, ia mendapat timpalan &#8220;Shhtt!&#8221; dari berbagai pihak, termasuk penjaga perpustakaan.</p>



<p>&#8220;Kamu, dah tau perpus, jangan berisik begitu dong…&#8221; ujar Ryan saat mendekat.</p>



<p>&#8220;Hehe.. maaf..&#8221; balas Hagia dengan suara layaknya berbisik.</p>



<p>Hagia pun memandangi penampilan Ryan yang berubah. Merasa terlalu diperhatikan, dan juga dari jarak yang cukup dekat, Ryan merasa &#8216;risih&#8217;</p>



<p>&#8220;Ke-kenapa? Gak cocok ya? Aneh?&#8221; ucap Ryan tak percaya diri.</p>



<p>Hagia menggeleng, lalu berkata</p>



<p>&#8220;Enggak kok, seperti kataku tempo hari, kamu kelihatan seger lepas kacamata begitu. Softlens mu cocok…&#8221;</p>



<p>Mendengar jawaban dari Hagia, seakan tanpa Ryan kehendaki, bibirnya menekuk keatas, ia tersenyum kecil.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Gimana? udah faham belum?&#8221; tanya Ryan pada Hagia. Walau pilihan Hagia adalah pendalaman sihir, namun mempelajari sihir elemen angin perubahan listrik adalah yang tersulit, tidak seperti api atau air yang lebih fleksibel dalam perubahan wujudnya.</p>



<p>&#8220;Uhh… baca dari buku ini… kenapa agak susah visualisasiinnya yah…, gak kebayang…&#8221; respon Hagia dengan nada murung, ia menyandarkan kepalanya pada dua tangan yang menopang pipinya. Melihat prilaku Hagia yang satu ini, Ryan tertawa kecil.</p>



<p>&#8220;Kenapa? Kenapa ketawa?&#8221; ujar Hagia dengan nada yang masih bête.</p>



<p>&#8220;Hehe.. gak, enggak apa-apa. Umm… gimana kalau kita praktikin apa yang ada di buku? Aku emang gak terlalu mahir, tapi aku kenal orang yang jago… mau?&#8221;</p>



<p>Mendapat tawaran dari Ryan, seketika Hagia bangkit dari posisi murungnya dan berkata</p>



<p>&#8220;MAU!&#8221;</p>



<p>&#8220;Shhtt!&#8221; timpal kembali orang-orang dengan tatapan tajam kearah mereka berdua. Ryan dan Hagia hanya bisa tersenyum paksa dan berbisik maaf pada mereka.</p>



<p>.</p>



<p>Mereka berduapun berjalan kearah taman, di sana Ryan dan Hagia akan bertemu dengan seseorang yang akan mengajari mereka bagaimana cara membentuk sihir listrik.</p>



<p>&#8220;Umm.. Hagia, kamu liatin apaan?&#8221; tanya Ryan melihat Hagia yang melempar pandangannya kesana kemari.</p>



<p>&#8220;Cuma ngeliatin sepenjang jalan ke taman ini, udah lama aku gak ke taman…&#8221; jawab Hagia melempar pandangannya pada Ryan.</p>



<p>&#8220;Ohh… kamu pasti sibuk ya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, soalnya aku tinggal di panti, gak terlalu banyak waktu luang selain ke perpus…&#8221;</p>



<p>Mendengar jawaban yang terlontar dari gadis di sebelahnya, fikiran Ryan tertegun…</p>



<p><em>Dia…</em></p>



<p><em>Yatim piatu…</em></p>



<p>&#8220;Umm.. Hagia, kamu…&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, aku yatim piatu..&#8221; timpal Hagia memotong pertanyaan Ryan.</p>



<p>Mendengar langsung jawaban yang sudah ia kira dari sumbernya, membuat Ryan menyesal mengungkit hal yang kelam bagi gadis disampingnya. Iapun meminta maaf, &#8220;Maaf ya Hagia, aku gak bermaksud ngungkit… hal itu.&#8221;</p>



<p>Yang diajak bicara tidak langsung merespon, sedikit membuat Ryan merasa makin bersalah.</p>



<p>&#8220;Hagia?&#8221;</p>



<p>&#8220;Sudah, gak usah difikirkan, aku gak keberatan kok.&#8221; Balas Hagia memberi tanggapan sambil tetap memperhatikan sekitar. Namun Ryan justru makin khawatir, ia merasa jawaban yang diberikan padanya hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya Hagia rasakan.</p>



<p>&#8220;Hagia!&#8221; seru sekali lagi menyebut namanya, yang dipanggil kini melemparkan perhatiannya pada lelaki disebelahnya, setelah sedari tadi bicara tanpa menatap lawan bicara.</p>



<p>&#8220;A-aku juga kehilangan ibuku, dia pergi karena sakit, dan aku gak bisa berbuat apa-apa saat itu, jadi, aku pengen kamu gak merasa sendiri. Di sini juga ada orang yang mengalami penderitaan yang sama…&#8221; sambung Ryan menyelesaikan kalimatnya. Setelah itu, Hagia dan Ryan berdiri berhadapan, Hagia tak menimpali dengan perkataan lainnya setelah Ryan bicara seperti itu.</p>



<p>Beberapa detik kemudian, Ryan tersadar…</p>



<p><em>Ke-kenapa tau-tau gue ngomong kaya gitu sama dia?</em></p>



<p>Ia masih melihat gadis dihadapannya menatap kearahnya. Membuat Ryan tak tau harus berbuat apa.</p>



<p>Kemudian, sepatah kata membuyarkan pikirannya…</p>



<p>&#8220;.. Siapa?&#8221; tanya Hagia singkat.</p>



<p>&#8220;Te-tentu aja aku, siapa lagi yang ada di sini selain aku..&#8221; jawab Ryan sedikit ragu.</p>



<p>&#8220;Yang nanya… hehehe…&#8221; sambung Hagia dengan tertawa geli, iapun berjalan mendahului Ryan.</p>



<p><strong>. . .</strong></p>



<p>Ryan masih belum bisa mengolah apa yang sebenarnya Hagia sampaikan, dia bingung. Seperti ada gagak yang berkoak di sore hari di dalam kepalanya…</p>



<p>Kemudian ia sadar, dia dipermainkan. Rasa malupun timbul, muka memerah karena apa yang ia ucapkan sebelumnya sebenarnya betul-betul serius, namun malah dikerjai.</p>



<p>&#8220;Hei! Gak sopan! Aku serius itu! Hei! Hagia.&#8221; seru Ryan pada gadis yang jaraknya sudah cukup jauh di depannya, iapun berlari menyusul gadis bersurai lavender sambil terus memanggil namanya.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Di sinikan janjian ketemuannya?&#8221; tanya Hagia pada Ryan, Ryan pun mengangguk.</p>



<p>Ryan memandangi tiap saung yang berada di taman dan memperhatikan orang yang berada di dalamnya. Iapun tertuju pada seorang lelaki bersurai biru navy yang sedang asik membaca buku di genggaman tangan.</p>



<p>&#8220;Itu dia.&#8221; Seru Ryan sambil berjalan mendekati orang tersebut.</p>



<p>&#8220;Hei Setsu, udah lama nungguin?&#8221; tanya Ryan pada lelaki bernama Kasetsu. Kasetsu melempar pandangannya dari buku yang ia baca ke Ryan, lalu menjawab</p>



<p>&#8220;Gak terlalu…&#8221;</p>



<p>&#8220;Oh bagus deh, kenalin, ini Hagia, dia yang pengen belajar ngolah sihir wujud listrik.&#8221; Seru Ryan sambil tangannya mengarah ke Hagia, memperkenalkan dirinya.</p>



<p>Hagia pun tersenyum, kemudian ia menggerakkan tangannya bermaksud mengajak berjabat.</p>



<p>Lain dengan Kasetsu, ia justru tampak mengemas barang yang ia bawa, lalu berjalan menjauh, meninggalkan Ryan dan Hagia.</p>



<p>&#8220;Eh? Lu mau kemana?&#8221; ujar Ryan mencegah Kasetsu pergi dengan menahan kerah bajunya dari belakang.</p>



<p>&#8220;Ekhh! Lepasin-lepasin…ekh!&#8221; ronta Kasetsu, namun apa boleh buat, Ryan lebih tinggi dari Setsu sehingga Setsu sulit untuk melepaskan genggaman Ryan.</p>



<p>Ryan pun melepaskan Setsu saat dirasa Setsu sudah bisa diajak bicara.</p>



<p>&#8220;Lu kenapa malah ngindar begitu kita dateng? Bukannya elu nungguin kita dari tadi?&#8221; tanya Ryan, namun yang terdengar dari Setsu adalah suara terengah-engahnya.</p>



<p>&#8220;Jawab Aqblerry!&#8221; ujar Ryan sedikit keras, sontak membuat Setsu dan Hagia sedikit kaget, Setsupun berhenti mengelus-elus lehernya.</p>



<p>&#8220;Umm… i-itu karena..&#8221;</p>



<p>&#8220;Karena?&#8221; Ryan mengikuti perkataan Setsu yang terhenti…</p>



<p>&#8220;Dia.&#8221; Sambung Setsu menunjuk Hagia.</p>



<p>&#8220;Aku?&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia?&#8221;</p>



<p>Ryan dan Hagia saling tatap, terpancar keheranan dari mata mereka, lalu mereka berdua kembali menatap Setsu.</p>



<p>&#8220;Kenapa dengan Hagia? Sampai-sampai lu gak jadi ngajarin kita? Lu ada masalah sama dia?&#8221; tanya Ryan seakan mengintrogasi Bellatean berambut biru navy tersebut.</p>



<p>&#8220;Ma-masalah… itu karena-di-dia…&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia perempuan&#8221;</p>



<p>Ryan dan Hagia sekali lagi dibuat saling menatap, Ryan tidak percaya apa yang barusan ia dengar sampai-sampai ia memasukkan jari kelingking ke telinganya, memastikan tidak ada benda yang membuat ia salah dengar.</p>



<p>&#8220;Umm? Perempuan?&#8221; ujar Ryan mengulang, Setsupun mengangguk tak bersuara.</p>



<p>&#8220;Ugh… bukannya emak lu juga perempuan? Terus kenapa lu mesti masalahin Hagia cuma karena dia perempuan?&#8221; ucap Ryan sambil ber-facepalm</p>



<p>&#8220;i-itu beda! Itu karena gue… gynophobia…&#8221; timpal Setsu diakhiri dengan berbisik pada Ryan.</p>



<p>&#8220;Lu takut sama perempua-&#8220;</p>



<p>&#8220;Shhtt!&#8221; potong Setsu dengan menggerakkan jari telunjuknya ke depan bibir Ryan.</p>



<p>Ryan pun memutuskan untuk duduk disebelah Hagia yang sudah lebih dulu duduk. Ia berpikir, bagaimana bisa ia menjumpai makhluk yang jelas-jelas akan menikahi lawan jenis dan ia takut akan itu. pasti Setsu akan lari saat menghadapi wanita-wanita Corite.</p>



<p>Ia palingkan pandangannya pada Setsu yang ia suruh duduk disebelah kanannya, kemudian ia berpaling kesebelah kiri, menatap Hagia. Lalu kembali ber-facepalm sambil berfikir</p>



<p><em>Bakalan berat nih… huft…</em></p>



<p>&#8220;Denger Setsu, gue jamin gynophobia lu itu pasti belum parah, mudah-mudahan masih ada ditingkat rendah. Kalau bisa gue tebak, apa yang lurasain saat ini cuma baru sekedar malu, gak pede, deg-degan dan gak nyaman, apa gue bener?&#8221;</p>



<p>Yang diajak bicarapun hanya mengangguk.</p>



<p>&#8220;Nah, semua penyakit ada obatnya, dan cara lu menghilangkan gynophobia adalah dengan membiasakan diri.&#8221;</p>



<p>&#8220;Tapi gue gak bisa!&#8221; timpal langsung Kasetsu pada Ryan.</p>



<p>&#8220;Dicoba dulu, kita gak tau kalo lu gak nyoba. Jadi gimana? lu mau ngajarin gue dan Hagia sebagai media pembiasaan diri lu?&#8221; tawar Ryan. Butuh waktu beberapa detik sampai Kasetsu menetapkan pilihannya, ia setuju. Namun dengan syarat, Hagia jangan menatap matanya secara langsung.</p>



<p>Latihanpun dimulai, masing-masing mempersiapkan tongkat untuk perantara tenaga force, kemudian Kasetsu berkata.</p>



<p>&#8220;Be-begini, gue yakin kalian dah pada tau teori pembentukan listrik gimana, tapi dikendala praktiknya adalah, gimana kalian bisa menciptakan dua sifat udara yang berbeda dalam satu lingkungan sesuai teori ; udara panas dan dingin?&#8221;</p>



<p>Ryan dan Hagia pun menyimak dengan seksama, Ryan di depan Kasetsu, sedangkan Hagia di belakangnya.</p>



<p>&#8220;Caranya mudah, kuncinya ada di dalam diri kita sendiri&#8221;</p>



<p>&#8220;Diri sendiri?&#8221; ujar Ryan dan Hagia bersamaan.</p>



<p>&#8220;Iya, kalau berada dalam suasana yang udaranya cenderung panas, kau tinggal menghembuskan nafas &#8216;fuuu…&#8217; lalu kendalikan laju udara yang berasal dari mulut menuju udara hangat yang sebelumnya kau kumpulkan di ujung tongkat, buat mereka bergesek… dan terciptalah &#8216;Energy ball&#8217;.&#8221; Jelas Kasetsu sembari mempraktikannya. Kini nampak bola energy listrik di ujung tongkat yang Kasetsu genggam.</p>



<p>&#8220;Nah, sekarang kalian cobalah. Ini cara mudahnya. Bila dalam suasana dingin, tinggal lakukan tiupan &#8216;Haahh..&#8217; untuk membuat udara hangatnya…&#8221;</p>



<p>Ryan dan Hagia pun berkonsentrasi pada tongkat yang mereka genggam, &#8216;fuuu…&#8217;</p>



<p>Kemudian tangan mereka bergerak seperti membuat bola udara diatas tongkat…</p>



<p>Bzzz… btzzz… btzztz…</p>



<p>&#8220;Aha, gue bisa!&#8221; seru Ryan bangga, Setsupun mendekat untuk melihat hasil kerja Ryan. &#8220;Gue bisa kan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Bagus, energynya tercipta membentuk bola, sekarang lepaskan.&#8221; Ujar Kasetsu, Ryan pun mengayunkan tongkat yang ia genggam, dan bola energy yang tercipta lepas melaju ke depan sampai akhirnya menabrak pohon dan menimbulkan ledakan listrik pada kulit pohon.</p>



<p>Ryan pun tertawa senang karena dapat menguasai teknik listrik dengan cepat, ia kemudian melihat kearah Hagia.</p>



<p>&#8220;Ughh… gagal lagi, coba sekali lagi… &#8216;fuuuu…&#8217;.&#8221;</p>



<p>Hagia kembali menyoba, namun yang dapat Ryan amati adalah, saat Hagia mencoba mengumpulkan udara yang berbeda sifat, udara itu langsung membentuk kilatan listrik dan pecah, tanpa bisa membentuk bola.</p>



<p>&#8220;Ayo sekali lagi Hagia, jangan nyerah…&#8221; ujar Ryan dari sisi berbeda, Hagia pun memalingkan wajah pada sumber suara, tersenyum, kemudian kembali fokus pada tongkat sihirnya.</p>



<p>&#8220;Setsu, kira-kira apa penyebab gagalnya praktik ini?&#8221; tanya Ryan pada kasetsu yang berada di sebelahnya.</p>



<p>&#8220;Umm… mungkin komposisi udara panas dan dingin yang gak seimbang…&#8221;</p>



<p>&#8220;Komposisi, oke…&#8221; Ryan pun langsung berjalan menghampiri Hagia, meninggalkan Kasetsu yang belum selesai menjelaskan.</p>



<p>&#8220;Oiii! Gue belum selesai, fikiran dan emosi juga ngaruhh…&#8221; seru Kasetsu melanjutkan.</p>



<p>Didekatinya Hagia yang masih belum berhasil membuat energy ball, lalu memberitau apa yang kurang dari proses yang Hagia jalani.</p>



<p>Hagia pun mencobanya sekali lagi</p>



<p>&#8216;fuuu…&#8217;</p>



<p>Ia gerakkan tangannya membentuk gesekan udara…</p>



<p>Namun lagi-lagi gagal, energy itu langsung pecah…</p>



<p>&#8220;Mungkin komposisi udara dinginnya masih kurang, umm.. gimana kalau aku bantu?&#8221; tawar Ryan sambil memandangi serius kearah ujung tongkat sihir yang Hagia genggam.</p>



<p>&#8220;Bantu?&#8221;</p>



<p>Ryan pun menurunkan pandangannya, menatap wajah polos yang bertanya-tanya menatap wajahnya.</p>



<p>&#8220;E-ehh.. maksudku-&#8220;</p>



<p>&#8220;Boleh.&#8221; Potong Hagia menghentikan suara keraguan dari lisan milik Ryan.</p>



<p>Ryan pun sedikit ragu, namun tidak akan tau kalau tidak dicoba.</p>



<p>&#8216;fuuu…&#8217;</p>



<p>Ryan dan Hagia bersama-sama meniup udara pada tongkat yang diletakkan di hadapan mereka. Di tengah meniup, Ryan mencoba melirik ke bawah, menatap wajah Hagia yang tengah serius meniup. Entah mengapa, Hagia yang sedang serius-seriusnya serasa ada yang memperhatikan, iapun menggerakkan mata violetnya melirik pada orang di sebelahnya.</p>



<p>Mata merekapun saling bertatapan, sebelum akhirnya mereka langsung kembali melempar pandangan mereka ke depan.</p>



<p>Bzztt… Bzzztttt… Btzzztzzzz….</p>



<p>Untuk pertama kalinya, Hagia berhasil membentuk energy ball, bentuknya lebih besar dibanding yang diperagakan Ryan maupun Kasetsu sebelumnya, membuat mereka menatap tak percaya.</p>



<p>&#8220;Sekarang lepaskan!&#8221; seru Kasetsu, Hagia pun mengayunkan tongkatnya, namun bukan ke depan, melainkan ke atas. Bola energy yang besar membuat pengunjung taman yang lain tersita perhatiannya. Bola energy itu terus meluncur ke atas, sampai batas waktunya dan…</p>



<p>BAAATTZZZZZ…</p>



<p>Bola energy itu meledak, melepaskan energy yang sebelumnya terkonsentrasi. Dampak ledakannya membuat orang-orang diluar taman mendongak ke atas, memperhatikan langit yang sekejap berubah warnanya sedikit keabu-abuan dan perlahan berangsur normal, kembali menjadi biru cerah. Dedaunanpun berguguran akibat gelombang ledakan yang ditimbulkan…</p>



<p>Ryan dan yang lainnya menyudahi posisi berjongkok dengan tangan di atas kepala mereka, Ryan kini yakin, Hagia benar-benar seorang spiritualis yang handal.</p>



<p>*Pip-pip…</p>



<p>Bunyi chronometer menunjukkan pergantian waktu tiap satu jam, dan sekarang pukul 12 tepat, seseorang harus segera kembali.</p>



<p>&#8220;Umm… Hagia, sekarang waktunya kamu pulang kan?&#8221; ujar Ryan mengingatkan, Hagia mengangguk, kemudian ia berjalan kearah Kasetsu.</p>



<p>&#8220;Kasetsu, terimakasih ya… atas semuanya.&#8221; Ujarnya diikuti senyum manis, Kasetsu yang sedang tak waspada tak bisa menghindar lebih awal, namun saat ia memutuskan untuk lari, dari belakang Ryan memegang kedua bahunya. Memaksanya untuk menghadapi apa yang ia harus hadapi.</p>



<p>&#8220;Mau sampai kapan lu menghindar terus, ini langkah pertama lu Setsu. Ujar Ryan masih tetap memegang kedua bahu lelaki berambut biru navy.</p>



<p>Hagia pun menjulurkan tangannya, dan Ryan memaksa Kasetsu untuk meraih tangan Hagia, berjabat tangan.</p>



<p>&#8220;Nama ku Hagia Henrietta, salam kenal Kasetsu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Na-nama ku, Kasetsu A-aqblerry…&#8221; sahutnya dengan tangan gemetaran, kemudian segera melepaskan genggamannya.</p>



<p>&#8220;Haha.. gitu dong, lu harus biasain. Emang lu mau nikah sama laki?&#8221; timpal Ryan setelah kedua teman dihadapannya telah berkenalan secara resmi.</p>



<p>Hagia pun pamit untuk pulang lebih dulu, sebelum Ryan juga pergi, ia berkata pada Kasetsu</p>



<p>&#8220;Lu gak phobia, lu cuma Shy-trovert. Gak jauh beda sama gue yang menjurus ke sinis. Banyaklah berteman, lu bakal berubah karena mereka… itu.&#8221;</p>



<p>Setelah mengatakan apa yang perlu untuk dikatakan pada Kasetsu, Ryan pergi, berjalan menyusul Hagia.</p>



<p>.</p>



<p>Kemudian, Ryan bertanya pada Hagia apakah esok hari mereka akan kembali bertemu. Hagia pun menoleh, kemudian menjawab dengan senyum</p>



<p>&#8220;Tentu saja…&#8221;</p>



<p>/</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ryan… Ryan!&#8221; seru seseorang memanggil namanya, Ryan pun tersadar, ia ternyata telah bernostalgia sampai tertidur, kini ia menyingkirkan sehelai daun yang gugur tepat menutup wajahnya.</p>



<p>Sorotan matahari pukul sembilan membuat kedua matanya harus menyesuaikan kondisi, kemudian, ia dapati sosok lelaki bersurai hitam tengah berdiri dihadapannya.</p>



<p>&#8220;Lu ngapa tidur di sini? Jadi gak?&#8221; suara lelaki itu kembali bicara padanya. Tidak langsung menjawab, Ryan mencoba mencari sesuatu di tanah, kemudian ia mendapati sebuah ranting dengan panjang sehasta, ia ambil ranting itu, kemudian ia…</p>



<p>Bletak!</p>



<p>&#8220;Adowww!…&#8221; mengadu ranting itu dengan kepala Dzofi. Dzofi tampak kesakitan mendapat serangan tak terduga.</p>



<p>&#8220;Lu kok… kenapa mukul… aduuhh…&#8221; rintih Dzofi masih mengelus-elus letak dipukulnya ranting itu.</p>



<p>&#8220;Itu satu pukulan karena gue harus nunggu elu satu jam. Faham!&#8221; jelas Ryan, kemudian ia bangkit dari posisinya dan membersihkan tubuhnya.</p>



<p>&#8220;Lu jadi ajak dia?&#8221; sambung Ryan bertanya pada rekannya yang tengah kesakitan.</p>



<p>&#8220;Jadi. Dan gak akan gue lakukan kalau seandainya lu bukan temen gue…&#8221; jawab Dzofi.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>/</p>



<p><strong>Seminggu yang lalu…</strong></p>



<p>&#8220;Eh? &#8216;Cara memperkuat hubungan baru&#8217; ?&#8221; seru Dzofi membaca judul buku yang tengah Ryan baca dengan jelas. &#8220;Lu masih waras kan? Tumben lu mbaca buku macem itu…&#8221; ledek Dzofi sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi Ryan.</p>



<p>&#8220;Hush, pergi lu kalo gak bisa beri solusi.&#8221; Ujar Ryan ketus sambil mengusir tangan Dzofi dari kepalanya.</p>



<p>&#8220;Oh, iya-ya, gue masih gak percaya orang kaya lu bisa punya pacar. Jadi gimana hubungan lu? Udah mulai gak berasa?&#8221; timpal Dzofi kembali meledek, namun kini tak sepatah katapun keluar dari lisan sahabatnya itu. Sepertinya tebakan Dzofi benar.</p>



<p>Huhh…</p>



<p>&#8220;Fi, tolong bantu gue…&#8221;</p>



<p>Ujar Ryan setelah sekian lama diam tak bergeming, mandapat permintaan tolong dari sahabatnya, Dzofi jadi bingung.. itu karena dia sendiri tak tau mesti membantu apa mengenai masalah percintaan yang dia sendiri belum pernah berpacaran.</p>



<p>&#8220;Gu-gue?&#8221; ujar Dzofi sambil menunjuk dirinya sendiri tak percaya, &#8220;Bisa bantu apa gue?&#8221;</p>



<p>&#8220;Tolong cari solusi, gue gak tau mesti nanya ini kesiapa lagi, Adan? Dia pasti jauh gak percaya melebihi elu kalo gue dah punya pacar.. pliss…&#8221;</p>



<p>Mendapati ekspresi jarang dari Ryan yang langka ini, Dzofi sedikit kaget, biasanya Ryan adalah orang yang jarang membuka kata kecuali itu sangat perlu. Dan kini ia nampak frustasi akan keadaannya, juga hubungannya denga seseorang di sana…</p>



<p>&#8220;Umm.. oke-oke, lu gak usah berekspresi kaya gitu, gue gak biasa ngeliatnya… biasain dulu tuh muka…&#8221; pinta Dzofi terlebih dahulu, dirasa keadaan sudah konduksif, ia meminta Ryan menjelaskan masalahnya.</p>



<p>&#8220;Jadi begini, seperti tempo hari yang udah gue bilang ke elu, kalau gue udah pacaran sekitar tiga bulan, tapi apa lu inget, gue pernah bilang ke elu kalau gue merasa… ung.. macem gak nyaman atau sejenisnya dengan orang yang gue anggap deket?&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, gue inget lu pernah ngeluh macem itu pas kita lagi di Lode Falls.&#8221;</p>



<p>&#8220;Yang jadi pikiran gue itu.. gue kepikiran dia, dalam arti gue mikirin apa yang mungkin dia pikirin, ngerti?&#8221;</p>



<p>&#8220;lanjut.&#8221; Timpal Dzofi ingin mendengarkan kelanjutan penjabaran..</p>



<p>&#8220;Gue akui gue bukan orang yang romantic, hubungan gue dengan dia gue rasa cukup seperti kehidupan sehari-hari dimana kita habisin waktu dengan wajar.. nah, karena kenyamanan gue yang ada dizona statis itulah gue kepikiran.. apakah dia menikmati apa yang gue nikmati… begitu…&#8221;</p>



<p>&#8220;Suatu saat dia gue tanya saat kita berduaan, apakah dia bosen atau enggak.. tapi dia jawab sambil senyum</p>



<p>&#8216;Enggak kok, aku seneng…&#8217;</p>



<p>Gue yakin dia gak jujur, jadi setiap ada kesempatan dan gue tanyain, dia selalu jawab dengan perkataan yang sama…&#8221;</p>



<p>Dzofi pun merenung mencoba menyerap semua perkataan Ryan, 60 detik kemudian dia mengataka sesuatu</p>



<p>&#8220;Lu bilang lu sering menghabiskan waktu bersama, kalo boleh tau kemana aja waktu yang luhabisin berdua?&#8221;</p>



<p>&#8220;Perpustakaan…&#8221;</p>



<p>&#8220;Pe.. perpus?&#8221;</p>



<p>Satu jawaban membuat Dzofi keheranan, bukan, bukan heran melihat Ryan yang memang sudah biasa &#8216;memakan&#8217; buku, namun kini ia sudah berpasangan, dan membawa pasangannya ke perpustakaan..</p>



<p>Dan bagaimana si wanita bisa tahan dengan si kutu buku ini?</p>



<p>&#8220;Lu bener-bener gak romantic tau gak! Masa lu tiga bulan pacaran ngajaknya ke perpus.&#8221;</p>



<p>&#8220;Karena emang dianya juga suka ke perpus kok.&#8221; Tanggap Ryan membela diri.</p>



<p>&#8220;Oke, jadi ada sepasang kutu buku, ah enggak, kutu perpustakaan yang saling cinta… hemm… selain perpus, lu ajak dia kemana? Ngapain?&#8221;</p>



<p>&#8220;Umm..&#8221; Ryan seperti mengingat-ingat sesuatu… layaknya menggali ingatan yang telah lampau. Beberapa saat kemudian ia angkat bicara</p>



<p>&#8220;Ke taman.&#8221; Ujarnya setelah berhasil mengingat perjumpaan kedua, saat ia berlatih force listrik.</p>



<p>Dzofi seketika menempelkan telapak tangannya kearah muka, menutupi kedua matanya sambil bergumam &#8216;Ya ampun&#8217;</p>



<p>&#8220;Denger ya, gue gak tau dia kena penyakit mata apa sampai mau jadian sama lu Yan, tapi kalau boleh memposisikan diri gue sebagai dia, gue pasti dah ngeblok semua kontak milik lu setelah dua- ah enggak, seminggu setelah kenal sama lu.</p>



<p>Ayolah, lu dah pernah ngajak dia nonton?&#8221;</p>



<p>&#8220;Belum&#8221; jawab Ryan sambil menggeleng.</p>



<p>&#8220;Makan?&#8221;</p>



<p>Ryan kembali menggeleng.</p>



<p>&#8220;Nge-game?&#8221;</p>



<p>&#8220;Piknik?&#8221;</p>



<p>&#8220;Melihat matahari terbenam berdua?&#8221;</p>



<p>Geleng, geleng, geleng…</p>



<p>&#8220;Demi Sang Panutan… huh… entah apa yang mesti gue katakan ke elu Yan, yang jelas lu kudu buat diri lu dan dia pergi melakukan aktifitas diluar kebiasaan selain mbaca buku, entah ke Solus, Sette, atau Ether.. terserah, pokoknya lu pergi…&#8221; ujar Dzofi frustasi ditengah memberi solusi.</p>



<p>Ryan pun nampak memasukkan tangan ke inventori di belakang punggungnya, kemudian menyerahkan secarik kertas setelah merogoh-rogoh selama beberapa saat.</p>



<p>&#8220;Ini…&#8221; ujar Ryan singkat.</p>



<p>&#8220;Eh? Festival Awal Musim Panas?&#8221; ujar Dzofi membaca jelas tulisan besar yang terpampang pada kertas tersebut &#8220;Wah, boleh tuh, lu kesana sama dia gih..&#8221; lanjut Dzofi mulai antusias. Namun Ryan masih tampak murung, membuat Dzofi menampilkan gesture penasaran.</p>



<p>&#8220;Ada apa lagi Yan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Umm… gue kalo ketemu do&#8217;i walau bagaimanapun pasti dibarengi maksud belajar, jadi ketemuanpun ibaratnya punya dua niat. Namun yang satu ini bakal&nbsp;<em>pure</em>&nbsp;cuma buat ngabisin waktu berdua layaknya sepasang kekasih..&#8221;</p>



<p>&#8220;Gue malu Fi…&#8221;</p>



<p>Sambung Ryan dengan muka memerah, membuat Dzofi untuk satu dua detik terpaku tak percaya melihat Ryan yang tersipu malu.</p>



<p>&#8220;Jadi gue minta tolong lagi, lu ikut nemenin gue…&#8221;</p>



<p>Mendengar permohonan yang satu ini, membuat Dzofi sontak menolak</p>



<p>&#8220;Gak gak gak, mana bisa acara sakral ada orang ketiga, itu malah gak jelas jadinya, gaje…&#8221;</p>



<p>&#8220;Ayolah Fi, gue bingung mesti ngapain kalo dah sampe sana nanti, di sana gak bakal kaya perpus yang banyak buku…&#8221; Bujuk Ryan memberi alasan.</p>



<p>&#8220;I-iya sih, tapi tetep aja… adanya gue malah bikin… pokoknya anehlah! masa bertiga gitu… ganjil…&#8221;</p>



<p>&#8220;Yaudah lu ajak aja si Sabila, biar genap…&#8221; timpal Ryan menjawab keluhan Dzofi.</p>



<p>&#8220;Gak bisa begitu, lagi pula maksud lu apa gue ngajak Sabila? Gu-gue bukan siapa-siapanya dia..&#8221; ucap Dzofi secara spontan menolak.</p>



<p>&#8220;Ayolah Fi, ajak aja dia sebagai temen, atau Kak Ulfa juga boleh. lu belum pernah fetival &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>Sejenak Dzofi terdiam, lalu berkata &#8220;Masalahnya.. hari itu Kak Ulfa pasti sibuk. Lagi pula dapet untung apa gue?&#8221; tanya Dzofi kini mencoba bernegiosasi.</p>



<p>&#8220;Gue bayarin makanan lu deh..&#8221; jawab Ryan.</p>



<p>&#8220;100%&#8221;</p>



<p>&#8220;1/4 total pengeluaran&#8221;</p>



<p>&#8220;75%&#8221;</p>



<p>&#8220;35%&#8221;</p>



<p>&#8220;50%&#8221;</p>



<p>&#8220;50%!&#8221;</p>



<p>&#8220;Deal ya! Lu nalangin 50% pengeluaran. Yaudah minggu depan gue bantu.&#8221; Ujar Dzofi menutup negosiasi dan membuat kesepakatan setelah beberapakali menyebut nominal persen secara bergantian.</p>



<p><strong>: Beberapa hari kemudian :</strong></p>



<p>Nampak Dzofi sedang sparing dengan seseorang, dilihat dari kejauhan, lawannya adalah seorang gadis, ya, gadis itu berambut putih, dia adalah Sabila.</p>



<p>Dengan penuh gigih, Dzofi berusaha melawan Sabila dengan pisau berwarna biru yang panjangnya lebih dari dua hasta. Sedangkan Sabila dengan lincahnya menghindari tiap serangan yang diberikan Dzofi dan sesekali menembakkan protektil-protektil dari senjata apinya, namun tameng yang berada di sebelah tangan lawannya selalu melindungi layaknya mengetahui di mana letak yang Sabila incar.</p>



<p>ZRASSHH…</p>



<p>DOR! DORR!</p>



<p>TRANGG!</p>



<p>Pertarungan berangsur sengit, tak terbesit dari dua mata mereka &#8216;mengalah&#8217;. Yang ada adalah tatapan jeli memandangi target dan lingkungan sekitar yang memungkinkan tempat bersinggahnya sang target kelak.</p>



<p>Dzofi kembali menyiapkan senjatanya dalam mode siap menyerang.</p>



<p>Satu..</p>



<p>Dua..</p>



<p>Langkah kaki beranjak berlari mendekati Sabila dengan senjata terhunus..</p>



<p>&#8220;HYAAAAA!…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Hah… hah…&#8221;</p>



<p>Dzofi masih tak percaya, kini ia terkapar di tanah, bila saja protektil yang digunakan Sabila bukan untuk sparing, tak bisa dibayangkan dimana ia sekarang berada..</p>



<p>&#8220;Ini.&#8221; Suara wanita membuat nya melirik ke &#8216;atas&#8217;, melihat sosok gadis yang bayangannya muncul dari arah &#8216;atas&#8217; sehingga menutupi cahaya Niger yang menyilaukan. Rupanya gadis itu menawarinya selembar handuk putih untuk membersihkan keringat yang terus bercucuran. Dzofi pun meraih handuk itu dan berkata</p>



<p>&#8220;Terimakasih Sab…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Kamu tau gak Dzofi, di sebelah selatan markas, tepatnya daerah Rear Garden ada semacam pembangunan gitu, kira-kira bakalan ada apa ya?&#8221; tanya Sabila pada Dzofi yang tengah minum, Dzofi pun sempat tersedak sepersekian detik, ia langsung ingat janjinya pada Ryan.</p>



<p>&#8220;Ehemm.. Oh ya Sab, kamu minggu kosong gak?&#8221; tanya Dzofi sembari menutup botol minumnya.</p>



<p>&#8220;Tentu, tapi kenapa tiba-tiba nanyain itu?&#8221; sepasang biru langit kini memandang dalam pada lelaki di hadapannya. Dzofi pun menjadi gugup untuk berkontak langsung matanya dengan mata gadis itu..</p>



<p>&#8220;I.. engg.. itu karena aku mau ngajak kamu ke festival awal musim panas, yang diadain hari minggu besok, tempatnya di Rare Garden itu…&#8221; ujar Dzofi mengajak Sabila dengan mata yang tak bisa terus memandang sepasang biru langit yang tengah menatapnya. Mukanyapun memerah.</p>



<p>Sontak perubahan juga terjadi pada gadis yang ia ajak bicara, iris birunya melebar, pipinya juga merona karena tersipu, ia tak percaya Dzofi yang tengah berdiri dihadapannya mengajaknya…</p>



<p>&#8220;ken-can&#8221;</p>



<p>Ujar Sabila pelan namun terdengar jelas. Dzofi yang mendengar sontak menoleh cepat kearah Sabila dan mendapati ekspresi imut Sabila. Iapun&nbsp;<em>Blushing</em></p>



<p>&#8220;Ke-kencan? Bu-bukan itu maksud ku Sab, aku ngajak kamu ke festival karena ini pertama kalinya buat aku ikut acara begini di Novus.. a-aku juga ngajak yang lain kok…&#8221; jelas Dzofi terbata-bata.</p>



<p>&#8220;Jadi gimana? kamu mau ikut?&#8221;</p>



<p>Yang diajak bicara tak menunjukkan ekspresi selain tersenyum, lalu mengangguk seraya berkata</p>



<p>&#8220;Ya! Tentu saja.&#8221;</p>



<p>&#8220;Okelah kalau begitu, kumpulnya di tangga pintu masuk markas ya. Aku pergi dulu, bye..&#8221;</p>



<p>Dzofi pun pergi meningalkan gadis berambut putih seorang diri, sedangkan gadis yang ditinggal tampak senyum yang terbentuk di pipi berlesungnya tak juga sirna, seakan gadis itu masih merasakan momen-momen membahagiakan, membayangkan hari yang dijanjikan…</p>



<p>/</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><em> &#8220;Kau akan terlihat lebih segar bila kau melepas kacamata mu.&#8221;<br>-Hagia Henrietta- Ch. 16 </em></td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 21 END.</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 22:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-22/</a><br>Previous Chapter > Read Chapter 20:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br><strong>JFI WIKI/Trivia :</strong><br>Nama : Hagia Henrietta<br>Umur : 19 tahun<br>Base class : Spiritualis<br>Pangkat : &#8211;<br>Penjabaran : dia adalah karakter dengan pemikiran polos sebenernya, namun sesekali juga bercanda. Kepolosannya juga terpancar dari tatapan matanya, sering saat berdua dengan Ryan, saat Ryan bicara menyinggung hal serius, Hagia malah menanggapi biasa saja. Jadi hal yang dirasakan dalam momen-momen tertentu antara Ryan dan Hagia bisa saja berbeda (180o) namun jelas punya kadar kepekaan juga (makhluk sosial)… gak kaya batu yang kalo lu rayu, terus dia diem aja.<br>Penampilan : mata ungu juga rambutnya yang panjang</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 21 &#8211; INVOLUNTARY TO CERTAINLY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 20 &#8211; DECIDE &#038; DEAL</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 09:49:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1717</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Petir adalah bagian dari elemen angin, bisa dikatakan merupakan...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 20 &#8211; DECIDE &#038; DEAL</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p><strong>Decide and Deal</strong></p>



<p><strong>.</strong></p>



<p>Ditengah kesiagaan Ulfa menghadapi kemungkinan terburuk, sosok itu menyibakkan tudung yang menghalangi pandangan Ulfa dari melihat wajahnya.</p>



<p>&#8220;D-Dzofi?&#8221; ucap gadis itu heran &#8220;Apa yang kamu lakukan ditengah malam seperti ini?&#8221; ujarnya pada sepupu laki-lakinya.</p>



<p>Dengan sedikit menggigil, surai hitam menjawab…</p>



<p>&#8220;A-aku… ingin ngasih hadiah pertama ini buat Kak Ulfa…&#8221; ucapnya sambil menyerahkan kotak seukuran telapak tangan yang berikatkan peta merah, sedikit kusut dibagian sampulnya.</p>



<p>Pandangan Ulfa berubah, yang semula siaga menjadi lebih lembut secara perlahan. Iapun menggerakkan tangannya untuk meraih pemberian sepupunya itu.</p>



<p>Set-</p>



<p>&#8220;Jangan Dibuka!&#8221; seru reflex Dzofi menghentikan laju tangannya. &#8220;Dibukanya nanti aja. Pas hari ulang taun, maksudku nanti pas aku dah gak ada.&#8221; sambung Dzofi dengan muka sedikit kemerahan.</p>



<p>Ulfapun menatap geli kearah sepupunya saat mendapati reaksinya yang mengejutkan, iapun sedikit tertawa</p>



<p>&#8220;Kenapa?&#8221; seru Dzofi heran melihat reaksi sepupu perempuan itu.</p>



<p>&#8220;Hihi… Makasih Dzofi.. tambah gede tambah lucu ya kamu…&#8221; ucap Ulfa geli.</p>



<p>*Blush*</p>



<p>Suara rintik hujan masih menyelimuti kedua insan yang tengah berjumpa diambang pintu. Angin dinginpun sesekali berhembus menggoda mereka.</p>



<p>&#8220;U-udah ya Kak…&#8221; Seru Dzofi memecah keheningan malam. Iapun beranjak melangkah pergi.</p>



<p>&#8220;Kamu mau kemana?&#8221; cegah Ulfa dengan pertanyaannya.</p>



<p>&#8220;Aku mau balik ke meshku.&#8221;</p>



<p>&#8220;Diluar masih hujan.&#8221; Ujarnya mengkhawatirkan keadaan lelaki dihadapannya.</p>



<p>&#8220;Gak apa, besokkan-&#8221; belum selesai Dzofi menyelesaikan kalimatnya, Ulfa memotong</p>



<p>&#8220;Nanti kamu…&#8221;</p>



<p>Greb!</p>



<p>&#8220;Demam…&#8221; lanjutnya setelah berhasil menggenggam pergelangan tangan Dzofi sebelum pergi.</p>



<p>Terasa hangat seperti yang Ulfa ucap, seperti yang Ulfa khawatirkan. Iapun secara tersirat menatap sepupunya itu dengan tatapan cemas, namun Dzofi tidak mengetahui.</p>



<p>&#8220;Kamu… malam ini tidur disini aja…&#8221; ucap Ulfa, dengan sedikit memalingkan wajah dari lelaki yang ia ajak bicara.</p>



<p>Dzofi tampak ragu, menurutnya bukan masalah menembus malam yang tengah hujan, namun sulit untuk menolak tawaran realistis yang disajikan sepupunya. Karena kondisinya saat ini tidak bisa dibohongi, badannya tengah hangat, ia demam.</p>



<p>Gemuruh langit menandakan akan semakin banyak dan intensnya air yang akan turun dari atmosfer Novus, sewaktu-waktu petir bisa saja menampakkan cahaya kilat dan suara gemuruhnya.</p>



<p>&#8220;Iya Kak… baiklah kalau begitu.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>Ceklek…</p>



<p>Ulfa mengunci pintu, lalu berjalan menuju ke dalam bersama Dzofi yang mengikuti. Ini adalah pertama kalinya Dzofi memasuki mesh sepupu perempuannya. Ia sedikit banyak mengetahui, bahwa seorang laki-laki tidak boleh sembarangan bertingkah seperti layaknya ia bermain ke mesh milik Ryan ataupun Adan.</p>



<p>&#8220;Lepas bajumu, nanti demammu makin parah.&#8221; Ucap Ulfa sambil menawarkan baju tidur yang ia miliki.</p>



<p>&#8220;Aku? pakai itu? Itu &#8216;kan baju cewe.&#8221; Keluh Dzofi mengetahui apa yang harus ia kenakkan.</p>



<p>&#8220;Udah jangan banyak ngeluh. Cepet sana pakai, terus minum obat.&#8221; Seru Ulfa tegas. Dzofipun memasuki kamar tidur Ulfa, kemudian memakai stel pakaian yang disediakan.</p>



<p>Setelahnya, Dzofi menghampiri Ulfa dengan pakaian yang dipinjamkan Ulfa.</p>



<p>&#8220;Hihihi… kamu cocok pakai itu dek.&#8221; Seru Ulfa geli melihat sepupunya memakai piyama garis putih pink. Girlish boy.</p>



<p>&#8220;Geez… jangan ketawa!&#8221; sahut Dzofi sebal.</p>



<p>&#8220;Yaudah, kamu tidur di sini.&#8221; Ujar Ulfa sambil menuntun Dzofi agar berbaring di kasur miliknya. Dzofi tak bisa mengelak, karena dia sendiri merasakan tubuhnya kian panas, mungkin obat yang ia minum belum bereaksi.</p>



<p>Kemudian Ulfapun menyelimuti Dzofi, &#8220;Jangan perlakukan aku kaya anak kecil.&#8221; Ujar Dzofi dingin, merasa tak nyaman diperlakukan demikian. Ulfa kemudian terdiam sejenak, memandangi arah lain.</p>



<p>&#8220;Kamu inget? Dulu kamu sempet difoto pake topi beruang sekaligus meluk boneka teddy juga?&#8221; Ulfa membicarakan memori masa lalu.</p>



<p>&#8220;i-itu! Itu hal yang gak akan aku lupakan. Saat SMP, aku Kalah taruhan dan mau-maunya aku dibodohin Kak Ulfa waktu itu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hehe.. dan kabar baiknya, aku masih nyimpen foto itu.&#8221; Seakan tak peduli bagaiman reaksi sepupunya selanjutnya, Ulfa langsung berdiri dan mematikan lampu. Ulfapun meninggalkan Dzofi dalam kegelapan.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Srekk… srek..</p>



<p>Dzofi sedikitnya tersadar dari tidurnya, seseorang tengah menaiki kasur yang sama, setelahnya orang itu berbaring di belakangnya. Dzofi tau, sosok itu adalah Ulfa, sepupu perempuannya.</p>



<p>Sunyi terisi dalam ruangan gelap nan dingin, suara rerintik air juga masih terdengar, menandakan hujan belum akan berhenti. Yang bisa ia dengar karena kini terjaga adalah suara air, detik, juga nafas.</p>



<p>Nafas</p>



<p>Suara konstan itu, muncul baik dari dirinya sendiri, maupun sosok di belakangnya.</p>



<p>Grep…</p>



<p>Tangan dari belakang menyentuh tubuh bagian samping miliknya. Dzofi terkejut dalam diam, nafasnya perlahan memburu, perlahan.</p>



<p>Detik memainkan orkestanya, ditengah malam yang kian larut.</p>



<p>Suarapun memecah kesunyian setelah beberapa menit yang rasanya lebih lama dari itu. Suara itu tak lantang, melainkan halus…</p>



<p>&#8220;Kamu kebangun &#8216;kan?&#8221; seru gadis dibelakangnya.</p>



<p>Sempat agak lama Dzofi menjawab, sampai ia mengatakan</p>



<p>&#8220;Ya.&#8221;</p>



<p>Suasana kembali sunyi, tak ada perkataan setelahnya. Namun… tangan Ulfa bergerak lebih jauh, bergerak menyentuh dada milik Dzofi, memeluk lelaki dihadapannya dari belakang. Juga merapatkan dada miliknya pada punggung saudaranya.</p>



<p>Dzofi tampak tidak melawan, tidak bereaksi. Namun telapak tangan yang tengah menyentuh dada bisa merasakan, detak yang berkerja lebih keras. Juga sama ia rasakan dari belakang pungungnya.</p>



<p>&#8220;Maafkan aku Dzofi… a-aku…&#8221;</p>



<p>&#8220;aku bingung…&#8221; ujar suara dari belakang punggungnya, pelukan yang ia rasakanpun sedikitnya semakin erat. Dzofi tidak merespon, mencoba membiarkan gadis yang dibelakangnya menyelesaikan perkataannya.</p>



<p>&#8220;Aku tak tau apa yang harus kuperbuat, aku tak bisa mengatakannya… a-aku…&#8221;</p>



<p>&#8220;Takut…&#8221;</p>



<p>Suara isak yang coba ditahan sekuat mungkin serasa menggema, air mulai memberontak dari sudut mata Ulfa, mengalir melewati wajah mulusnya, bersinggah dan berakhir pada bantal tempat ia menyandarkan kepalanya.</p>



<p>ditengah ketidakfahaman Dzofi kenapa sepupunya berkata demikian, ia mencoba sebisa mungkin untuk mengerti (dengan tidak perkata apapun, atau diam)</p>



<p>Ulfapun merapatkan wajah pada tubuh saudaranya, tetes airmatanyapun membekas disana…</p>



<p>&#8220;Setidaknya, kumohon padamu Dzofi… ijinkan malam ini, aku meminjam tubuhmu… walau hanya punggungmu…&#8221;</p>



<p>&#8220;Tentu Kak… tentu…&#8221; kata itu yg setidaknya dirasa tepat untuk menjawab pertanyaan Ulfa.</p>



<p>Pelukan kembali semakin erat, seakan tak merelakan sesuatu pergi, atau tak merelakan kehilangan, atau…</p>



<p>Mengisyaratkan sesuatu yang tak mungkin terucap…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>#</p>



<p>Suara gaduh terdengar layaknya langit memperingatiku bahwa badai besar akan datang, tak lama, bumi tempatku berpijak bergetar hebat..</p>



<p>Grusak-Grusak!</p>



<p>Semacam itu, sampai-sampai, bayangan hitam nan pekat muncul begitu saja, lalu menyelimutiku… dan menyeretku paksa entah kemana.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Geerrr…&#8221; erangku sedikit kesal sambil mengucek-ucek mata. Aku terbangun karena suara yang lumayan ribut dari luar kamar.</p>



<p>Setelah &#8216;nyawa&#8217; kurasa sudah cukup terkumpul, akupun melemparkan pandanganku menuju jam dinding.</p>



<p>&#8220;Jam -:09.11:-, untung aja libur.&#8221; Ujarku bersyukur bisa bangun se&#8217;siang&#8217; ini.</p>



<p>Suara gaduh kembali terdengar dari luar.</p>



<p><em>Kak Ulfa, ngapain dia seribut ini? Kebiasaannya kah?</em></p>



<p>Batinku bertanya-tanya. Akupun hendak melihat apa yang ia lakukan, namun sebelum itu, aku rapihkan kamar miliknya terlebih dahulu.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Kak, ada apa sih dari tadi ribut-ri-…&#8221;</p>



<p>Aku menghentikan ucapanku, aku tertegun, mematung. Menyaksikan tiga &#8216;orang asing&#8217; berada di mesh milik sepupuku.</p>



<p>&#8220;ka-kalian kenapa ada disini?&#8221; &#8220;Dzofi, kamu kenapa ada disini?&#8221;</p>



<p>Seruku dan gadis yang tidak lain adalah Kak Istifa bersamaan. Sedangkan dua orang lainnya, lelaki berambut putih yang tak kukenal namanya dan gadis dengan warna rambut yang sama, yaitu Sabila, menatapku tak percaya.</p>



<p>&#8220;Dzofi, kamu…&#8221; ucap Sabila sambil menutup kedua mulutnya.</p>



<p>&#8220;E… ini… AGHHHH!&#8221; teriakku sambil mengacak-acak rambut, kembali memasuki kamar, dan membanting pintu. Dengan cepat.</p>



<p>BRAKKK!</p>



<p>Ku coba mengatur nafas, memikirkan apa yang akan kujawab pada mereka, secara jelas.</p>



<p>&#8220;<em>Hah.. hah.. oke, begini, gue disini cuma nginep… karena tadi malem hujan, dan badan gue demam, gak diijinin pulang sama Kak Ulfa.&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Pasti nanti ditanyain begini ; emang kenapa malem-malem main kesini… gue jawab&#8230; gak! Gue gak mungkin bilang kalo gue ngasih kado tengah malem, itu aneh, Aneh!&#8221;</em></p>



<p>&#8220;<em>Lagi pula Kak Istifa pasti tau kalau Kak Ulfa kemaren dapet tugas malem, dan pulangnya tengah malem…&#8221;</em></p>



<p>Agghhh…</p>



<p>Aku frustasi sambil kembali mengacak-acak rambutku.</p>



<p>&#8220;<em>tar dulu! Kenapa gak gue aja yang nanya mereka?! Ngapain mereka di dalem mesh Kakak gue? Yaudah gue Tanya mereka&#8221;</em></p>



<p>Setelah &#8216;rapat&#8217; dengan fikiranku, aku kembali keluar kamar.</p>



<p>Ceklek…</p>



<p>&#8220;Dah ketemu alasannya.&#8221; Ucap Kak Istifa dengan nada menelisik sambil membawa beberapa peralatan.</p>



<p>&#8220;Engg… tar dulu! Kalian sendiri kenapa disini? Masuk-masuk rumah orang tanpa izin? Terus dimana Kak Ulfa?&#8221; ucapku kembali bertanya pada mereka dengan nada lebih keras.</p>



<p>&#8220;Si Ulfa lagi nyerahin laporan dari hasil kerja semalem, dan dia ada misi setelahnya sampai nanti sore…&#8221; jawab Kak Istifa.</p>



<p>&#8220;Terus kedatangan kalian kemari?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kami lagi nyiapin acara buat Ulfa, diakan hari ini ulang tahun…&#8221; jawabnya lagi.</p>



<p>&#8220;Kami mau buat kejutan…&#8221; sambung Sabila.</p>



<p>&#8220;Gue yang ngusulin…&#8221; sambung lagi lelaki yang entah namanya siapa dari ruang berbeda.</p>



<p>&#8220;Ohh..&#8221; ucapku setelah mengetahui mereka menerobos masuk ke mesh ini untuk membuat pesta kejutan.</p>



<p>WAIT! MENEROBOS MASUK?!</p>



<p>&#8220;Gimana kalian bis-&#8220;</p>



<p>&#8220;a…&#8221; ucapku menurunkan tekanan nada, lalu terdiam</p>



<p>Kak Istifa memainkan kunci pintu dijemarinya, diputar-putar layaknya baling-baling…</p>



<p>&#8220;Jangan meragukan skill Sniper sepertiku…&#8221; ujarnya sambil meminum air yang ia ambil dari lemari es.</p>



<p><em>Dasar belut…</em></p>



<p>&#8220;Sekarang aku balik nanya, kenapa kamu disini?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ehh… itu…&#8221; ucapku ragu, karena Sabila nampak penasaran menunggu jawaban yang keluar dari mulutku, sedangkan lelaki yang tak kukenal juga ikut memunculkan kepalanya yang berbeda ruang dengan kami bertiga.</p>



<p>&#8220;Itu karenaa… setelah aku keluar dari rumah sakit, aku pulang ke mesh, tapi aku baru ingat kalau kunci meshku kutitipkan Kak Ulfa. Jadi aku kesini, namun aku ujan-ujanan, dan setibanya aku demam, lalu Kak Ulfa memaksaku untuk menginap… begitu, iya begitu.&#8221; jelasku pada mereka semua.</p>



<p>Kurasa semua dapat menerima penjelasanku. Semua, kecuali Kak Istifa yang menatapku tajam, menyipitkan matanya.</p>



<p><em>dia tau apa yg sebenarnya terjadi&#8230;</em></p>



<p>&#8220;Lalu? Kamu tidur-&#8220;</p>



<p>&#8220;Iya Kak, Iya! Gue tidur bareng! Tapi gak ngapa-ngapain sumpah! Layaknya saudara! Bisa kita gak mbahasi ini lagi? Anggep aja gak terjadi apa-apa, Oke?!&#8221; jelasku kembali sambil menggebu-gebu, mengacak-acak rambutku. malas menutupi semua yang sebenarnya Kak Istifa sudah tau. Dasar picik, Ular!</p>



<p>&#8220;Kamu… tidur bareng Ulfa?&#8221; kata itu keluar dari mulutnya.</p>



<p>&#8220;Iya!- eh? Jadi Kakak gak tau?&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak, aku malah tau dari kamu, tadi aku mau nanyain, kamu tidur pake baju kaya gitu?&#8221; ujarnya sambil menunjuk piyama putih garis pink yang masih kupakai.</p>



<p>Syok- aku mematung</p>



<p>…</p>



<p>&#8220;Udah jangan dipikirin, rahasia gak ada yang tertutup secara sempurna…&#8221; ucap lelaki teman dari Kak Istifa sambil memasang spanduk bertuliskan &#8220;Happy B&#8217;Day&#8221;</p>



<p>Tok.. tok.. tok…</p>



<p>&#8220;Dia emang iseng jadi orang, iseng se-federasi.&#8221; Tambahnya sambil memasang paku.</p>



<p>&#8220;Ciee~ yang bobo bareng, dikelonin ya?&#8221; ucap jahil dari ruangan berbeda. Siapa lagi kalau bukan si &#8216;medusa&#8217; itu.</p>



<p>&#8220;Udah napa Is! Ni bocah syok, Bego!&#8221; ujar lelaki itu membelaku.</p>



<p>&#8220;Oh ya, nama lu Dzofi kan? Kenalin, nama gue Virjman, Virjman Valyd. Bisa dipanggil Vir, Man, ato Virjman. Salam kenal…&#8221; kini lelaki berambut putih cepak itu memperkealkan diri.</p>



<p>&#8220;Nama gue Baydzofi Hardji. kok Kak Virjman tau nama gue?&#8221; tanyaku heran, yang kini sudah tidak terlalu syok atas &#8216;pengakuan terlarang&#8217; yang kuucap.</p>



<p>&#8220;Soalnya Ulfa pernah ngomongin elu, Adan juga.&#8221; Jawabnya</p>



<p>&#8220;Adan? Oh iya! Kakak &#8216;kan seniornya Adan. Yang waktu itu bantu dia cari informasi tentang Kakak-kakaknya…&#8221; ujarku mengingat, ternyata sebelumnya Adan telah menyebut namanya*.</p>



<p>&#8220;Begitulah…&#8221; sahutnya tenang.</p>



<p>Setelah itu, Kak Istifa datang kepadaku, lalu menyerahkan beberapa peralatan yang ada di dalam kotak yang ia bawa, ia memerintahku untuk membantu, setelah ia meledekku lagi tentunya.</p>



<p>Akupun menurutinya, dengan membersihkan sisa-sisa potongan kertas, merapihkan meja disusun sedemikian rupa, sampai ia menyuruhku membelikan kue.</p>



<p>&#8220;Dzofi, tolong pesan kue di toko kue Lechia Bakery…&#8221; perintah wanita bermata kuning madu itu.</p>



<p>&#8220;Apa? Aku? Aku &#8216;kan masih pakai pakaian begini, dan gak ada gantinya di rumah ini. Kak Istifa pengen mbuat aku dipermalukan lebih jauh?&#8221; tanggapku memberi alasan &#8220;Lagi pula aku gak tau Lechia Bakery disebelah mana&#8221;</p>



<p>&#8220;Udah jangan banyak alasan, yang lain sibuk, jadi kamu yang pergi keluar…&#8221;</p>



<p>kamipun berdebat, aku menolak, sedangkan Kak Istifa entah, mungkin ini momen yang sangat langka untuk mengerjaiku lebih jauh, ia terus memaksaku. Atas perintah Senior katanya. Namun, akhirnya seseorang menyela kami, seorang wanita lain yang sedari tadi tidak bersuara, yup, itu Sabila.</p>



<p>&#8220;Biar aku aja Kak yang beli.&#8221; Tawar Sabila memadamkan api konflik, dengan mendengus, Kak istifapun setuju</p>



<p>&#8220;Huh… baiklah, ini uangnya, dan ini kertas berisi alamatnya. Suruh mereka kirim tepat pukul tiga sore. Kuenya kau yang pilih ya Sab, pastikan yang terenak, sesuai bajet juga tentunya…&#8221; iapun tertawa.</p>



<p>&#8220;Baiklah. Aku pergi dulu semua…&#8221; ujarnya seraya melangkah pergi.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Dzofi…&#8221; Kak Istifa menyeru namaku.</p>



<p>&#8220;Iya Kak?&#8221; sahutku.</p>



<p>&#8220;Kamu harus patungan 20.000 dalant.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Hari mulai siang, menunjukkan tepat pukul -:12.00:- dan persiapan telah selesai sepenuhnya, kecuali kue yang nanti datang pukul tiga. Aku dan Kak Virjman duduk di depan meja makan menunggu minuman yang Kak Istifa buat.</p>



<p>Bunyi dentingan gelas, saat Kak Istifa meletakkan minuman yang ia buat untuk kami. Akupun meminum sebagai langkah pembuka.</p>



<p>Ahh~ lemon tea, emang minuman paling pas saat hari terik begini…</p>



<p>&#8220;Oh ya Kak, kira-kira siapa aja yang diundang, dan berapa orang?&#8221; tanyaku pada para Senior membuka pertanyaan.</p>



<p>&#8220;Emm…&#8221; Kak Istifa setidaknya sedang berfikir, mengumpulkan nama-nama dibalik&nbsp;<strong>tempurung</strong>&nbsp;kepalanya.</p>



<p>&#8220;Gak sampe puluhan kok, cuma belasan aja. Toh ini bukan acara besar, dan kami-kami sendiri yang buat. Kami ngundang… temen-temen seangkatan yang gak ada misi, dan yang masih idup tentunya.&#8221; Jelasnya enteng.</p>



<p>Akupun sempat bergidik ngeri, gimana dia bisa enteng bicara kaya gitu?</p>



<p>Kak Istifapun melanjutkan, &#8220;Aku, Virjman, Inaki, Sirvat, Hevoy. Dan lain-lain…&#8221;</p>



<p>&#8220;Termasuk Juga Senior yang kita kenal deket.&#8221; timpal Kak Virjman.</p>



<p>&#8220;Iya, Conquest Valkrit juga, semoga sifat marah-marahnya gak dibawa-bawa…&#8221; sambung Kak Istifa.</p>



<p>&#8220;Untung gue gak masuk ranger corp.&#8221; ucap syukur Kak Virjman.</p>



<p>Akupun terdiam sesaat, ada yang masih ingin kutanyakan pada mereka, tentang seseorang..</p>



<p>&#8220;Kak, yang namanya Denny juga diundang?&#8221; ucapku yang seakan menjadi pemecah saat mereka asik membicarakan sesuatu yang tak kuketahui.</p>



<p>&#8220;Eh, iya, emang kenapa?&#8221; Tanya gadis berambut hijau gelap penasaran.</p>



<p>&#8220;Enggak, aku cuma pengen tau aja… emang dia orangnya kaya gimana?&#8221; ucapku ingin tau tentang &#8216;orang itu&#8217;.</p>



<p>&#8220;Dia itu orangnya supel, pandai bergaul, gampang nyenengin orang, juga popular, tapi ya gak kaya di manga atau anime yang sampe jadi idol gitu…&#8221; jelasnya padaku.</p>



<p>&#8220;Profesi dan ciri fisik?&#8221; tanyaku sekali lagi.</p>



<p>Dihadapanku, mereka berdua sempat saling pandang, kemudian kali ini giliran pria berambut putih cepak yang menjawab.</p>



<p>&#8220;Dia warrior &#8211; berserker, nama lengkapnya kalo gak salah… eumm…&#8221; ditengah ia berfikir, Kak Istifa menimpali</p>



<p>&#8220;Denny Hollymoon.&#8221;</p>



<p><em>Hollymoon? Kalo gak salah itu…</em></p>



<p><em>iya! Satu clan sama Chandra.</em></p>



<p>&#8220;Ah, iya, Hollymoon. Kalo ciri-ciri sih, dia pirang, idung mancung, tamvan, matanya biru… pokoknya genteng deh…&#8221;</p>



<p>Seketika saat ia mendeskrepsikan, aku dan Kak Istifa memandang dengan tatapan curiga.</p>



<p>&#8220;Apa? Gue jujur kok. Lu semua kenapa jaga jarak?&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ya, pokoknya begitu…&#8221; ujar satu-satunya warrior diruangan ini setelah menjelaskan. &#8220;emang ada apa? Lu pernah ketemu si Denny?&#8221; lontarnya sebuah pertanyaan padaku.</p>



<p>&#8220;Ehh… iya, waktu itu gak sengaja.&#8221;</p>



<p>&#8220;Oh Begitu…&#8221; ucapnya mengerti.</p>



<p>&#8220;Oh ya, kalo lu mau undang temen juga gak apa, soalnya adik angkatan yang baru diundang baru elu sama si imut itu, siapa namanya?&#8221; kembali, pria berambut putih itu lupa nama seseorang.</p>



<p>&#8220;Sabila…&#8221; ujar ku dan Istifa bersamaan.</p>



<p>&#8220;Sabila. Iya gue lupa. Lu undang aja temen lu yang kenal sama si Ulfa… lumayan ngeramein.&#8221; Usul Kak Virjman sambil meminum tengukkan terakhir lemon tea yang tersaji untuknya.</p>



<p>&#8220;Oh ya, ngomong-ngomong, udah jam segini Sabila kok belum balik kesini ya?&#8221; seru Kak Istifa sambil melihat chronometer yang berada ditangan kanannya. Akupun reflex mengikutinya. Sudah pukul -:12.56:- hampir satu jam dia diluar sana.</p>



<p>Saat aku menghadapkan kembali pandanganku kedepan, sudah kulihat di hadapanku, mata Kak Istifa menatap kearahku, seakan mengatakan suatu perintah, sebagaimana dari tadi ia memerintahku.</p>



<p>&#8220;Oke-oke…&#8221; aku bangkit, lalu mengambil jaket yang tergantung dekat pintu.</p>



<p>Ceklek…</p>



<p>Akupun melangkahkan kaki keluar, sambil mengirim pesan singkat pada dua sahabatku, Adan dan Ryan. Menanyakan apakah mereka mau hadir dalam pesta sederhana yang dibuat untuk sepupu perempuanku.</p>



<p>Alasan karena kenapa aku hanya mengunang mereka saja, bagaimana dengan Antho, Angga dan Chandra? Selain mereka tidak kenal Kak Ulfa, juga karena aku belum mengetahui kontak VirCell milik mereka.</p>



<p>Tidak lupa kutanyakan dimana keberadaan Sabila, supaya aku bisa menyusul keberadaannya.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>*In Ulfa&#8217;s Mesh*</strong></p>



<p>Kedua Senior Dzofi tampak tak mengeluarkan kata sepatahpun, sampai suara tutupan pintu terdengar.</p>



<p>&#8220;Lu tadi nyuruh apa ke tu bocah?&#8221; Tanya pria berambut putih cepak membuka percakapan.</p>



<p>&#8220;Seperti yang lu liat, gue gak ngomong maupun nyuruh sepatah katapun…&#8221; jawab Istifa.</p>



<p>&#8220;Bo&#8217;ong… lu pasti ngancem lewat &#8216;mata ular&#8217; lu &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gue gak ngancem. Emang sih cuma terbesit nyuruh dia keluar, tapi itu juga baru dalem hati. Jadi intinya dia sendiri yang mau nyari si Sabila.&#8221; Elak si gadis pada pria yang menuduhnya.</p>



<p>…</p>



<p>&#8220;Umm… mereka berdua pacaran ya? Care banget kayanya&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak. Enggak tau sih lebih tepatnya…&#8221; jawab si gadis berambut hijau gelap.</p>



<p>&#8220;Sial, masa gue.. ngiri…&#8221; kini pria itu sedikit lemas menghadapi kenyataan kalau dia adalah seorang hamba johones.</p>



<p>&#8220;Makanya tembak dong, dah dari kapan tuh perasan. Keburu lapuk…&#8221; Jlep… perkataan tajam dari perempuan yang laki-laki itu sebut wanita teriseng sefederasi. Realita pedih.</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>*Bellato Central Town*</strong></p>



<p>Aku telah mendapatkan balasan dari Sabila, ia menjawab kalau tadi sempat mengantri karena toko roti itu lumayan laris. Namun sekarang ia sedang di taman. Akupun menuju kelokasinya.</p>



<p>Sekian menit aku berjalan, akhirnya aku melihat sosok wanita berambut putih itu, dengan potongan pendek yang khas miliknya, seakan-akan gaya seperti itu adalah trademark-nya.</p>



<p>&#8220;Haii Sab!&#8221; seruku sambil berjalan menghampiri, menuju dirinya yang sedang duduk pada ayunan dibawah pohon.</p>



<p>&#8220;Haii…&#8221; jawabnya. Setelah melihatku, iapun tertawa geli.</p>



<p>&#8220;Kenapa?&#8221; tanyaku heran.</p>



<p>&#8220;Kamu keluar-luar nekat pakai piyama begitu..&#8221; jelasnya menunjuk pakaian dibalik jaketku. Kemudian tawa kecilnya mengikuti.</p>



<p>&#8220;Biarin lah, cuek aja… toh gak bikin mati ini.&#8221; Jawabku ketus.</p>



<p>Dia masih memandangku dengan tatapan yang tak berubah.</p>



<p>&#8220;Apa?&#8221; aku jadi heran ia menatapku seperti itu.</p>



<p>&#8220;Hihi… dorongin dong…&#8221; ucap dan ekspresinya saat mengatakan itu… *ehem* manis.</p>



<p>&#8220;Huhh.. baiklah…&#8221; tanggapku sambil mendenguskan nafas, seolah sedikit terpaksa, padahal aku tidak keberatan sama sekali. Dan kurasa iapun juga tau kalau aku tak mungkin keberatan.</p>



<p>Kretekk.. kretekkk…</p>



<p>Bunyi suara rantai dan katrol dari besi yang agak usang saat aku melakukan dorongan pertama.</p>



<p>Lalu kedua..</p>



<p>Ketiga..</p>



<p>Dan seterusnya…</p>



<p>&#8220;Wiii…&#8221; sempat ia lontarkan kata itu dengan pelan saat aku mendorong punggungnya, akupun menikmati suara kecilnya.</p>



<p>&#8220;Dzofi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ya?&#8221; jawabku tak berhenti mendorong saat tubuhnya datang.</p>



<p>&#8220;Maaf..&#8221; ujarnya dengan nada sedikit murung, membuatku heran.</p>



<p>&#8220;Untuk apa?&#8221; tanyaku sekali lagi.</p>



<p>&#8220;Saat aku melihatmu di mesh Kak Ulfa, aku…&#8221; tubuhnya menjauh saat kudorong, kemudian datang dan ia melanjutkan.</p>



<p>&#8220;Aku memikirkan yang gak seharusnya kufikirkan, aku udah berburuk sangka…&#8221;</p>



<p>&#8220;Haha… Gak usah dipikirin, kurasa semuanya juga bakal ngira hal yang sama… makanya aku kasih penjelasan, iya &#8216;kan?&#8221; balasku sambil kembali mendorong punggungnya untuk kesekian kalinya.</p>



<p>&#8220;Makasih. Seharusnya aku gak berfikir terlalu jauh…&#8221;</p>



<p>&#8220;Kamu dan Kak Ulfa hanyalah saudara…&#8221; sambungnya.</p>



<p>&#8220;Ya, kamu benar. Gak lebih dari itu…&#8221; tambahku mengoreksi.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Mau gantian?&#8221; ujarnya sambil berusaha mengerem dari tubuhnya yang tengah berayun. Iapun kini berhenti</p>



<p>&#8220;Enggak, kamu aja yang naik..&#8221; tawarku kembali.</p>



<p>&#8220;Ayo dong kamu naik, aku juga mau dorong.&#8221; Ajaknya memaksa, akupun mau tak mau melakukannya, duduk dan bertukar posisi.</p>



<p>Awalnya terasa berat saat ia mencoba mendorong ponggungku, namun setelahnya terasa lebih ringan.</p>



<p>&#8220;<em>Enak juga… dah lama gak main ayunan…&#8221;&nbsp;</em>batinku menikmati.</p>



<p>Setelah sekian menit berlalu, aku memutuskan untuk mengakhiri permainan dan mengajak Sabila pergi dari sini.</p>



<p>&#8220;Udahan yuk, tuh, kamu juga cepek &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>Sabilapun mengangguk tanda setuju, beberapa helai rambut putihnya ikut bergerak saat ia menggerakkan kepalanya.</p>



<p>&#8220;Mumpung belum ada jam dua, gimana kalo main ke mesh ku? Aku mau Sekalian ganti nih baju.&#8221; Ajakku.</p>



<p>Ia membisu…</p>



<p>&#8220;A-aku gak niat macem-macem, sumpah.&#8221; Sambungku sambil mengangkat dua jariku. &#8220;Maksudku, kan jarak meshmu lebih jauh, jadi kuajak mampir dulu ke mesh ku yang lebih deket. Lagipula dulu kan kamu sering main ke tempatku kan?&#8221;</p>



<p>Awalnya kukira ia tidak akan setuju, namun akhirnya ia mengiyakan. Kami berduapun kini menyusuri jalan menuju mesh ku.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Selamat siang, aku pulang.&#8221; Ujarku sembari melangkahkan kaki masuk.</p>



<p>Tap.. tap..</p>



<p>&#8220;Oh ya Sab, aku dah namatin game Fire Emblem yang dulu sering aku mainin itu lho, semua karakter udah aku dapetin. Nih…&#8221; akupun menyalakan laptop abu-abu kesayanganku, lalu menunjukkan padanya. &#8220;Kamu mainin game itu dulu ya, aku mau ganti baju.&#8221; Akupun meninggalkan ia dengan dia yang kusayang (leptop).</p>



<p>Sekitar lima belas menit aku meninggalkan Sabila berdua dengan leptopku, aku kini menghampirinya dengan sepotong pertanyaan</p>



<p>&#8220;Sab, bagusan yang kiri atau yang kanan?&#8221; tanyaku sambil menunjukkan baju yang akan kupakai. Baju putih dengan warna merah sebagai motiv, atau biru dengan garis putih.</p>



<p>&#8220;Yang biru kurasa.&#8221; jawabnya, akupun segera menyetujui rekomendasinya.</p>



<p>Setelahnya, aku segera mengantar Sabila menuju rumahnya, namun tidak seperti tadi yang kulakukan. Ia menyuruhku menunggu diluar. Bukan, bukan diluar meshnya, melainkan diluar gedung. Demi keselamatan kurasa… keselamatan bersama…</p>



<p>Ditengah penantian, kudengar suara langkah kaki sedang menuruni tangga</p>



<p>Tukk.. tuk.. tukk…</p>



<p>Akupun menoleh kesumber suara</p>



<p>&#8220;Maaf ya menunggu lama…&#8221; seru suara yang kukenal, yup, itu dia Sabila.</p>



<p>Saat aku melihatnya, aku rasa aku sempat tak berkedip sekitar lebih dari lima detik, memandangi rupanya yang kini memakai baju yang sangat pantas untuk ia kenakkan, aku tak tau nama baju yang ia pakai, namun baju (pakaian) itu dikombinasikan dengan rok yang panjangnya sekitar lutut, sehingga kau bisa melihat betisnya yang bersih dan indah.</p>



<p>Terlebih lagi warnanya juga cocok, biru langit dan putih, sewarna dengan warna mata dan rambutnya.</p>



<p>&#8220;Dzofi? Ayo.&#8221; Seru Sabila membuyarkan lamunanku.</p>



<p>&#8220;A-ah! Iya, ayo.&#8221; Tanggapku. Kamipun kembali ke mesh Kak Ulfa bersama. Namun saat melewati taman, ada seseorang yang memanggilku.</p>



<p>&#8220;Dzofi, lu Dzofi &#8216;kan?&#8221; seru seorang laki-laki. Akupun menoleh kesumber suara.</p>



<p>Nampak lelaki bersurai coklat caramel dengan tongkat yang menyangga sebelah tubuhnya, sedangkan satu kakinya dibalut gips.</p>



<p>&#8220;Dzofi, dia siapa? kamu kenal?&#8221; Tanya Sabila yang juga ikut menoleh.</p>



<p>&#8220;Enggak, yuk cepet…&#8221; akupun segera menuntun tangan Sabila agar cepat menjauh dari orang itu.</p>



<p>&#8220;Dzof! Dzofi!&#8221; ucap lelaki itu masih memanggil namaku.</p>



<p>&#8220;Dzofi, dia manggil-manggil kamu tuh&#8221; ujar Sabila ditengah kami mempercepat langkah.</p>



<p>&#8220;Jangan diladenin Sab, dia penguntit, stalker, mesum-er. Pokoknya hati-hati aja sama dia…&#8221; ucapku, dan kamipun berlalu, ia tak mengikuti.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Dari mana aja kalian?&#8221; Tanya Kak Istifa menyambut kedatangan kami, matanya tajam menelisik tiap senti bagian tubuh.</p>



<p>&#8220;Dari mesh masing-masing, sekalian mandi sama ganti baju.&#8221; Jawabku sambil melangkah masuk. Namun ternyata sudah ada beberapa orang yang datang, yang pasti muka mereka asing. Ada wanita berkulit lebih gelap dibanding wanita yang lain, bisa dilihat biseps yang bentuknya mengalahkanku yang specialist ini (specialist = lemah, sedih dengan persepsi yang sudah melekat ini), kutebak dia pasti warrior. Ada juga lelaki berambut hitam dengan google sebagai headband. Dan ada beberapa orang lain yang cirinya tak terlalu menonjol.</p>



<p>Aku dan Sabilapun duduk, lalu berusaha memperkenalkan diri…</p>



<p>&#8220;Salam kenal Kak, Saya adik sepupunya Kak Ulfa, Leiutnant Baydzofi hardji.&#8221; ucapku sesopan mungkin.</p>



<p>&#8220;Aku Leiutnant Sabila Rosseblood, salam kenal.&#8221; Ikut Sabila memperkenalkan diri juga.</p>



<p>&#8220;Haha… gak usah formal-formal, santai aja, aku Sirvat, Sirvat Mess&#8217;Ennera.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hevoy Kene. Pilot Skuardon 2 &#8216;Terror Wave&#8217; Bellato Air Force, dengan jam terbang 2500 ja-&#8220;</p>



<p>&#8220;Gak usah pamer!&#8221; sikut Kak Sirvat menimpali.</p>



<p>&#8220;Ughh… Salam kenal..&#8221; ujarnya menyelesaikan kalimat sambil memegang bagian perut yang disikut. Aku hanya bisa tertawa garing melihat tingkah Senior-Senior di depanku ini.</p>



<p>&#8220;Inaki Khulzi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Darr, Darr Kandarr.&#8221;</p>



<p>&#8220;Oritzi Istoris.&#8221;</p>



<p>Setelah mereka memberitahu nama mereka dan saling bersalaman, kamipun terlibat bincang-bincang ringan. Salah satu dari mereka ada yang bertanya padaku kelak mau mengambil profesi lanjutan apa, lalu kujawab kalau aku akan menjadi Armor Rider. Langsung pria yang bernama Inaki menepuk bahuku, ia mengatakan…</p>



<p>&#8220;Wah wah, kita bakal dapet calon junior baru nih, Carters…&#8221; serunya sambil mengarahkan pandangan pada Senior Oritzi. Yang ditujupun hanya tersenyum.</p>



<p>&#8220;Tenang aja, kita gak kejem-kejem amat kok sama Junior, hehe…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>Waktupun menunjukkan hanya tinggal 10 menit lagi menuju pukul empat, kami semua bersiap diposisi masing-masing. Sedangkan Kak Istifa dengan mode menghilangnya mengawasi dari luar dan memberi kabar terkini.</p>



<p>Czettt… zettt…</p>



<p>&#8220;Ada Apa Is?&#8221; Tanya Kak Virjman.</p>



<p>&#8220;Siap-siap, target ke lokasi…&#8221; jawabnya dari walkie talkie.</p>



<p>&#8220;Roger…&#8221;</p>



<p>Setelah kami mengkonfirmasi kabar terkini, kami nemunggu kedatangannya. Rasanya tiap detik menjadi tak boleh terlewat sampai momen yang sangat-sangat tepat. Beberapa orang yang memegang semacam alat yang bila ditembakkan mengeluarkan kertas sudah bersiap, meng-stand by jari mereka pada pelatuk. Sedang yang lainnya bersiap dengan pose sebaik mungkin.</p>



<p>Tap..</p>



<p>Tap…</p>



<p>Ceklekk…</p>



<p>Perlahan cahaya memasuki ruang gelap yang kami singgahi ini.</p>



<p>Batss…</p>



<p>Targetpun menyalakan lampu</p>



<p><em>SEKARANG!&#8230;</em></p>



<p>DORR! DORR!</p>



<p>&#8220;SELAMAT ULANG TAHUN!&#8221;</p>



<p>Sambut kami akan kehadirannya, beberapa serpihan kertas warna-warni melayang di udara. Senyum dan tawa merekah di wajah kami, sedangkan Kak Ulfa masih tercengang, tidak percaya apa yang sedang ia saksikan dihadapannya.</p>



<p>Perlahan air membendung dikedua mata coklatnya, lalu membentuk garis yang membasahi pipinya. Ia menangis haru…</p>



<p>&#8220;Pantesan, aku tadi sempet lama nyariin kunci ku, ku kira ilang… hiks… panik tau…&#8221; ujarnya sambil berusaha menyeka airmata dengan lengan bajunya…</p>



<p>Kamipun tertawa</p>



<p>Aku sebenernya juga gak tega liat Kak Ulfa nangis begitu, tapi kapan lagi? Akupun mengambil kamera dan memotretnya, juga suasana yang meriah ini.</p>



<p>&#8220;Istifa, mana dia, pasti Istifa yang ngadain ini! Mana orangnya…&#8221; ujar Kak Ulfa dengan nada kesal.</p>



<p>&#8220;Disini…&#8221; ujarnya secara tiba-tiba dan…</p>



<p>Brushhh…</p>



<p>Ia menumpahkan tepung dalam jumlah banyak pada Kak Ulfa, dari ujung kepala hingga ujung kaki.</p>



<p>Sontak kami kembali tertawa, dan aku tak akan melewatkan momen yang berharga ini.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Tak terasa hari mulai petang, Kak Ulfapun kini sudah berpenampilan menarik dengan pakaian yang ia kenakkan. Walaupun sebelumnya ia harus terpaksa mandi dan mengganti baju, masalahnya kamar mandi dan kamarnya terpisah, sehingga ia harus rela berjalan hanya menggunakan handuk menuju kamar, dan diperhatikan para lelaki dengan mata mereka yang auto fokus. Gue? Gak usah ditanya, walaupun itu sepupu, tetep aja bikin &#8216;ON&#8217;.</p>



<p>Setidaknya itu masih menandakan gue normal…</p>



<p>Ryan dan Adanpun datang menyusul dengan membawa kado. Juga seseorang yang sudah &#8216;kutunggu&#8217; kehadirannya. Yup, ia adalah Denny Hollymoon, ia juga membawa hadiah yang lumayan besar, orang-orang disini mengatakan kotak itu bernama Master&#8217;s Large Gift.</p>



<p>.</p>



<p>Lagu wajib atas berulang tahunnya seseorangpun dinyanyikan, diiringi kue produksi Lechia Bakery yang kami pesan, yang diatasnya diberi lilin berbentuk &#8217;21&#8217; menandakan usia Kak Ulfa malam ini.</p>



<p>&#8220;Tiup lilinnya sekarang juga…</p>



<p>Sekarang juga…&#8221;</p>



<p>Huff…</p>



<p>Setelah Kak Ulfa meniup lilin hingga cahaya hangat itu padam, suasana hening, membiarkan yang berulang tahun hari ini untuk memohon apa yang paling ia inginkan…</p>



<p>Dirasa cukup, Kak Ulfa kembali membuka matanya dan senyum terukir diwajahnya, menatapku, lalu menatap yang lain.</p>



<p>Kami semuapun kini memakan jamuan yang disajikan, asik berbincang dengan yang lainnya, termasuk Sabila disana yang sudah membaur dengan para wanita lainnya. Aku hanya bisa memandangi orang-orang yang setidaknya banyak dari mereka yang baru kukenal, dari sofa yang tengah kududuki…</p>



<p>&#8220;Fi, lu gak makan? Mending ambil dulu, keburu diabisin Adan, liat tuh..&#8221; ujar Ryan sambil menunjuk kearah sahabatku yang tengah &#8216;memborong&#8217; hidangan.</p>



<p>&#8220;Gak, gue dah kenyang…&#8221; jawabku menoleh padanya, lalu kualihkan kembali pada seseorang yang sedang kuperhatikan.</p>



<p>Dari sudut mataku, bisa kulihat kalau Ryan penasaran, lalu ia ikut mencari apa yang sedang kuperhatikan.</p>



<p>&#8220;Ohh… lagi merhatiin orang yang rambutnya pirang itu, kenapa lu? Demen sama dia?&#8221; Tanya si kutu buku disebelahku, ah bukan, lebih tepatnya kutu kupret.</p>



<p>&#8220;Endas mu! Gue normal! Dah ah, ganggu aja lu…&#8221; akupun beranjak pergi menuju balkon, untuk menyejukkan suasana dalam diriku. Entah mengapa saat aku melihat si pirang itu, suasana menjadi tak semenyenangkan seperti seharusnya.</p>



<p>Saat aku hampir sampai, aku tak sengaja mendengar seseorang sedang bicara, suara yang ku kenal. Yaitu Kak Virjman, sepertinya ia tidak sedang bicara sendiri…</p>



<p>Akupun memasang pendengaranku sebaik mungkin untuk menangkap apa yang sedang ia katakan.</p>



<p>&#8220;kata Istifa, semua ini ide lu Man, makasih ya…&#8221; ucap seorang wanita yang tak asing, itu Kak Ulfa. Akupun makin serius mendengarkan dan sebisa mungkin kucari celah agar dapat melihat apa yang sedang mereka lakukan.</p>



<p>&#8220;Iya, sama-sama Fa. Gue denger dari istifa juga, katanya lu jarang ngadain acara begini, jadi gue usulin aja ke mereka, dan mereka setuju.&#8221; Jawab Kak Virjman sambil mengusap-usap belakang kepalanya.</p>



<p>Angin malam terlihat berhembus diantara mereka, mengisi kesunyian. Diikuti sinar rembulan juga bintang-bintang, kulihat Kak Virjman melangkah mendekat kearah Kak Ulfa.</p>



<p>&#8220;Fa, gue mau jujur dimalam yang istimewa ini…&#8221; ujarnya dengan berani sambil menggenggam tangan Kak Ulfa.</p>



<p>Dheg!</p>



<p>Entah mengapa, aku yang melihatnya, jantungku seakan ikut memacu. berdebar layaknya pria berambut putih cepak yg sedang bicara serius dengan sepupuku.</p>



<p>&#8220;Gue dah lama suka sama lu Fa, semenjak kita ketemu saat akademi akhir dulu, semenjak gue tau siapa nama lu. Diwaktu istirahat gue selalu sempetin untuk cari keberadaan lu dan menghabisi waktu dengan memandangi lu Fa…&#8221;</p>



<p>&#8220;Tawa lu, senyum lu, suara lu… seakan… seakan jadi bait buat gue untuk terus melangkah sampai bisa menjadi prajurit seperti sekarang, ini semua karena lu Fa…</p>



<p>Lu yang buat gue terpacu untuk mengejar lu, untuk bisa terus berada setingkat dengan lu, walau mungkin gue ada dibelakang lu. jauh dibelakang… tapi gue seneng takdir udanh ngizinin gue untuk bisa bertemen dengan orang seperti lu Fa&#8221;</p>



<p>Gue tau, mungkin telat, atau mungkin gue adalah seorang pengecut di balik raga ini, tapi gue cuma gak mau menyesal lebih lama, ataupun menderita… setidaknya malem ini gue udah berani mengungkapkan apa yang gue rasa ke elu…&#8221;</p>



<p>Eksprei Kak Ulfa hanya terdiam, sambil menutupi mulut dengan kedua tangannya, sedangkan Kak Virjman hanya merunduk sambil terus mengungkapkan apa yang selama ini terpendam.</p>



<p>&#8220;Jadi… maukah elu jadi pacar gue, untuk menjawab apa yang selama ini hati gue nanti semenjak hari itu?&#8221;</p>



<p>Suasana hening, alam seakan mengijinkan dua orang dihadapanku saling mendengar suara hati mereka.</p>



<p>Lirih, terdengar suara isak yang lirih dari wanita yang berulang tahun hari ini…</p>



<p>&#8220;Ma-maaf Man… gue gak bisa nerima, gue gak bisa menyetujui permintaan lu. Sekali lagi maaf Man…&#8221; jawab Kak Ulfa dengan suara isak tangis mengisi…</p>



<p>Akupun langsung teringat perkataan si Lace saat dirumah sakit ;</p>



<p><em>Kalau suatu saat sepupu lu berpasangan sama orang lain, lihat kedalam diri lu sendiri…</em></p>



<p>Dadaku juga ikut merasakan sesak saat mendengar penolakkannya pada Kak Virjman.</p>



<p><em>kak Ulfa.. dia.. punya seseorang yg dia suka..</em></p>



<p>&#8220;Hati gue, udah mengarah pada orang lain… gue gak mungkin biarin lu tersiksa dengan jawaban bohong yang hanya buat lu senang sesaat Man. Lu temen gue Man, dan maaf gue harus nolak elu, karenapun, gue juga gak mungkin bohongin hati gue…&#8221; sambung Kak Ulfa, ternyata dugaanku tepat dan kini yang terbayang dibenakku untuk pertama kali adalah seseorang bernama Denny.</p>



<p>Setelah jawaban itu, senyum tersimpul dari wajah pria dengan rambut putih cepak itu. senyum yang siapapun tau, itu senyum yang dipaksakan, senyum agar terlihat tetap tegar</p>



<p>&#8220;Haha… gak apa Fa, gue udah duga kok, anggap aja ini hukuman buat gue yang sedari dulu gak berani ngungkapin, gak berani jujur sama diri sendiri.</p>



<p>Terimakasih, Ulfa hardji… lu sosok yang telah mengisi ruang di dada lelaki ini.</p>



<p>Sekiranya, lu mau nerima hadiah sederhana ini…&#8221; iapun menawarkan sekotak hadiah, setelah Kak Ulfa menerimanya, ia membungkuk memberi salam hormat yang formal.</p>



<p>Namun sebelum mengangkat kembali tubuhnya seperti semula, sepasang tangan mengusap rambut putihnya, membuat Kak Virjman menghentikan gerakkannya.</p>



<p>&#8220;Sekali lagi maaf Man, gue harap lu mengerti, dan kita tetep bisa bertemen seperti semula…&#8221;</p>



<p>Lelaki itupun membalikkan tubuhnya, bersiap untuk pergi, namun sebelum melangkah ia mengatakan</p>



<p>&#8220;tentu, gak akan gue sia-siain hari selagi bisa gue habiskan bersama lu Fa. Permisi…&#8221;</p>



<p>Tap.. tap.. tap…</p>



<p>Suara langkah menuju keluar dari balkon, akupun segera pergi dari tempatku memata-matai mereka.</p>



<p>BRUKK!</p>



<p>Kulihat siapa orang di depanku sambil mengelus hidungku yang kesakitan, aku menabrak punggung orang yang ada di depanku.</p>



<p>&#8220;Ohh… kamu adiknya Ulfa ya? Maaf ya.&#8221; ucapnya saat memalingkan wajahnya menatap wajahku.</p>



<p>&#8220;Engg… iya.&#8221; Jawabku.</p>



<p>&#8220;Oh, perkenalin, nama ku Denny, Denny Hollymoon.&#8221; Jawab pria berambut pirang yang sudah kuketahui namanya.</p>



<p>&#8220;Dzofi, Baydzofi Hardji.&#8221; jawabku kembali dengan singkat.</p>



<p>&#8220;Oh ya, kamu liat Ulfa gak? Kemana ya dia?&#8221; mata sapphirenya bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang ia cari.</p>



<p>&#8220;Dia, gak ada… ke kamar man-&#8220;</p>



<p>&#8220;Ah, udah ya. Itu dia&#8221; ujarnya memotong kalimatku setelah menemukan sosok Kak Ulfa, kemudian berjalan menghampiri wanita berponytail coklat.</p>



<p>&#8220;Hei Ulfa, kamu kenapa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak apa Kak.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kamu habis nangis ya?&#8221;</p>



<p>Percakapan yang kudengar membuatku tak betah berlama-lama diradius sekitar mereka, akupun memutuskan kembali duduk di sofa dan memakan hidangan yang masih ada sampai pesta ini usai.</p>



<p>&#8220;Kenaba lu bro… gekgi amat tampang lu.&#8221; ujar Adan sambil mengunyah makanan.</p>



<p>&#8220;Bukan urusan lu…&#8221; jawabku sambil melahap potongan kue.</p>



<p>.</p>



<p>Akhirnya, sekitar jam sembilan malam, tamu-tamu yang diundang sudah pamit pulang, hanya tersisa beberapa orang saja, termasuk aku. Namun sekitar sepuluh menit kemudian para tamu benar-benar kembali ke rumah masing-masing. Hanya menyisakan aku dan Kak Ulfa.</p>



<p>&#8220;Dzof, kamu besok ada jadwal &#8216;kan?&#8221; tanyanya padaku. Akupun tak menjawabnya, hanya berjalan menuju ke tumpukan kado yang tersusun, lalu kuambil hadiah milikku.</p>



<p>Kini aku hadapkan hadiah yang kuberikan padanya.</p>



<p>&#8220;Kamu mau apa?&#8221; tanyanya penasaran. Akupun merobek kertas pembungkus, lalu kuperlihatkan isi dari hadiahku.</p>



<p>&#8220;I-ini… buat Kakak?&#8221; ujarnya masih tak percaya, aku hanya mengangguk mengiyakan bahwa kalung yang kubeli kuberikan untuknya.</p>



<p>Ia memandang sayu kearahku. Aku lalu bergerak untuk memasangkan kalung dari arah belakang</p>



<p>&#8220;Makasih ya Dzofi…&#8221; kata itu tak henti-hentinya ia ucapkan. Tangankupun bergerak mengalungi lehernya. Dari posisiku sekarang, aku mampu menyium aroma tubuhnya lebih jelas. Lebih jelas dari siapapun.</p>



<p>&#8220;Kak…&#8221;</p>



<p>&#8220;Apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ka-Kakak suka sama orang lain?&#8221; tanyaku, diikuti jantung yang kembali berdebar-debar. Entah mengapa, namun pertanyaan itu seakan tak tahan untuk bersemayam di dalam fikiranku lebih lama lagi.</p>



<p>&#8220;…&#8221; ia terdiam.</p>



<p>Posisi kami masih tak berubah, tanganku masih mengalungi lehernya. Layaknya reverse dari kejadian sebelumnya, aku yang kini menempelkan dadaku pada punggungnya, sehingga ia mampu merasakan getaran debar jantung ku.</p>



<p>&#8220;A.. aku tau aku gak punya hak, karena Kak Ulfa sekarang udah dewasa. tapi… aku-&#8220;</p>



<p>&#8220;Enggak.&#8221; Ujarnya memotong perkataanku. Aku sontak terdiam dan menantikan kata apa yang selanjutnya ia katakan.</p>



<p>&#8220;… Kakak emang menyukai seseorang, tapi Kakak merasa belum waktunya untuk… berhubungan lebih jauh dengan orang itu. Kakak masih ragu, dan…&#8221;</p>



<p>Ia menghentikan sejenak perkataannya. Kurasakan ia menghembuskan nafas, lalu menghirup dengan dalam. Kemudian menggenggam tanganku dan berkata…</p>



<p>&#8220;Kakak masih punya tanggung jawab dengan sifat ceroboh permanenmu itu.&#8221; Terlihat dari posisiku, ia menekukkan bibirnya keatas, ia tersenyum.</p>



<p>Entah mengapa, walau aku sejujurnya tidak bisa percaya pada laki-laki lain, dan juga tak rela Kak Ulfa dilukai oleh mereka. Aku juga merasakan, seakan akulah yang memasung haknya. Cinta adalah nafas, kau harus bebas untuk memiliki dan membagi pada orang yang kau pilih, dan posisiku sekarang layaknya tembok penghalang baginya.</p>



<p>&#8220;Jadi… kalau aku udah gak ceroboh lagi. Kakak gak perlu repot-repot jagain aku dan bisa siap berhubungan lebih jauh dengan orang itu…&#8221; ucapku memberi kesimpulan.</p>



<p>Agak lama ia terdiam, namun ia mengangguk dan berkata &#8220;iya&#8221;.</p>



<p>Akupun menarik tanganku dan segera mengenakkan kalung yang kuberikan pada lehernya.</p>



<p>&#8220;Baiklah, aku akan berusaha supaya gak ceroboh lagi. Dan Kak Ulfa gak perlu repot-repot bertanggung jawab atasku.&#8221;</p>



<p>Setelah itu, akupun meninggalkannya dan kembali ke mesh ku.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"> &#8220;Petir adalah bagian dari elemen angin, bisa dikatakan merupakan perubahan bentuk dari angin. Bila kita menggunakan force angin cukup dengan memanipulasi udara disekitar kita, petir berbeda, bisa dikatakan sedikit lebih rumit, karena pembentukannya sama seperti teori terjadinya halilintar, bertemunya udara panas dan dingin, membentuk gesekan dan keluarlah petir… sekian.&#8221;<br><strong>-Kasetsu Aqblerry- Ch. 13</strong> </td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 20 END.</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 21:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-21/</a><br>Previous Chapter > Read Chapter 19:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 20 &#8211; DECIDE &#038; DEAL</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 19 &#8211; THE DAY</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 09:45:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1714</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Penghematan adalah nafasku.&#8221;-Dzofi and Ryan&#8217;s Motto- CHAPTER 19 END.Next...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 19 &#8211; THE DAY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Suara…</p>



<p>Gemericik air, terdengar saat Bellatean kecil bersurai hitam mencoba melangkahkan kaki mungilnya tepat di atas bebatuan, dengan hati-hati, juga tetap merentangkan kedua tangannya, agar tubuhnya tetap seimbang, agar tak kuyub bila terjatuh ke sungai.</p>



<p>&#8220;Ah! Sedikit lagi.&#8221; Ucapnya saat melihat daratan tanah tinggal beberapa meter saja.</p>



<p>Hup!</p>



<p>Hup!</p>



<p>Hup!</p>



<p>&#8220;Fiuh~ akhirnya berhasil juga&#8221; ucapnya seraya mengelap dahinya yang hanya sedikit berkeringat. setelah menapakkan kaki mungilnya di tanah beralaskan rumput, ia berlari. Menghampiri padang bunga yang berbagai macam warnanya.</p>



<p>Biru, kuning, merah, putih, ungu.</p>



<p>Tulip, dandelion, lavender, dan lain-lain</p>



<p>Berbagai macam dan warna bunga bertebaran menyambut lelaki itu. Senyumanpun merekah di wajahnya.</p>



<p>&#8220;Ahahaha…&#8221;</p>



<p>Tawanya menari di tengah hamparan bunga-bunga.</p>



<p>&#8220;!&#8221;</p>



<p>Setelah beberapa menit, ia tersadar, bahwa tujuannya datang kesini bukanlah untuk menari ataupun bersenang-senang. Segera ia bangkit, lalu ia arahkan pandangnnya dengan fokus, memperhatikan tiap bunga yang ia lihat, Dengan teliti.</p>



<p>…</p>



<p>Sinar matahari Niger semakin terik, sang bocahpun tak kunjung menemukan apa yang ia cari, iapun memutuskan untuk istirahat sejenak, bernaung dibawah pohon yang jaraknya tidak jauh. Pohon besar yang seakan menjadi pusat dari padang bunga ini.</p>



<p>Trekk..</p>



<p>Gluk gluk gluk…</p>



<p>&#8220;Ahh…&#8221;</p>



<p>Setelah meminum minuman yang ia persiapkan dari rumah, iapun bersandar, rileks, dan tertidur…</p>



<p>Zzz…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Tuck tuck…</p>



<p>Seseorang menyentuhnya dengan ujung ranting.</p>



<p>&#8220;Engghh…&#8221;</p>



<p>Reaksi bocah yang sedang tidur membuat posisi baru.</p>



<p>Tuck tuck…</p>



<p>&#8220;Ummm…&#8221;</p>



<p>Bocah itupun terbangun, dengan kesadaran yang masih belum penuh, ia mengucek-ucek matanya.</p>



<p>&#8220;Kamu gak papa?&#8221; seru seorang yang mengganggu tidur bocah bersurai hitam.</p>



<p>&#8220;Uhh?&#8221;</p>



<p>*celingak-celinguk*</p>



<p>Tanpa menjawab pertanyaan, ia seperti sibuk mencari sesuatu.</p>



<p>&#8220;Apa yang kamu cari?&#8221; Tanya bocah bertopi yang membangunkannya.</p>



<p>&#8220;Aku… lagi nyari bunga.&#8221; Jawabnya singkat, tanpa mempedulikan siapa lawan bicaranya.</p>



<p>&#8220;Bunga? Itu bunga, itu bunga, itu juga bunga.&#8221; Sahut lawan bicara sambil menunjuk macam-macam bunga.</p>



<p>&#8220;Bukan, bukan bunga yang biasa. Aku lagi nyari bunga yang special.&#8221;</p>



<p>&#8220;Spesial? Kaya gimana?&#8221;</p>



<p>&#8220;Pokoknya gak ada yang nyamain.&#8221; Jawabnya, kemudian kembali melanjutkan pencarian.</p>



<p>&#8220;Buat apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Buat urusan penting, penting banget.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ooo…&#8221; bocah bertopi itu terpaku mendengar jawabannya.</p>



<p>Dilihat, mereka berdua nampak sebaya, tepatnya sama-sama berumur lima tahun.</p>



<p>&#8220;Oh iya, kata Kakak ku, kalo kamu mau cari bunga yang bagus, kamu harus muterin pohon ini dulu delapan kali sambil matanya merem, nanti pasti ketemu.&#8221; Seru bocah bertopi sambil menepuk pohon yang ia maksud. Pohon satu-satunya.</p>



<p>&#8220;Hemm? Kamu serius? Kamu pasti mau ngerjain aku &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak, aku gak ngerjain kamu kok. Itu kata Kakak aku.&#8221; Jawab anak itu memecah keraguan.</p>



<p>&#8220;Oke deh aku coba. Aku tadi gak langsung percaya, soalnya Kakak aku suka ngerjain aku.&#8221;</p>



<p>Surai hitampun melangkah, bersiap melaksanakan &#8216;ritual&#8217; agar apa yang ia cari dapat ia dapatkan.</p>



<p>&#8220;Jangan ngintip.&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, aku gak ngintip, aku &#8216;kan orangnya jujur.&#8221;</p>



<p>&#8220;Yaudah, ayo mulai.&#8221; Seru bocah bertopi.</p>



<p>&#8220;satu&#8221; &#8220;dua&#8221; &#8220;tiga&#8221; &#8220;empat&#8221; &#8220;lima&#8221; &#8220;enam&#8221; &#8220;tujuh&#8221; &#8220;delapan.&#8221;</p>



<p>Seru bocah-bocah itu bersamaan.</p>



<p>Setelah melakukan &#8216;ritual&#8217;, Bocah bersurai hitampun perlahan menyingkirkan kedua tangan mungilnya dari wajahnya.</p>



<p>Whussss…</p>



<p>Anginpun berhembus cukup kencang, membawa hawa sejuk.</p>



<p>&#8220;!&#8221; surai hitam menyadari sesuatu.</p>



<p>&#8220;Gimana? kamu ketemu apa yang kamu cari?&#8221;</p>



<p>&#8220;Topimu, kebawa angin.&#8221; Serunya sambil menunjuk topi yang perlahan jatuh.</p>



<p>&#8220;Waaa… topiku.&#8221; Ujar pemilik topi sambil menggenggam letak dimana harusnya topinya berada.</p>



<p>&#8220;Hahaha… bil bil bil, ketemu aku ambil.&#8221; Seru surai hitam sambil berlari, berusaha meraih topi itu lebih dulu dari sang empunya.</p>



<p>Drap… Drap.. Drap…</p>



<p>Iapun akhirnya berhasil, lalu mengambil topi itu.</p>



<p>&#8220;Wah!&#8230;&#8221;</p>



<p>Hosh… hosh.. hosh..</p>



<p>&#8220;Hoii, kamu curang, itukan punyaku. Itu ibu aku yang beliin…&#8221; seru sang empunya dari belakang.</p>



<p>&#8220;Coba liat sini, aku nemu bunga yang bagus.&#8221; Timpal surai hitam sambil mengayunkan tangannya, menyuruh agar bocah yang ia tak kenal itu cepat menghampirinya.</p>



<p>&#8220;Ada apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Itu, bagus &#8216;kan?&#8221; seru surai hitam sambil menunjuk bunga, bunga yang entah apa jenisnya, namun berwarna biru muda cerah, dan dihiasi warna putih dibagian tertentu.</p>



<p>&#8220;Wah, bagus banget. Urusan penting kamu pasti bisa selesai dengan bunga itu.&#8221;</p>



<p>Bocah bersurai hitam itupun mengangguk senang, lalu berpaling menghadap lawan bicaranya.</p>



<p>&#8220;Ini, aku mau- ehh?&#8221; saat ia hendak mengembalikan topi milik sang empunya, ia lagi-lagi tersadar</p>



<p>&#8220;Ada apa?&#8221; Tanya empunya topi heran.</p>



<p>&#8220;Kamu… perempuan?&#8221; ucap si surai hitam baru menyadari saat melihat potongan rambut pendek ala perempuan.</p>



<p>&#8220;Emang, dari tadi kamu ngira aku laki-laki?&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya, soalnya kamu pakai topi sama celana pendek sih, jadi kukira kamu laki-laki. Yaudah nih.&#8221; Si surai hitampun memakaikan topi pada sang empunya.</p>



<p>Setelah memakaikan topi, ia kembali berlari kearah pohon, lalu mengitarinya kembali, melakukan &#8216;ritual&#8217;.</p>



<p>&#8220;Satu… dua… tiga…&#8221;</p>



<p>&#8220;Hei, bukannya bunga yang kamu cari udah ketemu?&#8221; Tanya gadis bertopi heran.</p>



<p>Tanpa menjawab pertanyaan, surai hitam tetap melanjutkan ritualnya.</p>



<p>&#8220;Tujuh… delapan…&#8221;</p>



<p>*celinga-celinguk*</p>



<p>&#8220;Hoii… aku kan nanya kamu, kok gak dijawab?&#8221;</p>



<p>&#8220;Tunggu.. ah! Itu dia!&#8221; surai hitam kembali menemukan apa yang ia cari, kemudian ia berlari kearahnya.</p>



<p>Tak mau ketinggalan, gadis bertopipun mengikuti si surai hitam. &#8220;Apa yang kamu cari?&#8221;</p>



<p>&#8220;AWW…&#8221; teriak reflex bocah bersurai hitam saat berusaha mencabut sekuntum bunga. Iapun berusaha menghilangkan duri tajam dari tangkai bunga tersebut sebisanya. &#8220;Nih, buat kamu, karena udah mempermudah urusan penting aku. Hehehe…&#8221; ucapnya sambil menyerahkan bunga, diikuti senyuman lebarnya.</p>



<p>Lawan bicaranya masih tak percaya, ia sedikit ragu, namun perlahan tangannya bergerak menerima pemberian bocah tersebut.</p>



<p>&#8220;Terimakasih, terimakasih banyak.&#8221; Iapun tersenyum.</p>



<p>&#8220;Gimana? cocok &#8216;kan? Sama warna rambutmu, sama-sama putih.&#8221;</p>



<p>Belum sempat gadis itu menanggapi, terdengar suara yang kencang dari arah sebrang sungai.</p>



<p>&#8220;DZOFIII… KAMU DISANA &#8216;KAN? UDAH SORE, KAMU DICARIIN KAKEK.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ah! Itu Kakak ku manggil, udah dulu ya, aku pulang dulu.&#8221; ucap surai hitam.</p>



<p>&#8220;Kamu… besok kesini lagi?&#8221; Tanya gadis bertopi.</p>



<p>&#8220;Iya. Besok kita main bareng lagi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Janji?&#8221; Tanya sang gadis.</p>



<p>&#8220;Janji&#8221; jawab surai hitam sambil meraih jari kelingking lawan bicaranya, lalu ia kaitkan dengan jari miliknya, sehingga membentuk simpul sederhana.</p>



<p>Suara kembali terdengar menyebut nama si surai hitam.</p>



<p>&#8220;Ah! Iya Kak!&#8221; &#8220;Oke, sampai besok, Bye…&#8221; ujarnya seraya melambaikan tangan.</p>



<p>Sosok gadis itu perlahan tak mampu tertangkap oleh pengelihatannya, mungkin gadis itu juga pulang. Dan kini, dengan sigap bocah yang dipanggi Dzofi itupun menghadap kakaknya, yang berada disebrang sungai.</p>



<p>Sungai sebenarnya bukanlah sungai besar, melainkan aliran air yang tidak deras dan tidak juga dalam. Ada beberapa batu yang difungikan sebagai &#8216;jembatan&#8217; dengan cara melompatinya satu persatu.</p>



<p>&#8220;Kamu dari siang main, gak pulang-pulang. Pasti nanti kakek marahin kamu.&#8221; Ucap gadis berponytail coklat di sebrang sana sambil bertolak pinggang. &#8220;Emang kamu habis ngapain?&#8221;</p>



<p>&#8220;Hehe… ra-ha-si-a&#8221; jawab adiknya sambil mengeja kata terakhir. Iapun melompat, mendarat diatas batu demi batu, Sambil keduanya tangannya kembali direntangkan. Hup! Hup!</p>



<p>&#8220;Kamu tadi ngomong sama siapa Dzof?&#8221;</p>



<p>Hup!</p>



<p>Bocah yang diajak bicarapun menghentikan lompatannya, lalu berfikir…</p>



<p>Ia lupa, kalau gadis yang sedari tadi ia ajak bermain bersama tak ia ketahui namanya, berkenalanpun tidak. Iapun menjawab &#8220;Gak tau Kak.&#8221;</p>



<p>Hup! Ia kembali melompat.</p>



<p>Namun saat ia ingin melompat untuk kedua kalinya…</p>



<p>Syut…</p>



<p>Jebyur…</p>



<p>&#8220;Haha… makanya jangan lompat-lompat, kamu jadi kecebur &#8216;kan. Ayo bangun.&#8221; Ucap sang Kakak setelah menertawakan adiknya yang terjatuh dan pakaiannya basah.</p>



<p>&#8220;Huu~ uhuu… Kak Ulfa… sakit Kak.. huuu&#8230;&#8221; ujar Dzofi diikuti isak tangis yang pelan, sebisa mungkin ia tahan, karena ia tau, pasti yang keluar dari lisan kakaknya adalah</p>



<p>&#8220;Jangan nangis, kamu &#8216;kan laki-laki.&#8221;</p>



<p>ponytail coklatpun menjulurkan tangannya, membantu sang surai hitam. &#8220;yang mana yang sakit?&#8221; tanyanya sembari menyamakan tingginya.</p>



<p>&#8220;Yang I-ini…&#8221; ucap Dzofi. Seketika, mata Ulfapun melebar, diikuti tatapan ngeri,</p>



<p>&#8220;D-Dzofi… kamu…&#8221;</p>



<p>Dzofipun menyentuh bagian yang luka, dirasanya agak basah, kemudian ia lihat apa yang ada pada tiga jarinya.</p>



<p>&#8220;Darah&#8221; &#8220;Kak, kepala Dzofi… berdarah…&#8221;</p>



<p>Perlahan, tubuh Dzofi lemas, lunglai, lalu iapun tak sadarkan diri.</p>



<p>&#8220;Dzofi! Dzofii!..&#8221; &#8220;Tolongg…&#8221;</p>



<p>Ulfapun dengan ekspresi panik, meminta bantuan pada warga sekitar.</p>



<p>Beruntung, ada beberapa orang lewat, kemudian membawa tubuh Dzofi ke kelinik terdekat. Bagaimana dengan Ulfa? Ia menangis, ketakutan. Khawatir terjadi hal buruk pada sepupu yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.</p>



<p>Sang kakek yang merupakan orang yang cukup berpengaruh di desa, dengan cepat mendapat kabar tentang apa yang menimpa cucunya. Iapun bergegas ke lokasi yang dimaksud.</p>



<p>Sesampainya ia disana, ia mendapati cucu perempuannya tengah menangis, sedangkan cucu lelakinya tengah terbaring tak sadarkan diri dengan kepala berbalut perban.</p>



<p>&#8220;Ulfa, kau baik-bak saja?&#8221; seru kakek menanyakan keadaannya.</p>



<p>&#8220;Kakek… ia kek, Ulfa baik-baik aja, tapi Dzofi…&#8221; ucapnya dengan nada yang pilu, berjalan memeluk sang kakek.</p>



<p>&#8220;Sudah sudah, gak apa-apa, semuanya pasti baik-baik saja. Dokter pasti bisa sembuhin Dzofi. Kamu jangan sedih ya.&#8221; Hibur sang kakek sambil menepuk-nepuk punggung cucunya. Kemudian, ia menatap cemas cucu lainnya yang terbaring disana.</p>



<p>Ia sebetulnya ingin mengetahui, bagaimana kronologis peristiwa yang menimpa Dzofi, namun dirasa bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya sekarang, terlebih Ulfa merasa sangat tertekan tampaknya. Yang terpenting kesembuhan, ya, kesembuhan dan keselamatan. Semoga Tuhan memberi keselamatan pada anak dari anaknya tersebut.</p>



<p>.</p>



<p>Hari mulai malam, dokter disana mengatakan kalau Dzofi sudah boleh dibawa pulang, walaupun ia belum sadar, namun kondisinya stabil. Yosuropun membawa pulang Dzofi beserta Ulfa.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Kek.. ughh…&#8221; ucap Dzofi sedikit meringis kesakitan setelah membuka kedua matanya, ia tersadar. &#8220;Kakek…&#8221; seru Dzofi memanggil Yosuro.</p>



<p>Suara langkah kaki dengan terburu-buru menghampiri sumber suara.</p>



<p>&#8220;Iya Dzofi…&#8221; ucap pria tua yang dipanggil kakek. &#8220;Syukurlah kamu sudah sadar…&#8221; peluk sang kakek sambil mengusap surai hitam milik cucunya.</p>



<p>&#8220;Kakek, Dzofi haus…&#8221; seru sang cucu sambil memijat tenggorokannya.</p>



<p>&#8220;Ah! Iya iya, sebentar ya, kakek buatkan teh dulu.&#8221; Jawab Yosuro lalu mengecup kening cucunya. Iapun melangkah keluar menuju dapur. Ditengah ia melangkah, terdengar ia mengucapkan sesuatu.</p>



<p>&#8220;Ulfa, sana temenin Dzofi, dia udah sadar tuh..&#8221;</p>



<p>Tak berapa lama, suara lantai kayu seperti dilangkahi orang berlari</p>



<p>Drap.. drap.. drap…</p>



<p>&#8220;Dzofiii!&#8221;</p>



<p>Brukk…</p>



<p>Ucap gadis berseragam sekolah putih merah melompat ke kasur yang sedang Dzofi singgahi.</p>



<p>&#8220;Kamu udah baikan Dek?&#8221; Tanya sang Kakak sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi Dzofi.</p>



<p>&#8220;Umm.. emangnya Dzofi kenapa Kak?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kamu gak inget? Kamu jatuh kepeleset waktu pulang dari bukit bunga.&#8221; Jelas Ulfa.</p>



<p>&#8220;Bunga…&#8221; ucap pelan Dzofi, iapun menyadari sesuatu &#8220;Kak tolong ambilin tas Dzofi dong Kak. Yang itu yang itu…&#8221;</p>



<p>Ulfapun turun dari ranjang, lalu mengambilkan tas yang dimaksud Dzofi. &#8220;Yang ini?&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya&#8221;</p>



<p>Setelah mendapatkan tas, ia dengan cepat membuka retsleting tas itu,</p>



<p>Srett…</p>



<p>Ia senang, apa yang berada di dalamnya dalam kondisi baik-baik saja, tidak rusak. Iapun mengeluarkannya dan menyerahkannya pada kakaknya.</p>



<p>&#8220;Ini, buat Kak Ulfa.&#8221; Ucapnya dengan senyum tulus. Memberikan setangkai bunga berwarna biru cerah yang jarang ditemukan, setidaknya untuk anak-anak seperti mereka.</p>



<p>Bersamaan dengan itu, Yosuro menapakkan kakinya ke dalam kamar, dan melihat cucu laki-lakinya tengah memberikan bunga pada cucu perempuannya.</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>Ulfa tampak heran, juga Yosuro yang ada dibelakangnya. Kemudian, masih dengan senyuman tulusnya, Dzofi mengatakan…</p>



<p>&#8220;Selamat ulang tahun Kak…&#8221;</p>



<p>/</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;U-ughh… Mimpi&#8230;&#8221; Ucapku setelah terbangun sambil memegang dahiku. kupandangi ruang dengan warna dominan putih ini. sepertinya aku sekarang berada di rumah sakit. &#8220;Mimpi… atau tepatnya ingatan masa lalu.&#8221; Sambungku, Akupun meraba-raba pelipisku yang sudah ditutupi perban.</p>



<p>&#8220;Gak salah lagi, itu bener-bener terjadi. Tapi…&#8221; akupun memejamkan mata &#8220;siapa nama tuh cewe ya? Mukanya… ughh… gak bisa gue inget&#8221; ujarku mencoba membongkar muatan memori lebih jauh.</p>



<p>&#8220;Lagi coba nginget-nginget siapa?&#8221; ucap seorang laki-laki entah siapa dari &#8216;kamar&#8217; sebelah, hanya bertembokan kain horden, jadi wajar ia bisa mendengar ucapanku.</p>



<p>&#8220;Eh? Enggak, cuma mimpi aja kayanya.&#8221; Balasku mencoba tak mengungkitnya kembali.</p>



<p>&#8220;Btw, lu sakit apa?&#8221; Tanya orang asing itu lagi kepadaku.</p>



<p>&#8220;Ini, kepala gue tadi dapet benturan keras pas lawan Crawler di Bellato outpost. Kondisi gue gak fokus saat itu, jadinya memperparah dampak yang gue derita sekarang.&#8221; Jelasku singkat.</p>



<p>Srekkk…</p>



<p>Iapun menyibakkan kain pembatas antara kami, terlihatlah sosok yang mengajakku bicara, seorang Bellatean dengan rambut berwarna coklat caramel.</p>



<p>&#8220;Ohh.. itumah masih mending, masih bisa selamat karena lawannya Crawler.&#8221; Ucapnya dengan nada enteng. Matakupun tertuju padanya, lebih tepatnya kakinya yang kini tengah digantung sembari dibalut gips.</p>



<p>&#8220;Emang kalo elu kenapa? Kaki sampe digantung-gantung begitu, patah?&#8221; tanyaku masih memperhatikan kakinya. Disatu sisi bersyukur, gak bernasib kaya dia, disatu sisi prihatin juga, Pasti repot kalo mau BAB.</p>



<p>&#8220;Iya. Dari beberapa mingu yang lalu gue disini. Gue masih harus ada disini semingu lagi. Tapi semoga bisa rawat jalan, bête disini terus.&#8221; Jelasnya sambil mengeluarkan keluh kesahnya.</p>



<p>&#8220;Engg… emang monster apa sampe bisa buat kaki lu begitu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Monster yang paling buruk yang pernah lu hadapin, kalau lu melakukan sesuatu yang buat dia gak nyaman, dia langsung nyerang membabibuta, kalau enggak, dia keluarkan kemampuan serangan psikologis sehingga membuat emosi inner kita gak beraturan. Kadang dalam suatu kasus, dia juga memakai muslihat kuat untuk memperdaya kita.&#8221; Jelasnya dengan nada serius, seperti mendeskripsikan makhluk dari cerita creepypasta.</p>



<p>&#8220;Njirr… tuh monster pasti tingkat tinggi, agresif banget. Monster apa tuh?&#8221; tanyaku antusias.</p>



<p>Perlahan, ia mendekatkan bagian tubuhnya kearahku, lalu melihat sekitar. Lalu melanjutkan &#8220;Bellatean betina.&#8221; Hemm… ucapnya diakhiri dengan anggukan yakin.</p>



<p>&#8220;…&#8221; mataku menatap tajam wajahnya, dia pasti bercanda. &#8220;Yang bener aja?! Lu serius?&#8221;</p>



<p>&#8220;Serius gue, emang lu gak kenal seseorang perempuan yang saban hari kalo lu ngalakuin kesalahan lu pasti dapet penghakiman detik itu juga.&#8221; Ucapnya seeakan menyajikan fakta yang aktual.</p>



<p>Akupun teringat sosok wanita ponytail yang mendekati kriteria tersebut,</p>



<p>&#8220;Hah, adakan?&#8221; serunya menebak isi kepala ku.</p>



<p>&#8220;Iya.&#8221; Jawabku. &#8220;Emang, kesalahan apa yang lu perbuat sampe kaki jadi begitu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Engg… biasa sih, kelakuan anak muda.&#8221; Jawabnya nanggung, seperti ada yang ditutup-tutupi.</p>



<p>&#8220;yang jujur! Gak mungkin kalo hal biasa kaki lu sampe dipatahin begitu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Haha… ngintip cewe mandi, biasa &#8216;kan?&#8221; jawabnya diiringi tawa beraura mesumnya.</p>



<p>&#8220;NDASMU! Harusnya bukan cuma patah, tapi diamputasi sekalian!&#8221; makiku kesal, bertemu seorang yang gak jelas asal-usulnya seperti ini. Kok bisa ngintip dibilang biasa sebagai kelakuan anak muda. Atau guenya yang gak biasa? Entahlah, tapi yang jelas itu jelas melanggar norma dan perbuatan asusila.</p>



<p>&#8220;Tapi gue gak sepenuhnya niat kok, awalnya &#8216;kan gak sengaja gue.&#8221; Elaknya mempertahankan diri.</p>



<p>&#8220;Tapi lu pasti keterusan liatin dia &#8216;kan?&#8221; tebakku</p>



<p>*Angguk-angguk*</p>



<p>&#8220;Pantes…&#8221;</p>



<p>Suasanapun menjadi diam sesaat, hening. Tak ada hal yang dibicarakan. Teringat, kalau masing-masing dari kami sama sekali belum mengetahui nama lawan bicara.</p>



<p>&#8220;Nama lu siapa?&#8221;</p>



<p>Ucap kami berbarengan.</p>



<p>&#8220;Ehh.. dah kaya jodoh aja, nama gue Dzofi, Baydzofi Hardji. specialist, leutnant. Salam kenal.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gue Lace Lachrymose, panggil gue Lace. Gue ranger, pangkat samaan.&#8221; Jawabnya.</p>



<p>Kamipun beusaha berjabat tangan, namun tak sampai, karena ruang geraknya yang terbatas. Terpaksa aku turun dari ranjang dan menggenggam tangannya.</p>



<p>Kembali terjadi momen hening, tidak ada pembicaraan setelahnya, sempat beberapa kali detak jam dinding yang mengisi kesunyian.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Sebagai laki-laki, lu pernah gak sih berfikir. Kenapa makhluk kaya kita selalu kalah sama perempuan? Maksudnya, kalau dari segi fisik, kita laki-laki jelas lebih kuat, tapi kenapa ya? Kita selalu kalah, sepertinya mereka punya kekuatan terpendam.&#8221; ujarnya sambil melipat kedua tangannya sebagai bantal, menatap langit-langit kamar.</p>



<p>Aku yang mendengar perkataannyapun dalam hati mengiyakan</p>



<p><em>Bener juga, kenapa kok bisa begitu?</em></p>



<p>&#8220;Hemm…&#8221; aku berfikir mencari jawaban.</p>



<p>&#8220;Gue, selalu kalah kalau dihajar sama Lumia.&#8221; Ucapnya menyebut nama seseorang.</p>



<p>&#8220;Saat dihajar dia, harusnya dengan kekuatan fisik, gue bisa bales &#8216;kan? Tapi ini bertahanpun enggak. Kenapa gak para wanita itu ditaroh dibarisan paling depan buat ngelawan Accretia sama Cora?&#8221; setelah ia berujar seperti itu, akupun teringat kalau Kak Ulfa pernah membantingku di kamar mandi.</p>



<p>Akupun mulai angkat bicara</p>



<p>&#8220;Gue juga, punya Kakak sepupu yang kami udah berasa kaya Kakak adik. Namanya Kak Ulfa. Dia sama kaya temen lu, si Lumia. Bisa over power gitu. Dia kalau marah serem, hawa membunuh bisa terasa begitu kental. Ngebales? Itu malah memperburuk keadaan, gue rasa.&#8221;</p>



<p>&#8220;persoalan kita sebagai laki-laki kaya dirapalin mantra Power Drain sehingga gak punya kekuatan ngebales, gue rasa itu karena ikatan dan garis alam bawah sadar kita.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ikatan? Garis Alam bawah sadar?&#8221; ucap Lace mengulang.</p>



<p>&#8220;Iya. Hemm… gini, kalau buat gue, gue dan Kak Ulfa itu udah bersama sejak kecil, dia selalu merasa bertanggung jawab atas diri gue. Karena dia lebih tua, dia juga yang menjadi panutan gue. Jadi gue sebagai seseorang yang selalu dilindungi olehnya tau, bahwa dia itu bukan musuh, akal rasional bawah sadar gue seakan membuat garis pembatas antara mana musuh, mana bukan musuh. Berdasarkan ikatan itu. Makanya tanpa gue harus berfikir untuk mengingat-ingat jasanya, gue dah pasti kalah dan gak mungkin melawan atau ngebales secara fisik ke orang yang selalu ada buat gue. Sekalipun, ya jadinya badan gue dibanting hehe…&#8221;</p>



<p>&#8220;Lagipula, entah ya, tapi gue suka aja tuh kalau Kak Ulfa bercanda atau ngambek sampe mukul-mukul gue, hehe… asal gak sampe masuk rumah sakit.&#8221; Tambahku, akupun kini berpaling melihat Lace,</p>



<p>&#8220;?&#8221; dia menatapku dengan menyipitkan matanya, tajam kearahku.</p>



<p>&#8220;Kenapa Lace?&#8221; ucapku heran.</p>



<p>&#8220;Maso, dasar maso!&#8221; ucapnya seperti menghakimi.</p>



<p>&#8220;Eh? Maso? Apaan tuh?&#8221; ucapku kembali heran.</p>



<p>&#8220;Masochist, lu tipe orang masochist.&#8221;</p>



<p>&#8220;Masochist?&#8221;</p>



<p>&#8220;Orang yang suka disiksa, semakin disiksa semakin puas. Biasanya orang kaya elu bakalan H*rny kalo disiksa, apalagi sampe menjurus ke hasrat S*xual. Pokoknya lu Maso!&#8221; jabarnya.</p>



<p>&#8220;Wut! Enak aja! Kan udah gue bilang, kalo gue sama sepupu gue itu dah kaya sodara, itu makanya gue bilang ada unsur ikatan. Kalo masalah di&#8217;siksa&#8217; gue kan gak mengarah kesana, lebih ke.. kedekatan, akrab begitu.&#8221; Timpalku membantah tuduhannya.</p>



<p>&#8220;Ohh begitu, yaudah, pokoknya lu tetep maso.&#8221; Ucapnya mengakhiri debat dadakan ini.</p>



<p>&#8220;Kalo elu? Menurutlu kenapa gak bisa berkutik ngadepin Lumia?&#8221; tanyaku memperalihkan pembicaraan.</p>



<p>&#8220;Mungkin jawaban lu bener tentang ikatan dan alam bawah sadar. Do&#8217;i itu temen masa kecil gue, ya dari dulu kita udah main bareng, becanda, pokoknya deket deh. Mungkin itu yang membuat gue gak bisa ngebales yang otomatis pasti menyakiti dia secara fisik.</p>



<p>Tapi tetep aja… disiksa itu gak enak, beda sama lu yang maso.&#8221;</p>



<p>&#8220;Udah gue bilang, gue bukan maso!&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Oh ya Dzof, tadi pas lu masih belum siuman, cewe Senior yang rambutnya ijo tua nitip pesen, dia bilang begini ke gue, Kalau elu udah bangun dan belum bisa keluar dari rumah sakit hari ini, dia udah bilangin sepupu lu kalau elu hari ini nginep di meshnya Ryan. Jadi sepupu lu gak akan khawatir. Begitu.&#8221; Ujarnya memberitahuku pesan yang Kak Istifa berikan pada Lace.</p>



<p>&#8220;Ohh… iya.&#8221; Balasku. Lalu akupun merubah posisi tidurku menghadap kekiri, memunggungi Lace.</p>



<p>&#8220;Engg.. Dzof. Ngomong-ngomong sepupu lu itu orangnya kaya gimana?&#8221; ucapnya kembali membuka pembicaraan. Sebenarnya aku sedang tidak terlalu mood untuk berbicara saat ini, karena aku masih dibayangi mimpi/kenangan masa lalu yang tadi aku alami. Mereka masih memenuhi benakku.</p>



<p>&#8220;Emang kenapa?&#8221; tanyaku balik padanya. Masih memunggunginya.</p>



<p>&#8220;Ya, cuma pengen tau aja.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia orangnya…&#8221;</p>



<p>akupun teringat wajah Kak Ulfa saat hari-hari kami lalui bersama, saat ia memarahiku, bercanda, makan bersama, sedih, ngambek, menangis, Semuanya. layaknya scane-scane film yang dimainkan secara otomatis oleh otak ku.</p>



<p>Kemudian, timbul rasa sesak di dada ku. Aku serasa telah menipunya, membiarkan ia tak tau kondisiku yang sebenarnya. Memang, aku tak mau membuatnya khawatir, namun bagaimanapun, ia punya hak untuk itu.</p>



<p>Akupun bimbang,</p>



<p><em>Gue mesti gimana?</em></p>



<p>&#8220;Dzof! Kok bengong?&#8221; ujar pria berambut coklat caramel membuyarkan fikiranku.</p>



<p>&#8220;Ah! Iya-iya.&#8221; Akupun kini menghadapnya, lalu ku keluarkan ponsel ku, kemudian kutunjukkan bagaimana rupanya. Foto saat ia masih diakademi akhir beberapa tahun yang lalu. &#8220;Nih.&#8221;</p>



<p>&#8220;I-ini sepupu lu?&#8221;</p>



<p>Batss..</p>



<p>Iapun langsung merampas ponsel dari tangan ku dengan cepat.</p>



<p>&#8220;Hei?! Santai aja bro, emang kenapa?&#8221; tanyaku heran.</p>



<p>&#8220;U-ukurannya… gak salah lagi, ini pasti D, enggak ini E. ya, E&#8221; ucapnya tak berkedip dari memandangi layar ponsel.</p>



<p>Batss…</p>



<p>Ku rampas kembali apa yang menjadi milikku sambil berkata, &#8220;Dah jangan lama-lama. Dasar mesum.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dzof, pliss… blututin ke ponsel gue ya. Pliss…&#8221; ucapnya sambil memohon.</p>



<p>&#8220;Gak!&#8221; Ucapku tegas menolak.</p>



<p>&#8220;Yaelah Dzof, gue gak bakal macem-macem sama gambar Kakak lu kok. Blututin ya..&#8221;</p>



<p>&#8220;Lu bilang begitu justru gue makin curiga. Gue bilang enggak ya enggak.&#8221; Timpalku sambil berpaling darinya.</p>



<p>&#8220;Kok lu ngotot gitu sih nolaknya? Diakan cuma sepupu lu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Emang sepupu gue, terus?&#8221;</p>



<p>&#8220;Kesannya lu terlalu protektif gitu, gue rasa ada hal yang gak wajar, hemm…&#8221; ucapnya kini sambil mengelus-elus dagu saat aku melirik kearahnya.</p>



<p><em>Mata itu lagi…</em></p>



<p>Batinku saat melihat mata yang dibuat sipit. Pasti dia bakal ngomong yang enggak-enggak.</p>



<p>&#8220;Lu… incest ya?&#8221; akhirnya kata itu yang keluar dari lisannya.</p>



<p>&#8220;I-incest? Enggak lah! Gila lu ya?!&#8221; elakku mentah-mentah. Akupun bangkit dari dudukku menuju ranjangnya.</p>



<p>&#8220;Ngaku aja, pengidap incest. Lu suka sama sepupu lu &#8216;kan&#8221; Ucapnya dengan nada seakan mengejek.</p>



<p>Akupun mendekat kearahnya lalu kugenggam kerahnya.</p>



<p>&#8220;Gue gak kenal siapa elu, dan lu gak kenal baik tentang gue. tapi bisa-bisanya lu ngomong begitu. Gue minta lu tarik kata-kata lu barusan…&#8221; ucapku tak sudi dihujat dengan perkatannya lebih jauh.</p>



<p>Namun bukannya ia menyesal, sudut bibirnya malah menekuk keatas, dia tersenyum!</p>



<p>&#8220;Heh! Liat, lu terlalu protective, over protective. Bahkan buat sosoknya yang gak ada diantara kita sekarang.</p>



<p>Permainan psikologi… lu kalah, lu buka kartu lu sendiri.&#8221; Ucapnya berbeda dari nada biasanya, kalau tadi ia terlihat konyol, namun sekarang… seakan ia sedari tadi hanyalah melakukan penyamaran di depan muka ku. Iapun tak berusaha melepaskan genggamanku yang tengah meremas kerah bajunya.</p>



<p>&#8220;Lu salah! Gu-gue… gue gak seperti yang lu kira. Ma-mana mungkin gue…&#8221; perlahan namun pasti, intonasiku berubah. Akupun melepaskan genggaman tanganku.</p>



<p>Aku bukan berarti mengakuinya… hanya saja, aku benar-benar tidak tau.</p>



<p>&#8216;Kejadian pagi itu…&#8217;</p>



<p><em>Ughh.. Sebenarnya ada apa dengan diri gue!</em></p>



<p>Gerakan tangan Lace tiba-tiba membuatku kembali pada kenyataan. Ia mengangkat kedua tangannya seakan orang yang menyerah, lalu berkata</p>



<p>&#8220;Oke, gue nyatakan kalau gue salah. Bisa jadi karena ikatan yang terjalin antara elu dengan sepupu lu adalah suatu hal yang diluar dasar perkiraan gue.</p>



<p>Tapi disini gue cuma mau kasih satu clue yang bisa menandakan tuduhan gue ke elu bener atau enggak. Kalau suatu saat sepupu lu berpasangan sama orang lain, lihat kedalam diri lu sendiri…&#8221;</p>



<p>Tatapan matanya menandakan ia telah selesai bicara.</p>



<p>&#8220;Omong kosong, gue cuma gak mau Kak Ulfa dapet orang yang salah, terlebih orang kaya lu Lace. Selebihnya gue dan Kak Ulfa cuma sodara.&#8221; Seruku padanya, aku lalu mengenakkan armor ku, kemudian menggendong inventory ku.</p>



<p>&#8220;Eh? Lu mau kemana? Dokter disini galak lho, jangan asal cabut lu.&#8221; Ujarnya memperingatiku. Akupun hanya menatap keluar jendela, memandangi langit yang mulai petang.</p>



<p>&#8220;Cari angin.&#8221; seruku melontarkan jawaban.</p>



<p>&#8220;Eh?&#8221;</p>



<p>Akupun bergerak menuju pintu keluar, lalu menutupi kepalaku yang berbalut perban dengan tudung jaket ku.</p>



<p>&#8220;Oii Dzof, jangan-&#8220;</p>



<p>Srakk…</p>



<p>Aku langsung menutup pintu sebelum mendengar ia selesai bicara. Dan kini, aku berjalan menyusuri lorong, keluar dari rumah sakit ini. entah menuju kemana.</p>



<p>Drap.. drap.. drap…</p>



<p>.</p>



<p><strong>*Kamar pasien*</strong></p>



<p>Seorang berambut coklat caramel memandang langit-langit kamar yang ia tempati. Tersirat senyum diwajahnya. Kemudian ia bergumam,</p>



<p>&#8220;Heh, gak pernah gue ketemu maso sekaligus incest dalam satu orang, fufu… unik. Walau bagaimanapun, lu bakal jadi adek ipar gue fufufu…&#8221;</p>



<p>Kemudian</p>



<p>&#8220;Njirr.. E~ ukurannya E kapten…&#8221; ujarnya sambil meremas-remas bantal.</p>



<p><strong>.</strong></p>



<p><strong>*Bellato Central Town*</strong></p>



<p>&#8220;Ha-hatchu!&#8221; tiba-tiba aku bersin, mungkin udara yang mulai dingin karena menjelang malam. Akupun memalingkan pandanganku pada sinar Niger yang tersisa disebelah barat.</p>



<p>Aku kemudian menengok chronometerku.</p>



<p>&#8220;Hemm.. dah jam -:17.46:-&#8221; gumamku sambil terus berjalan.</p>



<p>Akupun melewati sebuah taman, dan kuputuskan untuk duduk dahulu disana sambil melihat anak-anak yang masih bermain, mereka sedang bermain bola sepak.</p>



<p>Tawa dan seru komando terdengar dari lisan kecil mereka, akupun teringat kalau dulu sering sekali memainkan permainan itu. Aku selalu menjadi back.</p>



<p>keeper? Striker? Gak, aku tak ahli sebenernya dalam bermain bola, makanya selalu jadi back.</p>



<p>Duk.. duk…</p>



<p>Si kulit bundar menggelinding kearah kakiku sampai akhirnya ia menabraknya. Disebrang sanapun terdengar teriakan bocah sambil melambai-lambai kearahku.</p>



<p>&#8220;Kak, oper bolanya kesini!&#8221;</p>



<p>Akupun menyiapkan kakiku untuk menendangnya</p>



<p>Dash!</p>



<p>&#8220;Pfftt.. hahaha! Tendangan apa tuh&#8221; maki mereka terpingkal-pingkal setelah aku menendang bola itu, tendanganku salah kodrat, melenceng, dan gak jauh.</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>Akupun bergerak dengan maksud memungut bola, bola itu menggelinding ketempat para anak perempuan sedang bermain terpisah dari anak laki-laki.</p>



<p>Saat aku menghampiri bola yang juga menghampiri para anak perempuan, disana nampaknya mereka sedang asik mengumpulkan bunga.</p>



<p>Aku tertegun, setelah melihat anak berambut pirang sedang memungut bunga yang warnanya sama persis dengan yang pernah kupetik.</p>



<p>&#8220;<em>Selamat ulang tahun Kak Ulfa.&#8221;</em></p>



<p>Suara itu terngiang dikepalaku begitu saja.</p>



<p>Kemudian aku tersadar karena seorang bocah laki-laki berteriak pada semuanya yang sedang bermain di taman ini.</p>



<p>&#8220;OII! Hari udah pengen malem, balik cepet balik, nanti dicariin bu panti!&#8221; serunya lantang, sedikit terdengar keluh kesah dari mereka kemudian. Namun mereka semuapun akhirnya pergi.</p>



<p>Akupun masih terbayang hari dimana aku memberikan bunga sebagai hadiah ulang tahun Kak Ulfa. Akupun kembali melihat chronometerku.</p>



<p>&#8220;Tanggal berapa sekarang?&#8221;</p>



<p>-:11 July:-</p>



<p>&#8220;Besok, 12 july, ulang tahun Kak Ulfa.&#8221; Gumamku sambil memandangi mereka yang tengah berjalan pulang.</p>



<p>Akupun ikut melangkahkan kaki pulang menuju ke rumahku.</p>



<p>.</p>



<p>Dijalan menuju rumah, aku masih memikirkan apa yang akan kuberikan kepadanya. Akupun melihat-lihat kios, lalu pandanganku berhenti di salah satu toko.</p>



<p>&#8220;Ya, gue rasa itu adalah pilihan yang tepat.&#8221; Ucapku bermonolog sambil berjalan menuju toko disebrang sana.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Terimakasih, semoga pasangan anda menyukainya.&#8221; Seru petugas toko setelah membungkus pesanan dan menyerahkannya padaku.</p>



<p>Mukakupun memerah, &#8220;Sebenernya ini bukan buat pasanganku… tapi buat… emm… sudahlah lupakan.&#8221; Ucapku langsung pergi menuju pintu keluar tanpa menjabarkan apa maksudku sebenarnya.</p>



<p>JEGLERR!</p>



<p>Suara halilintar menggema dilangit yang sudah mulai gelap ini, tak berapa lama, rintik air dari atmosfer novus mulai berlomba mencapai daratan.</p>



<p>Zrashhh…</p>



<p>&#8220;…&#8221; aku kehabisan kata, sepertinya akhir-akhir ini takdir sedang mempermainkanku. Tanpa berlama-lama, aku betulkan kembali posisi jaketku, kemudian berpacu cepat menuju rumah.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Drap.. drap.. drap…</p>



<p>&#8220;Hah.. hah.. hah..&#8221;</p>



<p>Hanya engahan dari lisanku yang bisa kuucap, setelah berlari dan menaiki tangga hingga sampainya di depan pintu rumah ku. Akupun merogoh kantong celana, dan disitu aku mematung.</p>



<p>Srek.. srekk..</p>



<p>&#8220;Kunci.. rumah… dimana…&#8221;</p>



<p>Sekian menit menggerepeh-gerepeh diri sendiri, aku baru ringat. Pagi tadi aku tak membawanya, kunci rumah kutitip Kak Ulfa.</p>



<p>Akupun mencoba membuka pintu…</p>



<p>Ceklek…</p>



<p>&#8220;… Harusnya dah gue duga pintunya…</p>



<p>kebuka…&#8221;</p>



<p>&#8220;Bisa dibuka?!&#8221; ucapku heran. Namun aku juga bersyukur karena tak mesti menyusul ke mesh Kak Ulfa.</p>



<p>Akupun melepas sepatuku dan melangkah masuk.</p>



<p>&#8220;Aku pulang…&#8221;</p>



<p><em>Aneh, kok gak dikunci, rumah juga sepi…</em></p>



<p><em>Apa dibobol maling?!</em></p>



<p><em>Gak. Apanya yang mau dimalingin?</em></p>



<p>Saat aku melangkah memasuki ruang makan, kulihat disana…</p>



<p>&#8220;Kak Ulfa?&#8221; ucapku lirih, ia nampaknya tertidur di meja makan. Kualihkan pandangan ke meja, disana ada beberapa masakan.</p>



<p>&#8220;Hemm.. udah dingin..&#8221; ujarku pelan saat menyentuh sisi mangkuk.</p>



<p>&#8220;<em>Sudah hampir jam tujuh malam, sebaiknya aku bergegas mandi sebelum masuk angin.&#8221;&nbsp;</em>Batinku diikuti langkah menuju kamar mandi.</p>



<p>.</p>



<p>Zrashh…</p>



<p>Kubiarkan air dari shower membasahi tiap inci dari tubuhku. Dari ujung rambut, hingga ujung kaki, Membawa semua lelah dan penatku.</p>



<p>Rintik air dalam kamar mandi tak mau kalah dengan rintik diluar sana, saling beradu dan sahut seakan memiliki bahasa.</p>



<p>&#8220;Aghh…&#8221; erangku pelan. Kurasa luka di pelipis ini masih belum sepenuhnya sembuh.</p>



<p>Akupun mematikan kran shower dan mulai menyabuni sekujur tubuhku, termasuk muka ku.</p>



<p>Srakk…</p>



<p>&#8220;?!&#8221;</p>



<p>&#8220;H-hah!&#8221;</p>



<p>ZRAKK!</p>



<p>Pintu kamar mandi sepertinya dibuka dan kembali ditutup dengan keras saat aku tengah memejamkan mata ku, gawat! I-itu pasti…</p>



<p>&#8220;Dzofi! Kalau Mandi Pintunya Dikunci!&#8221; bentak Kak Ulfa dari luar sana.</p>



<p>Memang… sudah jadi tabiatku lupa mengunci kamar mandi. Akupun kembali melanjutkan mandiku.</p>



<p>.</p>



<p>Akupun selesai mandi dan berprilaku seakan tak terjadi apa-apa, nampaknya Kak Ulfa sedang menghangatkan masakan yang telah ia masak.</p>



<p>Aku kemudian duduk menghadap meja makan, Kemudian ia menaruh makanan yang ia hangatkan diatasnya.</p>



<p>Saat kuperhatikan wajahnya, merah mewarnai bagian mukanya yang putih. Ia sepertinya menahan malu, karena kejadian saat aku mandi?</p>



<p><em>Tar dulu! Ta-tadi pas Kak Ulfa ngeliat gue di dalem sana, posisi badan gue ngadep mana ya?</em></p>



<p><em>Ngadep pintu, iya ngadep pintu!</em></p>



<p><em>Ja-jadi Kak Ulfa sempet ngeliat si do&#8217;i?!</em></p>



<p>&#8220;Dah cepet kamu makan dulu&#8221; seru Kak Ulfa membuyarkan pergelutan batinku.</p>



<p>&#8220;A-ah, iya.&#8221; Seruku denga muka yang mulai memerah menahan malu.</p>



<p>Kami makan bersama, kesunyian yang cukup lama kami lalui, sampai dipertengahan makan, Kak Ulfa menghadapkan wajahnya padaku.</p>



<p>&#8220;Kenapa?&#8221; ucapku heran.</p>



<p>&#8220;Kepalamu, kenapa?&#8221; ucapnya sambil menujuk pelipis ku. Akupun menepis tangannya saai ia hendak menyibakkan rambut yang menutupi pelipisku.</p>



<p>&#8220;Gak kenapa-napa.&#8221; Ucapku berdusta, sepertinya aku memang belum bisa terbuka padanya. Belum bisa membiarkan dirinya khawatir terhadapku.</p>



<p>Grep!</p>



<p>&#8220;A-adaw..&#8221; ucapku kesakitan saat kepala ku dicengkram dengan tangan kirinya.</p>



<p>&#8220;Gak kenapa-napa?&#8221; tanyanya. Memandangiku bukan dengan tatapan khawatir seperti pada umumnya. Melainkan dengan tatapan tajam meminta pengakuan.</p>



<p>&#8220;O-oke, kepala ku luka gara-gara diserang Crawler pas lagi njalanin misi.&#8221; Ujarku sambil mengaduh.</p>



<p>Kemudian ia melepas genggamannya lalu melanjutkan makan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.</p>



<p>Ia selesai makan lebih dulu, Lalu pergi dari dapur. Sedangkan aku masih berurusan dangan makanan ku.</p>



<p>Sepertinya hujan diluar sana masih belum berhenti juga, namun sudah lebih reda dari sebelumnya.</p>



<p>Selesai ku menyantap makanan ku, Kak Ulfa tiba-tiba saja sudah berada disampingku, kemudian ia menundukkan posisinya agar sejajar dengan tinggiku yang sedang duduk.</p>



<p>&#8220;Gak peduli mau bagaimana kamu mencoba menyembunyikannya. Aku adalah salah satu orang yang selalu mengkhawatirkanmu…&#8221; ujarnya, lalu ia menempelkan plester tepat dibagian luka. &#8220;Karena kamu satu-satunya…&#8221; iapun tertegun, menghentikan kalimatnya bersamaan dengan pandangannya yang beralih dari menatapku.</p>



<p>&#8220;keluarga yang kumiliki.&#8221; Sambungnya kini kembali menatapku, Dengan senyuman.</p>



<p>&#8220;Jadi berhati-hatilah selalu, jangan ceroboh. Sepupu.&#8221; Kemudian ia menyudahinya dengan mencubit hidung ku.</p>



<p>&#8220;Aww..&#8221; kini hidung ku merah, bersamaan dengan muka ku karena dirinya yang terlalu dekat.</p>



<p>Tiba-tiba terdengar video call masuk melalui VirCellnya. Kak Ulfapun meng-accept sehingga muncul layar hologram, menunjukkan siapa yang telah menghubungi Kak Ulfa.</p>



<p>[&#8220;Hai Ulfa, kau sedang dimana?&#8221;] seru seorang lelaki berambut pirang.</p>



<p>&#8220;Ah! Kak Denny, aku lagi di mesh adik ku.&#8221; Jawabnya dengan ekspresi senang.</p>



<p>[&#8220;Oh, aku udah di lokasi, ayo sebentar lagi kita berangkat. Disana hujan &#8216;kan? Sebaiknya kamu bawa jaket, dan jangan sampai sakit. Dan sebaiknya cepatlah kesini, kamu gak mau liat Conquer Valkrit marah-marah kan?&#8221;]</p>



<p>&#8220;Ahaha.. siap siap, tenang aja Kak, aku otw kesana. Sampai ketemu di lokasi. Bye.&#8221; Ucap Kak Ulfa melambai kearah pria pirang itu.</p>



<p>[&#8220;Bye-&#8220;]…</p>



<p>Setelah Kak Ulfa menyudahi video call, aku bertanya padanya. &#8220;Tadi siapa Kak?&#8221;</p>



<p>&#8220;Tadi itu Kak Denny, dia Senior ku. Kita satu tim buat pengawasan sector Solus malam ini.&#8221;</p>



<p>Setelah menjawab pertanyaanku, Kemudian ia berdiri, lalu mengambil peralatan dan jaket miliknya.</p>



<p>&#8220;Kakak-&#8221; seruku padanya. Sebelum ia melangkah melewati hujan.</p>



<p>&#8220;Ada apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Engg… Hati-hati.&#8221; Sambungku menyelesaikan kalimat.</p>



<p>Iapun hanya tersenyum, lalu melambaikan tangan kearahku seraya berkata &#8220;Bye~&#8221; Perlahan, tubuhnya hilang ditelan malam beratapkan hujan.</p>



<p>Akupun kembali kedalam. merapihkan sisa makan malam, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya yang harus ku kerjakan sendiri. setelahnya kurebahkan tubuhku di atas kasur.</p>



<p>Kulihat chronometer ku, waktu menunjukkan pukul -:22.02:- harusnya aku sudah sangat lelah hari ini, mengingat banyak, sangat banyak kejadian dan pristiwa yang kulalui hanya dalam waktu satu hari.</p>



<p>namun, seakan fikiranku tak sinkron dengan raga. Sesuatu dalam diriku berkelut, bukan, bukan aku yang sengaja memikirkannya, melainkan hal itu melintas dan bersinggah begitu saja dalam fikiran ku.</p>



<p>Aku teringat Kak Ulfa. Kembali, fikiran ku membuka &#8216;file-file&#8217; dalam memori yang menunjukkan keberadaannya dalam momen-momen yang pernah kulalui.</p>



<p>Akupun melirik hadiah yang telah kubelikan untuknya, kemudian kuteringat lanjutan dari mimpiku, atau lebih tepatnya masa laluku.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Ia sangat senang saat menerima bunga pemberianku. Iapun mencoba mencium aroma bunga yang kuberikan untuknya.</p>



<p>Aku tidak terlalu yakin bunga itu wangi seperti mawar atau apa, namun yang kutahu, ia sangat senang setelahnya. Kakekpun datang bersama minuman yang kuminta.</p>



<p>&#8220;Wah, selamat ulang tahun ya Ulfa…&#8221; ucap kakek sambil mengelus kepala berambut coklat miliknya. &#8220;Udah bilang terimakasih belum sama Dzofi?&#8221; sambung kakek.</p>



<p>&#8220;Ah iya…&#8221; iapun berpaling kearahku, kemudian…</p>



<p>Cup~</p>



<p>&#8220;Makasih ya Dzofi.. hihi…&#8221; ujarnya setelah mencium pipiku.</p>



<p><em>Aku masih ingat, pipi sebelah kanan ini yang ia cium saat itu. Akupun mengelus kembali letaknya.</em></p>



<p>Setelah itu, kakek mengizinkan Kak Ulfa menemaniku sepanjang hari di dalam kamar. Sore harinya kakek pulang dengan membawa kue berukuran sedang yang bisa kami makan bertiga. Kami memang bukan orang kaya, ulang tahunpun tak pernah dirayakan sampai mengundang banyak orang. Namun saat itu benar-benar hangat, sangat hangat…</p>



<p>Layaknya sebuah keluarga yang sesungguhnya…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Kenangan masa laluku saat perlahan redup, aku kembali pada kenyataan, menatap langit-langit kamar berwarna krem. Kini ku meraih hadiah yang sudah kupersiapkan untuknya. Sambil membayangkan wajahnya…</p>



<p>Saat menerimanya nanti…</p>



<p><em>Sial!</em></p>



<p>Umpatku dalam batin. Aku memang membayangkan Kak Ulfa senang, namun bukan karena ini, melainkan karena…</p>



<p>&#8216;<em>Tadi itu Kak Denny, dia Senior ku. Kita satu tim buat pengawasan sector Solus malam ini&#8217;</em></p>



<p>Aku terbayang lelaki pirang itu! Ekspresi Kak Ulfa…</p>



<p>Sangat senang saat itu.</p>



<p>Tanpa kusadari, aku mencengkram hadiah yang tengah kugenggam dengan keras, hamir saja menghancurkan kotaknya.</p>



<p>&#8220;Huh! Mendingan gue tidur!&#8221; ucapku kesal, lalu mematikan lampu.</p>



<p>Pek..</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Senyap, gelap, dan hanya terdengar suara desahan nafasku. Entah sudah berapa lama aku menatap kegelapan dalam ruangan ini. Aku berusaha untuk tidur, namun sesuatu dalam diriku tidak.</p>



<p>Fikiranku seakan sibuk memikirkan kaitan Kak Ulfa dengan pria pirang yang bernama Denny itu. Siapapun tau, saat kau melihat ia tengah bicara melalui video call dengan orang asing itu, kau pasti mengira mereka berdua..</p>



<p>&#8220;Enggak! Gue gak peduli! Gue ini cuma-&#8220;</p>



<p>&#8216;<em>Jadi berhati-hatilah selalu, jangan ceroboh. Sepupu.&#8217;</em></p>



<p>&#8220;-sepupu… ceroboh…&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak lebih…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>#</strong></p>



<p>Gulita semakin pekat, namun tangis dari sang langit masih belum berhenti. Rintik air seakan membuat orkesta bagi yang mengerti, tentu hanya alamlah yang faham.</p>



<p>Drap.. drap.. drap..</p>



<p>Langkah lari seseorang tengah menghindari hujan. Tak berapa lama sosok itu terpapar serambi lampu jalanan.</p>



<p>Ah! Ternyata bukan seorang, melainkan sepasang, gadis dan lelaki. Sang lelaki tampaknya tengah menaungi gadis itu dengan jaketnya.</p>



<p>Drap drap drap…</p>



<p>Dipersimpangan. Mereka berdua berhenti. Sang lelaki berambut pirang masih setia menjadi naungan bagi si gadis yang mengkuncir rambutnya layaknya ekor kuda.</p>



<p>&#8220;Sampai disini saja Kak, terimakasih udah mau nganterin aku.&#8221; Ujar si gadis.</p>



<p>&#8220;Haha.. no problem, kita emang searah kok.&#8221;</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>&#8220;…&#8221;</p>



<p>Sejenak, tak ada sepatah kata yang keluar dari kedua insan itu setelahnya.</p>



<p>&#8220;engg… kalau begitu… aku pergi sekarang.&#8221; Ucap si gadis entah apa yang membuat ia bicara seperti itu, mungkin ia merasa sedikit canggung. Mengingat ditengah malam yang hujan, seakan hanya mereka berdua yang memiliki.</p>



<p>&#8220;U-Ulfa!&#8221; seru lelaki berambut pirang. Gadis yang dipanggil Ulfapun menolah.</p>



<p>Iapun menggerakkan tangannya untuk menyentuh bahu si gadis. Perlahan jemarinya memainkan ujung rambut ekor kuda miliknya.</p>



<p>Si priapun menyadari apa yang ia telah perbuat saat si gadis menatapnya.</p>



<p>&#8220;Hati-hati…&#8221; ujarnya sambil menarik tangannya agar tak menyentuh gadis di depannya lebih jauh.</p>



<p>Tanpa sepatah kata, perlahan mereka berdua menggerakkan kaki mereka, bergerak mundur…</p>



<p>Tap.. tap..</p>



<p>Lalu berjalas menghadap kearah yang seharusnya</p>



<p>Tap.. tap.. tap…</p>



<p>ditengah lelaki melangkah, ia kemudian berpaling melihat sisi belakang, ia pandangi terus sosok disana sampai kegelapan menelan sosoknya.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Ceklek…</p>



<p>Ulfa melangkahkan kaki memasuki meshnya. Bagian tertentu tubuhnya basah oleh air hujan, nampak bila diperhatikan, bagian yang condong kedepan itu ketara.</p>



<p>Dengan telapak kaki yang tak kering sepenuhnya, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Terlihat jejak air yang dibuatnya saat ia melangkah kesana.</p>



<p>Pip!</p>



<p>Ia tekan tombol pemanas air di dalam kamar mandi. Butuh waktu sampai ia bisa menikmati mandi air hangat. Iapun menanggalkan tiap helai pakaiannya, satu demi satu, hingga ia tak tertutupi sehelai benangpun.</p>



<p>Kini ia berjalan tanpa busana keluar kamar mandi. Tak perlu khawatir, karena tak ada seorangpun selain dirinya. Sosoknyapun terrefleksi cermin yang ia lalui. Bila ada seseorang yang menyaksikan, cukuplah dengan cermin itu yang ia perhatikan. Niscaya darah berdesir, dan bagian tertentu menegang…</p>



<p>Iapun memasuki dapur, lalu menyiapkan alat dan bahan untuk membuat coklat panas. Setelah persiapan selesai, ia pergi keruangan lain untuk mempersiapkan baju yang akan ia kenakkan, juga handuk berwarna putih untuk mengeringkan tubuh setelah mandi.</p>



<p>Tap.. tap.. tap..</p>



<p>Ia berjalan kembali ke kamar mandi, ia buka kran shower, lalu ia biarkan air mengalir melewati tiap liku tubuhnya.</p>



<p>Zrashhh…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Tess.. tes…</p>



<p>Suara tetesan air menggema dalam ruangan tertutup itu, perlahan ia ambil handuk, lalu ia keringkan rambut coklatnya, kemudian tubuhnya. Iapun kini beranjak keluar untuk melakukan hal yang ia telah rencanakan sebelumnya.</p>



<p>Ting-tong!</p>



<p>Suara bel terdengar, tanda seseorang ada ingin bertemu dengannya. Ia yang tengah menyeduh coklat panas menghentikan seruputannya.</p>



<p>&#8220;Siapa yang datang tengah malam begini?&#8221; ujarnya bermonolog sambil melihat kearah chronometer digital yang tak jauh dari posisinya. -:01.14:-</p>



<p>Iapun teringat cerita horror dari seniornya ; Denny, saat menjaga sector solus tadi malam. Ulfa bukanlah wanita penakut, namun siapapun juga pasti bergidik ngeri saat pukul satu dini hari ada seseorang yang memencet bel rumahmu.</p>



<p>Sempat di dalam dada Ulfa jantung berdebar. Namun sebisa mungkin ia tepis fikiran negative maupun cerita yang ia tak sengaja ingat itu.</p>



<p>Ting-tong!</p>



<p>Bel kembali ditekan, Ulfapun menarik nafas panjang, lalu melangkah menuju pintu.</p>



<p>Krieett…</p>



<p>Iapun membuka pintu.</p>



<p>Ulfa tertegun, mendapati sosok dihadapannya.</p>



<p>Seseorang dengan jaket bertudung yang basah akibat langit yang masih meneteskan rintik-rintik hujan.</p>



<p><em>S-siapa?</em></p>



<p>Batin Ulfa penuh tanda Tanya.</p>



<p>&#8220;… Selamat ulang tahun…&#8221;</p>



<p>Ucap sosok itu sambil menggerakkan tangannya kearah Ulfa.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>To Be Continue…</strong></p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center"><em>  &#8220;Penghematan adalah nafasku.&#8221;<br>-Dzofi and Ryan&#8217;s Motto- </em></td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 19 END.</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 20:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-20/</a><br>Previous Chapter > Read Chapter 18:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-18/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-18/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Catatan Author:<br><br>JFI WIKI/Trivia :<br>Mandi menggunakan shower bisa menghemat air hingga 60%, ini bisa jadi solusi buat Senior yang lagi bolak-balik nimba aer. Atau enggak mandi dengan gayung, tapi diguyurnya jangan langsung tumpahin semua, sedikit aja (tapi gak terlalu sedikit banget.)</p>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 19 &#8211; THE DAY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
		<item>
		<title>JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 18 &#8211; BLUE SKY</title>
		<link>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-18/</link>
				<comments>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-18/#respond</comments>
				<pubDate>Thu, 19 Mar 2020 09:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pejuangnovus]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[FANFICTION]]></category>
		<category><![CDATA[STORY]]></category>
		<category><![CDATA[JFI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.pejuangnovus.com/?p=1711</guid>
				<description><![CDATA[<p>Journey For Identity Penulis: Bid&#8217;ah Slayer &#8220;Aku disini pulang buat apa? aku mengambil cuti untuk...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-18/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 18 &#8211; BLUE SKY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></description>
								<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><em>Journey For Identity <br>Penulis: Bid&#8217;ah Slayer</em></strong> </p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container">
<p>&#8220;Tikungan!&#8221; ucapku entah mengapa merasa sangat bersyukur di tengah ributnya raungan monster yang tengah marah. Aku merasa tikungan itu adalah kunci kemenanganku agar bisa lolos, soal bagaimana caranya, biar itu kupikirkan nanti.</p>



<p>Drap.. Drap.. Drap…</p>



<p>Sepuluh detik kemudian aku tepat di depan jalan berkelok kanan itu, kurasa lebar jalan yang sedang kulalui ini tidak terlalu luas, lebarnya hanya satu setengah si Cloned Thunder Lizard itu, jadi pastinya kalau aku menjadi dia, aku tidak akan terlalu gegabah dalam melangkah.</p>



<p>Syut…</p>



<p>Jress… trak.. trak..</p>



<p>Suara bebatuan jatuh, menuju lembah di bawah sana.</p>



<p>&#8220;Hah! Ja-jalan buntu!&#8221; ucapku dengan spontan menghentikan langkah, memandangi berapa tingginya tempatku berpijak saat kulihat dasar permukaan tanah sana terasa cukup jauh.</p>



<p>Dengan keringat bercucuran, ritme jantung yang cepat dan nafas tak beraturan. Aku berusaha menelan ludah, walau tenggorokanku sangat kering. Tak hentinya aku memandangi tempatku berdiri, walau pendengaranku tidaklah tuli, aku masih bisa mendengar dengan jelas langkah monster itu kian detik kian mendekat.</p>



<p>&#8220;Huhh… Hah…&#8221; aku mencoba menghembuskan nafas, agar rileks atau lebih tepatnya menipu diriku sendiri. Aku berbalik arah, berpaling ke jalan yang mungkin untuk terakhir kalinya aku melihat sesuatu yang marah kepadaku.</p>



<p>&#8220;Gak! Gue gak boleh nyerah! Gue gak akan mati dengan cara seperti ini!&#8221; ujarku lantang pada diriku sendiri. Ku keluarkan senjata ku, Stout Gun dan Sosun Patta. Kupegang dengan erat sampai-sampai gagang yang sedang kugenggam menjadi slip akibat tanganku yang berkeringat.</p>



<p><strong>Jdum</strong></p>



<p><strong>Jdum..</strong></p>



<p><strong>Jdum…</strong></p>



<p>Trangg…</p>



<p>Tangan ku bergetar, senjata yang kupegang terlepas karenanya. Akupun hanya bisa memandangi kedua tanganku.</p>



<p>&#8220;Kenapa… kenapa disaat seperti ini tubuh gue… kenapa.&#8221;</p>



<p>Aku sadar, akal rasionalku jelas menolak semua tipuan yang berusaha aku berikan, situasi yang sedang berada di depanku bukanlah sebuah scane film layar lebar, yang mana pemeran utama selalu bisa selamat menghadapi rintangan apapun.</p>



<p>Semakin dekat takdir itu, dengan sendirinya kakiku melangkah mundur. Takut akan ending yang sudah jelas bagaimana itu akan terjadi.</p>



<p><strong>GHRROAA… RRR… RRR…</strong></p>



<p>Raungan yang diikuti langkah beratnya membuat bumi yang kupijak ini bergetar, aku tidak bisa menjelaskan bagaimana keadaanku sekarang, selain tubuh yang seakan tak bisa kukendalikan. Mungkin yang terjadi pada tubuhku sekarang adalah situasi terburuk. Raga yang tak mengikuti perintah tuannya.</p>



<p>Saat titik dimana aku mampu mendengar dengan jelas suara nafasnya. Aku sadar…</p>



<p>Kematian…</p>



<p>Dia datang…</p>



<p>.</p>



<p>Jress…</p>



<p>Untuk pesekian detik, aku masih belum menyadari suara apa itu, sampai…</p>



<p>Tubuh ku kehilangan keseimbangan…</p>



<p>Seakan tubuh ku melayang untuk sesaat&#8230;</p>



<p>Aku tak bisa merasakan lagi tanah untuk kupijak…</p>



<p><strong>Grep!</strong></p>



<p>trakk.. trak..</p>



<p>tangan ku, dengan sigap seakan gerak reflex, mereka berdua langsung mengcengkram bumi yang bisa digapai sebelum tubuh ku terhempas kedasar lembah. Sekarang posisiku sungguh serba sulit, dengan tubuhku yang &#8216;tergantung&#8217;. Aku tak bisa berbuat apa-apa.</p>



<p>Langkah monster itu tak berhenti, tiap langkah yang mendekat, membuat beberapa kerikil dari tempatku mencengkram berguguran. Walau kini langkahnya melambat, Hanya masalah waktu sampai ia berhasil menemukanku. cepat atau lambat.</p>



<p>&#8220;Si-sial… ke-kenapa jadi begini.&#8221; Makiku, entah aku harus bagaimana, namun kurasa umpatan dalah kata yang tepat untuk saat ini.</p>



<p>Nafas dari makhluk berdarah dingin itu semakin mendekat, aku tak berani untuk menatap ke atas maupun ke bawah. Yang bisa kulakukan adalah memejamkan mata, sekuat tenaga.</p>



<p><strong>Hrrrr… Hrrr…</strong></p>



<p>Aku tau dia di atas sana, dia sangat dekat, mungkin sedang menatapku. Namun aku lebih memilih kegelapan yang kuciptakan, yang kutatap saat ini. Karena untuk saat ini, kegelapan terasa jauh lebih bersahabat daripada kenyataan.</p>



<p><strong>.</strong></p>



<p><strong>.</strong></p>



<p><strong>.</strong></p>



<p><strong>/</strong></p>



<p><em>Aku ingat, hari itu…</em></p>



<p><em>Musim gugur, 13 tahun yang lalu…</em></p>



<p>&#8220;Permisi, Selamat Pagi!&#8221; seru seorang wanita. Kalau tak salah, saat itu pagi jam 10, saat aku dan Kak Ulfa masih asik menonton kartun pagi.</p>



<p>Akupun menghampiri pintu, mengintip terlebih dahulu siapa dibalik sana.</p>



<p><em>Kakak perempuan? Siapa?</em></p>



<p>Akupun membukakan pintu. Lalu bertanya.</p>



<p>&#8220;Ada perlu apa Kak?&#8221; ucaku pada perempuan berambut lavender terurai.</p>



<p>&#8220;Paman Yosuro ada?&#8221;</p>



<p>&#8220;Paman? Eumm.. Ada, kupangilin sebentar ya.&#8221; Jawabku, lalu berlari kearah kebun belakang.</p>



<p>Drap.. drap.. drap..</p>



<p>Ditengah kuberlari, Kak Ulfa bertanya.</p>



<p>&#8220;Siapa?&#8221; sambil mendongakkan wajahnya menengok kearah pintu masuk.</p>



<p>&#8220;Gak tau.&#8221; jawabku seraya melanjutkan lariku.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Kek, ada yang nyariin.&#8221; Ucapku padanya yang sedang melakukan pekerjaan kebun.</p>



<p>&#8220;Siapa Dzof?&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak tau, Kakak perempuan, rambutnya warna ungu muda. Dia nyariin kakek, tapi mengilnya paman&#8221; Jawabku memberi penjabaran sederhana.</p>



<p>&#8220;Perempuan… oh, iya-iya. Suruh dia masuk.&#8221; Ucap kakek, iapun berdiri dari posisinya dan membersihkan tubuhnya alakadarnya.</p>



<p>Aku kembali berlari menghampiri Kakak yang menunggu di depan pintu masuk.</p>



<p>&#8220;Kak, kata kakek silahkan masuk. Selamat datang.&#8221; Ucapku diikuti salam dan membungkukkan badan.</p>



<p>&#8220;Haha… kamu pinter, kamu Baydzofi &#8216;kan?&#8221; ujarnya memujiku, kemudian menebak namaku.</p>



<p>&#8220;Eh? Kok Kakak tau? Kita kenal?&#8221; ucapku dengan tampang polos.</p>



<p>&#8220;Kenal dong, kamu yang gak inget.&#8221; Jawabnya dengan memberi senyum padaku.</p>



<p>Tak berapa lama kakek datang, nampaknya ia habis mencuci tangannya sebelum bertemu tamu yang tak kukenal namanya.</p>



<p>&#8220;Ohh.. Amethyst, kapan kau datang?&#8221; ucap kakek menyebut nama perempuan itu, lalu memeluknya. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya kakek sangat senang, aku tidak pernah melihat kakek sesenang ini, melainkan saat aku bertemu kekek untuk pertama kalinya. Ya, muka itu sama seperti saat itu.</p>



<p>&#8220;Kau mau minum apa?&#8221; tawar kakek memberi suguhan.</p>



<p>&#8220;Ah, tidak usah Paman, merepotkan.&#8221; Tolak Kakak perempuan itu.</p>



<p>&#8220;Hush, tamu itu harus dikasih suguhan. Gimana kalau teh sakura? Aku suka teh itu.&#8221; Ucap kakek, lalu ia pergi ke dapur. Biasanya kalau ada tamu, Kak Ulfa akan ikut membantu kakek membuat minuman.</p>



<p>Aku hanya berdiri, memandangi muka orang asing dihadapanku. Aku masih belum mengerti apa maksud dari perkataannya yang mengatakan kalau aku lupa, seingatku aku tak pernah bertemu dia.</p>



<p>&#8220;Umur mu berapa? Udah kelas berapa? Dan aku harus memanggilmu apa Baydzofi? Tanya Kakak itu.</p>



<p>&#8220;Umurku enam tahun, aku kelas satu. Kakak bisa mangil aku Dzofi.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ohh Dzofi, kelas satu ya? Kamu memang mirip ayahmu ya.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ay-ayah? Kakak kenal ayahku?&#8221; tanyaku padanya. Serasa sebuah mukjizat atau semacamnya, karena aku sudah lama tidak bertemu orangtuaku. Sejak sore hari dimana mereka berdua mendapatkan panggilan mendadak.</p>



<p>&#8220;Uhmm… kenal&#8221; jawabnya. Kemudia ia memalingakan mata ungunya, tidak menatapku lagi.</p>



<p>&#8220;Ayah, sekarang lagi ngapain Kak?&#8221; tanyaku layaknya bocah seumuranku yang penasaran.</p>



<p>&#8220;Ayahmu…&#8221; sempat agak lama ia menjawabnya, namun ia melanjutkan &#8220;Ayahmu lagi jalanin misi rahasia.&#8221;</p>



<p>&#8220;Sama ibu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Iya… sama ibu.&#8221;</p>



<p>Seketika, bibir ku menekuk keatas, tersenyum yakin dan senang atas jawaban yang kuperoleh saat itu, Selang percakapan singkat kami, kakek datang bersama Kak Ulfa yang membawakan makanan kecil untuk tamu.</p>



<p>&#8220;Oh.. kalian lagi ngobrol ya? Dzofi, kamu kok senyum-senyum sendiri. kenal sama dia gak?&#8221; seru kakek padaku.</p>



<p>&#8220;Enggak kek, Kakak ini siapa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Dia itu anak dari saudara kakek, dia bibi mu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Paman Yosuro! Aku gak pantes jadi bibi-bibi tau. Aku &#8216;kan masih muda.&#8221; Timpal Kakak perempuan itu.</p>



<p>&#8220;Hahaha… terus apa, emang panggilannya bibi &#8216;kan? Bibi Amethyst&#8221; seru kakek sambil meminum teh kesukaannya.</p>



<p>&#8220;Bay de way, Kamu udah punya pacar belum?&#8221; Tanya kakek diikuti tawa khasnya.</p>



<p>Nampaknya Kakak yang menjadi bibiku tidak menjawab, ia meunjukkan raut kesal seperti saat Kak Ulfa kesal padaku. Lalu meminum teh yang disajikan untuknya.</p>



<p>Dia menggeleng ditengah menggenggam cangkir teh.</p>



<p>Hahaha…</p>



<p>Tawa kakek terdengar, aku dan Kak Ulfa saat itu tidak memahami kenapa kakek tertawa sedangkan bibi kesal.</p>



<p>Selanjutnya, percakapan hanya diisi obrolan nostalgia dan pertanyaan penasaran kakek pada keponakannya. Tidak bisa kuingat semua apa yang mereka bicarakan, sampai pada satu pertanyaan yang terus ku ingat sampai saat ini.</p>



<p>&#8220;Gimana kabar Rays dan Fath? Apa mereka baik-baik saja?&#8221;</p>



<p>Bibi nampak tidak langsung menjawab pertanyaan kakek. Matanya tertuju pada kakek, kemudian berpaling kepada aku dan Kak Ulfa.</p>



<p>Saat itu aku masih tidak faham, bagaimana kakek dan bibi bisa faham. Kemudian kakek menyuruhku dan Kak Ulfa untuk kembali menonton kartun pagi.</p>



<p>Ditengah langkah kami menuju ruang tv, aku mendengar…</p>



<p>&#8220;Eng… Paman, Paman dipanggil pihak militer, ada keperluan dan sesuatu yang perlu dibahas disana…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>Tidak berapa lama, kakek masuk ke kamarnya, lalu beberapa menit setelahnya kakek mengenakkan baju rapih. Baju berlapiskan jas. Ia juga memakai minyak rambut yang aromanya sungguh menunjukkan ciri khasnya.</p>



<p>&#8220;kakek mau pergi? Kemana?&#8221; tanyaku.</p>



<p>&#8220;Iya, kakek ada perlu. Kamu sama Kak Ulfa jaga rumah ya. Di meja makan ada kue bawaan bibi mu, makan saja kalau lapar, jangan tunggu kakek ya.&#8221;</p>



<p>Aku hanya mengangguk, menatap matanya yang beratapkan alis yang telah memutih. Kak Ulfa juga tak banyak bicara saat itu. Kemudian kakek mengusap kepala kami.</p>



<p>&#8220;Jangan nakal ya.&#8221; Ucap kakek sebelum bangkit dan pergi.</p>



<p>Aku, yang saat itu tidak mengerti apa-apa, hanya bisa merasakan satu hal. Tatapan mata kakek, tidak seperti biasanya.</p>



<p>.</p>



<p><em>Sore hari, angin musim gugur memainkan perannya…</em></p>



<p><em>membawa mereka yang menguning pergi dari tempat pertama kali mereka menapak, kesuatu tempat yang baru… yang lebih baik…</em></p>



<p>tidak seperti biasanya, hari sudah cukup sore, tetapi kakek juga belum pulang.</p>



<p>Aku yang saat itu masih kecil tidak tau harus menghubungi kakek. Begitupun Kak Ulfa, kamu berdua haya menunggu, kepulangan kakek. Menungu.</p>



<p>.</p>



<p>Ceklek…</p>



<p>Pintu rumah ada yang membuka, kami harap itu adalah kakek, dan saat kami melihatnya…</p>



<p>&#8220;Kakekk…&#8221; ucapku dan Kak Ulfa seperti biasa. Berlari, berlomba siapa yang tercepat yang bisa digendong olehnya lebih dulu.</p>



<p>&#8220;Kakek, kakek dari mana?&#8221; Tanya Kak Ulfa. Akupun menanti jawabnya.</p>



<p>Kakek tidak menjawab, membuat kami berdua bingung.</p>



<p>Kemudian, kakek berlutut…</p>



<p>Lalu memeluk kami berdua…</p>



<p>Erat…</p>



<p>.</p>



<p><em>Terdengar, suara layaknya suara tangis yang berusaha ia tahan di dalam tubuhnya yang telah senja. Sekuat tenaga tak menunjukkan pada kami, namun ia tetap tak sanggup, karena…</em></p>



<p>&#8220;Maafkan kakek… Ulfa, Dzofi…&#8221; ucapnya tetap membenamkan mukanya pada pundak mungil kami saat itu.</p>



<p>&#8220;Kakek kenapa minta maaf? Kakek kan gak salah.&#8221; Ucap Kak Ulfa.</p>



<p>Namun kembali, hanya ucapan maaf bernada seperti orang yang tengah menahan beban berat dari dalam dirinya yang keluar dari lisannya, kelu.</p>



<p>Aku saat itu mulai merasa suasana yang tidak enak, melihat apa yang terjadi pada kakek. Aku seakan mengerti, tapi tidak tau apa itu. Kulihat mata Kak Ulfa, ia mulai berkaca-kaca.</p>



<p>&#8220;Kek, ada apa? Kenapa minta maaf?&#8221; ucap Kak Ulfa dengan nada sedih.</p>



<p>Dengan mulut yang bergetar, mata yang mulai basah, kakek mangatakan…</p>



<p>&#8220;Orang tua kalian… meninggal…&#8221;</p>



<p>Kosa kata yang sulit kumengerti saat itu, namun aku tau, kata itu mengartikan aku tak akan bisa bertemu kedua orangtua ku.</p>



<p>Kakek kembali memeluk kami dengan erat. Kak Ulfa tak bisa menyembunyikan tangisnya, ia menangis dipundak kakek. Sedangkan aku…</p>



<p>&#8220;Enggak! Ayah ibu gak ninggalin Dzofi. Ayah sama ibu lagi ngerjain misi rahasia… bohong… ka-kakek… bohong…&#8221; tangisku saat itupun pecah. Aku hanya bisa berdiri, sembari air mata terus membasahi pipiku.</p>



<p>Akupun terus memanggil</p>



<p>&#8220;Ayahh… ibuu…&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ayah… Ibu..&#8221; ucap lisanku lirih mengingat kepergian mereka. Tak terasa, mataku yang sedang terpejam ini, dari sudutnya ikut mengeluarkan airmata, seperti 13 tahun yang lalu.</p>



<p><strong>GRAOOOO!</strong></p>



<p>Raungan keras diikuti langkah berat membuatku tersadar dari ingatan masa lalu.</p>



<p>Jress… trakk…</p>



<p>&#8220;AHH!&#8221;</p>



<p>Tanah tempat tangan kiriku mancengkram runtuh, dan kini hanya dengan tangan kananku aku bertahan. akupun mencoba sekuat tenaga agar tangan kiriku menggapai tempat untuk kucengkram, namun… semakin aku bergerak, aku merasakan ada retakan ditempat tangan kananku mencengkram.</p>



<p>kini hanya tangan kananku yang berusaha sekuat tenaga agar tubuh ku tak terhempas menemui dasar lembah.</p>



<p>Detik demi detik yang kulalui terasa sangat berarti, aku merasakan tanganku mulai keram, berkeringat, sakit layaknya disayat secara perlahan. Juga telapak kaki ku mulai terasa dingin. Hanya masalah waktu, sampai…</p>



<p>Jrass…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>/</p>



<p>&#8220;Dzofi… bangun nak, ayo bangkit.&#8221; Seru seorang wanita, suara itu… terdengar familiar… terdengar…</p>



<p>suara yang ku rindukan…</p>



<p>Aku di ruang putih antah berantah ini, mendongakkan mukaku kesumber suara. Melihat sosok yang bicara padaku, dengan posisi masih duduk memeluk kedua lutut ku.</p>



<p>Nampak wanita itu, berambut panjang berwarna biru langit, muda dan cantik.</p>



<p>&#8220;I-ibu? Kau ibu ku?&#8221; seruku meyakinkan.</p>



<p>Ia tak menjawab, hanya mengangguk dengan senyuman sambil mengarahkan tangannya kepadaku.</p>



<p>Akupun menerima tangannya, dan bangkit.</p>



<p>&#8220;Kamu udah besar… kamu udah lebih tinggi dari ibu sekarang.&#8221;</p>



<p>Tanpa menjawab perkatannya, aku langsung memeluknya. Erat.</p>



<p>&#8220;Bu, Dzofi kangen sama ibu… a-aku rindu bu…&#8221; ucapku sambil memebenamkan mukaku pada pundaknya.</p>



<p>Iapun membelai kepalaku sambil berkata…</p>



<p>&#8220;Maafkan ibu ya Nak, ibu tau kamu pasti sedih.&#8221;</p>



<p>Dengan isak tangis, aku berusaha mengucapkan keluh kesahku.</p>



<p>&#8220;Bu… aku.. aku ingat dimana hari itu terjadi… hari dimana aku sendirian. Gak punya siapa-siapa… lagi&#8221;</p>



<p>Tak henti-hentinya aku menumpahkan keluh kesahku padanya. Belasan tahun dalam hidupku, aku tak lagi melihat sosoknya, dan sekarang, ia tepat dihadapanku.</p>



<p>Setelah memakan beberapa saat, ibu berkata.</p>



<p>&#8220;Kamu gak sendirian. Kamu kehilangan, namun bukan berarti gak ada yang menggantikan. Ibu yakin, setelah peninggalan ibu, kakek memperlakukanmu dengan baik. kamu mempunyai teman-teman yang membantumu &#8216;kan?&#8221;</p>



<p>&#8220;I-iya…&#8221;</p>



<p>Kemudian ibu meletakkan kedua tangannya pada pipiku, agar pandanganku selaras dengan matanya.</p>



<p>&#8220;Dengar Dzofi, kamu anak ibu dan itu adalah pasti. Namun masa depanmu masih sebuah misteri. Teruslah berlari… hingga kita bisa bertemu di alam yang kekal nanti.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ma-maksud ibu… aku belum…&#8221;</p>



<p>&#8220;Belum&#8221; Potongnya. &#8220;Sudah, jangan nangis melulu. Kamu laki-laki &#8216;kan?&#8221; ujarnya seraya menyeka airmataku.</p>



<p>Dengan terisak, aku menjawab perkataannya. &#8220;I-iya… bu.&#8221;</p>



<p>&#8220;A-aku cuma, aku gak mau terpisah dari momen bahagia ini sekarang. Banyak yang mau aku bicarakan keibu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Dzofi, disana, teman-teman mu menantimu, mereka tengah berjuang untuk membantumu. Ibu mohon, jangan menyerah sekarang Dzofi. Tataplah langit, disana ibu akan selalu mengawasimu.&#8221; Ucapnya seraya menyudahi pelukanku.</p>



<p>&#8220;I-ibu… ibu…&#8221; seruku, karena, kini sosoknya perlahan menjauh.</p>



<p>Airmata begitu saja kembali membasahi jejak airmata sebelumnya, namun aku segera menyekanya walau itu tak membuatnya berhenti.</p>



<p>&#8220;I-ibu… Ayah…, bagaimana keadaan ayah bu?&#8221;</p>



<p>Sosoknya hanya tersenyum, seakan mengatakan sesuatu namun aku tak bisa mendengar apa yang ia ucapkan, iapun menghilang… bersama ruang hampa ini…</p>



<p>dan juga tubuhku…</p>



<p>/</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Pemandangan berubah menjadi menyilaukan, sampai aku sadar bila aku tengah terjatuh…</p>



<p><em>Tataplah langit…</em></p>



<p>Aku teringat kata itu, lalu aku mendongakkan wajahku keatas, bersama tanganku…</p>



<p>&#8220;<em>Aku melihatnya, Biru… langit…&#8221;</em>&nbsp;ucapku berbisik.</p>



<p>.</p>



<p>Grep!</p>



<p>.</p>



<p>Persekian detik saja terlambat, tangan yang sekarang menggenggam tanganku hanya akan menangkap angin.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Dzofi, Kau baik-baik saja?&#8221; &#8220;Dzofi, kau bisa mendengarku?&#8221; &#8220;Dzofi! Jangan khawatir, aku akan menolongmu&#8221;</p>



<p>Dalam benakku, hanya terngiang perkataan ibu ku, semua perkataannya benar… aku tidak boleh menyerah sekarang, teman-teman ku… masih ingin berjuang, masih ingin melangkah…</p>



<p>Bersamaku…</p>



<p>&#8220;Iya Sab, tolong… tolong aku.&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>Akhirnya, entah bagaimana, Sabila datang disaat yang sangat tepat. Aku berhasil diselamatkan olehnya. Aku masih tak miliki daya untuk berdiri, bicara padanya untuk menanyakan apa yang telah terjadi dan bagaimana ia berhasil kesinipun tidak.</p>



<p>&#8220;Ini Dzo, minumlah dulu.&#8221; Ucapnya seraya memberiku minuman. Akupun menerimanya.</p>



<p>&#8220;Te-terimakasih.&#8221; Jawabku terbata-bata.</p>



<p>&#8220;Iya.&#8221;</p>



<p>Iapun kini mengeluarkan saputangan miliknya, berwarna merah muda dengan motif bunga berwarna putih di tengahnya.</p>



<p>Tangannya bergerak, membersihkan muka ku.</p>



<p>Tidak banyak kata yang terucap setelah itu, sampai aku mengucapkannya kembali.</p>



<p>&#8220;Terimakasih Sab, te-terimakasih…&#8221; tak terasa, airmata kembali keluar dari ujung mataku, membuat aliran air di pipi.</p>



<p>&#8220;A-aku gak tau, kalau kamu gak datang, mu-mungkin aja aku…&#8221;</p>



<p>&#8220;Suttt…&#8221; ucapnya seraya mendaratkan telunjuk mungilnya dibibir ku. &#8220;Gak perlu ucapin kata itu. Aku bersyukur, aku bisa selamatin kamu. Aku senang bisa berguna, menolong orang yang kusa-&#8221; perkataannyapun berhenti tepat saat ia menyeka airmata dari pipi ku, tepat saat &#8216;biru langit&#8217; miliknya selaras dengan &#8216;brownies&#8217; milikku.</p>



<p>&#8220;Kusa?&#8221; ucapku mengulang kata yang tak kumengerti.</p>



<p>&#8220;Ku.. sang…&#8221; ucapnya. Bersamaan dengan itu, ia memalingkan pandangannya dari mata ku namun tangannya tetap membersihkan muka ku.</p>



<p>&#8220;O-ohh… maaf Sab, gara-gara aku, kamu jadi ngeladenin cowo cengeng kaya aku. Maaf karena udah biarin kamu ngeliat kondisiku kaya gini… harusnya aku gak boleh nangis di depan perempuan…&#8221; ujarku sembari menggerakkan tangan ku untuk menyeka airmata yang tersisa.</p>



<p>Namun Sabila menghentikan lajur tanganku, ia menggenggamnya bersamaan dengan saputangan miliknya.</p>



<p>&#8220;Enggak&#8221;</p>



<p>&#8220;Enggak apa-apa. kamu ini laki-laki, tapi kamu juga makhluk hidup yang berperasaan. Kita udah lama saling kenal, dan kamu selalu nunjukin kalau kamu itu selalu kuat dihadapanku Dzofi… aku ingin…&#8221; iapun menuntun tanganku dan tangannya, menyeka airmata yang tersisa.</p>



<p>&#8220;Lebih banyak melihat perasaanmu…&#8221;</p>



<p>Hembusan angin. Membuat beberapa helai rambut kami ikut bergerak mengikuti sang pembawa. Ikhlas menunjukkan arah. Menunjukkan ketulusan.</p>



<p>Aku bisa merasakannya, wanita dihadapanku ini… mengatakannya dengan tegas dari lubuk hatinya. Dengan tulus, sesuai apa yang benar-benar ia inginkan… hangat tangannya, mampu mengalahkan dingin tangan yang hampir bertemu dengan sang kematian.</p>



<p>Aku bersyurur, sangat bersyukur. Dirinya menjadi bagian, salah satu dari sekian sosok yang ikut melangkah bersamaku sampai detik ini.</p>



<p>Akupun ikut menggerakkan tangan ku yang lain untuk menggenggam tangannya. Aku tak mampu menatap matanya, aku hanya bisa memalingkan netra ku ketanah, lalu mengatakan…</p>



<p>&#8220;Baik Sab, a-aku gak akan jadi seperti itu lagi, aku… akan berusaha lebih terbuka, menunjukkan perasaanku, emosiku…&#8221;</p>



<p>&#8220;padamu…&#8221; ucapku terbata-bata.</p>



<p>Darah hangat seakan memenuhi kepala ku, sehingga daun telinga dan wajah ku memerah dibuatnya. Perlahan, kuangkat wajah ku untuk melihat reaksinya.</p>



<p>Dan saat melihatnya, kulihat mukanya yang memerah merona sambil tersenyum. Menunjukkan senyuman yang hanya ia peruntukkan padaku.</p>



<p>Akupun tersenyum sambil menggaruk belakang kepala ku yang tak gatal. Semuanya… terasa lebih baik.</p>



<p>&#8220;Dah selesai pacarannya?&#8221;.</p>



<p>Aku dan Sabila Shock, menyaksikan wujud seorang wanita yang tiba-tiba saja langsung muncul ditengah-tengah kami. Benar-benar shock, terkejut sampai tak mampu mengeluarkan reaksi kaget seperti pada umumnya.</p>



<p>&#8220;Kalian… kalian baik-baik aja &#8216;kan? Hoii?&#8221;</p>



<p>.</p>



<p>Butuh beberapa saat sampai kami tersadar dari ke-shock-an kami.</p>



<p>&#8220;Ka-Kak Istifa! ngapain Kakak ada disini?&#8221; seruku menyebut nama si sniper berambut hijau.</p>



<p>&#8220;Kamu ini! Yang nyelamatin kamu dari komodo raksasa itu aku tau!&#8221;</p>



<p>Tack!</p>



<p>Jawabnya seraya menyentil dahi ku.</p>



<p>&#8220;Gi-gimana caranya? Kakak bunuh Cloned Thunder Lizard itu?&#8221;</p>



<p>&#8220;Bunuh? Hah… itumah gak jaman. Kalo aku mau, aku bisa aja bunuh tuh kadal.&#8221; Ucapnya seraya bertolak pinggang.</p>



<p>&#8216;<em>Huh.. sombong…&#8217;</em>&nbsp;batinku sambil bersweetdrop.</p>



<p>&#8220;Bilang aja Kakak gak kuat bunuh tuh monster. Jadi Muslihat apa yang-&#8220;</p>



<p>Bletak!</p>



<p>&#8220;Aku belum selesai ngomong!&#8221;</p>



<p>Ia menepak kepala ku sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Akupun hanya bisa mengusap kepala ku. Sedangkan Sabila hanya menatapku khawatir.</p>



<p>&#8220;Karena kamu memaksa, oke, maka Kakak akan kasih tau caranya dan kronologi kenapa aku dan Sabila bisa sampai sini. Tapi kondisimu, udah bisa buat jalan?&#8221;</p>



<p>&#8220;Udah Kak.&#8221;</p>



<p>&#8220;jadi begini…&#8221; iapun memulai ceritanya. Sambil berjalan menuju Bellato outpost, aku dan Kak Istifa di belakang, sedangkan Sabila berada sekitar lima meter di depan. Mengawasi jalur yang kami lalui.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p><strong>/</strong></p>



<p>Jadi, sekitar jam 9an, Kakak waktu itu lagi bantuin Sabila berlatih…</p>



<p>&#8220;Captain, captain Istifa.&#8221; Seru seorang lelaki memanggilku secara formal. Akupun menoleh kesumber suara, memastikan suara yang kukenal.</p>



<p>&#8220;Ah, Major Olivier. Ada yang bisa saya bantu?&#8221; ujarku mengetahui kalau seniorku yang memanggil.</p>



<p>&#8220;Apa kau sedang dalam bertugas?&#8221;</p>



<p>&#8220;Tidak Royal. Aku hanya sedang melatih junior ku&#8221;</p>



<p>&#8220;Kalau begitu aku minta bantuanmu.&#8221;</p>



<p>Iapun menceritakan kronologi permasalahan, ia mengatakan kalau beberapa jam yang lalu federasi menunjuk tim yang terdiri dari tiga orang leutnant untuk mengamankan area kependudukan di wilayah bellato outpost, tujuannya adalah menghalau bangsa crawler yang mulai memenuhi wilayah itu, dan mengusir mereka. Namun sampai detik ini tidak ada laporan kalau utusan federasi sampai area tersebut.</p>



<p>Terlebih, portal kini sedang maintaince sehingga tak bisa digunakan untuk berpindah lokasi ke Bellato outpost, pastilah mereka menempuh jalan manual, entah lewat utara, goa atau selatan.</p>



<p>&#8220;Kalau boleh tau, siapa mereka bertiga, Major?&#8221; tanyaku pada pria berambut hitam.</p>



<p>&#8220;Mereka… prajurit baru… seperti prajurit yang sedang kau latih itu.&#8221; Ujarnya sambil menunjuk Sabila.</p>



<p>&#8220;Namanya Major&#8221;</p>



<p>&#8220;Umm…&#8221; ia berfikir sejenak, mencoba mengingat. &#8220;Kalau tidak salah, salah satunya satu clan dengan temanmu, si Ulfa.&#8221;</p>



<p>&#8220;Hardji?&#8221; celetukku memastikan. Pupil matanyapun melebar</p>



<p>&#8220;Baydzofi Hardji, anak yang tempo waktu menerima mendali itu &#8216;kan?&#8221; ucapku sebelum ia mengeluarkan kata-kata.</p>



<p>&#8220;Ah! Iya, dia salah satunya. Kau mengenalnya Captain?&#8221;</p>



<p>&#8220;Tentu saja Major. Aku mengenal anak itu, sangat baik.&#8221; Jawabku, iapun menyudahi percakapan ini, namun saat hendak memalingkan badannya, aku tahan bahunya.</p>



<p>&#8220;Major&#8221;</p>



<p>&#8220;Ada apa?&#8221;</p>



<p>&#8220;Apakah aku boleh menyertakan orang lain dalam tugas ini?&#8221;</p>



<p>&#8220;Silahkan Captain. Kau bebas mengajak orang lain dalam tugas.&#8221; Ujarnya seraya melangkahkan kaki.</p>



<p>&#8220;Terimakasih, Major.&#8221;</p>



<p>Akupun mengajak Sabila. sebelum melangkahkan kaki lebih jauh, untuk memilih jalan yang kemungkin kau dan teman-temanmu pilih, aku tanyakan pada Sabila.</p>



<p>&#8220;Kira-kira Dzofi lewat mana Sab?&#8221;</p>



<p>&#8220;Umm..&#8221; ia berfikir sejenak, memandangi sekitar, lebih tepatnya memandangi permukaan tanah. &#8220;Ku rasa mereka lewat sini Kak Istifa.&#8221; Jawabnya sambil menunjuk kearah lode falls.</p>



<p>&#8220;Kau yakin?&#8221; ujarku memastikan.</p>



<p>&#8220;Yap. Di depan sana ada jejak sepatu, bisa jadi itu milik Dzofi dan teman-temannya.&#8221;</p>



<p>Sambil menghembuskan nafas, akupun menuruti insting Sabila.</p>



<p>Kamipun berjalan menyusuri jejak sepatu milikmu, harusnya aku tak perlu meragukan Sabila saat itu, karena dia dari clan Rosseblood, yang terkenal akan kelihaian dalam berburu.</p>



<p>Sekitar belasan menit kami menyusuri jejakmu, dipersimpangan, Sabila mengatakan kalau ia menemukan jejak yang basah. Jarak waktunya tidak terlalu jauh, itu menandakan kau dan teman-temanmu tidaklah jauh. Aku dan Sabilapun mempercepat langkah kami.</p>



<p>Dari rute yang kau coba lewati, aku mulai memiliki prasangka, kau dan teman-temanmu benar-benar tidak tau apa yang kau hadapi. Maksudku, jalur lode falls adalah jalur berisikan monster-monster tingkat tinggi, sebut saja Cloned RHS (Red Haired Splinter), Cloned Blue Scaled Klan sampai serangga kecil yang sangat berbahaya. Biasanya prajurit elite tingkat tinggilah yang berburu makhluk-makhluk berbahaya itu untuk berlatih. Tapi kau, anak kemarin sore melewati jalur ini, kau pasti ingin bunuh diri atau kau benar-benar gila.</p>



<p>&#8220;Sab, sebaiknya kau kembali ke markas, sampai sini biar aku yang menjalani pencarian ini sendirian.&#8221; Ucarku padanya, karena aku tak mau terjadi hal buruk pada anak baru.</p>



<p>&#8220;Tidak Kak, aku juga ikut dalam pencarian ini.&#8221; Balasnya.</p>



<p>&#8220;Sabila Rosseblood, sebagai Senior mu, aku memerintahkan kau untuk menundurkan diri!&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku menolak untuk mengundirkan diri!&#8221;</p>



<p>Suasana di tengah naungan kanopipun terasa sedikit menegang, ia bersih keras untuk molak perintahku.</p>



<p>&#8220;Kenapa… kenapa Kakak memintaku mengundurkan diri saat ini? Bukankah Kakak yang tadi memintaku untuk bergabung dalam pencarian ini.&#8221; Ucapnya ditengah suasana, memecah keheningan sesaat.</p>



<p>&#8220;Itu.. itu karena zona ini terlalu berbahaya, aku tak bisa membiarkan prajurit baru sepertimu menerima resiko yang besar.&#8221; Jawabku padanya.</p>



<p>&#8220;Resiko? Apa karena daerah ini dipenuhi binatang buas, kak? Kalau itu Aku sudah tau.&#8221;</p>



<p>&#8220;Kau.. kau tau kalau wilayah ini dipenuhi binatang buas?&#8221; ucapku sedikit terkejut.</p>



<p>&#8220;Tentu, sedari tadi kita lalui jalur ini, ada beberapa bagian tubuh binatang yang asing yang tidak pernah kujumpai selama menyelesaikan misi. Ukurannyapun lebih besar. Jadi pastilah itu makhluk buas tingkat tinggi, aku bisa mengantisipasinya.&#8221; serunya dengan tatapan biru langit yang yakin.</p>



<p>&#8220;Aku tak mau mengatakan ini, tetapi… bisa saja kalau Dzofi… dan teman-temannya… mati…&#8221;</p>



<p>&#8220;Tidak! Aku yakin ia dan teman-temannya takkan mati semudah itu.&#8221; Elaknya sambil memalingkan tubuhnya dari hadapanku.</p>



<p>Beberapa detik terisi tanpa sepatah katapun, sampai…</p>



<p>&#8220;Dzofi… dia itu… temanku, aku tak bisa membiarkan hal buruk terjadi padanya, Kak. Aku… aku tau dia masih hidup. Karena, ia masih memiliki sesuatu yang harus ia lakukan.&#8221; Ucapnya dengan intonasi yang berbada dari sebelumnya.</p>



<p>Akupun melangkah mendekatinya, lalu menepuk pundaknya.</p>



<p>&#8220;Baiklah, kita pasti bisa menemukan mereka. Tetaplah pada keyakinanmu, Sab.&#8221; Seruku padanya, karena yang kurasakan, jauh di dalam dirinya, ia merasa khawatir, terlebih ia mengetahui bila jalur yang kau lalui adalah jalur yang berbahaya.</p>



<p>&#8220;Ya, terimakasih Kak Istifa.&#8221;</p>



<p>Setelahnya kami berlari, kuyakin, disetiap langkah kakinya, ia mendoakan keselamatanmu, agar segala hal buruk tidak terjadi padamu.</p>



<p>&#8220;Kak, disini ada jejak makhluk besar, mengikuti jejak mereka Kak.&#8221; Ujarnya sambil menunjuk suatu jejak ditanah.</p>



<p>&#8220;I-Itu!&#8221; ya, jejak reptile raksasa itu, Cloned Thunder Lizard yang tadi mengejarmu. akupun langsung mempercepat langkah lariku, &#8220;Sab, kau tetap dibelakangku, bila kuperintahkan sembunyi, sebaiknya kau cepat sembunyi.&#8221; Ucapku memberi intruksi.</p>



<p>&#8220;Baiklah.&#8221;</p>



<p>Selang semenit kemudian, di depan sana aku melihat, cairan berwarna merah.</p>



<p>&#8220;Darah!&#8221;</p>



<p>Aku sempat shock, melihat cairan itu membasahi langkah makhluk berwarna biru itu. Sabilapun hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya. Seakan tak percaya apa yang ia lihat.</p>



<p>Akupun berusaha mencermati lebih detail, kulihat ada serpihan kaca disekitarnya, juga jejak tak beraturan yang sepertinya adalah jejak tubuh dari C-TL yang tersungkur.</p>



<p>&#8220;Tenang Sab, ini adalah potion HP Bless.&#8221; Ucapku sambil mendekat kelokasi, lalu menggerakkan telunjukku untuk menyentuhnya. Sebenarnya saat itu aku tak telalu yakin dengan hipotesisku, namun demi meyakinkannya, aku mencoba mencicipi cairan itu, dan memang benar kalau itu potion.</p>



<p>Ekspresi lega Sabila bisa dibilang sama denganku, walaupun aku tak menunjukkannya.</p>



<p>Kami melanjutkan pencarian, sampai ada tiga jalan yang menuju tempat berbeda, sepertinya kau dan teman-temanmu berpencar, dan hanya satu orang yang dalam bahaya. Yang menjadi umpan demi menyelamatkan yang lainnya.</p>



<p><strong>GRAOOO…</strong></p>



<p>Suara raungan menyita perhatian kami, asal suara itu berasal dari jalur sebelah kanan. Aku dan Sabilapun dengan cepat dan juga berhati-hati mencoba menyelamatkan seorang yang tengah dalam bahaya.</p>



<p>Tak butuh waktu lama sampai aku bisa melihat binatang itu tengah berdiri ditepi jurang. Akupun menyiapkan Lightning Gun milikku.</p>



<p>&#8220;Sabila, kau cepat sembunyi, aku akan memancing perhatian monster itu.&#8221;</p>



<p>&#8220;Ta-tapi Kak, Kakak bagaimana?&#8221; ucapnya khawatir.</p>



<p>&#8220;Tenang, aku ini &#8216;kan Sniper handal, pokoknya setelah aku memancing perhatiannya, kau segera cari orang itu, aku yakin ia tak jauh dari sini.&#8221;</p>



<p>Iapun mengangguk dan segera menepi.</p>



<p>Kupusatkan perhatianku pada titik di kepala kadal itu, lalu kulepaskan tembakan dengan akurasi terkonsentrasi.</p>



<p>&#8220;Hei Komodo! Rasakan ini! Aiming Shot!&#8221;</p>



<p>Saat ia menoleh, tembakanku tepat mengenai matanya. Sontak, ia kembali meraung diikuti langkah berat mengejarku.</p>



<p>Saat kurasa aku telah cukup jauh memancing perhatian kadal itu, aku memakai skill Shadow Walk, alhasil, ia bingung dan kembali kesarangnya, haha…</p>



<p>/</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Ohh… jadi begitu…&#8221; ujarku.</p>



<p>&#8220;Cuma ohh doang? Gak bilang apa-apa ke aku?&#8221;</p>



<p>&#8220;Makasih ya Kak Istifa, makasih banyak.&#8221; Balasku memberi pujian yang ia minta.</p>



<p>&#8220;Yaudah, tapi kanapa kamu sekarang? Kamu gak enak badan? Kok murung gitu?&#8221; tanyanya melihatku yang tengah memikirkan sesuatu.</p>



<p>&#8220;Enggak, enggak ada apa-apa.&#8221;</p>



<p>Tidak sampai 15 menit, kami bertiga sudah sampai di depan pintu masuk area kependudukan Bellato outpost. Akupun berpapasan dengan Ryan dan beberapa prajurit tingkat tinggi dengan armor dan persenjataan yang lengkap. Ryan tampak panik, juga berkeringat. Iapun menghampiriku.</p>



<p>&#8220;Fi! Lu beneran Dzofi &#8216;kan? Lu gak papa? Lu masih utuh &#8216;kan?&#8221; ucapnya sambil tangannya bergerak memeriksa tiap bagian tubuhku, memastikan salah satu lengan atau kakiku tidak berakhir dalam perut Cloned TL.</p>



<p>&#8220;Iya, iya dan iya.&#8221; Ujarku menjawab semua pertanyaan yang ia lemparkan padaku.</p>



<p>&#8220;Lu!&#8221; iapun mendekat kearahku dan…</p>



<p>PLAK!</p>



<p>&#8220;Bangset…&#8221; ucapku reflex mendapat tamparan pedas dari pemuda berkacamata di depanku ini.</p>



<p>&#8220;Mumpung lu gak kenapa-napa.&#8221; tanpa pernah kuduga sebelumnya, ia memelukku, erat. Setelah beberapa detik terlalui, ia melepaskannya dan kembali bicara &#8220;Tadi gue yang berhasil sampe kesini lebih dulu, untung mentennya udah selesai, gue balik ke markas dan langsung minta bantuan prajurit Senior ini.&#8221; Serunya sambil menunjuk beberapa prajurit Senior yang ada dibelakangnya. &#8220;Sekarang elu malah selamet, kenapa gak mati aja.&#8221; ujarnya sambil membetulkan posisi kacamatanya.</p>



<p><em>Ebused… tadi dia bilang bersyukur kalo gue idup, sekarang pengen gue mati… ya, kalo gak begini emang bukan Ryan sih.</em></p>



<p>Kami berduapun kemudian meminta maaf dan berterimakasih pada Senior yang Ryan panggil, karena sudah sudi untuk direpotkan. Mereka memang tidak keberatan, hanya saja percakapan kami tadi terdengar lucu ditelinga runcing mereka, tampak dari gesture mereka yang cengar-cengir menyaksikan &#8216;kekonyolan&#8217; kami. Aku hanya bisa berdoa, semoga kejadian ini tak jadi buah bibir.</p>



<p>&#8220;Btw, Adan gimana? dia belom sampe?&#8221; ucapku membuka percakapan baru.</p>



<p>&#8220;Dia… cuma kesasar sedikit, sebentar lagi palingan nyampe.&#8221; Ujarnya setelah melihat radar. Rupanya Adan sedang ada di dalam goa chink, kamipun memutuskan untuk tak mencarinya, &#8220;Orang bodoh hokinya gede.&#8221; Itu yang Ryan bilang.</p>



<p>Aku dan Ryanpun memutuskan menuju lokasi dimana para Crawler dan juga beberapa Grumble memenuhi area yang dimaksud. Pembatas antara area yang mereka penuhi dengan area kependudukan adalah jembatan, warga sekitar membuat tembok seadanya dari berbagai barang agar para makhluk pribumi novus itu tak merusak lebih jauh.</p>



<p>&#8220;Jadi disini lokasinya?&#8221; ujar Ryan sambil mengokang Assult Riflenya.</p>



<p>&#8220;Iya, tapi bukannya lebih baik kalo nunggu Adan? Dilihat, jumlah mereka lumayan banyak, udah gitu ada kecoak rasaksa juga lagi. Gak sesuai apa yang log misi bilang.&#8221;</p>



<p>&#8220;Yaudah.&#8221; Jawabnya singkat. Kemudian ia membuka VirCell miliknya, lalu memencet suatu tombol sehingga diradar milikku ada sebuat titik berwarna biru, menunjukkan lokasi dimana aku dan Ryan berdiri.</p>



<p>&#8220;[Dan, lu nyasarnya jangan kelamaan! Gue ama Dzofi udah di depan lokasi, cepet susul kami.]&#8221; seru Ryan pada Adan melalui talk party, sebuah percakapan yang menampakkan muka masing-masing pada layar hologram dengan alat VirCell.</p>



<p>&#8220;[Dzofi dah disana? Bagusdeh, tapi gue bingung, disini jalannya gelap. Gue nyasar cuk.]&#8221;</p>



<p>&#8220;[Dah, lu pake teleport scroll aja kemarkas, terus kesini via portal, mentennya udah selesai.]&#8221;</p>



<p>&#8220;[Dari tadi kek, yaudah gue tele dulu, lu pada nungguin gue… -]&#8221; percakapan mereka berduapun berakhir, sekarang tinggal menunggu satu-satunya seorang warrior dalam tim ini.</p>



<p>Ditengah kami menunggu, Kak Istifa dan Sabila menghampiri kami.</p>



<p>&#8220;Dzof, gimana kalau aku bantu selesain misi kamu?&#8221; ucap Sabila sambil mengeluarkan senjatanya.</p>



<p>&#8220;Emangnya kamu gak ada misi Sab?&#8221;</p>



<p>&#8220;Misi untuk bulan ini aku udah selesain semua, dan sekarang gak ada panggilan. Jadi sekarang aku bebas.&#8221;</p>



<p><em>Dia… emang tekun, beda sama gue, masih tingkat segini aja dah numpuk misi, gimana nanti…</em></p>



<p>&#8220;Yaudah, makasih Sab.&#8221; Ucapku berterimakasih, lalu kupalingkan perhatianku ke Kak Istifa, &#8220;Kak Istifa juga?&#8221;</p>



<p>&#8220;Aku? Haha… tentu aja enggak. Itukan misi bocah, aku cuma mau ngeliatin doang.&#8221; Jawabnya sambil memilah tampat untuk ia duduki.</p>



<p>&#8220;Mending pulang aja, ganggu…&#8221; ucapku sedikit jengkel. Iapun hanya tertawa kecil sambil bersender pada tembok.</p>



<p>&#8220;Oke, gimana kalau kita mulai sekarang? Lebih cepat lebih baik &#8216;kan?&#8221; seruku pada mereka sambil menyiapkan dua bilah senjata yang berbeda.</p>



<p>&#8220;OKE&#8221; seru Sabila dan Ryan. Kamipun melompati pembatas dan segera mengusir mereka.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;Fast Shot!&#8221;</p>



<p>Duarr.. duarr..</p>



<p>&#8220;Ughhh..&#8221;</p>



<p>Brukk…</p>



<p>salah satu crawler kembali tumbang setelah Sabila berhasil membidik kepalanya. Kami memang sudah berhasil membersihkan area jembatan dari para mekhluk yang tingginya hampir 1,5 kali tinggi kami, namun belum ada tanda yang lainnya akan pergi. Terlebih, jumlah mereka masihlah banyak. Sangat banyak untuk kami bertiga.</p>



<p>DORR!</p>



<p>&#8220;Dengar Crawler! Kembalilah ketempat asal kalian, tidak ada alasan untuk kalian memenuhi sector wilayah kekuasaan Bellato union!&#8221; ujar Ryan pada makhluk pribumi itu setelah menembakkan tembakan peringatan.</p>



<p>&#8220;Kalian… kalian penjajah! tanah ini milik leluhur kami, dan kami ingin mengambilnya kembali! Enyahlah kalian!&#8221; jawab salah satu crawler yang mampu berbahasa Bellato.</p>



<p>&#8220;Kau, kau pemimpin mereka?&#8221; tanyaku padanya. Yang berwarna lebih gelap dibanding crawler yang lain.</p>



<p>BRUAKK!</p>



<p>Tampaknya ia tak menghiraukan pertanyanku, ia mengarahkan tinju besarnya dan gagal menghantam tubuhku, sehingga tanah menjadi retak.</p>



<p>&#8220;Bangsa Crawler tak akan membiarkan dirinya tertindas, tak akan membiarkan haknya diambil. SERAANGG!&#8221; seru Crawler yang kurasa pimpinan mereka, setelah ia mengomandoi, sekitar lima Crawler lainnya mengerubungi kami bertiga.</p>



<p>Brakk! Brakk! Brakk!</p>



<p>Jbumm!</p>



<p>Pukulan sekaligus didaratkan pada kami, namun kami semua berhasil menghindar.</p>



<p>Tanpa dikomandoi, Ryan dan Sabila mengambil bagian mereka masing-masing.</p>



<p>Dorr.. Dorr..</p>



<p>Dorr.. Dorr…</p>



<p>Ryan dan Sabila menembak Crawler dengan Assult Rifle milik mereka.</p>



<p>Zlashhh…</p>



<p>Dorr…</p>



<p>Sedangkan aku menahan serangan seekor Crawler dengan pisau ditangan kananku, dan tangan yang lain menembak Crawler yang lain.</p>



<p>&#8220;Rasakan ini! Slasher! Fast Shot!&#8221;</p>



<p>Zrashh! Zrash! Zrashh!</p>



<p>Dorr! Dorr!</p>



<p>Kuluncurkan dua skill sekaligus pada monster yang berbeda.</p>



<p>Pertarungan berlangsung sengit, sepertinya masing-masing dari kami hampir mencapai batasnya. Armor yang kukenakkan sudah basah, tak jelas oleh keringat atau darah mereka.</p>



<p>&#8220;Hah… hah…&#8221; aku mengatur nafas, lalu memperhatikan sosok yang sedang duduk santai bersandar.</p>



<p><em>Kak Istifa, dia masih disana ngeliatin kami, dasar gak punya hati… hah… hah.. dah tau juniornya pada kerepotan, bukannya turun tangan.</em></p>



<p>&#8220;Dzofii! Jangan meleng!&#8221; ucap Ryan, akupun kembali memalingkan perhatianku pada…</p>



<p>BRUAKKK!</p>



<p>Brakk… brakk…</p>



<p>Bogem mentah salah satu Crawler berhasil mengenaiku, sehingga aku terlempar beberapa meter.</p>



<p>Terasa, pelipisku mengeluarkan cairan beraroma getir, dan merah.</p>



<p>&#8220;Hah… hah..&#8221;</p>



<p>Aku serasa belum bisa fokus, mengatur nafaspun sulit.</p>



<p>Sosok besar, kembali menghampiriku. Hanya warna hitam dari bayangan tubuhnya yang bisa kulihat, karena ia menghalangi sinar Niger dari pandanganku. Kemudian, tangannya bergerak… tangan besar berupaya melakukan serangan yang sama.</p>



<p>BRUKKK!</p>



<p>&#8220;Lu gak papa cuk?&#8221;</p>



<p>Ucap sosok hitam lain yg muncul begitu saja dihadapanku. Suaranya ku kenal, namun aku masih belum bisa sepenuhnya sadar.</p>



<p>&#8220;Dzof! Bangun!&#8221;</p>



<p>Sosok itu perlahan dapat kukenali dengan jelas, seorang yang tengah menahan serangan Crawler dengan prisai, ia juga menggenggam kapak berwarna biru langit ditangan lainnya.</p>



<p>&#8220;Adan.&#8221; &#8220;Makasih, lu dateng disaat yang tepat.&#8221; Ucapku dengan nada lemah.</p>



<p>&#8220;Pahlawan emang dateng belakangan.&#8221; Ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya pada monster yang tengah ia hadapi. &#8220;Cepetan minum potion lu, lu pendarahan itu!&#8221;</p>



<p>&#8220;Potion… punya gue dah gue buang tadi, buat ngadepin komodo raksasa.&#8221;</p>



<p>Sejenak ia tak bicara apa-apa, mungkin sedang konsentrasi menghadapi musuh yang sengit.</p>



<p>Zrashh!</p>



<p>Tebasan bertenaga, mengoyak dada Crawler yang ia hadapi sehingga darah segar membasahi matras hijau menjadi merah, serangan itupun menjadi serangan terakhir yang bisa Crawler itu rasakan, kemudian Adan berpaling kearahku, lalu menyenderkanku ke pohon.</p>



<p>&#8220;Tenang aja, tinggal sedikit lagi.&#8221; Ucap Adan padaku. kemudian ia berseru pada yang lainnya.</p>



<p>&#8220;Tolong, yang masih punya stok potion, kasih ke Dzofi, dia pendarahan!&#8221;</p>



<p>Akupun sebisa mungkin merapalkan mantra force suci yang kupelajari agar mempercepat regenerasiku.</p>



<p>&#8220;So-Soul Ballad…&#8221;</p>



<p>Efek cahaya seperti kunang-kunang kemudian menyelimutiku, hangat.</p>



<p>Tidak langsung terasa memang, namun ini jauh lebih baik dibanding tidak sama sekali.</p>



<p>Tak berapa lama, Sabila datang menyusulku, bersamaan dengan itu, Adan pergi menjauh. Kembali menghadapi creawler yang tersisa.</p>



<p>&#8220;Kamu terlalu memaksakan diri Dzofi. Kau melakukannya lagi.&#8221; Ucapnya seraya mengeluarkan saputangan yang sebelumnya ia gunakan untuk menyeka airmataku.</p>



<p>&#8220;Jangan.&#8221; Ujarku agar tangannya tak mendekat pada bagian mukaku yang bersimbah darah. &#8220;Nanti saputanganmu kotor.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak apa, kalau dicuci pasti bersih lagi.&#8221; Jawabnya. Namun siapapun tau, noda darah tidak semudah itu untuk dibersihkan. Walaupun menggunakan deterjen yang ngakunya dengan kekuatan sepuluh MAU.</p>



<p>Akupun menggapai pisauku, lalu kuayunkan…</p>



<p>Srattt…</p>



<p>Kupotong bagian lengan armorku, dan kusuruh Sabila menggunakan bagian armor itu untuk membersihkan darahku.</p>



<p>&#8220;Kamu, gak sayang sama armor mu? Kalau saputangan emang gunanya buat bersihin sesuatu &#8216;kan?&#8221; ucap Sabila sekaligus memberi potion padaku.</p>



<p>&#8220;Ighhh… kalau armor, ughh.. bulan depan &#8216;kan dapet lagi buat tingkat 19, tapi kalau saputanganmu, bisa-bisa motif bunga putih itu berubah jadi merah…&#8221; jawabku diikuti meringis ketika beberapa kali Sabila membersihkan pelipisku.</p>



<p>&#8220;Saputangan itu pasti pemberian keluargamu &#8216;kan?&#8221; sambungku.</p>



<p>Entah kenapa, untuk sesaat ia tertegun.</p>



<p>&#8220;A-ah, iya, lebih tepatnya dari seseorang yang kusayangi.&#8221; jawabnya.</p>



<p>Itu pasti saputangan buatan tangan dari ibunya, aku jadi merasa iri. Memiliki barang kenang-kenangan dari ortu adalah suatu hal yang tak kumilik. Aku hanya memiliki barang peninggalan kakek, ya walau barang peninggalannya masih harus diperbaiki sampai aku tau kegunaannya.</p>



<p>Tak terasa, waktu kami berdua habiskan bersama, ia menepuk kedua tangannya tanda ikatan kain armor dikepalaku sudah menutupi luka di pelipis.</p>



<p>&#8220;Sudah selesai, kamu merasa lebih baik sekarang, Dzofi?&#8221;</p>



<p>&#8220;Ah, makasih Sab, walau masih agak nyeri, tapi semua baik-baik saja.&#8221; Jawabku sambil berusaha berdiri.</p>



<p>Hugg…</p>



<p>Ia dengan cepat menahan tubuh ku sebelum aku terjatuh karena tubuh ku yang hilang keseimbangan. Rupanya kaki kiri ku sedikit terkilir.</p>



<p>&#8220;Ughh.. Makasih sekali lagi, hari ini kayanya aku banyak banget hutang sama kamu Sab, hehe…&#8221; ucapku pada gadis berambut putih yang lagi-lagi membantuku.</p>



<p>&#8220;Kamu mau kemana? Istirahat dulu, tubuhmu belum pulih 100%.&#8221; Serunya dengan tatapan biru langit yang seakan memaksa.</p>



<p>&#8220;Aku &#8216;kan masih ada misi Sab.&#8221; Jawabku tanpa berani membalas tatapannya. Semua wanita kalau memaksa entah mengapa terlihat seram, tidak terkecuali gadis ehem… i-imut seperti dia…</p>



<p>&#8220;Yaudah, aku aja yang gantiin kamu. Jadi kamu istirahat.&#8221; Ucapnya menawarkan diri.</p>



<p>&#8220;Gimana kalau kita lakuin berdua, aku pakai Stout Gun milikku, kamu pakai senjatamu. Jadi aku gak usah maju-maju, cukup dari sini bantuin mereka.&#8221; Balasku memberi usulan. Kukira ia tak setuju, namun ternyata ia mengangguk.</p>



<p>Dengan setengah badanku bertumpu padanya, aku dan ia mulai menembakkan beberapa proyektil secara bersamaan dari jauh.</p>



<p>Ditengah-tengah kami menyerang, aku berkata</p>



<p>&#8220;Sab, sekali lagi makasih. aku denger dari cerita Kak Istifa, kamu sampai berani lawan komandonya demi nyari aku. aku… aku gak tau kalau kalau sampai seberani itu… demi aku.&#8221; Akupun menatap lebih rendah, mencoba melihat wajahnya.</p>



<p>&#8220;A-aa engg… pokoknya makasih, yu are de ril mvp…&#8221; sambungku langsung mengarahkan pandanganku kembali ke depan. Tak berani bertatapan mata. Ya, memang aneh gelagakku saat ini. Berasa agak canggung-canggung gak jelas. Padahal gak perlu canggung, dan Sabilapun biasa aja.</p>



<p>Akupun kembali fokus pada target.</p>



<p>&#8220;Iya, sama-sama, akupun senang kamu selamat…&#8221; balasnya.</p>



<p>Mendengar jawabannya, aku baru sadar, badan kami terlalu dekat, bisa jadi jantungku yang berdebar saat ini bisa ia rasakan getarannya. Tu-tunggu dulu… di-dia.. dia juga… berdebar?</p>



<p>&#8220;Dzofi, Sabila Merunduk! Fast Shot!&#8221;</p>



<p>Dorr.. Dorr…</p>



<p>Aku dan Sabila dengan cepat menunduk, namun aku yang tidak seimbang membuat Sabila juga tak seimbang sehingga kami berdua…</p>



<p>Brukk…</p>



<p>Terjatuh, di atas matras rerumputan ini.</p>



<p>Posisi tubuhku kini berada diatas tubuh Sabila yang terlentang, bisa saja tubuhku menimpanya bila tangan dan kakiku yang tak terkilir tak sigap menopang berat tubuhku.</p>



<p>Entah takdir yang merencanakan atau sekedar kebetulan, tatapan biru langitnya… selaras dengan brownies milikku. Erangan makhluk sekarat yang Ryan tembak tadi seakan tak menjadi penghalang antara aku dan Sabila dalam momen singkat, saling tenggelam menatap mata yang banyak disebut orang sebagai jendela hati.</p>



<p>&#8220;Dibelakang kenap- WOII PACARAN JANGAN PAS MISI OII! TAU TEMPAT LU DZOFII…&#8221;</p>



<p>Teriakan Adan dengan efektif membuatku tertarik keluar dari momen yang sangat singkat itu, akupun tersadar apa yang telah kuperbuat. Walaupun tak ada gerakan maupun kata yang terucap, baik dariku maupun Sabila. Akupun mendorong tubuhku agar menjauhi Sabila yang jaraknya sangatlah dekat.</p>



<p>&#8220;Ma-maaf Sab, aku sama sekali gak sengaja…&#8221; ucapku, kemudian aku berusaha berdiri dengan usahaku sendiri.</p>



<p>&#8220;Dzof… l-lu.. lu melanggar kode etik perbujangan lu Dzof, gue kecewa sama lu…&#8221; seru Adan sambil mensayat beberapa bagian musuh yang tengah ia hadapi.</p>



<p>&#8220;Gue gak macem-macem cukk! Sumpah, itu kecelakaan.&#8221; Seruku lantang membalas teriakannya.</p>



<p>&#8220;Jangan banyak cakap! SEKARANG DARAH JOMBLOKU BERGEJOLAK LUAAARRR BIAASAAAA…&#8221; teriaknya seraya melompat ketengah kumpulan monter dan menghadapi mereka, ada sekitar lima monster lebih.</p>



<p>Zrashhh!</p>



<p>Brukk..</p>



<p>Jebrumm…</p>



<p>Bzett! Bzett! Bzett!</p>



<p>&#8220;Dah, gak usah dipikirin, diamah emang begitu orangnya.&#8221; Seru Ryan sembari berjalan kearah kami.</p>



<p>&#8220;Tapi gak apa dia ngadepin monster-monster sendirian?&#8221; tanyaku pada Ryan, dengan khawatir.</p>



<p>&#8220;Gak apa, toh mereka yang terakhir kok. Gue aja udah selesai, mending kita rapih-rapih. Itung-itung itu sisa biar Adan aja yang beresin karena dia tadi datengnya telat.&#8221; Ucap Ryan sambil menjulurkan tangan, menawarkan bantuan agar aku bisa berjalan menuju Bellato outpost.</p>



<p>.</p>



<p>.</p>



<p>&#8220;*yawn… kalian dah selesai?&#8221; seru Kak Istifa sambil meregangkan tangannya lalu melepas kacamata hitam. &#8220;Kepalamu kenapa tuh?&#8221; tanyanya menunjuk luka di kepalaku.</p>



<p>&#8220;Ka-Kakak…&#8221; &#8220;Kakak dari tadi tidur?! Aku ini kena serangan telak dari salah satu tuh makhluk! Ini seniornya malah asik-asikan tidur! Dasar gendeng! Kalo juniornya mati gimana?!&#8221; bentakku tak tahan melihat kelakuan Senior yang gak bertanggung jawab.</p>



<p>&#8220;Hei, begitu caramu ngomong, aku seniormu lho.&#8221; Ucapnya santai, seakan tak benar-benar peduli kenapa aku benar-benar jengkel adanya.</p>



<p>&#8220;Senior? Persetan sama Senior! Aku sama Sabila juga tadi celaka kalo Ryan gak ngingetin kami berdua.&#8221;</p>



<p>&#8220;Fi-&#8220;</p>



<p>&#8220;Belom, gue belom selesai ngomong…&#8221; ucapku memotong perkataan Ryan.</p>



<p>&#8220;Dzofi, kamu…&#8221;</p>



<p>&#8220;Nanti Sab, aku dah kesel banget sama orang yang ngakunya Senior tapi- mmpphh…&#8221; seruku juga pada Sabila, namun Kak Istifa dengan sigap langsung membekap mulut ku.</p>



<p>&#8220;Mphh! Hmphhhh!&#8221;&nbsp;<em>Ughh.. lepasin gue!</em></p>



<p>&#8220;Kamu luka &#8216;kan? Lihat tuh kepala mu, ngeluarin darah lagi.&#8221; Ucapnya dengan nada tenang, seakan tak terprovokasi dengan omelanku sebelumnya, setelah itu ia melepaskan tangannya dari mulut ku.</p>



<p>Akupun menggerakkan tangan kepelipisku yang luka, dan basah…</p>



<p>&#8220;Darah? Lagi?&#8230;&#8221; tiga jemariku kini berlapiskan carian merah. Kemudian kepalaku seakan berat, tubuhku juga perlahan tak kuat untuk tetap berdiri…</p>



<p>Diambang kesadaranku, entah mengapa aku teringat.. teringat sesuatu seperti ini, teringat seseorang…</p>



<p>teringat Kak Ulfa…</p>



<p>&#8220;To-tolong… jangan kasih tau Kak Ulfa… semuanya…&#8221;</p>



<p>Brukkk…</p>



<p>.</p>



<p>.</p>
</div></div>
</div></div>



<figure class="wp-block-table aligncenter is-style-stripes"><table class=""><tbody><tr><td class="has-text-align-center" data-align="center">  &#8220;Aku disini pulang buat apa? aku mengambil cuti untuk menjemput sepupuku yang pemalas, ayo cepat bangun!&#8221;<br>-Ulfa Hardji- ch. 1 </td></tr></tbody></table></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p><strong><em>CHAPTER 18 END.</em></strong><br>Next Chapter > Read Chapter 19:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-19/</a><br>Previous Chapter > Read Chapter 17:<br><a href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-17/" target="_blank" rel="noreferrer noopener" aria-label=" (opens in a new tab)">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-17/ </a><br>List of Journey For Identity Chapter:<br><a rel="noreferrer noopener" aria-label="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list (opens in a new tab)" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list" target="_blank">https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-list</a></p>



<hr class="wp-block-separator"/>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-18/">JOURNEY FOR IDENTITY CHAPTER 18 &#8211; BLUE SKY</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://www.pejuangnovus.com">PEJUANGNOVUS</a>.</p>
]]></content:encoded>
							<wfw:commentRss>https://www.pejuangnovus.com/jfi-chapter-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
							</item>
	</channel>
</rss>
